Skip to main content

This is a real life death job


















This is a real life death job. Pekerjaan antara hidup dan mati. Istilah membuminya, menurut seorang sahabat saya Daniel Deni Irawan, “Demi sesuap nasi, seseorang bergelantungan dengan tali gondola di bawah teriknya matahari.” Ya, padahal pemasukan bulanannya mungkin tak seberapa besar, tak sebanding dengan risiko pekerjaannya, namun pekerja tersebut berani melakukannya.

Pertanyaannya, seperti ending tagline iklan-iklan kebanyakan akhir-akhir ini, “Bagaimana denganmu?” Atau, “Kamu?” Atau, “Kita?”

Mungkin pekerjaan kita mentereng dan penerimaan bulanan kita lumayan besar, tapi bila pola bekerja kita sebenarnya tak sepadan dengan itu, mungkin percuma. Malu terhadap pekerja yang bergantungan dengan seutas tali yang bahkan hampir-hampir usang mau putus di atas.

Pada dasarnya, semua pekerjaan itu baik dan bagus, dan bisa menjadi pekerjaan yang antara hidup dan mati, asalkan kita selalu berupaya memberikan yang terbaik. Memberikan yang terbaik.

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***