You are my Christmas
You are my Celebration
You are my Miracle
You are my Music
You are my Forgiveness
You are my best Friend
You are my Joy
You are my Journey and ways
You are my Light
You are my king of my Life
You are my Harmony
You are my Hope in distress
You are my Truth or honesty
You are my Teammate when I don't have any
You are my Wholeness
You are my strength to Win when I feel like I'm losin'
You are my Everything when everything is everything
You are my Encourager
You are my Today
You are my Moment and words when I have nothing to say
You are my January
You are my December or the unseen help along the progress of time
You are my Expression
You are my Reality even though when many things inside of me or on the outside are trying to fake it all
You are my 'Tis the season
You are my
Jesus
25 12 2015
December 26, 2015
December 17, 2015
?
What is friendship?
What is a relationship?
What is motivation?
What is an encouragement?
What is hope?
What is reality?
What is coincidence?
What is miracle?
What is cloud?
And we can ask a lot of questions.
But, the most important, is, what is [put your name here].
"Why didn't you become you? Why didn't you become all that you are?" ~ Elie Wiesel
What is a relationship?
What is motivation?
What is an encouragement?
What is hope?
What is reality?
What is coincidence?
What is miracle?
What is cloud?
And we can ask a lot of questions.
But, the most important, is, what is [put your name here].
"Why didn't you become you? Why didn't you become all that you are?" ~ Elie Wiesel
December 15, 2015
2
You're too selfish not to travel.
You're too selfish to be afraid for most of the time.
You're too selfish not to forgive yourself.
You're too selfish not to provide time to read.
You're too selfish to think you are always the center of the universe.
You're too selfish not to change at times.
You're too selfish not to share whatever it is you want to share.
You're too selfish not to teach, or motivate, or encourage others.
You're too selfish to be afraid for most of the time.
You're too selfish not to forgive yourself.
You're too selfish not to provide time to read.
You're too selfish to think you are always the center of the universe.
You're too selfish not to change at times.
You're too selfish not to share whatever it is you want to share.
You're too selfish not to teach, or motivate, or encourage others.
November 26, 2015
Terbaik
Aneh—atau setidaknya, itulah yang
saya rasakan. Belakangan ini, saya sering bertanya-tanya di dalam hati ketika
saya ataupun orang lain mengatakan tentang memberikan yang terbaik kepada Tuhan
atau saat hendak melakukan sesuatu.
Lalu, beberapa waktu yang lalu, seorang teman atau kakak, Jane Purnamasari
meminta saya untuk menuliskan hal memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Dan
inilah hasil dari penulisan tentang itu di dalam versi blog.
Apa sih sesungguhnya
arti dari memberikan yang terbaik? Yang terbaik? Terbaik?
Apakah itu
berarti mengerjakan semaksimal potensi, semampu kita—apa pun pendapat orang
lain—sebab kita merasa telah memberikan atau melakukan sesuatu yang terbaik?
Apakah memilih yang terbaik, atau setidaknya yang baik? Memanajemeni dengan
baik? Memimpin dan mengikuti dengan baik?
Banyak hal atau
kesempatan untuk kita mencoba memberikan atau melakukan yang terbaik. Dan apa
yang dilakukan oleh istri saya berikut ini mungkin adalah salah satu upaya
memberikan, melakukan yang terbaik.
Tidak lama ini,
ayah serta ibu mertua saya sedang berselisih paham sangat sengit di depan kami
anak-anaknya. Keduanya merasa sama-sama benar. Tidak ada yang mau mengalah atau
meminta maaf. Hingga akhirnya istri saya berdiri menengahi sambil menangis dan
berkata, “Oke,
kalau sama-sama merasa benar dan tidak ada yang mau mengalah, sekarang aku
tantang Mama sama Papa. Siapa yang merasa cinta sama Tuhan Yesus, minta maaf
duluan. Ngga peduli siapa yang bener, siapa yang salah, kalau cinta Tuhan
Yesus, minta maaf duluan.”
Beberapa detik
kemudian, ayah mertua saya maju mendekati ibu, menjulurkan tangan dan meminta
maaf terlebih dulu. Lalu ibu mau meminta maaf juga. Itulah hal terbaik yang
bisa dilakukan istri saya. Daripada berdiam diri, memihak salah satu, atau
turut larut di dalam perselisihan, istri saya ingin mendamaikan.
Mungkin itu
konteks yang kecil di dalam sebuah keluarga. Tetapi, sekali lagi, ada banyak
hal dan kesempatan untuk kita berupaya memberikan, melakukan yang terbaik
kepada Tuhan, sesama manusia, dan diri kita sendiri.
Salah satu
contoh lain hal atau kesempatan supaya kita dapat memberikan yang terbaik ialah
saat menghadapi perubahan. Dua hal pasti ada selama kita masih hidup: masalah dan perubahan.
Intinya, bagaimana respons kita?
Terhadap
perubahan. Apakah kita mengeluh, menolak, marah-marah? Tidak lama ini, saya
juga diperhadapkan dengan perubahan. Di satu sisi, saya bisa saja menolaknya; di
sisi lain, mau tak mau saya mesti menerima. Saya mengambil pilihan yang kedua:
menerimanya. Awalnya, saya berkeluh kesah karena dipindahkan ke lokasi kerja
yang lain, bahkan di bidang yang bukan bagian pekerjaan saya. Namun, karena
masih bisa terkait keahlian atau talenta saya, saya mau belajar sesuatu yang
baru, berada di tempat yang baru, bersama dengan orang-orang yang baru.
Sulit serta
terkadang ada waktu ingin menyerah, tetapi saya mau tetap belajar sembari ingin
berusaha memberikan, melakukan yang terbaik. Fleksibel. Mau berubah. Tanpa
meninggalkan prinsip-prinsip baik yang saya pegang teguh. Dan apabila menurut
orang lain hasilnya belum maksimal, ataupun saya tak mendapatkan apa yang
mungkin patut saya dapatkan, saya telah berusaha memberikan dan melakukan yang
terbaik. Sebisa saya. Dan itu adalah hal yang baik.
Terhadap
masalah. Baik permasalahan dengan orang-orang ataupun hal-hal yang harus kita
hadapi. Apakah kita ingin lari? Menghindari, apatis, atau berlama-lama
bersedih, serta pasrah begitu saja?
Kalau kita ingin
memberikan, melakukan yang terbaik, kita akan berusaha menghadapi
masalah-masalah tersebut, berpikir tentang cara-cara untuk memecahkannya, serta
memohon bimbingan dan penyertaan Tuhan untuk berhasil mengatasinya.
Rasul Paulus mengemukakan,
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang
adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).” Di
Alkitab versi The
Message terjemahan Eugene H. Peterson tertulis: “Summing it all,
friends, I’d say you’ll do best by filling your minds and meditating on things
true, noble, reputable, authentic, compelling, gracious—the best, not the
worst; the beautiful, not the ugly; things to praise, not things to curse.”
Dennis Waitley
pernah berkata, “Getting
into a positive routine or groove will help you become more efective (terj.
bebas: Saat kita memiliki suatu rutinitas yang positif atau kebiasaan baik,
kita akan menjadi lebih efektif di dalam melakukan sesuatu).”
Atlet merupakan
contoh yang bagus tentang memberikan, melakukan yang terbaik. Mungkin ia
pernah, bahkan sering gagal, tetapi pantang menyerah. Mau memetik pelajaran
dari kesalahan dan kegagalan atau kekalahan. Tetap berlatih hingga ia bisa
memperoleh, mengecap kemenangan.
Seorang investor
yang super kaya ditanyai (dengan nominal segini dan segitu) tentang seberapa
sih ukuran tertinggi merasa puas atau cukup itu terhadap kekayaan. Dan di tiap
pertanyaan nominal tertentu, ia selalu menjawab, “Sedikittt lagi…” Mungkin kita
pun boleh mengaplikasikan jawaban tersebut saat untuk memberikan, melakukan
yang terbaik. Apakah kita sudah memberikan, melakukan yang terbaik? “Sedikit
lagi.”
Memberikan yang
terbaik bukan berarti menjadi perfeksionis. Ingin segala sesuatu sempurna.
Tanpa cacat atau cela.
Melakukan yang
terbaik pun bukan berarti mencoba terus-menerus memberikan performa setengah
mati untuk sesuatu yang jelas-jelas bukan keahlian atau talenta kita serta
banyak orang menegaskannya. Contohnya seperti yang kita tahu, banyak individu
ingin menjadi penyanyi terkenal lewat audisi The X-Factor atau
American Idol,
tetapi tentu sedikit yang lolos seleksi juri.
Kemudian, antara
satu orang dengan orang yang lainnya, takaran memberikan atau melakukan yang
terbaik itu berbeda-beda. Seseorang yang memang hanya mampu memberikan sesuatu
secara sedikit tapi sudah yang terbaik darinya, mungkin di mata orang lain
taklah seberapa. Seseorang yang telah sekuat tenaga, semampunya mengusahakan
dan mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, walau menurut orang-orang
belumlah seberapa, asalkan ia yakin serta percaya di dalam hatinya bahwa itulah
yang terbaik dari dirinya, maka ia telah memberikan, melakukan yang terbaik.
Anda bisa
menyebutnya Man In
the Arena (Pribadi di Sebuah Pertandingan) untuk tajuk kutipan dari Eleanor
Roosevelt yang menulis, “It is not the critic
who counts. It is not the man who sits and points out how the doer of deeds
could have done things better and how he falls and stumbles. The credit goes to
the man in the arena whose face is marred with dust and blood and sweat. But
when he’s in the arena, at best he wins, and at worst he loses, but when he
fails, when he loses, he does so daring greatly (terj. bebas: Tidaklah
begitu penting orang-orang yang hanya mampu mengkritik. Tidak juga orang-orang
yang hanya duduk diam serta memberi tahu apa yang seharusnya bisa dikerjakan
dengan lebih baik oleh orang yang benar-benar mengerjakannya, atau mengapa ia
terjatuh serta gagal. Orang yang patut menerima pujian ialah ia yang
benar-benar berada di pertandingan dengan wajah penuh debu, kotor, bahkan
terluka, dan berbalut peluh. Saat ia bertanding, kadang kala ia menang, kadang
tertimpa kekalahan. Namun, meskipun mungkin ia gagal atau kalah, ia telah
berusaha memberikan, melakukan yang terbaik).”
Sudahkah yang terbaik
kuberikan
kepada Yesus,
Tuhanku?
Besar pengurbanan-Nya
di Kalvari!
Diharapkan-Nya
terbaik dariku.
Sebuah lagu
mengingatkan kita. Dan saat kita sedang memberikan atau melakukan sesuatu yang
menurut kita adalah yang terbaik, kita bisa berkata-kata di dalam hati, “Sedikit lagi.”
Dan saat kita sedang mengerjakan sesuatu yang lain, apa pun itu, kita bisa
bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sudah memberikan yang terbaik?”
“Apakah ini sudah yang terbaik?”
Jadi, apa arti
sesungguhnya dari memberikan yang terbaik? Apa definisi yang terbaik—terlebih
kepada dan untuk Tuhan? Saya rasa, kita dan hati kita sendirilah yang tahu
jawabannya. Dan Tuhan.
Apakah kita
sudah memberikan, melakukan yang terbaik hari ini?
Menjelang
hari-hari ke depan dan saat Natal nanti pun, apakah kita akan memberikan,
melakukan yang terbaik? Bukankah Allah Bapa
pun telah memberikan, melakukan yang terbaik, melalui pengurbanan Putra-Nya,
Yesus Kristus di kayu salib? Yang terbaik. Terbaik.
“I firmly believe that
any man’s finest hour, the greatest fulfillment of all that he holds dear, is
that moment when he has worked his heart out in a good cause and lies exhausted
on the field of battle—victorious (terj. bebas: Saya sangat yakin bahwa
saat terbaik seseorang, atau rasa puas terhadap segala sesuatu yang ia pegang
teguh, adalah ketika ia telah memberikan segenap hatinya untuk sebuah tujuan
mulia, serta terbaring kelelahan karena kehabisan tenaga di medan pertandingan.
Berkemenangan).”
—Vince
Lombardi
Tunggu. Biasanya
setelah memberi kutipan ilustrasi di bagian tengah bawah seperti di atas dari
Vince Lombardi tadi, saya menyudahi sebuah tulisan. Tapi, kali ini ingin
memberikan lebih. Mencoba memberikan, melakukan yang terbaik.
Kadang kita
ingin menyerah karena merasa telah gagal berulang-ulang. Atau mungkin kita
merasa tidak, kurang layak melakukan sesuatu. Tetapi, saat kita tetap mencoba
mau memberikan segenap hati, melakukan yang terbaik—atau setidaknya yang baik
pun sudah berarti yang terbaik bagi kita—menjadi seperti man in the arena,
itu adalah hal yang baik.
“I want no more and no
less than the best life God wants to give me!”
—Joyce
Meyer
November 11, 2015
Too
Do you feel …
Too busy to pray?
Too many things to do
save to read?
Too many busyness to
handle and can’t make time to write?
Too ashamed not to be
perfect?
Too sinful not to do at
least one good single thing to do each day?
Too fearful, too guilty
to start or maintain prospective relationship?
Too many possessions to
have that it feels like they own you already?
Too … (etc.)
Pray.
Read.
Make time. Anytime.
Write.
Try.
Try.
Relate.
Do. Not.
One.
November 10, 2015
Udara
Udah pernah iseng nanyain harga
oksigen? Kalo belum, kira-kira Rp25.000/liter.
Dan pernah
nanyain harga nitrogen di apotek? Kalo belum, kira-kira Rp9.950/liter.
Tahukah bahwa
dalam sehari manusia menghirup 2,880 liter oksigen & 11,376 liter nitrogen?
Jadi, 2,880 x Rp25.000 = Rp72.000.000, 11,376 x Rp9.950 = Rp113.191.200.
Total biaya
untuk bernapas 1 hari adalah Rp72.000.000 + Rp113.191.200 = Rp185.191.200.
Kalau
sebulan, 30 x Rp185.191.200 = Rp5.555.736.000.
Kalau per
satu tahun, 365 hari x Rp185.191.200 = Rp67.594.788.000.
185 juta
rupiah per hari.
5,5 miliar rupiah per bulan.
Dan 67,5 miliar rupiah per tahun.
Tanyalah pada
diri kita sendiri, sudah berapa lama kita
hidup di bumi ini...? Dan berapa kita harus membayar oksigen yang udah kita
hirup?
Orang yang
paling kaya sekalipun tidak akan sanggup membiayai napas hidupnya. Ini baru
dihitung dari biaya napas, belum biaya yang lainnya.
Marilah
belajar bersyukur…
June 30, 2015
A Bit About A Pit
I
watched one of Dr. John C. Maxwell teachings on Youtube several days ago when he was delivering his message during Global Pastors and Leadership Conference
2015. And when he shared this one special thing, it caught my attention. He
shared about (which I quoted and modified a bit from an online source):
A man fell into a pit and couldn't get himself out.
A subjective person came along and said, "I feel for you down there."An objective person came along and said, "Well, it's logical that someone would fall down there."A Christian Scientist came along and said, "You only think you're in the pit."A Pharisee said, "Only bad people fall into pits."A mathematician calculated how he fell into the pit.A news reporter wanted an exclusive story on his pit.A fundamentalist said, "You deserve your pit."A Calvinist said, "If you'd been saved, you'd never have fallen in to that pit."A Wesleyan said, "You were saved and still fell in the pit."A Charismatic said, "Just confess that you're not in that pit."A realist came along and said, "Now that's a pit!"A geologist told him to appreciate the rock strata in the pit.An IRS man asked him if he was paying taxes on his pit.The county inspector asked him if he had a permit to dig the pit.An evasive person came along and avoided the subject altogether.A self-pitying person said, "You haven't seen anything until you've seen my pit..."An optimist said, "Things could be worse."A pessimist said, "Things will get worse."Jesus, seeing the man, reached down, and took him by the hand and lifted him out of the pit.
![]() |
image from here |
June 12, 2015
True Colors
(An adaptation of True Colors by Cindy Lauper)
With sad eyes
sometimes I get discouraged
and, oh, I realize
it’s hard to take courage
In a world full of people
I can lose sight of it all
and the darkness inside
can make me feel small, so small
Try to show a smile then,
try not to be unhappy
When did I last saw myself laughing, really laughing?
And if this world makes me crazy
and thinking I’m taking all I can bear
and need to call up someone,
who will be there?
I'll show my true colors
shining through
I'll show my true colors
that's why I love you
I’m not afraid to let them show
True colors...
true colors...
beautiful
like a rainbow
With sad eyes
sometimes I get discouraged
and, oh, I realize
it’s hard to take courage
In a world full of people
I can lose sight of it all
and the darkness inside
can make me feel small, so small
Try to show a smile then,
try not to be unhappy
When did I last saw myself laughing, really laughing?
And if this world makes me crazy
and thinking I’m taking all I can bear
and need to call up someone,
who will be there?
I'll show my true colors
shining through
I'll show my true colors
that's why I love you
I’m not afraid to let them show
True colors...
true colors...
beautiful
like a rainbow
![]() |
Image from here |
May 21, 2015
How to be A Poet
HOW TO BE A POET
(to remind myself)
(to remind myself)
Make a place to sit down.
Sit down. Be quiet.
You must depend upon
affection, reading, knowledge,
skill — more of each
than you have — inspiration,
work, growing older, patience,
for patience joins time
to eternity. Any readers
who like your poems,
doubt their judgment.
Sit down. Be quiet.
You must depend upon
affection, reading, knowledge,
skill — more of each
than you have — inspiration,
work, growing older, patience,
for patience joins time
to eternity. Any readers
who like your poems,
doubt their judgment.
Breathe with unconditional breath
the unconditioned air.
Shun electric wire.
Communicate slowly. Live
a three-dimensioned life;
stay away from screens.
Stay away from anything
that obscures the place it is in.
There are no unsacred places;
there are only sacred places
and desecrated places.
the unconditioned air.
Shun electric wire.
Communicate slowly. Live
a three-dimensioned life;
stay away from screens.
Stay away from anything
that obscures the place it is in.
There are no unsacred places;
there are only sacred places
and desecrated places.
Accept what comes from silence.
Make the best you can of it.
Of the little words that come
out of the silence, like prayers
prayed back to the one who prays,
make a poem that does not disturb
the silence from which it came.
Make the best you can of it.
Of the little words that come
out of the silence, like prayers
prayed back to the one who prays,
make a poem that does not disturb
the silence from which it came.
—by Wendell Berry
April 24, 2015
Layak
Beberapa di antara kita mungkin merasa
tak layak
tak layak untuk hidup
tak layak untuk bekerja
tak layak untuk menerima apa pun
Tapi
ada, yang masih untuk kita, satu hal layak
layak mengasihi
Dan lagi
layak bersemangat
layak berharap
layak berjuang
Ya
layak untuk berjuang
layak untuk berjuang
layak untuk berjuang
April 21, 2015
Sampah?
Seorang abang, Ronald Politton pernah mem-posting pada akun Facebook-nya, yaitu gambar sebuah jalan di Jepang dengan
status seperti ini:
“Heran.. sepanjang jalan ngga ada tempat sampah tapi jalanan bersih banget.”
Berikut pencerahannya.
Ada beberapa respons dari sejumlah teman.
Lalu, saya pun ikut merespons:
“Itulah Jepang bang.
Wkt ada temen yg ke sini aja, waktu sy mau buang bungkus permen di dalam
angkot, dimarahi! Disuruh masukin ke kantong ato tas aja.
“Mgk krn Jepang ‘lahannya’ kecil kli y bang jd ngerasa ngehargai. Sdg, Indonesia ngerasa lahannya terlalu luas, jd buang sampah smbrgn.
“Salut buat org2 Jepang yg bhkn buang bungkus permen pun ke tas ato saku dulu. Yg aneh, n kdg bikin kesel , kalo srg lht mobil mewah d Jakarta yg ngelempar sampah k luar dr jendela mobilnya. Terasa itu bukan mobil mewah, tp ‘mobil sampah’ ato mobilny tukang sampah.”
“Mgk krn Jepang ‘lahannya’ kecil kli y bang jd ngerasa ngehargai. Sdg, Indonesia ngerasa lahannya terlalu luas, jd buang sampah smbrgn.
“Salut buat org2 Jepang yg bhkn buang bungkus permen pun ke tas ato saku dulu. Yg aneh, n kdg bikin kesel , kalo srg lht mobil mewah d Jakarta yg ngelempar sampah k luar dr jendela mobilnya. Terasa itu bukan mobil mewah, tp ‘mobil sampah’ ato mobilny tukang sampah.”
Teman saya yang dari Jepang waktu itu bernama Junko.
Sedikit saja yang ingin saya tekankan, tentang lahan kecil Jepang, sehingga mungkin itu menjadi salah satu faktor
orang-orang Jepang mau menjaga kebersihan lingkungan atau alam mereka. Lalu,
mencoba mengaitkannya dengan kehidupan.
Walau memang tak mesti segala sesuatu bisa serta-merta kita
kait-kaitkan ataupun analogikan dengan hal lain, mungkin ada kebenaran ataupun sesuatu
yang bisa kita aplikasikan.
Ya, kembali ke topik. Karena negara Jepang termasuk lumayan kecil, sekitar
377.944 km2, mungkin warganya mau menjaga alamnya. Tak membuang sampah sembarangan. Meski nothing is really what it seems sih, sesuatu bisa dipelajari.
Sedangkan, luas
Indonesia sekitar 1.904.569 km2 sehingga ada kemungkinan juga untuk
penduduknya—meski tak semua—merasa
bisa sekenanya saja mempedulikan lingkungan, alamnya karena terlalu besar,
bukan?
Merasa alam tergolong besar, pulau terlampau banyak, tanah terlalu luas,
jadi seenak-enaknya saja. Ambil gampang. Tenang. Tak seperti orang-orang
Jepang.
Kalau boleh mengaitkan, menganalogikannya dengan kehidupan ini, mungkin
sama saja. Kita orang-orang Indonesia.
Taruhlah contohnya, kita merasa …
- gaji besar
- teman masih banyak
- umur masih panjang
- pekerjaan, kantor besar
- dan lain-lain yang membuat merasa bisa tenang-tenang saja, nyaman, tak mempedulikan
Lalu, kita menyalahgunakannya. Melakukan sesuatu dengan sewenang-wenang.
Sampai akhirnya sesuatu yang kita abuse atau
salah gunakan itu mulai tak seperti itu lagi dan membuat kita merasa kehilangan
besar. Mungkin sebesar, atau bahkan lebih besar daripada, sesuatu ataupun
hal-hal yang besar-besar, panjang, dan banyak tadi.
Padahal, sebenarnya kita bisa saja menghargai apa saja yang kita miliki
itu—baik besar maupun kecil. Tanpa menyalahgunakan. Mencoba seperti orang
Jepang yang menghargai lingkungan, alam.
Kalau semua yang berharga itu memang sampah, mungkin bolehlah kita perlakukan bak sampah, salah gunakan. Tapi, lagipula, bukankah tidak semua sampah pun disalahgunakan?
April 20, 2015
Buta di Belakang, Tahu di Depan
Saya membaca ulasan singkat dari Linda Yezak tentang isi cerpen The Boy Who Smelled Colors oleh H. Lee
Barnes.
Di paragraf-paragraf awal, penulisnya memperkenalkan kedua tokoh,
Julian dan Christopher yang berpetualang di sebuah gurun pasir di Arizona. Christopher
sebagai tokoh utama dengan sudut pandang pertama (POV), sedangkan Julian adalah saudaranya.
Christopher menghaturkan bahwa Julian menghadap ke cakrawala yang
membentang di depannya, seolah ingin merasakan desiran angin dari berbagai
penjuru.
Kemudian, pada paragraf-paragraf selanjutnya, cerpen tersebut berisi
dialog antarkedua karakter tersebut seperti tentang cuaca panas ataupun hawa
hangat. Sampai pada dialog berikut ini, barulah jelas tentang keadaan Julian
yang sebenarnya:
“This way.” Christopher
aims Julian toward the trailhead and takes his forearm in hand. “Careful.
There’s rock ahead.” (terj. bebas: “Lewat sini.” Christopher mengarahkan
Julian sambil memegang lengannya. “Hati-hati. Ada batu di depan.”)
Menurut Linda Yezak, penulis cerpen tersebut menguraikan sebanyak tujuh
paragraf yang berisi narasi serta sejumlah dialog sebelum akhirnya pembaca
dapat mengetahui bahwa Julian itu tunanetra. Bahkan, terdapat delapan paragraf
lagi sebelum akhirnya penulis memasukkan kata buta.
Lagi, menurut Linda, sebenarnya bisa saja H. Lee Barnes memulai cerita
langsung dengan menjelaskan bahwa Julian itu buta. Dan Christopher sedang
bersamanya, membimbingnya melintasi gurun pasir. Tapi, kalau seperti itu, karena
para pembaca sudah mengetahui di awal, kemungkinan alur ceritanya mudah ditebak.
Tak terlalu menarik. (Mungkin ada
perbedaan besar antara cerita yang mudah diikuti atau dinikmati dengan yang
mudah ditebak, ya?)
Begitu juga mungkin halnya dengan kehidupan.
Kalau kita sudah tahu banyak yang akan terjadi di depan, mungkin
rasanya kehidupan ini takkan terlalu menarik. Atau, mungkinkah karena kita haus
kontrol sehingga kalau bisa, kita harus dapat mengetahui segala sesuatu yang
akan terjadi supaya kita tidak terlalu panik, kewalahan? Ataukah, sebenarnya kita
sekadar takut?
Membuat perencanaan boleh-boleh saja. Dan perlu. Sebab kalau kita sudah
tak punya rencana apa-apa, kita perlu bertanya-tanya, ke mana sebenarnya tujuan
kita? Tapi, kita tak dapat selalu mengetahui apa saja yang akan
terjadi di depan. Tapi, kita tahu kepada Siapa kita sebaiknya berharap.
“Maybe
the reason for this mystery is so that we will turn to him. After all, what do
we need the Lord for if we already know what will happen?”
—Rick J. Pritikin
![]() |
Image from here |
April 16, 2015
Siap
Seorang yang DEKAT dengan Tuhan bukan
berarti tidak ada AIR MATA
Seorang yang TAAT pada Tuhan bukan
berarti tidak ada KEKURANGAN
Seorang yang TEKUN berdoa bukan
berarti tidak ada masa-masa SULIT
tapi, orang tersebut akan selalu
mengalami PENYERTAAN-Nya
Seandainya BERGUMUL, pasti ada HARAPAN
Seandainya di padang gurun, pasti
DIPELIHARA
Seandainya masih dalam PROSES, suatu
saat pasti DIPROMOSIKAN
biarlah TUHAN yang berdaulat
sepenuhnya atas hidup kita karena Tuhan TAHU waktu yang TEPAT untuk memberikan
yang TERBAIK
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka
saat itu kamu sedang belajar KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting,
maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam,
maka saat itu kamu sedang belajar MEMAAFKAN
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka
saat itu kamu sedang belajar KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri,
maka saat itu kamu sedang belajar KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang
sebenarnya tidak perlu kautanggung, maka saat itu kamu sedang belajar
KEMURAHHATIAN
Karena kamu sedang menimba ilmu di
universitas KEHIDUPAN
TUHAN menaruhmu di tempatmu yang
sekarang bukan karena kebetulan
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan
melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
Mereka dibentuk melalui KESUKARAN,
AIRMATA, dan TANTANGAN
Ketika engkau mengalami sesuatu yang
sangat berat dan merasa sendiri di dalam hidup ini, angkatlah tangan dan
kepalamu ke atas...
Tataplah masa depan...
Ketahuilah, TUHAN sedang
mempersiapkanmu.
—Elvrina Sri Reva Sihaloho
Subscribe to:
Posts (Atom)