Skip to main content

O J N

Beberapa hari yang lalu, entah lupa kapan mulainya tepatnya, tiga tuts di keyboard laptop saya tidak bisa dipencet. Yaitu, O, J, dan N. Entah kenapa hanya 3 tombol tersebut. Lalu, saya mencoba bertanya kepada seorang teman, yaitu Ho Jimmy Arnold yang memiliki keahlian McGyver untuk memperbaiki, tapi mungkin kalau untuk urusan laptop belum bisa.

Jadi, saya biarkan saja selama beberapa hari tombol O, J, dan N tersebut tetap susah diketik. Sehingga, setiap kali saya mencoba mengetik tulisan di laptop, butuh kesabaran ekstra menanti O, J, atau N itu muncul. Terutama yang kecil alias bukan CAPS LOCK.

Saya sempat berpikir, apa hal itu terjadi karena suatu kebetulankah, ataukah ada hal-hal lain, yang menarik mungkin? Misalnya, untuk huruf O: karena selama ini saya masih belum mengerti apa rencana dan maksud Tuhan bagi kehidupan saya secara pribadi, mungkin kesempatan tuts O susah dipencet adalah untuk mengingatkan hal itu. Bahwa saya harus benar-benar mengerti. Tombol J: (masih) adakah Jesus atau Yesus di dalam kehidupan, keseharian saya? Kemudian, N: apakah saya dan (and atau N) Dia masih mau bekerja sama?

Sepertinya yang terjadi adalah hal ilahi.

Tapi, Tom Clancy pernah berkata, "I tell [aspiring writers] you learn to write the same way you learn to play golf. You do it, and keep doing it until you get it right. A lot of people think something mystical happens to you, that maybe the muse kisses you on the ear. But writing isn't divinely inspired." (Saya beritahu kamu, ya. Kamu mesti belajar menulis seperti halnya kamu mengerahkan upaya untuk belajar dalam bermain golf. Kamu harus tetap belajar menulis dengan benar sampai menemukan cara yang tepat untuk melakukannya. Banyak orang mengira hal-hal spiritual, mistislah yang terjadi saat menulis, yaitu misalnya ada bisikan-bisikan tertentu di telingamu. Tetapi, menulis bukanlah suatu hal yang terinspirasi dari dorongan-dorongan ilahi.)

Oh ya?

Tapi, Tom Clancy, saya percaya ada bagian-bagian tertentu di dalam kehidupan yang mendapatkan dorongan dari hal-hal ilahi, walau kadang memang ada orang-orang yang malas bukan kepalang untuk melakukan sesuatu yang benar-benar perlu dilakukan, malah sekadar "berdoa"
itu pun kalau layak disebut dengan berdoa.

Kembali ke soal tombol O, J, dan N. Apakah ini hal mistis atau ilahi yang terjadi dan menginterupsi kegiatan saya sehari-hari? Mungkin, ya kebetulan, mungkin tidak. Kalau seperti kata istri saya sih, mungkin kebetulan-kebetulan yang indah (bukankah beberapa dari antara kita mungkin juga sering atau pernah mengalaminya? Coba ingat). Atau, memang ini sesuatu yang ilahi. Tetapi, kita bisa memetik sejumlah pelajaran penting sekaligus sederhana dari tiga hal yang saya utarakan tadi.

  1. Apakah kita masih belum mengerti apa rencana dan maksud Tuhan bagi kehidupan kita secara pribadi? (O)
  2. Masihkah ada Tuhan di dalam hidupmu? (J)
  3. Apakah kita dan Dia masih mau bekerja sama? (N)
Teringat saya kepada seorang teman lain yang bergerak di bidang IT, Dana Permana Siboro, dan saya bertanya, meminta tolong kepadanya untuk memperbaiki ketiga tuts itu.

Dia hanya mencoba memencet-mencet sejenak. Lalu, dengan agak tiba-tiba, gubrak, gubrak, Pak Dana menggebrak, menggencet dengan memaksa keyboard saya. Kemudian, memencet ketiga tombol itu. Dan hasilnya, ya hanya seperti itu, tuts-tuts O, J, dan N tadi berfungsi kembali dengan normal sampai hari ini saya menuliskan blog ini. Menurutnya, ketiganya berada di bagian fleksibilitas keyboard sehingga kadang memang perlu digencet, digebrak sejenak supaya lancar.

Kadang, saya pikir, memang butuh sedikit gebrakan, gencetan, hajaran supaya hal-hal yang mungkin belum/tidak berfungsi sebagaimana mestinya itu dapat kembali berfungsi. Bicara tentang butuh beberapa gencetan, kemarin juga di gereja sempat mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan oleh tim choir dari GBI Sukawarna Bandung di bawah penggembalaan Bpk. Pdt. David Cakra. Lagu Sometimes It Takes A Mountain.


Prof. Craig S. Keener juga pernah mengatakan, "When we fail at self-critique, God sometimes raises up outsiders to help us (gently or not)."

Mungkin butuh sedikit gebrakan, ganjaran, gencetanseperti yang dilakukan Pak Dana tadi supaya, cukup dengan seperti itu, semua yang saya perlukan kembali normal dan berfungsi dengan baik. Mungkin ketiga tuts tadi pun sempat tidak berfungsi supaya untuk mengingatkan saya tentang ketiga poin di atas. Entah mengapa hanya O, J, dan N, ketiga tombol yang memang sering saya gunakan. Bukan tombol yang lain.

Oh ya, ada satu hal lagi yang mungkin telah lama ingin saya tanyakan. Mungkin kedua tombol berikut ini memang berguna bagi kaum difabel yakni tunanetra... tapi, mengapa pada tuts F dan J pada keyboard kita semua ada semacam garis kecil, yang muncul, tercetak keluar ke atas? Apakah, mungkin bagi saya secara pribadi, untuk mengingatkan saya selalu bahwa Franisz dan Jesus harus terus bekerja sama? Apakah ini kebetulan yang indah, ataukah semacam hal ilahi?



Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***