Skip to main content

Beban Batu

Konon.

Sebuah suku di salah satu pelosok di benua hitam, Afrika memiliki cara tersendiri untuk menyeberangi sungai. Yang deras arusnya. Tanpa jembatan.

Banyak orang sebelum-sebelumnya, mungkin orang asing, yang mencoba menyeberangi sungai deras tapi tanpa jembatan seperti itu. Mau tak mau harus dengan jalan kaki menyeberangi. Namun, pastilah takut karena aliran yang begitu deras, mereka bisa hanyut. Tersapu air sungai. Terbawa arus. Ataupun terhantam batu-batu besar tajam.

Suku tadi, punya cara unik menyeberangi sungai berarus deras itu. Bagaimana? Orang-orang suku itu akan mencari batu agak besar, mungkin sekepala atau lebih besar sedikit terlebih dulu. Lalu, memikulnya di pundak untuk menyeberang sungai.

Beban batu itu memantapkan kaki mereka sehingga bisa melangkah pasti di dasar sungai. Arus deras tak dapat menghanyutkan mereka.

Mungkin seperti itulah kehidupan kita, kalau kita boleh menganalogikan. Apakah kita sekarang sedang memikul suatu penderitaan, beban batu, dengan berat tertentu dan berbeda-beda untuk kita masing-masing?

Tak apa. Tak apa.

Mungkin beban penderitaan itu perlu supaya memampukan kita menuju sesuatu. Beban membuat kita sadar. Belajar. Tak hanyut. Mampu menyeberang.

Kalau kita hidup nyaman terus-menerus, tanpa masalah, seperti halnya mau menyeberang sungai tadi tanpa beban batu, justru kita mungkin akan hanyut.

Ambil batu, yuk.


istimewa















Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***