December 23, 2016

Diam, Bergerak, Bertahan

Sebenarnya pola asuhnya Bapa Surgawi bagi anak-anak-Nya itu sederhana:


Ini bukan artinya tidak melakukan apa-apa, tapi kita diminta menyediakan hati, pikiran, dan waktu untuk berdialog dan belajar akan kebenaran firman Allah.

Perhatikan pola asuhnya Bapa Surgawi kepada Yesus. Yesus muda selalu tenggelam belajar firman Allah dan berdiskusi tentang kebenaran.

Lalu, perhatikan interaksi Yesus dengan murid-murid-Nya. Murid-murid diminta setia untuk dimuridkan mendengar Dia mengajar.

Sederhana, hanya diminta sediakan waktu untuk dengar Dia bicara. Dan perkataan-Nya selalu diulang-ulang: "Siapa yang bertelinga hendaklah mendengar."

Dan bisa perhatikan dialog Yesus dengan Marta, di dalam kisah cerita Maria dan Marta (Lukas 10:38-42).

Bagaimana caranya supaya kita bisa mendengar suara-Nya? Ya selalu masuk dalam hadirat-Nya lewat belajar firman-Nya. Sebenarnya ini yang disebut MELAYANI TUHAN.

Ketika kita sudah memaksimalkan diri untuk diajar akan kebenaran firman Allah dan mampu mendengar Dia bicara, secara otomatis Tuhan pasti menggerakkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya lewat tuntunan Roh Kudus.

Kembali kita perhatikan pola asuh Bapa Surgawi buat Yesus.

Yesus muda belajar, kemudian berdiskusi dengan para ahli di masanya karena pasti digerakkan oleh perintah Bapa Surgawi.

Begitu juga ketika mencari murid.

Dan yang menarik, perhatikan dialog Yesus dengan Ibu Yesus pada saat perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-11). Selevel Anak Allah seharusnya bisa saja langsung melakukan pekerjaan spektakuler. Bahkan sebenarnya dari sebelum-sebelumnya, Yesus bisa saja melakukan mukjizat.

Tapi, Yesus memberi teladan bagi kita agar tidak asal bergerak, tidak asal menyelonong, melainkan bertanyalah dahulu kepada Bapa Surgawi. Jangan sembarangan, serampangan. Jangan teledor.

Begitu juga kalau kita perhatikan pola asuhnya Yesus bagi murid-murid-Nya.

Apakah pada saat jadi murid, mereka langsung melakukan pekerjaan-Nya?

Rasanya tidak, para murid digerakkan untuk mengikuti ke mana Yesus mengajar dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana.

Ketika Yesus sudah terangkat ke surga, tugas untuk bergerak di-on-kan. Itu pun tetap di bawah kendali-Nya yaitu tetap ada yang mengarahkan, yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:26).

Dan kita bisa lihat bagaimana kegerakan para rasul. Ada banyak pekerjaan luar biasa terjadi.

Artinya, sebagai anak-anak Allah, kita pun harus siap untuk digerakkan. Dengan perintah yang asli dari Tuhan, bisa lewat Roh Kudus, bisa lewat perantara orang lain yang digerakkan oleh Roh Kudus.

Kegerakan yang "asli" dari Tuhan boleh dikatakan MELAKUKAN PEKERJAAN TUHAN.

Nah, di bagian ini kita bisa belajar lagi bagaimana pola asuh Bapa Surgawi terhadap Yesus.

Seperti kisah Yesus di padang gurun pada saat dicobai Iblis.

Begitu juga pola asuh dan teladan Yesus kepada para murid-Nya, seperti kisah angin ribut diredakan, kisah di saat-saat terakhir Yesus.

Begitu juga yang dialami oleh kisah para rasul dalam melakukan pekerjaan Tuhan.

Bertahan adalah satu proses untuk menaikkan level keimanan.

Mau bukti lagi DIAM-BERGERAK-BERTAHAN pola asuh Bapa Surgawi bagi anak-anak-Nya? Bacalah juga setiap kisah di kitab-kitab Perjanjian Lama.

Jadi buat kita anak-anak-Nya, ingat akan kebenaran firman-Nya.

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)."

Semangat terus, ya, karena kita adalah anak-anak Allah. Amin.

~ by Jati Wicaksono

December 13, 2016


Puji Tuhan, setelah menang yang ini dari Paul Smith, saya menang kuis lagi lewat milis Dear Reader-nya Suzanne Beecher. Kali ini dari Joel ben Izzy yang menulis kuisnya seperti berikut ini.
Dear Reader,
Today's guest author is one of my favorite storytellers, Joel ben
Izzy. I fell in love with his first book, "The Beggar King and the
Secret of Happiness" and I've been a fan ever since.

Joel wrote a guest column today and I've included an alternate read,
a link to preview his latest book, a young adult book enjoyable for
all readers, "Dreidels on the Brain." There's also a delightful
contest for those of you who sample his book today. You'll have fun.
Be sure to enter.

In 1983 storyteller Joel ben Izzy graduated from Stanford University
and set off to travel the globe, gathering and telling stories.
Since then, he has performed and led workshops in thirty-five
countries. Over the years he has also produced six recorded
collections of his stories, which have won awards from Parents'
Choice foundation, NAPPA, the ALA, and a Booklist Editor's Choice
Honor. Joel is also one of the nation's most sought-after story
consultants, supporting organizations and leaders working to make
the world a better place, with clients in fields ranging from
philanthropy to medicine to technology to entertainment. Joel's
first book was the highly acclaimed memoir "The Beggar King and the
Secret of Happiness," which has been published in seventeen
languages and is currently in development as both a film and a
musical. He lives with his wife, Taly, in Berkeley, California. They
have two grown children.

The link to sample Joel's new release, "Dreidels on the Brain," is
at the end of his column. Welcome my friend, author Joel ben Izzy...

Here's the thing about light: You only notice it when it's dark.

As a professional storyteller, that truth is central to my work.
It's a lesson I first learned during Hanukkah, 1971. It was a time
when the world seemed to be coming apart, with the Viet Nam War
raging on and our country under the spell of Richard Millhouse

For me, it was a dark time. At age 12, I was the nerdiest of nerds,
stuck in the least magical place on earth--the suburbs of the
suburbs of Los Angeles. I tried to make magic of my own, performing
at birthday parties to help support my family, as we were broke and
my father was sick. Although magic was my passion, what I really
wanted was a Haanukah miracle.

Whether you're Jewish or not, Chanukkah is so confusing it can give
you a cheadache--no can even agree how to spell it, which is how you
know it's a Jewish choliday. But this much is clear: Kchanukah is
supposed to be about miracles.

And that is why I made a bet with God, over a game of dreidel, the
spinning tops we play with during Chanukkah: Just give me one lousy
Haanukah miracle--and I'll believe.

Without giving the story away, I will say this: When it comes to
dreidel and miracles, God does not play fair. Because what actually
happened to me and my family that Chaanukah was worse than I
feared--and better than I'd hoped. The gift I received that Khannuka
was a story I'll always treasure, and one I've held onto for
forty-five years, waiting for the right time to share it.

That time is now, as the days grow shorter and darkness spreads.
It's a tale meant for older kids and adults, Jews and non-Jews
alike. Perhaps that's fitting, as Hanukkah begins this year at
sunset on Christmas Eve--which may be just the time to curl up into
a story filled with jokes and magic, about finding light within the
darkness. I hope you enjoy it.

Joel ben Izzy

Please do email and say hello:
Sample the book "Dreidels on the Brain" and enter the contest:

Chaaanuuukkkah spelling contest!

As you read the excerpts from "Dreidels on the Brain" you'll notice
I've spelled Haanuukkaah differently each time I've used it. I'll
send a prize to the first eight readers who can count how many
different spellings there are, list each one in an e-mail to me,
then add a crazy one of your own, different from all the rest.
E-mail your answer (and shipping address) to:
Winners' prizes will come in the mail, and your name will appear
in DearReader!

Have fun!

Dan berikut info dari Suzanne Beecher.
Dear Reader,

Look what I found in my email...

Dear Suzanne,

I've got to say, your Dear Readers are really something! Last week,
in my guest column celebrating the launch of "Dreidels on the
Brain," I presented them with the challenge of counting just how
many different ways I'd spelled "Kchaanukkah" in the excerpt--and
then to come up with an even crazier spelling of their own.

Since then, I've been astounded by your readers' response and their
creativity in spelling Chaanuuakkah. I have to say, I include many,
many spellings in my book to make it different each time, and each
respondent came up with one I hadn't used.

But that's not all! They were equally creative in the counting!
First came one that said there were 14, then another that said 6.
Then 8, then 9, then 13, then 12 and so on. Before I did the
contest, I was pretty sure I knew just how many there were in the
excerpt, but thought I'd better double check. When I did, I got a
different answer. I counted again--and it was different again!
The more I tried, the more confused I got, until my head was
spinning like a dreidel!

That said, I made the first eight entrants winners and, as promised,
will send them each a copy of my CD, "Lights and Laughter--Joel ben
Izzy Spins Hanukkah Tales." Here they are:

Sheila W.--Hawnaykah (Texas pronunciation)
Kristina K.--Kchanukkyach
Yvette F.--Qhanuqqahh
Cheryl S.--Chanukiya
Patricia C.--Chaaaaaanuuuuuukkkah
Dorine D.--Jhannikkah
Heidi Z.--Honika
Franisz G.--"I-wanna-go-to-Jerusalem-to-see-Haanukah!"

Thank you all for your entries! However you spell it, here's wishing
you all holiday seasons with miracles to be discovered--and light
within the darkness.


P.S. Several folks had questions about the story behind "Dreidels on
the Brain." Here's a little video I made telling the backstory of
the book, which I hope you enjoy!

Jangan lupa untuk daftar di milis, coba ikuti kuisnya kalau sedang ada, dan siapa tahu bisa menang.


December 6, 2016

Pekerjaan Vs Pelayanan

Tulisan ini saya lihat ketika sedang bertugas meringkas khotbah di gereja. Seusai menyantap sarapan di meja yang ada di ruang Sound System & Lighting, saya melihat sebuah pigura yang terpampang tampak usang, sudah lama dibiarkan bergantung, berdebu, serta kotor. Dan kemungkinan besar jarang ada orang yang membacanya, apalagi di ruang itu agak remang. Di pigura vertikal tak terlalu besar itulah tulisan di bawah ini saya lihat. Dan ingin membagikannya kepada Anda.


Apakah Perbedaan Antara Pelayanan dengan Pekerjaan?

Bila kita melakukannya selama ada waktu luang, itulah pekerjaan. Bila kita melakukannya meskipun mengganggu aktivitas kita, itulah playanan.

Bila kita berhenti karena tidak ada yang berterima kasih kepada kita, itulah pekerjaan. Bila kita terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapa pun, itulah pelayanan.

Bila kita melakukannya untuk diri sendiri, itulah pekerjaan. Bila kita melakukan yang terbaik seperti benar-benar untuk Tuhan, itulah pelayanan.

Bila kita melakukannya demi kehormatan diri, itulah pekerjaan. Bila melakukannya demi semata-mata sungguh-sungguh kemuliaan Tuhan, itulah pelayanan.

Bila kita merasa telah banyak berkurban dan layak mendapatkan upah, itulah pekerjaan. Bila kita terus merasa belum cukup melakukan apa pun dan terus ingin memberikan lebih, itulah pelayanan.

Bagaimana dengan kita?

Tetaplah semangat dan selamat melayani.


Sebenarnya mungkin masih banyak penjabaran yang bisa dibuat tentang perbedaan antara pekerjaan dengan pelayanan. Tapi, beberapa hal di atas tadi mungkin sudah bisa mewakili banyak perbedaan.

Dan kelihatannya bagian atau sisi pekerjaan berada pada posisi yang direndahkan atau lebih rendah ketimbang pelayanan. Padahal, kalaulah sebuah pekerjaan dilakukan secara profesional dan sungguh-sungguh, mungkin kualitasnya sama dengan pelayanan. (Meski kadar profesional saja tidak bisa mencukupi untuk menyamai kualitas yang terbaik dari suatu pelayanan. Maksudnya, seperti ketika Saul yang seharusnya profesional berani menghadapi Goliat, tapi malah alih-alih Daud yang diurapilah yang berani mengalahkan Goliat.) Tapi, kalau pelayanan dilakukan sangat asal-asalan, mungkin penjabaran di atas tidak berlaku.

Semoga pelayanan di kerohanian kita tidak menjadi seperti peringatan ini: "Anyone who sets himself up as 'religious' by talking a good game is self-deceived. This kind of religion is hot air and only hot air (James 1:26, The Message)."

Dan pagi ini, ketika sedang ber-WhatsApp dengan mas Jati Wicaksono, ia menulis bahwa ada dua hal sebenarnya yang perlu kita perhatikan: melayani Tuhan & melakukan pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan artinya kita mendengar firman-Nya, ikut ke manapun Dia pergi mengajar, alias menjadi murid-Nya. Melakukan pekerjaan Tuhan berarti Dia akan dengan sendirinya mengutus kita, ke tempat-tempat kita baik ditaruh di sekuler (marketplace) ataupun rohani.

 "Average leaders have quotes. Good leaders have a plan. Exceptional leaders have a system."
Urban Meyer

December 1, 2016

Kebiasaan yang Sepele, Tapi Bikin Boros

Dari sekitar belasan juta penduduk di Jakarta, bisa dikatakan mungkin tidak seluruhnya memiliki KTP DKI. Dan seiring pertumbuhan jumlah penduduknya, bisa diperhatikan bahwa kebutuhan kita yang mungkin tinggal di kota ini adalah perlu mengatur keuangan. Hal ini sangat penting.

Banyak orang mungkin berdoa supaya diberi kekayaan, pekerjaan, penghasilan yang tinggi, dan pandai mengelola keuangan, namun seolah-olah doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Tahukah Anda bahwa mungkin permasalahan utamanya bukanlah apakah Tuhan sudah menjawab doa atau belum, karena Tuhan itu Mahamendengar, melainkan mungkin permasalahan utamanya ada pada diri kita sendiri.

Apakah Anda bisa mengelola keuangan pribadi yang Tuhan sudah percayakan kepada Anda dengan baik atau malah memboroskan dan menyia-nyiakannya?

Karena itu, mengelola harta atau keuangan pribadi dengan baik menjadi kebutuhan kita semua. David Bach, seorang penasihat keuangan di Amerika menciptakan sebuah istilah, yaitu the latte factor (faktor latte), yang menggambarkan pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak terlalu penting dan kadang kala tidak disadari sehingga menjadi sebuah pengeluaran yang besar dan mencengangkan apabila diakumulasi.

Istilah latte memiliki arti kopi susu. Dan kopi jenis ini cenderung diperuntukkan bagi orang yang masih belia untuk meminum kopi, sehingga istilah ini dihubungkan ke dalam perencanaan dan pengelolaan keuangan bagi orang-orang yang belum melakukannya dengan serius karena masih melakukan pengeluaran-pengeluaran kecil dan kelihatan sepele, namun menakjubkan jumlahnya. Pengeluaran seperti ini sangat bisa untuk dikurangi atau bahkan dihilangkan, karena itu kembali lagi sangatlah tergantung pada Anda. 

Berikut ini beberapa kebiasaan sepele yang ternyata bisa membuat boros—dan solusinya:

  • Terlalu sering beli kopi mahal, teh mahal, atau minuman mahal. Kalau diambil contoh, Anda suka membeli kopi dengan harga kisaran Rp40.000 -Rp50.000 sebanyak 3 kali seminggu saja, Anda sudah membuat pengeluaran Rp480.000 - Rp.600.000 per bulan. Fantastis! Solusi bagi Anda yang mungkin tanpa sadar sering melakukan hal ini adalah: 
a)      Jadilah kreatif, karena hal ini adalah irit, bukannya pelit
b)      Bawa kopi sendiri dari rumah dan seduhlah di kantor, sehingga tidak perlu membeli
c)      Kurangi frekuensi yang mungkin dari 3 kali seminggu menjadi 1 kali seminggu
d)      Bila memang Anda hobi dengan minuman tersebut, buatlah kartu anggota sehingga bisa mendapatkan potongan harga khusus
e)      Gunakan trik dengan membeli minuman di kedai minuman yang memberikan diskon apabila Anda membawa tempat minum sendiri 
  • Naik taksi saat pergi dan pulang kerja. Pada masa modern sekarang, sudah ada dua macam taksi, yaitu yang konvensional dan taksi online yang bisa dipesan kapan saja dan dari mana saja. Namun untuk urusan harga, taksi online memang memiliki harga sangat bersaing dan memikat konsumen, sehingga banyak konsumen taksi kovensional yang beralih menggunakan sistem online dikarenakan lebih murah, mudah, dan terjamin, atau aman karena lebih mudah dicari jejaknya bila terjadi sesuatu.

Nah, hidup dalam zaman modern saat ini, harus mengerti prinsip utama dalam menindaklanjuti keborosan yang terjadi, yaitu pikirkan apa yang dibutuhkan, bukannya apa yang diinginkan terlebih dahulu. Tanpa disadari, menggunakan taksi setiap kali pulang kerja ataupun pergi, dapat meningkatkan kadar keborosan Anda. 

Coba Anda bayangkan bila dalam satu kali menggunakan taksi, Anda harus mengeluarkan biaya Rp50.000 dan minimal penggunaan taksi pasti 2 kali, yaitu saat pergi dan pulang, maka Anda sudah mengeluarkan Rp100.000 per hari. Belum lagi ditambah kena macet. Maka dengan asumsi satu minggu Anda bisa menggunakan taksi sebanyak 4 - 5 kali, Anda sudah mengeluarkan uang sekitar Rp400.000 - Rp500.000 seminggu, dan sekitar Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000 per bulan. Fantastis!

Saya akan berbagi sedikit solusi bagi Anda dalam hal ini, yaitu:

a.      Kurangi frekuensi naik taksi dan beralihlah pada transportasi umum lainnya
b.      Ganti transportasi Anda, bila sebelumnya menggunakan taksi, maka Anda bisa menggantinya dengan ojek yang lebih murah dan cepat
c.       Cari teman atau tetangga yang mungkin searah dengan Anda, dan bagi dualah biaya bensin perjalanan atau tolnya, maka bisa jadi akan jauh lebih murah
d.      Bila memang Anda merasa uang yang Anda keluarkan sangat besar dan kurang nyaman, mengapa Anda tidak pertimbangkan untuk membeli mobil pribadi saja?
e.      Kota Jakarta, khususnya, makin macet dan mobil semakin banyak, maka tidak bisa tidak, Anda harus menunggu hingga semua transportasi umum selesai dibangun dan betul-betul nyaman untuk Anda gunakan

  • Berolahraga di tempat fitness. Olahraga memang sangat baik bagi kesehatan, namun dengan gaya hidup masa kini yang bisa terus meningkat, perlu Anda waspadai jangan sampai badan sehat tapi kantong sakit. Tahukah Anda bahwa mengeluarkan uang untuk fitness tidaklah sedikit. Bayangkan bila satu kali datang Anda harus membayar Rp50.000 hingga Rp125.000. Tapi tenang saja, saya tawarkan beberapa solusi, yaitu:
a.      Daftar jadi anggota member dengan memperhitungkan terlebih dahulu pos pengeluaran Anda yang lainnya selama satu bulan
b.      Selalu bayar cash dengan jumlah yang sama persis bila Anda memang harus menggunakan kartu kredit dalam membayar fitness
c.       Hindari utang dengan kartu kredit dikarenakan Anda memaksa ikut jadi member tapi tidak memiliki pos pengeluaran dengan dana yang cukup
d.      Manfaatkan tempat yang bisa dipakai sebagai sarana olahraga gratis, misalnya taman kota. Sudah banyak taman jogging di daerah Jakarta khususnya

  • Nonton film di bioskop mahal. Ini mungkin pengeluaran kecil namun paling sering dalam kehidupan seseorang di masa kini, khususnya anak muda. Memang dianjurkan agar tidak membajak film dan menghargai dengan menonton yang legal via bioskop. Tetapi coba Anda bayangkan sejenak, sekali seminggu Anda menonton bioskop bisa mengeluarkan biaya kurang lebih Rp60.000 - Rp120.000 dan itu belum termasuk makan dan minum. Sulit memang menghindari menonton bioskop karena ini adalah hiburan paling rutin yang dilakukan oleh banyak orang saat ini. Namun berikut ini beberapa solusi dari saya:
a.      Pilihlah bioskop dengan tarif lebih murah
b.      Buat jatah film yang harus ditonton setiap minggunya. Hindari terlalu keranjingan
c.       Manfaatkan promo yang ada, seperti beli 1 gratis 1 dan promo hemat setiap Senin dari beberapa bank dan penyedia jasa seluler atau dana tunai elektronik
d.      Hindari menonton pada Sabtu dan Minggu (akhir pekan) bila memungkinkan karena hari tersebut dengan harga tertinggi. Ingin hemat? Nontonlah pada Senin - Kamis

  • Membeli air minum kemasan setiap hari. Minum adalah kebutuhan dasar hidup manusia dan tidak bisa dihindari. Namun tahukah bila setiap hari Anda harus mengeluarkan uang untuk membeli minuman kemasan, maka biayanya juga tidak tanggung-tanggung. Tanpa Anda sadari, Anda bisa mengeluarkan uang dari Rp3.000 hingga Rp6.000 hanya untuk membeli satu buah minuman kemasan. Ada beberapa solusi menghindari pemborosan ini: 
a.      Bawa air minum sendiri dari rumah
b.      Bila Anda pegawai kantoran, biasanya selalu disediakan air minum dari kantor sehingga bisa lebih hemat
c.       Jangan hanya membawa gelas ke kantor, tapi bawalah juga botol untuk bisa diisi air sebagai bekal perjalanan pulang
d.      Kurangi membeli minuman dengan berbagai aneka jenis dan rasa, di samping kurang sehat, harganya jauh lebih mahal daripada air putih

Demikian beberapa tips untuk bisa Anda lakukan supaya memiliki gaya hidup tidak boros dan tidak kalah dalam bersaing, namun Anda justru bisa menjadi berkat bagi banyak orang di sekeliling Anda. 
Sampai jumpa lagi dengan tips-tips yang berikutnya.

—oleh Raymond Sebastian Ernest (@myrayligion)

"Money has a way of possessing people, and only the wise can overcome its influence over the soul. Remember: either you master money or you serve it. Money is a good slave but a bad master."
—Sunday Adelaja

November 28, 2016

Resolusi Sehat 2017

Tidak terasa, tahun 2016 akan segera berakhir dan kita memasuki tahun yang baru 2017. Mungkin telah banyak atau beberapa pencapaian yang Tuhan izinkan kita raih dan kita bersyukur untuk itu semua. Namun, berkat yang tidak kalah penting dan wajib kita syukuri adalah kesehatan tubuh, jiwa, serta roh yang memungkinkan kita untuk mampu menjalani setiap aktivitas sehari-hari.

Tuhan jugalah yang menganugerahkan kesehatan bagi kita. Tetapi, kita juga wajib memiliki peran dalam menjaga kesehatan sebagai bentuk ungkapan syukur dan tanggung jawab kita memelihara bait Allah, yaitu tubuh kita.

Pola hidup yang tidak sehat sering menjerumuskan kita pada berbagai macam kondisi tubuh yang meyebabkan tubuh rentan mengalami masalah, bahkan sakit-penyakit. Salah satunya adalah obesitas. Obesitas ditemukan pada orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Lebih dari 1,4 miliar orang dewasa yang overweight (kelebihan berat badan) dan lebih dari 500 juta orang dewasa di dunia mengalami obesitas.

Menurut WHO, pada tahun 2008, sebesar 65% penduduk dunia tinggal di negara dengan obesitas dan overweight membunuh lebih banyak daripada kondisi underweight (indeks massa tubuh di bawah normal). Setidaknya 2,8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun akibat kondisi overweight dan obesitas. Selain itu, overweight dan obesitas menyebabkan seseorang memiliki risiko menderita Diabetes Melitus (44%), penyakit jantung iskemik (23%) dan kanker (7 – 41%).

Di era modern seperti sekarang ini, banyak penyakit yang dapat datang tiba-tiba dan menyerang kita secara cepat maupun lambat. Dengan memiliki pola hidup dan menjaga gaya hidup sehat, kita bisa mencegah hal itu. Bukan rahasia lagi, jika kebanyakan masyarakat dipaksa oleh situasi yang harus selalu bekerja, mengejar deadline, dan sebagainya sehingga tidak memiki waktu istirahat cukup, tidak ada waktu untuk berolahraga, dan tidak sempat mengatur jumlah ataupun jenis makanan sehat yang dikonsumsi sehari-hari. Kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dan kurangnya aktivitas fisik setiap hari, menambah daftar panjang kebiasaan yang tidak mendukung tubuh untuk berada dalam kondisi prima.

Resolusi Sehat di Tahun Baru

Dari kita bangun sampai waktunya kita tidur setiap hari merupakan kesempatan untuk menerapkan hukum yang utama: “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37-39).”

Tuhan Yesus mengajar kita untuk mengasihi diri sendiri. Salah satu implementasi atau wujud nyatanya, dengan cara membangun kebiasan-kebiasaan baik dan menyehatkan tubuh jasmani kita.

Nah, memasuki awal tahun 2017 merupakan waktu yang sering kita gunakan untuk memulai sesuatu yang baru. Kita pun bisa membuat sebuah komitmen berupa resolusi untuk hidup sehat di tahun 2017. Berkomitmen hidup sehat sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Misalnya, melalui melakukan beberapa cara dan hal berikut ini.

·   Cek kesehatan secara rutin.
Sudah waktunya kita datang ke fasilitas kesehatan bukan sekadar untuk mengobati penyakit, namun mengecek kondisi tubuh walau tanpa keluhan yang terasa. Mulailah dengan pengecekan rutin di fasilitas kesehatan atau pusat pembinaan kesehatan yang ada di komunitas, di antaranya pemeriksaan kadar gula darah secara rutin (wajib melakukan pengecekan diabetes bagi orang berusia 40 tahun ke atas), tekanan darah sebulan sekali, kadar kolesterol, asam urat untuk mengecek hasil pola makan yang selama ini kita jalani. Bagi kaum wanita, bisa menjalani IVA test atau Pap Smear, yang keduanya merupakan upaya pemeriksaan kanker serviks (leher rahim). Atau, menjalani mamografi (pemeriksaan kelenjar payudara dengan menggunakan sinar-X untuk mendeteksi awal kanker payudara).

·   Diet seimbang.
Kebiasaan makan yang benar atau sesuai antara kebutuuhan kalori harian dengan asupan makanan yang dimakan akan menghindarkan kita dari obesitas (kegemukan) dan penyakit-penyakit metabolis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, stroke, dan lain-lain. Kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi guna menolong kita mengetahui kebutuhan kalori sehari-hari serta mencatat jumlah makanan yang telah kita konsumsi, misalnya dengan aplikasi nutrisi ENA-G yang dapat kita unduh (download) di Google Play Store.

Guna mendapatkan tubuh yang sehat dan kuat, harus memakan jenis makanan yang masih sega. Diet seimbang sesuai kebutuhan kalori setiap hari dengan tetap memperhatikan jenis dan jumlah asupan makanan  kita. Diet tinggi serat dari sayuran dan buah merupakan jenih pilihan diet yang baik bagi kesehatan.

Cara memproses makanan juga berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Kurangi dan hindari makanan siap saji atau minyak berlebih. Makan makanan yang dikukus, direbus jauh lebih sehat daripada makanan yang digoreng dengan suhu minyak panas tinggi panasnya yang dapat menyebabkan kandungan zat gizi rusak sehingga membuat tubuh tidak mendapatkan asupan manfaat gizi yang dibutuhkan.

·   Perbanyak makan buah dan sayur. (Lihat 6 Buah, 20 Manfaat.)
·   Tidak (ataupun berhenti) merokok.
Rokok merupakan satu dari sekian banyak materi yang mengandung zat bersifat karsinogen yang mampu memicu terjadinya kanker paru pada penggunanya. Sebagai umat Tuhan yang menghormati bait kudus-Nya, mari tidak merusak tubuh dengan mengkonsumsi rokok maupun menghirup asap rokok. Dengan komitmen kuat, kita yakin bahwa kita bisa berhenti.

 ·  Rajin aktivitas fisik.
Mungkin banyak orang yang malas berolahraga karena beralasan terlalu sibuk. Daripada tidak bergerak sama sekali, sekadar aktif bergerak untuk menjaga kesehatan itu perlu, walaupun tidak harus pergi ke gym (tempat latihan fitnes). Olahraga atau gerakan ringan bisa kita lakukan di mana saja. Sebab, mungkin kita tahu bahwa terlalu lama duduk mengakibatkan peningkatan risiko berbagai penyakit mematikan. Bagaimana jika pekerjaan menuntut kita untuk duduk seharian di depan komputer? Sebaiknya kita menyempatkan diri sejenak bergerak atau sering berjalan. Misalnya, jalan kaki ke toilet atau pantri (dapur) bisa membantu kita mengurangi duduk berlama-lama. Naik tangga alih-alih menggunakan lift ataupun bersenam di kantor pun salah satu solusi yang baik meminimalisir risiko penyakit stroke yang bisa mematikan saraf-saraf tubuh.(Lihat Siapa bilang di kantor tidak bisa olahraga?)

·   Kelola stres.
Stres sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh kita. Bagaimana kita mengelola stress, secara tidak langsung mempengaruhi kondisi tubuh kita. Waktu beristirahat yang cukup dan efektif, merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengelola stress dengan baik.
Bagaimana bisa istirahat dengan tenang, dikala date line mengejar, kebutuhan banyak yang harus dipenuhi?

Mari kembali ke Alkitab: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat. 11:29).” Dalam kondisi apa pun, bahkan di tengah badai, Tuhan Yesus masih bisa tidur lelap karena Dia tahu, tugas-Nya masih banyak dan beban-Nya berat, namun Dia percaya Allah Bapa memenggang kontrol atas semua, dan Dia punya kuasa serta otoritas untuk mengubah keadaan menjadi tenang. Jadi, bagaimana mengelola stres? Belajarlah dari Tuhan Yesus. Hati tenang, tidur senang, tubuh sehat.

Memang lebih mudah membuat resolusi daripada sungguh-sungguh mempraktikkannya. Seperti kata John Wooden, mantan pelatih basket terkenal, “Don’t tell me what you’re going to do—show me (Tidak perlu memberi tahu saya apa yang akan Anda lakukan—tunjukkan saja pada saya).”

Mau berubah dan beresolusi hidup sehat di tahun baru 2017? It’s up to you to be the healthier version of you. Mari memulai gaya hidup sehat secepatnya agar tidak terkena penyakit yang tak diinginkan. Jangan tunda-tunda lagi.

dr. Dina Iva Evariyana

November 25, 2016

Sukacita sejati

Tulisan ini diangkat setelah berbincang dengan salah seorang teman, Timothy Satya, yang memiliki gelak tawa cukup melegakan, lepas, dan penuh sukacita.


Klise tapi mau mengerti dari mana lagi: Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata sejatimemiliki arti tulen, asli, murni, dan tidak ada campurannya. Kalau diaplikasikan dengan kata sukacita, apa arti sukacita sejati?

Salah satu tolok ukur sukacita sejati adalah tertawa secara lepas. Tidak jaim”. Walau tak semata-mata tertawa lepas bisa menjadi ukuran sukacita sejati—sebab dalam diam pun bisa bersukacita—sering kali itu menandakan ketulusan seseorang, apa adanya, dan tanpa beban.

Mungkin ada beban, tapi meski demikian, ia tetap berupaya tersenyum dan bersukacita. Dan hanya aktor hebatlah yang dapat menyembunyikan hati yang hancur di balik raut wajah bahagia.

Sukacita lebih daripada sekadar emosi. Sukacita adalah perasaan berbahagia bercampur perasaan diberkati. Sukacita yang sejati tidaklah bergantung keadaan, melainkan merupakan karunia yang khas dari Roh Kudus (Kis. 8:39, Gal. 5:22).

Di dalam Perjanjian Lama, sukacita ditandai dengan kegembiraan luar biasa pada saat-saat perayaan tertentu (Ul. 12:6-28) dan perasaan lega ketika seseorang dapat membawa keluh-kesahnya ke bait Allah untuk mendapatkan penyelesaian (Mzm. 43:4).

Di Perjanjian Baru, nada sukacita menonjol pada Lukas 2:10 dan 19:37, serta Kisah Para Rasul 13:52.

Colleen Townsend Evans berujar, “Menurut dunia ini, sukacita harus selalu disertai dengan alasan yang tepat. Misalnya, tim favorit kita menang atau kita mendapat kenaikan gaji. Jika kita tidak punya alasan yang wajar untuk bersukacita, maka orang lain cenderung mencemooh.” Tapi, ketika Paulus menulis, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)”, ia sedang dipenjara. Jadi, apa pun yang terjadi, tetaplah bersukacita!

Sukacita ialah kualitas atau watak, bukannya perasaan hati melulu. Merupakan ciri khas kekristenan (1 Ptr. 1:8), gambaran permulaan sukacita kekal bersama Kristus di kerajaan surga (Why. 19:7), dan didasarkan pada Allah karena berasal dari-Nya (Mzm. 16:11, Flp. 4:4, Rm. 15:13).

Tapi... bisakah kita kehilangan sukacita yang sejati? Bisa. Karena apa?

  1. Faktor kepribadian atau temperamen | Misalnya, seseorang dengan tipe kepribadian melankolis mungkin akan sulit mengekspresikan tawanya, perasaannya. Lalu, lama-kelamaan ia takkan merasakan sukacita lagi, apalagi setelah berbuat jahat
  2. Latar belakang atau masa lalu seseorang | Seseorang yang pernah mengalami berbagai hal traumatis sehingga sulit mengekspresikan perasaan, mungkin dapat mempengaruhinya melakukan hal lain juga yang membuatnya kehilangan sukacita
  3. Faktor dari keadaan luar | Apa pun yang sedang dialami oleh seseorang, misalnya duka, penderitaan, dan lain-lain, lambat laun bisa saja membuatnya kehilangan sukacita sejati
Apakah kita bisa memperoleh kembali sukacita yang sejati itu? Juga bisa.

Apakah sesimpel itu? Ya, pertama, datanglah kepada Tuhan. Seperti Maria yang duduk dekat kaki Tuhan Yesus (Lukas 10:39). Ceritakan semuanya kepada Tuhan melalui doa. Dan jangan lupa membaca firman. Akan ada banyak hal yang membuat kita meninggalkan atau kehilangan sukacita, tapi Tuhan dapat memakai semua itu agar kita sadar serta belajar untuk hanya mengandalkan Dia.

Kedua, kita bisa datang kepada konselor gereja, atau seseorang yang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan, maupun kepada komunitas kita. Sebaiknya, kita tidak memendam masalah kita sendiri. Kita butuh bercerita. Memberi tahu kepada orang lain yang dapat dipercaya tentunya, bukannya malah menggosipkan yang telah kita ceritakan.

Ibarat truk besar yang berjalan sangat-sangat lambat karena membawa beban berat, apabila kita memanggul masalah kita sendirian terus-menerus, itu akan mempengaruhi pikiran dan kehidupan kita. Lalu, suasana hati. Maka, mau tak mau akan mempengaruhi perkataan dan kinerja kita. Sehingga dapat berpengaruh buruk terhadap masa depan. Dan menggerogoti iman. Bahkan, saat tak lagi dapat menanggungnya, maka membuat kita depresi, stres, bahkan terdorong melakukan tindakan bunuh diri.

Ketiga, cobalah untuk menceritakan keadaan kita kepada anggota keluarga kita, istri atau suami, ataupun lainnya. 

Yang terakhir, keempat, mungkin adalah meniru dan belajar dari sikap anak-anak. Mereka sering tertawa dan sekadar bersukacita, bukan?


Suatu malam, jelang tidur. Iva istri saya berceloteh, "Kayaknya aku udah lama nih ga liat abang doa lagi..." Jleb . Sent...