Skip to main content

Cuma Baca

Suatu hari, penulis David Foster Wallace ditanyai oleh seorang temannya, "Bagaimana caranya kamu menjadi begitu pintar?"1

David Foster Wallace menjawab, "Saya cuma membaca."

Saya heran, bukan tentang anekdot singkat di atas tadi, melainkan tentang penulis Henry David Thoreau yang mungkin tidak pernah pergi keluar negeri, tetapi tulisan-tulisannya bisa ke luar negeri. (Mirip dengan pengalaman penulis Stephen King--menurut penulis dan sahabat saya, Julius Fernando--yang mungkin dulu tak pernah keluar negeri dan hanya membuat setting novel-novelnya di kota Maine.)

Ia, Henry David Thoreau, pun sepertinya sangat pintar. Kabarnya, ia sering ke perpustakaan dan meminjam segudang buku. Jadi, saya percaya, seperti halnya Wallace, Thoreau pun cuma membaca.

Jadi, kalau ketiga contoh penulis itu saja, hanya dengan membaca bisa begitu pintar, kita pun tentu dapat menjadi seperti mereka.

Penulis wanita pula, Laura Hillenbrand, yang mungkin tidak akan pernah bisa beranjak keluar negeri, selain keluar kamar dan rumahnya, karena penyakit Chronic Fatigue Syndrome (CFS) yang dideritanya, tetapi tulisan-tulisan melalui buku-bukunya, saya percaya, mampu menembus negeri-negeri. Monica Hesse menulis tentang dia:
"Before she got sick, she loved to travel. Now, when she is well enough, her favorite thing is to drive down to Reagan National Airport and sit in view of the runway. She loves the big openness of the runway, and the fact that she can see very far away.
"It's a gateaway to another world."2 

(Referensi:
1. http://sethgodin.typepad.com/seths_blog/2011/05/the-hard-part-one-of-them.html
2. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/11/28/AR2010112803533.html)

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***