Skip to main content

Isih Jam Pitu


Isih Jam Pitu adalah sebuah prinsip yang saya dengar, dan mungkin olah juga, sekilas dari Mas Jati Wicaksono. Prinsip yang saya dengar ketika kami—Mas Jati, Bu Widya, Jiyuu, dan saya—hendak menyaksikan pertunjukan teater Matinya Sang Maestro di Taman Ismail Marzuki. TIM.

Sabtu, 12 April 2014 yang lalu.

Perjalanan mulai dari Depok pukul 5 sore. Lebih sekitar lima belas menit ketika saya tiba di rumahnya Mas Jati untuk berangkat bersama naik “Mumun”—panggilan kesayangannya untuk mobil Suzuki Karimun mungil merahnya. Cuaca agak mendung, awan-awan hitam mengumpul, mau hujan. Ditambah ada takut akan kemacetan di benak saya, mungkin Mas Jati juga. Maklum, malam Minggu, bro.

Sementara itu, pertunjukan akan mulai pukul 8 malam gong. Kurang dari tiga jam lagi waktu kami menuju ke sana, yang juga mesti menyusul Bu Widya ke apartemennya untuk ke TIM bertiga. Jiyuu sudah berangkat terlebih dulu.

Singkat cerita.

Setibanya menjemput Bu Wid, mungkin waktu tinggal sedikit tersisa agar sampai di TIM tanpa terlambat. Karena perjalanan sebelumnya ternyata menemui kemacetan di sejumlah titik, seperti dekat Lebak Bulus, ITC Permata Hijau, dan lain-lain. Belum lagi harus menuju ke TIM-nya.

Belum sempat makan malam pula.

Sesampainya memasuki gerbang masuk TIM, parkiran tampak padat. Mobil-mobil antre. Dan waktu itulah—juga mungkin beberapa kali sebelumnya—saya mendengar prinsip tadi dari tuturan Mas Jati. Isih Jam Pitu. Masih jam tujuh (7, 19.00). Itu pun semacam terapi ringan untuk beliau, yang juga mungkin—karena juga sudah beberapa kurun waktu lamanya mengaspal jalanan Jakarta—mengalami rasa terburu-buru, tergesa-gesa. Itu supaya tetap tenang. Tanpa panik. Berserah. Menenangkan diri.

Di banyak kota besar, say Singapura, Tokyo, Hong Kong, atau Jakarta, tentu kebanyakan orang yang bergerak cepat, berjalan cepat, dan serbacepat lainnya. Seolah tak bisa lagi, atau jarang, menikmati segala sesuatu.

            Saya juga yang masih naik motor untuk berangkat serta pulang kerja—yang dulunya mungkin mampu santai menikmati jalan raya—sekarang pun hampir sering tergesa-gesa. Maklum, Jakarta, jarang ada pengendara yang mau mengalah, tidak seperti ujar salah satu dosen saya dahulu, yaitu di Jepang para pengendaranya masih mau mendahulukan orang lain di jalan.

Semoga prinsip Isih Jam Pitu mengingatkan supaya kita masih mau menikmati momen. Waktu mengerjakan sesuatu. Tanpa terburu-buru. Walau memang mesti fleksibel dan tahu kapan perlu cepat atau lambat. Melambatlah sesaat. Saat merasa tergesa-gesa dan harus cepat, pikirkan, ataupun katakan, “Isih Jam Pitu.”

Isih jam pinten sak niki ning Jogja, Mas Jati...?


Referensi:


Jiyuu & Bu Wid













Mas Jati & saya














Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***