Skip to main content

The power of unity

Tulisan ringkas ini dibuat setelah mendengar khotbah oleh M. Riza Solihin di GBI Kamboja, Depok. Semoga bisa menjadi berkat.

***


Ada satu kata yang pendek, tapi sangat bermakna, kuat, dan berkuasa. Kata tersebut adalah unity. Kita akan membahas tentang the power of unity atau kuasa dari kesatuan tersebut.

Pada 1 Samuel 14:1-7, diceritakan bahwa posisi Israel kala itu sedang face to face atau berhadapan dengan perkemahan musuh, yaitu bangsa Filistin. Dan bangsa Israel saat itu dipimpin oleh Saul.

Dari sisi Tuhan, pertolongan tidaklah ditentukan dengan banyaknya jumlah atau bilangan. Tapi yang paling menentukan adalah the essence of one atau esensi kesatuan. Dan the essence of one adalah satu kata, yaitu sepakat atau unity. Inilah yang dimasud dengan kekuatan dalam unity. Hanya karena Allah ada di pihak Israel, maka mereka berhasil mengalahkan bangsa Filistin. Padahal, sebenarnya Israel patah semangat, kalah jumlah, dan kurang persenjataan memadai (1 Sam. 13:19-22).

Saat itu Israel tidak ada harapan untuk menang. Namun terbukti mereka menang, karena Tuhanlah yang menyelamatkan (1 Sam. 14:23). Ketika situasi tampak begitu menantang dan sumber daya kurang, kita bisa berseru kepada-Nya memohon pertolongan. Dia akan menolong dengan memberikan kelepasan dan kemenangan.

Lewat kisah Gideon, kita juga tahu, Allah menyaring dari 22.000 orang menjadi 10.000 orang (Hak. 7:3). Kemudian, dari 10.000 orang menjadi 300 orang. Dan dengan 300 orang itulah Tuhan menolong Gideon mengalahkan musuh.

Kembali ke kisah Yonatan. Apa yang terjadi ketika Yonatan dengan pembawa senjatanya saling sepakat atau unity? Kita bisa melihat, mereka mengalahkan 20 orang (1 Sam. 14:14). Mungkin kita merasa itu jumlah yang kecil. Bila dua orang mengalahkan 20 orang itu biasa; kalau dua mengalahkan 2.000 atau 2.000.000, itu baru luar biasa. Namun, apabila ada kekalahan yang pertama, pasti ada kekalahan yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Mungkin kita menganggap unity itu tidaklah terlalu berarti bagi Israel. Tapi, di 1 Samuel 14:15 membuktikan kuasa unity.  Frasa: dan bumi gemetar, sehingga menjadi kegentaran, di dalam salah satu Alkitab versi bahasa Inggris digunakan frasa the earth quaked atau terjadi gempa bumi.

Bayangkan, bahkan ketika dua orang saja memiliki unity, akan sanggup membuat gempa bumi! Itu adalah contoh hasil unity yang positif. Tapi, ada contoh unity yang negatif, yaitu peristiwa pendirian Menara Babel (Kejadian 11).

Jika suatu daerah sudah dalam unity menggunakan satu bahasa, biasanya akan diikuti oleh adanya satu mata uang. Kemudian, mengadakan unity yang lain. “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya (Kej. 11:1).” Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’ Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tergala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi (ay. 3-4).’”

Karena lahir dari unity, Tuhan mengizinkan rencana mereka terjadi.

Dan Ia berfirman: ‘Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana (ay. 5).’”

Berdirinya Menara Babel juga berbicara tentang kedagingan dan dosa. Tapi, karena lahir dari unity maka terlaksana juga, dan berdirilah Menara Babel. Kalau untuk hal-hal negatif saja bisa terlaksana, apalagi unity untuk hal-hal positif. Ia akan memberkati kita bila kita memaknai the power of unity.

Kisah Para Rasul 15:1-29 menuliskan beberapa orang yang datang dari Yudea dan bermaksud menanamkan nilai-nilai Judaism (Yudaisme) kepada jemaat di Antiokhia. Bayangkan, dengan Yudaisme, kita harus hidup menaati 613 hukum yang berlaku. Tapi Paulus dan Barnabas menolak hal itu. Mereka pergi ke Yerusalem untuk membicarakan soal itu bersama rasul-rasul dan penatua-penatua.

Mereka lebih memilih sepakat dengan Roh Kudus. Ada agreement (persetujuan) antara Roh Kudus dengan mereka. Ketika satu departemen agree memulai sesuatu; ketika suami istri agree dalam segala hal—unity dalam hal keuangan, mendidik anak, membeli rumah—akan melihat dan menikmati hasilnya.

Betapa besar kuasa unity! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Matius 18:18).” Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa- Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (ay. 19-20).”

Ada bagian yang Tuhan lakukan. Ada juga bagian yang harus kita lakukan. Dan saat kita satu dalam unity, kita akan melihat dan mengalami mukjizat.




Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***