June 29, 2018

Terserahlah


Subuh tadi, setelah sekian lama tidak melakukan, dan setelah cukup lama merindukan, akhirnya kembali saya bersaat teduh. πŸ™‚

Dan mungkin ini akan terdengar agak kolokan, atau klise, tetapi sepertinya suara hati mengatakan untuk saya membaca firman dari kitab yang berawalan huruf S saja.

Sekilas saya coba cari-cari. Awalnya saya kira tidak ada. Entah mungkin karena mata saya yang masih mengantuk.

Kalau yang berakhiran dengan huruf S sih banyak. Amos. Yunus. Matius sampai Yohanes. 1-2 Korintus. Efesus. Timotius. Yakobus, dan lainnya. Tapi yang berawalan S, kok tidak saya ketemukan.

Lantas, saya coba lagi cari dari awal. Secara perlahan. Eh ternyata, ada.

1 & 2 Samuel.

Kemudian, saya mulai membaca pasal 1 saja pagi ini. Dan lewat pembacaan itu, saya rasa memperoleh sejumlah pengertian ataupun pewahyuan.

Tetapi, memang benar kata Ps. Rubin Ong bahwa pewahyuan (revelation) atau pengertian (understanding) tanpa dilakukan atau dipraktikkan, itu percuma. Tentu percuma. Sia-sia bagi pihak yang menerimanya, bukan bagi pihak pemberi.

Ada sejumlah hal maupun kata-kata yang belum pernah terlintas di benak maupun pelupuk mata saya melalui membaca pasal 1 tersebut. Misalnya, Ramataim-Zofim, yaitu daerah asal Elkana, orang Efraim (ay. 1). Daerah itu lebih singkat dikenal juga dengan nama Rama.

Elkana mempunyai dua orang istri—hal yang mungkin masih lumrah kala itu.

Hana (yang kalau dalam bahasa Jepang, artinya bunga) dan Penina. Itulah kedua nama istrinya. Nama Hana juga berarti anugerah. Tetapi dia mungkin secara pribadi belum menyadarinya. Penina dikaruniai anak, sementara Hana, disebutkan waktu itu, tidak (ay. 2).

Elkana mempunyai kebiasaan baik, yaitu untuk menyembah Tuhan dan mempersembahkan korban di gedung peribadahan (rumah Tuhan) di Silo (ay. 3).

Di ayat 4, Elkana memberikan sebagian dari korban sembelihan bagi Tuhan kepada Penina serta semua anaknya laki-laki dan perempuan untuk dimakan. Tradisi waktu itu memang membolehkan sebagian dari hewan yang dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan, untuk sisanya dimakan oleh orang-orang yang beribadah.

Elkana memberikan kepada semua anaknya laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa ia memperoleh sejumlah keturunan, bukan anak semata wayang, dari Penina. Sedangkan, dari Hana belum ada satu pun.

Sedangkan, kepada Hana, Elkana memberikan hanya satu bagian (ay. 5)—entah yang terbaik, entah pilih kasih terhadapnya, entah apa. Disebutkan pula pada ayat ini, Tuhan telah menutup kandungannya.

Tersirat bahwa Tuhanlah yang menyebabkan kemandulannya. Bukan tanpa maksud. Sebab terkadang Dia sanggup mengizinkan kekecewaan kita alami, maupun situasi-situasi yang membuat kita merasa tiada mampu atau rendah diri, tetapi itu supaya kita dimampukan-Nya untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita.

Kata madunya pada ayat 6 kurang saya mengerti artinya. Mungkinkah mengacu pada Penina? Sebab di ayat 7 dijelaskan bahwa setiap kali Hana pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hatinya. Hati Hana selalu merasa tersakiti oleh madu itu, sebab Tuhan telah menutup kandungannya. Mandul.

Beberapa bagian Alkitab memang menyajikan hal-hal apa adanya secara jujur. Tapi ada juga bagian yang masih terasa merupakan misteri bagi kita. Tetapi itu tidak mengapa.

Alright, sebenarnya ayat 7 ketika saya saat teduh subuh tadi, benar-benar lolos dari sorotan mata saya yang masih mengantuk. Sebab, saya belum membaca bagian yang menyatakan bahwa dari tahun ke tahun, setiap kali Hana pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hati Hana.

Penina menyakiti—membuat menggerutu, mengacaukan batin, membuat hati bergejolak, menghasut—secara sengaja dan sadar. Sampai-sampai Hana menangis dan menolak makan.

"Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" kata Elkana (ay. 8). Mungkin Hana sudah menceritakan keluh-kesahnya kepada suaminya itu. Dan Elkana mungkin sudah memberi telinga untuk mendengarnya. Sehingga Elkana mengetahui penyebab kegundahan hati Hana istrinya.

Tetapi, kadang menumpahkan uneg-uneg kita kepada orang lain tidak akan memecahkan masalah. Dan orang yang mendengar jeritan hati kita hanya bisa menanggapi. Tanpa benar-benar mau bisa mengerti atau ikut merasakan.

Juga mungkin baik Hana maupun Elkana, terlebih Penina yang menyakiti hati, waktu itu belum tahu atau menyadari rencana Tuhan di balik semua pengalaman keluarga itu. Apa salah satu rencana-Nya? Bahwa lebih baik satu tapi diserahkan kepada Tuhan yang punya maksud ilahi yang baik dalam hidup, daripada memiliki banyak tapi tanpa diserahkan kepada-Nya dan tanpa tujuan apa pun dalam hidup.

Hal ini bukan hanya menyangkut soal anak, melainkan juga tentang apa-apa yang sekiranya sedang Tuhan proses dalam hidup kita. Entah itu kehidupan pribadi. Pekerjaan. Teman-teman. Pendidikan. Masa depan. Dan lain-lain.

Ayat 9 dan 10 menunjukkan sikap hidup yang patut ditiru dari Hana.

Hana, anugerah itu, membawa situasi hidupnya serta kepedihan hatinya langsung kepada Tuhan. Dia berdoa sambil menangis tersedu-sedu—mungkin lebih basah, lebih deras daripada air hujan yang turun membasahi muka bumi. Sudah sejak kapan kita belum menangis lagi? Air mata adalah pelumas jiwa.

Menurut saya, tidak banyak orang seperti Hana. Mereka, Anda dan saya, justru sering kali tidak datang kepada Allah dalam pergumulan kita lewat doa dan mengutarakan apa saja keluh-kesah hati kita.

Kita condong memendamnya sendiri.

Ataupun, mengoar-ngoarkannya kepada banyak orang. Kita mengandalkan kekuatan diri, kemampuan berpikir, jarang datang kepada Dia—yang mendesain kita untuk senantiasa mengutamakan Dia dan untuk berinteraksi utama dengan Dia. Kuat dan berpikir memang tidak salah. Tetapi jika itu semata-mata, itu yang salah (Yer. 17:5-8).

Kita mungkin lupa bahwa bukan hanya doa itu sanggup mengubah sesuatu, ataupun seseorang, melainkan juga doa itu sanggup membuat, mengadakan sesuatu. Kalau tidak secara segera, mungkin kelak.

"Tuhan semesta alam," kata Hana di ayat 11 dan kata-kata pada ayat 3 sebelumnya. Jehova Zebaoth. Tuhan atas jagat raya, bintang-bintang, malaikat, segenap daya alam semesta. Yang mampu menyembunyikan matahari pagi terlebih dulu di balik tirai-tirai awan.

Dia berdaulat. Atas alam raya, dan atas hidupmu.

Dan melalui ayat itu juga, Hana sedikit-banyak menyatakan, Tuhan sanggup sungguh-sungguh memperhatikan—baik perilaku maupun keadaan hidup kita.

Tuhan sanggup sungguh-sungguh mengingat. Tidak melupakan (Yes. 49:15).

Serta apa yang dilakukan Hana, berjanji untuk menyerahkan anaknya apabila dikaruniai Tuhan—sebuah nazar yang memang nantinya di ayat selanjutnya ditepati—untuk menjadi alat bagi pekerjaan-Nya maupun penginjilan, juga mendukung, mendorong, dan mendoakannya merupakan hal yang amat berkenan kepada Allah.

Korban persembahan Hana yang rela tersebut tentu jauh lebih besar maknanya daripada korban persembahan Elkana yang rutinitas.

Keep on praying, keep on pushing. Hana terus-menerus berdoa di hadapan Tuhan (ay. 12). Kalau kita, apa yang kita lakukan sekarang, secara terus-menerus?

Hana sekali lagi menunjukkan teladan hidup yang patut ditiru, yang mungkin tidak dilakukan oleh banyak orang pada zamannya—maupun sampai zaman ini. Hana terus-menerus berdoa. Coba pertimbangkan dan renungkan kata-kata terus-menerus ini.

Tetapi, sekalipun demikian, terkadang pun kerap kali tindakan rohani yang kita lakukan ditangkap secara berbeda oleh orang lain…

Mirip apa yang dilakukan rekan-rekan Ayub ketika ia tertimpa musibah, demikian juga imam Eli terhadap wanita yang mengalami kesengsaraan ini, Hana. Meski Eli menjabat posisi imam, taklah serta-merta menjamin membuatnya tahu segala sesuatu yang sebenarnya terjadi.

Imam Eli, yang mengamat-amati Hana berdoa, menyangka Hana mabuk karena hanya bibirnya yang seperti komat-kamit, tidak terdengar suara doanya.

Tetapi, masih lebih baik dikira mabuk karena sangat rindu akan Allah dan pertolongan-Nya, daripada benar-benar mabuk dan mencari-cari pelarian lain. Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku (Mzm. 69:10). Rumah atau kediaman itu juga bisa berbicara tentang kehadiran, kuasa, kasih, dan damai sejahtera Tuhan.

Kita pun tentu dapat sedikit-banyak mengerti bagaimana rasanya berdoa tapi tanpa bersuara, atau setidaknya suara pelaaan sekali, ketika berdoa. Seperti Hana. Mengapa? Itu saking beratnya penderitaan atau beban hidup dan pergumulan yang kita alami.

Ada dua pilihan jalan ketika seseorang mengalami beban berat hidupnya: mencari pelarian dan menghakimi orang lain, ataukah berlutut dalam doa dan tidak menghakimi. Orang seperti Hana, yang berbeban berat, tidak punya banyak waktu untuk menghakimi, dia lebih punya banyak waktu untuk mendoakan.

Hana membela diri karena benar (ay. 15-16). Meski demikian, dia tidak ingin membalas, dia lebih memilih mengharapkan menerima berkat saja dari imam Eli yang menyangkanya mabuk.

Ayat 18 adalah salah satu ayat yang saya suka dari pasal ini. Khususnya bagian akhir.

Muka Hana tidak lagi muram. πŸ™‚

Barangkali lebih cerah ketimbang bunga Sakura yang mekar di musim semi. Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang (Ams. 15:30). Baik menyukakan hati diri sendiri maupun orang lain.

Mungkin itu pulalah yang menyebabkan Elkana jadi ingin memadu asmara (ay. 19) dengannya setelah kembali pulang ke Rama. Padahal mungkin sebelumnya enggan, sebab memandang wajahnya saja yang merengut kisut membuat tidak mau mendekatinya.

Apakah sekarang muka kita masih muram oleh sesuatu? Janganlah sembunyikan masalah. Datanglah kepada Allah agar tidak masam atau muram muka.

Kemudian, hamillah Hana dan melahirkan berupa anak laki-laki, Samuel (ay. 20).

Dan ketika seperti biasanya, Elkana hendak pergi ke rumah Tuhan untuk menyembah di sana serta mempersembahkan korban, Hana tidak mau ikut (ay. 21-22). Entah kenapa pastinya, walau telah dia nyatakan alasannya di ayat selanjutnya.

Kita hanya bisa menduga-duga. Mungkin karena takut akan disakiti hatinya lagi oleh Penina—bahwa meski Hana telah memberikan anak bagi Elkana, tapi baru satu.

Entahlah.

Ada lagi bagian lain yang menarik bagi saya. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu (ay. 24).

Samuel, sang nabi besar, pernah anak-anak. Tetapi dia tidak tetap di situ, berkanjang di level kanak-kanak. Ia terus bertumbuh rohaninya, terus setia mau diproses oleh Tuhan, dan terus mengikuti Dia, melakukan perintah-Nya.

Mungkin kita sekarang masih stuck dan mempunyai sifat kanak-kanak dalam hal tanggung jawab, emosi, dan lainnya. Tinggalkanlah (1 Kor. 13:11). Bertumbuhlah secara rohani.

Akhir kata πŸ™‚, bagian ujung pada pasal 1 ini juga sangat-sangat menarik bagi saya.

"'Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.' Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN" (1 Sam. 1:28).

Seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan.

Terserahlah ia kiranya.

Terserahlah.

Satu orang, satu kehidupan, yang diserahkan secara sungguh-sungguh kepada Tuhan, bisa meraih banyak bagi-Nya. Dan Dialah yang akan sungguh-sunguh memelihara. Tangan-Nya tak pernah salah.

Tinggal pilihannya pada kita.

Apakah mau menjadi seperti contoh yang tidak baik dengan awalan maupun akhiran nama huruf S seperti Saul dan Yudas? Ataukah contoh yang baik dengan awalan maupun akhiran nama huruf S seperti Samuel dan... Yesus?

Terserahlah.



29 Juni 2018

Franisz



Pakar

Suatu malam, jelang tidur. Iva istri saya berceloteh, "Kayaknya aku udah lama nih ga liat abang doa lagi..." Jleb . Sent...