Skip to main content

This Is Not Our Home

Saat ku sedang asyik seharian mengerjakan ini dan itu di kantor
tak terasa waktu sudah sore

Ga sengaja ku iseng melihat contact YM-ku
terlihat sebuah nama
nama yang mungkin sangat tak asing bagi beberapa teman
nama yang juga tak asing bagiku ketika pertama kali ku menginjakkan kaki di kantor ini

Ku ingat ketika menunggu wawancara dengan pimpinan
tiba-tiba melintaslah sesosok perempuan ini dan tak ku sangka suamiku pun mengenalnya
mereka begitu akrab berbincang
suamiku memperkenalkan ku padanya

Ia ramah menyambutku meski kelihatan terburu-buru mengerjakan sesuatu
tak ku sangka juga ternyata suaminya adalah teman baik suamiku

Perempuan itulah orang pertama yang ku kenal di kantor ini
selebihnya aku sering bertemu dengannya di rumahnya, di gereja, dan tentu di tempat kerja
tapi ternyata perkenalan kami hanya sesaat
kurang dari tiga tahun…

Meski tak kenal dekat dengannya
tapi ia memberi kenangan tak terlupakan bagi Natalku tahun lalu
sebuah kenangan Natal yang tak terlupakan

Siang hari saat ku berkhotbah Natal di sebuah gereja
bergegas ku pulang dan menuju rumah sakit
sorenya ku mendapati ia, perempuan itu, telah terbang
terbang tinggiterbang tinggi… kataku

Ku merindukanmu, bu Phebe
ku barusan menulis YM untukmu
meski ku tahu kau tak kan membalasnya
tapi ku yakin kau tersenyum padaku
dan berkata, “Hi, Oki, this world is not your home…”

Tak ku sangka hanya dengan melihat YM bu Phebe
Tuhan berbisik, “This is not your home…”

Thanks, God, for reminding me…
I know this is not our home, but if I may live, may I live for You…

by Oki Hermawati,
23 Oktober 2014



from Joyce Meyer














 
God, if I can’t die, show me how to live.
—Joni Eareckson Tada



Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***