tak terasa waktu sudah
sore
Ga sengaja ku
iseng melihat contact YM-ku
terlihat sebuah
nama
nama yang mungkin
sangat tak asing bagi beberapa teman
nama yang juga tak
asing bagiku ketika pertama kali ku menginjakkan kaki di kantor ini
Ku ingat ketika
menunggu wawancara dengan pimpinan
tiba-tiba
melintaslah sesosok perempuan ini dan tak ku sangka suamiku pun mengenalnya
mereka begitu
akrab berbincang
suamiku memperkenalkan
ku padanya
Ia ramah
menyambutku meski kelihatan terburu-buru mengerjakan sesuatu
tak ku sangka
juga ternyata suaminya adalah teman baik suamiku
Perempuan itulah
orang pertama yang ku kenal di kantor ini
selebihnya aku
sering bertemu dengannya di rumahnya, di gereja, dan tentu di tempat kerja
tapi ternyata
perkenalan kami hanya sesaat
kurang dari tiga
tahun…
Meski tak kenal
dekat dengannya
tapi ia memberi
kenangan tak terlupakan bagi Natalku tahun lalu
sebuah kenangan
Natal yang tak terlupakan
Siang hari saat ku
berkhotbah Natal di sebuah gereja
bergegas ku pulang
dan menuju rumah sakit
sorenya ku
mendapati ia, perempuan itu, telah terbang
terbang tinggi… terbang tinggi… kataku
Ku merindukanmu,
bu Phebe…
ku barusan
menulis YM untukmu
meski ku tahu kau
tak kan membalasnya
tapi ku yakin kau
tersenyum padaku
dan berkata, “Hi, Oki, this world is not your home…”
Tak ku sangka
hanya dengan melihat YM bu Phebe
Tuhan berbisik, “This is not your home…”
Thanks, God, for reminding me…
I know this is not our home, but if I may live,
may I live for You…
—by Oki Hermawati,
23 Oktober 2014
![]() |
from Joyce Meyer |
“God, if I can’t die, show
me how to live.”
—Joni Eareckson Tada