Skip to main content

A Language In Difficult Situations


Pada 27 Maret 2012 lalu, waktu saya ikut kursus bahasa Inggris―ya, saya masih perlu ikut pelatihan semacam ini―di kantor, saya memperoleh suatu pengetahuan yang bisa dibilang baru, ya. Apa itu? Bahwa saat kita tak bisa mengontrol emosi kita, maka kata-kata akan menyembur keluar dari mulut kita. Bukan hanya itu. Di kala kita mengalami situasi-situasi sulit, kita akan berbahasa (berbicara atau berkata-kata) dalam bahasa yang kita kuasai. Amat sukar bagi kita untuk memikirkan bahasa lain.

Bahasa apakah yang kita kuasai saat-saat seperti itu—geram, gundah, getir, atau galau, dan lain-lain?

Mungkin bahasa Inggris.

Atau bahasa Jepang mungkin?

Tentu bahasa Indonesia.

Atau bisa jadi bahasa Rusia, atau Jerman, atau Perancis dengan segala keindahannya.

Atau glosolalia.


I think that we should try to keep the possibilities of language and the richness of language alive. We should avoid cliché or expressions which are shallow. I think that if people lose the ability to use language in a subtle way, then their internal lives will suffer. If they don’t have the words for emotions and reactions to the world, then they can’t have those reactions… we choose words to express our inner state. The difficulty is that it gets out of control. What worries me is that I see the richness of language being weakened. You see people using very shallow functional language when they could be using something richer, something which takes them further, which expands their inner world.
―Alexander McCall Smith

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***