Skip to main content

69

Saya pernah menuliskan berikut di blog ini (lihat Tulisan Campuran). Tentang orang-orang sudah berusia tua, tapi masih mau melakukan sesuatu yang bagi mereka mungkin adalah hal yang baru. Saya cuplik sedikit saja, ya.
  
  • Pada usia 59 tahun, Daniel Defoe menulis novel pertamanya, The Life and Adventures of Robinson Crusoe
  • Usia 62, John Ronald Reuel Tolkien menerbitkan edisi perdana Lord of the Rings
  • Pada umur 65 tahun, Noah Webster menyelesaikan American Dictionary of the English Language
  • Pada umur 67, Viktor Frankl, penulis Man’s Search For Meaning, menjadi pilot. 67 tahun!
  • Pada 71 tahun, Katsusuke Yanagisawa berhasil mendaki Gunung Everest!
  • Usia 82, Winston Churchill menulis A History if the English-Speaking Peoples, serta Leo Tolstoy menulis I Cannot Be Silent
  • Umur 84, W. Somerset Maugham menulis Points of View
  • Dan pada usia 85 tahun, Viktor E. Frankl masih mengajar

Lalu, apa lagi yang mau saya angkat?

Tak banyak sih. Hanya ingin berbagi lagi. Kalau contoh-contoh orang tua di atas kebanyakan dari luar negeri, nah apakah ada juga yang dari negara sendiri, ya? Mungkin banyak. Namun, izinkan saya untuk menceritakan satu di antaranya saja.

Ketika saya membaca sebuah warta jemaat gereja, tertulis tentang Om Njo, beliau merupakan almarhum ayahandanya Pdt. DR. Niko Njotorahardjo. Om Njo memulai serta merintis pembangunan salah satu gereja di kota Depok yang kini terletak di jalan Kamboja—setelah sempat berpindah-pindah tempat—dan dikenal dengan nama GBI (Gereja Bethel Indonesia) Kamboja.

Dan beliau mulai melakukannya pada usia 69 tahun. 69. Tahun. Usia yang bisa terbilang cukup lanjut juga. Dan hingga umurnya menutup pada usia 81 tahun, telah ada enam belas gereja yang terbangun.

Mungkin kita belum mencapai usia sepanjang itu. Dan kita belum mencapai banyak impian—bahkan mungkin satu impian pun. Namun, semoga kita tak gampangan, mudah menyerah. Merasa susahlah untuk berputus asa. Lalu, kita mencoba melakukan sesuatu yang mungkin menggiring kita makin mendekati mimpi itu, hingga benar-benar mencapainya.

Atau, mungkin sudah ada di antara Anda, para pembaca yang sudah memasuki usia tua. Banyak gejolak jiwa yang kita rasakan. Juga, beberapa hal terasa berkurang, tapi semoga keberanian serta semangat tak lekang, hilang. Lalu, cobalah mengerjakan sesuatu yang mungkin, bagi kita, baru. Akan ada hal-hal baik melampaui usia itu.

sumber: istimewa






















Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***