Skip to main content

It was in the silence that I heard your voice

Setelah menonton film Silence oleh Martin Scorsese, ada satu kalimat yang terngiang-ngiang dari narasi Father Rodrigues yang diperankan oleh Andrew Garfield:

It was in the silence
that I heard your voice.

(Bahwa dalam keheninganlah,
ku mampu mendengar suara-Mu.)

Apakah benar seperti itu? Saya bertanya-tanya. Apakah benar bahwa hanya dalam keheningan, kita baru dapat mendengarkan suara-Nya?

Sempat membuat saya enggan membahasnya, menulisnya, dan agak takut-takut mempercayainya.

Lalu, saya membaca-baca majalah edisi lama Architectural Digest, dan menemukan tulisan yang mengulas tentang kediaman (tempat tinggal) Frank Sinatra. Dan di lembaran itu mata saya terperekat pada kata-kata:

I believe in the sun even when it’s not shining. I believe in love even when not feeling it. I believe in God even when he is silent.” 

Dan yang saya ketahui kemudian, itu adalah kata-kata seorang korban selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz.

Lalu, ketika mencoba mencari-cari kutipan dari Father (Bapa) Rodrigues tadi di Internet, malah menemukan kata-kata soal silence (keheningan) itu dari Mother (Bunda) Teresa, “The essential thing is not what we say but what God says to us and through us. In that silence, He will listen to us; there He will speak to our soul, and there we will hear His voice.

We cannot put ourselves directly in the presence of God if we do not practice internal and external silence.

Dan…

What is essential is not what we say but what God tells us and what He tells others through us. In silence He listens to us; in silence He speaks to our souls. In silence we are granted the privilege of listening to His voice.

Mungkin kita butuh dan memang sedang mengalami banyak keheningan untuk dapat mendengarkan suara-Nya supaya tahu apa yang harus kita lakukan. Tapi, yang lebih penting ketimbang keheningan di luar—yang sering kali serbabising—adalah pikiran dan di dalam hati kita sendiri.


I am speechless, but I can't keep quiet. And I am wordless, but I can't stay silent.
Lauren Daigle
 
 
Image courtesy of The Cove

Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***