Skip to main content

NALO Vs LANO

Alkisah, di sebuah kerajaan ada seorang pangeran yang terkenal suka belajar. Berbagai ilmu telah ia pelajari, baik sastra, strategi militer, ilmu hitung, berkuda, memanah, dan lainnya. Sayangnya, ketika diajak untuk mempraktikkannya, ia selalu menolak dengan alasan bahwa ia sudah menguasai ilmu tersebut sehinga tidak perlu praktik karena hanya akan buang waktu. Ia seorang yang NALO.

Suatu ketika, bosanlah pangeran tersebut karena merasa semua ilmu di kerajaan itu telah ia kuasai. Ia lalu mengajak pamannya yang juga merupakan mahapatih kerajaan untuk berdiskusi. Beliau adalah seorang yang LANO. Setelah mendengarkan curhat sang keponakan, sang mahapatih pun mengajak pangeran untuk berlayar di sungai dengan sampan.

“Mengapa kita tidak naik perahu kerajaan saja, Paman? Bukankah lebih nyaman?” tanya sang pangeran.

Sambil tersenyum dan mengelus janggut putihnya, sang mahapatih menjawab, “Ada yang ingin saya tunjukkan kepada Pangeran.”

Saat pelayaran dan mahapatih mendengarkan curhat keponakannya, tiba-tiba, sampan mereka berguncang karena ombak keras dan sang pangeran tercebur ke dalam sungai!

Pangeran berteriak minta tolong karena tidak bisa berenang. Namun, bukannya segera menolong, sang paman malah hanya menginstruksi, “Ya, Pangeran, kakinya ditendang bersamaan seperti kaki katak, ya. Tangannya jangan diangkat seperti itu, tapi seperti ini, ya,” ujar mahapatih sambil mencontohkan.

“Paman! Cepat tolong saya! Nanti saya tenggelam!” teriak sang pangeran, gusar bercampur takut.

“Pangeran ‘kan sudah menguasai teori berenang gaya katak, berarti Pangeran sudah bisa berenang…”

Sang pangeran segera mengerti maksud pamannya dan sambil terbata-bata ia pun berkata, “Saya mengerti maksud Paman. Sekarang cepat tolong saya!”

Dengan sigap, mahapatih melemparkan tali tambang dan tak lama kemudian sang pangeran telah duduk kembali di dalam sampan, sambil basah kuyup.

“Apa yang sudah Pangeran pelajari…?”

Sambil terengah-engah, pangeran menjawab, “Satu, segala pengetahuan dan teori yang saya miliki ternyata tidak ada gunanya kalau belum diterapkan dan dilatih di lapangan. Dua, saya tidak akan naik sampan berdua dengan Paman lagi!”

Pengetahuan yang kita terima akan bertahan lebih lama ketika kita mempraktikkannya. Bukankah ada pepatah practice makes perfect? Jadi, mari jangan hanya NALO (No Action, Learn Only), tapi sebaiknya juga LANO (Learn & Act Now, Okay).


―by Timothy Daun

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***