Skip to main content

Love is on the way

Keindahan-Mu pagi ini mengalir menyentuh sanubari. Kehadiran-Mu menyejukkan jiwa dan mengembalikan semangat yang sempat tertahan di leherku dan tak mau keluar.

Aku tak akan mengizinkan jiwaku hancur karena kesombongan.
Semua adalah baik, dan semua dipakai Tuhan untuk kebaikanku.

Aku memang tidak bisa menyenengkan semua orang, bahkan ketika aku sudah memberi yang paling maksimal dan paling tulus dari yang kumiliki, ketika orang masih melihat ada kekurangan. Aku tidak akan membela diri. Aku senang sudah diingatkan. Paling tidak, aku masih dianggap manusia, manusia yang tidak mungkin ada yang sempurna.

Dikritik tidak enak, tapi saat aku lulus ujian kritikan, aku selangkah ke depan menuju yang Tuhan kehendaki supaya aku capai.

Ketika aku diperhadapkan dengan keadaan yg menghancurkan pride-ku, sesimpel apa pun itu, aku mau belajar senang... mengucap syukur... karena Dia masih mengasihiku. Dia mau aku tetap sadar kalau aku masih manusia dan tidak boleh sedikit pun mencuri kemuliaan-Nya dengan cara apa pun.

Terima kasih, Tuhan.
Aku tidak mau mengambil sedikit pun kemuliaan-Mu, aku takut.
Aku takut kehilangan-Mu.

Biarlah aku yang semakin kecil, dan Engkau yang semakin besar.
Let none of me, but all of You.
Aku tidak mau, Tuhan, karena sedikit bisul kesombongan, kehilangan kasih-Mu, kehilangan kasih-Mu, kehilangan kasih-Mu. Hadirat-Mu.

Aku tidak bisa hidup tanpa-Mu.
Bukan karena aku tidak bisa hidup tanpa berkat-berkat-Mu, tapi tanpa-Mu dalam hidupku, aku zombie, Tuhan. Makhluk paling mengerikan.

Proses aku, Tuhan, supaya roh kesombongan itu kalah dan diganti roh kerendahhatian yang melekat di dalamku.

Proses aku, Tuhan, area mana dalam hidupku yang masih Engkau anggap penuh dengan
ke-[tulis namamu di sini]-an, gantilah dengan hati hamba.

Tetap menjalankan empati.Bukan hal yang mudah.
Aku harus melawan diriku sendiri yang sering ingin menyerah.
Sering dipandang miring karena dianggap membawa sekte baru dalam lingkungan yang sudah terbiasa biasa-biasa saja. Di-bully secara tidak langsung dan diremehkan.
Tapi, aku ingat, first you learn humility,
then you experience glory. 

God... kalau bukan rencana-Mu, keluarkan aku dari situasi ini.
Tapi, jika ini bagian dari rencana-Mu, by Your mercy... I'll fight.
Injak-injak saja muka saya, tapi kalau ini rencana Allah, saya tidak akan dibiarkan kehilangan muka.

Satu-satunya yang bisa saya ajak kerja sama hanya Engkau.
Karena setiap kali saya ajak teman untuk berubah supaya punya pola pikir yang sama, berempati, mereka anggap ini bagian dari topeng baik saya untuk menang.

Saya tanpa kepentingan dengan ini semua, sampai detik terakhir pun saya bilang sama kalau bukan rencana-Mu, saya keluar dari tim.

Pagi ini saya diajari.
Bahwa Dia sedang scalling hati saya, membersihkan dari karang hati saya, yang walau masih kecil-kecil, tapi berpotensi membuat hati saya bolong-bolong.

Musuh utama-Nya: my pride.
Tuhan, lagi proses saya.
Saat orang mengkritik saya, tanpa tahu rasanya berdiri di atas sepatu saya.
Saya punya hak untuk membela diri.
Saya punya hak untuk mengatakan, "Kamu tidak tau apa yang sudah saya lakukan, jadi tutup mulutmu!"
Saya punya kekuatan dan kuasa untuk menyiksa dia, membuat kariernya terhenti, merusak namanya, dan membuat dia menderita 7x lipat dari yang saya rasakan.
Saya punya.
Saya punya.

Saya bisa dan saya punya kesempatan.

Tapi, pagi ini saya mau taat.
Saya merasakan waktu Dia dihakimi, disiksa, dan dikhianati. DIA PUNYA KUASA.
DIA BISA MENGHANTAM SEMUA ORANG ITU DENGAN 1 KATA KELUAR DARI MULUTNYA.

Tapi, Dia tidak lakukan.

Dia diam.

S'perti domba yang pasrah mau disembelih.
Dia diam.

Saya merasakan hati domba itu.
Cuma bisa menangis.
Rasanya mau memberontak, tapi tidak bisa, tidak diizinkan.

Saya cuma merasa sedang diperlengkapi untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Karena semakin tinggi, anginnya semakin kuat.
Padi semakin berisi semakin merunduk.
Dan dia sedang mengajari saya kuasa terbesar yang ada dunia ini,
yaitu kuasa mengendalikan diri.

Tuhan proses saya, tiap aspek yang masih kental dengan pride yang secara tidak sadar muncul dari diri saya, bereskan!
Rasanya s'perti bonsai, ada bagian-bagian yang terpaksa dipangkas, supaya jadi bentuk yang terbaik
Sakit.
Takut.
Tapi, there isn't any fear in love.

And Love is on the way...
And that's enough.


—Iva




Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***