Skip to main content

Kebiasaan yang Sepele, Tapi Bikin Boros

Dari sekitar belasan juta penduduk di Jakarta, bisa dikatakan mungkin tidak seluruhnya memiliki KTP DKI. Dan seiring pertumbuhan jumlah penduduknya, bisa diperhatikan bahwa kebutuhan kita yang mungkin tinggal di kota ini adalah perlu mengatur keuangan. Hal ini sangat penting.

Banyak orang mungkin berdoa supaya diberi kekayaan, pekerjaan, penghasilan yang tinggi, dan pandai mengelola keuangan, namun seolah-olah doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Tahukah Anda bahwa mungkin permasalahan utamanya bukanlah apakah Tuhan sudah menjawab doa atau belum, karena Tuhan itu Mahamendengar, melainkan mungkin permasalahan utamanya ada pada diri kita sendiri.

Apakah Anda bisa mengelola keuangan pribadi yang Tuhan sudah percayakan kepada Anda dengan baik atau malah memboroskan dan menyia-nyiakannya?

Karena itu, mengelola harta atau keuangan pribadi dengan baik menjadi kebutuhan kita semua. David Bach, seorang penasihat keuangan di Amerika menciptakan sebuah istilah, yaitu the latte factor (faktor latte), yang menggambarkan pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak terlalu penting dan kadang kala tidak disadari sehingga menjadi sebuah pengeluaran yang besar dan mencengangkan apabila diakumulasi.

Istilah latte memiliki arti kopi susu. Dan kopi jenis ini cenderung diperuntukkan bagi orang yang masih belia untuk meminum kopi, sehingga istilah ini dihubungkan ke dalam perencanaan dan pengelolaan keuangan bagi orang-orang yang belum melakukannya dengan serius karena masih melakukan pengeluaran-pengeluaran kecil dan kelihatan sepele, namun menakjubkan jumlahnya. Pengeluaran seperti ini sangat bisa untuk dikurangi atau bahkan dihilangkan, karena itu kembali lagi sangatlah tergantung pada Anda. 

Berikut ini beberapa kebiasaan sepele yang ternyata bisa membuat boros—dan solusinya:

  • Terlalu sering beli kopi mahal, teh mahal, atau minuman mahal. Kalau diambil contoh, Anda suka membeli kopi dengan harga kisaran Rp40.000 -Rp50.000 sebanyak 3 kali seminggu saja, Anda sudah membuat pengeluaran Rp480.000 - Rp.600.000 per bulan. Fantastis! Solusi bagi Anda yang mungkin tanpa sadar sering melakukan hal ini adalah: 
a)      Jadilah kreatif, karena hal ini adalah irit, bukannya pelit
b)      Bawa kopi sendiri dari rumah dan seduhlah di kantor, sehingga tidak perlu membeli
c)      Kurangi frekuensi yang mungkin dari 3 kali seminggu menjadi 1 kali seminggu
d)      Bila memang Anda hobi dengan minuman tersebut, buatlah kartu anggota sehingga bisa mendapatkan potongan harga khusus
e)      Gunakan trik dengan membeli minuman di kedai minuman yang memberikan diskon apabila Anda membawa tempat minum sendiri 
 
  • Naik taksi saat pergi dan pulang kerja. Pada masa modern sekarang, sudah ada dua macam taksi, yaitu yang konvensional dan taksi online yang bisa dipesan kapan saja dan dari mana saja. Namun untuk urusan harga, taksi online memang memiliki harga sangat bersaing dan memikat konsumen, sehingga banyak konsumen taksi kovensional yang beralih menggunakan sistem online dikarenakan lebih murah, mudah, dan terjamin, atau aman karena lebih mudah dicari jejaknya bila terjadi sesuatu.

Nah, hidup dalam zaman modern saat ini, harus mengerti prinsip utama dalam menindaklanjuti keborosan yang terjadi, yaitu pikirkan apa yang dibutuhkan, bukannya apa yang diinginkan terlebih dahulu. Tanpa disadari, menggunakan taksi setiap kali pulang kerja ataupun pergi, dapat meningkatkan kadar keborosan Anda. 

Coba Anda bayangkan bila dalam satu kali menggunakan taksi, Anda harus mengeluarkan biaya Rp50.000 dan minimal penggunaan taksi pasti 2 kali, yaitu saat pergi dan pulang, maka Anda sudah mengeluarkan Rp100.000 per hari. Belum lagi ditambah kena macet. Maka dengan asumsi satu minggu Anda bisa menggunakan taksi sebanyak 4 - 5 kali, Anda sudah mengeluarkan uang sekitar Rp400.000 - Rp500.000 seminggu, dan sekitar Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000 per bulan. Fantastis!

Saya akan berbagi sedikit solusi bagi Anda dalam hal ini, yaitu:

a.      Kurangi frekuensi naik taksi dan beralihlah pada transportasi umum lainnya
b.      Ganti transportasi Anda, bila sebelumnya menggunakan taksi, maka Anda bisa menggantinya dengan ojek yang lebih murah dan cepat
c.       Cari teman atau tetangga yang mungkin searah dengan Anda, dan bagi dualah biaya bensin perjalanan atau tolnya, maka bisa jadi akan jauh lebih murah
d.      Bila memang Anda merasa uang yang Anda keluarkan sangat besar dan kurang nyaman, mengapa Anda tidak pertimbangkan untuk membeli mobil pribadi saja?
e.      Kota Jakarta, khususnya, makin macet dan mobil semakin banyak, maka tidak bisa tidak, Anda harus menunggu hingga semua transportasi umum selesai dibangun dan betul-betul nyaman untuk Anda gunakan

  • Berolahraga di tempat fitness. Olahraga memang sangat baik bagi kesehatan, namun dengan gaya hidup masa kini yang bisa terus meningkat, perlu Anda waspadai jangan sampai badan sehat tapi kantong sakit. Tahukah Anda bahwa mengeluarkan uang untuk fitness tidaklah sedikit. Bayangkan bila satu kali datang Anda harus membayar Rp50.000 hingga Rp125.000. Tapi tenang saja, saya tawarkan beberapa solusi, yaitu:
a.      Daftar jadi anggota member dengan memperhitungkan terlebih dahulu pos pengeluaran Anda yang lainnya selama satu bulan
b.      Selalu bayar cash dengan jumlah yang sama persis bila Anda memang harus menggunakan kartu kredit dalam membayar fitness
c.       Hindari utang dengan kartu kredit dikarenakan Anda memaksa ikut jadi member tapi tidak memiliki pos pengeluaran dengan dana yang cukup
d.      Manfaatkan tempat yang bisa dipakai sebagai sarana olahraga gratis, misalnya taman kota. Sudah banyak taman jogging di daerah Jakarta khususnya

  • Nonton film di bioskop mahal. Ini mungkin pengeluaran kecil namun paling sering dalam kehidupan seseorang di masa kini, khususnya anak muda. Memang dianjurkan agar tidak membajak film dan menghargai dengan menonton yang legal via bioskop. Tetapi coba Anda bayangkan sejenak, sekali seminggu Anda menonton bioskop bisa mengeluarkan biaya kurang lebih Rp60.000 - Rp120.000 dan itu belum termasuk makan dan minum. Sulit memang menghindari menonton bioskop karena ini adalah hiburan paling rutin yang dilakukan oleh banyak orang saat ini. Namun berikut ini beberapa solusi dari saya:
a.      Pilihlah bioskop dengan tarif lebih murah
b.      Buat jatah film yang harus ditonton setiap minggunya. Hindari terlalu keranjingan
c.       Manfaatkan promo yang ada, seperti beli 1 gratis 1 dan promo hemat setiap Senin dari beberapa bank dan penyedia jasa seluler atau dana tunai elektronik
d.      Hindari menonton pada Sabtu dan Minggu (akhir pekan) bila memungkinkan karena hari tersebut dengan harga tertinggi. Ingin hemat? Nontonlah pada Senin - Kamis

  • Membeli air minum kemasan setiap hari. Minum adalah kebutuhan dasar hidup manusia dan tidak bisa dihindari. Namun tahukah bila setiap hari Anda harus mengeluarkan uang untuk membeli minuman kemasan, maka biayanya juga tidak tanggung-tanggung. Tanpa Anda sadari, Anda bisa mengeluarkan uang dari Rp3.000 hingga Rp6.000 hanya untuk membeli satu buah minuman kemasan. Ada beberapa solusi menghindari pemborosan ini: 
a.      Bawa air minum sendiri dari rumah
b.      Bila Anda pegawai kantoran, biasanya selalu disediakan air minum dari kantor sehingga bisa lebih hemat
c.       Jangan hanya membawa gelas ke kantor, tapi bawalah juga botol untuk bisa diisi air sebagai bekal perjalanan pulang
d.      Kurangi membeli minuman dengan berbagai aneka jenis dan rasa, di samping kurang sehat, harganya jauh lebih mahal daripada air putih

Demikian beberapa tips untuk bisa Anda lakukan supaya memiliki gaya hidup tidak boros dan tidak kalah dalam bersaing, namun Anda justru bisa menjadi berkat bagi banyak orang di sekeliling Anda. 
Sampai jumpa lagi dengan tips-tips yang berikutnya.


—oleh Raymond Sebastian Ernest (@myrayligion)


"Money has a way of possessing people, and only the wise can overcome its influence over the soul. Remember: either you master money or you serve it. Money is a good slave but a bad master."
—Sunday Adelaja















Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***