“It was in the silence
that I heard your voice.”
(Bahwa
dalam keheninganlah,
ku
mampu mendengar suara-Mu.)
Apakah benar seperti itu? Saya
bertanya-tanya. Apakah benar bahwa hanya dalam keheningan, kita baru dapat
mendengarkan suara-Nya?
Sempat
membuat saya enggan membahasnya, menulisnya, dan agak takut-takut
mempercayainya.
Lalu,
saya membaca-baca majalah edisi lama Architectural
Digest, dan menemukan tulisan yang mengulas tentang kediaman (tempat tinggal) Frank Sinatra. Dan di lembaran itu mata saya terperekat pada
kata-kata:
“I believe in the sun even when it’s not shining.
I believe in love even when not feeling it. I believe in God even when he is silent.”
Dan yang saya ketahui
kemudian, itu adalah kata-kata seorang korban selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz.
Lalu,
ketika mencoba mencari-cari kutipan dari Father (Bapa) Rodrigues tadi di
Internet, malah menemukan kata-kata soal silence
(keheningan) itu dari Mother (Bunda) Teresa, “The essential thing is not what we say but what God says to us and
through us. In that silence, He will listen to us; there He will speak to our
soul, and there we will hear His voice.”
“We cannot put ourselves directly in the
presence of God if we do not practice internal and external silence.”
Dan…
“What is essential is not what we say but
what God tells us and what He tells others through us. In silence He listens to
us; in silence He speaks to our souls. In silence we are granted the privilege
of listening to His voice.”
Mungkin
kita butuh dan memang sedang mengalami banyak keheningan untuk dapat mendengarkan
suara-Nya supaya tahu apa yang harus kita lakukan. Tapi, yang lebih
penting ketimbang keheningan di luar—yang sering kali serbabising—adalah pikiran dan di dalam hati kita sendiri.
“I am speechless, but I can't keep quiet. And I am wordless, but I
can't stay silent.”
—Lauren Daigle
![]() |
Image courtesy of The Cove |