October 10, 2017

Hattie May Wiatt

Kisah nyata ini terjadi pada akhir tahun 1800-an di Philadelphia, Amerika. Ada seorang gadis kecil bernama Hattie May Wiatt berdiri terisak di dekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, dia tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena sudah terlalu penuh.

Pdt. Russell H. Conwell yang kebetulan lewat menanyakan mengapa dia menangis.

“Aku tidak bisa ke Sekolah Minggu,” jawab Hattie.

Melihat penampilan Hattie yang acak-acakan dan tidak terurus, sang pendeta segera mengerti dan bisa menduga sebabnya dia tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Hattie bersama kedua orangtuanya tinggal di daerah kumuh karena mereka tergolong keluarga miskin. Segera dituntunnya Hattie masuk ke ruang Sekolah Minggu dan mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk Hattie.

Hattie begitu tergugah perasaannya, sehingga sebelum tidur di malam itu ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya, yang tidak mempunyai kesempatan untuk ikut Sekolah Minggu.

Ketika ia menceritakan pengalamannya itu kepada orangtuanya, sang ibu menghiburnya bahwa dia masih beruntung mendapatkan pertolongan dari bapak pendeta yang baik hati. Sejak saat itu, Hattie bersahabat dengan Pdt. Conwell.

Dua tahun kemudian, Hattie meninggal…

Orangtuanya meminta bantuan Pdt. Conwell untuk memimpin ibadah pemakaman yang sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan tempat tidur Hattie dirapikan, ditemukan sebuah dompet usang, kumal, dan sudah sobek di beberapa bagian.

Di dalam dompet tersebut terdapat uang receh sebesar 57 sen dan secarik kertas tulisan tangan Hattie yang isinya sebagai berikut:

Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja itu bisa diperluas supaya lebih banyak anak yang bisa datang Sekolah Minggu.”





Humanity

I miss my humanity. It what makes us human after all. And believe there are still goodnesses from people. Bring back my huma...