Menyingkap yang Masih Terselubung
(Manifestasi Keangkuhan Diri Vs
Manifestasi Manusia Baru)
Bersikukuh sikap, hingga tak peduli?
Begitu keraskah hati untuk sebuah teguran?
Alangkah degilkah hasrat dan tidak terkendali?
Hilangkah kepekaan bagi sebuah bimbingan lembut di kalbu?
Menjadi nyamankan diri, enggan menyongsong yang baru?
Pada atribut diri yang belum dilucuti, ia bersembunyi
Terjalin menyatu dalam kehendak daging, kehendak diri
Terangsang tumbuh karena ingin pengakuan
Sabar menunggu peluang
Bersemi,
memperbanyak diri,
membentuk koloni yang menjerat
Menghambat kuat,
benih ilahi yang mesti bertumbuh
Berjuang keraskah diri dalam ketundukan?
Rela dan melembutkah hati untuk dibentuk Sang Penjunan?
Bertekad bulatkah hasrat untuk menjadi yang terkecil?
Sudikah sang diri untuk menyendengkan telinga bagi teguran lembut di
kalbu?
Gelisahkah diri di atas sebuah status quo yang tidak diakui oleh
Sang Pemilik hidup?
Rindu dendamkah si aku pada hikmat yang mahakaya ini:
Berbahagialah
orang yang miskin di hadapan Allah,
Berbahagialah
orang yang berduka cita,
Berbahagialah
orang yang lembut hatinya,
Berbahagialah
orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
Berbahagialah
orang yang murah hatinya,
Berbahagialah
orang yang suci hatinya,
Berbahagialah
orang yang membawa damai,
Berbahagialah
orang yang dianiaya oleh karena kebenaran.
Inilah permohonan yang sangat, Tuhan:
Janganlah menjadi sia-sia
anugerah tak ternilai ini di dalam diri,
Janganlah biarkan hambamu
mengambil apa pun bagi diri di dunia ini,
Biarlah Engkau bertambah
besar dan aku bertambah kecil,
Biarlah Engkau segalanya
dan aku tiada apa-apanya,
Biarlah bagian tetapku
ada dalam deposit-Mu selama-lamanya.
—oleh Frankie Suthya
 |
Grab this illustration here |