Skip to main content

Tiang Doa Ialah Ibu

Ibu...
Tiang doa keluarga...

Berdiri dan berjaga-jaga sebagai penolong suaminya

Lakukan dan engkau akan melihat Tuhan memberkati suamimu dan anak-anakmu...

Suamimu akan menjadi suami sejati
dan anak-anakmu menjadi s'perti anak panah di tangan pahlawan, siap melesat ke titik tujuan

Suami adalah kepala... dia adalah imam... dia adalah pemimpin...

Sayangnya, terkadang, bahkan sering kali mereka kalah melawan dirinya sendiri... melawan masa lalunya... hawa nafsunya...

Merekalah yang diserang oleh Iblis, kar'na jika hati Bapa tak ada dalam hati para ayah, 1 keluarga, 2 generasi telah berhasil dilumpuhkan oleh Iblis...

Keluarga adalah persekutuan terkecil, core, inti...
Kalau Iblis dapat membuat keluarga-keluarga hancur, penuh dengan luka batin dan kepahitan, Iblis tidak perlu susah-susah membuat strategi lain lagi...

Ibu...
Tiang doa keluarga...

Kaum yang dianggap lemah oleh orang lain, bahkan dirinya sendiri yang terkadang, bahkan sering terjebak dalam rasa mengasihani diri sendiri...

Dibuat sibuk dengan memusatkan pikirannya hanya pada dirinya sendiri... Terlena akan sisi wanita yang berada di bawah kekuatan laki-laki...

Padahal, pada ibulah ada kekuatan penolong...
Penolong para ayah untuk menjadi pria-pria sejati...

Ibu...
Kekuatanmu bukan terletak pada besarnya ototmu atau kemolekan paras dan tubuhmu yang dapat membuat para laki-laki bertekuk lutut di hadapanmu...

Kekuatanmu ada di lututmu... saat engkau berdoa...
Mengalir menguasai hatimu yang lemah nan lembut...
Tuhan meletakkan rasa cinta yang begitu besar... sensitivitas yang 2 kali lebih besar untuk merasakan dan mengikuti alur dan arah yang Tuhan sudah sediakan untuk keluargamu...

Ibu...
Kekuatan sejati itulah yang memampukan engkau menjadi penolong bagi suamimu...
Kekuatan doa yang lahir dari rasa cinta paling murni seorang bunda... yang mampu membuat suamimu jatuh bertekuk lutut, bukan di hadapanmu, namun di hadapan Allah...

Kaki merekalah yang penuh dengan otot-otot yang sangat kuat... yang kadang menghalangi mereka untuk bersedia bertekuk lutut di hadapan Bapa...

Ibu...
Jadilah kuat
Jadilah setia
Jadilah teladan
Jadilah tiang doa
bagi suami, bagi anak-anakmu...

Berdoalah ibu... berdoalah ibu...

~ by Dina Evariyana


Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***