March 3, 2015

Merah, kuning, hijau



Gambar di atas adalah lampu lalu lintas di dekat mal Gandaria City. Lampu yang selalu menyala ketiga-tiganya—merah, kuning, hijau. Membingungkan. Kasihan orang-orang yang sangat mematuhi rambu-rambu kalau melewati jalan itu, sebab mungkin tidak tahu nyala lampu yang benar.

Itu saja?

Tidak. Saya ingin menganalogikan ketiga lampu yang menyala itu dengan jenis kepribadian yang berbeda-beda. Koleris dan sanguin ibarat lampu hijau atau jalan terus. Plegmatis adalah lampu kuning atau hati-hati. Melankolis ialah lampu merah atau silakan berhenti.

Nah, seandainya masing-masing kepribadian itu merasa harus dominan di suatu tempat, misalnya di sekolah, apa yang akan terjadi?

Pribadi yang selalu merasa senang dan terbuka, menganggap bahwa orang-orang lain pun harus sama, mengikuti irama perasaan atau keadaan di kesehariaannya. Pribadi yang hati-hati jarang atau enggan, bahkan tidak pernah mencoba memeluk keberanian. Pribadi yang sok tertutup, harus diam sepanjang waktu, tak mau belajar terbuka atau apa adanya, dan menganggap orang-orang mesti mengerti apa pun yang ia rasakan atau jalani.

Butuh keseimbangan dan bergantian, bukan? Tak bisa selalu menyala semua seperti ketiga lampu di dekat Gandaria City di atas.

Kadang ada waktunya untuk semua orang sama-sama merasa senang, walau sesekali—ataukah sering kali?—dalam tawa, hati bisa saja merana. Kadang perlu memang untuk berhati-hati, sebab itulah salah satu fungsi pemikiran—misalnya, kita bisa merasa aman-aman saja dan beriman tidak ada apa-apa saat berbelok atau mengubah arah secara tiba-tiba di jalan raya tanpa menengok ke spion terlebih dulu, tapi lebih baik mengamati sekitar walau sepintas. Kadang ada waktunya juga kita butuh untuk diam, menyendiri—meski semestinya perlu pula mencoba apa adanya saja.

Di satu sisi, lampu lalu lintas yang menyala tiga-tiganya itu mungkin membingungkan. Tetapi, di sisi lainnya, menurut saya itu lebih baik, jauh menghibur, ketimbang ada sejumlah lampu lalin yang ketiganya mati, redup. Tak menyala.

Kesimpulan akhirnya, memang menyala saja semua lebih baiklah, walau kadang perlu memikirkan keseimbangan. Sebab apabila tak menyala, apalah gunanya. Itu pun lebih membingungkan daripada ketiga lampu yang menyala, dan malah membahayakan orang-orang kalau padam.

Apakah semangat lenyap, iman mati, harapan pudar? Menyalalah.



Pakar

Suatu malam, jelang tidur. Iva istri saya berceloteh, "Kayaknya aku udah lama nih ga liat abang doa lagi..." Jleb . Sent...