Skip to main content

Belajar Jujur dengan Hatimu Sendiri


“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”
Yeremia 17:9-10


Aneh sekali kalau Alkitab berkata: “Betapa menipunya hati...”

Lalu siapa yang ditipu?

Tentu yang ditipu adalah diri sendiri.

Betapa tidak, kita sering mencoba bahagia, sementara hati seperti diiris. Kita mencoba tampil bebas, sementara hati begitu terbebani.

Belum lagi dengan semua luka, yang kita anggap tidak ada.

Tapi pada kenyataannya luka itu terus menganga, dan begitu mempengaruhi cara bicara dan tindakan kita.

Lihat juga hati yang merasa tertolak, betapa sering itu tak dirasa, padahal luka itu ada.

Dan yang bisa terus mencoba menutupinya dengan begitu banyak kata dan tindakan yang justru melukai orang lain.

Rasa iri, persaingan, kebencian, dendam, amarah, tertolak, direndahkan, dibedakan dengan yang lain, tersingkir, terabaikan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Wow... panjang sekali bukan, hal-hal yang mungkin ada di hati kita?

Hati kita memang fragile, mudah terlukai, tapi menutupinya seakan semuanya itu tidak pernah ada, juga akan makin memperparah.

Lalu apa yang harus kita perbuat?

Jujurlah dengan hatimu sendiri dan kemudian ungkapkan ke Tuhan, minta kesembuhan hatimu dan please... jangan terlalu lama, sebelum melukai hati orang lain...


“Masalahmu hanya satu: hati. Plus satu: komunikasi.”
F. G.


—sine nomine





















Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***