Skip to main content

Merah, kuning, hijau



Gambar di atas adalah lampu lalu lintas di dekat mal Gandaria City. Lampu yang selalu menyala ketiga-tiganya—merah, kuning, hijau. Membingungkan. Kasihan orang-orang yang sangat mematuhi rambu-rambu kalau melewati jalan itu, sebab mungkin tidak tahu nyala lampu yang benar.

Itu saja?

Tidak. Saya ingin menganalogikan ketiga lampu yang menyala itu dengan jenis kepribadian yang berbeda-beda. Koleris dan sanguin ibarat lampu hijau atau jalan terus. Plegmatis adalah lampu kuning atau hati-hati. Melankolis ialah lampu merah atau silakan berhenti.

Nah, seandainya masing-masing kepribadian itu merasa harus dominan di suatu tempat, misalnya di sekolah, apa yang akan terjadi?

Pribadi yang selalu merasa senang dan terbuka, menganggap bahwa orang-orang lain pun harus sama, mengikuti irama perasaan atau keadaan di kesehariaannya. Pribadi yang hati-hati jarang atau enggan, bahkan tidak pernah mencoba memeluk keberanian. Pribadi yang sok tertutup, harus diam sepanjang waktu, tak mau belajar terbuka atau apa adanya, dan menganggap orang-orang mesti mengerti apa pun yang ia rasakan atau jalani.

Butuh keseimbangan dan bergantian, bukan? Tak bisa selalu menyala semua seperti ketiga lampu di dekat Gandaria City di atas.

Kadang ada waktunya untuk semua orang sama-sama merasa senang, walau sesekali—ataukah sering kali?—dalam tawa, hati bisa saja merana. Kadang perlu memang untuk berhati-hati, sebab itulah salah satu fungsi pemikiran—misalnya, kita bisa merasa aman-aman saja dan beriman tidak ada apa-apa saat berbelok atau mengubah arah secara tiba-tiba di jalan raya tanpa menengok ke spion terlebih dulu, tapi lebih baik mengamati sekitar walau sepintas. Kadang ada waktunya juga kita butuh untuk diam, menyendiri—meski semestinya perlu pula mencoba apa adanya saja.

Di satu sisi, lampu lalu lintas yang menyala tiga-tiganya itu mungkin membingungkan. Tetapi, di sisi lainnya, menurut saya itu lebih baik, jauh menghibur, ketimbang ada sejumlah lampu lalin yang ketiganya mati, redup. Tak menyala.

Kesimpulan akhirnya, memang menyala saja semua lebih baiklah, walau kadang perlu memikirkan keseimbangan. Sebab apabila tak menyala, apalah gunanya. Itu pun lebih membingungkan daripada ketiga lampu yang menyala, dan malah membahayakan orang-orang kalau padam.

Apakah semangat lenyap, iman mati, harapan pudar? Menyalalah.



Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***