Akhir-akhir ini beberapa orang
bertanya kepada saya, “Gimanaaa rasanya nikah??”
Gimana ya jawabnya…? Bingung juga jawab apa...
tetapi, biarlah note ini bisa menggambarkan
rasanya menjadi seorang istri dari suami yang bernama Indra Widya Arianto.
Mungkin orang-orang yang baru kenal
Indra akan menilai dia sebagai orang yang sangat kaku, nggak ada seru-serunya sama
sekali. Perbedaan kita tuh banyak banget... dan makanya, banyak juga yang bertanya,
“Kok bisa sama dia sih?”
Satu kata : ). Dia orang yang takut Tuhan.
Kesamaan kita berdua adalah sama-sama
tahu kita orang berdosa yang nggak layak diberi pengampunan dari Tuhan Yesus,
tetapi kita mau belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dari yang sekarang.
Tetapi beneran, apa sih yang membuat kita (sebagai kaum wanita) khawatir kalau
pasangan kita saja takut sama Tuhan, bukan takut sama kita…? Hehehe...
Pada awalnya, aku sering menuntut dia
untuk berubah, dan dia pun demikian. Tetapi, ada satu masa di mana kita
sama-sama menyadari bahwa kita tidak bisa mengubah pasangan kita; cuma Tuhan yang
bisa. Dan yang pasti bukan mengubah, tetapi mencoba menerima kekurangan kita
masing-masing.
Mungkin di hadapan orang-orang, Juli
orang yang lebih menyenangkan, Indra kebalikannya. Namun sebenarnya, orang yang
paling konsisten dan memegang janji adalah orang yang seperti Indra, bukan Juli.
Orang yang gigih melakukan sesuatu dan sangat rajin adalah Indra, bukan Juli.
Juli hanya baik di luar, masih banyak
hal yang perlu diperbaiki di dalam. Sebaliknya, Indra mungkin hanya perlu dipoles sedikit soal bergaul, hehehe...
Ya, pada akhirnya kita belajar untuk
menerima kekurangan, dan mengasihi kekurangan pasangan kita masing-masing. Guys, percuma kalau mau mengubah pasangan...
that's impossible… yang ada tuh nantinya
ujung-ujungnya, “Sakitnya di siniii...”
Basically, aku sadar bahwa
tidak akan pernah dan tidak akan bisa mengubah seorang Indra menjadi orang yang
lebih menyenangkan—padahal kalau bedua sama aku, Indra orangnya konyolnya
keterlaluan : ).
Aku tahu bahwa Indra kehilangan
komunitasnya di kota Jakarta ini. Jujur aja, dia jauh lebih luwes dan lebih
menyenangkan kalau berkumpul bersama temen-temennya di kota Solo.
Aku tahu aku bukan siapa-siapa... aku
hanyalah seorang pendamping yang hanya bisa mengerti keadaannya, dan berusaha
tidak menambah keruwetan hidupnya—semogaaa... hehehe…
Suatu hari, Indra bertanya sebelum kami
menikah, “Kamu yakin kamu mau menikah sama orang yang seperti aku?”
Sebenarnya, pertanyaan itu sering
kuajukan pada diriku sendiri. Yakin Juli,
kamu mau sama orang yang jauh berbeda sama kamu? Sering kali pertanyaan ini
terngiang-ngiang dan aku hanya bisa bertanya kepada Tuhan... Tetapi, Tuhan
akhirnya menjawab dengan keteguhan hatiku. Ada dua jawaban.
1.
Julie, perbedaan kalian adalah pembelajaran hidupmu. Justru karena dirimu tidak
sama dengan dirinya, belajarlah hal-hal yang baik dari dirinya, karena kalian
seharusnya saling mengisi. Inilah arti dari sebuah hidup, sebuah pembelajaran
karakter, sebuah pembelajaran rohani. Apa yang tidak ada di dirimu ada pada
dirinya, begitu pula sebaliknya.
2.
(Jawaban ini yang aku berikan ke Indra ketika ia bertanya pertanyaan tadi
tentang yakinkah aku menikah sama orang yang seperti dia, yang sering kali mungkin
mengecewakan, menyakitkan, membuat aku meneteskan air mata? Kujawab Indra
dengan tegas seperti ini):
“Ko...
aku tahu kamu tidak sempurna, kadang mengecewakan, kadang menyakitkan. Tetapi,
dari semua perjalanan hidupku, berelasi dengan orang-orang yang pernah di dalam
hidupku, aku semakin yakin betul. Aku tidak mengasihimu karena kamu
mengasihiku.
“Aku
tidak mau berharap pada kasih manusia, Ko... aku tahu bahwa hanya kasih Tuhan
yang bisa memuaskan hidupku. Jadi, jawabanku satu... kalau pun kamu menyakiti,
mengecewakan, menyebalkan, berbuat dosa... that’s your problem... Itu urusanmu dengan Tuhan. Aku pun
demikian.
“Tetapi,
satu hal yang pasti, aku tidak bersandar pada kasih sayangmu saja, tetapi pada
kasih Tuhan... Aku lelah kalau harus mengikuti kamu, ketika kamu bosan sama
aku, aku tidak mengasihimu, ketika kamu sangat sayang sama aku, aku sayang sama
kamu. Tidak lagi begitu...
“Aku
mengasihimu karena aku mengasihimu, dan Tuhan mengasihi aku. Aku tidak peduli,
aku mau belajar konstan, bukan kasih yang naik-turun… yang tergantung mood. Biarlah Tuhan yang menolong aku, mengasihi
kamu seperti Tuhan mengasihi kamu. Kasih yang konstan, kasih yang tidak melihat
kamu lagi apa, lagi kenapa, lagi bagaimana... that’s my answer…”
Inilah aku, teman-teman... bagaimana
perasaanku…
Dan pagi ini, ketika kami baru bangun
tidur, Indra tidak menyapaku atau mengobrol denganku terlebih dahulu.
Ia bangun, lalu langsung ke WC… kemudian, dia duduk di depan meja
dengan Alkitabnya.
Dia selalu berkata, “Jangan ganggu aku
kalau lagi berduaan sama Tuhan!” (dengan
nada nyebelinnya).
Jadi, jawaban, “Gimanaaa rasanya
menikah dengan Indra Widya Arianto?”
I’m blessed.
July 7, 2014 at 3:56 pm
—by Juliana
Suhindro Putra binti Arianto : )
![]() |
Juli & Indra |