Skip to main content

Senioritas

Ya, senioritas.

Mengapa senioritas diukur dari beberapa hal yang menandakan lebih dulu atau lebih banyak, seperti: 

  • tambo pendidikan, dari luar negeri, atau S1, S2, S3, S4 (SD – S1)
  • pengalaman kerja dari mana-mana
  • punya anak dua atau banyakan
  • jam terbang memanggung
  • mungkin banyak teman
  • baca bejibun buku
  • posisi jabatan
  • usia lebih tua
  • banyak karya
  • kemampuan
  • kekayaan

Mungkin hal-hal tersebut memang perlu, baik, dan dapat mendukung kehidupan kita. Tapi, apakah itu semua penanda senioritas—yang sejati?

Senioritas yang sejati, bagi saya, adalah lebih tertentukan oleh kepedulian. Tentu, bukan berarti kepedulian yang buta ataulah lebay. Melainkan, lebih pada merasa mau sungguh-sungguh peduli kepada orang lain. Kemudian, selain itu, yang terlebih penting, senioritas itu menurut saya lebih berbicara tentang apakah kita telah hidup sesuai dengan atau menghidupi panggilan hidup kita—yang untuknya kita hidup dan ada?

Jika ya, Anda memiliki senioritas yang sejati, serta pastilah rendah hati. Dan, Anda memang senior.


Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***