Skip to main content

Bohong Adalah Pisau


Ilustrai dari Fancy
Gestapo, polisi rahasia Nazi mendesak: “Di mana kalian sembunyikan orang-orang Yahudi itu?!”

“Saya tahu mereka di sini! Jangan bohong!”

Corrie ten Boom yang sejujurnya tidak suka berbohong, mungkin terpaksa melakukannya, bohong. “Tidak ada orang Yahudi di sini…” jawab Corrie.

Setelah saat itu, sempat terjadi perselisihan kecil dan singkat antara Corrie dengan kakaknya, Betsie ten Boom tentang apakah boleh berbohong—apalagi dalam keadaan seperti di atas?

Saya tidak tahu. Atau apakah saya tahu? Tapi mungkin untuk keadaan seperti itu boleh. Menurut cerita lain, Betsie menjawab jujur kepada Gestapo, dan hasilnya malah polisi rahasia itu tidak percaya, menganggapnya bercanda.

Jadi, apakah sebaiknya bohong—ataukah jujur?

Saya tidak tahu. Tapi mungkin suara hati kecil kita yang paling tahu, suara yang bisa saja paling keras ataupun sangat lembut, mengingatkan kita untuk apa yang sebaiknya kita lakukan.

Bohong mungkin seumpama pisau. Pisau seperti politik. Bisa digunakan untuk tujuan jahat atau baik. Seperti halnya bahasa Jerman. Apakah Elie Wiesel dan Viktor Frankl tidak mau menggunakan bahasa itu, bahasa yang negaranya pernah mengadopsi Nazi yang telah memenjarakan dan menyiksa mereka di kamp-kamp konsentrasi? Masih mau menggunakannya, bukan?

Saya tidak tahu apakah analogi pisau, politik, dan bahasa ini linear atau segaris untuk kebohongan, tidak? Tetapi, satu yang saya tahu. Saya tahu kadang saya harus bohong, saya tahu kapan saya mau jujur. 


Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***