Skip to main content

Pekerjaan Vs Pelayanan

Tulisan ini saya lihat ketika sedang bertugas meringkas khotbah di gereja. Seusai menyantap sarapan di meja yang ada di ruang Sound System & Lighting, saya melihat sebuah pigura yang terpampang tampak usang, sudah lama dibiarkan bergantung, berdebu, serta kotor. Dan kemungkinan besar jarang ada orang yang membacanya, apalagi di ruang itu agak remang. Di pigura vertikal tak terlalu besar itulah tulisan di bawah ini saya lihat. Dan ingin membagikannya kepada Anda.

***


Apakah Perbedaan Antara Pelayanan dengan Pekerjaan?

Bila kita melakukannya selama ada waktu luang, itulah pekerjaan. Bila kita melakukannya meskipun mengganggu aktivitas kita, itulah playanan.

Bila kita berhenti karena tidak ada yang berterima kasih kepada kita, itulah pekerjaan. Bila kita terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapa pun, itulah pelayanan.

Bila kita melakukannya untuk diri sendiri, itulah pekerjaan. Bila kita melakukan yang terbaik seperti benar-benar untuk Tuhan, itulah pelayanan.

Bila kita melakukannya demi kehormatan diri, itulah pekerjaan. Bila melakukannya demi semata-mata sungguh-sungguh kemuliaan Tuhan, itulah pelayanan.

Bila kita merasa telah banyak berkurban dan layak mendapatkan upah, itulah pekerjaan. Bila kita terus merasa belum cukup melakukan apa pun dan terus ingin memberikan lebih, itulah pelayanan.

Bagaimana dengan kita?

Tetaplah semangat dan selamat melayani.

***

Sebenarnya mungkin masih banyak penjabaran yang bisa dibuat tentang perbedaan antara pekerjaan dengan pelayanan. Tapi, beberapa hal di atas tadi mungkin sudah bisa mewakili banyak perbedaan.

Dan kelihatannya bagian atau sisi pekerjaan berada pada posisi yang direndahkan atau lebih rendah ketimbang pelayanan. Padahal, kalaulah sebuah pekerjaan dilakukan secara profesional dan sungguh-sungguh, mungkin kualitasnya sama dengan pelayanan. (Meski kadar profesional saja tidak bisa mencukupi untuk menyamai kualitas yang terbaik dari suatu pelayanan. Maksudnya, seperti ketika Saul yang seharusnya profesional berani menghadapi Goliat, tapi malah alih-alih Daud yang diurapilah yang berani mengalahkan Goliat.) Tapi, kalau pelayanan dilakukan sangat asal-asalan, mungkin penjabaran di atas tidak berlaku.

Semoga pelayanan di kerohanian kita tidak menjadi seperti peringatan ini: "Anyone who sets himself up as 'religious' by talking a good game is self-deceived. This kind of religion is hot air and only hot air (James 1:26, The Message)."

Dan pagi ini, ketika sedang ber-WhatsApp dengan mas Jati Wicaksono, ia menulis bahwa ada dua hal sebenarnya yang perlu kita perhatikan: melayani Tuhan & melakukan pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan artinya kita mendengar firman-Nya, ikut ke manapun Dia pergi mengajar, alias menjadi murid-Nya. Melakukan pekerjaan Tuhan berarti Dia akan dengan sendirinya mengutus kita, ke tempat-tempat kita baik ditaruh di sekuler (marketplace) ataupun rohani.


 "Average leaders have quotes. Good leaders have a plan. Exceptional leaders have a system."
Urban Meyer



Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***