Skip to main content

Antrean


Ci Febe standing on far back, second from left...

Kemarin saya melihat profile picture dari seorang teman saya, melihat antrean orang-orang untuk mengajukan pembelian rumah. Wuiiih, padat sekali!

Antrean terhadap sesuatu yang menarik, termasuk antrean membeli makanan seperti yang terjadi pada Magnum Cafe, dan lainnya.

Beberapa waktu ini, saya juga mendapati kabar beberapa berita duka dari keluarga. Memang yang meninggal sudah usia lanjut. Ada istilah, mereka yang meninggal adalah “antrean”-nya sudah sampai pada gilirannya.

Tetapi, “antrean” meninggalkan dunia ini bukan sekadar milik orang-orang yang lanjut usia, tetapi kepada siapa saja. Muda maupun tua; yang punya daftar antreannya adalah Tuhan sendiri. Namun, kapan giliran nomor antrean itu sampai pada diri kita sendiri? Itu rahasia Ilahi.

Toh setiap orang tidak bisa menghindari untuk tidak memiliki nomor antrean tersebut. Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita SIAP ketika nomor antrean itu tiba pada giliran kita...?

Karena begitu sudah gilirannya, kita kembali kepada Sang KhalikPemilik hidup kitakita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia.

Sudahkah kita siap dengan keyakinan kita hari ini?


oleh Phebe Kurniawan,
10 Oktober 2013


Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***