April 29, 2014

Tulisan campuran


(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)


Have you ever read A Tale of Two Cities by Charles Dickens? One of the stories shares a story about an ex-prisoner, Dr. Manette, who has been imprisoned for almost 18 years. He was put in Bastille prison before The French Revolution (1789–1799). And it was that revolution that set him free.

During his time in prison, he learnt to make a shoe—to be a shoemaker. He adopted that activity to set himself away from the pain in jail. Within the dark cell, he spent the time making shoes. At times, he might be thinking, the time I kill is killing me.

When he got released and tasted the sunshine, he didn’t feel excited. On the contrary, it made him afraid. He’s been too long inside the jail that it caused his “love” grew toward the cell. Thus, a servant, Madame Defarge (Monsieur Defarge’s wife), had a task to lock him up in a room—same size with the former cell. Then, behind the door he reverted to his obsessive shoemaking.

So are we. People often forget their promises—even to their loved ones. Norman Vincent Peale said, “Promises are like crying babies in a theater. They should be carried out at once.” After we done some mistakes (dark room), swore not to do it again, we broke our own firewall. We do the same mistake (same size) again without learning anything from it. You’d better not promise anything and do, rather than promise something, but not doing it. First, promise to yourself. Then, to others.

People also have two sides. Not all of them, though. The most miserable person alive is not the sinner enjoying the pleasures of sin, but a person who is trying to serve two masters. That’s not okay. My friend said that we can be a good man without being religious. We, too, might think we are walking in two sides of paths, lessons, lives, etc. This is still fine. Each own side will guide to one way and another whenever needed.

Some men can be like Dr. Manette. After got out from a certain place within its habits, they cannot really free themselves from that place and the customs. They feel obliged and sorry if not held those old ceremonies in the new place. “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives,” says Charles Darwin, “It is the one that is the most adaptable to change.”

Why be so serious when everyone’s not? Why spend your best time with those you don’t know or love—while when you’re in the middle of somewhere, you search and miss whom you love? Why really listen to those you don’t love?

What’s the solution if in case we are much alike with Dr. Manette?

= = =

“Go on, get out! Last words are for fools who haven't said enough!”
—Karl Marx

What’s your last words? Your last words may determine what’s important to you. Whether in your writings or at the end of your life, your last words might define what matters most for you. Your first words of your book may render reader to read the next page. But, your last words in the last chapter may lead readers to consume your next book or not.

Some say if we already knew what to write in our own epitaph, we will know what to live—and where to go. Some great people do know what writings they want be printed in their epitaph. One of them is Benjamin Disraeli.

Whether it is negative or positive last words, should we not be judging. Because we do not know what others might have suffered. No matter whom they were. Or, we don’t know what we are may be facing. Just appreciate them. It is true that if we are much to condemn people, we have no time to love them. Then, we realize or feeling to late in giving recognition for people like them.

We might feel pity for them. Or, if we did what’s more than them, we’ll give a salutation to them. Or, we might feel inspired by their words. Below are the last words of some people you might to ponder and wonder.

  • “No.” (Alexander Graham Bell)
  • “Water.” (Ulysses S. Grant)
  • “Freedom…!” (William Wallace)
  • “I am ready.” (Woodrow Wilson)
  • “I can't sleep.” (J. M. Barrie)
  • 馬鹿者!馬鹿者!” (Admiral Aritomo Gotō)
  • “Now comes the mystery.” (Henry Ward Beecher)
  • “I want nothing but death.” (Jane Austen)
  • “I think I'll sleep now.” (George Washington Carver)
  • “I am not the least afraid to die.” (Charles Darwin)
  • “Oh, it is so good to be home!” (Wolfman Jack)
  • “It's very beautiful over there.” (Thomas Edison)
  • “Am I dying? Or, is this my birthday?” (Lady Nancy Astor)
  • “Give me coffee. I'm going to write.” (Olavo Bilac)
  • “I'd hate to die twice. It's so boring.” (Richard Feynman)
  • “This is the last of earth! I am content!” (John Quincy Adams)
  • “Dying is easy. Comedy is hard.” (George Bernard Shaw)
  • “I'd like to be in hell in time for dinner.” (Edward H. Ruloff)
  • “Goodnight, my darlings. I'll see you tomorrow.” (Noel Coward)
  • “I have to set my pillows one more night. When will this end already?” (Washington Irving)
  • Je vais ou je vas mourir, l'un et l'autre se dit ou se disent.” (Dominique Bouhours)
  • “The taste of death is upon my lips… I feel something that is not of this earth.” (Mozart)
  • C'est ici le combat du jour et de la nuit. Je vois de la lumière noire.” (Victor Hugo)
  • “KHAQQ calling Itasca. We must be on you, but cannot see you. Gas is running low.” (Amelia Earhart)
  • “If any of you have a message for the Devil, give it to me, for I am about to meet him!” (Lavinia Fisher)
  • “I have had a happy life and thank the Lord. Goodbye and may God bless all!” (Chris McCandless)
  • “Take me home. I was born in the South, and I wish to die and be buried in the South.” (Booker T. Washington)
  • “If all the swords in England were pointed against my head, your threats would not move me.” (Thomas Becket)
  • “I'd like to thank my family for loving me and taking care of me. And the rest of the world can kiss my ass.” (Johnny Frank Garrett, Sr.)
  • “Moose … Indian.” (Henry David Thoreau) When urged earlier to make his peace with God, his last coherent response was, "I did not know that we had ever quarreled."

= = =

“Apa yang terjadi padamu sejak pertemuan kita sebelumnya?”
—Ralph Waldo Emerson

Do you know what you do with your life? Mungkin kita bekerja karena haus pujian atau dukungan. Takut kritik. Padahal, kita biasanya hancur karena pujian. Mengapa? Karena kepala kita terpaku pada pujian itu. Jika Anda melakukan sesuatu yang buruk dan sudah tiada lagi orang yang mau repot memberi tahu Anda, itu tak baik bagi Anda. Kerap kali pengkritik adalah orang yang masih mencintai dan mempedulikan Anda.

Mungkin beberapa orang mengira kita tidak bekerja. Makan gaji buta. Mereka tak tahu yang telah kita kerjakan. Mengapa kita mudah berprasangka? Bacalah kata ini: Ecidujerp. That word is ‘prejudice’ spelled backwards. Whichever way we spell it, it doesn’t make sense. Namun, mungkin saat itu kita bekerja karena tekanan. Lalu, kita mulai mengerti alasan seseorang bekerja dengan aneh atau tak banyak bekerja.

Kemudian, ada orang yang tampil sibuk. Mungkin ia memang bekerja tepat pada saatnya—ada pemimpin, tugas, perintah, dan lainnya. Profesional adalah mengetahui yang kita lakukan. Kata ‘profesional’ berasal dari bahasa Inggris, professional, yang berakar dari bahasa Latin, profitieri. Artinya, deklarasi diri secara terang-terangan untuk memeluk suatu ajaran agama.

Kadang kita tak perlu tahu apa yang kita lakukan. Jika kita banyak tahu, risikonya lebih menggunung dan kita takut. Tawon besar mampu terbang karena tak sadar sayapnya terlampau besar. Albert Einstein pernah berkata, “Jika kita tahu apa yang kita kerjakan, itu tak akan disebut riset, bukan?”

How much do you know about yourself? Start by imagining a meeting between yourself and a total stranger. Your task is to tell them about your life and what makes you the person you are today.
—Michael Lawson

= = = 

“Menulis adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah hidup.”
—Beverly Lewis

Hal menulis merupakan suatu kegiatan yang menyehatkan. Para penulis pada umumnya gelisah dan sensitif. Orang yang gelisah itu sehat. Sensitif itu tak apa-apa. Namun, sebaiknya tidak hipersensitif. Mengapa? Karena akan menyebabkan paranoid. Stephen King menggoreskan pena, “Ternyata menulis mampu membuatku mengatasi rasa sakit yang luar biasa.”

Ultra Milk memang menyehatkan. Apalagi, setelah berolahraga. Namun, ultra menulis lebih menyehatkan. Apalagi, sehabis banyak berpikir. Akan tetapi, orang-orang tak mesti menyaksikan kita selalu menulis. Randy Pausch mempusakakan pena, “Kegigihan memang sikap baik. Tetapi, tak berarti bahwa semua orang harus selalu melihat sekeras apa kita mengusahakan sesuatu.”

Kadang kita membutuhkan momen untuk menangis. Lalu, membiarkan orang lain melihat kita kalah. “Winning isn’t everything, but wanting to win is,” you said. Itu benar. Bagaimana dengan writing isn’t everything, but wanting to write is? Dan perlu refreshing, selain menulis. Misalnya, memotret, menyuting, memancing, jalan-jalan sore di mal, hang out, sekadar berbuat sesuatu—please, right association :)—dan lain-lain.

Beberapa pendansa di atas kertas dan seorang sahabat saya menulis saat pagi. Mengapa? Karena lebih segar dan kreatif. Apakah kita bisa tertawa pada pukul 4 subuh? Bukan karena canda atau acara, melainkan karena memori manis. Kalau kita bisa, kita sehat. Dr Norman Vincent Peale terbangun, “Ada satu cara pasti untuk menentukan apakah Anda tua: bagaimana sikap hati Anda saat bangun pagi? Orang yang muda, bangun pagi dengan perasaan sukacita. The more you lose yourself in something bigger than yourself, the more energy you will have.”

Beberapa orang yang “sibuk” dan seorang abang saya menulis saat malam. Mengapa? Karena lebih tenang dan hanya itu sisa waktu. Keinginan menulis sebaiknya mengalahkan rasa kantuk. Namun, pada waktu malam, badan biasanya lelah. Lalu, capek untuk merenung atau menulis. Lagipula, banyak godaan—menghitung domba, menonton acara, dan lainnya. Toyohiko Kagawa mengerti, “Betapa bencinya aku akan kebebalan badan yang lelah ini pada saat-saat aku mau merenung.”

Kita adalah biarawan dan biarawati di tempat pilihan masing-masing. Ada pilihan yang salah. Ada yang benar. A monk who doesn’t live what he believes is a monkey. If it’s easy to type and erase, that makes your writings easy (gampangan)! Dalam menulis dengan pensil atau pena itu sama dengan olahraga pikiran. Hal menulis itu lebih melelahkan ketimbang berolahraga atau jogging pagi.

Anda bertanya apa itu ultra menulis? Dalam bahasa Inggris, menurut kamus Merriam-Webster, kata ultra berarti going beyond others or beyond due limit; extreme. Jadi, kita bisa mengartikan ultra menulis adalah kegiatan kerap menulis. Namun, jangan terlalu bersaing dengan penulis lain walaupun boleh membuat tulisan tandingan. Jadilah nomor satu bagi diri sendiri. Orang-orang berbuat hal-hal gila saat bersaing.

Mengapa perlu menulis? Apakah menulis membuat kita mampu mengatasi masalah hidup dan rasa sakit? Apakah kita hanya akan menulis, tanpa menimbulkan kegiatan? Paul J. Meyer menulis dan bertindak, “Writing crystalizes thought. And thought produces action.” When you not do your writing, people would like to throw it! Apakah perlu sering menulis? Roxanne Armes berkata, “You can acomplish anything if you just work on it 15 minutes a day.” Di mana, kapan, dan bagaimana menulis? Sesuaikan dengan diri Anda. Bukan Anda yang menyesuaikan diri terhadap drum. Sebaliknya, drum yang selaras dengan Anda—that’s also for writing. But, not for the Book.

“Kertas-kertas kosong besar adalah magnet bagi ide-ide. Kalau ada tempat yang dituju, tampaknya ide-ide bermunculan. Komputer mungkin membuat Anda mencatat lebih rapi. Namun, pemikiran hebat tidak selalu rapi. Kertas kosong menginspirasikan ide-ide imajinatif. Sediakanlah banyak kertas kosong. Jika tidak, kekurangan kertas bisa menghambat ide Anda.”
—Scott Thorpe

= = =

And I realize it has been almost a year since I have posted anything. What? Does working outside of being a freelance writer really take away that much of a writer's time? Apparently so.
—Crystal A. Murray

Orang-orang mulai banyak berbicara ketimbang menulis. Namun, orang-orang yang bertindak sama bagusnya dengan orang yang menulis. Para tukang bangunan tak jauh berbeda dari para kuli tinta. Mereka mampu melakukan ilmu masing-masing bila suka.

Orang yang kerap berpikir needs to speak a lot. Ia banyak berpikir sehingga tak mengoceh. And right now we need to think much about, not our outward, but our heart.Orang yang sering berbicara often needs to silent. Keintiman sejati terjadi saat sama-sama diam atau saling mendengarkan. Henri Nouwen bersuara, “Kata yang penuh kuasa adalah kata yang keluar dari keheningan.” Nancy Moser berkata, “We don’t need to talk all the time.

Ada baiknya untuk berbuat buruk di depan mata orang lain, tetapi merencanakan dan berbuat baik baginya di balik matanya. Itu lebih baik daripada berbuat baik di hadapan kaca kepala tanpa memiliki keinginan baik bagi orang lain. Mungkin ia sulit menerimanya. Namun, orang yang tiada suka karena mengira engkau jahat akan kagum saat membaca indah namanya dalam tulisanmu. Hatinya pun seperti jam pasir, meluluh, saat menerima kebaikanmu.

Lebih baik your world knowledge is reducing, tetapi your human interactive is increasing. Are you too smart to acknowledge that you are fool? Saat kita kehilangan ketertarikan terhadap manusia, kita berhenti hidup. Manusia adalah objek menarik mata dan hati, baik dalam tulisan, gosip, headline koran, dan lain-lain. Jepang canggih dalam teknologi dan industrinya. Sedangkan, Ghana maju dalam hubungan antarmanusia. Membenci manusia—siapa pun dia—merupakan penyakit parah. Saya tahu ini susah. Lips service (sekadar bicara)  dan “hands service” (cuma menulis) memang mudah.

Apa yang ingin engkau tulis? Apa yang topi hidupmu (hati) ingin lakukan? Menulis atau memundi uang? Apa yang lebih utama? Uang, tulisan, atau arti? “It's what you learn,” cetus John Wooden,“after you know it all that counts.” Intinya, melakukan. Apakah engkau tak menulis lebih dari 15 menit, tetapi tidak melewatkan 15 menit tanpa menulis—catatan kecil, reminder, atau apa pun? Pena yang tua lebih baik ketimbang ingatan yang tajam.

Alasan kita tak menulis mungkin karena kekurangan waktu. Namun, Randy Pausch dalam buku The Last Lecture bertanya, “Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka kita?” Philip Yancey senada, “What have you not written yet that if you died, you would regret?

= = = 

"Many words do not satisfy the soul. But a good life eases the mind and a clean conscience inspires great trust.
—Thomas à Kempis

Para penulis yang kekurangan ide seperti dokter yang kekurangan pasien, pendeta yang kekurangan jadwal berkhotbah. Lebih dari dua hari ini aku kekurangan ide, waktu, dan space. Pulang kerja malam. Lalu, berada di tempat tinggal berdesak ramai—baik orang-orang maupun suasana hati. Para penulis andal berkata, “Kendalikan mood.” Namun, seolah-olah sekarang mood mengendalikanku.

Mulai jarang menulis karangan sendiri. Namun, Xavier Q. Pranata, John C. Maxwell, beberapa penulis lain juga memperangkokan anak pena penulis lain. Tulisan sudah tidak asli lagi. Kadang-kadang orang-orang juga memakai jasa tulis orang lain (baik sebagai co-author maupun ghost writer).

Kekurangan ide. Namun, hal itu bisa menjadi alibi. Joel Falconer dalam http://menwithpens.ca berkata bahwa inspirasi atau ide hanya alasan terbesar penulis. Ide memang perlu. Tetapi, kita hanya perlu menulis. Penghambat terbesar biasanya kita terpaku pada tulisan-tulisan lama kita yang bagus. Kita pun merasa sudah memiliki banyak tulisan. Padahal, orang-orang lain sudah menciptakan ratusan tulisan.

Kita bisa memperoleh inspirasi, ide, bumbu, atau adonan untuk menulis memang dari membaca pula. Akan tetapi, latihan tempur terus tanpa berperang tak berarti apa-apa. Apalagi melakukan yang kita tulis. It’s hard to give birth what you write. All men can speak or write spiritual things. But, not all men can put them into application. {Speaking of a witch :)}. Jika tulisan kita biasa-biasa saja, kita malu pada para tukang bangunan. Kalau pekerjaan kita tak penting, orang tidak akan membayar kita.

Tulisan kita lebih renyah daripada makanan Jepang. Masakan yang terkemas unik di atas kotak-kotak imut. Engkau bisa melakukannya bila kaya ilmu. Namun, berbagilah. Engkau merasa kaya ilmu. Lalu, terlalu pelit untuk membagikannya kepada orang lain. Engkau keriput bila tak men-sharing ilmumu. Engkau akan tetap muda kalau berbagi walaupun memiliki ilmu rahasia. Engkau terlalu dekat dengan tanah (tua) untuk tetap memikirkan uang. Happiness is real when shared. And life is too short not to share, anyway. All men can write (have writings or relationships). But not all men meant them.

Sewaktu-waktu kita mengalami tak punya waktu. Dari sejuta umat di dunia, kita merasa hanya kita yang sakit gigi (tidak mempunyai waktu sehingga sibuk sekali). Padahal, bukan kita saja yang “sakit gigi”, bahkan banyak orang yang lebih parah. Juga ada orang yang tidak sakit gigi, tetapi rela menyakitkan giginya yang normal. Janji menulis terabaikan. Menulis adalah disiplin. Aku tahu ini susah. Makin sibuk kita, makin perlu kita menulis (speaking of praying, too). Both of them can be such medicine.

Mengapa menggampangkan menulis? Berlambatlah untuk berkata-kata. Namun, ada orang yang mampu menulis cepat pula. Tiga jam untuk tiga paragraf tidak apa-apa. Tiga puluh halaman dalam sehari juga bisa. Hal terpenting adalah menemukan ritme yang sesuai untuk kita. Vino Sinaga menginspirasi: Ada tiga jenis penulisan atau tulisan, yakni condemned writing (menulis atau tulisan karena tekanan); compensatory writing (menulis atau anak pena untuk imbalan); dan condign or conditional writing (menulis dengan hati). Orang lain melontarkan apa pun kepadamu, hatimu yang menentukan. Aku tahu ini susah. Namun, belajarlah menerima kritik. Benar-benar menulis memakai hati (pena hidupmu) mampu membantu.

“Pada musim dingin atau panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, ia duduk di depan meja tulisnya. Dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya ia lakukan pada pukul 2 atau 3 sore. Pekerjaannya tak terputus, selain untuk berjalan-jalan mencari udara segar. Tetapi, selalu membawa notes untuk menulis inspirasi segar yang ia dapatkan saat berjalan.”
—H. A. Rudall

= = = 

Engkau iri saat melihat orang lain memberi seseorang sesuatu. Mengapa? Mungkin karena pada masa kecil, engkau sedih ketika orangtuamu memberi adik-adik atau kakakmu sesuatu. Sedangkan, engkau tak menerima apa pun. Mungkin engkau melihatnya di depan matamu atau tidak. Mungkin engkau bertipe bahasa kasih memberi hadiah. Pemberian hadiah (dari atau untuk) berarti bagimu.

Engkau iri saat melihat orang lain memuji bakat seseorang. Mengapa? Mungkin karena pada masa kecil, orangtuamu memuji bakat adik-adik atau kakakmu di depan matamu. Lalu, engkau bersedih dan iri. Namun, apakah itu hanya alasan?

Engkau takut dan trauma pada satpam (polisi). Engkau juga malah segan pada pembantu. Hal pertama terjadi karena mungkin engkau takut pada orang yang mengawasi, berseragam, dan berbadan kekar. Padahal, it’s not about the size of the dog in the fight, but the size of the fight in the dog. Hal kedua terjadi mungkin karena engkau takut setelah mengontrol orang lain (yang lemah daripadamu), engkau memperlakukan mereka seenaknya.

You think I’m not working. Bagaimana dengan dokter yang menunggu pasien datang? Bagaimana dengan para polisi yang duduk menanti menilang mangsa? Bagaimana dengan pegawai yang menerima upah megah dengan tidur? Apakah lebih baik tampak bekerja serius tapi tanpa keseriusan daripada tak bekerja tapi serius saat ada pekerjaan? Apa perbedaan antara pembantu presiden dan pembantu rumah tangga?

Engkau takut menerima kritik. Engkau juga tidak mau dekat dengan orang lain. Hatimu gemetar saat ada orang lain yang marah di dekatmu. Luar biasa; dalam panas. Apakah karena dulu saat masih kecil, engkau gentir orangtuamu mengkritikmu? Sedangkan, adik-adik atau kakakmu menerima pujian. Engkau H2C orangtuamu memarahi tiap tindakanmu.

Engkau ingin memiliki banyak teman di Facebook dan Friendster. Namun, tidak di realitas. Lalu, kau mendepak situs jejaring itu dan orang-orang yang berkail dengannya. Engkau bukan sekadar takut keintiman, melainkan juga tak memberi keintiman. Tak mempunyai receiving zone and atmosphere. Iri hati termasuk salah satu kecemasan dan melampiaskan ke orang lain. Engkau sakit karena takut—takut menjadi diri sendiri. Dan makin sakit engkau, makin aneh cara-cara yang engkau lakukan.

Engkau banyak makan. Mengapa? Mungkin karena trauma masa lalu orangtuamu yang bilang bahwa engkau tak akan mendapat makanan. Sedangkan, adik-adik atau kakakmu terjatah. Namun, makanan hati lebih baik. Makanan tidak bisa menyembuhkan jiwa dan tak mampu memberi kepuasan jiwa. Apakah engkau tak lelah menggunakan mulutmu untuk makan saja?

Kadang-kadang terlalu terang itu terlalu menyilaukan. Wajahmu berkerut dan menara tubuhmu gundul mungkin karena engkau terlalu kaya ilmu, tetapi pelit membagikannya. Lalu, engkau lebih merisaukan dan men-treat barang-barang ketimbang orang-orang! Saat seseorang akan berkendara menjinjing barang, engkau berkata, “Hati-hati bawa (barang)-nya, ya. Mahal soalnya.” Engkau tak berkata apa-apa tentang orangnya. Masakah berkata-kata, toh engkau menyembunyikan orang itu. Dalam menyembuyikan seseorang sama dengan menyembunyikan matahari. Semoga suatu hari ada orang yang mengertimu. Kebenaran akan membuatmu haru.

Engkau takut pulang malam. Merasa khawatir saat pukul 21.00. Mengapa? Mungkin karena pada masa remajamu, orangtuamu menyuruhmu untuk pulang pukul sembilan malam. Engkau pun harus tidur siang. Apakah arti malam? Malam sekadar siang yang matahari tak bersinar. Engkau boleh pulang kapan pun dan tidur di mana saja asalkan hatimu tetap tenang—ini hanya berlaku bagi para lajang, lho. “Tak ada manusia di dalam perjalanan panjangnya menempuh hidup tak merindukan kedamaian atau ketenangan batin dan jiwa” (N. Vincent Peale).

Engkau takut segala sesuatu merusak wajah dan gigimu. Tetapi, engkau tak takut segala sesuatu merusak dan mengubah—bukan merubah—hatimu. Engkau lebih peduli kaus kaki ketimbang kaus hati. Mengapa?

Engkau takut penolakan. Mengapa? Mungkin karena pada masa kecil engkau takut orangtua menolak, hal kecil yang kaulakukan sekalipun. Engkau ingin menyenangkan semua orang. Padahal, tidak bisa. Engkau sebaiknya memilih prioritas, apa pun risikonya. Lalu, tetap pada pilihanmu meskipun engkau tak tahu hasilnya, baik di belakang atau buruk di depan.

= = =  

The more you know and the better you understand, the more severely will you be judged, unless your life is also the more holy. Do not be proud, therefore, because of your learning or skill. Rather, fear because of the talent given you. If you think you know many things and understand them well enough, realize at the same time that there is much you do not know. Hence, do not affect wisdom, but admit your ignorance. Why prefer yourself to anyone else when many are more learned, more cultured than you?
—Thomas à Kempis

Bukan sekadar dosanya, melainkan engkau lebih menikmati intrik berbuat dosa. Ada ketegangan. Engkau senang berbuat dosa di belakang manusia. Padahal, engkau di hadapan keramaian semestinya adalah engkau saat sendirian. Apakah engkau sebaiknya berbuat dosa di depan manusia, tanpa malu?

Apakah itu semua karena trauma masa kecil? Dulu engkau kerap melakukan kesalahan tanpa sepengetahuan keluarga, orang-orang terkasih. Namun, apakah itu hanya alibi? Di depan retina, baik. Di belakang punggung, buruk. You can lie to others. But, there are two people you can’t lie to: Him and (write your name here). Apakah engkau memiliki sikap untuk menghadapi dan mengubahnya? Apakah engkau mampu melihat ruang-ruang cerah lebar ketimbang menilik setitik noda hitam kesalahan?

Engkau berkubang dalam masalah, bukannya mencari jalan keluar. Masalah-masalah manusia itu banyak sekali sehingga mengesampingkan solusi.

Kadang engkau jenuh dengan kebisingan orang-orang. Suara orang-orang membuatmu pening. Engkau mendambakan kesendirian. Seperti senandung Axl Rose dalam November Rain, “Sometimes I need some time, on my own. Sometimes I need some time, all alone. Everybody needs some time, on their own. Don't you know you need some time, all alone…?

Manusia memang mengecewakan. Engkau juga. Orang yang ramai dan pribadi yang pendiam sama-sama mengecewakan. J. Herbert Kane berujar, “The most miserable person alive is not the sinner enjoying the pleasures of sin, but one who is trying desperately to serve two masters.” Engkau menjadi munafik. Tak mempunyai code of honor.

Sebelum engkau mengaku telah berbuat tidak benar, maka seberupaya apa pun engkau berbuat kebenaran, biasanya akan menuju pada ketidakbenaran. Pengakuan, pengampunan, kejujuran, dan kekuatan tetap berbuat benar akan membawa air mata kesegaran. Air mata membuatmu terbangun. Rasa sakit terkeluarkan melalui sungai di pipimu itu.

If you wish to learn and appreciate something worth while, then love to be unknown and considered as nothing. Truly to know and despise self is the best and most perfect counsel. To think of oneself as nothing, and always to think well and highly of others is the best and most perfect wisdom. Wherefore, if you see another sin openly or commit a serious crime, do not consider yourself better, for you do not know how long you can remain in good estate. All men are frail, but you must admit that none is more frail than yourself.
—Thomas à Kempis

= = = 

Apakah Anda terbuai dengan ketidakpastian? Saya sih senang dengan kepastian. Namun, kadang ketidakpastian datang bertubi-tubi. Kekasih saya bahkan menganggap hal itu sebagai momok.

Kita ingin semua hal berjalan dengan pasti. Namun, manusia lahir dalam ketidakpastian yang pasti. Vice versa. Dari jutaan sel spermatozoid yang menyerang rahim, segelintir yang selamat. Dan hanya satu sel menjadi bakal bayi. Itu pun belum pasti terjadi.

Penjual buku ingin dagangannya laku manis. Lalu, ia pergi ke sebuah pameran dan suatu seminar untuk berjualan. Awalnya, tidak ada pembeli yang terayu. Kemudian, ia merasa buku-bukunya tak akan laris. Akan tetapi, ia tetap berpikir, semua buku ini harus terjual! Akhirnya, setelah acara, orang-orang berjejal membeli buku-bukunya. Ia bak menyuapi anak-anak burung. Namun, itu pun karena ada pengumuman rabat di sela-sela acara.

Ketidakpastian membuat kita mengandalkan mood. Tetapi, tidak usah terlalu percaya pada perasaan sesaat. Pagi, kita senang. Malam, kita remang. Suatu hari, kita senang karena akan menerima hasil ujian dan merasa pasti lulus. Esoknya, kita gamang karena mengalami masalah dan tidak merasa pasti lulus. Thomas Jefferson berwejang, “Tiada hal yang memberikan manfaat lebih besar, selain tetap tenang dalam segala keadaan.”

Orang yang bisa mendekat, ia bisa menjauh. Vice versa. Tidak pasti. Semua orang berubah. Penjahat sanggup menjadi pembaik. Lalu, ia jahat kembali. Namun, ia menyelubunginya dengan kebaikan-kebaikan. Joni Eareckson Tada berkata, “Alangkah pandainya aku mempelajari seni menutupi bagian diriku yang ‘cacat’. Entah dengan gaya rambut yang menarik, pakaian mode terakhir, atau kursi roda yang lancar. Namun, jika semua barang itu copot, mengenakan baju rumah sakit dengan rambuk acak, dan kulit pucat, pegangan hidupku kelihatannya hilang.”

Banyak orang tidak percaya diri atau yakin, tampak sepercaya diri dan seyakin apa pun mereka. Akan tetapi, sebaiknya kita memastikan sesuatu. Orang yang tidak pasti, biasanya akan menanyakan kepastian atau keyakinan. Saya sih memilih kepastian. Namun, saat ketidakpastian bertamu, saya akan bersiap.

Werner Heisenberg adalah fisikawan Jerman yang menemukan prinsip ketidakpastian. Prinsip ini memainkan peran penting dalam fisika abad ke-20, khususnya pengembangan mekanika kuantum. Prinsip ini menyatakan bahwa kita tidak bisa menunjukkan dengan pasti jumlah partikel secara simultan. Posisi dan momentum sebuah partikel, seperti sebuah elektron, selalu membentuk pasangan. Menurut prinsipnya, biasanya bisa diamati bahwa partikel telah melalui sebuah posisi tertentu yang dapat ditentukan dan bergerak dengan momentum yang pasti. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan mekanika kuantum.

Jika fisika atau matematika tidak pasti, bagaimana dengan ilmu tak pasti? Ada opini hal yang pasti di hidup ini adalah ketidakpastian. Demikian pula dengan hal yang tidak berubah adalah perubahan. Jadi, biasanya hal-hal yang tidak pasti itu lebih pasti. Dan fakta lebih aneh ketimbang ilusi. Bagaimanapun, kata-kata enak terdengar dari teman saya—sekadar satu kata, “Pastikan.”

"The more precisely
POSITION is determined,
less precisely
the MOMENTUM is known."
—Werner Heisenberg

= = =

Do you remember, Son, when you wanted a holahoop? To get your mom bought it, you were told to ate spinach first—which you hate it. But, you ate it, though. You ate it to get the hola hoop. Although the spinach is bitter, your mom told you to ate it. And then she would buy the hola hoop. And now after you grown up, you like the taste of spinach.

Spinach is good for your health. Hola hoop is also good for your health. Your mom knows what’s good for you. So does Him. Maybe right now He wants you to eat spinach (this present situation, problems, loneliness, financial hardship, unknown future, etc.) too. Why? Because it is good for you. I know this is hard. But, He knows the best for you. Although they are bitter experiences, you could learn from them. And then He can give you the hola hoop you want.

Do we want to give up to this life? The pressure our life is too high. Our problems are wearisome. We feel useless. Losing grip. We not quite exactly know what to do. Yet, He’s always there in each circumstances! He waits for us to count on Him. He’s good and knows the best for us. When we do come to Him, He would guide our way. His gentle Friend would walk before us.

If we’re not enjoying life—whatever we are facing—we not really live. When the sunburn of problems are too heat, He could be our Shelter. If the dark veil of problem is covering us, and we’re not able to conceive direction, He could be our Guide. We will be able to walk again, even within the sting of troubles and in the peak of suffering, because He’s with us,

Little we know that if we live in comfort and safety zone, the risks might even greater.Since I found it hard to speak, I will try to write it. I’m facing a dilemma (duel, dual problems, whatever). Should I go and working with him? Or, shall and will I stay here? If I should better—I don’t know this is better or not—go, what time I’d better call him? When will I go?

Am I following Your path? I keep thinking and telling myself, it’s time. Is it? On one side, I’d like to go to accompany and nearer to her. I realize I should prioritizing You and really closer to You, too. On the other side, I’m scared that I’ll take wrong decision. Then, the crazier I get because the deeper I enter.

I’ve understood about chances—taking chances and risks. I’ve read about not too observe ourselves too much, least we die. But, I should keep my logic balance with my spirituality. And yet, if logic isn’t working properly, what else strength I have but You? You put me out of reasons, so that You could be the only reason.

Will you give me the opportunity to go, work, and nearer to her? I understand writings and thoughts are not sure answers. But, Your answer is! Help me to focus on You only. No matter the risks and results.

= = =

Next to doing a good job yourself the greatest joy is in having someone else do a first-class job under your direction.”
—William Feather

Gaji terbesar bukanlah uang. Gaji terbesar adalah dikasihi oleh orang-orang. Ada suatu filosofi kebaikan. Kita bekerja bukan untuk mengejar gaji. “Uang adalah efek samping,” seperti kata seorang guru. Kita pun menerima gaji karena kebaikan pemberi upah, bukan? Saat kita berbuat baik kepada orang lain, mereka akan memberikan sesuatu. Namun, itu bukan tujuan pokok kita. Sebab, kadang-kadang orang-orang tak berbuat sebanding dengan yang kita lakukan bagi mereka. Kadangsikap win-win solution tidak wajib kita adopsi.

Anda mungkin berpikir, para pendeta, ulama, dan pelayan umat Tuhan lainnya hanya menerima sumbangan (gaji buta) orang lain. Ya, tetapi para polisi, hakim, serta pihak pemerintah pun mendapat bayaran dari pajak (sumbangsih) kita, ‘kan? Semuanya adalah pemberian. Itulah filosofi kebaikan. Anda bisa berangkat ke luar negeri juga karena menerima kebaikan orang lain.

Makin besar gaji Anda, biasanya pekerjaan Anda mengecil. Lihatlah, orang-orang yang mengawasi pekerjaan (supervising, manager, CEO) memiliki gaji yang lebih besar ketimbang para pekerja. Jadi, bila Anda ingin memperoleh upah besar, bekerjalah dengan mengawasi. Bukan berarti Anda satpam. Namun, satpam yang memiliki tujuan akan memiliki perusahaan, daripada pemimpin yang tak mempunyai tujuan. Akan tetapi, tujuan yang rendah—bukannya kegagalan—merupakan kejahatan.

Para pekerja yang mengalami pengawasan cenderung pura-pura bekerja. Sementara itu, orang yang mengawasi condong mengurangi pekerjaan. Namun, kadang orang yang mengawasi juga memiliki banyak pekerjaan. Sedangkan, karyawan yang pura-pura, mempunyai sedikit pekerjaan. Orang-orang yang mengurangi atau mengemban sedikit pekerjaan akan mengantuk. Akan tetapi, orang-orang yang banyak serta sungguh-sungguh bekerja tidak perlu menjadi workaholic. Pekerjaan kecil dengan cinta besar dan tahu prioritas lebih penting ketimbang sibuk tanpa prioritas, apalagi mengantuk!

Anda tidak bisa kaya tanpa membuat orang lain menjadi kaya. Salah satu resep membuat orang-orang kaya adalah menanmbahkan nilai bagi kehidupan mereka. Beberapa orang memanfaatkan kebodohan makhluk-makhluk lain untuk memperkaya diri sendiri. Anda juga tak bisa kaya jika berhenti bermimpi. Setelah membangun mimpi-mimpi besarnya, Ir Ciputra mencari impian-impian baru. Tidak semata-mata bermimpi. Rhenald Khasali terbangun, “Entrepreneur sejati bangkit dari mimpi-mimpi dan bertindak tanpa berharap mukjizat datang begitu mudah.”

Siapa saya sok berbicara tentang pekerjaan? Anda belum perlu tahu saya sekarang. Apakah misalnya Anda mau menulis tentang kematian, Anda sudi meninggal terlebih dulu? Orang-orang yang bekerja kadang-kadang tiada pekerjaan. Orang-orang yang tak bekerja sesekali berpeluh. Di kehidupan ini kejelasan adalah ketidakpastian. Ibarat seseorang mabuk yang mengancam orang lain, “Eh, siapa lu? Lu kagak tau siapa gue?! Gue aja kagak tau siapa gue!”

Berikut ini adalah dialog antara pewawancara kerja dan calon karyawan. Perjalanan menuju kepala mulai dari kaki. Perjalanan menjadi jenderal mulai dari prajurit. Perjuangan keberhasilan mulai dari impian.

- Interviewer    : “Berapa gaji yang Anda minta?”
- Employee       : “Tahukah Bapak bahwa gaji terbesar bukanlah nominal yang saya terima tiap bulan? Gaji terbsar adalah saat saya dikasihi orang-orang. Kita bekerja bersama sehingga menghasilkan produk terbaik. Dengan begitu, gaji saya akan besar dengan sendirinya.”

- Interviewer    : “Jadi, menurut Anda, uang itu tidak penting?”
­- Employee       : “Nominal yang saya terima tiap bulan itu tidak penting, Pak. Uang itu memang penting, tetapi bukan itu tujuan utama saya. Saya tahu ini susah, Pak. Tetapi, memang membutuhkan keseimbangan seperti itu.”

­- Interviewer    : “Lalu, apa tujuan utama Anda?”
- Employee       : “Tujuan saya adalah menyukai pekerjaan saya, Pak. Saya bahkan hampir-hampir rela tidak menerima bayaran. Bahkan dengan Bapak memberi saya pekerjaan ini adalah bayaran terbaik untuk saya. Ini tujuan mula-mula saya, Pak. Saya juga tahu ini sulit. Dan kadang-kadang kita mendapat pekerjaan yang tidak kita sukai. Tapi, saat mengerjakannya, kita menyadari kita menyukainya. Namun, sebaiknya kita menemukan pekerjaan yang kita senangi.”

- Interviewer    : “Sepertinya Anda cukup pintar.”
- Employee       : “Terima kasih, Pak. Bapak juga tampaknya memiliki banyak nasihat. Bagi saya, pintar akan lebih baik jika ditambah dengan pandai dalam berkomunikasi, memiliki semangat, dan menyukai yang saya kerjakan. Bapak tentu tahu ‘kan tentang Jon Favreau, yang masih muda (27 tahun) tapi mampu menjadi penulis pidato Barack Obama? Dia pasti pandai dalam berkomunikasi, bersemangat, dan menyukai pekerjaannya.”

- Interviewer    : “Apakah Anda muluk-muluk?”
- Employee       : “Tidak, Pak. Saya cukup realistis.”

- Interviewer    : “Apakah Anda mempunyai impian?”
- Employee       : “Ya, Pak. Impian itu penting. Setelah saya berhasil meraih satu impian—misalnya, dalam  pekerjaan ini—saya akan mencari impian baru, karena perubahan itu pnting, Pak. Kalau saya berhenti bermimpi atau berhenti berubah, saya tidak akan menghasilkan sesuatu yang berarti dan berdampak bagi perusahaan kita. Ir. Ciputra saja selalu mencari impian-impian baru setelah berhasil meraih mimpi-mimpinya, Pak.”

- Interviewer   : “Jadi, maksud Anda, setelah Anda sukses dalam pekerjaan ini, Anda akan pindah kerja meraih impian baru dan berubah?”
- Employee       : (Tertawa kecil) “Tidak, bukan begitu, Pak. Saya hanya mengatakan bahwa saya adalah orang yang memiliki impian dan menyukai perubahan. Sebab kalau kita berhenti bermimpi dan tidak berubah, kita sudah mati, Pak.”

- Interviewer   : “Baiklah… Anda diterima.”
- Employee       : “Terima kasih, Pak.”

= = = 

Berhentilah mengeluh. Keluhanmu itu seperti rintik-rintik hujan. Kecil, tapi menyebalkan. Lebih baik deras sekalian. Tidak usah suam-suam kuku. Dengan mengeluh, energimu malah berkurang. Dengan mengucap syukur, apa pun keadaanmu, energimu justru bertambah.

Tahukah engkau bahwa mukjizat terbesar adalah engkau hidup...? Masalah adalah makanan. Masalah menandakan engkau hidup. Seperti istri yang cakap adalah mukjizat bagi suaminya. Seperti keberhasilan seorang pria mengajak wanitanya menikah adalah mukjizat bagi pria itu. Dan mukjizat lebih besar lagi adalah engkau berhenti mengeluh, apa pun keadaanmu.

Seorang istri tunduk kepada suaminya. Seorang anak taat kepada orangtuanya. Dan hidup akan patuh pada ucapan syukurmu. Aku tahu ini susah. Siapa yang bisa berhenti mengeluh terhadap situasi apa pun sampai mengalami keadaan yang membuatnya tak mampu mengucap syukur? Duduk di dekat toilet saat naik kereta api bisnis saja mengundang mengeluh dan susah, apalagi hal buruk lainnya. Namun, dengan mengucap syukur, engkau akan menikmati perjalanan--baik secara harfiah maupun perjalanan kehidupan.

= = = 

Kata-kataku kasar dan tergesa-gesa
Keluar tanpa terpikir terlebih dulu
Aku melihat luka dan kesedihan akibat kata-kataku
yang pahit.

Kata-kata pahit yang telah kuucapkan
Membuatku merenungkan kembali masa lalu;
Betapa sering aku telah mengucapkan
Kata-kata pedas yang lukanya tetap terasa.

Kemudian aku teringat sesama manusia
Yang telah terluka oleh kata-kata yang aku ucapkan
Selalu aku menyesali diri
Kalau aku tidak menggunakan pertimbangan.

Kemudian aku berpikir tentang kehidupanku
sendiri, tentang kata-kata menyakitkan
yang telah aku dengar;
Ada saatnya aku kehilangan semangat
Karena kata-kata yang tajam dan kejam.

Dan sekarang aku jelas-jelas ingat
Segala sesuatu yang mungkin telah aku lakukan;
Tetapi karena sebuah kata aku
kehilangan semangat
Dan tidak akan aku mulai lagi.

Tuhan, tolonglah agar kata-kataku menjadi
kotak perak
Yang terbungkus rapi berhiaskan pita indah;
Kuberikan pada semua orang dengan kemurahan
Sehingga sukacita menyelimutiku setiap hari.

Kotak perak yang penuh hadiah berharga
Hadiah berharga dari Tuhan di surga;
Sehingga setiap orang yang aku temui
Boleh memiliki kotak yang berisi
cinta kasih Tuhan sendiri.

—Michael Bright

Saya punya teman yang memiliki reminder untuk SMS baru yang masuk ke HP-nya. Reminder itu berbunyi seperti judul tulisan ini: “Excuse me, Boss. You have a text message.” Mengapa teman saya memilih dan memasang back tone itu? Apakah ada tujuan tertentu? Mungkin ya. Kata-kata itu bagus. Itu mengingatkan dan membuatnya merasa dia adalah bos—atau kalau belum, dia akan menjadi pemimpin.

Penting untuk mendengar kata-kata baik. Positif untuk telinga Anda. Beberapa waktu yang lalu, seseorang mendengar perkataan yang kurang baik baginya. Walaupun terkesan canda, kata-kata itu sanggup memengaruhi pikirannya. Canda bisa cukup berbahaya. Alhasil, ia memikirkan kata-kata itu: “Sok kegantengan, lu.” “Kasian banget deh kamu di antara para wanita.” Lalu, “Masih banyak (cewek) cadangan, ya?”

Kemudian, ia bertanya-tanya, apa benar ya aku seperti itu? Kata-kata yang ia dengar, ia percayai. Apalagi, kata-katanya sendiri—suara batin. Kalau kata-kata positif, tidak apa-apa. Kalau negatif? Dr David Martyn Lloyd-Jones beriset, “Most of your unhappiness in life is due to the fact that you are listening to yourself rather than talking to yourself.” Kata-kata batin kita acap kali negatif—karena kita terlalu sering mendengar dan memercayai hal serupa.

Seorang pemilik radio-besar di Yogyakarta, sudah saling memanggil bos dengan temannya saat masih kuliah. Pemilik radio ini saat itu belum tahu atau mendapatkan dampak kata itu. Namun, kini ia merasakan manfaatnya! Ia pun sekarang masih memanggil orang-orang—baik tua maupun muda—dengan sebutan bos. Namun, ia belum tahu dampaknya bagi orang-orang itu, karena mau terbang di awan (menjadi bos) atau tinggal di kandang (seperti ayam) adalah masalah pilihan.

Seseorang yang masa kecilnya sering menerima atau mendengar kata-kata buruk, biasanya akan sensitif dan sulit terhadap ejekan—atau kritik, baik secara halus maupun kasar. Haus dukungan. Lalu, berusaha menyetujui atau tidak menyetujui semua orang. Padahal, selalu ingin disetujui adalah salah satu (bukan salah dua, tiga, atau empat) dari 10 jebakan meraih kesempurnaan. Sembilan sisanya adalah:

1.      Tidak memperbaiki diri
2.      Tidak cukup percaya diri
3.      Merasa sudah terlambat untuk memulai
4.      Tidak melanjutkan setelah menghadapi hambatan
5.      Ingin mengendalikan hasil akhir setiap upaya secara tepat
6.      Lebih menghargai hasil akhir daripada proses perjalanannya
7.      Membandingkan kemajuan kita dengan kemajuan yang ada sekarang
8.      Tidak merayakan keberhasilan kecil yang diraih selama proses perjalanan
9.      Bekerja karena rasa takut dan tidak percaya diri, bukannya karena kreativitas dan ekspresi diri

Meskipun begitu, ia bisa memilih untuk tidak memercayai atau mendengarkan ejekan itu. Mendengar dan mendengarkan itu berbeda. Mendengar adalah sekadar mendengar; mendengarkan adalah menerima, memercayai, dan melakukan. Eleanor Roosevelt beriset, “No one can make you feel inferior without your consent” (Tidak seorang pun bisa menganggapmu rendah, kecuali engkau mengizinkannya). Orang-orang cenderung berkata buruk tentang orang-orang lainnya. Padahal, sama buruknya. Ah, ia tukang main wanita. Ah, dia mah tukang main pria. Nah, sama saja main-main.

Saat mendengar dari luar, dengarlah yang baik-baik. Dalam film August Rush, Evan Taylor (Freddie Highmore) berkonklusi, “Music is all around us. All you have to do is... listen.” Saat ada kata-kata buruk, jadilah seperti generasi zaman sekarang: masuk telinga kanan, keluar telinga kanan! Méntal. Tidak lagi keluar telinga kiri. Kalau ada kata-kata buruk dari dalam, jangan dengarkan. Saya tahu ini susah, tetapi cobalah untuk berbicara kepada diri sendiri.

Kadang seseorang tidak mau mendengarkan kata-kata atau saran positif. Ia mungkin menguji orang lain yang mengatakan atau menyarankan. Ia mungkin pula mengejek dan mengkritik orang itu. Namun, orang yang dikritik tidak perlu marah. Anggap saja melatih kedewasaan. Robert LeRoy Ripley (pencetus Ripley’s Believe It or Not!) saja senang terhadap kritik dan menganggapnya musik yang indah.

Lagipula, orang yang menguji, mengejek, atau mengkritik adalah orang yang terlalu menunjukkan superioritasnya. Padahal, dengan begitu, ia menunjukkan kelemahannya pula. Ia sering atau pernah dikritik, dan orang-orang lain mengejeknya, atau jarang mendapatkan dukungan di rumah, misalnya. Sebaiknya ia mendengarkan orang lain tadi yang memberi kata-kata dan saran positif itu. Semua orang sama saja, kecuali membuat pilihan berbeda.

Saat Anda kesulitan berkata-kata kepada diri sendiri, cobalah untuk menulis. Menulis—sama halnya air mata, olahraga, dan tawa—adalah bagus untuk jiwa. Philip Yancey mendokumenkan bahwa Raja Daud menulis mazmur-mazmurnya sebagai terapi bagi diri sendiri. Marquis de Sade juga menulis untuk terapi. Lawrence Clerk Powell memenakan, “Menulislah untuk dimengerti. Bicaralah untuk didengar. Bacalah untuk tumbuh.”

“Fokuslah pada impianmu. Bukan pada ucapan atau tindakan orang lain! Jangan biarkan seorang pun mencuri impianmu!”
—Utju Terahadi

= = =

“I have mentioned all these experiences. And I could mention scores of others, because out of them grew my philosophy—perhaps they were in part caused by my philosophy—of bodily vigor as a method of getting that vigor of soul without which vigor of the body counts for nothing.”
—Theodore Roosevelt

I basically love sport. But, for several times I’ve ceased to do it. I’m starting to rekindle that good habit after a nice friend of mine suggested to take workout again. She said, “It’s also good for our soul.” How true.

The number one principle of American medic is, “First, do no harm.” But, if the doctors or even the average people don’t treat their body well—in this case, taking exercise or sport—they harm themselves. Eventually, they’ll injure others.

We tend to taking care of our soul (inner-self) only. Not much for our body (outer-self), while our body is a temple. And mind we forget that mens sana in corpore sano? Only a few people can look good without sport. For example, an Indian beautiful actress, Aishwarya Rai. She ever said that she never having sport or gym!

Recently, I began to jogging again. It felt terrific! My body become lighter. Yet, because I spend much times in front of computer, I regularly go to the toilet. Just to get a walk or a move. Oprah Winfrey ever said that wherever you are, you may take five minutes to move your body. And that can be a sport for you.

Don’t you think Lion of Judah was mere thinking about inner-man. Remember, he is Carpenter of Nazareth, too. Don’t you say that his body was fit and his muscles were strong? I rarely saw men who labor hard have weak or small bodies, except those who were concentration camp prisoners, such as Viktor Frankl and Eliezer Wiesel.

However, the work of of the mind is heavier than that of body. Yet, just as our body sometimes needs a diet, our minds also—like someone wrote it—need a balance diet. Stop thinking for a while. Start jogging early in the morning or during afternoon. And taking exercise after working is also a good thing. Our body sometimes needs a diet because (like what Stephen Covey ever said), if we can’t handle the appetite to eat, how can we manage the other desire? So as to handle the diet to think. If we couldn’t stop thinking a thing for a while, we perhaps unable to stop thinking about other thing.

= = =

Did Columbus knew he’d found an island?
Did Edison knew he’d made the final lamp had he given up?
Did Gandhi knew his struggle in peace and non-violent resistance would succeeded?
Did King knew he wouldn’t be dead?
Did Colonel Sanders knew he’d be famous with his recipe?
Did students or workers who went abroad knew what they'd be facing?
Did a fetus knew he or she would be alive?
Did our parents knew they’d have great kids?
Did He knew men would love or hurt Him when He created them?

This life is full of uncertainty. But, as my dearest sis said that worrying is yet an option.

= = = 

Beberapa hari yang lalu terserang flu. Jadi makin tahu mengapa influence itu begitu memengaruhi. But I’m not here to talk a lot about that. Saya ingin berbicara tentang menulis. Di mana gudang ide-ide? Dari mana datangnya inspirasi atau ilham?

Beberapa waktu yang lalu, saya berbincang dengan teman yang telah menulis sejumlah buku. Saya bertanya, “Dapet ide dari mana, Pak?” Beliau hanya tersenyum. Kemudian, kami mulai berbagi tentang sumber ide. Kesimpulan teman saya adalah pengaruh-pengaruh dari luar telah membentuk kita. Buku-buku. Semua hal itu menjadi sumber ide. Andrias Harefa mendapat banyak ide untuk menulis juga dari pengaruh-pengaruh itu. Lalu, saya menyimpulkan sumber ide kepada teman saya, “Bahasa Inggris untuk ide adalah idea.”

“Ya, idea,” teman saya menanggapi.

“Nah, idea itu singkatan. Kepanjangan untuk IDEA adalah ....” (Jika Anda ingin mengetahui kepanjangan idea dan mungkin akan menambah sumber ide Anda, hubungi saya pada 085691090777). Ini sekadar selingan. Saya suka menulis. Lebih dari dua atau tiga penulis mengaku bahwa kalau mereka tidak menulis, mereka akan gila. Jika dua atau tiga orang memberi kesaksian seperti itu, berarti itu benar.

Saya agak terusik dengan pertanyaan seorang teman. Ia pernah bertanya, “Emang sudah pernah nulis apa?” Saya sudah pernah menulis apa? Saya menulis beberapa buku untuk keluarga. Lebih tepatnya, menyusun buku karena baru satu buku hasil tulisan tangan, bukan kumpulan artikel atau tulisan orang lain. Satu skripsi untuk bapak saya. Dua buku untuk ibu. Satu buku bagi adik. Satu buku untuk kekasih saya. Saat kita sudah tahu untuk siapa, kita akan mudah menulis. Saya masih butuh banyak kemajuan dalam menulis. Tapi, saat ini pun saya menulis, bukan? Lagipula, menulis untuk tetangga di dekat rumah terlebih dulu lebih baik daripada kepada orang-orang jauh di seberang lautan.

Saya membuat judul tulisan ini karena berminat terhadap judul bukunya Amy Tan, The Hundred Secret Senses. Namun, saya tidak mengulas buku itu. Memang judul buku itu dalam bahasa Indonesia adalah “Seratus Indra Rahasia”. Tetapi saya lebih suka menulis judul tulisan ini “Seratus Secret Senses”. Mengapa? Karena keserasian kata, frasa, atau bahasa.

Hampir bertautan dengan mistis, bisikan, peristiwa-peristiwa ‘aneh’, atau ide. Hal-hal yang menuntun Anda menulis. Mungkin seperti suatu kebetulan. Tetapi, tidak ada kebetulan. Saat Anda ingin menulis sesuatu, tetapi sulit mencari kata-kata, tiba-tiba seseorang mengirim SMS tepat untuk tulisan, mungkin itu secret senses.

I always think about number 27 lately. You know, both my parents were born on that date. I don’t know whether it has connection or coincidence with my parents’ date of birthday, or I got influenced by gene of that number. Somehow, I like that number. Moreover, I see it “everywhere”. Is it just coincidence, or it has some meanings? What’s more, my girlfriend was also born on that date! Now is that coincidence? Do I believe in mystic or a sound mind? These days perhaps I even only see the number 27. For those who have the same experience with mine, maybe you can understand this. Whenever I see a watch, calendars, or some things, I only see 27. Mungkin itu secret senses.

Beberapa waktu lalu, buku The Secret marak dalam pembicaraan pecinta buku. Judul tulisan ini “Seratus Secret Senses”. Dan sebentar lagi terbit buku berjudul Beyond the Secret karya Bram Soei Ndoen. Mungkin ini secret senses. Saat Anda menemukan sebuah buku yang sudah lama Anda cari, rasanya pasti menyenangkan. Begitu pula ketika menemukan ide untuk menulis. Dan secret senses bisa menjadi bimbingan.

Secret senses sanggup membuat Anda jujur dalam menulis. Tidak ada pekerjaan yang lebih menuntut kejujuran ketimbang menulis, sekalipun fiksi. Orang-orang yang tidak jujur mungkin menghadapi kesulitan saat menulis. Writing is discipline. And reading as well. Jujur dengan perasaan dan yang Anda lihat. Loren Cunningham berujar, “Yang jelas, proses pengakuan merupakan proses yang berkelanjutan.” Butuh waktu. Don Piper pernah berkata, “Kita benar-benar adalah korban-korban dari penemuan manusia tentang waktu, sehingga kita harus berpikir dalam konsep-konsep waktu—begitulah cara kita diperlengkapi.” Dan contoh penulis-penulis yang jujur ialah Amy Tan dan Ishikawa Takuboku.

Secret senses bisa membantu Anda. (Kalau secret service melindungi Anda). Tetapi Anda tidak bisa memaksa secret senses. Lalu, sekalipun ada ilham, inspirasi, atau antusiasme, Anda tetap mencoba mencari kata-kata yang tepat. Bila menganggap terlalu spiritual, kata ‘inspirasi’ dan ‘antusias’ pun berkail dengan roh dan spiritual. Amy Tan dalam buku The Opposite of Fate berkata:

“Kebetulan-kebetulan itu benar-benar aneh. Bagaimana mungkin aku tidak memperhatikannya? Sepertinya cerita fiksi yang sedang kutulis itu telah membuka pikiranku untuk menerima segala kemungkinan. Alam bawah sadarku telah menuntunku sehingga dapat menemukan data riset, kenalan, hubungan, bayangan, dan arti yang kubutuhkan. Aku percaya para penulis lain—seperti James Merril dan William Butler Yeats—juga yakin karya mereka dipengaruhi sumber-sumber yang bersifat mistis dan tidak nyata. Seolah-olah ada roh-roh yang terlibat. Yeats bahkan merasa yakin roh-roh itu sudah memberinya segudang ide dari dunia seberang.”

Saat Anda menemukan ide dan telah menuliskannya, beristirahatlah sejenak. Lakukan seperti Max Lucado, yang bersitirahat, ‘bersemedi’, dan menghadiahi diri sendiri setelah menyelesaikan sebuah buku. Lupakan keberhasilan masa lalu. Kalau tidak, keberhasilan itu akan menghantami kepala Anda. Lalu, Anda terjatuh. Tetapi, ingat lagi kalau memerlukan inspirasi dan bersyukur. Carilah ide Anda, walaupun kadang-kadang ide justru datang saat Anda tak mencarinya.

Saya belum penulis profesional. Saya masih perlu banyak belajar. Lalu, menulis dengan hati atau perasaan. Kata ‘hati’ dalam bahasa Latin adalah cor. Bahasa Prancis memakai kata itu untuk kata corage dan memunculkan courage dalam bahasa Inggris, yang berarti ‘keberanian’. Saya masih membutuhkan berlaksa ide. Dan hati adalah tempat bergudang ide serta secret senses.

Flu saya sudah mendingan sekarang. Datang tanpa undangan. Pergi alpa pamit. Tiba tiba-tiba. Itu cukup memengaruhi diri sendiri dan mungkin menulari orang-orang, seperti halnya ide.

= = =

“Christians are losers.”
—Ted Turner

I’m not going to talk about Christiano Ronaldo, despite he got a car accident several days ago. I’m talking here about Christians. Ted Turner said that Christians are losers! What?! Why did he say something like that? What made him said that? Well, I’m not discussing about Ted Turner. But, I want to talk about what he has pointed out.

I think there are two responds towards what Ted Turner said. First, it is true Christians are loser if in case they are losers (pecundang). Second, indeed Christians are “losers” (By this I mean, orang yang kehilangan segalanya), because they has lost their possessions, perhaps family, and life, just to preserve them. I don’t know which one Ted Turner means.

Whoever seeks to save his life will lose it, and whoever loses his life will preserve it. Orang yang memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya. Tetapi orang yang kehilangan nyawanya akan memperolehnya. Don’t get me wrong. Orang-orang yang memelihara nyawanya cenderung tidak berbuat apa-apa untuk sesuatu yang lebih berarti daripada hidup atau penting untuk kehidupan itu sendiri. Jadi, mereka kehilangan nyawanya atau momen dalam hidupnya. William Franklin Graham, Jr said:

“Kalau Anda mau menderita, pikirkanlah diri Anda sendiri saja, yakni apa yang kurang pada Anda, apa yang Anda sukai, kehormatan yang orang harus berikan kepada Anda, maka tak sesuatu pun yang bersih lagi bagi Anda. Apa pun yang Anda sentuh akan busuk. Apa pun yang baik akan Anda jadikan penderitaan bagi Anda. Besar kecilnya kecelakaan Anda tergantung pilihan Anda.”

Now, usually people consider ‘7’ as a lucky number. But not for some. Read Where the Heart Is novel by Billie Letts if want to consider. The number ‘7’ can be upside down and turns into an ‘L’. And it stands for the word ‘loser’. But here I would like to write seven things about Christians according to what Ted Turner said.

Christians are losers (pecundang) if they are counting on themselves. Don’t get me wrong. We should face and solve problems indeed. Howard Olsen said, “Life without suffering is impossible. And anyone who lives running from pain, live no life at all.”

Dr. Viktor Frankl berkata tentang penderitaan, “Keunikan dan kekhasan yang mencirikan setiap manusia dan memberi makna bagi hidupnya, tercermin dalam karya-karya kreatifnya dan rasa cintanya sebagai manusia. Jika seseorang menyadari kemustahilan untuk menggantikan dirinya, ia akan bertanggung jawab terhadap hidupnya dan kelangsungan hidupnya sesuai dengan nilai masing-masing.

“Seorang manusia yang menyadari tanggung jawabnya terhadap manusia lain yang menunggunya dengan kasih sayang, atau terhadap pekerjaan yang belum selesai, tidak akan mengabaikan hidupnya. Ia tahu ‘mengapa’ (alasan) ia hidup dan akan mampu menghadapi ‘apa pun’ (yang bagaimana pun).” Dr Viktor Frankl bukan pemilik cafe yang tidak mengenal penderitaan. NAZI pernah memenjarakannya di kamp konsentrasi Auschwitz dan lainnya.

Ada kekuatan yang lebih besar daripada diri kita. Diri kita memang kuat. Dan kita pun sebaiknya live strong. Tetapi orang yang kuat adalah orang yang lembut, pernah jatuh, hancur hati, dan berserah—bukan pasrah atau menyerah. Joanie E. Yoder said,

Dependence on Him is the theme of my life. My story is about a woman who had nothing in herself, but found everything she needed through a life total dependence on Him. It’s not a sad state of affairs to have to depend on Him—it’s His perfect design.

The beginning of progress in my spiritual life was a rock-bottom experience. I didn’t look or feel good. But it was the most spiritual moment in my life. I hope this is an encouragement to others who are at that point. So often we think that to be spiritual we must always be on top. That’s not true. To be spiritual is to come to the place where there’s nothing of us, and all is of Him.

Apa yang bisa kita andalkan? Tas? Potongan rambut? Wajah? Uang? Sepertinya tidak bisa. Manusia? Manusia hanya mampu memberikan sesinar harapan. Jika menaruh harapan kita pada manusia, kita cenderung kecewa. Jika menggantungkan asa pada uang, kita akan gagal. Teman saya, Jonathan Edwards berkata, “Mudah untuk mengandalkan Dia saat kita memiliki banyak andalan lain. Tetapi yang terbaik adalah mengandalkan Dia saat semua andalan tidak ada lagi.”

Christians are loser jika mereka berhenti belajar. Jika engkau ingin terus hidup, tetaplah meloncat! Tetaplah mendaki. Namun, jangan mendaki pada gunung, corporate ladder,atau dinding yang salah. Reborn tanpa growing intimacy sama dengan kegagalan. Permulaan hubungan tanpa tetap menjaga keintiman adalah sia-sia. Engkau adalah pembelajar seumur hidup. Bukan mahasiswa, tetapi siswa atau pelajar. When was the first time you did something for the first time?

Kita membatasi diri kita bila berhenti belajar. Apakah kepintaran itu? Relatif. Aku mungkin tahu yang tidak engkau tahu. Engkau mungkin mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Tukang tambal ban tidak bisa mempiloti pesawat. Pilot pun sebaliknya begitu. Tapi entah, tukang tambal ban pesawat ada tidak?

Kepintaran bukan hanya tentang mengetahui banyak fakta atau data. Kepintaran lebih berbicara tentang tahu membaca situasi. Mendengarkan hati nurani dan melakukannya. Sungguh-sungguh melakukannya. Dan tahu mengambil kesempatan yang baik. Dari nilai 1 sampai 10, identitas kita selalu 10. Tetapi, peran dan respons kita dalam serta terhadap kehidupan—berapa pun nilainya—bisa kita kembangkan.

Christians are losers kalau mereka menyerah. Tidak mau bangkit. Musuh besarmu (musuh terbesar adalah diri sendiri), akan membuatmu sibuk dengan perang-perang kecil supaya engkau tidak sibuk dengan perang-perang besar. Seorang bijak pernah menyadari, “Kalau aku ingat dulu, aku selalu tertawa. Kok cetek banget, ya hidupku...?” Kita terkirim ke dunia bukan untuk menghancurkan diri sendiri, kecuali jika musuh terbesar—diri sendiri—mengizinkannya.

Perang-perang kecil itu adalah mementingkan diri sendiri terus-menerus, kecanduan seksual seperti masturbasi dan menonton film porno, ketakutan terhadap kehidupan atau kematian, dan contoh-contoh lainnya. Padahal perang-perang besar sedang menanti. Kita yang masih berjuang, berpindahlah ke perang-perang yang besar. Pemerintah penjajah membuat negara jajahan sibuk dengan perang-perang pancingan, jaminan makanan, dan hiburan, supaya mata tidak melek terhadap perang sesungguhnya.

Sibuk dengan perang-perang kecil juga berarti tidak mau bangkit setelah jatuh. Mengapa? Karena terlalu fokus pada diri sendiri. Terus-menerus menghakimi diri sendiri. Berkubang di dalam lumpur, padahal engkau lebih cocok di pangkuan sejati. Merasa masih punya banyak waktu, padahal umur berkurang tiap tahun. Bukan tambah panjang, tetapi memendek! Perang-perang kecil itu seperti lebih suka mengumpulkan receh-receh, padahal engkau mampu melumbungkan uang-uang kertas besar.

Christians are losers if they don’t receive themselves. Realize yourself and know who you are. Terima dirimu. Knowing and mastering others is strength. But knowing and mastering ourselves is true power. Apa yang engkau sukai harus lebih berarti daripada makanan. Kalau engkau penyanyi, Robin Williams (Maxwell “Wizard” Wallace) dalam film August Rush berkata, “You gotta love music than you love food.” Demikian juga untuk penulis.

Tubuhmu kurus. Apa jeleknya tubuh kurus? Tubuhmu gemuk. Wah, perlu berolahraga. Orang-orang, saudara-saudaramu, bahkan diri sendiri akan mengatakan bahwa engkau kurus. Apalagi setelah lama tidak berjumpa. So what?! Lebih baik mana, tubuh gemuk besar tapi otak tak berisi, atau tubuh kurus tapi mental kuat dan pintar? Lebih baik sehat.

Christians are losers when they become arrogant. Masih ingat mengapa Mahatma Gandhi tidak memeluk kekristenan? Karena orang-orang kulit putih Kristen menolak orang-orang kulit cokelat India, seperti Gandhi, untuk masuk gereja. Masih hafal penyebab boikot besar-besaran warga kulit hitam Amerika? Karena supir bus kulit putih memperlakukan Rosa Parks buruk.

Tempat yang baik adalah menerima yang lumpuh, tetapi tidak menjadi kelumpuhan itu sendiri. Saat seseorang yang munafik memasuki suatu komunitas, ia cenderung menganggap mereka munafik. Padahal sama-sama munafik. Kita sama-sama munafik. Akuilah, ch**rh adalah tempat orang-orang ‘cacat’ dan ‘bejat’. Lihat saja 12 hawari. Mereka, Anda, dan saya bobrok. Dan kita perlu kasih karunia. Seorang yang mulia saja, Pak M. T. S., berkata, “Mari kita yang kumuh, mengkumuhkan yang kumuh.” Ini mungkin kalimat mubazir. Tetapi siapa dan di mana kita saat bahasa pertama tercipta?

Orang besar sejati membuat orang-orang lain merasa besar juga. Orang besar imitasi membuat orang-orang lain merasa kecil. Dr John C. Maxwell menulis, “In the sweep of galaxy, man accounts for only very small part. By remembering this, we can stay humble.” seseorang yang arogan susah menerima kritik. Padahal sebaiknya memahami perbedaan antara kritik membangun dan meruntuhkan. Ia sebaiknya melihat siapa yang untung setelah kritik. Namun, orang yang menerima kritik kadang tidak mengatakan ‘ya’ terlebih dulu. Daripada ya, tetapi tidak, lebih baik tidak, tetapi setelah itu melakukan.

Christians are losers if they don’t love—their parents, family, spouse, ‘J’, even themselves. Kasihi orangtuamu sebelum terlambat. Forgive your father. If your mother forgave him, why wouldn’t you forgive him? I want to write a little story about forgiveness. Perhaps only a few people know two of the Three Tenors: Luciano Pavarotti, Placido Domingo, and José Carreras. Luciano Pavarotti has died.

Placido Domingo is from Madrid. José Carreras is from the Catalans. For political reasons, they became rivals and political enemies in 1984. Whenever an invitation come, Placido Domingo and José Carreras stipulated in their contracts that they would accept it if the other one was not invited. In 1987, Carreras was diagnosed with leukemia and had a little chance of survival. In spite of having a lot of fortune, the cost against cancer and traveling to the U.S. were very high. After investing all his finances, he was in his weakened financial condition and spent.

Then he discovered an organization, the Hormosa Foundation, in Madrid, which was dedicated to helping leukemia patients. He applied, got assistance, and survived! Thanks to the support of the Hermosa Foundation. Carreras recovered from cancer and resumed his singing career. In gratitude, he wanted to contribute to the Hermosa Foundation. When he was reading the company statutes, he found that the founder and president of the organization was Placido Domingo!

José Carreras later discovered that Placido Domingo had created the foundation only for one specific reason: to take care of Carreras. Domingo had remained unknown so that Carreras would not feel humiliated in accepting help form his artistic rival. Deeply touched, Carreras got into the stage at one of Domingo’s concerts, surprising him, interrupted the event with humbly kneeling at his feet, thanking him in public, ans asking for his forgiveness. Placido help him to stand up, and in a strong hug they sealed the beginning of friendship.

A journalist asked Placido Domingo why he had erected the Hermosa Foundation to benefit his rival. He, then, replied, “Because the world cannot afford to lose a voice like that.” You, too. Your home cannot afford to lose your mother or father’s voice.

I got this following article when I was visiting Marturia Department of PGI in Jakarta.

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya, “Mengapa Ibu menangis?” “Karena Ibu seorang wanita,” kata ibu itu kepada anaknya. “Aku tidak mengerti, Bu.” Ibunya hanya memeluk anaknya dan berkata, “Dan mungkin kau tak akan pernah mengerti.” Kemudian, anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa Ibu suka menangis tanpa sebab?” Ayahnya menjawab, “Semua wanita menangis tanpa sebab, Nak.”

Lalu, anak laki-laki kecil itu bertumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Tetap ingin tahu mengapa wanita menangis. Akhirnya, ia menghubungi Dia dan bertanya, “Mengapa wanita begitu mudah menangis?” Dia berkata, “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, dia menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia. Namun, harus cukup kuat untuk memberikan kenyamanan.

“Aku memberinya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkanmu dan menerima penolakan yang acap kali datang dari anak-anaknya, seperti dirimu. Aku memberinya ketegaran untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dalam penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan saat anak-anaknya bersikap menyakiti hatinya. Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.” Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui seorang suami yang baik tak akan menyakiti istrinya. Tetapi kadang Aku menguji kekuatan dan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu. Akhirnya, Aku memberinya air mata supaya dia meneteskannya. Ini adalah khusus miliknya kapan pun dia membutuhkannya.”

Kasihilah sebelum terlambat. Apakah baru mengasihi setelah kehilangan? Aneh jika kita mengasihi orang asing, tetapi tidak mengasihi keluarga. Kunci rumah hilang di depan rumah. Saat itu gelap, namun bisa memakai senter atau cahaya. Tetapi malah mencari kunci di pinggir jalan raya yang memang terang, dan mobil-mobil lalu-lalang.

At last, Christians are losers if they never really live. Although many other examples about them, I only wrote seven things. Christianity is never meant to be a religion, but a relation. Now in religion, if you’re wrong, you’re punished. But in relation, when you did wrong, you learn something. You rise up. Being responsible. You forgive, forgiven, and receive forgiveness.

Now, for those who don’t know Ted Turner, he is the founder of CNN and a king of media (beside Rupert Murdoch). But I ever saw a television programme, telling that his son doesn’t follow his step. Ted Turner is succeed in one thing, indeed. Yet, wise men said that success without a successor means failure. Moreover, how is he right now during global crisis? Well, I hope for the best for Mr. Ted Turner. I hope we would learn a lesson. Don’t be losers.

= = =                                      

Orang-orang besar “keluar” dari hidupku supaya aku tahu rasanya betapa berharganya orang-orang. Dan semoga kita menjadi orang besar dan memunculkan orang-orang besar dari hidup kita. Saat orang-orang besar “keluar” dari hidupku, aku merasakan kesedihan. Wajah mengerut sembilu. Inikah sebabnya mengapa muka orang-orang payau—karena ditinggal orang-orang? Sampai-sampai aku bertanya, “Apakah aku harus meminum Vodka dulu supaya tidak sedih?”

Apakah perasaan ini sesungguhnya karena pengalaman masa kecil kita? Dulu orangtua “meninggalkan” kita untuk bekerja. Tapi, kita bukannya menyalahkan mereka. Ternyata merekalah orang-orang besar dalam hidup kita. Jika kita tak memiliki perasaan ditinggal oleh mereka, kita tidak akan terlalu bersedih saat orang-orang pergi dari hidup kita. We try to look great, but if we are not great at home, we are nothing. Especially you rich people’s boys. If we cannot import truth to our home, don’t export it in marketplace.

Merasakan kesedihan ini juga membuatku tidak mengorganisir. Sebelumnya aku juga menyerahkan kesempatan mengorganisir sih. Padahal kalau aku tidak mengorganisir diriku, orang-orang lain juga tidak akan mau melakukannya untukku. Kesayuan ini juga membuatku kesal saat melihat orang lain tidak menghargai pasangan mereka dan orang-orang dalam hidup mereka. Aku geram saat mengetahui sepasang kekasih yang tidak berbincang apa pun saat makan!Aku jadi gemas ingin bercakap-cakap dengan pasanganku saat makan nanti!

Saat tidak menghargai betapa pentingnya orang-orang, paradoksnya adalah aku malah mencoba meniru atau menjadi orang-orang lain. Meniru kebiasaan tubuh mereka. Jari-jari mereka di wajah. Dan menghakimi mereka adalah hal yang pasti. Hasilnya, aku menyembunyikan diriku yang hakiki. Menyelubunginya dengan corak penampilan berwarna, sikap arogan, dan lain-lain.

Ini memang hidup kita. Tapi hidup ini bukan tentang kita. Hidup mengesahkan orang-orang besar “keluar” dari hidup kita supaya kita hanya mengandalkan you know Who. Sampai benar-benar mengandalkan Dia. Lagipula, percuma kalau terlalu mengharapkan manusia. Manusia acap kali mengecewakan.

Alhasil, kita kurang percaya pada manusia. Paradoksnya, kita kurang percaya kepada orang lain adalah karena kita kurang percaya pada diri kita.

Bukan hanya aku yang mengalami ini. Lalu, bagaimana solusi untuk menghadapinya? Aku bisa menakuk pilihan. Memilih untuk sedih atau tetap tenang. Meratap atau berharap.

As I age, I gain perspective on the illusion of wealth and status as forms of fulfillment. I don't want my life to be measured by dollars and cents, or the number of books I've authored. Rather, I want to be remembered by the lives that I've touched.
—Dr. John C. Maxwell
(Pengarang lebih dari 57 buku)

= = =

Christmas is at hand. For some of you in foreign countries, you are not alone. My friends, Linda, Eunike, Boe, you guys are not alone. Now, you should differ between aloneness and being lonely. Aloneness doesn't mean you are lonely. Nevertheless, I know how you feel if you are lonely. Anyway, let me share something with you. And I just want you to know that you are not alone.

I wrote this in a park―a campus park. The park has a mini wood with pines. They are green, tall, and give nice shelter. I think it's a spectacular place to take a picture. There's also a fountain in the park. Sometimes I just sit a few feet from it. And I hear the water drops. It's beautiful if you can see it. So, there I was led to write.

I want to be alone actually. When I want to go to a solace place, and there are people there, I want them to be gone. Even the voices from others' hasty mouths make me dizzy―and a migraine in my left back head. Why? I do not know the answer for sure. Is it because of a habit when I was a child? When there were visitors coming to my house, I would hide from them. Even if my parents call me, I would hide in my room.

Why is this? Is it also because I don't want people to know my weaknesses? It is weird, though. In one side, I wanted people to see me. On the other side, I thirst to be alone. And I feel shy among the eyes of people. The result is I try to please all people, which leads to a "severe" headache. Then, I don't like myself, which previously because I'm not becoming myself.

Why is this happening? Is it a training to be a great writer? I really don't know the answer. If I already got the answer, I will tell you. What about a solution? I made conflicts with almost everyone (this is Alex Kendrick's words in Flywheel movie). Should they cause my feelings of aloneness? Or can be a source of solution if I'm able to handle them? Both opinions are right.

The greatest of all, even though I am alone, yet He is with me. I can make a relationship with Him. You can make a relationship with Him, too. My aloneness is not equal to His aloneness when He went down to the earth. The whole world left Him. Even the Father left Him. Yet it was a training for Him to be a great writer―Writer of this life.

= = =

You stop growing because you stuck. Like a drive D of a computer that is already full. And you never stretch. Although many of us know a little bit about a lot of things, and don't know a lot about any one thing, we should keep growing.

Try to learn Spanish if you already know Japanese language. Or Dutch just like my friend (How are you, Linda?). No, your body cannot grow, but your minds and way of thinking should grow. But in the midst of your unceasing growing and thinking, you should also unceasing in prayer. However, keep growing.

John Wooden said…

"The definition I coined for success is: Peace of mind attained only through self satisfaction in knowing you made effort to become the best of which you're capable. Now, we're all equal there. We're not at all equal as far as intelligence is concerned. We're not equal as far as size. We're not equal as far as appearance. We do not all have the same opportunities. We're not born in the same environments. But we're all absolutely equal in having the opportunity to make the most of what we have and not comparing or worrying about what others have."

I know it's hard to learn new things. It feels what a pity to let old things and the old knowledge go. But you aren't letting them go. You can use them at any other time. You just try to be curious. Now, curiosity can't be forced. It should come at birth naturally.

Try to be like Christopher Johnson McCandless (Alexander Supertramp; see Into the Wild film). Try to do what Nggeluh Bangun did, too. They tried to do and learn new things without losing enthusiasm. That's why they're rich―not necessarily in material, but spiritual living and freedom. They're also brave.

There are risks in learning new things, too. People hate you. You underestimate yourself. The sense of meaning of working becomes doubts. Now, even though doubt means don't, sometimes we should doubt everything, don't we? By doing so and by facing the hurdle of don't, we do new things.

In top (essence) of all, you should love the ones you love. And do no evil. You may fail and wanting to act like a beast (this seed is in all of us), but you should do no evil. Henry David Thoreau said, "Nature is hard to be overcome, but she must be overcome." Because without love, what we do―learn new things―is nothing. If no passion within, what's the output without? By loving, you'll get what you search, and take what you study.

= = = 

Do not enter without desire. Whatever book you open, whatever words you acquire, do not enter them without a desire to help the person next to you—any person, the other person. And it’s your choice, mine, that person should be an enemy or an ally. A friend or foe. A person who can do you harm or a person who can give you the greatest, a noblest gift that the person can receive—the worthiness of your life.
—Elie Wiesel

Bagaimana jika Anda melakukan kesalahan? Apakah hal lainnya dalam hidup Anda terguyur imbasnya? Lalu Anda takut melakukan hal lainnya. Ketakutan untuk berbuat salah dan gagal mulai menyatroni Anda. Lalu kegentaran untuk mengambil risiko mulai mengemudi kehidupan Anda. Anthony Robbins bertutur bahwa kegagalan-kegagalan Anda cuma berlangsung sementara. Tidak selamanya.

Kegagalan-kegagalan membuat Anda gila, padahal Anda bisa belajar dari kegagalan. Bagaimana seseorang yang terpenjara tidak gila, sedangkan orang yang bebas, menjadi gila? Kekandasan kecil Anda tidak sebanding terhadap “kegagalan-kegagalan” orang besar. Bagaimana Elie Wiesel tetap waras ketika di bui Auschwitz (Oswiecim)?

Elie Wiesel menanggapi, “My passion for study, which a complete my whole life to this day, is not to save me, but to save my sanity. People asked me, ‘How do you survive?’ I don’t have the answer. But when they asked me, ‘How do you remain sane?’ I have the answer. It is thanks to my passion for study. I kept on studying. Therefore, somehow I got an anger and a basis. I felt that I’m not alone. When you study, you are not alone. Voices of writers, scholars, teachers, guides, mentors, voices of centuries and centuries ago, reverberating yours. And you have the right to dialogue with them.

Lalu, apakah gairah(desire, passion)Anda pudar setelah Anda berbuat salah? Ide-ide Anda seperti sedang tertutup awan gelap. Anda serba salah. Your wisdom becomes your whisky. Ini salah. Itu salah. Tetapi, kadang butuh tersesat jauh sebelum sampai ke jalan yang benar. Paradoksnya, kadang butuh tenggelam pada kebenaran mendalam sebelum tersesat. Sayangnya, kata hasrat (passion, desire) berasal dari bahasa Latin pati, yang berarti menderita. Jadi, berhasrat sama dengan menderita. Tetapi itu tidak apa-apa. Orang gelisah itu sehat.

What if you want to help people, while you’re in a mess? You think you can help them in spite of your condition or your agenda towards them. You felt a desire to help them. But that desire is questionable. And that desire is only burning low.

Mr. Norman Mailer said, The elements of mania and depression are diminished. Writing is a serious and sober activity for me now compared to when I was younger. The question of how good are you is one that really good novelists obsess about more than poor ones. Good novelists are always terribly affected by the fear that they’re not as good as they thought and why are they doing it, what are they up to?

It’s such an odd notion, particularly in this technological society, of whether your life is justified by being a novelist. And the nice thing about getting older is that I no longer worry about that. I’ve come to the simple recognition that would have saved me much woe 30 or 40 or 50 years ago—that one’s eventual reputation have very little to do with one’s talent. History determines it, not the order of your words.

Do you buy-in into it? That whatever happens to you, it doesn’t affect your talent. Yet, it’s rather a choice: that you do something with your talent although you’re doing mistakes, or you do something because you desire to do it in truth. Perhaps you think you do it to help people or they could help you. But, you might be weighed in the balances and are found wanting. Which one is more important: writing for living, or living the writing? Even though both are necessary, but the latter is more essential.

What excites you? What is the one thing that if you do it you are sure you will not fail? You’d better do it. Whatever the cost may be. Betapa pun menjulangnya rasa gengsi. Siapa pun orang yang kepadanya Anda berani merendah dan belajar. When you enter it with desire, a desire to help in truth, mata Anda akan bersinar. Anda akan berani.

Man is only great when he acts from his passions.
—Benjamin Disraeli

= = =

"Be careful when you are picking up sticks, that your fire doesn't go out."

It's been several days I haven't written. I mean writing by my hands. It's funny how a computer can take place of my hands to write. Just as hilarious as how electronic things can take over relationships with people. Anyway, now I write.

By the way, a friend of mine said that he's lacking of idea. His idea dries up. Perhaps he's reading too much books. Or maybe it's because of the routines. Yeah, too much books sometimes could hinder our writing. Although reading many books is important, it also can hamper our ideas or make our voice disappears!

Funny, isn't it? We read books, ate theories, listened suggestions, but our truest selves are gone! Thus, we became someone else. All we said, think, and give is not from the real us. Instead of becoming the real me, we become real men. Funny, isn't it? How we see others doing mistake, just to justify our own behavior.

Anyway, then we gather information as much as we could. Even though I support this kind of learning, should we careful we may grow cold. We become a warehouse of facts. Why then, with all that we know, we aren't rich? With all of our knowledge, why we can't be rich yet?

In the quotation above, Charles Haddon Spurgeon said that we should be careful when you are picking up sticks, that your fire doesn't go out? Do you know what it means? (You tell me, you said).

Well, it means be careful when you are too much in something, while your heart isn't on fire. And you do less or nothing with that. When you're so rich with a lot of money, while you're in ignorance of the poor, it means nothing. While indeed you care for the poor, yet you should check your motive. Or, while we criticize people who have more than us, I think we criticize because of jealousy.

When you have lots of data and facts, it's a vain if you do nothing towards them. Your head is overcome by them. It doesn’t matter if you have wisdoms. But if you don't act from them, or you just share your knowledge and facts, it's nothing. It is how you respond with that data, facts, and wisdoms that matter.

Your thoughts are a sum total of the thoughts from others. You not become yourself. Then, you become what you read. Even right now, perhaps I'm not becoming myself. But, let's be our own voices. Make all that we know as a back up weapon. We only use it when we really don't know what to say. Use the sincere voice―your own voice. (A friend of mine joked that nothing tulus {Bahasa Indonesia for sincere; read: to lose}, so tulus is nothing). But, he's just joking.

Maya Angelou (the mentor for Oprah Winfrey) said that sometimes people out there, who are the poor and people on the street, are wiser than professors of universities. Why? Because they think about life and treat others well, unlike those professors. Not all professors are like that, though. Maya Angelou also said that while nations enhance their technology, Ghana is enhancing in treating human.

Last but not least, be careful if you are picking up sticks, that your fire doesn't go out. And the most important thing is that you help people. It's not a bad thing to have more money, education, theologies, wisdoms, and knowledge. But, it's nothing when you have a lot of them, yet you have a small heart and a little heart in what you are doing.

= = = 

Most of your unhappiness in life is due to the fact that you are listening to yourself rather than talking to yourself.”
—Dr. Martin Lloyd Jones

Di dalam diri kita, ada naga. Entah naga baik entah naga buruk. Kadang kita seperti permukaan bulan. Ada dua sisi. Jika Anda pernah melihat film The Lord of the Rings, ada monster yang memiliki dua pikiran: negatif dan positif. Kadang-kadang ia (Gollum) berbicara kepada dirinya sendiri untuk melakukan hal negatif. Kadang ia berbicara kepada diri sendiri untuk berbuat baik.

Bila Anda pernah menonton film Cast Away, Wilson adalah “teman bicara” yang baik. Jika Chuck Nolland (diperankan oleh Tom Hanks) tidak berbicara kepada Wilson, yang menjadi sasaran bicara sendiri, ia akan gila. Richard Wurmbrand berkata, “Bercakap dengan diri sendiri mempunyai nilai kesembuhan.” Dan apakah Anda tahu bahwa orang-orang besar berbicara kepada dirinya sendiri?

Di dalam diri kita juga ada vampir. Kita bisa berbicara kepadanya dan berbincang dengannya. Vampir akan membuat Anda mengenal diri Anda. Anda bisa mewawancarainya. Jika Anda hanya mendengarkannya, vampir itu akan mengisap darah kebaikan Anda. Ada vampir yang biasa-biasa saja. Ia masuk ke dalam ruang yang sedang berlangsung sebuah pesta. Di pesta itu ada acara menyantap manusia. Tetapi, manusia itu teman vampir biasa-biasa itu. Ia melihat temannya dimakan. Organ-organ vitalnya dicubit dengan ganas. Darahnya bercucuran. Namun, vampir biasa-biasa saja ingin keluar melintasi vampir-vampir lain yang beranjak ke manusia itu.

- You can do it again. Fall again.
+ No. I’m not like that. Yes, indeed I have the capacity to do that again. But, I’m not like that.
- Useless. You will fall again.
+ He who always close to me knows everything. And if my heart condemns me, he is bigger than my heart.
- You always do that again. You do well, then you decide to fall again.
+ It’s decision. I’d rather decide to run or to fall. It depends on my decision.

+ I want to write. But, I have no computer.
+2 There you have a paper. You can write.
- You are lazy.
+ I’m not. I will write.
+2 Yeah, remember that advertisement words you saw in the street: Less talk, do more. In your writing, you also should ‘less’ write, do more. It’s your integrity. It’s your life that writes you the most.
+ What about people who says that why should them listen to me because I’m still poor?
+2 It’s better poor but brave than rich people who never write their voice. They will listen to you. We can learn from anyone, aren’t we?
- Yeah, when will you write?
+ Right now. I’m writing right now, am I not?

+ I love what I do. But I kinda don’t like the people whom I work with.
+- Why?
+ I’m just trying to be honest.
+- Is it because you’re not open to them? Are you afraid of getting intimate with them? Or is it because you have been alone for a long time?
+ Yeah. I want to let them know who I am. I want to be open to them. I want to scold them or get scolded without being in fear of losing relationship. I used to write: enjoy what you do. Enjoy with the people you work with. Enjoy the place. Enjoy the creation.
+- And what about your loneliness?
+ I’m getting to receive it. If I learn to be adaptive with my working terms and workplace, why not I learn to be adaptive with this loneliness. It’s a beautiful thing. It’s a course for leadership. But, I adore relationship. And leadership is relationship. I long for relationship. But right now I learn to receive this suffering of being alone.
+- You say, not only you who feels like this? Many people also feel like what you feel?
+ Yes, of course. One or two. A billion, too...
+- You think some relationship aren’t authentic?
+ Yes. They are fake. They are nice-sayers. They only bring the good before the good people. When you’re happy, they stick with you. Once you are suffering, lose, they leave you. Let you not be like this. Friends are friends when they are with you whether you’re on top or bottom.
+- Would you do that?
+ I would.
+- Would you be like that?
+ It’s a hard thing, though. If I want to be real, I gotta be real, whatever the stake is. I’d rather scold somebody, but being remembered and respected, than never being real and give no lasting impact or influence. Anyway, you can be good to strangers and give them chance whenever they fail, why can’t you do that to your loved ones and yourself? If you love someone, you have a positive anger to him or her. You punish, but you also lavish with love. If you don’t love someone, you ignore him or her. You should not be like that.

= = =

Nasib buruk bukanlah nasib buruk jika kita tidak berkata-kata buruk. Kadang kita suka memikirkan bahwa nasib buruk adalah hasil akhir—jalan buntu. Kita tidak tahu apa pun bisa terjadi. Masih ada jalan keluar. Sering-seringlah berkata, this too shall pass (ini semua akan berakhir). Kita tidak tahu keseluruhan sebuah film sampai film itu berakhir.

Saat nasib buruk melanda, tetaplah tenang. “Tidak ada yang dapat memberikan manfaat begitu besar kepada seseorang,” kata Thomas Jefferson, “selain tetap tenang dalam segala keadaan.” Saat nasib buruk datang, kita suka gegabah. Dan kita menyalahkan keadaan. Lalu, kita berkata-kata buruk. Para petani memakan buah dari hasil benih yang mereka tanam. Kita memakan buah dari kata-kata yang kita ucapkan.

Keadaan tidak berubah. Kita yang berubah. George Bernard Shaw berkata, “Orang-orang selalu menyalahkan keadaan. Saya tidak percaya kepada keadaan. Henry David Thoreau berkata, “Things do not change. We change.”

= = =

Aku iri pada orang-orang yang bekerja di perpustakaan. Mereka semestinya lebih pintar daripada aku, karena di sana banyak buku. Aku iri pada pekerja-pekerja dan para penjaga toko buku. Mereka seharusnya lebih pandai daripada aku. Mereka bisa membaca banyak buku.

Bangsa Indonesia akan tetap tidak apa-apa jika orang-orang Indonesia masih gemar membaca buku. Namun, membaca saja tidak cukup. Mereka harus melakukan. Sayangnya, kegemaran orang-orang Indonesia untuk membaca kurang. Dan orang-orang yang senang membaca buku buku, hanya membaca, tanpa menerapkannya. Tidak klop hanya membaca. Pahami juga. Jangan puas atau banyak membaca, tetapi tetaplah lapar untuk membaca. Tidak baik membaca saja. Lakukanlah juga. Dalam membaca tanpa melakukan adalah mati.

Aku iri pada pekerja-pekerja di industri buku. Mereka sebaiknya menyukai buku. Koki harus suka masak. Lifeguard harus bisa berenang. Orang yang suka ophthalmology (studi tentang mata dan jenis penyakit mata) tidak bisa dipaksa menyukai ob-gyn (obstetrician-gynecologist atau studi kebidanan). Jika para dokter atau calon dokter di rumah sakit duduk di kursi dalam ruang sambil bermain kartu tanpa inisiatif melakukan hal lain, sama saja dengan belum bekerja. Sebaiknya inisiatif dan ambil bola.

Jika para supir taksi hanya duduk di kursi sambil bermain catur menunggu penumpang, sama saja dengan belum bekerja dan masih menunggu. Sebaiknya siap dan ambil bola. Lebih salut dan terhormat jika seorang tukang sampah yang masih muda, tetapi giat mengerjakan tugas.

= = =

Hi guys, how are you doin? It's been five days, I guess, we haven't met. I believe you guys are doing okay. And now I would like to share some writings with you.

Satchel means a bag carried on the shoulder by a long strap and closed by a flap, used especially for school books. It derived from Latin, saccellus (small bag). But, Satchel Paige is a big person. He’s also humble. Seems to me there are some wise men from baseball players. Such as him and Yogi Berra.

Yogi Berra ever said, “The game isn’t over till it’s over.” Wow, this is a profound word. Whenever you fail, still there’s a chance. As long as you haven’t died yet, your successes and failures are only temporary. Indeed many sportsmen who are also philosophers.

And now, here are some quotations from Satchel Paige.

—I use my single windup, my double windup, my triple windup, my hesitation windup, my no windup. I also use my step-n-pitch-it, my submariner, my side armer, and my bat dodger. Man’s got to do what he’s got to do.
(Satchel Paige)

Sometimes you gotta to do it all alone. Sometimes all is fall on a man. You gotta think. You gotta determine. For example, you got to do what you got to do for your marriage. Take risks—whatever they are. The higher the stake, the higher the attention.
—If a man can beat you, walk him.
(Satchel Paige)

This means there is someone smarter or better than you. There is a villager who is smarter than you. Yet, there is a citizen that is fool. But, you can learn from them without losing something. And you can earn more things by listening. You can use another heads than yours.

A young man once said to an old man, “Sir, I admire your achievements. You were able to did it all without others’ help.” The old man said, “If I may rewind my life, it would be much better if I got it with others’ support and help!”

How old would you be if you didn’t know how old you are?
(Satchel Paige)

Pertanyaan di atas adalah untuk sudah berapa jauh Anda ketinggalan? Ilmu atau pengetahuan apa yang seharusnya telah Anda ketahui saat SD atau SLTP? Ketika saya SMU, seharusnya saya sudah mengetahui Viktor E. Frankl. Saya tidak mesti mengenalnya sekarang.

Apa pengetahuan yang Anda ketahui, tetapi orang-orang lain belum atau tidak mengetahuinya? Anda harus tahu. Pemerintah tidak akan mengajari Anda. Negara kadang tidak ingin Anda tahu. Educate yourself. Apakah Anda tahu David Petraeus? Beliau adalah jenderal Amerika. Apakah Anda tahu Gershom Scholem? Ia adalah filsuf. Apakah Anda tahu tentang Darfur? Ini adalah nama tempat di Sudan yang merupakan zona perang dan pengungsian.

Kini saya berupaya mengetahui ilmu atau pengetahuan yang seharusnya sudah saya ketahui sekarang. Anda harus tahu satu tapak (one phase) daripada orang lain. Namun, tidak usah terlalu mendengarkan diri Anda saat mempelajari ilmu baru. Pikiran Anda biasanya berkata, sudahlah, kamu sudah tahu. Malas ah. Jangan terlalu sering mendengarkan diri sendiri. Berbicara saja kepada diri Anda.

Pikiran kita kadang berprasangka terhadap hal-hal baru atau orang-orang asing. Hal-hal baru atau orang-orang asing bisa saja merupakan kesempatan.

Kutipan pertanyaan Satchel Paige di atas juga bisa membuat kita mempercepat waktu. Misalnya, hari ini 30 September 2008. Besok 1 Oktober 2008. Namun, kita bisa menganggap hari ini akhir tahun! Besok adalah tahun baru. Hal mempercepat tahun membuat hati, otak, dan pikiran kita lebih maju. Kita berpikir, apa yang akan kita lakukan nanti saat sudah berganti tahun?

Kutipan Satchel Paige itu pun bisa membuat kita memikirkan masa lalu yang telah kita perbuat. Pilihan kita di masa lalu membawa kita di sini pada masa sekarang. Penyesalan apa yang telah kita alami? Apakah kita sudah berubah? Edwin L. Cole pernah berkata, “Waktu tidak hanya diukur dengan tahun, tetapi dengan pengalaman batin.”

Akan tetapi, tidak cukup hanya tahu. Kita tidak boleh menjadikan otak kita sebagai gudang fakta. Selain tahu, kita harus melakukan. Kita harus bertanya, apa yang bisa aku pelajari dari hal ini?

—Don’t look back. Something might be gaining on you.
(Satchel Paige)

I don’t know what that something is. But if we keep looking to our past, we might never going forward. Don’t always looking back to our past successes or failures.

—It’s funny what a few no-hitters do for a body.
(Satchel Paige)

Eat, eat, and eat. Perhaps the reason you cannot progress is that you’re only considering your body. C. S. Lewis says, “You don’t have a soul. You are a Soul. You have a body.”

—Age is a question of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.
(Satchel Paige)

Usually, as you getting older, you don’t mind of what others think. You less care about it. That’s the wisdom. We know what to mind and what to ignore (tidak menghiraukan).

—I ain’t ever had a job. I just always played baseball. Work like you don’t need the money. Love like you’ve never been hurt. Dance like nobody’s watching.
(Satchel Paige)

Love what you do and do what you love. Or else, you’ll getting what you don’t love and have to do it. Yet, if you have something to do, just do it—even though you hate it at the first time. Eventually, you’ll get to know that you like what you do.

Great men never really work for money. Although money is important, the cause and the person are more important. If we have a lot of money, but we lose key of life, we seem to be monkey. Don't make others feel they are working for you. Instead, make them feel they are working with you.

—Ain’t no man can avoid being born average. But there ain’t no man got to be common.
(Satchel Paige)

We are the different in our sum of money. We’re different by size. We’re different in where we were born. But we’re the same in capacity to do at our best.

—You win a few. You lose a few. Some get rained out. But you got to dress for all of them.
(Satchel Paige)

Although competition is important, you don’t necessarily have to be the best than others. All you have to do is do your best. In all you achieve, you lose something. And you gotta be ready for every seasons in life.

= = =

Somebody should tell us right at the start of our lives that we are dying. Then we might live life to the limit. Every minute of every day. Do it. Whatever you want to do, do it now! There are only so many tomorrows.”
—Michael Landon

Jika engkau masih muda dan ingin melakukan sesuatu, lakukanlah sekarang. Engkau tidak boleh membiarkan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau masih muda. Kalau mereka meremehkanmu (underestimate), itu tidak apa-apa. Itu bisa memacumu. Namun, engkau tidak boleh membiarkan mereka merendahkanmu (despise).

Mereka mungkin tahu banyak hal. Namun, engkau juga tahu banyak hal. Mereka tidak mengetahui sesuatu yang engkau ketahui. Mengapa engkau menganggap dirimu rendah? Berapa tahun usiamu? Apakah engkau mau tahu berapa usia para prajurit Amerika di Irak? Mereka berusia rata-rata 19, 20, 21 tahun!

Hal yang lebih menyedihkan daripada orang tua yang depresi adalah orang muda yang pesimis. Engkau masih muda, tetapi engkau pesimis. Kenapa? Masa mudamu adalah masa untuk berbuat sesuatu. Suatu kelompok tanpa orang muda tidak akan menghasilkan sesuatu. Dengan kekuatan orang muda, akan ada hasil. Berikut ini adalah daftar orang-orang muda yang melakukan dan meraih sesuatu pada zamannya.

Pada usia 20 tahun:
- Bill Gates keluar (drop out) dari Universitas Harvard dan mendirikan Microsoft
- D. H. Lawrence menulis novel pertamanya, The White Peacock
- JaneAusten menulis Pride and Prejudice
- Charles Lindbergh belajar menerbangkan pesawat!
- Plato menjadi murid Socrates

Usia 21 tahun:
- Steven Jobs mendirikan Apple Computer

Usia 22 tahun:
- Charles Darwin berpetualang ke Kepulauan Galapagos
- Mark Spitz memenangkan rekor 7 medali emas renang Olimpiade

Usia 23 tahun:
- Michael Phelps memecahkan rekor meraih 8 medali emas renang Olimpiade Beijing!
- T. S. Eliot menulis The Love Song of J. Alfred Prufrock
- John Keats menulis Ode on Grecian Urn
- Jane Taylor mengarang puisi: Twinkle, twinkle, little star.
- Truman Capote menulis novel pertamanya, Other Voices, Other Rooms
- Barrington Irving menjadi pemuda pertama yang sendirian melintasi dunia dengan pesawat

Usia 24 tahun:
- Ted Turner meneruskan usaha ayahnya, lalu mendirikan CNN

Usia 25 tahun:
- Charles Chaplin sudah membintangi 35 film!
- Charles Lindbergh menjadi orang pertama yang melintasi Atlantik
- Roger Bannister menjadi orang pertama yang memecahkan batasan lari 1 mil (± 1.61 km) dalam 4 menit. Saat ia pingsan di lengan pelatihnya, pengeras suara berkumandang, “Waktunya adalah tiga...” Lalu para penonton bergema.

Usia 26 tahun:
- Margaret Mead menulis disertasinya, Coming of Age in Sonoma
- Benjamin Franklin menerbitkan edisi pertama Poor Richard’s Almanac
- Valentina Chereshkova menjadi wanita pertama yang menembus luar angkasa
- Antoine Joseph Sax menemukan brass saxophone
- Napoleon Bonaparte menaklukkan Italia!
- Gon Yangling sanggup mengingat lebih dari 15.000 nomor telepon di Harbin, China

Usia 27 tahun:
- Henry David Thoreau menyendiri di Walden Pond selama dua tahun
- Yuri Gagarin menjadi orang pertama yang ke luar angkasa. Ia berkata, “Aku tidak melihat Tuhan...” Namun, setelah ia meninggal, kita tahu kata-katanya selanjutnya.
- Frederic W. Smith mendirikan Federal Express (FedEx)
- Ernest Hemingway mempublikasikan novel perdananya, The Sun Also Rises

Usia 28 tahun:
- Niels Bohr membuat teori revolusioner tentang atom

Usia 29 tahun:
- Agatha Christie menerbitkan buku pertamanya

Itulah beberapa contoh orang-orang muda yang melakukan sesuatu pada zamannya. It’s not to soon to start. Hiduplah sehari demi sehari. Tidak perlu terburu-buru menanti esok hari. Esok mempunyai kesusahannya sendiri. Lupakanlah usiamu. Esok belum tentu tiba. Esok belum tentu engkau masih ada.

Engkau bisa menjadi contoh untuk orang-orang tua. Nah, sekarang untuk para orang tua. Izinkan saya berbagi sesuatu.

“Muda tidak seluruhnya bergantung tingkat usia. Muda adalah suatu pola dan irama pemikiran. Orang-orang tidak hanya menjadi tua karena telah melalui sejumlah tahun. Orang menjadi tua karena meninggalkan cita-cita atau impian. Anda semuda keyakinan Anda. Anda setua keraguan Anda. Anda semuda kepercayaan diri Anda. Anda setua rasa takut Anda.”
—Douglas MacArthur

Saya tidak bermaksud memberi tahu. Saya hanya ingin berbagi sesuatu. Jika Anda sudah tua dan pernah gagal, Anda tidak boleh berhenti mencoba melakukan sesuatu yang ingin Anda raih. Kalau Anda belum pernah gagal, Anda belum banyak melakukan sesuatu. Kita tidak hanya menghitung tahun-tahun kita dari lamanya, tetapi juga kedalamannya—apakah kita benar-benar hidup dalam tahun-tahun itu? Life is not merely measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.

Berikut ini adalah contoh orang-orang tua yang masih muda dan tetap melakukan sesuatu.

Pada usia 59 tahun:
- Daniel Defoe menulis novel pertamanya, The Life and Adventures of Robinson Crusoe
- Satchel Paige menjadi pemain tertua dalam Liga Utama pertandingan baseball

Usia 60 tahun:
- George Bernard Shaw menyelesaikan naskah drama Heartbreak House

Usia 62:
- James Parkinson menjabarkan penyakit Parkinson (penyakit kronis yang berkembang pada orang lanjut usia yang ditandai dengan gemetaran dan melemahnya otot-otot yang halus)
- J. R. R. Tolkien menerbitkan edisi perdana Lord of the Rings

Usia 63:
- Jonathan Swift menulis A Modest Proposal

Usia 65:
- Noah Webster menyelesaikan mahakaryanya, American Dictionary of the English Language

Usia 67:
- Viktor Frankl, penulis Man’s Search For Meaning, memperoleh surat izin pilotnya!

Usia 69:
- Ronald Reagen menjadi orang Amerika tertua yang disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat

Usia 71:
- Katsusuke Yanagisawa menjadi orang Jepang tertua yang berhasil mendaki Gunung Everest! Setelah itu ia berkata, “Tidak ada lagi gunung-gunung tinggi.” Ia menaklukkan dirinya terlebih dulu sebelum menaklukkan gunung itu.

Usia 73:
- Ronald Reagen terpilih lagi sebagai Presiden Amerika

Usia 77:
- Yogi Berra menerbitkan bukunya, What Time Is It? You Mean Now?

Usia 80:
- Oliver Wendell Holmes menerbitkan Over the Teacups

Usia 82:
- Johann Wolfgang von Goethe menyelesaikan karyanya, Faust, yang telah ia mulai sejak 60 tahun sebelumnya
- Winston Churchill menulis A History if the English-Speaking Peoples
- Leo Tolstoy menulis I Cannot Be Silent

Usia 83:
- Joyce Patrick, seorang nenek buyut, mulai belajar membaca dan menulis! Mulai belajar membaca dan menulis!

Usia 84:
- W. Somerset Maugham menulis Points of View
Apakah Anda masih mau contoh lagi? Sebenarnya masih banyak contoh. Anda pun bisa menjadi contoh. Akan tetapi, baiklah, saya akan memberikan tiga contoh lagi.

Usia 85:
- Theodore Mommsen menjadi orang tertua yang menerima Nobel untuk Sastra
- Viktor Frankl masih terus mengajar sampai usia ini!

Usia 87:
- Francis Peyton Rous menjadi orang tertua penerima Nobel

Usia 89:
- Albert Schweitzer mengoperasikan rumah sakit di Afrika

Berapa pun usia Anda—muda atau tua—sekaranglah saatnya melakukan sesuatu. It’s not to soon to start. It’s not too late to begin. Anda tidak perlu takut memulai. Bukan tentang Anda mampu atau tidak, melainkan kemauan Anda. Cobalah hal baru. Lakukanlah hal yang pertama kali akan Anda lakukan.

Di suatu kerajaan cicak, sang raja mengadakan lomba. Lomba ini khusus bagi para cicak muda jantan, karena sang raja ingin menikahkan putrinya. Pemenang lomba akan menjadi calon mempelainya. Hari perlombaan mulai.

Banyak cicak muda yang mengikuti lomba itu. Banyak pula penonton yang hadir. Lomba ini adalah memanjat menara tinggi tempat putri raja berada di dalam kamar atas di menara itu. Menara itu begitu tinggi.Hembusan angin menerjang kencang jika sampai bagian atas menara itu.

Sang raja memulai meresmikan lomba. Para cicak jantan muda bersiap-siap. Lalu peluit berbunyi. Para cicak muda itu mulai memanjat dinding menara! Para penonton mulai meremehkan mereka. Mereka masih muda. Mereka tidak akan sanggup naik ke atas. Para penonton mengejek. “Kalian tidak akan bisa,” kata satu penonton.

Para cicak yang berlomba saling berdesakan. Mereka yang mendengarkan kata-kata penonton mulai berjatuhan. Ada juga para cicak muda yang kelelahan. Para penonton masih berkata-kata, “Kalian masih muda. Kalian tidak akan bisa.” Para cicak muda yang mendengarkannya berjatuhan.

Tinggal beberapa cicak yang hampir sampai di kamar putri raja. Namun, hembusan angin makin kencang. Ada cicak-cicak yang tidak tahan. Suara penonton pun masih mengejek. Terjangan angin dan ledekan penonton membuat cicak-cicak muda jantan berjatuhan. Akan tetapi, tinggal satu cicak! Ia hampir sampai di kamar pujaan. Para penonton masih meremehkan. “Kamu tidak akan bisa...!” Namun, ia bisa! Akhirnya, ia sampai di kamar sang putri. Dan sang raja menyerahkan putrinya kepada cicak pemenang itu sebagai istrinya. Raja tua itu pun mendukung cicak pemenang menjadi mempelai pria.

Para penonton dan cicak lainnya bertanya kepada cicak pemenang itu bagaimana ia berhasil sampai ke kamar putri raja? Cicak pemenang itu menjawab, “Tadi saya tidak mendengarkan apa pun yang kalian katakan. Saya menyumbat telinga saya.” Penonton lainnya bertanya, “Lalu, bagaimana dengan angin kencang...?” Cicak pemenang menjawab, “Saya tidak memikirkan angin itu. Mata saya hanya tertuju pada mata sang putri.”

“Untuk mulai melakukan suatu tugas biasanya merupakan langkah tersulit. Memang perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama. Akan tetapi, saya tahu langkah-langkah tersebut membuat banyak orang tidak berubah. Rasa takut untuk mencoba sesuatu yang besar melumpuhkan mereka. Itulah sebabnya, memulai segala sesuatu merupakan bagian pertempuran. Dan segala kejayaan muncul dari keberanian untuk memulai.”
—Dr. John C. Maxwell

= = =

“Do not be overly righteous, nor be overly wise: Why should you destroy yourself?”
—King Sulaiman

I didn’t write to propose any idea that we should be bad. Some of us bad, indeed. Some of us not. Evil is real. “Evil does exist,” said Barack Obama. And so is goodness.

What I want to share here is every school needs bad boys. I recall during my times in Junior High School. I was a bad boy. If you somehow meet my teacher and ask about my name, they would say that I’m a bad boy indeed. It is the same when I was in Senior High. Ask my teachers. Ask my friends. “How was Franisz back then?” The answer would probably be dissatisfying.

I’m not asking you to be bad. But everyone has their own setbacks, don’t they? And every school needs bad boys. Even Senator Barack Obama had his own failure. “I had a difficult youth,” he said, “I’ve written about this. You know, there were times where I experimented with drugs. I drank in my teenage years. And what I traced this to is a certain selfishness on my part. I was so obsessed with me. And you know, the reasons that I might be dissatisfied that I couldn’t focus on other people.”

See, if any school doesn’t have bad boys, the school would seemingly be unsafe. Unprotected from another school’s bad boys. And you should agree this that: Even every movie needs its own bad guys. Or else, the movie wouldn’t be interesting. Anyway, bad boys somehow would take care the school. They have such a caring heart about the school—a different kind.

While every good boys trying to earn good values, grades, et cetera, the bad boys less care about those. While every good boys try to impress the teachers and other classmates, the bad boys try to do his best—although what’s best for them not always the same or best with others’ mind.

Bad boys are critical. They are brave. They’re are not afraid of people who is smarter or richer than them. Bad boys become such unique ingredients. They are not sugar of the school—they are salt. They give taste. But, when they do bad things, why others or even their friends become irritated? Mason Cooley said, “Fail, and your friends feel superior. Succeed, and they feel resentful. Friends are sometimes boring, but enemies never.”

Yet, bad boys need to be open. People like openness. If they do bad things, but not being open, they’re not brave. They’re not bad boys. They are hypocrite. Bad boys don’t hide, blame others, self-defensive, or run. Bad boys don’t care what others think or say. They just concern what they think of themselves. They’d rather be bad boys, but good and have a care in heart, than be good boys, but careless and evil in heart. They’d rather have long hair, yet bald and bold heart. They become bad boys by decision. Listen to Marcus Luttrell:

“My name is Marcus. Marcus Luttrell. I am a United Sates Navy SEAL. Team Leader. SDV Team 1. Alfa Platoon. Like every other SEAL, I am trained in weapons, demolition, and unarmed combat. I’m a sniper, and I’m the platoon medic. But most of all, I’m an American. And when the bell sounds, I will come out fighting for my country and for my teammates. If necessary, to the death. And that’s not because the SEALs trained me to do so. It’s because I’m willing to do so. For me, defeat is unthinkable.”

He is a good bad boy. If the world has no bad boys like him, this life becomes so flat and unsafe place. If you reject the bad boys, there’ll no great productions. It’s better to be bad boys but know and do many things, than good boys but don’t do anything. Yet the bad boys should do the right things. Richard Wurmbrand says, “Jika kita harus menolak karya-karya seni yang dihasilkan oleh orang-orang yang tak bermoral, sudah tentu tidak akan ada karya seni yang besar.” Imagine Tolstoy. Imagine Mozart. Further, Dave Grossman points out the distinction of good bad boys:

1.           Most of the people in our society are sheep. They are kind, gentle, productive creatures who can only hurt another by accident.

2.           Then there are the wolves, and the wolves feed on the sheep without mercy. Do you believe there are wolves out there who will feed on the flock without mercy? You better believe it. The moment you forget that or pretend it is not so, you become a sheep.

3.           Then there are the sheepdogs (good bad boys), and I am a sheepdog. I live to protect the flock and confront the wolf. If you have no capacity for violence, then you are a healthy and productive citizen—a sheep. If you have a capacity for violence and no empathy for your fellow citizens, then you have defined yourself as an aggressive sociopath—a wolf. But what if you have a capacity for violence and a deep love for your fellow citizens? What do you have them? A sheepdog. A warrior. Someone who is capable of walking into the heart of darkness. Into the universal human phobia. And walking out unscathed.

4.           The sheepdog disturbs the sheep. He is a constant reminder that there are wolves in the land. The sheep would much rather have the sheepdog cash in his fangs, spray-paint himself white and say, “Baa.” Until the wolf shows up. Then the entire flock tries desperately to hide behind one lonely sheepdog.

5.           Understand that there is nothing morally superior about being a sheepdog. It is just what you choose to be. Also understand that the sheepdog is a funny critter. He is always sniffing around out on the perimeter. Checking the breeze. Barking at things that go bump in the night. And yearning for a righteous battle. Here is how the sheep and the sheepdog think differently. The sheep pretend the wolf will never come. But the sheepdog lives for that day.

6.           If you can be a wolf, you can be one. But the sheepdogs are going to hunt you down. And you will never have rest, trust, or love.

7.           If you want to be a sheepdog and walk the warrior’s path, you must make a conscious and moral decision every day to dedicate, equip, and prepare yourself to thrive in the toxic—corrosive moment when the wolf comes knocking at your door.

8.           This business of being a sheep or a sheepdog (good bad boys) is not a yes-or-no dichotomy. It is not an all-or-nothing choice. On the one end is an abject, head-in-the-sand sheep. And the other end is the ultimate warrior. Few people exist completely on one end or the other. Most of us live somewhere in between.

So, don’t think bad boys can’t do good. And don’t think the good boys can’t do bad things. All of them have the same capacity and quality to do the both different sides. Who knows the heart of men? And, “Men never do evil so completely,” says Blaise Pascal, “as when they do it from religious conviction.”

Mereka tak merokok, tetapi mereka juga tidak pernah sungguh-sungguh menghirup udara segar.

Mereka melarang minum minuman keras, tetapi juga tidak ingin menikmati jus lemon.

Mereka tak berkata-kata kotor, tetapi juga tidak mengucapkan kata-kata indah, baik berupa syair maupun permohonan.

Mereka tak akan memandang wanita dengan hati berahi, tetapi juga tidak hidup penuh kasih dan bergembira menikmati panas matahari.

Bagi mereka semua pucat pasi dan mereka hidup bagaikan Pangeran yang berbaring di dalam penjara.
—George W. Target

= = =

Lebaran sebentar lagi. Bagaimana perasaan orang-orang yang tidak bisa merayakan bersama keluarga atau berada di luar negeri? Saya tahu perasaan Anda. Di mana-mana sepi. Kota yang penuh orang menjadi sepi. Tempat yang ramai menjadi sepi.

Jangan takut. Kesepian adalah anugerah. Ada masa-masa untuk sepi. Ada masa-masa untuk bersama-sama. Kesepian adalah semacam ruang eksperimen untuk menguji Anda. Elisabet Elliot berkata, “Kesepian merupakan kursus yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.” Lagipula, Anda tidak pernah benar-benar sendirian kok. Kesepian membuat kita lebih jelas melihat diri kita dan orang lain.

Anda mungkin jenuh. Saya mengerti perasaan Anda. Anda mungkin bertanya-tanya, sampai kapan akan seperti ini? Tidak apa-apa. Akan ada orang-orang besar yang muncul dari orang-orang seperti kita. Anda mungkin tak merasa mendapatkan kasih. Jangan khawatir. Ada Tangan tak kelihatan yang mengasihi Anda. Anda mungkin gelisah karena kesepian. Tidak apa-apa. Mateas T. S. berkata, “Orang yang gelisah itu sehat.” Mengapa? Karena ia akan mencari dan menjadi. Ia akan mencari teman dan menjadi teman. Ia akan berusaha mengasihi. Saat mengasihi, ia mungkin akan kesulitan. Namun, itu tidak apa-apa. Yusni Reiny Manullang berkata, “Hubungan sejati itu dimulai saat engkau terluka, aku terluka. Dan darah kita menyatu.” C. S. Lewis menulis:

“Mengasihi berarti mau terluka. Jika engkau mencintai sesuatu, hatimu pasti akan terpuntir dan mungkin retak. Jika engkau ingin menjaga hatimu utuh, jangan berikan hatimu kepada siapa pun, bahkan pada seekor binatang pun jangan. Bungkuslah hatimu dengan saksama dalam hobi-hobi atau kemewahan-kemewahan kecil. Janganlah mau tersangkut paut. Simpanlah hatimu terkunci aman dalam peti atau kotak egoisme. Akan tetapi, dalam peti itu—aman, gelap, tak bergerak, tanpa udara—hatimu akan berubah. Hatimu tidak akan retak, tetapi akan menjadi keras. Tak dapat dimasuki. Tak bisa ditebus.”

Kesepian itu tidak apa-apa. Terluka itu tidak apa-apa. It’s good to be sick but healthy than to be healthy but sick. But, it is better if we healthy and healthy. Lebih baik Anda merasa berdua atau ramai saat sendirian atau kesepian daripada merasa kesepian saat di keramaian! Agnes Gonxha Bojaxhiu (Bunda Teresa) berkata, “Penderitaan terbesar adalah menjadi orang yang sendirian, merasa tidak dicintai, dan tidak memiliki siapa pun. Saya telah berkali-kali menyadarkan bahwa seseorang yang tidak dibutuhkan adalah penyakit paling buruk dari berbagai pengalaman yang pernah dialami oleh manusia.” Elie Wiesel setuju, “Merasa ditinggalkan—itulah yang paling buruk dari semua luka manusia.” Bukan hanya kita yang merasa sepi. Banyak juga orang lain yang merasakannya.

Kesepian kita tidak begitu besar ketimbang kesepian tahanan Nazi dalam kamar gelap sendirian. Rasa sepi dan luka kita tidak terlalu menyakitkan daripada seseorang yang ditolak oleh keluarga, saudara-saudaranya, dan teman terdekatnya. Namun, kita bisa memanfaatkan rasa sakit dan sepi ini untuk menolong orang lain. Anthony Robbins berkata, “The secret of success is learning how to use pain and pleasure, instead of having pain and pleasure use you. If you do that, you’re in control of your life. If you don’t, life controls you.” Kalau kita terus-menerus melihat ke kaca (diri sendiri), kita akan sedih dan merasa sepi. Kalau kita melihat ke jendela (ke luar dan orang-orang), kita akan bahagia dan tidak merasa sepi.

Dengarkanlah kata-kata Charles Spurgeon, “I would go to the deeps a hundred times to cheer a downcast spirit. It is good for me to have been afflicted, that I would know how to speak a word in season to one that is weary.” Anda tidak sendirian. Orang-orang lain di dunia juga ada yang merasakan kesepian.

Kita bisa mendapat kekuatan saat dalam kesepian. Dan banyak orang-orang besar memulai langkah awal mereka sendirian. Mereka pernah merasakan kesepian. Eagles fly alone. Rajawali pun merasa kesepian. Satu masa dalam kehidupannya, burung rajawali mengalami masa pembaruan kekuatan. Pada masa proses ini, burung rajawali akan menghadapi masa-masa sulit menyakitkan, karena bulu-bulunya rontok (penopang-penopang Anda rontok, teman-teman Anda jauh). Burung rajawali menjalani saat bulu-bulu rontok dan penuh penderitaan ini selama satu tahun!

Saat bulu-bulunya rontok, burung rajawali ini tidak bisa terbang dan kedinginan (Anda sedih, depresi). Rajawali ini hanya bisa duduk diam dan menanti saat kekuatannya pulih kembali. Itulah sebabnya, burung rajawali mencari tempat tinggi dan tersembunyi di puncak-puncak gunung terjal sebagai tempat penantiannya agar tidak ada gangguan saat memulihkan kekuatannya (Anda butuh waktu untuk sendiri, tetapi hadapi masalah, dan pandanglah ke atas).

Saat bulu-bulu yang rontok itu mulai tumbuh, kekuatan rajawali akan kembali pulih. Kekuatannya akan menjadi seperti kekuatan rajawali muda, bahkan umurnya bisa mencapai dua kali lipat dari umur saat ia mengalami pemulihan diri.

Anda tidak boleh menyerah. Saat orang-orang mulai menilai Anda, mereka tidak tahu harga yang telah Anda bayar. Mereka tidak tahu masa-masa pemulihan yang telah Anda lalui. Seperti halnya rajawali itu, Anda lebih kuat karena rasa sepi.

Setelah kita lulus dari eksperimen kesepian, kita tidak bisa terus-menerus sendirian. Dalam kehidupan, tidak ada orang sendirian. No man’s an island. Dalam kepemimpinan, tidak ada Lone Ranger. James Innell Packer berkata, “Don’t be a lone ranger. Have your perception checked. Draw on the wisdom of those who are wiser than you are. Take advice.” Jika kita sendirian terus-menerus dan merasa kesepian, kita tidak memimpin siapa pun. Lebih baik mempunyai satu atau dua teman sejati. Namun, teman itu harus benar-benar sejati. Lebih baik berada di hadapan satu orang dan merasa memiliki seluruh dunia, daripada berada di hadapan 200.000 orang—seperti saat konser Woodstock ‘99—tetapi merasa kehilangan dunia.

Kita tidak perlu berbicara banyak saat berdua dengan seseorang. Lebih baik diam daripada memaksakan kata-kata. Lebih baik diam tapi peduli daripada ribut setengah mati, tetapi hampa kepedulian. Frank Tyger berkata, “Ujian sejati tentang kemampuan merasa nyaman bersama orang lain adalah kemampuan untuk sama-sama diam.” Margaret Lee setuju, “Keheningan menciptakan percakapan antarsahabat yang sesungguhnya. Bukan perkataan, melainkan tiadanya kata-kata itulah yang berarti.” Namun, keheningan kita harus tulus. Tanpa motif lain. Kita tidak ingin menarik keuntungan dari orang yang bersama kita. Kita hanya ingin bersamanya supaya kita tidak kesepian. Ia pun tidak kesepian.

Let him who cannot be alone beware of community. He will only do harm to himself and to the community. Alone you answer the call. Alone you had to struggle and pray. And alone you will die and give an account. You cannot escape from yourself. If you refuse to be alone, you can have no part in the community of those who are called.

But the reverse is also true: Let him who is not in community beware of being alone. Into the community you are called. The call was not meant for you alone. In the community of the called you struggle, you pray. You are not alone. Even in death. And in the Last Day you will be only one member of the great congregation. If you scorn the fellowship, you reject the call. And thus your solitude can only be hurtful to you.”
—Dietrich Bonhoeffer

(salam buat: Eunike, Boe, Linda. Apa kabar kalian?)

= = =

It’s not the size of the dog in the fight.
It’s the size of the fight in the dog.
—Mark Twain

Saat kita dulu anak-anak kecil, kita suka bersemangat ketika bangun tidur. Kini saat kita dewasa, apakah kita masih seperti itu? Apakah kita bangun, lalu merasa lemah? Ternyata yang lebih dewasa adalah anak-anak kecil. Raksasa dalam diri kita lebih bangun saat kita kecil.

Dulu sewaktu saya SMP, saya memiliki teman bernama Koko. Badannya besar. Ia adalah anak tertinggi saat itu. Dan saya pernah bertengkar dengannya. Saya tidak takut. Walaupun tubuh saya hanya setinggi dadanya, saya bisa mengalahkan Koko. Ternyata ukuran kebesaran tubuh tidak menentukan kemenangan, keberanian, atau hikmat.

Saat kita lahir dan masuk ke dalam dunia ini, seiring waktu berjalan, kita merasa dunia ini besar. Lebih besar daripada kita. Dan kadang hal itu membuat kita takut, meskipun tidak semua orang. Namun, kita lebih besar daripada dunia dan hidup ini. Tanpa kita, tidak ada hidup. Ternyata kita tidak perlu takut terhadap kehidupan.

Dalam kehidupan, kita pasti pernah mempunyai impian. Namun, setelah impian itu tercapai, apakah kita berhenti membuka hati untuk impian baru? Dan apakah kita berhenti bermimpi? Jika kita berhenti memiliki impian, raksasa dalam diri kita akan tertidur. Sedangkan, raksasa-raksasa masalah di luar diri kita akan bangun. Kita tidak diciptakan untuk tidur. Akan tetapi, beberapa orang memang tertidur saat hidup. Dan beberapa orang yang telah mati lebih hidup daripada orang-orang yang hidup. Mengapa? Karena beberapa orang yang telah mati itu tersenyum telah meraih impian dan memiliki keberanian dalam hidup.

Dalam kehidupan, kita juga mempunyai rasa takut. Tidak ada keberanian tanpa rasa takut. Ada beberapa rasa takut. Pertama, apa pun bisa terjadi dalam kehidupan kita. Apakah kita sudah menang menghadapinya? Kedua, rasa takut menghadapi orang-orang. Joyce Meyer berkata, “Live boldly. Fear of nothing or no one, past or future, or what people may think.

Rasa takut ketiga adalah menyatakan pemikiran dan menghadapi orang-orang terdekat. Apakah kita jujur terhadap orang-orang terdekat? Apakah hubungan kita dengan mereka sekadar formalitas dan rutinitas? Raksasa tidak takut dengan raksasa. Dan raksasa sejati memberi tahu sahabatnya jika sahabatnya itu bersalah. Jika ia tahu sahabatnya melakukan kesalahan, tetapi tidak mau memberi tahu, ini sama saja dengan membiarkan orang lain sakit tanpa memberinya obat. Orang-orang ini sebenarnya senang kalau sahabatnya tertimpa masalah atau kesalahan. Mereka tidak jauh beda dengan sahabatnya. Mereka munafik. Sahabatnya pun munafik. Anne Frank berkata, “We all live with the objective of being happy. Our lives are all different, and yet the same.” Kita sama saja. Mereka tidak tahu sahabatnya bisa belajar dari kesalahan. “Times of failure not only reveal a leader’s true character,” kata John C. Maxwell, “but also present opportunities for significant leadership lessons.”

Keempat, rasa takut menghadapi sesuatu yang telah kita katakan bahwa kita tidak akan takut menghadapinya. Kita berkata bahwa kita tidak takut, misalnya berada di keramaian. Lalu, kita berada di keramaian. Rasa takut muncul. Apakah kita berani menghadapinya?

Kelima, masa depan kita. Kadang kita takut terhadap masa depan. Kalau kita tidak memiliki harapan untuk masa depan, kita tidak akan mempunyai kekuatan di masa sekarang. Kita tidak perlu takut terhadap masa depan. Kita juga tidak perlu sok tahu tentang yang akan terjadi di masa depan. Lihatlah kenyataan dan realitas kini. “We must not presume,” kata John C. Maxwell, “we know exactly how things will play out or what tomorrow will bring.”

Rasa takut keenam adalah tidak sanggup menempatkan pikiran di tempat kita berada sekarang. Kita berada di suatu tempat (A), tetapi pikiran kita di tempat lain (B). Jika kita terus-menerus memikirkan yang kita pikirkan dan membuat kita “tidak berada” di tempat kita berada, mengapa kita tidak mengejar yang kita pikirkan saja? Mungkin kekasih kita. Mungkin pekerjaan kita. Mungkin niche (panggilan hidup) kita. Kadang-kadang raksasa dalam diri kita tertidur. Raksasa dalam diri kita lupa bahwa kita memiliki impian, sesuatu, atau seseorang untuk kita kejar. Kini saatnya bagi kita untuk bangun.

Ketujuh, rasa takut menghadapi diri sendiri. Hal menghadapi diri sendiri berarti menerima diri sendiri. Musuh terbesar adalah diri sendiri. Brian “Head” Welch (mantan gitaris Korn) berkata sesuai dengan judul bukunya, “Save me from myself.” Namun, sahabat terbesar juga bisa diri sendiri. Jika kita bersahabat dengan diri sendiri, kita bisa bersahabat dengan orang lain. Jika raksasa dalam diri kita bangun—seperti saat Jepang membangunkan Amerika di Pearl Harbor—kita bisa membangun raksasa-raksasa dalam diri orang lain. Giant killers come only from other giant killers. We can reproduce what we have become ourselves.

Hidup ini hanya satu kali. Raksasa dalam diri kita ingin bangun dan sudah ingin keluar (aktualisasi). Raksasa dalam diri kita pun hanya mempunyai kesempatan satu kali. Ia tidak bisa berada dalam diri orang lain. Raksasa dalam diri kita, dalam diri kita. Raksasa dalam diri orang lain, dalam diri orang lain. Jika raksasa dalam diri kita tidak bangun-bangun, kita tidak akan benar-benar hidup.

If you want to know more about the giant within, read or see “Awaken the Giant Within” by Anthony Robbins. If you want to see the giant within (jika Anda ingin melihat raksasa dalam diri Anda), look at the mirror!

It’s not the size of the project that determines its acceptance, support, and success.
It’s the size of the leader.
—John C. Maxwell

= = =

Hari-hari kita berlalu lebih cepat daripada pelari... tanpa melihat bahagia? Apakah hari-hari kita sudah sekian tahun berlalu, tetapi kita belum melihat kebahagiaan? Kita mungkin melihat orang lain berbahagia, tetapi apakah kita berbahagia?

Kita rindu untuk bahagia. Namun, hari-hari kita meluncur lewat laksana perahu. Jika kita tidak hidup dengan benar dan berpikir tidak layak bahagia, kita tidak akan bahagia. Siapa yang tidak layak bahagia? Orang miskin dan dalam penderitaan, layak untuk bahagia. Orang kaya dan memiliki masalah, pantas untuk berbahagia.

“Kehidupan ini,” kata Robert M. Solomon, “seperti perlombaan lari.” Lari maraton. Seorang pelari tidak akan tertawa terbahak-bahak saat berlomba. Namun, ia bisa merasa senang di dalam hatinya dan bahagia kemenangan di akhir lomba. Dalam hidup ini, kita bisa tetap berbahagia saat kita berlomba. Kita berbahagia walaupun ada banyak masalah. Dan di akhir kehidupan, kita bisa memperoleh kebahagiaan.

Hari-hari kita berlalu dengan cepat. Tidak ada orang yang dapat membantahnya. Kita tidak bisa memilih hari-hari kita—hari baik, hari buruk, hari panjang, hari pendek. Namun, kita bisa memilih respons kita terhadap hari-hari. Kita bisa memilih untuk bahagia terhadap hari apa pun atau kecewa saat hari apa pun.

Seorang pelari yang menikmati perlombaan akan merasakan kesenangan—baik terhadap dirinya maupun orang lain—dan bahagia saat sedang berlari. Meskipun keringat bercucuran, ia menikmati setiap keringat yang menetes. Walaupun ia berlari dengan cepat, ia bisa bahagia karena berlari untuk satu tujuan.

Ada kebahagiaan yang khas bagi seorang pelari. Betapa pun jauh atau dekat, ia cukup merasakan kebahagiaan. Ia merasa bahagia karena turut berlomba. Pemenang medali emas Olimpiade 1924 untuk lomba lari 400 m, Eric Liddel berkata, “God made me fast. And when I run, I feel His pleasure” (Ia membuatku berlari cepat. Dan saat kuberlari, aku merasakan kesenangan hati-Nya).

Jika kita turut andil dalam kehidupan, kita akan bahagia. Walaupun tetesan air mata tercurah, masalah demi masalah mengguyur, keringat kerja keras menetes, kita akan bahagia. Kebahagiaan bukan untuk dikejar, melainkan dialami. Dan meskipun hari-hari kita berlalu dengan cepat, asalkan kita turut ambil bagian dalam kehidupan (ingin tetap hidup, tidak menyerah) dan hidup dengan benar, kebahagiaan akan membuka gerbangnya untuk hati kita.

Kalau Anda terjatuh, berdiri lagi. It’s never too late to run again. Kalau Anda belum berlari, go run.

= = =

I feel I’m interested with this law. Saat makan siang tadi, ada banyak semut di kuah sayuran saya. Saya tidak bisa mengubah keadaan itu karena bukan saya yang memasak dan menyiapkan makanan. Jadi, saya hanya makan tahu, tempe, dan nasi putih. Orang yang menyiapkan makanan berpikir, kalau bukan orang penting dan kita kasihi, untuk apa sih memberi dan menyiapkan makanan terbaik?

Saat pulang bekerja tadi, saya singgah ke warung bubur kacang hijau. Lalu, saya memesan es teh. Gula yang manis dan air yang dingin akan mengganti kelelahan dan menyegarkan dahaga. Penjual menghidangkan es teh pesananku. Namun, ada banyak semut juga di es teh itu! Saya tidak bisa mengubah keadaan itu. Saya bukan penjual bodoh, yang acuh tak acuh, dan tidak mengutamakan kepuasan konsumennya. Saya hanya mencoba memunguti beberapa semut dari satu batalion semut. Lalu, saya hanya meminum seperempat gelas es teh itu.

Ada apa ini dua masalah dengan semut dalam satu hari? Pada kejadian di paragraf pertama, respons saya masih baik, walaupun tidak bisa mengubah keadaan itu. Pada kejadian di paragraf kedua, karena lelah setelah bekerja, respons saya buruk. Saya marah dalam hati. Dasar penjual bodoh. Tak berpengalaman. Bagaimana bisa maju kalau kamu terus seperti itu?! Namun, saya berpikir, when we judge others, we define ourselves, not them.

Ada beberapa hal dan kejadian yang tidak bisa kita ubah. Misalnya, dua kejadian melibatkan semut yang terjadi hari ini pada saya. Ada beberapa hal yang bisa kita ubah. Hal terbaik yang bisa ubah adalah diri sendiri. Misalnya, semestinya respons saya pada kejadian mengentaskan semut-semut dari es teh saya adalah tidak marah.

Contoh hal-hal lain yang tidak bisa kita ubah: cuaca, masa lalu, jam kerja, dan orang lain. Dale Galloway berkata, “Tidak peduli siapa pun Anda dan di manapun Anda tinggal, bila sesuatu terjadi berjalan salah, memang itulah yang akan terjadi. Situasi hukum Murphy berada di luar kendali atau kemampuan kita untuk mengubah. Ketika hukum Murphy bekerja, Anda hanya memiliki dua pilihan. Pertama, Anda bisa bereaksi negatif dan mencoba untuk memeranginya. Kedua, Anda bisa menghadapi realitas dan menanggapi secara positif. Anda bisa menerima yang tidak bisa Anda ubah, lalu bekerja secara kreatif untuk menemukan solusi.”

Kita bisa berani untuk mengubah hal yang bisa kita ubah. Kita bisa menerima hal yang tidak bisa kita ubah. Dan kita memerlukan kepekaan batin untuk membedakan dua hal itu, lalu melakukannya. Untuk Anda yang mampu menerima hal yang tidak bisa Anda ubah, tetapi respons Anda bagus, maka Anda hebat. Untuk orang-orang yang membuat situasi menimpa Anda yang tidak bisa Anda ubah, mereka tidak tahu malu.

What lies behind you and what lies in front of you, pales in comparison to what lies inside of you.”
—Ralph Waldo Emerson

= = =

Bersemangat adalah pilihan. Kita kadang memerlukan inspirasi dan motivasi untuk bersemangat. Namun, di ujung papan loncat menuju ke dalam kolam kehidupan, pada akhirnya bersemangat adalah pilihan. Oswald Chambers berkata, “Anda bisa menilai betapa malas diri Anda dari betapa banyak inspirasi dan motivasi yang Anda butuhkan untuk melakukan sesuatu. Jika Anda manusia sejati, Anda akan melakukannya—suka atau tidak. Cara terbaik untuk menghindari bekerja adalah membicarakannya.”

Augustus H. Strong berkata seperti ini, “Feeling or no feeling, it is your duty.” Kadang kita bisa berpura-pura bersemangat. Itu tidak apa-apa, karena what you think is what you are (pikiran kitalah yang menentukan diri kita sebenarnya). Golda Meir berkata, “Negara saya hanya memiliki semangat. Kami tidak mempunyai dolar dari minyak. Kami tidak memiliki dukungan publik di seluruh dunia yang memihak kami. Hal yang kami miliki hanyalah semangat bangsa kami. Kalau bangsa ini kehilangan semangatnya, bahkan Amerika Serikat pun tidak akan bisa menyelamatkan kami.”

Kadang orang lain tidak perlu tahu api semangat dalam diri kita. Kita cenderung memainkan perasaan. Hari ini begini. Besok begitu. Malam ini bersemangat. Esok pagi lemah. Kita bukan bersemangat naik turun seperti roller-coaster. Kita cukup membiarkan orang lain merasakan panasnya api semangat diri kita. Kita melakukannya dengan mengerjakan yang harus kita lakukan. Just do it. Do it. Norman Vincent Peale berkata, “Dua kata gaib yang bisa mengubah situasi apa pun; dua kata bergaya yang masih terlalu sedikit orang yang memakainya; apakah itu? Kerjakan itu! Bukan besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Sekarang. Kerjakanlah sekarang juga!” Saat kita melakukannya, sesuatu akan selesai. Saat kita bersemangat, sesuatu akan selesai.

= = =

"It’s funny what a few no-hitters do for a body."
—Satchel Paige

Saya baru-baru ini kedatangan seseorang. Ia lari dari rumah. Ia merasa tertekan dan tidak diperhatikan di rumah. Itu bukan tanpa alasan. Ini karena ia belum memperoleh pekerjaan. Lalu, ia minggat dengan dalih mau mencari pekerjaan atau penyegaran jiwa.

Ia tidak peduli mamanya saat tahu kalau ia minggat. Ia hanya meninggalkan secarik catatan yang memberi tahu bahwa ia mau pergi untuk sementara. Rasanya sedih dan tidak enak ditinggal tanpa kata-kata berpisah, selain surat. Ketika orangtuanya tahu ia lari dari rumah, mereka menangis dan kalut.

Keluarganya sebenarnya kaya. Ia pun memiliki banyak uang dalam simpanannya di bank. Ternyata, kekayaan tidak membalut luka kekosongan makna hidup. Kekayaan yang melupakan kebaikan akan membuat kebaikan melupakan kebahagiaan bagi mereka.

Saat ia datang kepada saya, sebenarnya saya ingin menyuruh ia pulang dan menghadapi masalahnya. Namun, ia malah mengandalkan uangnya dan memanjakan perutnya. Saat beberapa hari bersama saya, ia selalu makan malam dengan menu ayam! Setiap hari!

Ia masih pengangguran, tetapi sanggup makan ayam tiap hari! Lebih baik makan ayam daripada berjuang mencari pekerjaan, pikirnya. Orang-orang yang sudah bekerja dan memiliki perusahaan saja menghindari makan ayam. Mereka mungkin hanya makan bubur tiap pagi. Ternyata, pendidikan tinggi yang telah diraihnya tidak memperindah otaknya. Pendidikan yang melupakan hati nurani akan membuat akhlak bejat mengalahkan hatinya.

Ia tidak tahu bahwa tidak mempunyai pekerjaan bukan berarti tidak mempunyai makna. Banyak orang yang sudah bekerja pun merasa belum mempunyai makna hidup. Mereka pun berbuat yang sama dengannya terhadap tubuh atau perut mereka. Makan ayam tiap malam. Setiap hari! Kalau bukan ayam, minuman keras, pornografi, dan obat terlarang. Lawrence Taylor mempunyai profesi bagus. Namun, ia merasa belum mempunyai makna. Alhasil, ia memakai narkotik. Untungnya, ia mau berubah dan berjuang menemukan makna.

Aneh ya, orang yang tidak mempunyai makna, berbuat aneh-aneh terhadap tubuh mereka. Perut mereka lebih penting daripada perjuangan mereka. Mereka lupa tentang Gandhi yang berbadan kecil. Mereka tidak ingat Helen Adams Keller tuli dan buta. Viktor Frankl seperti seonggok mayat kering kerontang ketika dipenjara oleh Nazi. Betapa sering Nelson Rolihlahla Mandela berpuasa? Mereka lupa atau belum pernah menonton bahwa Popeye yang gemuk lengannya, bukan perutnya. Popeye pun makan bayam, bukan ayam! Popeye pasti sering berjuang. Orang yang kesusahan makanan (dalam arti positif) berumur lebih panjang daripada yang kelimpahan makanan (dalam arti negatif).

= = =

Sudah berapa lama kita ketinggalan hal-hal yang seharusnya telah kita ketahui? Aku semestinya telah mengetahui Viktor E. Frankl ketika aku masih SMP. Mau menjadi seperti apa kita empat tahun ke depan? Mau jadi orang seperti apa? Seharusnya pertanyaan ini sudah diajukan ketika kita masih SD! Michael Phelps (peraih medali emas terbanyak di Olimpiade Beijing 2008) pasti telah tahu ingin seperti apa dia saat berusia 27 tahun nanti! Kini ia berusia 23 tahun dan meraih prestasi besar. Ia pasti sudah merencanakan keinginannya sejak ia masih anak-anak!

Apakah kita menata hidup supaya kita kaya? Apakah kita hanya ingin menata hidup kita di atas landasan uang? Orang kaya saja ada yang ingin miskin dan melepaskan kekayaannya. Menata hidup adalah memiliki tujuan hidup—entah dalam kekayaan entah kemiskinan. Menata hidup adalah keberanian.

Mengapa anak muda merasa diremehkan? Karena ia belum menata hidupnya. Mengapa orangtua merasa tidak berarti? Karena ia belum menata hidupnya. Jika mereka menata hidupnya, mulai dari apa pun yang mereka miliki dan kesempatan yang ada, mereka akan berhasil dan memiliki makna. Terlepas dari apa pun hasilnya, mereka menata hidup saja sudah merupakan keberhasilan!

Menata hidup adalah menata pikiran. Apakah kita berpikir hanya orang-orang kaya saja yang nasihatnya didengarkan? Tidak. Kita kadang tidak mau mendengarkan beberapa orang kaya, bukan? Apakah definisi kaya sejati? Banyak memberi dengan hati!

Menata hidup adalah menata hati. Hati yang tidak kotor. Hati tabularasa. Hati yang berani. Namun, itu semua tergantung keputusan kita. Kita menentukan dan diperhadapkan dengan banyak pilihan setiap saat. Kita dapat membuat pilihan secara 100% sadar. Kalau kita ingin menata hidup, itu tergantung keputusan kita.

Menata hidup adalah menata mata, baik mata jasmani maupun mata hati. Ada banyak hal tak kasat mata yang belum kita lihat. Mata hati kita mungkin sudah melihatnya karena hati nurani kita membisikkan dan memberi tahu ada hal-hal seperti itu. Helen Keller pernah berkata, “Hal yang lebih buruk daripada tunanetra (bukan berarti tunanetra itu buruk) adalah orang yang mempunyai mata, tetapi tak mempunyai mata hati (visi).” Mata hati akan membuat kita mengetahui yang seharusnya kita lakukan.

Menata hidup adalah saat kita mulai benar-benar merasa hidup. William Wallace pernah berkata, “Semua orang pasti masti. Tetapi, tidak semua orang benar-benar hidup.” Menata hidup adalah mempunyai jadwal harian dan rencana panjang sampai beberapa tahun ke depan. Namun, jadwal itu tidak sekadar berisi rencana-rencana atau rutinitas. Saat kita lepas dari rutinitas dan mencoba beralih kepada sesuatu yang lebih besar, kita akan merasa benar-benar hidup. Tidak mengantuk. Jadwal itu harus berisi jiwa. Ada jiwa dalam setiap hal yang kita lakukan. Menata tujuan hidup adalah melihat gambaran akhir kita. Kita mengetahui arah tujuan kita.

= = =

Because I was small.”
—Joan Didion

Do you receive your body? Your body can't go taller or bigger anymore. You can keep in shape. You can go fatter. Your body can go skinner. Are you thinking about your body because you afraid of others' body? They are bigger than you. You're afraid they can hit you. But, I can't think how would an ant be dare approaching you?

Can you imagine and have you ever seen the body of a concentration camp prisoner? He's so skinny. But, he developed a big soul. He still has a great smile on his face. The more important is he receives his body. What's the use of a body if you use it not for a good will? What's the use of the house of the Lord if using it as a den of thieves?

From now on, receive your body. Take care of it. Do not be afraid of others' body. Receiving your body means loving yourself. It's okay if you have a skinner body, but a big life! Gandhi is like this. Mother Teresa is like this. Frankl also. If you love yourself, you can love others. If you can receive your body, you can receive others' body. Your body is like the world. It's perfect, yet it's not perfect.

= = =

Siapakah yang lebih dewasa? Anak-anak kecil yang berani atau orang-orang dewasa yang tidak berani? Anak-anak kecil yang tenang bertemu dengan orang asing atau orang-orang dewasa yang segan bertemu dengan orang asing? Anak-anak kecil yang rela menerima pertolongan atau orang-orang dewasa yang takut dan berprasangka saat ditolong? Anak-anak kecil yang bak singa berpetualang atau orang-orang dewasa yang laksana burung phoenix mati tak mau bangkit? Anak-anak kecil seperti orang dewasa atau orang-orang dewasa seperti anak kecil? Dalam lima submission pertanyaan ini, Anda pasti tahu jawabannya.

Anak-anak mau terus belajar. Anak-anak bangkit—lagi dan lagi. Anak-anak selalu bangkit dan belajar lagi setelah gagal dan jatuh dari sepeda. Anak-anak rela menerima pertolongan dari ibu tua. Prasangka anak-anak sirna saat orang dewasa menolong mengantar mereka.

= = =

Frank Bering berkata, “Hiduplah dalam kehidupanmu dan lupakan umurmu.” Ini berseberangan dengan Mazmur Daud yang berkata, “Ajar kami, Tuhan, menghitung hari-hari kami sedemikian.” Manakah hal yang benar? Kita bisa memetik jawabannya melalui metode dua rel. Masing-masing rel menuju ke sasaran yang sama. Kereta yang berjalan di atas masing-masing rel pun mengarah ke tujuan yang sama. Hanya kita yang menentukan mau naik kereta mana? Di satu saat tertentu, kita bisa naik kereta di rel pertama. Di saat lain, kita bisa naik kereta di rel kedua.

Saat kita merasa tua dan menghakimi, mengapa orang-orang yang sudah tua itu tidak menikah?, kita bisa berdiri di sisi Frank Bering. Saat hidup kita laknat dan kita merasa seolah-olah masih lama hidup, kita bisa berada di seberang pendapat Frank Bering. Kita mengenakan baju nasihat dan Mazmur Daud itu. Kedua hal itu sama-sama benar. Tidak ada yang tidak benar.

Hidup dalam kehidupan dan melupakan usia membuat bersemangat. Hidup menghitung hari-hari membuat kita berhikmat. Meteor bersemangat dan melupakan usianya. Ia memercik dari kejauhan. Bintang berhikmat dan menemani malam dengan nur.

= = =

In the world where many things are fake, how can you be so original in writing? In the all seem brand new world of ideas, how can you find a new ones? How can you be original in your own voice? How can you get all of this but from the voice within you. You should not be too preoccupied with yourself if you want to be sensitive with the world around you. You also got to be honest. I know it's hard to be honest. But, if you can't be honest to a paper, who else can you be honest to?

You say people won't read your writings because you are poor. Well, if they who said that ware rich people, then the others who are richer than them wouldn't listen them, too. Indeed you ought to emerge yourself, e.g. To work and everything else, so that people would listen to you and that is a plus point for you. You should just keep writing. You don't judge in your writing. You are rich in your writing. You are funny in your writing. The idea will flow. Just let him. Be patient and honest. Don't be too preoccupied with yourself. Be sensitive to your surroundings. The idea will come to you. You will not feel so poor if you have a lot of writings.

You can say the voice within you gives you ideas and wisdom to you and to guide you to write. Try him. He will hear you. You have wasted your time to do many useless things, such as getting drunk and everything else. Try him. He won't passing you by. You will regret if you wouldn't maximize your language or study in language! You should maximize your potential in writing and as a writer. Everyone can write. But, not everyone can be good in writing. Just as everyone can cook or playing drum, but not everyone can cook or playing drum good.

= = =

Orang yang terlalu spiritual perlu sedikit berani jahat. Orang yang terlihat duniawi perlu sentuhan hati supaya bertobat. Bos besar yang kelihatannya having fun with his life, ternyata ia memerlukan banyak sentuhan hati. Anak muda yang sok spiritual pada awalnya, ternyata ia lebih brutal daripada sebenarnya.

Nothing is really what it seems. Kita tidak akan pernah tahu yang dialami seseorang, unless we communicate with him (her). Kita tidak berhak sembarangan menghakimi. Dalam dirimu ada suara yang berbicara lebih banyak daripada dirimu yang di luar. Diri yang sebenarnya adalah diri yang tidak kelihatan. Itu sebabnya orang-orang berucap bahwa dirimu yang sebenarnya adalah saat engkau sendirian. Namun, diri yang sebenarnya ini takut muncul saat ada orang lain. Ia hanya berani kepadamu saat “ia sendirian”. So, the antithesis is also true: What is unseen is also real.

Seekor bebek kuning yang berenang di sungai terlihat tenang dari luar. Namun, kakinya mengayuh dengan kencang di bawah air. Gunung es (iceberg) terlihat menggunduk kecil di permukaan air. Namun, gunung yang besar menjulang di bawahnya!

= = =
Dalam buku Nafsu yang Murni, karangan Dr. Ted Roberts, dijelaskan bahwa seseorang yang ketagihan pornografi dan masalah-masalah seksual lainnya akan lebih susah pulih atau sembuh ketimbang orang-orang yang mencoba pulih dari ketagihan narkotik.

Sebagaimana seorang pecandu narkotik akan mencuri dan menjual apa pun saat ia tidak mempunyai uang untuk membeli narkotik dan karena sakaw, begitu pun pecandu pornografi atau seksual akan mencuri dan memakai siapa pun yang ia pandang bisa diperalat. Laki-laki seganteng apa pun akan mau saja berpasangan dengan wanita yang jelek sekadar untuk memadamkan sakaw. Wanita itu menjadi objek (benda), bukan seseorang. Wanita yang secantik apa pun akan mau saja berpasangan dengan laki-laki seperti apa pun jika wanita itu sakaw seksual. Pria itu menjadi objek (benda).

Semakin sering kita melihat pornografi, semakin kita akan melihat orang-orang (terutama wanita) dari penampilan. Kita akan menilai mereka dari penampilan luar. Jika mereka cantik atau kaya, kita akan senang terhadap mereka. Namun, jika mereka jelek, pendek, atau miskin, kita tidak akan senang terhadap mereka. Kita bahkan akan jarang atau tidak pernah memikirkan mereka. Kita hanya menilai mereka dari penampilan fisik, bukannya secara utuh. Orang-orang adalah manusia utuh. Ini tidak mudah.

= = =

Sometimes your mind doesn't tell you all the truth. What does your mind know? Sometimes it's only prejudice and disillusion that your mind knows. Go abroad from your mind.

I have a simple example. I sent a text (an SMS) to my lovely mother, saying that how I owe and love her, just as Abraham Lincoln said and felt to his beloved mother.

When I read the reply from my mother, the text only written: AREST SON. I confused. What does my mother meant? AREST SON? What does it mean? Was she telling me to sleep and take a rest, or was it my mother who was sleeping and didn't want to be bothered by my SMS?

I was about to delete that text reply. My mind was keep telling me that my mother didn't want to be bothered and that she was taking a rest. But, as I closed the text, I found another text which was also from my mother. In fact, it was the first SMS of the latter SMS I have read. I was moved as I read the whole texts. The texts went like this. (True form in capital)


= = =


Dari sekian banyak orang dan tempat di dunia, kita tentu tidak bisa menyenangkan semua orang dan mengunjungi semua tempat. Berusahalah untuk menyenangkan diri sendiri terlebih dulu.

Kita hanya bisa menyenangkan beberapa orang, bahkan satu atau dua orang. Kita pun hanya bisa bertempat tinggal di satu tempat, walaupun kita bisa mengunjungi beberapa tempat.

John C. Maxwell benar bahwa lebih baik mempunyai satu atau dua sahabat daripada mempunyai segala kekayaan, tetapi tak punya sahabat. Lebih baik bersama satu orang yang spesial di satu tempat yang indah daripada bisa pergi ke semua tempat terindah tanpa siapa pun.

= = =

Manakah Lebih Penting?

Manakah lebih baik: orang-orang mengetahui kejelekan atau kelebihan Anda pada awalnya? Jika orang mengetahui kelemahan, kekurangan, dan kejelekan Anda pada awalnya, tetapi salut karena setelah itu tampak kebaikan Anda itu lebih baik daripada kelihatan baik pada awal, tetapi jelek pada akhirnya.

Meskipun kesan pertama itu penting, memperlihatkan diri apa adanya pada awal-awal adalah hal yang baik. Ini juga membutuhkan seni yang tinggi dalam melakukannya. Tidaklah mudah untuk menempatkan kejelekan dan kekurangan Anda pada awalnya.

Biarlah orang-orang mengetahui dan melihat kekurangan kita pada awalnya, meskipun mereka tidak suka. Namun, biarlah mereka juga mengetahui kelebihan kita.

Orang-orang cenderung memakai topeng, munafik, tampak baik, dan tidak tampil apa adanya pada awalnya. Terimalah dan jadilah diri Anda apa adanya. Namun, jangan berhenti bertumbuh sampai di sana saja. Bila Anda orang yang bersemangat pada awalnya, jadilah diri Anda apa adanya. Bila Anda pendiam, jadilah diri And apa adanya. Meskipun nothing is really what it seems dan kesan pertama itu penting, jadilah diri Anda apa adanya.

= = =

Bisakah benda menjadi sahabat dalam hidup manusia? Jawaban saya adalah bisa. Dulu saya tidak menganggap bahwa benda bisa sebagai sahabat. Saya pun tidak pernah merawat benda-benda milik saya. Namun, semenjak kekasih saya memberi nama pada sepeda motornya, saya berubah pikiran. Saya juga kaget dan heran! Dia memberinya nama “Bilu”. Seolah-olah sepeda motor itu sahabatnya. Saya belajar dan meniru kekasih saya. Oleh karena itu, kini saya menganggap bahwa benda bisa menjadi sahabat manusia. Saya pun kini merawat semua benda milik saya.

Sahabat pasti memberi manfaat, dan memberikan yang terbaik. Sahabat pasti setia—pada saat susah dan senang. Sahabat selalu memberikan pertolongan. Sifat-sifat ini bisa terlihat pada sepeda motor Honda!

Honda selalu membuat produk sepeda motor yang bermanfaat bagi orang-orang. Kita semua pasti sudah tahu bahwa bahan bakar irit, ramah lingkungan, dan harga terjangkau adalah karakteristik sepeda motor Honda. Ini adalah bukti bahwa Honda berjuang memberikan yang terbaik bagi orang-orang. Honda ingin menjadi sahabat.

Sahabat selalu berusaha membuat diri supaya disukai orang-orang. Hal ini pula yang menjadi kekhasan (trademark) Honda. Sepeda motor Honda berusaha tampil keren melalui iklan serta hasil produksi, dan berusaha untuk hemat bahan bakar. Dan bagi orang-orang pecinta balapan, Honda pasti berusaha membuat produk sepeda motor berkecepatan tinggi dan aman.

Bagi kita yang mempunyai sepeda motor Honda, kita pasti meyakini satu hal, bahwa sepeda motor Honda itu setia. Bila hujan turun deras, dan kita akan pergi ke suatu tempat, kita bisa melaju bersama sepeda motor Honda. Pada saat kita ingin berkencan dengan kekasih kita, sepeda motor Honda bisa membantu kita menuju tempat kencan. Model sepeda motor Honda yang modis juga membuat kita tambah keren! Honda memang sahabat kita.

Jika kembali sebentar ke cerita masa lalu, Soichiro Honda (pendiri Honda) adalah pekerja keras, giat belajar, pantang menyerah, dan ingin bersahabat dengan orang-orang. Ia ingin memberikan kontribusi dan jasa bagi banyak orang. Beliau sering bekerja hingga larut malam, bahkan kadang-kadang sampai subuh! Beliau juga adalah pembelajar, dan tidak menyerah dalam kegagalan. Soichiro Honda juga berhasil adalah karena bantuan orang-orang dan para sahabatnya. Oleh karena itu, Soichiro Honda ingin membalas budi dan kebaikan sahabat-sahabatnya. Hal itu bisa kita lihat sampai sekarang melalui perusahaan Honda dengan semua produksinya. Namun, Soichiro Honda bukan orang yang puas pada satu kesuksesan. Beliau memiliki banyak impian. Baginya, sukses adalah perjalanan. Perjalanan menuju kebermaknaan. Dan kebermaknaan itu adalah menjadi sahabat bagi orang-orang.

Sudah berapa tahun Honda menjadi sahabat? Menurut saya, semenjak kelahiran Soichiro Honda pada 17 November 1906, Honda telah menjadi sahabat. Tanpa kelahiran beliau, atau jika beliau tidak memiliki semangat semasa hidupnya, perusahaan Honda tidak akan bisa sampai sekarang ini. Bahkan tidak akan ada Honda. Tidak akan ada sahabat. Walau beliau telah meninggal pada tahun 1991, semangat dan hati sahabat Soichiro Honda masih mengalir sampai sekarang, dan hingga masa mendatang. Honda layak menjadi sahabat.

Menjadi sahabat memerlukan kerja keras, giat belajar membangun hubungan, dan pantang menyerah. Menjadi sahabat membutuhkan waktu. Tidak cukup waktu yang sebentar atau instan. Waktu tersebut membutuhkan kehidupan sehari-hari. Hingga sekarang, telah 102 tahun Honda bersahabat dengan kita semenjak kelahiran pendirinya, Soichiro Honda. Menjadi sahabat selalu ingin memberikan yang terbaik dan kontribusi untuk orang-orang. Honda telah melakukannya. Dan hal-hal itu telah terlihat pada sepeda motor Honda, bukan?

Sepeda motor Honda juga telah menjadi sahabat bagi orang-orang Indonesia.

Pangsa pasar sepeda motor di Indonesia adalah terbesar nomor tiga di dunia! Oleh karena itu, Honda berusaha memberikan kontribusi. Bukan semata-mata demi memperoleh keuntungan perusahaan, tetapi juga memberi keuntungan bagi sahabat-sahabatnya. Dan sambil menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) bagi orang-orang Indonesia.

Melalui kontribusi Honda, pada 30 November 2007 yang lalu perusahaan Honda di Indonesia berhasil mencapai produksi 20 juta unit sepeda motor!

Merayakan prestasi produksi dua puluh juta sepeda motor Honda, maka Honda ingin memberikan kontribusi bagi sahabat-sahabatnya. Itulah fungsi sahabat. Sepeda motor Honda ingin menjadi sahabat saya. Seperti “Bilu” menjadi sahabat bagi kekasih saya.

Sahabat menyapa kita dengan suara lembut. Sahabat juga selalu merayakan keberhasilan bersama para sahabatnya. Suara lembut dari sepeda motor Honda menyapa hati kita. Suara yang khas. Dan keberhasilan dalam produksi kali ini, Honda ingin merayakannya dengan sahabat-sahabatnya.

Sahabat selalu merayakan keberhasilan. Mengapa? Karena sahabat membuat perayaan, titik. Perayaan bisa menciptakan suasana saling akrab, dan memunculkan energi atau semangat baru!

Sahabat juga mengasihi setiap waktu, dan setia pada saat kesukaran. Sepeda motor Honda menjadi sahabat orang-orang dalam kehidupan sehari-hari. Dan setia—pada saat susah dan senang! Sahabat pun pantang menyerah dalam kegagalan.

Ingatkah kita moto Honda? Saya ingat. Dalam bahasa Inggris, moto itu tertulis: The Power of Dream. Terjemahan untuk bahasa Indonesianya adalah kekuatan impian. Filosofi tersebut berawal dari produk prototipe sepeda motor Honda sekitar pada bulan Agustus 1948. Sepeda motor prototipe itu bernama Dream (impian atau mimpi).

Impian memang mempunyai kekuatan. Impian juga berarti visi. Tanpa impian, akan ada kegagalan. Jika Honda berhenti memiliki impian, Honda akan gagal. Soichiro Honda pun memberi nasihat, “Saat mengalami kegagalan, mulailah bermimpi. Milikilah impian baru!” Beliau juga ingin mewujudkan banyak ide atau impian.

Sekarang Honda dengan produk sepeda motornya, memiliki impian menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari bagi banyak orang. Saya berpikir bahwa moto Honda akan bertambah satu lagi. Saya ingin memberikan kontribusi berupa moto bagi sahabat saya, Honda. Moto itu adalah: The Power of Friend. Bahasa Indonesianya adalah kekuatan sahabat. Sepeda motor Honda telah menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kekuatan sahabat.

Orang-orang Indonesia adalah orang-orang bersahabat. Orang-orang Indonesia juga dekat dan bersahabat dengan alam. Demikian pula halnya bangsa dan orang-orang Jepang. Bangsa Jepang bersahabat, dekat, mencintai, dan menghargai alam. Banyak nama-nama orang Jepang yang memakai padanan kata menunjuk pada faktor alam. Nama Honda pun adalah gabungan dari dua kata yang menunjuk faktor alam, yaitu hon dan da. Kata pertama berarti buku, hal utama, atau asal mula. Menurut saya kata itu juga bisa berarti alami. Kata kedua berarti sawah.

Bangsa Indonesia dan bangsa Jepang dari dulu selalu dekat dan bersahabat dengan alam dan sawah.

Honda telah menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Indonesia. Sepeda motor Honda bisa kita lihat di mana pun dan kapan saja. Honda selalu ada di sana—seperti sahabat! Sepeda motor Honda juga menjadi sahabat keluarga saya.

Sahabat bagi keluarga saya adalah Honda GL 100. Ayah saya membelinya sekitar tahun 1995. Pada saat itu ayah dan ibu sepakat membelinya karena harganya yang murah dan terjangkau. Dan itu bisa dibayar dengan mencicil. Sampai sekarang tahun 2008, ayah masih memiliki sepeda motor Honda GL 100 itu. Dan sepeda motor itu masih tetap awet dan bagus.

Sudah beberapa bulan saya tidak melihat ayah dan ibu saya. Karena saat ini saya sedang bekerja jauh dari keluarga. Ayah dan ibu berada di Surabaya; saya di Yogyakarta. Saya merindukan ayah dan ibu saya.

Saya juga sudah beberapa bulan tidak melihat sepeda motor GL 100 milik ayah. Saya teringat pada GL 100 itu. Saya masih ingat warna garis hijau dan bodi hitamnya, suaranya yang khas, dan gaya lumayan macho-nya. Tahun 1995 saat itu, saya sangat ingin menaiki sepeda motor GL 100 milik ayah. Walau waktu itu saya ingin GL Max atau GL Pro, ataupun sepeda motor merek lain yang keren, saya bersyukur mempunyai GL 100. Ayah pun mungkin akan mewariskannya pada saya.

Sepeda motor ini telah ayah pakai untuk mengantar ibu ke sekolah setiap hari. Ibu adalah guru SMA. Dan ayah adalah karyawan. Jarak dari rumah menuju sekolah ibu kurang lebih 50 km! Ayah mengantar ibu berangkat pagi-pagi untuk mengajar. Sudah tentu ayah memakai GL 100-nya. Setelah mengantar ibu, ayah juga langsung menuju ke kantornya. Ayah melakukan ini dari hari ke hari—setiap hari!

Sepeda motor ini telah menempuh jarak ratusan ribu km. GL 100 milik ayah ini telah membawa ayah dan ibu ke acara-acara keluarga di tempat yang jauh dan dekat. GL 100 ini telah membawa saya ke rumah pacar saya waktu SMP dan SMA. Sepeda motor ini telah membawa ibu ke pasar, membawa saya pergi ke berbagai tempat, mengantar adik-adik dan saya ke sekolah. Dan sebagai alat transportasi utama bagi kami sekeluarga.

Sepeda motor GL 100 milik ayah memang tidak terus-menerus dalam kondisi prima. Adakalanya mogok, mesin yang susah dinyalakan, dan bagian-bagian sepeda motor yang rusak. Namun, ayah selalu memperbaikinya bila rusak. Ayah setia merawatnya. Sepeda motor ini pernah jatuh, dan menabrak, tetapi sampai sekarang masih awet. Dan ayah masih memakainya.

Saya tidak tahu yang akan terjadi bila kami tidak memiliki GL 100. Ayah dan ibu mungkin tidak bisa berbuat banyak atau pergi ke mana-mana tanpa sepeda motor itu. Saya tidak tahu yang akan terjadi bila Indonesia tidak menerima kontribusi dari Honda. Orang-orang Indonesia tak akan bisa ke mana-mana tanpa bantuan sepeda motor Honda.

Saya masih terbayang warna garis hijau dan bodi hitamnya, suara khasnya, daya tahannya, dan kemantapan waktu menaikinya sambil memakai jaket.

Ayah bangga memakainya. Ibu bangga memilikinya. Meski kami belum mempunyai mobil, GL 100 itu telah menjadi mobil bagi keluarga kami. Kini sudah 12 tahun lebih berlalu semenjak ayah pertama kali membelinya, namun ayah masih memakai GL 100-nya untuk mengantar ibu. Keluarga kami bangga atas sepeda motor Honda GL 100 milik ayah.

Bangsa Jepang adalah bangsa cinta damai. Seperti Honda dengan produk sepeda motornya yang ingin menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari untuk orang-orang Indonesia. Ternyata benda bisa menjadi sahabat. Honda layak menjadi sahabat kita. Kita memang tidak bisa mengasihi benda; kita hanya bisa mengasihi orang-orang. Tetapi, kita bisa membuat benda menjadi sahabat.

Honda mengasihi orang-orang Indonesia. Honda layak menjadi sahabat kita. Sepeda motor Honda adalah sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kekuatan sahabat. Itulah impian Honda.

= = =



... Sudah mau mati


... Cukup?


... Sampai sinikah tahapan kehidupan?

Agar berbahagia jua

= = =

Jika Anda pikir Anda terlalu kecil untuk membuat suatu perbedaan (keberanian), Anda pasti belum pernah di kamar dengan seekor nyamuk (atau lalat, kutu, kupu-kupu, atau semut).
—Michele Walker

Untuk sejenak ...
jangan perhatikan

Untuk sejenak ...
jangan ingin seperti

Untuk sejenak ...
jangan pikirkan
ketajaman mata elang,
keanggunan rajawali,
kerumitan mesin pesawat,
kesetiaan, kepintaran, keahlian anjing.

Untuk sejenak
perhatikanlah semut ...
ada lebih dari 10.000 jenisnya,
mereka punya 2 perut,
dan hal-hal lain
yang perlu diperhatikan.

= = =

Kita tidak menghargai sumur kita hingga sumur itu kering. Kita tidak atau jarang menghargai sesuatu atau orang-orang yang kita miliki hingga kita kehilangannya—apalagi hilang karena kesalahan kita. Saya dulu seharusnya bersyukur dan menghargai komunitas saya saat masih di Jatinangor dan Bandung. Saya semestinya mau menghargai dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang serta teman-teman saya saat itu. Saya berpikir bahwa komunitaslah yang membutuhkan saya. Padahal sayalah yang membutuhkan komunitas. Jika saya berpikir saya bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain itu salah. Jika saya berpikir bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu tanpa saya itu lebih salah.

Viktor E. Frankl berkata, “ Dalam upaya seseorang untuk menyelamatkan hidupnya, maka dia akan berusaha melebur di dalam kerumunan.” Kerumunan itu bisa kita artikan baik secara harfiah maupun konotasi. Secara harfiah berarti kumpulan atau kerumunan. Secara konotasi, saya mengartikannya sebagai komunitas.

Saya mempunyai cerita ilustrasi: Saat saya mengendarai sepeda motor saya di jalan raya, saya berupaya melebur ke kerumunan sepeda motor yang lain agar tidak ketahuan dan tertangkap polisi. Itu karena plat nomor sepeda motor saya sudah habis masa berlakunya. BPKB-nya sudah kedaluwarsa. Apalagi SIM saya pun sudah habis masa berlakunya! Sangat tidak enak perasaan hati kita karena merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Saya mengerti bahwa yang saya lakukan itu adalah salah. Namun, yang mau saya sampaikan menekankan pentingnya kerumunan (komunitas). Karena kerumunan seperti itu benar-benar efektif.

Sekarang saya merasa merindukan komunitas saya yang dulu. Saya merasa kehilangan mereka dan merasa dulu tidak menghargai mereka. Saya kini harus mencari teman baru dan saya harus menjadi teman. John Donne berkata, “No man's an island.” Seseorang perlu mencari teman baru. Ada istilah “musim sahabat”. Ada waktunya berpisah dengan sahabat lama. Ada waktunya mencari sahabat baru. Kita juga perlu menjadi sahabat. “I go outside and search a friend, I found none,” demikian kata seseorang, I go outside and be a friend, I found friends everywhere.” 

Kadang-kadang kita memerlukan waktu untuk menjauh baik sebentar maupun seterusnya dari komunitas. Tergantung penyebabnya. Viktor E. Frankl berujar, “Ada saatnya jika memungkinkan, bahkan sebuah kebutuhan untuk menjauh dari kelompok. Seseorang merindukan saat-saat dia bisa sendirian, hanya dengan pikiran-pikirannya. Dia mendambakan keleluasaan pribadi dan kesendirian.” Kesendirian dan kesepian itu tidak apa-apa. Namun, merasa sendiri dan sepi walaupun di tengah-tengah keramaian itu kesendirian dan kesepian kronis. Itu berbahaya.

Perasaan terbaik adalah tidak merasa sendiri atau sepi, walaupun sedang sendiri. Joyce Meyer pernah berkata, “Kita harus ingat saat kita mengucilkan diri sebenarnya kita juga memenjarakan diri sendiri. Mungkin kita aman dari kemungkinan tersakiti. Namun, kita juga tidak dapat menikmati hidup seperti selayaknya. Jika kita memagari diri dari seluruh dunia untuk melindungi diri agar tak tersakiti, kita menderita kesepian, isolasi, dan rasa takut.”

= = =

Still want to be president? When I was a child, I wanted to be the president of my country. I was so eager and thought that I can handle or lead this nation. As time went by, that dream to be president has slowly gone and never showed on my mind again. Yet, indeed I ever become the president for my classroom when I was at Junior and Senior High, and when I was still in college. I seemed love to lead people.

Now what happened? It seems I don't want to be president anymore—not even having a single thought about it. Anyhow, I can be a president. I can lead myself before I lead others. So, there's still hope to be president. A president for myself. To lead my minds, attitude, emotions, and myself.

= = =

Apakah supaya berbahagia dan menemukan makna hidup harus menderita terlebih dulu? Dr Viktor E. Frankl berkata, “Apakah penderitaan tidak bisa dipisahkan dari upaya menemukan makna hidup? Tentu saja bisa. Saya hanya menegaskan bahwa makna hidup bisa ditemukan, meskipun harus atau bahkan melalui penderitaan, asalkan penderitaan tersebut tidak terhindarkan.

Jika penderitaan tersebut bisa terhindarkan, hal yang layak dilakukan adalah menghilangkan penyebabnya, karena penderitaan yang tak perlu identik dengan menyakiti diri, bukan sebuah tindakan kepahlawanan. Sebaliknya, jika seorang tidak bisa mengubah situasi yang menyebabkan ia menderita, ia tetap bisa menentukan sikap.”

Kadang-kadang orang-orang menunggu-nunggu untuk mendapatkan tujuan hidup. Mereka menunggu kecelakaan, sakit, usia tua, dan lain-lain terlebih dulu sebelum mendapatkan tujuan hidup atau sesuatu yang lain. “Mengapa harus menunggu?” tanya Tony Christiansen, “Mengapa orang-orang menghabiskan waktu mereka dengan duduk-duduk dan menunggu sesuatu terjadi? Kecelakaan yang saya alami telah mengasah karakter serta hidup saya dalam beragam cara dan tentu saja membantu saya dalam menyampaikan pesan saya.”

Sering-seringlah bertanya dalam hati, kapan lagi?

Namanya Ibu Ninung, kalau saya tidak salah dengar. Apakah arti hidup baginya? Dia bekerja memunguti sampah dan menawarkan jasa cuci baju ke rumah-rumah. Dia bahkan telah melupakan usianya. Dia mempunyai dua anak yang sudah kelas 3 SMA. Suaminya, “Bekerja biasa-biasa saja,” katanya, tanpa saya mengerti maksudnya.

Urat-urat varises menggumpal terlihat di betisnya. Apatah arti gengsi baginya? Apatah arti kotor baginya? Dia sudah terbiasa tiap hari dengan bau sampah menyengat, yang membuat ingin meludah itu. Arti dan tujuan hidupnya adalah dua anaknya itu. Teman saya berkata bahwa orang-orang seperti inilah orang yang hebat.

= = =

Sementara orang-orang sudah berjalan,
apakah kita akan masih tetap di sini?

Sementara orang-orang sudah berbuat baik,
apakah kita akan terus berbuat tidak benar?

Sementara orang-orang sedang berjalan dan menuju sukses,
apakah kita akan tetap di sini?

Sementara orang-orang bergerak dan tahu yang mereka lakukan dan inginkan
apakah kita akan tetap di sini berdiam dan tak tahu apa yang akan kita lakukan dan inginkan?

To the person who does not know where to go, there is no favorable wind.

= = =

What makes people want to or dare to suicide? What makes people think about death? I guess depression is one of the reasons. They who suicide (poor them...) are having a false courage, just as there is a false belief for a belief, which it may be called delusion or even illusion.

They should have a dare to live, not to die. Dare to die for a good cause is one thing, but dare to die meaningless is another thing. It's meaninglessness.

Listen to what Wilhelm Stekel said, “Tanda orang yang tidak matang adalah ia ingin mati muda demi perjuangan. Sedangkan, tanda orang yang matang adalah ia ingin hidup rendah hati demi suatu perjuangan.

They didn't know what to do in life. I didn't mean to judging them. It seems like there are no other options but to kill themselves. Yet, even though their choice to suicide matters the deed, perhaps there's also a spiritual or invisible world warfare happened in their lives. If they fail to ask help and love to protect and help them, they will probably take that poorly action. Listen to what Charlie E. “Tremendous” Jones said:

Learn to laugh at yourself
Learn to help others laugh
Learn to laugh when you are up
Learn to laugh when you are down
            Learn to laugh

= = =


It was a text (SMS) reply from Bang Onay after a few days I sent him an e-mail, where I told him about my late conditions in this life. I wrote to him that I've done some bad things and still struggle with it. Answer from Bang Onay was right to the point. I must not trade my future with today's happiness. I know this is not easy.

What my future will be? I don't know what tomorrow holds, but I know who holds tomorrow. I don't know what the future holds, but I do know the One who holds the future. Sometimes someone cannot see his or her future because it's too bright. Imagine what will we be in the future if we don't trade our future with today's happiness.

= = =

Try to read and discern the following quote by a former New York Yankees player, who is also a great philosopher, Yogi Bera.

“Pastikanlah untuk selalu menghadiri pemakaman orang lain. Kalau tidak, nanti mereka takkan menghadiri pemakaman Anda.”
—Yogi Bera

: ) Even though actually there is a profound meaning in that words, there is also a humorous thing. Can you imagine some corpses or some dead men are attending your funeral! Another meaning in that words is to make humor as your friend, before it's too late—you die and cannot laugh again.

Don't be too serious with yourself. Be serious with God—and sometimes you can get fun with Him, too. Humor is a spark of lubricant for life. So, this life can move smoothly, not stuck or jammed.

It's true that sometimes we should attend any funeral. I ever saw on television that there's a man who has already attended more than 200 funerals! Try to attend it, we'll get the understanding of how short our life is. Yet, in the above context, we can see that humor is our friend.

Charlie E. Jones said, “Get people to think with you and you'll get them thinking better. Get them laughing, but don't let them laugh at you. Some comedians get people to laugh at them. And sometimes being a clown is necessary to loosen things up. But good managers, teachers, and salespeople learn how to get people to laugh at themselves. You begin by seeing things in perspective and learning to laugh at your own situations.”

= = =

Grace adalah bahan bakar bagi saya
untuk tetap mencintai.

Agnes adalah bahan bakar bagi saya
untuk terus belajar.

Adi adalah bahan bakar bagi saya
untuk sabar dan mengasihi.

= = =

Ada beberapa sekolah yang saya ambil dan belajar di dalamnya. Sekolah-sekolah tersebut sebagai berikut.

  1. Sekolah resmi (Official school)
Tempat saya bisa mulai sekolah dan belajar dari TK sampai Perguruan Tinggi. Sekolah negeri atau swasta. Sekolah di dalam negeri atau luar negeri.

  1. Sekolah rumah (Home schooling)
Tempat saya bisa belajar secara mandiri atau autodidak. Sekolah di rumah dengan membaca banyak buku, pergi ke toko buku, dan belajar di rumah.

  1. Sekolah kehidupan (School of life)
Para siswanya pembelajar seumur hidup (longlife learner). Semua adalah guru dan bisa mengambil pelajaran dari setiap hal. Namun, lebih bagus mengambil yang positif. Kita sudah terdaftar di sekolah ini sejak lahir sampai meninggal. Namun, biasanya ada orang-orang yang baru sadar kalau dia di sini saat di Perguruan Tinggi.

Berikut ini beberapa turunan dari sekolah kehidupan.

  1. Sekolah pencobaan (School of trials)
Pencobaan-pencobaan merupakan gurunya. Ujian-ujian yang diberikan hanyalah pilihan—memilih gagal atau menang? Sekolah ini all-day school. Tanpa hari libur. Tiap keadaan, jam, dan menit ada pelajarannya.

  1. Sekolah penderitaan (School of fire)
Moto sekolah ini, seperti kata Madame Guyon, adalah, “Api penderitaanlah yang menghasilkan emas dari kehidupan.” Ini sekolah pemurnian.

  1. Sekolah Kesuksesan (School of success)
Tempat saya bisa belajar meraih sukses. Namun, sukses bukan dikejar, melainkan terjadi. Jangan mencari sukses—semakin keras berupaya dan menjadikan sukses sebagai target, semakin sulit kamu meraihnya. Karena sukses, seperti halnya kebahagiaan, tidak dapat dikejar. Sukses harus terjadi dan hanya bisa diraih sebagai efek samping dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang lebih bermakna—sebagai produk samping dari penyerahan seseorang kepada orang lain di luar dirinya. Sekolah ini juga all-day school, karena selain tanpa libur, setiap sukses harus menuju sukses yang lainnya. Keberhasilan itu tidak apa-apa asalkan tidak berlama-lama menyentuh kepala. Kegagalan itu tidak apa-apa asalkan tidak berlama-lama menyentuh hati. Pendidikan tertinggi sekolah ini adalah Significance (kebermaknaan). Perjalanan dari sukses menuju kebermaknaan.

  1. Sekolah kebermaknaan (His school)
Mata pelajarannya: semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji. Lalu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Pengajarnya orang-orang agung—seperti kata Stephen Covey tentang pribadi agung. Lalu, orang-orang sukses dan orang-orang yang pernah mengalami kegagalan tapi bangkit lagi dan tidak mau menyerah. Banyak orang yang masih mendaftar di sekolah ini dan masih terus belajar.

= = =

Dalam bahasa Inggris ada pembeda untuk penunjuk persona antara pria (laki-laki) dan wanita (perempuan). Untuk pria, he. Untuk wanita, she. Ini sangat jelas terlihat perbedaannya saat dalam kalimat. Namun, bagaimana dengan bahasa Indonesia? Teman saya kebingungan. Teman saya heran, mengapa orang-orang Indonesia tidak membedakan atau memiliki pembeda antara penunjuk persona untuk laki-laki dan perempuan? 'Dia' dan 'ia' sama artinya. Baik dia maupun ia bisa menunjuk kepada pria atau wanita.

Ini sudah menjadi masalah pelik sejak lama. Saya pun sudah lama heran. Namun, sebenarnya kasus ini terpecahkan ketika dosen saya membicarakan hal ini. Dosen saya (saya tidak menyebut 'dia' atau 'ia' di kalimat ini, supaya Anda menebak dosen saya pria atau wanita, bapak atau ibu) mengusulkan untuk membedakan kata 'dia' terhadap kata 'ia'. Menurut dosen saya (saya juga tidak mau menyebut nama supaya Anda penasaran dosen saya pria atau wanita), sebaiknya 'dia' itu untuk perempuan, dan 'ia' untuk 'pria'. Mengapa? Saya lupa alasannya. Namun, saya dan beberapa teman mahasiswa saya waktu itu setuju.

Lagipula, bukankah wanita (dia [3 huruf]) suka yang panjang-panjang dan berlama-lama, sedangkan pria (ia [2 huruf]) tidak suka basa-basi dan senang langsung ke sasaran? Kata 'ia' terdengar dan terkesan garang. Kata 'dia' terkesan cocok untuk wanita. Apakah saya punya contoh kalimatnya? Sayangnya, saya lupa letak saya menaruh kertas catatan saya tentang contoh kalimat rancu untuk penunjuk persona ini. Kata 'dia' juga biasa dipakai pada awalan atau selipan nama-nama perempuan, seperti Diana, Dian, Dila, Dita, atau Dina. Sedangkan, kata 'ia' biasa untuk nama pria, seperti Ias, Ian, atau Isa, dan lain-lain.

Saat saya mengusulkan hal ini kepada teman-teman saya, mereka tertawa. Namun, saat mereka menemukan hal ini dan kebingungan, saya tertawa. Nah, bagaimana menurut Anda? Anda mungkin menertawakan saya dan pendapat dosen saya. Namun, saat Anda seandainya menemukan kalimat dengan tabrakan gender (saya menyebutnya demikian), Anda akan bingung dan tertawa. Oh ya, dosen saya menyandang penunjuk persona 'ia'.

Pak Bambang Trim, titip salam untuk Pak Budi pengajar di PSBJ, ya Pak. Terima kasih.
(Oh ya, ilmu yang Bapak bagikan tentang editor multicerdas sungguh bermanfaat. Editor bukan hanya harus cerdas kata (word smart), melainkan juga cerdas gambar, cerdas logika, cerdas bergaul, dan cerdas diri. Demikian ilmu Bapak. Ditambah juga harus berani, tidak pengecut, karena pengecut akan berakhir di jamban)

= = =

Kemiskinan yang sebenarnya, menurut saya, bukanlah tidak memiliki banyak harta atau benda, uang berlimpah, melainkan tidak memiliki siapa-siapa.

Seorang korban bencana alam angin topan pernah berkata bahwa sesuatu yang diajarkan oleh angin topan itu kepadanya adalah ia bisa hidup tanpa apa-apa. Hal ini menarik. Ia berkata bahwa ia bisa hidup tanpa apa-apa, bukannya tanpa siapa-siapa.

Sekalipun ia kehilangan harta atau benda, ia tetap bisa hidup karena ia memiliki teman, orang lain, dan keluarganya. Ia bisa menjadi miskin karena kehilangan harta oleh karena angin topan itu. Namun, ia tetap kaya karena ia memiliki siapa-siapa meskipun tanpa apa-apa. Dikasihi orang lebih baik daripada disilaui emas. Talk is cheap, you say. Well, hopefully you realize how rich enough you are.

= = =

Mungkin ini salah. Saya pernah berpapasan dengan seorang ibu tua di jalan. Ibu itu menanyakan lokasi dan arah ke stasiun. Lalu, saya memberi tahu. Kemudian, ibu tua itu pun memohon sejumlah uang. Jadi, saya hanya memberinya Rp2.000,-.

Saya berkhayal dan berpikir dalam hati, akankah ada orang yang tiba-tiba mendatangi saya dan memberi sejumlah uang karena saya telah memberi uang kepada ibu tua tadi. Ya, seperti reality show di TV. Namun, walaupun saat itu saya berharap, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada balasan apa pun. Saat itu pun saya sedang kekurangan uang.

Keesokannya, saya berencana untuk bertemu teman-sewaktu-kuliah saya, Linda, untuk meminjam sejumlah uang. Lalu, kami pun bertemu. Dan... dia meminjamkan sejumlah uang tanpa menuntut balas kapan harus dibayar. Dan... dia masih mau membelikan saya makan siang! Dan... dia masih membelikan saya snack rasa jagung empat bungkus, lima bungkus mi, teh celup satu pak, mentega, meses, dan roti! Saya berpikir dalam hati, ya ampun Linda, saya tidak layak. Ini tidak sebanding dengan sejumlah uang yang saya berikan kepada ibu tua kemarin.

= = =

Bacalah sebuah buku. Makanlah lebih banyak es krim. Lebih seringlah berjalan dengan telanjang kaki. Peluklah seorang anak. Pergilah memancing. Tertawalah lebih banyak. Stasiun tersebut akan segera tiba. Dan sementara Anda pergi, temukanlah cara untuk membuat dunia ini lebih indah.
—Barbara Bush

Saya pikir sudah banyak orang tahu dan mempunyai prinsip: Hiduplah seolah tak ada hari esok. Saya pun tahu dan mempunyainya. Namun, tahu dan mempunyai berbeda dengan percaya dan melakukan. Tahu tidak berarti percaya atau melakukan. Apa yang akan kita lakukan jika mendapat kesempatan hidup kedua?

Apa saja bisa terjadi dalam lima menit di hidup kita. Lima menit dalam hidup bisa mengubah segala sesuatu. Lima menit ke depan mungkin saja kita mengalami kecelakaan mobil hingga sekarat. Kita bisa tiba-tiba saja mengalami sesak napas seperti pada para penderita asma. Apa yang mungkin terjadi lima menit ke depan? Kita mungkin saja mati.

Apabila kita pernah melihat film Fly Me to Polaris, kita akan mengerti arah pembicaraan ini. Ada seorang pasien pria tunanetra yang dirawat di rumah sakit. Pasien pria tunanetra ini mempunyai suster favorit. Suster itu senang merawatnya. Sepertinya pasien ini pun suka kepada perawat itu.

Suatu malam, mereka mengobrol di teras atas rumah sakit. Tiba-tiba ada bintang jatuh di langit malam syahdu. Sang suster melihat bintang jatuh itu dan memberi tahu kepada pasien kesayangannya. Mereka percaya bahwa apabila ada bintang jatuh, orang-orang bisa memohon sesuatu. Sang suster memohon dalam hatinya supaya pasien kesayangannya itu bisa melihat lagi.

Singkat kata, suatu malam sang suster akan tugas malam, dan dia meminta sang pasien kesayangannya untuk mengantarkan dia. Dengan senang hati pasien pria tunanetra ini mengantar sang perawat. Sambil bercanda ria sang pasien mengantarnya ke kantor tempat bertugas dengan menaruh sang perawat yang cantik itu do kursi roda. Dan sang pasien tunanetra yang mendorongnya! Sambil tertawa senang sang perawat berkata dan menunjukkan arah, “Ke kiri, ke kanan. Lurus, ke kiri... Oh, kamu menabrak... Ke kanan, ke kiri lagi.” Akhirnya, mereka sampai. Sang suster berjanji kalau mereka bisa bertemu lagi nanti setelah dia selesai bertugas. Pasien pria tunanetra ini senang. Lalu, ia hendak berjalan mengelilingi rumah sakit. Ia meloncat kegirangan dan menari di jalan rumah sakit.

Setiap pasien tunanetra memiliki kelebihan, yaitu untuk mengetahui sekitar mereka tanpa indera penglihatan. Mereka menggunakan indera penciuman dan intuisi mereka. Pasien pria tunanetra ini sudah hapal semua bau petugas, suster, dan daerah rumah sakit itu. Singkat kata, pasien pria ini meloncat berlari dan menari, tanpa tahu yang akan tiba-tiba terjadi. Saat ia berlari, melompat, dan menari, belum lima menit setelah berpisah dari sang suster favoritnya, ia tersandung batu besar. Ia terjungkal ke depan dan terlempar ke arah jalan besar. Satu mobil sedan menabraknya.

Sang pria tunanetra ini tiba-tiba bisa melihat! Ia heran. Ia sudah bisa melihat! Ia bertanya dalam hati, di mana ia berada, karena ia sedang bersama antrean orang-orang dengan baju putih yang menuju sebuah—seperti—pesawat. Hanya ada satu orang berjas resmi warna hitam duduk di belakang meja sembari mencatat. Ya, ia di surga. Semua orang dalam antrean berjalan maju melewati orang berjas resmi hitam itu. Saat giliran pasien pria tadi lewat, ia disorot curahan cahaya dari 'atas' dan ia pun dipanggil oleh orang berjas resmi. Ia pun datang dan mulai bertanya banyak, “Ada di mana saya?” “Mengapa saya bisa melihat?” dan lain-lain.

Sang petugas pun menjelaskan. Singkat kata, pasien pria itu disorot sinar karena ia dipilih dan diberi kesempatan untuk hidup lagi! Sang petugas bertanya kepadanya mau mengambil kesempatan itu atau tidak. Jika mau, ada syaratnya, yaitu tidak boleh dan tidak bisa memberi tahu jati diri aslinya. Ia memang akan diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi, tetapi dengan wajah dan tubuh orang lain. Namun, jati diri, karakter, dan semua kebiasaannya tetap sama dengan yang semula.

Sang petugas juga memberi tahu bahwa pasien itu hanya memiliki waktu hidup tiga sampai lima hari. Ia pun mau menerima syarat itu. Pasien pria itu mau menaati walaupun berat. Ia melakukannya karena ingin bertemu dan melihat wajah sang suster favoritnya yang sudah lama tidak bisa ia lihat—baik karena buta maupun saat berada di surga.

Kehidupan kedua pun berjalanlah. Sang pasien pria sudah di dunia. Ia dapat melihat! Dan ia masih berada di rumah sakit tempatnya dulu dirawat. Ia mulai melihat segala sesuatu. Dari tembok, langit, pintu, atap, hingga anak kecil yang sedang memakan es krim. Seperti bayi dewasa yang baru lahir.

Ia segera mencari perawat favoritnya. Ia mencari ke sana-sini. Ia bertanya kepada suster-suster yang ia temui. Although they don't know who he really is, he knows them all. Ia mengenal bau mereka. Lalu, ia bertemu satu suster yang memberi tahu bahwa suster yang ia cari ternyata sedang pergi melayat ke pemakaman. Ia bertanya siapa yang telah meninggal. Suster itu lalu menjawab bahwa ia yang meninggal dan sudah satu minggu berlalu. Sang pasien pria ini segera menuju ke pemakaman. Di sana, ia dapat melihat suster favoritnya. Cantik... Dia cantik... Namun, dia sekarang sedang bersama pria lain dan sedih karena kehilangan pasien kesayangannya.

Menit demi menit ia gunakan untuk berusaha memberi tahu suster favoritnya bahwa ia masih hidup meskipun dalam wujud berbeda. Beberapa kali ia pun mencoba mengatakan jati dirinya. Namun, karena ada syarat dari surga, ia selalu gagal saat mencobanya. Ia berusaha sebaik-baiknya melakukan segala sesuatu agar ia dapat meyakinkan sang suster bahwa ia masih hidup.

Jati dirinya tidak berubah. Cara bicaranya tidak berubah. Kebiasaannya tidak berubah. Dan ada satu kelebihannya yang tidak berubah: Ia mahir bermain saxophone dan ia sungguh pandai memijat bahu orang. Segala macam cara ia lakukan. Sampai larut malam ia berjuang. Tidur di luar pun ia lakukan. Berjalan jauh pun mau ia lakukan. Demi satu hal... hubungan. Supaya hubungan cinta kasihnya diketahui oleh sang suster dan bahwa ia mencintainya. Supaya hubungannya dengan orang-orang boleh berjalan dengan kasih.

Lambat laun, setelah melalui banyak aral dan saat sang pasien harus kembali karena waktunya di bumi hampir habis, akhirnya beberapa orang dan sang suster menyadari bahwa sang pasien masih hidup walaupun dalam sosok wajah dan tubuh lain. Lagipula, dirinya yang sebenarnya bukanlah yang tampak di luar, melainkan yang terdapat di dalam. Lagipula, ia bukanlah makhluk manusia yang memperoleh pengalaman spiritual, melainkan makhluk spiritual yang memperoleh pengalaman manusia yang sementara. Dari kebiasaannya minum dengan air lemon dengan banyak garam, kebiasaannya memijat, dan meniup saxophone, dirinya tetaplah hidup...

Kesempatan hidup kedua ia gunakan sebaik-baiknya. Waktunya terbatas. Ia mengasihi semua orang. Ia mencintai seseorang. Ia tidak kenal takut. Ia berusaha. Ia membantu.

Apa yang akan kita lakukan jika kita mendapat kesempatan hidup kedua? Tanyakanlah kepada orang-orang yang sudah tua, apakah yang ingin mereka lakukan jika memperoleh kesempatan hidup kedua? Apakah tujuan kita hubungan dengan orang-orang? Kita tidak tahu kapan kita mati dan kita pun mungkin tidak menerima seperti yang pasien pria tadi dapatkan. Listen to what Nadine Stair said ...

Jika memiliki kesempatan untuk hidup lagi, saya akan berani membuat kekeliruan pada saat berikutnya, bersikap santai, dan melepaskan urat. Saya akan lebih konyol daripada yang telah telah saya jalani saat ini dan tidak akan terlalu serius. Saya akan mengambil lebih banyak peluang, lebih banyak perjalanan, lebih banyak gunung yang akan saya daki, dan akan lebih banyak lagi sungai yang akan saya seberangi. Saya akan lebih banyak makan es krim dan sedikit kacang. Saya mungkin akan memiliki lebih banyak kesulitan dan lebih sedikit yang imajinatif. Anda tahu, saya salah satu orang yang peka dan bijaksana. Jam demi jam. Hari demi hari.

Oh, saya juga punya banyak kenangan. Jika dapat melakukannya lagi, saya ingin lebih banyak memilikinya. Namun kenyataannya, saya tidak mencoba apa pun yang lain—satu demi satu, hidup bertahun-tahun ke depan. Saya menjadi salah satu orang yang tak pernah pergi ke mana-mana tanpa termometer, botol air panas, jas hujan, dan parasut! Jika dapat melakukannya lagi, saya ingin melakukan perjalanan dengan berat lebih ringan.

Jika memiliki kehidupan lagi, saya ingin memulai berjalan-jalan tanpa alas kaki di awal musim semi dan tetap begitu hingga musim gugur. Saya ingin lebih banyak berdansa, lebih sering menaiki komidi putar, dan memetik lebih banyak bunga aster.
—Nadine Stair

= = =

Dear Sir,

I do know that you must appreciate politeness and surely want to be straight. Sir William, please allow me, this man, to write a letter to you.

Sir, how do you have that courage? A courage that you held until you died. A courage that you said, “Every man dies. Not every man really lives.” Where did you get that kind of bravery from? I admire your brave heart.

How did your attitude towards life? What does life, itself, meant to you? How did you face this life? I am sorry if I question a lot. I just want to know how I must face and live this life. Sir, how could you only love one woman? Instead of using your physical attraction towards abusing women or sexual harassment and immorality, you were only fell in love with one precious woman at one time. Again, Sir, I admire your brave heart.

Thank you, Sir William, for your attention. I am sorry if I'm being impolite. I will really look forward 'to contact' you again soon. By the way, Sir, would you suggest me how to face this life and to have a courage? Although I think we all human have the answer within our hearts. Yet, still I want to learn from you.

Thank you, Sir. See you soon. I guess you have more adventures, more courage, and bravely adventure 'there'. Thank you, Sir.

—Franisz Ginting

= = =


Dear Viktor E. Frankl,

First of all, please allow me to write this little letter to you. This is my first short letter to you.

I know how you felt. How your body was getting skinner and skinner. How you perhaps often felt lonely. I'm getting to find out that I'm like you. Yet, surely I have to be myself. But, I want to emulate how your responds toward life. Hopefully I could win in the end to facing this life, just as you were.

Although you suffered many persecutions and abuses, your attitude towards life's unfairness was beyond my words, thinking, or comprehension. Did you know I feel that someone's bigger in you was being you? I believe that you would agree with me if I say: Instead of spiritual or religious matters are important for one's life against suffering, yet his or her attitude is more essential and needed to face everything. Suffering is his or her glory. How would you say, Sir?

I'm agree with your thesis which says that there are two kinds of man, that is either a good race or a bad race. I believe you are a good race ones. Hopefully I could be like you.

How did you act toward failure? Or did you ever fail? How could you raise up against failures? How was your attitude? I'm sorry if I'm asking too quickly. But, could you answer me with a slow respond, Sir? I know you would. Viktor E. Frankl, is it true that we can determine how to choose our own attitude for everything in life? How did you do so well? What if you succeeded, and then failed, and wanted to raise up again? What about the weekend syndrome, that you wrote it usually happens to people who work too much day to day, and feel empty in the end of the week?

That's all for now, Sir. It's a pleasure to know you. It's a cool thing. I really thank you. See you soon.

= = =

Dear you,

Aku telah menantikanmu sekian lama. Aku kira kamu selama ini di The Jakarta Writing School. Aku sudah lama mengharapkanmu di sana. Lama sekali. Namun, ternyata engkau di sini—Internet.

Dari sekian banyak pilihan, aku telah memilihmu. Dari sekian banyak pilihan, maukah engkau memilihku? Mungkin akan ada banyak yang melamarmu, dan aku mungkin tak bisa menjanjikanmu apa pun, tetapi percayalah padaku kita akan saling berbagi.

Aku tahu hartaku tak seberapa banyak. Tidak seperti teman-temanku yang lain, yang hartanya banyak. Namun, aku memiliki keberanian. Dan dengan bersama, kita berdua bisa meraih banyak. Kita pun akan memberi dampak buat orang-orang.

Tak kusangka sudah begitu banyak tulisan surat cintaku. Tahukah engkau bahwa aku sudah menulis dan menulis? Aku menulis untuk orang-orang. Aku menulis untuk diriku sendiri. Di dinding kamarku terpampang banyak tulisan. Seandainya engkau membacanya, engkau akan tersentuh. Seandainya ...

Kini aku menulis untukmu. Begitu banyak suara di dunia ini. Aku mau engkau mengikuti suara hatimu, karena aku pun mengikuti suara hatiku. Dengarkanlah suara hatimu. Pilihannya ada di tanganmu. Bila engkau tak bersamaku dan memilihku, kapan lagi...?

Jangan dengarkan mereka. Dengarkanlah aku. Temanku, Gordon MacDonald, berkata kepadaku,

In our pressurized society, people who are out of shape mentally usually fall victim to ideals and systems that are destructive to the human spirit and to the human relationship. They are victimized because they have not thought themselves how to think, nor have they set themselves to the lifelong pursuit of growth of the mind. Not having the faculty of a strong mind, they grow dependent upon the thoughts and opinions of others.”

“Dalam masyarakat kita yang tertekan, orang-orang yang terkuras secara mental biasanya adalah korban pemikiran-pemikiran dan sistem-sistem yang merusak jiwa dan hubungan antarmanusia. Mereka menjadi korban karena tidak mengajari diri mereka sendiri cara untuk berpikir, atau tidak menetapkan diri untuk menumbuhkan pemikiran mereka sendiri. Pikiran mereka tidak kokoh, dan mereka bergantung pada pemikiran dan pendapat orang lain.” (http://www.maximumimpact.com/newsletters/leadership/content)

Maukah engkau menerimaku? Aku tak mau kalah dari orang lain. Aku bahkan bersaing melawan temanku untuk mendapatkanmu. Siapa pun yang engkau pilih, aku telah mencoba memenangkan hatimu. Tidak ada salahnya mencoba. Aku tidak takut gagal. Aku seperti anak-anak yang tidak takut mencoba. Berani terhadap kehidupan. Aku tidak takut menulis. Aku menulis kepadamu. Sebelum aku mati, aku bahagia mengenalmu dan engkau bersamaku. Hidupku hanya 30 atau 65 tahun. Aku mau menulis.

Seandainya hanya aku yang boleh menulis. Seandainya aku bisa melarang semua orang menulis. Seandainya hanya aku yang boleh memilihmu. Namun, itu tidak boleh dan tidak bisa. Lagipula, aku harus melihat dan menyadari kenyataan. Aku bisa saja membohongimu dan berbuat seperti Stephen Glass dalam film Shattered Glass. Namun, aku tidak mau melakukannya.

Aku tahu orang-orang boleh memilihmu, bahkan banyak orang memilihmu. Aku tahu kita harus berguna bagi orang lain. Namun, keputusan ada di tanganmu. Engkau mungkin bertanya mengapa engkau harus memilihku? Mengapa engkau harus mendengarkanku? Karena aku tahu yang aku tulis dan katakan. Aku telah membaca 10.000 buku—Anthony Robbins saja punya jadwal membaca 700 buku setahun (bacalah buku Awaken the Giant Within).

Aku telah pergi ke beberapa perpustakaan—perpustakaan kota Surabaya, Malang, perpustakaan Universitas Padjadjaran di Dipati Ukur – Bandung dan Jatinangor, perpustakaan Universitas Airlangga, dan perpustakaan nasional di Jakarta. Aku bahkan pernah ke Library of Congress (www.loc.gov) melalui Internet. Namun, itu semua tak berarti apa pun bila aku tak bersamamu. Hanya engkaulah yang kumiliki. Hanya engkaulah yang kupikirkan sepanjang hari, siang dan malam. Apalagi saat mendengarkan lagu yang mengayuh lembut hati.

Aku pun telah pergi ke beberapa blog. Aku telah pergi ke blog-nya Stephen Covey (http://www.stephencovey.com/blog/), Brain Tracy (http://blogs.briantracy.com/). Jadi, engkau bisa percaya kepadaku. Jika engkau pernah mendengar guitar heroes, suatu saat aku akan menjadi a writer hero. Jika engkau bersamaku, kita akan menolong orang-orang dan berguna bagi mereka. Kemudian, kita akan menjadi writer heroes.

Engkau akan bangga mengenalku. Bukankah aku sederhana? Namun, aku juga luar biasa! Kita sudah lama berjauhan. Bersamalah denganku. Aku tahu kita telah sekian lama jauh. Dikau pasti merindukan aku, begitu pun dengan aku yang merindukanmu. Kini kita punya kesempatan untuk bersatu. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Kapan lagi...?

Sebenarnya aku sudah lelah bermimpi. Namun, aku akan tetap bermimpi. Saat engkau bersamaku kelak, aku tak ingin terpisah darimu.

—Franisz Ginting

= = =

Untuk Penjunan

"Apa yang menguji kata-katamu? Apa yang membuktikan tulisan-tulisanmu? Tindakanmu!"
—Myiva Chara Yefa

Franisz. Kenapa ingin mengenalnya? Ia penulis. Namun, saat ini ia editor. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi editor. Mulanya, ia hanya senang membaca buku dan sering ke perpustakaan. Saat ia menemukan banyak kesalahan dalam buku, ia mulai berpikir ingin menjadi editor. Namun, ia berjiwa penulis. Ia berpikir menjadi editor mudah dan tugas editor itu mudah. Namun, saat ia menjadi editor, ternyata banyak hal yang harus dipelajari. Banyak editor yang mengaku bahwa mereka tidak menyangka menjadi editor.

Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 80% editor tidak secara langsung memiliki keinginan, rencana, atau cita-cita menjadi editor. Hanya sedikit orang yang benar-benar mempersiapkan diri masuk dalam dunia penerbitan. Jika mereka benar-benar mempersiapkan diri, mereka akan sukses. Editor adalah jembatan antara penulis dan pembaca. Jika editor saja tidak mengerti inti pesan penulis, pembaca juga tidak mengerti.

Ada orang yang berkata, “Editor adalah penulis yang gagal. Penulis adalah editor yang gagal.” Franisz tidak setuju terhadap keyakinan atau pendapat itu. Franisz percaya bahwa ia sedang dipersiapkan untuk menjadi penulis yang baik. Ia percaya bahwa menjadi editor adalah baik untuk maupun sebelum menjadi penulis. Namun, ada perbedaan kapasitas antara editor dan penulis. Editor tidak sama dengan penulis, demikian pula sebaliknya. Namun, kedua profesi itu mempunyai jalan yang baik untuk mengantarkan ke masing-masing profesi. Akan tetapi, editor memberikan jalan terbaik untuk menjadi penulis. Mengapa? Karena penulis yang baik belum tentu editor, tetapi editor yang baik pasti tahu cara menulis yang baik.

Marcia Yudkin memiliki istilah “the editor/writer revolving door”. Dia berkata, “Jika Anda ingin membangun karier sebagai penulis, pekerjaan sebagai editor bisa memberikan jalan yang berharga selagi Anda mengembangkan karier Anda.” Dia memberi contoh beberapa orang yang menjadi penulis berhasil setelah menjadi editor: Jonathan Harr, penulis buku A Civil Action sebelumnya adalah editor pada koran The Valley Advocate. Penulis buku Emotional Intelligence, Dan Goleman, sebelumnya adalah editor untuk Psychology Today. Thulani Davis, penulis novel Maker of Saints adalah editor untuk The Village Voice. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Inilah yang membuat Franisz percaya bahwa menjadi editor memberikan jalan yang baik baginya untuk menjadi penulis yang baik. Editor majalah American Baby dan penulis freelancer, Anne Winthrop berkata, “Saya tahu tulisan yang baik atau buruk. Jadi, saya tahu tulisan yang seharusnya dikirim atau tidak kepada editor.”

Franisz juga mempunyai penulis idola. Ia merasa dan menganggap penulis itu sebagai mentornya. Seperti halnya mentor Jim Collins dan Rick Warren adalah Peter F. Drucker, dan mentor Oprah Winfrey adalah Maya Angelou, Franisz pun ingin mempunyai mentor. Penulis idola dan mentor Franisz adalah Xavier Quentin Pranata. Ia memang belum pernah bertemu dengan idolanya tersebut. Namun, ia ingin bertemu dengannya dan menjadikan beliau sebagai mentor. Ia mengenal nama Xavier Quentin Pranata karena terpesona dengan nama tersebut.

Lambat laun, ia pun terpesona dengan tulisan-tulisan orang yang dianggap sebagai mentornya itu. Xavier Q. Pranata telah menulis beberapa buku, seperti Menulis Dengan Cinta dan Melayani Dia Melalui Pena. Ia menulis dengan hati. Franisz ingin seperti dirinya.

Ada orang-orang yang pandai bicara. Ada orang-orang yang pandai menulis. Namun, orang-orang yang pandai menulis belum tentu pandai bicara. Begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, bisa juga orang-orang pandai bicara dan menulis. Adapun kadang orang-orang lebih terdengar enak bicara melalui tulisan. Orang-orang berkata bahwa menulis itu gampang. Franisz tidak setuju, di satu sisi, terhadap pendapat itu. Ya, memang menulis itu mudah. Namun, menulis dengan baik itu susah. Apalagi menulis dengan hati—ini lebih susah. Mampu menulis dengan hatilah yang membuat menulis itu mudah.

Jadi, awalnya menulis itu susah. Bila ada pemain drum besar seperti Mike Portnoy, dan pendaki gunung besar seperti Edmund Hillary, tentu juga ada penulis besar. Pasti mereka tidak bisa melakukan sesuatu dengan biasa-biasa saja. David Rosenthal berkata, “Semua orang cenderung menganggap bahwa pekerjaan menulis dan membuat buku itu sebagai sesuatu yang mudah. Kalau Anda berada di sebuah pesta, akan ada saja seseorang—entah tukang pipa atau tukang binatu—yang datang kepada Anda dan berkata, 'Saya mempunyai kisah hidup yang menarik. Saya mau menuliskannya menjadi sebuah buku...' Hal yang sama tidak pernah Anda dengar dalam kaitan dengan keahlian bedah otak atau pendakian gunung. Anda tidak pernah mendengar seseorang berkata, 'Wah, operasi otak itu luar biasa. Saya juga mau mengoperasi otak,' atau 'Wah, pengalaman mendaki Gunung Everest itu sangat luar biasa. Saya juga mau mendaki Gunung Everest.'”

Menulis membutuhkan kerja keras, kemauan, dan waktu. Menulis itu, meminjam kata-kata iklan sepatu terkenal, just do it (cukup lakukan saja).

Nah, menulis itu awalnya susah. Namun, menulis dengan hati membuatnya mudah. Xavier Q. Pranata menulis dengan hati. Inilah yang membuat Franisz ingin menjadi seperti dirinya. Menulis dengan hati akan membuat ide-ide mengalir. Menulis dengan hati tidak akan merasa takut marah atau dimarahi. Marah terhadap dunia dan dimarahi oleh orang-orang. Menulis dengan hati akan membuat nothing to lose. Akan tetapi, menulis dengan hati membutuhkan kejujuran. Menulis tanpa hati ibarat menulis bon atau kuintansi pembelian voucher pulsa HP, dan hanya dunia film yang membutuhkan akting.

Jadi, menulis itu dengan hati dan penulis harus jujur. Namun, apakah semudah itu? Apakah penulis harus jujur—dalam tulisan-tulisannya dan kehidupannya sehari-hari? Judy Reeves berujar, “Segala hal menulis itu berisiko. Risiko untuk membuka diri. Risiko untuk jujur.” Semakin tinggi risikonya, semakin tinggi 'bayarannya'. Bukankah bahkan love is spelled r, i, s, k (risiko)? Tanpa risiko, tidak akan kehilangan apa pun, tetapi juga tidak mendapatkan apa pun. Seseorang kadang harus percaya dan membuat terobosan dalam hidupnya.

Lebih baik orang gila yang hidup daripada orang hidup tanpa melakukan apa-apa. Lebih baik dalam gelap tapi berbuat banyak daripada dalam terang tapi tidak berbuat apa-apa. Jujurlah kepada kertas. Tidak jujur kepada kertas membuat resah hati. Franisz merasa bahwa jika ia sanggup jujur dalam kehidupannya sehari-hari, ia akan sanggup jujur dalam tulisannya. Hati lembut akan membuat menulis mudah. Namun, bagaimana ia bisa jujur bila memendam dosa?

Salah satu penyebab tidak ada produktivitas dalam menulis, selain waktu, adalah dosa. Jika Franisz mau produktif dalam menulis, ia harus berhenti berbuat dosa. Walaupun dosa 'bisa' membawa kepada pertobatan, dosa akan menyendat produktivitas. Sekalipun bisa saja tetap menulis selagi berdosa, hati tidak akan ikut menulis. “Anda bisa saja lebih berfokus kepada produktivitas,” demikian kata Miriam Adeney, “daripada kekudusan.”

Bill Crowder berkata, “Kita bisa saja mempunyai segunung pengetahuan tentang isi Alkitab tanpa mengerti esensinya. Kita bisa saja memiliki Roh Kudus dalam diri kita tanpa membawa orang-orang mengenal-Nya. Kita bisa saja menghakimi orang-orang tanpa mengerti bahwa tanpa kasih, kita sama saja dengan mereka.” Bila Franisz mau berhenti berbuat dosa, ia akan bisa jujur. Namun, ini tidak mudah. Bila ia bisa jujur, ia akan menulis dengan hati. Menulis dengan jujur akan membuat hati lembut. Jujur dalam hidup akan membuat hati lembut.

Contoh ujian kejujuran dalam menulis adalah saat menulis jurnal seks. Joan Mazza berkata, “Banyak orang yang menulis jurnal harian belum pernah menulis tentang masa lalu, kecenderungan, keinginan, dan pergumulan mereka dalam kehidupan seks. Dengan menuliskan dan menjabarkannya dalam tulisan, mereka akan lebih mengerti diri mereka dan menjelaskan pikiran-pikiran atau perasaan mereka dalam seks.” Menulis tentang seks membutuhkan kejujuran besar. Tanpa ditutup-tutupi. Cobalah! Bukan untuk mengumbar seks, seperti mengumbar uang, melainkan jujur tentang kehidupan dalam seks. Lembaga Alcoholic Anonymous membisikkan moto di setiap pertemuan mereka: “To thine own self be true” (Jujurlah kepada dirimu sendiri).

Satu hal lain yang penting dalam menulis, selain menulis dengan hati, adalah voice (suara, panggilan, visi, gaya, dan lain-lain). Franisz ingin memilikinya, karena ia merasa belum memilikinya. Apa visi dalam menulis? Dipanggil untuk menulis apa? Seperti halnya setiap pemain drum profesional mempunyai gaya atau voice, setiap penulis juga harus memilikinya. Voice akan melepaskan diri dari aturan-aturan atau rumusan-rumusan dalam menulis. Bukan untuk menghilangkan aturan atau rumusan itu, melainkan untuk bermain dalam aturan atau rumusan itu.

Sama saja seperti inti cerita dalam film Patch Adams. Film ini menceritakan dobrakan terhadap kekakuan dan peraturan rumah sakit. Orang-orang dianggap tidak berharga. Nama-nama pasien dipanggil dengan sebutan angka. Namun, Hunter “Patch” Adams mendobrak semua itu. Ia mendirikan RS Gesundheit yang ceria, menerima semua orang, ramah, dan yang terpenting menghargai orang-orang dan memanggil pasien dengan sebutan nama mereka. Meskipun ia kehilangan orang yang dikasihinya, Adams telah membuat terobosan besar dalam kedokteran. Ia melakukannya karena menemukan voice-nya. Jika Franisz menemukan voice-nya (visi, suara, gaya, panggilan, dan lain-lain) dalam menulis, ia tidak akan terpaku rumusan-rumusan.

Maya Angelou berkata, “Kata-kata memiliki arti lebih daripada sekadar tulisan di atas kertas. Dibutuhkan suara manusia untuk menghidupkan kata-kata itu dengan arti yang lebih dalam.” Bagaimana caranya menemukan voice? Untunglah Franisz memperoleh empat cara dari blog-nya Stephen Covey:

1.      Kenali bakat (tapping into your talent)
2.      Kenali kesukaan (fueling your passion)
3.      Kenali beban (being burdened with a need)
4.      Penuhi panggilan (meeting the need)

Jika Franisz telah menemukan suaranya, ia tidak akan sekadar menulis (memberi tahu), tetapi menunjukkan (menyuarakan) pesan kepada pembaca. Para pemain drum profesional sudah tahu bila diberitahu tentang Mike Portnoy. Para ahli psikologi sudah tahu bila diberi tahu tentang Viktor Emil Frankl atau Dr. Gordon W. Allport. Percuma bila memberi tahu mereka. Kesannya akan beda bila menunjukkan Mike Portnoy atau Viktor E. Frankl kepada mereka. Demikian pula dalam menulis tidak bisa sekadar memberi tahu, tetapi harus menunjukkan kepada pembaca.

Contoh tulisan yang sanggup menunjukkan pesan adalah tulisan-tulisan dari Bondan Winarno. Ia pernah menuliskan Kidu, Si Ulat Enau. Dalam tulisannya itu, orang yang gemar berkata mak nyuss ini mampu menghadirkan rasa makanan ke dalam tulisan! Jika Franisz sudah menemukan suaranya, ia akan sanggup memberikan jawaban kepada pembaca. Mengapa? Karena orang-orang akan bertanya dalam hati, untuk apa aku mendengarkanmu? Dengarkanlah Franisz. Mengapa? Karena ia mengalami tulisannya. Orang-orang akan mendengarkan bila ada:

1.      Keterbukaan atau kejujuran
2.      Pengalaman keberhasilan
3.      Pengalaman penderitaan
4.      Kebutuhan yang sesuai
5.      Hubungan dekat
6.      Kerendah-hatian
7.      Pengetahuan
8.      Kemampuan
9.      Integritas
10.  Keberanian

Hal terpenting dari sepuluh hal itu adalah yang nomor sepuluh. Sedangkan, hal yang paling penting di atas semua hal itu adalah kepercayaan. Apa yang Franisz percaya? Bukan apa yang dimiliki, diketahui, dan lain-lain, melainkan apa yang dipercayai? Dengan kepercayaan, sepuluh hal itu dapat dicapai dan teratasi. Apatah artinya memiliki pengetahuan tanpa percaya? Apatah arti kemampuan tanpa percaya sanggup melakukannya? Franisz ingin percaya—sekali dalam hidupnya.

Joan d'Arc berkata bahwa yang lebih buruk daripada mati muda adalah hidup tanpa percaya. Orang-orang akan membaca tulisan dan mendengarkan Franisz kalau ia percaya. Sekali dalam hidupnya, ia ingin percaya. Sepuluh kali lebih baik. Berkali-kali lebih baik, apalagi setiap hari. Jika seseorang tidak percaya kepada tulisan dan voice-nya sendiri, orang lain tidak akan percaya atau mendengarkannya.

Franisz cinta menulis karena terbiasa. Ia ingat rasanya seperti masa SMP. Setiap hari di ruang kelas yang sama bersama gadisnya yang berparas cantik. Suasana yang dingin dan suara angin pohon-pohon rindang yang hijau di luar kelas, menambah dalam suasana hatinya keinginan untuk selalu bersama gadisnya. Gadisnya menjadi sandaran berkeluh kesah. Semua yang perlu Franisz ketahui untuk menulis telah ada saat SMP, bahkan SD. Franiz telah belajar menulis dengan baik. Ia telah belajar tata kalimat dan bahasa dengan baik. Ia pun pernah dihukum menulis ratusan kalimat di buku tulis sampai buku itu penuh, karena ia melakukan kesalahan di sekolah.

Sayangnya, waktu telah mencuri perhatian Franisz dan mengalihkan dirinya dari menulis kepada hal-hal yang sia-sia. Namun, tidak ada kata terlambat untuk menulis.

Meskipun kadang tekanan diperlukan, Franisz tidak bisa dipaksa saat menulis. Siapakah yang bisa memaksa seseorang untuk mencintai seseorang lainnya? Dengan menulis, orang-orang bisa berpikir lebih kritis dan melihat segala sesuatunya dengan jelas. Penulis mampu melihat yang negatif dalam yang negatif dan yang positif dalam yang positif. Banyak orang melihat yang negatif dalam yang segala sesuatu yang positif dan tidak semua orang bisa melihat yang positif dalam yang negatif. Penulis mampu melihat sesuatu yang lain di balik yang harfiah. Bersyukurlah para penulis.

Franisz percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkannya untuk menjadi penulis. Ia pernah menuliskan beberapa impiannya di atas kertas. Saat ia selesai melakukannya, tiba-tiba ia menuliskan satu impian lagi. Impiannya menjadi penulis bagi Tuhan. Mungkin Franisz terkesan muluk-muluk. Bagaimana ia dapat menyembunyikannya, akan tetapi? Namun, ia pun kadang berpikir kritis dan bertanya-tanya tentang Tuhan atau kehidupan. Misalnya, jika orang-orang diciptakan oleh Tuhan, lalu siapa yang menciptakan Tuhan? Lalu, mengapa orang-orang menganggap tidak boleh beda berpendapat dengan Tuhan (orang-orang besar pernah melakukannya?) Lalu, mengapa orang-orang tidak pernah terpikir bisa menyebut-Nya dengan panggilan Ibu, padahal umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, kadang bisa disebut mempelai perempuan?

Kadang meremehkan orang itu perlu supaya bisa tetap maju. Namun, jangan memberi tahu orang-orang kalau ingin lebih pintar daripada mereka dan kadang jangan menganggap rendah orang lain. Saat ini Tuhan sedang mempersiapkan Franisz untuk menjadi penulis melalui profesi editor lebih dulu. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi penulis. Seperti halnya Bunda Teresa percaya bahwa dia pensil di tangan Tuhan, Franisz pun ingin seperti itu. Tanpa menulis, Franisz bisa gila. Anaϊs Nin berkata, “Tugas penulis bukanlah menyuarakan yang bisa kita katakan, melainkan yang tidak mampu kita ucapkan.” Ide-ide dalam pikiran yang tidak tertuang ke kertas akan membuat resah jiwa dan hati.

Franisz percaya, suatu saat kiblat buku yang wajib dibaca adalah ke bangsa-bangsa Asia. Suatu hari, bukan bangsa Indonesia yang mengarahkan diri ke buku-buku bangsa-bangsa Barat, melainkan merekalah yang mengarahkan diri kepada buku-buku Indonesia. Mengapa orang-orang bangsa Barat, misalnya Amerika, yang rata-rata hanya bisa satu bahasa, lebih pintar daripada orang Indonesia? Padahal banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa lebih dari dua atau tiga bahasa! Meskipun demikian, masih ada juga orang-orang Indonesia yang hanya bisa satu bahasa, dan orang-orang Amerika yang tidak bisa Matematika. Coba bayangkan, Franisz saja bisa tujuh bahasa: Jawa, Indonesia, Batak Karo, Batak Toba, Sunda, Inggris, dan Jepang. Ini belum lagi ditambah mengerti sedikit bahasa Perancis, China, Spanyol, Jerman, dan Latin. Franisz memang cinta bahasa. Dulu, saat SMA pun ia kelas 3 Bahasa. Kuliah Sastra. Namun, ia juga butuh energi untuk menulis. Ia butuh olah raga, seperti Philip Yancey dan Jim Collins, yang selain menulis banyak buku bagus dan besar, mereka juga senang mendaki gunung.

Suatu saat bahkan akan ada pemenang Nobel dari Indonesia. Pemenang Nobel Sastra. Jika satu orang Indonesia, misalnya Kendro Hendra, saja ada yang menciptakan banyak piranti HP dan bekerja di perusahaan HP terkenal, masakah tidak ada satu orang Indonesia yang bisa menang hadiah Nobel? Siapakah yang layak menilai tulisan jelek atau baik? Siapakah juri-juri dalam lomba-lomba penulisan, yang mengenyahkan yang satu dan memilih yang lain untuk menang? Satu-satunya juri yang layak menilai tulisan buruk atau tidak adalah jerih payah penulis, dan berjerih payah lagi, dan berjerih payah lagi.

Franisz tidak bisa mengandalkan orang-orang dalam menulis, walaupun ia bisa belajar dari mereka. Franisz hanya bisa mengandalkan orang-orang dalam tulisan-tulisannya. Ia ingin menulis tentang orang-orang biasa dan yang belum terkenal, seperti yang dilakukan oleh Stephen Covey tentang Muhammad Yunus, sehingga Yunus terkenal. Tuhan pun membuang Franisz ke pengasingan. Namun, bukankah para penulis menghasilkan karya-karya terbaik saat dalam pengasingan, penjara, kesepian, dan penderitaan.

Philip Yancey berkata, “Apakah kita lupa bahwa Luther dan Calvin hidup dalam masa tanpa eter (cairan kimia yang biasanya dipakai dalam obat penghilang rasa nyeri) dan penisilin, saat hasrat hidup hanya sampai 30 tahun? Apakah kita lupa bahwa (John) Bunyan dan (John) Donne menulis karya-karya terbesar mereka di dalam penjara dan kamar karantina untuk penderita wabah?” Ketika Helmut Thielicke ditanya pendapatnya setelah mengamati orang-orang Amerika, ia menjawab, “Mereka punya pengertian yang sangat lemah tentang penderitaan.” Orang-orang bisa saja pergi. Tuhan bisa saja 'mengambil' orang-orang. Kehidupan bisa saja mengambil segalanya. Namun, sikap tidak bisa dirampas. Pilihan tidak bisa dirampas.

“Mengapa Allah mengizinkanmu melalui pengalaman-pengalaman yang menyesakkan, memalukan, menyakitkan, dan penuh kesepian?” tanya Miriam Adeney, “Mungkin Ia ingin melembutkan hatimu dan supaya pengalamanmu berguna buat banyak orang dan ini lebih berarti bagimu.” Dr. Paul Brand berseru tentang penderitaan, “Thank God for pain!” “Penulis yang menulis tanpa benar-benar mengalami yang ia tulis, akan menggunakan kata-kata yang kaku, mati, dan tidak memberikan dampak apa pun kepada pembaca,” demikian kata Henry David Thoreau.

Franisz kadang-kadang harus menarik diri dari menulis. Biasa, seorang pria pun kadang harus menarik diri dari gadisnya dan masuk ke dalam gua. Gua untuk merenung dan berpikir. Namun, menarik diri dari rutinitas itu perlu. Ini sebagai keseimbangan. Bukan untuk berhenti dari menulis, melainkan untuk melepaskan diri dari kejenuhan. Jika seseorang tidak menikmati pekerjaan, ia harus menarik diri dulu. Pergi ke tempat yang tenang untuk memperoleh ketenangan. Ia harus menarik diri dan menjauhkan dirinya dari pekerjaannya.

Seperti pelukis harus menjauh dulu sebentar untuk melihat hasil lukisannya. Jika ia terlalu dekat terus-menerus, lukisannya justru akan tambah jelek karena ia tidak bisa melihat lebih jelas. Namun, keseimbangan adalah alat, bukan tujuan, dan rutinitas kadang memang harus dijalani. Penyanyi Bryan Adams, ketika ditanya alasan ia juga menjadi fotografer, ia menjawab, “Begini, ada orang yang terlibat narkoba, ada yang menghabiskan uangnya untuk beli yacht, mobil, dan rumah. Salah satu cara untuk membuatmu tetap tertarik dengan pekerjaanmu adalah dengan tidak mengerjakannya sepanjang waktu dalam hidup. Kadang-kadang kita harus melepasnya dan menikmati aspek-aspek seni dan kreativitas lainnya. Banyak kolega saya di dunia musik yang juga menjadi pelukis, fotografer, aktor, penulis, dan filantropis.”

Franisz juga ingin menjadi seperti Henry David Thoreau (yang menulis buku Walden saat 'mengungsi' ke hutan) dan Ralph Waldo Emerson. Mereka bersahabat. Sebaiknya memang harus ada persahabatan antarpenulis untuk mengasah penulisan. Idola dan mentor Franisz, Xavier Q. Pranata, pun pasti setuju dan memiliki komunitas atau hubungan dengan antarpenulis.

Jika Franisz tahu seberapa banyak ia bisa membuat tulisan, ia akan terheran-heran dengan banyaknya. Franisz sudah menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk uang, makan, pornografi, mencari kesenangan sendiri, kesepian, dan lain-lain. Franisz ingin menyerahkan hidupnya untuk menulis. Ia ingin mencari kebahagiaan orang lain. Lebih baik mati untuk banyak orang daripada hidup di dunia penuh dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah keluarga dan siapa saja yang dimiliki. Tidak penting yang orang-orang pikirkan tentang seseorang, yang penting adalah yang seseorang itu pikirkan tentang dirinya, dan yang paling penting adalah yang seseorang itu lakukan terhadap orang lain. Tidak penting yang terjadi kepada seseorang (tuangan ide), yang penting adalah yang terjadi dalam dirinya (tuangan tulisan), dan yang paling penting adalah yang ia lakukan (tindakan). Jika seseorang tidak bisa membagikan apa pun, selain menulis, sebaiknya ia menulis. Tulisan belum tentu merupakan tindakan. Namun, tindakan bisa menjadi tulisan. Ide atau pikiran dalam diri seseorang adalah kumpulan ide-ide dari orang-orang lain. Lebih baik menentukan pikiran sendiri, berdiri kokoh di atasnya, dan percaya terhadapnya.

Mengapa orang-orang disibukkan dengan hal-hal memusingkan, seperti mendengar berita-berita buruk atau iklan-iklan kartu perdana HP di televisi? Mengapa orang-orang tidak menulis saja? Bukankah berita-berita atau iklan-iklan itu malahan akan memusingkan mereka, karena semua itu hanya saling berusaha merebut konsumen-konsumen. Padahal berita buruk menghancurkan jiwa dan pikiran mereka, dan berusaha membuat mereka takut. Padahal HP hanyalah alat biasa, yang tidak lebih daripada seperti yang dulu sebagai alat komunikasi. Namun, orang-orang menambah-nambahkan. Mereka tidak puas. Andaikan mereka bisa menerima diri mereka. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya orang-orang kayalah pelayan orang-orang miskin.

Negara-negara teknologi majulah pelayan negara-negara kecil. Lagipula, negara-negara teknologi maju bermain robot-robotan layaknya anak kecil saja. Dengan menulis, orang-orang akan lupa waktu. Ini lebih baik daripada menghabiskan waktu melakukan hal-hal yang sia-sia. Dengan menulis, Miriam Adeney berkata, “Anda akan lebih peka terhadap sekelilingmu, karena Anda tidak disibukkan dengan diri Anda sendiri.” Menelantarkan penulisan sama dengan menelantarkan orang-orang yang dikasihi.

Franisz memiliki potensi dalam dirinya. Jangan remehkan dia. Seandainya ia tahu potensi dirinya. Seandainya orang-orang tahu potensi mereka. Kalau Franisz mempunyai komputer pribadi, ia akan menulis. Adakah orang yang mau membantunya? Adakah yang ingin memintanya menulis? Bagaimanapun, ia akan tetap menulis, baik dengan kertas maupun tanpa komputer. Lagipula, bukankah menulis itu dengan kertas, sedangkan dengan komputer adalah mengetik? Mengetik pun sebenarnya untuk mesin tik. Lalu, apakah untuk komputer adalah mengkomputer atau “menguter”? Ide akan lebih mengalir kalau menulis dengan tangan dan di atas kertas.

Franisz terkagum-kagum (amaze) terhadap tulisan-tulisannya. Ini bukan kesombongan. Ini tidak apa-apa. Tulisan ini mungkin tidak berarti bagi seseorang. Namun, tulisan ini berarti bagi Franisz. Bukankah sebuah tulisan harus memikat penulisnya lebih dulu sebelum pembaca? Penulis Dan Millman mengurutkan, “Sebuah buku sukses harus dijual bukan satu kali, melainkan delapan kali: Pertama, Anda harus menjual buku itu kepada diri Anda (Jika bukan Anda, siapa yang akan bergairah membaca buku Anda?). Lalu, Anda menjualnya kepada agen, yang harus menjualnya kepada penerbit, yang harus menjualnya kepada sebuah dewan editor dan penerbit, yang menjualnya kepada tim penjualan supaya mereka dengan penuh semangat menjualnya kepada toko buku. Lalu, toko buku menjualnya kepada publik. Akhirnya, yang terpenting, publik menjualnya kepada pembaca lain melalui mulut ke mulut.”

Fiuh. Akhirnya sampai sudah di pengakuan sebenarnya. Susah juga menulis 3.000 kata, apalagi kalau hanya untuk mengejar target. Namun, senang juga rasanya kalau tinggal mengetik satu huruf lagi saat sudah sampai 2.999 kata. Ini tidak sia-sia.

Bila menulis dengan hati, tulisan-tulisan itu akan mengalir, apalagi ditambah musik dan ketenangan. Hati yang akan mendiktenya. Meskipun masih ada keresahan dan beban dalam hati saya, saya telah berusaha menulis dan akan tetap menulis. Ternyata lebih mudah juga saat menulis tentang diri sendiri melalui sudut pandang orang ketiga. Hartaku adalah tulisan. Jika saya tak bisa membagikan apa pun, selain hidupku dan tulisan, saya akan tetap menulis.

Saya masih tetap berusaha mendesak hati untuk tetap jujur, supaya hati saya menyala sehingga dapat menulis dengan indah. Saya tidak bisa mengakhiri tulisan ini, karena saya tidak akan pernah berhenti menulis. Namun, saya harus berhenti sebentar sampai di sini, kita akan bertemu lagi. Saya ingin memberi sentuhan akhir kepada bejana ini dengan percaya.

Remehkan aku sebagai apa pun. Tapi, jangan remehkan aku sebagai penulis.
—Franisz Ginting


Aku khawatir dengan suatu masa

Aku khawatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbu...