Skip to main content

Sedikit lagi, terbanglah elang

Sejenak teringat tentang posting-an Elang dalam Eagle.

Ingin menulis sedikit lagi tentang elang. 

Beberapa di antara kita sebenarnya harus bebas. Terbang.

Di pegunungan. Alam bebas.

Seperti elang.

Tapi, mengapa kita suka membatasi pikiran kita? Terkurung. Berpikir kerdil. Prasangka terhadap semua keadaan dan banyak orang.

Seperti di dalam kandang.

Persis sangkar mini di dalam posting-an tadi yang sebenarnya tanpa atap pun tidak akan bisa terbang, kecuali dicomot pencuri, karena elang butuh mulai ancang-ancang berlari di tanah sejauh kurang lebih 3 – 3,5 meter sebelum terbang.

Otak kita akan terbiasa dengan kebiasaan kita. Tanpa mengarahkannya sekalipun, kita akan condong melakukan yang sedang kita pikirkan. Memilih yang cere-cere, instan. Tidak menikmati kehidupan.

Padahal hidup kita mungkin ditentukan untuk bebas. Terbang. Terbang. Dan terbang.


Image courtesy of Bethany Hamilton's Facebook page, in which she said, "Soon we will be celebrating Adam's first Father's Day! One thing I love about Adam is his strength. People often comment about how I'm unstoppable but what I see is what a quiet gladiator my husband is. This Father’s Day, consider gifting a copy of #EddietheEagle (featuring Taron Egerton & Hugh Jackman). It’s a true story about a man who never gave up." 























Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***