Skip to main content

Jamur & Benalu

Sempat melihat spanduk seperti ini di Jl. Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan:

 
Lalu, memikirkan apakah benalu sama dengan jamur? Sebab apabila sama, sayang sekali yang membuat iklan di spanduk tidak tahu kalau ada jamur yang bermanfaat, bahkan bisa menjadi sayur. Jadi, kalau sama, ada jamur yang berguna bagi masyarakat.

Tapi, ternyata, setelah mengobrol dengan bang Ryan Darliansyah—yang mungkin sewaktu sekolah dulu sering mengamati pelajaran biologi, sedangkan saya kurang suka—jamur  bukanlah benalu. Saya kira sama. Sebab:

Benalu adalah tumbuhan yang menumpang pada tanaman lain dan mengisap makanan dari tanaman yang ditumpanginya itu.

Jamur merupakan jenis tumbuhan tak berdaun ataupun berbuah, lalu berkembang biak dengan spora (alat perbanyakan yang terdiri dari satu atau beberapa sel yang dihasilkan dengan berbagai cara pada tumbuhan rendah) serta beragam bentuk, dan tumbuh di daerah berair, lembap, atau batang busuk.

Tidak bingung? Kalau pecinta biologi, mungkin tidak bingung. Saya bingung, hehehe.

Saat mengobrol dengan Iva, yang juga rajin mendengarkan penjelasan guru biologi, katanya ada dua jenis jamur. Terlepas dari beragam bentuknya. Ada jamur yang beracun, ada jamur yang bisa dimakan oleh manusia.

Jamur yang beracun, jamur jenis ini menyerap zat-zat yang tidak baik—maaf kalau wawasan ini salah, ya; butuh pencerahan dari pakar biologi—dari inangnya sehingga seolah hanya menyimpan kepahitan, menjadi beracun, tak dapat dimakan.

Jamur yang bisa dimakan manusia, jenis ini menyerap zat-zat yang baik-baik, bernutrisi dari inangnya sehingga bisa dimakan. Bermanfaat. Berguna bagi manusia.

Nah, kalau boleh coba kita aplikasikan ke dalam kehidupan, kita bisa menganalogikan kedua jenis jamur tadi.

Di hidup ini, terlepas dari apa pun yang telah atau sedang kita alami, hal-hal seperti apakah yang mau tetap kita serap, kita simpan? Apakah kepahitan-kepahitan ataukah berusaha hal-hal yang baik saja?

Menyerap dan memendam kepahitan mungkin akan membuat kita seperti jamur yang beracun, tak bisa berarti bagi orang-orang lain.

Menyerap, menyimpan, dan menyebarkan hal-hal yang baik, semoga kita bisa seperti jamur yang dapat dimakan manusia tadi. Apa pun yang terjadi dan kita alami, kita masih bermanfaat, berguna, berarti bagi kehidupan banyak orang.

Itu analogi jamur.

Bagaimana benalu?

Benalu adalah parasit atau salah satu dari simbiosis—keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yang berbeda. (Sekali lagi, pakar biologi, mohon pencerahannya apabila salah, hehe.)

Beranjak dari tentang simbiosis, ada tiga jenis.

Simbiosis mutualisme, yaitu dua makhluk hidup yang saling menguntungkan pada suatu keadaan atau di sebuah habitat.

Simbiosis komensalisme. Bukan makhluk hidup yang suka saling komentar atau komersial, ya, melainkan keadaan yang membuat salah satunya mendapatkan keuntungan, tetapi yang lainnya TIDAK dirugikan. Misalnya, tanaman anggrek dengan pohon inangnya.

Ketiga, simbiosis parasitisme. Hubungan dua makhluk hidup dengan kondisi yang satu untung; yang lainnya rugi. Benalu.

Kalau boleh membuat analogi lagi, apakah kita seperti simbiosis mutualisme, komensalisme, atau benalu, parasitisme?


"From all this we may learn that there are two races of men in this world, but only these two—the race of the decent man and the race of the indecent man."
—Viktor E. Frankl



Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***