Skip to main content

Posts

What Is Success?

To laugh often and much;

To win the respect of intelligent people
and the affection of children;
To earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of false friends;
To appreciate beauty; To find the best in others;
To leave the world a bit better, whether by a healthy child, a garden patch or a redeemed social condition;
To know even one life has breathed easier because you have lived;
This is to have succeeded.

—Ralph W. Emerson













Recent posts

Anda nulis apa?

Wiesenthal was often asked to explain his motives for becoming a Nazi hunter. According to Clyde Farnsworth in the New York Times Magazine (February 2, 1964), Wiesenthal once spent the Sabbath at the home of a former Mauthausen inmate, now a well-to-do jewelry manufacturer. After dinner his host said, "Simon, if you had gone back to building houses, you'd be a millionaire. Why didn't you?" "You're a religious man," replied Wiesenthal. "You believe in God and life after death. I also believe. When we come to the other world and meet the millions of Jews who died in the camps and they ask us, ‘What have you done?,’ there will be many answers. You will say, ‘I became a jeweler,’ Another will say, ‘I have smuggled coffee and American cigarettes,’ Another will say, ‘I built houses,’ But I will say, ‘I did not forget you’."
Simon Wiesenthal Center
(Dari kutipan di atas, saya menarik kesimpulan, Simon Wiesenthal lebih memilih untuk menulis ketimbang …

O J N

Beberapa hari yang lalu, entah lupa kapan mulainya tepatnya, tiga tuts di keyboard laptop saya tidak bisa dipencet. Yaitu, O, J, dan N. Entah kenapa hanya 3 tombol tersebut. Lalu, saya mencoba bertanya kepada seorang teman, yaitu Ho Jimmy Arnold yang memiliki keahlian McGyver untuk memperbaiki, tapi mungkin kalau untuk urusan laptop belum bisa.

Jadi, saya biarkan saja selama beberapa hari tombol O, J, dan N tersebut tetap susah diketik. Sehingga, setiap kali saya mencoba mengetik tulisan di laptop, butuh kesabaran ekstra menanti O, J, atau N itu muncul. Terutama yang kecil alias bukan CAPS LOCK.

Saya sempat berpikir, apa hal itu terjadi karena suatu kebetulankah, ataukah ada hal-hal lain, yang menarik mungkin? Misalnya, untuk huruf O: karena selama ini saya masih belum mengerti apa rencana dan maksud Tuhan bagi kehidupan saya secara pribadi, mungkin kesempatan tuts O susah dipencet adalah untuk mengingatkan hal itu. Bahwa saya harus benar-benar mengerti. Tombol J: (masih) adakah Jesus…

Bicara tentang kematian

“How does one become a butterfly?” she asked pensively. “You must want to fly so much that you are willing to give up being a caterpillar.” —Trina Paulus
Bicara tentang kematian. Mungkin itu seperti ketika kita sedang berenang dan berada di dalam air, lalu mencoba membuka mata (syukur-syukur kalau memakai kacamata renang) dan melihat ke atas. Agak buram mungkin, tidak jelas pemandangannya bukan. Dan setelah kita mengeluarkan kepala ke atas permukaan air, barulah jelas pemandangannya (apalagi kalau kita melepaskan kacamata renang).
Teman—atau yang mengaku begitu—saya pun bercanda apakah kalau mati mendadak itu enak? Ada teman lain yang juga bercanda, atau mungkin setengah bernada serius, bahwa bisa saja mengurus akta kelahiran sendiri, asal jangan mengurus akta kematian sendiri.
Kalau tidak salah, Norman Vincent Peale, penulis buku-buku berpikir dan bersikap positif, pernah juga menulis buku tentang kematian—atau tepatnya, kehidupan setelah kematian. Berjudul Life Beyond Death. Di dalamnya…

Love is on the way

Keindahan-Mu pagi ini mengalir menyentuh sanubari. Kehadiran-Mu menyejukkan jiwa dan mengembalikan semangat yang sempat tertahan di leherku dan tak mau keluar.

Aku tak akan mengizinkan jiwaku hancur karena kesombongan.
Semua adalah baik, dan semua dipakai Tuhan untuk kebaikanku.

Aku memang tidak bisa menyenengkan semua orang, bahkan ketika aku sudah memberi yang paling maksimal dan paling tulus dari yang kumiliki, ketika orang masih melihat ada kekurangan. Aku tidak akan membela diri. Aku senang sudah diingatkan. Paling tidak, aku masih dianggap manusia, manusia yang tidak mungkin ada yang sempurna.

Dikritik tidak enak, tapi saat aku lulus ujian kritikan, aku selangkah ke depan menuju yang Tuhan kehendaki supaya aku capai.

Ketika aku diperhadapkan dengan keadaan yg menghancurkan pride-ku, sesimpel apa pun itu, aku mau belajar senang... mengucap syukur... karena Dia masih mengasihiku. Dia mau aku tetap sadar kalau aku masih manusia dan tidak boleh sedikit pun mencuri kemuliaa…

A conversation no one else is having

While people are walking around, here and there, without even once noticing the beauty of the afternoon or morning sky with its clouds, whether on the streets or at the highways, a conversation takes place.

Stratus: "What are those things that go around like that, seemed not enjoying anything? I guess they're just ordinary things, unlike us that are unordinary."

Cirrostratus: "No, they're not ordinary. They're called human beings. They're special, and extraordinary as well. While they should enjoy us more often, they're kind of making themselves too hectic to enjoy us even just at a glance."



"You paint the morning sky." —Lincoln Brewster

Rugi

Pagi ini pukul 08.00 membawakan sharing di bawah ini di kebaktian pagi kantor.
***
Merugi—mengalami kerugian—untuk hal atau sesuatu yang kita sukai, misalnya hobi atau sebuah keahlian, itu kita senang melakukannya dan terasa gampang. Misalnya, waktu awal-awal berlatih bermain saksofon, rela merugi (istilahnya “membayar harga”) yaitu bagian luar jari jempol kanan bengkak, agak rusak karena luka, dan sampai kapalan. Bibir juga mengalami yang sama. Atau, ada juga teman yang pandai bermain drum (Pak Gently Tiwa), dia pasti juga mau mengalami kerugian telapak-telapak tangan lecet atau luka dan kapalan agar bisa bermain drum. Ada juga seorang teman yang rela dan merugi tidak makan goreng-gorengan (sebab tidak makan gorengan adalah kerugian besar!) atau makanan yang mengandung garam lagi demi menjaga bentuk tubuh karena rajin nge-gym.
Nah, kita mau merugi atau rela “bayar harga” demi sesuatu yang kita senangi. Dan sering merasa mudah melakukannya, walau sakit atau luka.
Kadang susah juga merugi…