November 20. Bidang kepenulisan kehilangan salah seorang
penulis muda wanita berbakatnya. Imelda Saputra.
Nama Imelda awalnya saya kenal lewat tulisan renungan.
Tulisan-tulisannya cukup khas menyemangati kita di dalam menjalani kehidupan.
Beruntung pada acara ASWELL,
Annual Spirit Writers Fellowship 2012 yang diadakan oleh tim buku renungan Spirit
dengan pembicara Xavier Quentin Pranata, sempat berbincang dengannya—walau
sejenak, tentang kata-kata, penulisan, tentang hidupnya.
Akan bakal lama, bidang kepenulisan tidak menerima
goresan-goresan kata dari Imelda lagi. Tulisan-tulisannya, dan tulisan-tulisan
kita, sangatlah berarti, dan saya percaya, Imelda pun pasti menyepakatinya,
bahwa lebih daripada kata-kata itu sendiri, hidup ini amatlah berarti.
See you, Imelda Saputra.
***
Imelda, Memberi Inspirasi dari Kursi Rodanya
—oleh Lois Butterfly
Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu
aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan
memakai aku menjadi pena-Nya untuk menyemangati banyak orang, sama seperti Ia
menyemangati aku untuk menjalani hidupku.
Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih
balita, orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki
kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika
operasi dilakukan, ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi,
kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku
lumpuh.
Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan
lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap
kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi
usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku
pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, "Malas
ah…," orangtuaku kembali bertanya, "Kamu mau sembuh ngga?" Hal
itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.
Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang
dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang
diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah
tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.
Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat
senang. Karena anugerah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum, sekalipun aku
cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang
memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal
saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.
Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda,
namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di
bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat
padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga sore. Setelah
itu, kadang ada les yang kuikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang
karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan
membuat kesehatanku menurun.
Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku
rasakan karena aku takut tidak diizinkan ke sekolah. Tapi hal itu tidak
berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan
sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit decubitus dan tipes akut
sehingga aku harus dirawat di RS. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku
berhenti bersekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di
tempat tidur tanpa daya.
Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan
apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah.
Sering tebersit di pikiran, kalau lebih baik aku mati. Tapi suatu hari
seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang
kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata,
"Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya." Tapi perawat itu
berkata pada mamanya, "Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku
ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan."
Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, "Kalau
aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh."
Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung
berdoa. "Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku
mengasihimu Tuhan..." Kata-kata itu sudah lama tidak pernah kuucapkan
kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku
kembali.
Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga
berangsur membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku.
Hari itu juga aku menghubunginya. Di telepon itu dia berkata, "Mel,
beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..."
Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa
yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan Natal di
tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.
"Saya mau berdoa buat kamu," demikian ucap pendeta
tersebut.
"Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..." katanya.
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang
memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi
hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu.
Salah satunya adalah:
"Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya
Tuhan."
Sempat aku merasakan keraguan, "Bener nih, Tuhan...?"
Tapi saat itu juga Tuhan serasa berbicara, "Aku yang akan melakukannya, bukan kamu."
Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak
menghabiskan waktu di rumah. Aku pun mulai banyak membaca, mulai dari buku,
hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir
aku juga bisa menulis seperti itu. Aku pun mulai mencoba menulis, ketika ada
lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang kukirimkan ditolak
dan dikembalikan semua.
Waktu berbagai karyaku ditolak, aku sempat merasa,
"Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat." Beberapa lama aku sempat
berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat
olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku
tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan
itu terwujud, aku harus terus menulis.
Aku tidak tahu dari mana datangnya inspirasi itu, terkadang
seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. "Nanti
nulisnya seperti ini… awalnya seperti ini..." Tuhan hanya memberi tahu aku
sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.
Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada
tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah
penerbit menghubungiku.
"Imelda, bukunya diterima ya, kami terbitkan."
Aku seakan tidak percaya, "Buku… penerbit… buku yang
mana ya?"
Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya
diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak
pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.
Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah
aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam
hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa.
Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, aku pun
juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu,
aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur
untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan
ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku, namun juga untuk orang lain.
 |
Imelda bersama Petrus Kwik |