Skip to main content

Serta-merta

Apakah punya anak tiga, empat, atau banyak anak berarti lebih jagoan menghadapi kehidupan?

Apakah merasa sudah bekerja lama empat, lima, 12 atau 20 tahun berarti lebih amat berpengalaman?

Apakah umur sudah 35, 40, atau > 55 berarti lebih senior serta patut didengar?

Apakah sangat pintar dengan S1, S2, Ph.D. tersandang gelar berarti lebih pintar daripada supir, mbok jamu, pelayan rendahan?

Apakah bergaji 36 juta, 72, 120 juta rupiah atau ribuan dolar, banyak harta, mobil Porsche berjejer berarti lebih hebat daripada orang lain?

Apakah banyak teman berarti lebih luwes?

Apakah mampu membuat orang lain tertawa dan tampak sering terbahak berarti lebih bahagia?


Mungkin jawaban semua itu iya.

Namun, tidak mesti demikian, bukan?

Mempunyai, mengalami, melakukan semua itu tak serta-merta membuat kita lebih, lebih, dan lebih daripada orang lain.


Ada yang tidak, belum punya anak maupun menikah tapi mampu menopang orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Ada yang baru bekerja dua tahun di tempat baru, tapi banyakan pengalaman dari pekerjaan sebelum-sebelumnya, hidupnya.

Ada yang masih berusia dua puluhan tapi bersemangat mempedulikan orang-orang lansia, percaya diri memimpin eksekutif-eksekutif batu bara.

Ada yang bergaji tujuh juta tapi mau punya a billionaire mindset.

Ada yang bisa berteman dengan diri sendiri terlebih dulu.

Ada yang urip sederhana saja, menerima pribadi diri sendiri.


Image courtesy of Forbes
 

Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***