Skip to main content

Kepada Sang Tokoh di Hari Pentakosta


Ya, Pribadi terkasih
            Kepada-Mu kutuliskan untaian kata ini
            Rangkaian syukur
            Perpaduan rasa kasih dan hormat

Ya, Penjunan yang tekun
            Engkau memilihkan bagiku bahan terbaik
            Dari sumber tak kukenal
            Menjalin-bentuk pribadi baru yang dikenan Bapa

Ya, Sang Penolong
            Begitulah Dikau dikenalkan oleh Sang Anak
            Dikau menuntun agar maksud pilihan dan panggilan dipahami
            Daging yang lemah ini Kau siapkan bagi rencana ilahi yang ditetapkan sejak zaman dahulu kala
            Berselaras dengan rancang-bangun yang telah dipola sempurna

Ya, Sang Sumber Terang
            Engkaulah daya pancar kesaksian kami
            Bagi jiwa yang masih hidup dalam kegelapan
            Yang resah, bingung, dan tak tahu arah tujuan

Ya, Dikau Sang Dinamisator
            Engkaulah penggerak tubuh Kristus
            Inspirator bagi setiap anggota yang termaktub di dalamnya
            Agar berpadu dalam karya agung yang Dikau persiapkan

Ya, Sang Penakluk jiwa yang sejati
Dalam ketekunan-Mu, Engkau menghantar diri ini
pada tempat di mana pengakuan tulus diucapkan:
bahwa Bapa dan Yesuslah Pemilik hidup ini
Dalam kesabaran-Mu, Engkau menuntun kami
agar menjadi pemenuh mandat yang suci
menjadi penatalayan yang bertanggung jawab  
Dalam determinasi-Mu, Engkau terus menggempur keengganan daging
supaya menjadi efektif di tangan-Mu  
Dalam pengetahuan-Mu, Engkau menyiapkan bagi kami
masa depan yang penuh makna dan bertujuan
Dalam kuasa-Mu, Engkau memastikan keberhasilan
yang mampu Dikau capai melalui keterbatasan kami

Ya, Sang Maha Pemurah
            Dikau menyatakan kebaikan Bapa bagi dunia,
            Dikau mengukir karakter baru dalam batin terdalam untuk menyatakan Kristus,
            Dikau mencurahkan kasih agar kami mengenali siapa Pemilik hidup,
            Dikau Penggembala hati dan jiwa, agar kami menemukan sumber air jernih dan rumput yang segar
            Dikau yang Mahabesar, namun Mahatersembunyi
            Dikau yang Mahamulia, yang bekerja tanpa menonjolkan diri

Ya, Sang Mahaagung
            Engkau berkarya agar Pribadi Yesus kami teladani
            Engkau menyatakan Sang Anak dan Sang Anak menyatakan Sang Bapa
            Engkau menyangkali diri-Mu, agar Anak dan Bapa kami muliakan
            Engkau tetap bertahan dalam tubuh Kristus, yang kerap mengecewakan-Mu
            Engkau bersabar dalam jumlah yang besar, lebih banyak dari jumlah kami mendukakan-Mu
            Engkau terus bermurah hati, walau daging ini acap kali enggan menerima tuntunan-Mu
            Engkau setia membangun citra Bapa dan Anak, meski anak-anak-Mu lebih sering memilih citra fana dunia ini

Ya, Dikau Sang Mahakasih
            Hikmat-Mu membentukku dalam anugerah Allah
            Pengetahuan-Mu melengkapiku dalam anugerah Allah
            Kuasa-Mu memastikan keberhasilan rencana Allah dalam bejana tanah liat ini oleh anugerah Allah
            Kesadaran-Mu membangun persepsi diri yang utuh dalam akal budiku oleh anugerah Allah
            Kesetiaan-Mu menyadarkanku pentingnya arti berkorban ini pun oleh anugerah Allah

Ya, Sang Mahasabar
            Engkau mendampingiku di saat tergelap dalam hidup agar terang ilahi kudapati
            Engkau besertaku di saat yang paling mencekam agar aku belajar menerima kelemahan saudaraku
            Engkau menuntunku di jalan yang tak kukenal agar semua aspek diri terarah pada tujuan yang kekal
            Engkau menghindarkanku dari jerat-jerat tipu daya iblis dan kelemahan daging agar aku memercayai-Mu dengan segenap hati
            Engkau yang tak pernah putus asa menanggapi kelalaian dan kebodohan sikapku agar aku hanya bersyukur pada-Mu
            Engkau yang selalu menguatkan, menumbuhkan, dan membuat hidup ini berbuah, dan berbuah lebat

Dan semua karya agung-Mu inilah yang hendak kudengungkan di sepanjang dan di akhir ziarahku yang panjang,
yang telah Dikau beri makna yang tak lekang oleh zaman
yang menjadi bagianku, bagian kami di dalam kekekalan
yang senantiasa kusyukuri dan kubanggakan:

                                                “Di jalanku nyata sangat, kasih Tuhan yang mesra
                                                Dijanjikan penghiburan di rumah-Nya yang baka
                                                Kunyanyikan tak hentinya, kasih dan pimpinan-Nya
                                                Kunyanyikan tak hentinya, kasih dan pimpinan-Nya.
(Fanny J. Crosby)



—oleh Frankie Suthya,
Bogor, 8 Juni 2014
Cengkareng, 9 Juni 2014


Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***