Skip to main content

Sampah?

Seorang abang, Ronald Politton pernah mem-posting pada akun Facebook-nya, yaitu gambar sebuah jalan di Jepang dengan status seperti ini:

Heran.. sepanjang jalan ngga ada tempat sampah tapi jalanan bersih banget.

Berikut pencerahannya.

 


Ada beberapa respons dari sejumlah teman. Lalu, saya pun ikut merespons:

Itulah Jepang bang. Wkt ada temen yg ke sini aja, waktu sy mau buang bungkus permen di dalam angkot, dimarahi! Disuruh masukin ke kantong ato tas aja.

Mgk krn Jepang ‘lahannya’ kecil kli y bang jd ngerasa ngehargai. Sdg, Indonesia ngerasa lahannya terlalu luas, jd buang sampah smbrgn.

Salut buat org2 Jepang yg bhkn buang bungkus permen pun ke tas ato saku dulu. Yg aneh, n kdg bikin kesel , kalo srg lht mobil mewah d Jakarta yg ngelempar sampah k luar dr jendela mobilnya. Terasa itu bukan mobil mewah, tp ‘mobil sampah’ ato mobilny tukang sampah.

Teman saya yang dari Jepang waktu itu bernama Junko.

Sedikit saja yang ingin saya tekankan, tentang lahan kecil Jepang, sehingga mungkin itu menjadi salah satu faktor orang-orang Jepang mau menjaga kebersihan lingkungan atau alam mereka. Lalu, mencoba mengaitkannya dengan kehidupan.

Walau memang tak mesti segala sesuatu bisa serta-merta kita kait-kaitkan ataupun analogikan dengan hal lain, mungkin ada kebenaran ataupun sesuatu yang bisa kita aplikasikan.

Ya, kembali ke topik. Karena negara Jepang termasuk lumayan kecil, sekitar 377.944 km2, mungkin warganya mau menjaga alamnya. Tak membuang sampah sembarangan. Meski nothing is really what it seems sih, sesuatu bisa dipelajari.

Sedangkan, luas Indonesia sekitar 1.904.569 km2 sehingga ada kemungkinan juga untuk penduduknya—meski tak semua—merasa bisa sekenanya saja mempedulikan lingkungan, alamnya karena terlalu besar, bukan?

Merasa alam tergolong besar, pulau terlampau banyak, tanah terlalu luas, jadi seenak-enaknya saja. Ambil gampang. Tenang. Tak seperti orang-orang Jepang.

Kalau boleh mengaitkan, menganalogikannya dengan kehidupan ini, mungkin sama saja. Kita orang-orang Indonesia. Taruhlah contohnya, kita merasa … 
  • gaji besar
  • teman masih banyak
  • umur masih panjang
  • pekerjaan, kantor besar
  • dan lain-lain yang membuat merasa bisa tenang-tenang saja, nyaman, tak mempedulikan 
Lalu, kita menyalahgunakannya. Melakukan sesuatu dengan sewenang-wenang. Sampai akhirnya sesuatu yang kita abuse atau salah gunakan itu mulai tak seperti itu lagi dan membuat kita merasa kehilangan besar. Mungkin sebesar, atau bahkan lebih besar daripada, sesuatu ataupun hal-hal yang besar-besar, panjang, dan banyak tadi.

Padahal, sebenarnya kita bisa saja menghargai apa saja yang kita miliki itu—baik besar maupun kecil. Tanpa menyalahgunakan. Mencoba seperti orang Jepang yang menghargai lingkungan, alam.

Kalau semua yang berharga itu memang sampah, mungkin bolehlah kita perlakukan bak sampah, salah gunakan. Tapi, lagipula, bukankah tidak semua sampah pun disalahgunakan?


Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***