April 25, 2014

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"


Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”

Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.

Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebihan. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Saya serahkan kepada pembaca untuk menyaring isi buku ini menjadi teori-teori yang siap pakai.”

Jadi, saya bukanlah “orang dalam” atau orang yang pernah mengalami tragedi yang dialami oleh Viktor E. Frankl. Namun, jika Viktor E Frankl pernah berada di penjara dan kamp konsentrasi, saya pernah berada di penjara pikiran. Viktor E. Frankl menuangkan pengalaman dan teorinya. Saya ingin menuangkan pemikiran terhadap tulisan tersebut.

Saya pernah membaca tentang penjara pikiran karya Dr Alex Pattakos. Beliau juga menuangkan pemikirannya terhadap buku Man's Search For Meaning. Dr Alex Pattakos menuangkannya dalam buku berjudul Lepas Dari Penjara Pikiran. Saya tidak bermaksud menyamai Dr Alex. Saya bersyukur terhadap karyanya yang bagus. Saya hanya menuangkan pikirkan saya di balik fakta-fakta dan teori-teori Viktor E. Frankl dalam Man's Search For Meaning. Sebenarnya saya ingin membahas halaman demi halaman secara berurutan. Namun, ada kalanya melompat pemikiran demi pemikiran, yang membuat saya membahas secara melompat halaman demi halaman.

Sebagaimana Viktor E. Frankl mencari tujuan hidup di balik penderitaan yang dialaminya, sesuai dengan judul bukunya Man's Search For Meaning, saya pun ingin dan masih mencari tujuan hidup. Namun, apakah pencarian ini hanya untuk menutupi luka mendasar atau “lubang yang lain”, seperti dosa seksual? Seperti halnya meminum minuman keras hanya untuk mengalihkan penderitaan akibat masalah rumah tangga dan lain-lain? Tidak. Tidak. Saya hanya ingin berbuat sesuatu. Sesuatu itu adalah menulis pemikiran ini. Semua yang tangan saya temukan ingin saya kerjakan sepenuh hati. Semoga tulisan ini menggugah Anda.

Di Balik Semua Pahlawan Besar Pasti Ada Tragedi
Ada orang yang berkata, “Tunjukkan padaku seorang pahlawan, akan aku tunjukkan sebuah tragedi.” Semoga itu tragedi yang pernah terjadi atau yang sedang terjadi untuk berhenti, bukannya tragedi yang akan terjadi.

Viktor E. Frankl adalah “pahlawan” yang pernah mengalami tragedi. Ia pernah disekap oleh Nazi di kamp-kamp konsentrasi seperti Dachau dan Auschwitz. Tragedi atau penderitaan ini bukanlah diakibatkan oleh dirinya sendiri, melainkan situasi di luar kuasanya dan karena pihak Nazi.

Mengapa Tidak Bunuh Diri Saja?
Viktor E. Frankl sering mengajukan pertanyaan kepada para pasiennya saat ia menjadi dokter ahli jiwa, “Mengapa Anda tidak bunuh diri saja?” Ya, saat banyak penderitaan terjadi dalam hidup dan seolah tiada jalan keluar dari setiap permasalahan, mengapa tidak bunuh diri saja? Apa yang menyebabkan seseorang mau tetap hidup dan bertahan? Siapa yang menjadi alasan sehingga seseorang tidak mau bunuh diri?

Bunuh diri itu mudah. Namun, bunuh diri juga susah. Tidak takut bunuh diri? Mengapa seseorang tidak takut bunuh diri? Untuk menetapkan alasannya menjadi satu tidak mudah. Alasannya bisa saja karena kehilangan akal sehat, kehilangan harapan, dan mencapai titik didih tidak ada lagi harapan hidup. Bukankah bunuh diri berarti “membunuh” Tuhan?

Alasan seseorang tidak bunuh diri itu banyak. Di antaranya: mencintai anak-anaknya; ada bakat yang bisa dimanfaatkan; memiliki kenangan yang layak dilestarikan; ada tugas yang menanti untuk diselesaikan; orang-orang dan keluarga yang menunggu di rumah; dan mencintai kehidupan.

Viktor E. Frankl senang mengutip kata-kata Friedrich Wilheim Nietzsche: “He who has a why to live for can bear with almost any how” (Ia yang memiliki alasan [mengapa] untuk hidup, bisa mengatasi keadaan apa pun). “Was mich nich umbringt, macht mich staerker” (Apa yang tidak membunuhku, menjadikan aku lebih kuat).

Jadi, untuk alasan-alasan itulah seseorang bisa mau tetap hidup dan tidak bunuh diri. Viktor E. Frankl punya alasan untuk hidup. Ia tidak ingin bunuh diri, walaupun kadang terbersit keinginan itu di pikirannya.

Kerendahhatian
“Meskipun demikian, pada awalnya buku ini ditulis dengan keyakinan penuh, bahwa sebagai sebuah karya tanpa nama, buku ini tidak akan membawa ketenaran kepada penulisnya.”

Awalnya, Viktor E. Frankl tidak ingin mencantumkan namanya pada Man's Search For Meaning. Namun, setelah mendengarkan nasihat teman-temannya, ia menulis namanya. Buku itu pun sukses besar. Buku itu dipublikasikan dalam 19 bahasa. Edisi bahasa Inggris-nya sudah terjual lebih dari 500 ribu kopi.

Sifat rendah hati Viktor E. Frankl terlihat. Kerendahhatian membuat seseorang tetap pada jalurnya dan memampukannya untuk melihat melampaui diri sendiri. Orang yang meninggikan diri akan direndahkan. Orang yang merendahkan diri akan ditinggikan. Viktor E. Frankl menulis:

“Jangan mencari sukses─semakin keras kamu berupaya dan menjadikan sukses sebagai target, semakin sulit kamu meraihnya. Karena sukses, seperti juga kebahagiaan, tidak dapat dikejar; dia harus terjadi, dan itu hanya bisa diraih sebagai efek samping dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang lebih bermakna, sebagai produk samping dari penyerahan seseorang kepada orang lain di luar dirinya.”

Penomoran
Setahu saya, pemanggilan seseorang dengan sebutan nomor hanya pada ujian olah raga di sekolah. Kalau di penjara juga ya, saya tidak tahu. Nomor tahanan Viktor E. Frankl di kamp konsentrasi adalah 119.104.

Bayangkan jumlah tahanan di kamp yang sempit. Masing-masing tahanan lain juga mempunyai nomor.

Bayangkan nama seseorang tidak berarti lagi selain nomor. Bolehkah saya memnaggil Anda dengan sebutan nomor? Nomor 117, apa kabarmu? Tidak. Tidak. Penyebutan nomor hanya untuk mesin dan robot. Selain itu, semua hanya situasi di luar keinginan atau kuasa seseorang sehingga ia dipanggil dengan sebutan nomor.

Setiap manusia saat lahir memiliki nama. Jika diberi nama dengan sebutan nomor, kasihan yang lahir urutan 7 miliar. Namanya kepanjangan. Seorang ibu yang melahirkan pun jarang memberi nama anaknya dengan sebutan nomor. Namun, para dokter terkadang menyebut nama para pasien dengan sebutan nomor─bukannya nama-nama mereka yang terhormat, cantik, indah, dan bagus.

William Shakespeare memang pernah berujar, “Apalah arti sebuah nama?” Namun, nama itu berarti. Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar.

“Tidak penting tahanan yang mana, karena mereka tidak memiliki arti apa pun kecuali nomor. Pihak berwenang hanya tertarik pada nomor-nomor tahanan. Nomor-nomor tersebut biasanya ditatokan di kulit mereka, dan kemudian dijahitkan lagi pada bagian celana, kemeja, jaket, atau mantel mereka. Setiap penjaga yang ingin menghukum seorang tahanan hanya perlu melirik nomor tersebut. Dia tidak pernah menanyakan nama tahanan.”

Semoga hidup dan tindakan seseorang sesuai dengan nama yang disandangnya. Tindakan baik akan menjadikan nama baik. Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar. Nama baik akan dikasihi orang. Dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.

Aku Membayangkan
Saya ingin membayangkan beberapa kalimat demi kalimat yang menceritakan pengalaman Viktor E. Frankl.

“Karena buku ini berkisah tentang pengalaman saya sebagai seorang tahanan biasa, saya harus mengatakan, dengan bangga, bahwa saya tidak pernah dipenjarakan sebagai ahli jiwa, bahkan tidak sebagai dokter, di kamp tersebut, kecuali selama beberapa minggu terakhir.

“Beberapa rekan sejawat saya cukup beruntung karena dipekerjakan di dalam unit-unit palang merah dengan kondisi buruk, untuk memasang perban yang terbuat dari potongan-potongan kertas bekas. Tetapi saya, tahanan nomor 119.104, hampir sepanjang waktu ditugaskan untuk menggali dan membuat lintasan jalan kereta api. Sekali waktu, saya harus menggali sebuah terowongan, tanpa bantuan siapa pun, untuk menempatkan pipa utama saluran air di bawah sebuah jalan.”

Pasti sangat sedih.

“Hampir sepanjang waktu ditugaskan untuk menggali dan membuat lintasan jalan kereta api.”

Viktor E. Frankl mungkin pernah meratapi dan merenungi nasibnya. Bayangkan, seorang dokter yang dipaksa membuat lintasan jalan kereta api!

“Saya harus menggali sebuah terowongan, tanpa bantuan siapa pun, untuk menempatkan pipa muatan saluran air.”

Ia pasti pahit hati. Ia menangis. Mengapa aku tidak bunuh diri saja? Di dalam terowongan itu ia sesekali terduduk meneteskan air mata tentang keadaannya. Ia tersedu-sedu. Mengapa ia tidak bunuh diri saja? Ia bisa saja memakai kapak atau pacul untuk mengakhiri hidupnya. Ia sendirian. Ia marah. Marah kepada Tuhan, diri sendiri, dan Nazi.

Itu hanya bayangan saya. Siapakah yang tahu walaupun Vitor E. Frankl mengalami semua itu, ia tetap bertahan? Walaupun ia sesekali menangis, ia tetap meneruskan pekerjaannya “sebaik mungkin”. Meskipun ia sesekali marah kepada Tuhan karena penderitaan yang ia alami, ia menyadari bahwa Tuhan tetap baik.

Periode Awal, Periode Kedua, Periode Akhir
Menurut Viktor E. Frankl, para tahanan melalui tiga fase sebagai reaksi mental terhadap kehidupan di kamp konsentrasi. Periode awal, tahanan mulai masuk ke kamp konsentrasi. Terjadi syok, bahkan sebelum secara formal masuk ke dalam kamp konsentrasi.

Periode kedua, para tahanan mulai dikelilingi dan terbiasa oleh rutinitas kehidupan kamp konsentrasi. Inilah saat timbulnya rasa apati pada para tahanan terhadap kehidupan kamp, baik terhadap kejadian yang mengerikan maupun menyentuh perasaan. Periode ketiga atau periode akhir, periode setelah pelepasan dan kebebasan tahanan.

Kehidupan nyata dan kehidupan spiritual juga memiliki tiga periode. Dalam kehidupan, apabila seseorang hidup tidak benar, periode awalnya adalah syok terhadap kehidupan. Ia masuk dalam kehidupan gelap, memabukkan, dan dosa. Saat ia terbiasa dengan kehidupan itu, ia masuk ke dalam periode kedua. Ia apati terhadap yang jahat dan yang benar. Walaupun kadang ingin meninggalkan yang jahat, tebersit kemunafikan terhadap yang baik.

Periode ketiga adalah saat ia mengalami sesuatu yang membuatnya bertobat dan terbebas dari hidupnya yang jahat. Sedangkan, untuk seseorang yang memilih pada awalnya untuk hidup benar, yakinlah bahwa Tuhan akan memberikan upah dan mengangkat Anda pada waktunya―bersabarlah. Walaupun produk hidup benar dengan produk hidup tidak benar bisa saja sama pada akhirnya. Lebih baik hidup benar sejak awal.

Anda tahu? Anak muda yang sering memakai narkotik dan ganja, apabila suatu saat ia melihat banyak gedung-gedung pencakar langit, ia akan kaget, linglung, dan bingung.

Dalam kehidupan spiritual, entah orang baik, entah mantan orang jahat, setelah mata hatinya tercelik dan reborn, ia akan masuk ke periode awal. Ia akan syok setelah beberapa hari memasuki periode awal ini. Periode kedua adalah saat ia menjalani kehidupan dan terbiasa dengan rutinitas. Ia bisa apati atau setengah hati terhadap yang baik. Ia pun bisa simpati dan sepenuh hati terhadap yang baik.

Periode ketiga atau periode akhir adalah saat ia benar-benar bebas. Namun, ia harus tetap waspada supaya tidak terjatuh lagi. Ia bisa saja lebih buruk daripada keadaan semula dan lebih jahat daripada yang pertama kali. Lebih baik ia tidak pernah mengenal kebenaran daripada mengenal lalu berbalik darinya. Ia mempunyai pilihan: mau hidup benar dan merdeka atau hidup jahat?

Orang yang Berani adalah Orang yang Takut, tetapi Menghadapi Rasa Takut Itu
“Saya sangat ketakutan, tetapi itu hal yang lazim, karena setahap demi setahap kami harus membiasakan diri dengan kengerian yang mencekam dan menakutkan.”

Saya tidak bisa membayangkan ketakutan dan kengerian yang dialami Nelson Mandela, Corie ten Boom, Richard Wurmbrand, Fyodor Dostoyevski, Martin Burnham, Dietrich Bonhoeffer, dan Viktor E. Frankl. Apakah orang-orang ini harus menderita dulu sebelum terkenal dan menemukan tujuan hidup? Tidak. Tidak. Mereka hanya dipandang layak. Mereka melupakan diri supaya tidak terkenal. Mereka menuju keabadian. Penderitaan ini 'kekhasan' mereka. Mereka pasti juga takut; tetapi mereka berani.

Delusion of Reprieve
Itu kondisi saat seorang terpidana mati, sesaat sebelum hukuman dilaksanakan, berkhayal bahwa ia akan diampuni pada menit-menit terakhir.

Orang yang berbuat dosa juga mengalami hal seperti ini. Ia merasa dosanya akan diampuni. Namun, ia terus berbuat dosa. Seperti halnya orang terjatuh dari lantai 30. Sesaat ia memang tampak tak apa-apa, tetapi sampai di tanah, ia mati... Seperti halnya orang yang bermain air raksa. Ia merasa tidak apa-apa. Lalu, ia terkena air raksa dan tubuhnya hancur... Seperti halnya orang yang memasukkan bola api ke dalam baju. Ia merasa tak apa-apa. Namun, kemudian ia terbakar...

Memang Tuhan mengampuni dosa jika kita mengaku dosa, memohon ampun, tidak menjadikan dosa sebagai kebiasaan, dan tidak berbuat dosa lagi. Memang pada menit-menit terakhir, dosa bisa diampuni. Namun, bisa juga tidak diampuni.

Harapan para tahanan dan Viktor E. Frankl di kamp konsentrasi supaya dibebaskan dari sana dan dari hukuman sangat kecil kemungkinannya.

“Hampir semua orang di gerbong kami berkhayal bahwa mereka akan diampuni, bahwa semua akan baik-baik saja. Kami tidak menyadari, makna dari peristiwa yang menyusul kemudian. Kami diminta untuk meninggalkan barang-barang bawaan kami di dalam gerbong kereta api, kemudian membentuk dua barisan―wanita di satu sisi, dan pria di sisi lain―untuk diperiksa oleh seorang serdadu SS senior.”

Ini bukanlah seperti perploncoan atau ospek di universitas-universitas. Hukuman oleh kakak kelas senior bisa ditunda. Harapan untuk pengampunan masih ada. Namun, ini nyata-nyata benar. Penundaan hukuman ialah khayalan. Harapan untuk penundaan itu kecil. Penghukumannya menuju kamar gas―tempat pembantaian massal.

Orang yang berbuat dosa bisa saja merasa dosa-dosanya akan diampuni saat menit-menit terakhir. Itu bisa terjadi. Bisa saja tidak. Ia minta ampun saat menit-menit akhir atau saat masih jauh dari menit-menit akhir. Namun, ia melakukannya karena ada motif lain. John Bunyan berkata...

“Oleh karena itu, mereka sama seperti penjahat yang berdiri di depan hakim. Ia bergetar menggigil dan tampak sangat menyesal. Namun, dasarnya karena ia takut akan tiang gantungan, bukan karena menyesal telah berbuat jahat.”

Kehidupan yang Telanjang
Kehidupan apakah yang bisa diandalkan dari benda? Benda-benda hanya untuk mempermudah. Apakah yang bisa Anda lakukan dengan uang satu juta? Anda bisa melakukan banyak hal dengan satu juta orang.

“Sementara kami menunggu acara mandi selesai, ketelanjangan kami membuat kami menyadari: bahwa kami benar-benar tidak memiliki apa pun kecuali tubuh kami―bahkan minus rambut. Yang kami milik secara harfiah, hanyalah kehidupan kami yang telanjang. Benda apa yang masih kami miliki...?”

Manakah yang lebih kuat, orang kota yang terdampar di desa atau orang pedesaan yang terdampar di kota? Orang kaya materi yang dipenjara di kamp konsentrasi atau orang miskin di tempat serupa? Orang kaya yang terdampar di suatu pulau terpencil tanpa penduduk atau orang pedalaman yang “terdampar” di kota besar? Saya rasa mereka semua bisa sama-sama lemah. Mereka juga bisa menguatkan hati.

Viktor E. Frankl sebelum ditahan bukan orang miskin. Apalagi ia dokter atau ahli jiwa. Ia kaya. Di balik itu, ia lebih kaya secara batin. Ini bisa membantu dan memampukannya menghadapi penderitaan di kamp konsentrasi.

“Dengan demikian, semua khayalan kami satu per satu dihancurkan; kemudian, tanpa diduga-duga, kami semua diliputi rasa humor yang menyakitkan. Kami tahu bahwa kami tidak bisa kehilangan apa-apa lagi kecuali kehidupan kami yang benar-benar telanjang dan menggelikan. Ketika air mulai mengalir, kami semua berusaha keras untuk melucu, baik tentang diri kami sendiri maupun tentang sesama tahanan.”

Rasa humor yang menyakitkan? Berusaha keras untuk melucu? Humor yang menyakitkan memang jika tidak ada lagi benda para tahanan yang bisa hilang selain bila mereka mati dengan kehidupan yang telanjang. Usaha keras apakah untuk melucu tentang diri sendiri dan sesama tahanan?

Dua Orang Saat Badai Salju
Ada cerita yang berkaitan dengan kalimat yang nanti saya kutip. Suatu hari ada tiga orang mendaki gunung bersalju. Cuaca saat itu sangat dingin. Tiga orang ini mendaki bersama hingga ke puncak. Setelah beberapa saat di puncak dan menikmati kemenangan, mereka mulai menuruni gunung. Namun, saat hampir tiba di kaki gunung, badai salju yang kencang dan dingin menyerang. Satu orang terjatuh karena hempasan angin. Ia terluka dan tak bisa berjalan.

Kedua orang lainnya yang masih mampu berjalan, bingung. Apakah mereka harus meneruskan perjalanan atau menunggu, menemani, dan menolong rekan mereka yang terluka? Beberapa jam berlalu. Cuaca terasa dingin. Mereka masih bertiga. Lalu, satu orang yang masih bisa berjalan ingin turun. Ia meneruskan menuruni gunung sendirian. Ia menjadi egois.

Tinggallah dua orang di tengah-tengah badai salju yang dingin. Jika mereka berdua tetap di situ dan tidak segera turun, mereka akan mati kedinginan dan membeku. Namun, kalau turun susah, karena satu orang terluka dan tidak bisa berjalan. Bagaimanapun, orang yang masih mampu berjalan mengambil keputusan untuk turun dengan menggendong rekannya yang terluka! Mereka mulai turun. Walaupun berat, mereka tetap berjalan. Teman sejati selalu sejati saat keadaan susah dan dalam penderitaan.

Akhirnya, sampailah mereka berdua sampai di kaki gunung. Alangkah terkejutnya mereka melihat teman mereka yang egois turun tadi mati terkapar beku di sana. Ia mati kedinginan. Sedangkan, karena mereka berdua berpelukan─orang yang bisa berjalan menggendong rekannya yang terluka─tubuh mereka berdua bisa tetap hangat menerjang badai. Mereka berdua pun selamat.

Inilah kalimat yang ingin saya kutip:

“Tentu saja kami hanya bisa tidur menyamping, berdesak-desakan dan saling himpit, yang cukup bermanfaat mengingat dinginnya udara saat itu.”

Berdua lebih baik daripada seorang diri. Mereka akan menerima upah yang baik karena jerih payah mereka. Kalau satu orang jatuh, yang seorang mengangkat temannya. Namun, wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkat! Kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas. Bagaimana seorang saja menjadi panas? Dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Ini berbicara mengenai sesama rekan. Sesama rekan dapat meraih lebih, saling melengkapi, menyediakan dukungan, rasa hangat, dan saling memberikan kekuatan.

Berhenti Sejenak
Buku Man's Search For Meaning dan tulisan ini berkaitan dengan tujuan hidup. Namun, apakah semua hal ini hanya sebagai pengalih dari masalah sebenarnya? Apakah hanya sebagai pengalih dari masalah belum bekerja, masalah masa lalu, dan lain-lain? Tidak. Tidak. Saya hanya ingin berbuat sesuatu. Bukankah ini juga bekerja? Sedangkan mengenai pengalih untuk masalah masa lalu, masalah seksualitas, dan lain-lain, itu bisa saja. Namun, saya hanya ingin berbuat sesuatu. Sesuatu itu adalah menggugah Anda dan menambah pengetahuan.

Pentingnya Menabung
Anda menabung jika Anda juga memberi. Jika Anda memberi, akan mengikis keserakahan dan melatih hati Anda untuk mengucap syukur dalam belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Viktor E. Frankl juga senang menabung─walaupun sekadar menabung atau menyimpan roti di kamp konsentrasi.

“Kami bisa terlihat dalam debat yang masuk akal, atau tidak masuk akal, tentang cara terbaik menghabiskan sedikit jatah roti yang hanya dibagikan sekali sehari, di akhir masa tahanan kami. Ada dua aliran pemikiran. Kelompok pertama lebih suka menghabiskan jatah roti mereka sekaligus.

“Cara ini memiliki dua manfaat. Pertama, menghilangkan rasa lapar yang amat sangat meskipun untuk jangka waktu yang pendek, setidaknya sekali sehari, sekaligus menjamin jatah tersebut tidak dicuri atau hilang. Kelompok kedua lebih suka membagi jatah itu menjadi dua bagian, dengan berbagai alasan tertentu. Saya sendiri akhirnya masuk ke dalam kelompok kedua.”

Menabung membuat seseorang memikirkan masa depan. Semoga menabung membuat seseorang bukan bekerja untuk uang. Viktor E. Frankl tidak bekerja untuk uang. Jika kita benar-benar tidak bekerja untuk uang atau mengejar uang, uang akan bekerja untuk kita dan mengejar kita. Viktor E. Frankl berkata,

“Saya sama sekali tidak bekerja untuk uang. Saya bekerja di sebuah klinik khusus untuk orang-orang miskin.”

Kehidupan di kamp konsentrasi itu abnormal. Situasi abnormal menyebabkan reaksi abnormal. Siapakah yang layak menghakimi kehidupan dan yang dilakukan para tahanan demi roti atau makanan?

“Reaksi abnormal terhadap situasi abnormal merupakan tingkah laku yang normal.”

Siapakah yang layak menghakimi seorang perempuan yang melacurkan diri demi uang untuk memberi makan adik-adik atau anak-anaknya? Sedangkan, orang lain dan orang kaya tiada peduli kepadanya? Siapakah yang layak menghakimi ibu tua yang mencuri makanan demi menutup rasa laparnya? Sedangkan, orang-orang lain perutnya gemuk?

Viktor E. Frankl juga mengerjakan apa pun yang dijumpai oleh tangannya sebaik mungkin dan sepenuh hati. Ia cepat belajar, bahkan terhadap hal yang belum pernah ia pelajari.

“Jika Anda bisa belajar dari saya melaksanakan operasi otak secepat saya belajar membangun jalan ini dari Anda, saya akan sangat menghormati Anda.”

Apa yang Membuat Seseorang Hilang Pemikiran untuk Memikirkan Gairah Seksual?
Apakah karena teman? Apakah karena adanya kejahatan? Apakah karena ada orang banyak? Bisa ya, bisa tidak. Pada akhirnya, peperangan itu kembali pada hati dan pikiran seseorang. Jika pikirannya sejati, wataknya sejati. Jika pemikiran diisi pikiran yang bagus, suci, mulia, sedap didengar, murni, adil, patut dipuji, dan baik, pikiran pun akan bagus.

Di kamp konsentrasi, ternyata pikiran para tahanan dan Viktor E. Frankl tidak lagi memikirkan gairah seksual. Apa penyebabnya? Cara tercepat menetralkan daya tarik pencobaan adalah mengalihkan perhatian kita kepada sesuatu yang lain. Alihkan pikiran. Sesuatu yang menangkap perhatian akan membangkitan emosi. Alihkan pikiran Anda dengan hal lain.

“Kekurangan gizi, selain membuat kami selalu memikirkan makanan, mungkin juga menjadi penyebab hilangnya gairah seksual yang secara umum dirasakan hampir semua tahanan. Selain dampak dari rasa terkejut yang diderita tahanan di awal kehidupan kamp, hilangnya gairah seksual merupakan jawaban dari fenomena yang cenderung teramati seorang psikolog pada pria di kamp konsentrasi.

“Tidak seperti yang lazim teramati pada komunitas khusus pria yang hidup di bawah disiplin ketat─misalnya, barak-barak tentara─penyimpangan seksual tidak teramati dalam kehidupan kamp. Bahkan dalam mimpi-mimpi mereka, para tahanan tidak pernah memikirkan seks, meskipun emosi mereka yang frustrasi, dan perasaan-perasaan lain yang lebih halus dan lebih tinggi kerap terungkap dalam ekspresi seksual.”

Upaya untuk tetap hidup, melindungi nyawa teman, memikirkan Tuhan dan orang-orang terkasih, dan mendengarkan para sesama tahanan yang butuh didengarkan, menjadi penyebab teralihnya atau hilangnya gairah seksual.

Bagaimana dengan seseorang yang masih berada di penjara kehidupan? Orang itu malahan cenderung memikirkan gairah seksual. Pikirannya terfokus semata-mata pada hal itu, bukannya hal-hal lain atau tahanan-tahanan lain. Orang ini harus bebas dan keluar dari perhatian itu kepada hal-hal lain.

Penjara Hidup
Ada penjara hidup
yang teralinya bukan dari besi
yang tembok dan dindingnya bukan dari batu
Ada penjara hidup
yang tembok dan dindingnya adalah udara
yang teman-teman selnya bukanlah napi
melainkan sikap-sikap
si penyendiri mencari keinginan sendiri
prasangka
kesepian dan rasa sepi
Berada di dalam penjara hidup ini
lebih tidak enak
berada di dalam penjara
juga lebih tidak enak, mengerikan, susah bertahan

Apakah ada harapan?
apakah ada harapan?
Inginnya bebas dari penjara hidup ini
bebas dari terali pemikiran yang salah
dan menghirup menikmati udara yang sesungguhnya
sehingga kehidupan bisa dinikmati
bergaul erat dengan orang-orang
membebaskan yang masih terpenjara
dan menyerahkannya kepada Penjamin dan Pembebas
yang agung dan berkuasa
Selalu ada harapan

Kekayaan Batin
Almarhum Edwin Louis Cole berkata, “Waktu tidak hanya diukur dengan tahun, tetapi dengan pengalaman batin.”

Waktu cepat berlalu. Tak terasa kita sudah tua. Namun, yang dapat membangkitkan kita dan waktu akan terasa baik lebih dari ukuran tahun adalah pengalaman batin yang baik. Pengalaman batin kebaikan yang kita lakukan untuk orang-orang. Pengalaman batin yang Tuhan lakukan untuk kita. Kekayaan batin membuat seseorang mampu menghadapi sulitnya kehidupan. Tubuh yang kuat memang kuat. Namun, batin yang kuat mampu menanggung segalanya dan menerima apa pun.

“Mereka mampu mengasingkan diri dari kehidupan di sekitar mereka yang sulit, ke dalam kehidupan batin yang kaya dan kehidupan spiritual yang bebas. Hanya ini yang bisa menjelaskan kontradiksi, mengapa orang-orang yang tubuhnya rentan mampu mengatasi kehidupan kamp secara lebih baik dibandingkan mereka yang bertubuh lebih kokoh.”

Semua kekayaan batin itu membuat Viktor E. Frankl masih mampu menghadapi penderitaan dan kehidupan yang sulit di kamp konsentrasi.

Tubuh Viktor E. Frankl pun mulai kurus. “Tubuh ini, tubuh saya, sudah benar-benar seperti sesosok mayat. Apa yang terjadi pada diri saya? Saya sudah berubah menjadi seonggok daging kecil manusia...” Belum lagi ditambah syok dan apati.

Satu lagi kekayaan batin yang dimiliki oleh Viktor E. Frankl adalah kenangannya—ingatannya untuk istri tercintanya...

“Sesekali saya mengangkat wajah menatap ke langit, ke arah bintang-bintang yang mulai memudar, ke arah cahaya pagi kemerahan yang mulai mengintip dari balik awan yang gelap. Pikiran saya terus berpegang pada gambaran istri saya, membayangkannya dengan ketepatan yang luar biasa.

“Saya mendengar dia menjawab perkataan saya, melihatnya tersenyum, tatapannya yang jujur dan memberi semangat. Nyata atau tidak, tatapan matanya lebih terang daripada cahaya matahari yang mulai terbit.”

“Jika saya tidak kembali lagi pada istri saya, dan seandainya kamu bertemu dengannya, katakan kepadanya bahwa saya berbicara kepadanya setiap hari, setiap jam. Ingat itu.

“Kedua, katakan bahwa saya mencintai dia lebih dari siapa pun.

“Ketiga, katakan bahwa pernikahan kami yang singkat [karena pemenjaraan terpisah oleh Nazi, pen.] lebih berarti daripada apa pun, meskipun kita semua harus berada di tempat ini.”

Cinta untuk orang terkasih, mencintai dan dicintai, membuat seseorang mampu tetap berharap dan bertahan. Kenangan dan ingatan yang indah atas orang yang terkasih membuat seseorang tetap berada pada jalur yang indah.

Seperti halnya kenangan dan ingatan John Wooden untuk istrinya, Nellie, yang dapat tetap membuatnya bertahan hidup dan berhasil, meskipun istrinya telah meninggal. Cinta, kerinduan, ingatan, dan kenangannya yang indah untuk Nellie, membuat John Wooden tetap pada jalur yang indah.

Kekayaan batin juga membuat seseorang menghargai keindahan alam. Hal ini terbukti dengan kata-kata Viktor E. Frankl:

“Ketika kehidupan batin tahanan mulia meningkat, dia juga menyadari keindahan seni dan alam yang sebelumnya tidak dia sadari. Di dalam pengaruh keindahan tersebut, dia bahkan sering melupakan keadaan di sekelilingnya yang menakutkan... Kami memandang kagum ke arah pegunungan di Salzburg dengan puncak-puncaknya yang keemasan ditimpa sinar matahari... Kami terpana melihat keindahan alam yang sudah lama tidak pernah kami saksikan.”

Johnny Cash, seorang yang telah bertobat dari hidupnya yang tidak benar berkata:
Someone told me another definition of God is 'Great Outdoors (Seseorang memberi tahu saya bahwa definisi lain dari Tuhan ialah Alam yang Luar Biasa).’”

Pentingnya Belajar, Menguasai Satu atau Dua Bahasa Asing
Semua bahasa itu elok. Viktor E. Frankl sepertinya mahir berbahasa asing. Selain bahasa nasionalnya, yakni bahasa Jerman, ia juga bisa bahasa Inggris dan bahasa Latin. Viktor E. Frankl sering mengutip kata-kata dalam bahasa Latin. Belajar dan menguasai bahasa asing membuat pikiran Anda lebih tajam. Mampu berbahasa dalam beberapa bahasa lokal atau daerah membuat Anda diterima di daerah lain.

Bahasa Inggris terdengar bagus karena dramatis. Akar bahasa Inggris juga banyak berasal dari bahasa Latin. Belajar bahasa Latin itu penting. Hal ini memang bukan dipaksakan bagi semua orang. Namun, hanya bagi orang yang mau dan sempat belajar.

Et lux in tenebris lucet (Dan secercah sinar menerangi kegelapan).”

Menguasai beberapa bahasa asing memberikan beberapa manfaat. Suatu saat Ibu tikus sedang berjalan bersama anaknya. Tiba-tiba kucing menyerang mereka. Si ibu tikus berteriak, “Guk.. guk.. guk!” dan kucing itu lari menjauh. “Lihat kan...?” kata ibu tikus kepada anaknya. “Sekarang apakah kamu tahu kenapa belajar bahasa asing itu penting?” Jika Anda pernah melihat film Braveheart, William Wallace pun menguasai beberapa bahasa asing. Dengan begitu, ia mampu berkomunikasi dengan musuh.

Humor Merupakan Senjata “Mematikan”
Bahkan di dalam kamp konsentrasi─tempat yang seharusnya tidak mungkin timbul humor─Viktor E. Frankl dan beberapa tahanan lainnya masih bisa mengembangkan humor! Dahsyat! Humor di dalam horor.

Humor dan tawa dapat mengangkat kita dari keterpurukan. Humor merupakan senjata untuk mematikan kesedihan dan keterpurukan. Namun, humor itu harus tulus dan benar-benar humor. Seseorang yang bisa membuat orang lain tertawa cenderung disukai. Renungkanlah nasihat dari Charlie E. Jones berikut ini:

Learn to laugh at yourself
Learn to help others laugh
Learn to laugh when you are up
Learn to laugh when you are down
Learn to laugh

(Cobalah untuk menertawai dirimu sendiri
Buatlah orang lain tertawa
Tertawalah saat engkau sukses
Tertawalah saat engkau terpuruk
Cobalah untuk tertawa)

Get people to think with you and you'll get them thinking better. Get them laughing, but don't let them laugh at you. Some comedians get people to laugh at them. And sometimes being a clown is necessary to loosen things up. But good managers, teachers, and salespeople learn how to get people to laugh at themselves. You begin by seeing things in perspective and learning to laugh at your own situations.

(Biarkan orang-orang berpikir denganmu, dan kau akan membuat mereka berpikir lebih jernih. Buat mereka tertawa, tapi kamu jangan tampak konyol. Meskipun terkadang tampil konyol itu perlu untuk mencairkan suasana. Dan, manajer yang andal, para guru, serta para salesman belajar untuk membuat orang-orang menertawai diri mereka sendiri. Engkau mulai dengan melihat hal-hal dalam perspektif atau pandangan lebih dalam dan luas, serta belajar tertawa dalam keadaanmu.)

Viktor E. Frankl mengungkapkan pengalamannya tentang humor:

“Humor merupakan senjata jiwa yang lain dalam upaya seseorang untuk bertahan hidup. Sudah lama diketahui bahwa humor, lebih dari apa pun, bisa mengatasi keterasingan dan mampu muncul dalam situasi apa pun, meskipun hanya beberapa detik.

“Saya bahkan mengajak seorang teman yang selalu bekerja berdampingan dengan saya di lokasi bangunnan untuk terus mengembangkan rasa humor kami. Saya mengusulkan agar kami berdua membuat setidaknya satu anekdot lucu setiap hari, tentang peristiwa yang mungkin terjadi setelah kami bebas nanti.

“Orang itu dulunya seorang asisten ahli bedah yang bekerja di sebuah rumah sakit yang besar. Suatu hari saya mencoba membuatnya tersenyum dengan menggambarkan apa yang terjadi, jika suatu saat dia kembali ke pekerjaan lamanya dan ternyata tidak bisa menghilangkan kebiasaannya di kamp. Di lokasi bangunan (terutama jika si penyelia sedang melakukan pemeriksaan), mandor kami selalu mendorong agar kami bekerja lebih cepat dengan meneriakkan kata-kata: 'Kerja, kerja!’

“Saya katakan kepadanya, 'Suatu hari Anda kembali ke ruang operasi, dan melakukan sebuah operasi besar di perut pasien. Tiba-tiba, seorang petugas masuk ke ruang operasi mengumumkan kedatangan seorang ahli bedah senior, sambil berteriak, 'Kerja, kerja!'”

Kesedihan dan keterpurukan menarik Anda untuk tidak tertawa. Kesedihan dan keterpurukan membuat wajah Anda tidak berseri-seri. Kesedihan dan keterpurukan tidak mengenal tawa. Sekumpulan kesedihan yang terjadi berulang-ulang selama bertahun-tahun dapat membuat wajah Anda umur 40 atau 50 tahun nanti tidak tampak baik. Injil tidak pernah menyebutkan bahwa Iblis tertawa. Namun, Injil pernah mengatakan bahwa Tuhan tertawa: “Dia (Tuhan), yang bersemayam di Surga, tertawa.” (Mazmur 2:4, parafrasa)

Hancur hati dan remuk jiwa dibutuhkan apabila kita jatuh dan terpuruk dalam dosa. Dalam hal ini, tawa harus diganti dengan ratap tangis. Sukacita harus diganti dengan dukacita. Koyakkan hati, bukannya pakaian. Bukan sekadar penampilan luar yang bertobat. Siapa tahu, Tuhan berbelas kasihan kepada kita? Kasih setia-Nya besar dan tak berkesudahan. Selalu baru setiap pagi.

Pekerjaan
Bagaimana bila seseorang melakukan pekerjaan yang tidak ia cintai? Bagaimana bila seseorang terpaksa melakukan pekerjaan itu karena tiada cara lain menghindarinya? Saya pernah dalam posisi melakukan pekerjaan yang tidak saya cintai, sehingga bertahan satu sampai dua hari saja!

Apakah saya bersalah? Apakah karena tiada alasan (a why to work for) yang kuat untuk tetap bekerja dan melakukannya, maka saya mundur? Apakah karena alasan-alasan sepele atau dalih saja saya tidak bertahan, meskipun seandainya bisa terus bertahan dan bekerja jika terpaksa atau dipaksa?

Saya merenungkan dan membayangkan orang-orang yang mencintai pekerjaannya. Mereka melakukan atau menghasilkan banyak produk dan bekerja maksimal. Saya membayangkan Jackie Chan. Ia sudah membintangi puluhan film, bahkan mungkin melebihi 100 judul film.

Saya membayangkan Shannon Miller. Walaupun dia pernah gagal, dia bangkit dari kegagalan dan memperoleh banyak medali kejuaraan senam.

Saya mengingat Mel Gibson. Ia selalu total dan maksimal bermain film. Mengapa mereka seperti ini? Apakah hanya karena mencintai apa yang mereka lakukan? Tiada pekerjaan yang tiada kudus. Hal yang membuat perbedaan hanyalah alasan seseorang melakukan yang ia kerjakan.

Apakah salah bila seseorang bekerja supaya kaya? Abraham, Yusuf, Ayub, Raja Salomo adalah orang-orang kaya. Namun, Yesus Kristus rela menjadi tukang kayu. Ia mengubah kayu kasar menjadi halus. Ia membersihkan ranting-ranting dan membentuk kayu-kayu. “Kayu” yang sesungguhnya adalah diri kita. Ia mampu mengubah dan membentuk hidup kita menjadi indah di mata-Nya.

Bagaimana tentang orang yang iri terhadap pekerjaan orang lain? Pekerjaan yang lebih baik dan pekerjaan buruk yang “lebih baik”? Viktor E. Frankl menulis:

“Kami juga iri terhadap tahanan yang bisa bekerja di pabrik, atau di dalam ruang tertutup! Semua orang berharap mereka memperoleh keuntungan serupa yang bisa menyelamatkan hidup mereka. Skala keberuntungan relatif bahkan bisa terentang lebih panjang. Di antara para tahanan yang bekerja di luar pun (saya adalah salah satu dari tahanan tersebut), ada beberapa kelompok tahanan yang dianggap lebih beruntung dibandingkan dengan kelompok lain.

“Seorang tahanan bisa iri terhadap tahanan lain yang tidak perlu bekerja di tengah genangan lumpur di sebuah tanjakan curam untuk membersihkan bak-bak di lintasan kereta api kecil selama dua belas jam sehari. Di tempat itu kecelakaan sering terjadi, dan biasanya cukup fatal.”

Karakter Anda Diuji
Being God's kind of leader,” kata Dr John C. Maxwell, “means refusing even the smallest compromise in what you believe.

Berbagai permasalahan tidaklah membentuk karakter Anda, melainkan—seperti terang sinar matahari—memunculkan atau menampakkan karakter Anda. Terkadang permasalahan dan penderitaan membuat Anda ragu dalam hal-hal yang Anda percayai. Baik permasalahan kecil maupun besar, bahkan sampai mendatangkan risiko kematian akan menguji Anda. Permasalahan akan menguji karakter Anda—manusia seperti apa dan “terbuat dari apa” Anda? Viktor E. Frankl menulis”

“Dan jika saya memang harus mati, setidaknya kematian saya punya arti.”

Karakter adalah pilihan—seperti halnya kehidupan. Apa yang akan kita pilih untuk perbuat? Jika kita siap mati, kita pun siap untuk benar-benar hidup.

“Karakter seseorang diuji sehingga dia terperangkap di dalam pergulatan mental yang mengancam semua nilai yang dia percayai dan melemparkannya ke dalam keraguan... Jika orang yang berada di kamp konsentrasi tidak berjuang melawan pengaruh ini sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan harga dirinya, maka orang tersebut akan kehilangan perasaan sebagai sebuah pribadi, sesosok makhluk hidup yang memiliki pikiran, kebebasan batin dan nilai-nilai pribadi.”

Jika itu terjadi, orang atau tahanan yang mengalami hal itu akan...

“Kehilangan kepercayaan kepada kekuatannya untuk bertahan, dan sekali kepercayaan itu hilang, keinginan untuk hidup biasanya tidak akan pernah kembali lagi.”

Karakter itu pilihan. Apa yang akan kita pilih untuk perbuat? Tidak takut mati. Tidak takut hidup. Lebih baik mati ketimbang kehilangan Yang Berarti—keluarga, kepercayaan kita, dan Tuhan.

Kita tidak boleh langsung menghakimi orang-orang yang salah dalam membuat pilihan. Kita tidak boleh hanya melihat dari satu sisi. Dunia tidak hanya hitam dan putih. Ada banyak sisi dalam kehidupan orang-orang. Orang-orang tidak hanya hitam dan putih.

Anda masih ingat tentang pelacur yang harus melacurkan diri demi memperoleh uang untuk memberi makan adik-adiknya? Dan ibu tua yang harus mencuri karena tidak ada orang yang mau memberi makan? Kita harus memandang kehidupan orang-orang dari banyak sisi. Viktor E. Frankl berkata,

“Tidak ada orang yang bisa menghakimi, kecuali jika orang tersebut sungguh-sungguh yakin, bahwa dalam kondisi serupa, dia tidak akan melakukan hal yang serupa.”

Berhenti Sejenak (Selah) II
Saya ingin berhenti sebentar. Saya juga ingin Anda menunggu. Apakah saya nantinya akan melupakan semua yang saya tulis ini? Semoga tidak. Apakah Anda melakukan hal-hal yang Anda tulis atau baca?

Pentingnya Komunitas
Saya tidak ingin menggurui. Saya hanya ingin menuangkan pemikiran dan berbagi. Bila saya mencoba menggurui atau menyuruh, tetapi belum atau tak pernah melakukannya, tulisan ini percuma. Saya hanya ingin menuangkan pemikiran. Saya juga ingin menerapkannya.

Kita membutuhkan komunitas. Bukanlah komunitas yang membutuhkan kita! Komunitas diperlukan untuk keselamatan hidup seseorang. Jika seseorang mulai masuk ke dalam komunitas, ia tidak perlu malu atau berprasangka. Carilah dan jadilah teman baru. Jadilah sahabat!

“Dalam upaya seseorang untuk menyelamatkan hidupnya, maka dia akan berusaha melebur di dalam kerumunan.”

Kerumunan tersebut dapat kita artikan baik secara harfiah maupun konotasi. Secara harfiah berarti kumpulan atau kerumunan. Secara konotasi, saya mengartikannya sebagai komunitas. Saya mempunyai ilustrasi. Suatu hari, plat nomor sepeda motor saya sudah habis masa berlakunya. BPKB-nya sudah kadaluwarsa. Saat saya mengendarai sepeda motor saya di jalan raya, saya berupaya melebur ke kerumunan sepeda motor yang lain agar tidak ketahuan dan tertangkap polisi. Apalagi SIM saya pun sudah habis masa berlakunya! Sangat tidak enak perasaan hati kita karena merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Saya mengerti bahwa yang saya lakukan itu salah. Namun, yang ingin saya sampaikan dari ilustrasi itu menekankan pentingnya kerumunan (komunitas). Karena...

“Kumpulan seperti itu benar-benar efektif.”

Seseorang perlu untuk mencari dan membuat teman baru. Ada istilah “musim sahabat”, yaitu ada waktunya kita berpisah dengan sahabat lama. Ada waktunya kita mencari sahabat baru. Kita juga perlu menjadi sahabat. Cara untuk mencari atau menjadi sahabat cukup sederhana: jadilah seperti anak kecil.

Ada ilustrasi: Di dalam sebuah pesawat, ada gadis kecil duduk bersebelahan dengan bapak yang sudah tua. Gadis kecil tersebut hendak menuju ke negara asing. Orangtuanya sedang menunggu kedatangannya di bandara tujuan. Gadis kecil itu merasa kesepian dalam pesawat. Dia ingin mencari teman. Dia bertanya pada bapak yang sudah tua tadi, “Paman, maukah Paman menjadi sahabatku?”

Dengan cara sederhana dan polos, gadis kecil itu mau mencari dan menjadi sahabat bagi orang lain atau orang asing. Dia tidak malu atau berprasangka. Kita kadang-kadang memang memerlukan waktu untuk menjauh sebentar dari komunitas. Kita pun perlu menjauh seterusnya dari komunitas jika komunitas itu bejat. Viktor E. Frankl menulis:

“Ada saatnya, jika memungkinkan, bahkan sebuah kebutuhan, untuk menjauh dari kelompok. Seorang tahanan amat merindukan saat-saat dia bisa sendirian, hanya dengan pikiran-pikirannya. Dia mendambakan keleluasaan pribadi dan kesendirian...”

“Saya akan duduk, dan menatap lereng yang ditutupi bunga-bungaan berwarna hijau, atau menatap pemandangan bukit daerah Bavaria yang tampak biru di kejauhan, melalui kawat duri yang bertindak sebagai bingkai. Saya bermimpi dengan penuh kerinduan, dan pikiran saya mengembara jauh ke utara dan timur laut, ke rumah saya...”

Kesendirian dan kesepian itu tidak apa-apa. Namun, kesendirian dan kesepian kronis itu berbahaya, karena merasa sendiri dan sepi walaupun di tengah-tengah keramaian! Untuk mengatasi kesendirian dan kesepian, Anda dan saya harus melebur ke komunitas. Perasaan yang terbaik adalah tidak merasa sendiri atau sepi walaupun sedang sendiri.

Komunitas itu penting. Joyce Meyer pernah berkata, “Kita harus ingat saat kita mengucilkan diri... sebenarnya kita juga memenjarakan diri sendiri... Mungkin kita aman dari kemungkinan tersakiti, tetapi kita juga tidak dapat menikmati hidup dan cinta seperti selayaknya. Jika kita memagari diri dari seluruh dunia untuk melindungi diri agar tak tersakiti, kita menderita kesepian dan isolasi, selain juga rasa takut.”

Ada orang-orang yang kesepian dan tidak mau melebur ke komunitas karena tidak ingin terluka lagi atau melukai orang lain. Orang yang terluka atau pernah dilukai memang cenderung akan melukai orang lain. Ia tidak ingin masuk ke komunitas karena takut dilukai lagi dan melukai. Namun, kata-kata Viktor E. Frankl berikut ini patut kita perhatikan dan renungkan.

“Bahwa tidak ada orang yang berhak bertindak semena-mena, meskipun dirinya telah diperlakukan dengan semena-mena.”

Harta terbesar adalah sahabat. Bagi saya, Anda mungkin hanya seseorang biasa. Namun, bagi Seseorang, Anda mungkin orang luar biasa!

Komunitas itu penting. Kita saling menolong dan menanggung beban, sambil tetap menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Komunitas pun memerlukan doa. Melalui doa, kita akan menjadi dekat dengan:

1. Orang yang berdoa dengan kita (bersama siapa kita berdoa?)
2. Orang yang kita doakan (untuk siapa doa itu ditujukan?)
3. Tuhan (kepada siapa kita berdoa?)

Anda akan menjadi serupa dengan orang-orang yang terdekat dengan Anda. Anda pun akan menjadi serupa dengan yang Anda sembah. Kita bisa mengetahui para karyawan perusahaan dari pimpinannya. Karakter raja memengaruhi karakter kerajaan. Kita bisa mengetahui seseorang dari komunitasnya.

First You Lead Yourself, then You Lead Others. The First Organ You Lead Is Your Mind, the First Person You Lead Is Yourself
Dalam memimpin diri sendiri memerlukan disiplin diri. Musuh terbesar seseorang ialah diri sendiri. Kemenangan terbaik adalah mengalahkan diri sendiri. Bukan masalah atau gunung yang kita taklukkan, melainkan diri kita. Seperti halnya pelari, ia mengalahkan sifat-sifat jelek diri sendiri. Ia mengalahkan orang yang mudah menyerah dalam dirinya. Dengan disiplin diri yang terus-menerus, kita bisa tetap memimpin diri sendiri! Sebagai hasil memimpin diri sendiri, akan ada orang-orang lain yang mengikuti. Kita menjadi pemimpin mereka.

Peperangan mengalahkan diri sendiri dimulai di pikiran, hati, dan perkataan kita. Ubahlah diri Anda terlebih dulu, maka orang lain pun akan berubah. Viktor E. Frankl mencoba membuat undang-undang pribadi. Ia menulis:

“Di Auschwitz saya membuat aturan yang saya terapkan pada diri sendiri; aturan yang terbukti baik, dan kemudian diikuti oleh hampir semua tahanan lain.”

Mendapat Pandangan Kasih
Kita memang tidak boleh berusaha menyenangkan semua orang. Edmond Rostand berkata, “I am what I am because early in life I decided that I would please at least myself in all things.”

Kadang-kadang kita perlu mengambil hati orang. Kita perlu menyentuh hati orang lain sebelum meminta pertolongannya. Kadang-kadang kebaikan yang Anda perbuat untuk orang lain akan mendapat balasan dari orang itu. Viktor E. Frankl menyadari arti penting disukai oleh orang lain. Siapa yang bisa mengandalkan diri sendiri di dalam kamp konsentrasi?

“Dokter kepala yang kebetulan menyukai saya, dengan suara sungguh-sungguh berkata kepada saya, 'Saya sudah mengumumkan di ruang pengawas, bahwa nomor Anda masih bisa dicoret dari daftar. Anda diberi waktu sampai jam 22.00 sebelum memutuskan.'”

Saya teringat akan kisah dari Johan Lumoindong. Beliau menceritakan pengalamannya ketika ketinggalan pesawat ke Solo. Johan Lumoindong terjebak macet di jalan sehingga setibanya di bandara, ia tertinggal pesawat yang harus ditumpanginya menuju kota Solo. Beliau mencoba mencari tiket pesawat lain yang akan segera berangkat. Beliau harus mengejar waktu supaya bisa sampai di Solo tepat waktu.

Sayangnya, rata-rata semua tiket penerbangan ke Solo telah habis. Saat itu sedang high season (masa-masa liburan). Namun, masih ada tiket pesawat Garuda yang bisa membuat beliau tiba di Solo tepat waktu. Namun, untuk mendapatkan tiket itu, beliau harus antre di waiting list (daftar tunggu). Beliau ada pada urutan ke-22!

Johan Lumoindong tidak sabar dan hendak membatalkan tugas pentingnya di Solo. Beliau pun menelepon dan memberi tahu istrinya tentang situasi ini. Alangkah bijaksana istrinya. Dia menyuruh Johan Lumoindong supaya tetap sabar dan menunggu.

Beliau pun tetap duduk menunggu di kursi tunggu Garuda dengan kartu waiting list nomor 22 di tangannya. Ia duduk di sebelah ibu tua yang memegang kartu urutan nomor 1! Ibu itu sepertinya mengejek dan menyuruh Johan Lumoindong untuk pulang saja, karena jika waiting list-nya nomor 22, kemungkinan mendapat tiket sangat kecil. Namun, beliau tetap sabar dan menunggu. Beberapa saat kemudian, General Manager Garuda Indonesia berjalan melewati kursi-kursi ruang tunggu. Betapa kagetnya ia ketika melihat Johan Lumoindong di situ.

“Bapak?! Johan, Bapak Johan Lumoindong, kan?!” Ia bertanya.

“Iya..” Jawab Johan Lumoindong.

“Aaaduuuh... Bapak... saya ini fans Bapak lho...!” Seru kagum sang GM.

Kemudian, mereka bercakap-cakap. Ternyata, GM PT Garuda itu fans Pdt. Johan Lumoindong, karena ia menyukai gaya khotbahnya yang lucu. Akhirnya, sang GM memberi kode supaya Johan Lumoindong masuk ke ruang penjualan tiket. Beliau langsung dibuatkan tiket yang seharusnya jatuh pada urutan waiting list nomor 1 alias untuk ibu tua tadi! Johan Lumoindong pun bisa tiba di Solo tepat waktu untuk menunaikan “tugas akhirat”. Viktor E. Frankl menulis:

“Untungnya Capo di dalam kelompok kerja saya berutang budi kepada saya. Dia menyukai saya karena saya pernah mendengarkan dia menceritakan kisah cinta dan masalah keluarga yang dihadapinya dalam sebuah perjalanan panjang menuju tempat kerja. Diagnosis saya tentang karakternya dan saran-saran psikoterapis yang saya berikan kepadanya membuatnya terkesan. Dia merasa berterima kasih, dan ini menguntungkan saya.”

Betapa besarnya kebutuhan orang-orang untuk didengarkan. Dengarkanlah seseorang, Anda akan tahu dirinya, pergumulkannya, dan Anda dapat memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada orang itu. Oleh karena jasa Viktor E. Frankl mendengarkan kisah cinta dan masalah keluarga petugas kamp itu, petugas itu menyukainya.

Ada orang yang membenci orang-orang karena alasan tertentu. Namun, ada juga orang yang membenci orang-orang tanpa alasan. Itu karena ia membenci diri sendiri.

Menolong Orang Lain
Menolong orang lain membuat hati nurani luluh. Jangan menahan kebaikan dan berkata bahwa tidak ada yang bisa kita berikan atau lakukan kepada orang lain yang meminta kepada kita. Padahal kita memiliki yang orang itu minta.

“Begitu saya katakan dengan tegas bahwa saya sudah mengambil keputusan untuk tinggal bersama para pasien saya, perasaan tidak nyaman yang tadi saya rasakan, segera sirna. Saya tidak tahu, apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya, tetapi saya merasakan kedamaian batin yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

“Saya kembali ke gubuk, duduk di papan di kaki teman sebangsa saya, dan berusaha menenangkannya. Kemudian saya bercakap-cakap dengan yang lain, berusaha menenangkan para pasien yang sedang setengah sadar.”

Menolong orang lain membutuhkan lebih dari sekadar ucapan atau tulisan. Hal itu harus dilakukan. Kasih menutupi banyak pelanggaran. Menolong orang lain menutupi keterpurukan. Rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh Viktor E. Frankl hilang setelah ia menolong orang lain.

Sebelum Anda menolong orang terjauh (orang lain), tolonglah orang terdekat (keluarga) Anda terlebih dulu. Walaupun menolong orang lain tidak memandang asal agama, sebelum Anda menolong saudara-saudara lain, tolonglah saudara-saudara Anda terlebih dulu. Bukankah aneh bila seseorang mendengarkan orang lain dengan saksama, bercakap-cakap dengannya atau menolong ayah orang lain, tetapi untuk ayahnya sendiri ia tidak melakukannya?

Inilah Kalimat yang Terkenal
“Bahwa apa pun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu hal: kebebasan terakhir seorang manusia─kebebasan untuk menentukan sikap dalam segala keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.”

John C. Maxwell berkata bahwa sikap bukanlah segalanya, melainkan apa adanya─pembuat perbedaan. Sikap yang akan Anda ambil dalam pilihan-pilihan yang terjadi di kehidupan, penderitaan, kemenangan, di depan orang banyak, dan sendirian itu akan menentukan Anda. John C. Maxwell menulis: “Ada suatu pilihan yang harus Anda buat dalam segala sesuatu yang Anda lakukan. Jadi, ingatlah bahwa akhirnya pilihan yang Anda buat akan membuat Anda.” Viktor E. Frankl menulis:

“Dan pilihan-pilihan seperti itu selalu ada. Setiap hari, setiap jam, kesempatan untuk memilih selalu datang, kesempatan untuk memutuskan apakah Anda mau atau menolak menyerah pada kekuatan-kekuatan yang siap merampas kebebasan Anda yang terakhir, kebebasan batin, yang akan menentukan apakah Anda mau dipermainkan oleh keadaan, menolak kebebasan dan martabat...”

Dalam penderitaan dan segala hal yang lain, kekayaan batin dapat menolong dalam menentukan sikap. Namun, semuanya kembali kepada seseorang yang mengalami hal itu.

“Analisis akhir jelas menunjukkan bahwa keputusan batinlah, dan bukan hanya pengaruh kamp, yang akhirnya menentukan menjadi manusia seperti apa tahanan tersebut kemudian.”

“Manusia bisa melestarikan sisa-sisa kebebasan spiritual, kebebasan berpikir mereka, meskipun mereka berada dalam kondisi mental dan fisik yang sangat tertekan.” (hlm. 115, op.cit.)

“Bahwa sering kali situasi lahiriah yang benar-benar sulitlah yang memberi seseorang kesempatan untuk mengembangkan kehidupan spiritual di dalam dirinya.”

Saya memikirkan kesulitan lahiriah yang dialami oleh Joni Eareckson Tada, yang lumpuh tapi mau mengembangkan kehidupan spiritual di dalam dirinya. Saya memikirkan ibu dan ayah saya, yang selalu berjuang demi anak-anaknya. Saya memikirkan Helen Keller yang buta, tetapi baginya mempunyai visi hidup lebih baik ketimbang visi mata tapi tak punya visi. Ini menandakan bahwa dia pun mengembangkan kehidupan spiritual di dalam dirinya.

Seorang astronot Amerika bernama Story Musgrave, M.D., yang telah menjelajahi antariksa malahan berkata, “For me, life is 99 per cent a spiritual journey” (Bagi saya, hidup adalah 99 persen perjalanan spiritual).

Kita memang terdiri dari darah dan daging. Namun, kita bukanlah makhluk manusia yang hidup dalam kehidupan spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang hidup dalam kehidupan manusia. Dan keseimbangan dalam kehidupan manusia bukanlah tujuan, melainkan hanya alat. Viktor E. Frankl menulis:

“Seseorang yang dengan sadar menempatkan nilai-nilai batinnya pada tatanan yang lebih tinggi, lebih spiritual, tidak dapat digoyahkan oleh kehidupan kamp. Namun, berapa banyak manusia bebas yang melakukannya, apalagi para tahanan?”

“Cara mereka menghadapi penderitaan merupakan keberhasilan batin yang sesungguhnya. Kebebasan spiritual seperti itulah─yang tidak bisa dirampas─yang membuat hidup memiliki makna dan tujuan.”

Bila Anda menulis ATTITUDE (bahasa Inggris untuk kata 'sikap') dan setiap hurufnya mewakili angka sesuai urutan abjad, ATTITUDE sama dengan seratus! Sikap memang bukanlah segalanya, tetapi itu dapat membuat perbedaan dalam hidup Anda─perbedaan 100%! Dietrich Bonhoeffer berkata,

“Anda tidak boleh berpikir bahwa saya tidak bahagia. Apa itu kebahagiaan dan apa itu ketidakbahagiaan? Sangat kecil sekali kaitannya dengan situasi. Sesungguhnya itu hanya tergantung pada apa yang terjadi dalam diri seseorang.”

H.A.L.T. (Berhenti Saat Hungry, Angry, Lonely, Tired)
Apabila Anda tidak berhenti sejenak, menghentikan, dan mengalahkan diri Anda saat marah, itu berbahaya. Saat marah, lapar, sendirian, dan kelelahan adalah saat yang berbahaya jika tidak berhenti sejenak (halt), yaitu memikirkan dampaknya bila kita akan atau tetap melakukan sesuatu selagi marah, lapar, kesepian, dan lelah.

Saat kita marah, lapar, sendirian, dan lelah, kita perlu berhenti sejenak (halt). Sebab saat kita marah, lapar, sendirian, dan lelah, kita bisa mudah dicobai. Kita mungkin sudah tahu bahwa emosi adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang jahat. Anda bagus bila bisa mengendalikan emosi. Namun, berbahaya jika emosi mengendalikan Anda. Viktor E. Frankl menulis:

“Karena berbagai tekanan mental tersebut, para tahanan menjadi lebih cepat marah...

“Saya sendiri kerap mengepalkan tangan jika saya marah sekaligus merasa lapar dan kelelahan...

“Hari berikutnya saya merasa lebih lelah, tidak peka, dan mudah marah.”

Viktor E. Frankl pun bisa marah. Siapa yang dapat menyalahkannya? Anda boleh marah, tetapi jangan berbuat dosa; janganlah matahari tenggelam sebelum padam amarahmu. Anda boleh marah apabila Anda peduli dan punya tujuan baik.

Berhenti Sejenak (Selah) III
Apakah Anda mendengarkan saya? Apakah Anda mendengarkan perkataan dan tulisan saya sebagai seorang pemuda biasa? Semoga Anda tergugah. Saya hanya ingin menuangkan pemikiran untuk Anda.

Saya pernah membaca bahwa Viktor E. Frankl adalah orang yang melakukan yang ia katakan (practiced what he preached). Seorang pria dinilai dari perkataannya. Apakah ia menepati janji dan kata-katanya? Saya juga pernah mengingat bahwa Stephen R. Covey (penulis buku The 8th Habit) adalah orang yang melakukan yang ia katakan. Ketika ia berkata-kata, orang-orang akan mendengarkannya (when he speaks, people listen).

Pernah terbersit pertanyaan: apakah saya akan melakukan tulisan saya ataukah akan sekadar menulis untuk melupakan? Saya sudah sering kali lupa secara sengaja atau tidak tentang yang telah saya tulis dan ucapkan. Kadang-kadang pencobaan untuk tidak menghiraukan juga datang, dengan alasan percuma tidak ada orang yang memerhatikan tulisan saya atau karena saya sedang sendirian. Apakah Anda pernah atau sedang mengalami hal itu?

Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan mengandalkan diri sendiri. Tidak. Tidak. Kita melakukannya dengan kekayaan batin kita, Roh Kudus, kasih karunia, dan anugerah. Saya hanya ingin menuangkan pemikiran dengan kasih karunia Tuhan.

Kedokteran Itu Bohong?
Tidak, kedokteran itu tidak bohong. Kedokteran itu bisa salah. Seseorang tidak tahu apa yang bisa terjadi di dalam hidupnya sampai sesuatu itu terjadi. Seseorang itu terlihat aslinya─sebagaimana yang pernah saya dengar─saat berada di penjara dan dalam perang, di tengah hutan, naik gunung, dan dalam masalah atau krisis.

Saat Viktor E. Frankl berada di kamp konsentrasi, terjadi sesuatu yang belum pernah ia duga sebelumnya dan hal itu menangkap perhatiannya. Ia terkejut...

“Beberapa hari kemudian, rasa ingin tahu kami berubah menjadi rasa terkejut. Terkejut karena kami tidak terjangkit penyakit flu.”

Tubuh para tahanan yang kurus dan kering kerontang ternyata tidak serta-merta rentan penyakit. Di kamp-kamp konsentrasi memang sering terjadi mukjizat. Meskipun tidak jarang pula ada yang sakit dan sering terjadi tragedi.

“Rekan-rekan sesama tahanan yang dulunya berkecimpung di dalam profesi medis, untuk pertama kalinya menyadari: 'Bahwa buku-buku kedokteran ternyata bohong!' Dalam salah satu buku tertulis bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa tidur kurang dari sekian jam. Benar-enar salah! Saya juga selalu yakin bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa saya lakukan: saya tidak bisa tidur tanpa ini, atau saya tidak bisa hidup tanpa ini atau tanpa itu.”

Apakah Anda pernah merasakan hal yang sama? Apakah Anda pernah tidak menggosok gigi selama sehari? Ya, Anda mungkin pernah.

“Saya juga ingin menceritakan sejumlah kejutan kecil tentang ketahanan tubuh manusia: kami tidak pernah menggosok gigi...”

“Meskipun demikian, dan meskipun kami kekurangan gizi, geraham kami lebih sehat daripada saat-saat sebelumnya.

“Kami harus memakai kemeja-kemeja yang sama selama setengah tahun, sampai mereka tidak lagi tampak seperti kemeja.

“Berhari-hari kami tidak bisa membasuh badan, meskipun sebagian saja, karena pipa-pipa saluran air membeku...

“Atau, orang-orang yang mudah terganggu saat tidur, misalnya mereka yang biasanya terbangun hanya oleh suara samar yang datang dari kamar sebelah, mendapati dirinya tidur berimpit dengan rekan lain yang mendengkur keras, hanya beberapa inci dari telinganya, tetapi tetap tidur nyenyak...”

Selain seseorang terlihat aslinya saat berada di penjara (kamp konsentrasi), karakternya juga diuji. Pola pikirnya pun akan berubah, termasuk perubahan diri atau hidup yang radikal pula─entah jahat menjadi baik, entah baik menjadi jahat.

“Saat memasuki kamp, cara berpikir seorang tahanan segera berubah.”

Seorang wanita akan terlihat aslinya saat tersesat di hutan belantara. Wanita yang manja pun dapat berubah menjadi wanita mandiri saat berada di kamp konsentrasi, permasalahan, penderitaan, dan lain-lain.

“Saya berterima kasih, nasib yang sangat buruk ini menimpa saya... Dalam kehidupan yang lalu, saya benar-benar manja, dan tidak pernah secara sungguh-sungguh mencari keberhasilan spiritual...”

Wanita yang berbicara di atas itu mengalami hal radikal dan membuat dia berubah secara radikal. Hal yang terjadi di luar dirinya (tragedi yang menimpa) adalah hal buruk. Namun, hal yang terjadi di dalam dirinya (menjadi mandiri dan keberhasilan spiritual) adalah hal yang baik.

Viktor Frankl juga menuliskan banyak contoh orang dari yang baik menjadi jahat, bahkan yang jahat bertambah jahat. Tragedi yang radikal itu membuat mereka menjadi “lebih radikal” secara negatif. Mereka pun kalah bila dibandingkan dengan perempuan tadi─wanita yang dulu manja. Keberanian dan harapan membantu seseorang untuk menghadapi dan mengatasi penderitaan. Jika para tahanan berpikir sehat, mereka pun akan sehat.

“Mereka yang tahu betapa erat keterkaitan antara pikiran manusia─keberanian, harapan, dan hilangnya harapan─dengan imunitas tubuhnya, akan memahami bahwa hilangnya harapan dan keberanian secara mendadak akan membawa dampak yang mematikan.”

Sebagaimana memakan bawang putih mentah akan menyehatkan jantung Anda, harapan juga akan membantu jantung Anda tetap berdetak. Hilangnya harapan melemahkan jantung. Tragedi yang besar seperti gempa bumi, banjir, badai, kebakaran, dan pemenjaraan kamp, memang bisa melemahkan harapan. Kehilangan orang tercinta juga bisa melemahkan harapan. Namun, jangan pernah menyerah. Jangan pernah menyerah. Tetaplah berani.

Tentang keterkaitan antara harapan dan kesehatan jantung, Dr Mehmet Oz pernah berkata, “Bencana yang besar dapat menyebabkan orang-orang menjadi depresi, sehingga jantung mereka melambat dan berhenti. Jantung yang berhenti, harapan juga berhenti.”

Jadi, kehidupan spiritual, keberanian, harapan, impian, dan iman serta kasih diperlukan untuk menghadapi dan mengatasi penderitaan, tragedi, dan bencana.

“Tahanan yang sudah kehilangan kepercayaan akan masa depan─masa depannya sendiri─sedang menuju ke arah kehancuran. Dengan kehilangan kepercayaan terhadap masa depan, ia juga akan kehilangan pegangan spiritual. Ia membiarkan dirinya hancur dan menjadi subjek dari kehancuran mental dan fisik.”

Kehilangan harapan akan masa depan menyebabkan kehilangan kekuatan akan masa kini. If we lack hope for the future, we lack strength for the present. Tubuh yang kuat dan besar memang bisa kuat, tetapi kehidupan spiritual, keberanian, harapan, impian, iman, dan kasih yang besar mampu mengalahkan yang besar itu─tragedi, penderitaan, pemenjaraan, bencana, kehilangan─dan menerima apa pun.

Menangis
Norman Schwarzkopf berkata, “Oh ya, jenderal juga menangis. Terus terang, seorang pria yang tidak menangis membuat saya takut!” Demikian kata. Beliau adalah mantan jenderal dari Amerika Serikat. Ya, seorang pria yang tidak pernah menangis juga membuat saya takut, apalagi wanita yang tidak pernah menangis! Mungkinkah Adolf Hitler menangis?

Air mata itu baik untuk jiwa. Air mata pun bisa menjadi obat. Jika seorang jenderal seperti Norman Schwarzkopf saja pernah menangis, kita pun boleh-boleh saja untuk menangis. Orang yang menangis adalah orang yang menang. Orang yang menangis berbeda dari orang yang cengeng. Orang yang menangis bisa saja lembut, tetapi tegas. Sedangkan, orang yang cengeng itu pengecut dan lari dari tanggung jawab. Viktor E. Frankl menganggap tidak apa-apa menangis... Orang-orang besar pun menangis. Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita. Menangislah dengan orang yang menangis.

“Kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, keberanian untuk menderita. Hanya sedikit orang yang menyadari hal ini.”

“Dengan malu-malu, beberapa orang mengakui bahwa kadang-kadang mereka menangis. Seorang rekan, saat ditanya bagaimana dia mengatasi edema yang dideritanya, menjawab, 'Saya mengeluarkan rasa sakit dari tubuh saya dengan menangis.'”

Mungkinkah Adolf Hitler menangis? Kalau Viktor E. Frankl, ia mungkin menangis. Viktor E. Frankl pun percaya dan menghargai iman kepada Tuhan. Viktor E. Frankl berkata:

“Saya katakan bahwa ada seseorang yang memandang kepada kita di saat-saat yang sulit ini─seorang teman, seorang istri, seorang yang masih hidup atau sudah meninggal, atau Tuhan─dan orang tersebut berharap, kita tidak mengecewakan mereka. Mereka berharap kita... tahu, bagaimana caranya mati.”

Viktor E. Frankl pun menolong orang lain dan menangis bersama orang-orang yang menangis. Selain butuh merasa didengarkan dan diberi dorongan atau semangat, orang-orang juga perlu menangis.

“Ketika lampu gubuk menyala kembali, saya melihat tubuh-tubuh kurus rekan-rekan saya tertatih-tatih mendekati saya dengan mata yang basah oleh air mata.”

Kita boleh menangis. Orang yang mempunyai masalah tapi masih mengandalkan pikirannya (meskipun kadang-kadang pikiran itu perlu) dan tidak menangis, hancur hati, remuk jiwa berarti belum benar-benar mempunyai masalah. Masalah sejati membuat Anda menangis, berlutut, bersujud, berserah, berharap, hancur hati, dan remuk jiwa─bahkan hingga pori-pori kulit pun mengeluarkan tetesan-tetesan darah, bukan lagi tetesan keringat.

Viktor E. Frankl pun berserah dan menangis. Beliau mempunyai masalah sejati, yakni pemenjaraan di kamp konsentrasi Nazi yang mendatangkan darah dan kehilangan nyawa. Jadi, kita bisa berserah total dan menangis.

Bebas
Para tahanan melalui tiga periode atau fase di kamp konsentrasi. Begitu juga orang-orang di kehidupan. Ada periode awal, periode kedua, dan periode akhir atau ketiga. Ada perubahan yang terjadi baik sebelum maupun setelah para tahanan bebas. Ada tahanan yang baik dan ada tahanan yang jahat. Ada yang baik di antara yang jahat dan yang jahat di antara yang baik.

“Harus diakui bahwa bahkan di antara para pengawal, ada yang iba melihat penderitaan kami... Sebaliknya, pengawas tahanan yang paling senior, yang juga seorang tahanan (disebut sebagai Capo: tahanan yang bertindak sebagai orang kepercayaan pengawas kamp dan memiliki hak-hak istimewa) lebih kejam daripada serdadu SS mana pun.”

Benarkah bahwa bukanlah keadaan-keadaan yang berubah, melainkan manusialah yang berubah? Para tahanan yang mungkin saja dulunya baik dan bermartabat di mata masyarakat sebelum dipenjara, berubah menjadi jahat dan apati. Sedangkan, petugas yang notabene lama di kamp konsentrasi menyaksikan kejahatan, berubah menjadi iba dan baik─walaupun ada juga yang tetap jahat, apati, dan semakin brutal.

“Saya pernah mendengar seorang tahanan berkata pada tahanan lain mengenai seorang Capo, 'Bayangkan! Saya kenal orang itu saat dia hanya menjabat sebagai presiden direktur sebuah bank yang besar. Alangkah beruntungnya dia mampu meraih sukses yang lebih tinggi di dunia ini.'”

“Saya ingat bagaimana seorang mandor secara diam-diam memberi saya sepotong roti yang saya yakin diambil dari jatah makan paginya. Bukan hanya sepotong roti kecil yang membuat saya menangis saat itu. Melainkan sesuatu yang manusiawi yang diberikan orang itu kepada saya─kata-kata dan tatapan mata yang menyertai pemberian tersebut.”

Manusia bisa berubah. Entah itu menjadi baik, entah jahat. Keadaan tidak berubah, tetapi bisa mengubah. Entah dari bebas menjadi terpenjara atau dari terpenjara menjadi bebas. Fyodor Dostoyevsky berkata, “Only the heart knows how to find what is precious” (Hanya hati yang mampu menemukan yang berarti). Viktor E. Frankl berkata...

“Kehidupan di kamp konsentrasi merobek jiwa manusia dan membuka isi hatinya.”

“Jelas bahwa pengetahuan kita tentang seseorang, apakah dia serdadu SS atau tahanan, tidak berarti apa-apa. Kebaikan manusia bisa ditemukan dalam setiap kelompok, meskipun di dalam kelompok yang secara keseluruhan kita kutuk. Batas-batas kelompok sering kali berimpit dan kita tidak bisa menyederhanakan dengan mengatakan bahwa kelompok ini terdiri dari setan, sedangkan kelompok itu terdiri dari malaikat.

“Jika ada penjaga atau mandor yang bersikap baik terhadap tahanan, apalagi di tengah pengaruh-pengaruh kehidupan kamp, orang tersebut memang jelas berbeda. Sebaliknya, seorang tahanan yang memperlakukan sesama tahanan dengan buruk, pasti lebih tercela. Jelas, ketiadaan moral seperti itu membuat tahanan lain membencinya. Sebaliknya, mereka akan tersentuh menerima kebaikan kecil dari para penjaga.”

Manusia tetap bisa menentukan pilihan, dengan harapan tidak berubah menjadi lebih buruk. Kekayaan batinnya bisa menolongnya. Tuhan bisa menolong serta membebaskannya, karena Dia Pembebas (Deliverer) umat manusia─Anda dan saya.

Menurut Viktor E. Frankl, ada beberapa kejadian yang terjadi setelah tahanan bebas. Periode ini disebut periode ketiga.

  1. Makan besar. “Hambatan tubuh lebih sedikit daripada hambatan pikiran. Sejak detik pertama, tubuh memanfaatkan kebebasan tersebut dengan baik. Dia mulai makan dengan rakus selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan pada tengah malam. Mengejutkan betapa banyak jumlah makanan yang bisa dikonsumsi manusia.” (lih. hlm. 146, op.cit.)

Hal itu wajar-wajar saja. Mereka sudah lama tidak menikmati banyak makan. Seperti halnya budak anak-anak di negara Ghana, yang makan besar dan selalu meminta tambah lagi, setelah dibebaskan dari menjadi budak nelayan paksa! Bagi para tahanan atau budak yang telah dibebaskan seperti mereka, makan besar untuk sementara waktu saja itu tidak apa-apa. Namun, kalau terus-menerus itu serakah... Apalagi bagi manusia bebas.

“...berapa banyak manusia bebas yang melakukannya...?”

Jika kita tidak bisa membendung nafsu makan, bagaimana kita bisa membendung nafsu lainnya? Menurut Billy Graham, hal makan banyak itu dosa (dosa lahap). Makan terlalu banyak adalah penyimpangan dari nafsu makan alamiah yang diberikan Allah. Kelahapan adalah puncak dari egosime manusia. Mungkin keserakahan adalah penyebab dari lebih banyak kejahatan dibandingkan semua dosa lainnya.

Kalau Anda mau menderita, pikirkanlah diri Anda sendiri saja, yakni apa yang kurang pada diri Anda, apa yang Anda sukai, kehormatan yang orang harus berikan kepada Anda, maka tak satu pun yang bersih lagi bagi Anda. Apa pun yang Anda sentuh akan busuk. Apa pun yang baik akan Anda jadikan penderitaan bagi Anda. Besar kecilnya kecelakaan Anda tergantung pilihan Anda. Demikian tulis Dr Billy Graham.

  1. Menghargai alam dan mendekatkan diri pada Tuhan. “Suatu hari, beberapa hari setelah pembebasan, saya berjalan menyusuri desa, menelusuri padang rumput yang penuh ditumbuhi bunga-bunga, bermil-mil menuju pasar kota yang dekat dengan kamp. Beberapa ekor burung terbang ke angkasa dan saya bisa mendengarkan kicauannya yang gembira...

“Saya berhenti, menatap ke sekeliling saya, kemudian menengadah ke angkasa─dan akhirnya saya berlutut...

“Saya memanggil Tuhan dari penjara saya yang sempit dan Dia menjawab saya dari ruang yang bebas...”

  1. Merindukan keluarga. Pada tahap kejadian ini, para tahanan yang bebas ternyata tidak mendapati hal-hal seperti yang mereka inginkan atau pikirkan terhadap keluarga mereka.

“Ada dua hal penting yang bisa merusak karakter para tahanan yang dibebaskan: kepahitan dan kekecewaan saat dia kembali ke kehidupan lamanya.

“Kepahitan saat dia kembali ke kampung halamannya... dia hanya disambut dengan angkatan bahu dan kalimat basa-basi...

“Tetapi, apa yang terjadi setelah pembebasan? Banyak tahanan yang mendapati bahwa ternyata tidak ada orang yang menunggu mereka.

“Saat dia menekan bel seperti yang dia mimpikan ribuan kali, dia mendapati bahwa orang yang seharusnya membukakan pintu tidak ada di sana dan tidak akan pernah lagi ada di sana.”

Para tahanan itu merindukan anggota keluarganya. Namun, tidak mendapati mereka semua─ayah, ibu, saudara, kakak, adik ipar, nenek, bibi, adik─karena mungkin tidak “seberuntung” dirinya. Mereka mungkin telah meninggal atau sekadar hilang.

  1. Perubahan. Viktor Frankl mempelajarai bahwa secara umum hanya ada dua ras manusia di dunia ini, yaitu “ras baik” dan “ras buruk” (lih. hlm. 143). Viktor Frankl sendiri, saya berpendapat bahwa ia tergolong ras baik, bahkan pribadi agung. Ia tetap baik dan selalu positif. Ada pula perubahan yang radikal...

“Selama fase psikologi tersebut akan tampak bahwa orang yang sifatnya lebih lemah tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh kebrutalan yang menyelimuti mereka selama hidup di kamp. Sekarang, setelah bebas, mereka berpikir bahwa mereka bisa menggunakan kebebasan mereka secara semena-mena dan serampangan. Satu-satunya yang berubah untuk orang-orang seperti itu adalah mereka sekarang menjadi penindas, bukan yang tertindas. Mereka menjadi penganjur, bukan obyek kekuatan jahat dan ketidakadilan.”

“Derajat hidupnya turun ke tingkatan yang setara dengan binatang.”

Jika para tahanan yang bebas, salah memanfaatkan kebebasannya itu, mereka akan salah dan berubah radikal. Viktor E. Frankl berkata,

“Seorang teman dan saya suatu hari sedang berjalan melintasi sebuah lapangan ke arah kamp. Secara mendadak kami tiba di sebuah ladang yang ditumbuhi tanaman benih berwarna hijau. Secara otomatis, saya menghindar, tetapi si teman saya menarik saya dengan tangannya, dan menyeret saya untuk berjalan melalui ladang benih tersebut.

“Saya menggumamkan protes dan mengatakan bahwa kami tidak boleh menginjak tanaman yang masih muda tersebut. Dia menjadi kesal dan menatap saya dengan pandangan marah, kemudian berteriak, 'Jangan katakan itu! Tidak cukupkah apa yang sudah dirampas dari kita? Istri dan anak saya mati di kamar gas─belum lagi hal-hal yang lain─dan sekarang Anda melarang saya menginjak beberapa benih pohon gandum!'”

Dan adanya kata-kata seperti:

“Biarlah tangan ini dipotong jika saya tidak melumurinya dengan darah saat saya tiba di rumah.”

Mereka berubah menjadi jahat, bodoh, dan tidak bebas. Perubahan yang terjadi juga bisa saja berupa sikap suam-suam kuku. Suam-suam kuku yang radikal. Seseorang yang dulunya jahat, berubah menjadi baik karena adanya penderitaan yang sesungguhnya. Namun, apakah perubahan itu sungguh-sungguh? Karena...

“Bagaimana kita bisa menduga perilaku manusia? Kita bisa menduga gerakan mesin, sebuah robot; lebih jauh lagi, kita bahkan bisa menduga mekanisme atau dinamika jiwa manusia. Tetapi manusia lebih dari sekadar jiwa.”

Seperti yang terjadi pada seorang yang bernama “Dr J.” yang diceritakan oleh Viktor E. Frankl berikut.

“Saya akan menceritakan kepada Anda kisah Dr J.─waktu itu, dia lebih dikenal sebagai 'si pembunuh massal dari Steinhof.' Ketika pihak Nazi memulai program eutanasia, dia sendirilah yang menjadi algojonya, yang sangat fanatik dalam melaksanakan tugasnya, dan berusaha keras agar tidak ada satu orang pun yang bisa lolos dari kamar gas.

“Setelah perang, ketika saya kembali ke Wina, saya bertanya, apa yang terjadi dengan Dr J. 'Dia ditahan oleh pihak Rusia di salah satu sel Steinhof yang terasing. Tetapi, keesokan harinya, sel tempatnya ditahan ditemukan terbuka, dan Dr J. tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya.'

“Kemudian, saya yakin bahwa seperti yang lain, dan berkat bantuan rekan-rekannya, dia berhasil melarikan diri ke Amerika Selatan. Tetapi, baru-baru ini saya kedatangan seorang mantan diplomat Austria yang selama bertahun-tahun pernah ditahan di negara Tirai Besi (Rusia). Pertama-tama di Siberia, kemudian dipindahkan ke penjara Lubianka yang terkenal di kota Moskow. Ketika saya sedang memeriksa syarafnya, tiba-tiba orang tersebut bertanya, apakah saya mengenal Dr. J.

“Ketika saya katakan saya mengenalnya, orang itu menambahkan, 'Saya bertemu dengannya saat berada di Lubianka. Di tempat itu dia meninggal pada usia 40 tahun akibat kanker kantung kemih. Tetapi, sebelum meninggal, dia merupakan teman terbaik yang pernah bisa Anda bayangkan! Dia menghibur semua orang. Dia hidup dengan menerapkan nilai-nilai moral yang paling tinggi yang bisa dipikirkan. Dialah teman terbaik yang saya miliki selama saya mendekam di penjara untuk waktu yang lama!'”

Apakah itu Dr J. yang sama, yang pernah dikenal oleh Viktor Frankl? Ya, besar kemungkinannya. Lalu, apa yang bisa menyebabkannya berubah secara drastis atau radikal? Dari seorang pembunuh massal menjadi seorang teman terbaik?

Penderitaan yang “sesungguhnya” membuat seseorang berubah. Seseorang yang dulunya bebas dari penderitaan yang sesungguhnya, malahan membuat seseorang itu “terpenjara”. Ia terpenjara di “kamp konsentrasi” hidupnya, di mana Adolf Hitler-nya adalah si jahat, para petugas tahanannya ialah sikap-sikap yang buruk, prasangka, kekeraskepalaan, dan kekerashatian, dan lainnya.

Sebelum seseorang itu mengerti arti penderitaannya dan yang harus dideritanya, serta menderita karena berbuat baik, ia akan terpenjara dan menjadi tahanan. Musuh dan Capo-nya adalah diri sendiri.

Dinamika jiwa manusia memang berubah-ubah. Ia bisa saja kehilangan pertahanan saat setelah kemenangan atau benar-benar bangkit dan pulih dari kejatuhan. Seseorang harus berjaga-jaga setelah kemenangan dan membuat “kawat berduri” daripada terjatuh ke dalam jurang kejatuhan. Ia harus berdoa pula memohon kasih karunia Tuhan dan bersabar dalam mengerti yang harus ia derita—penderitaan yang sesungguhnya.

Setelah bebas (periode ketiga), Viktor E. Frankl tetap baik, bahkan semakin baik dan positif, dan menolong orang lain. Anda tahu: apa yang penting bagi seseorang itu bisa diketahui dari kata-kata terakhirnya. Inilah kata-kata terakhir Viktor E. Frankl dalam pengakuannya:

“Pengalaman puncak dari semuanya, untuk orang-orang yang kembali ke rumah adalah munculnya perasaan indah bahwa setelah semua penderitaan yang ia jalani, tidak ada lagi yang perlu ia takutkan—kecuali Tuhannya.”

Kita bisa bersukacita dalam penderitaan asalkan kita mengerti yang kita derita dan tujuan penderitaan. Namun, bukan Stoicism (Stoikisme) atau ajaran untuk bersabar dan tabah dalam penderitaan, yang mungkin cenderung menderita karena ulah sendiri, bukan karena situasi yang tidak dapat diubah.

Banyak orang merasa bosan hidup. So I don't see how people nowadays, kata Clyde Tombaugh, with all these marvels they're finding, can possibly bored with life.

Sahabat saya, Melkior Sinaga, pernah berkata kepada saya, “Coba kamu lihat orang-orang di bus. Wajah-wajah mereka kelihatan patah semangat, menyerah, dan tanpa harapan.” Saya mengangguk setuju.

Cobalah lihat wajah-wajah orang-orang yang sedang berjalan atau di dalam angkot. Kelihatan lesu. Mata mereka tidak berbinar-binar. Itulah wajah Indonesia.

Oprah Winfrey berkata, “Saat engkau ingin mengetahui seseorang yang memasuki ruang itu benar-benar hidup atau tidak, lihatlah apakah matanya bersinar?” Mata bersinar menunjukkan hati yang hidup. Hati yang hidup menunjukkan wajah yang panas—cerah, merona, benar-benar hidup. Entah marah, entah tulus.

Orang-orang ternyata lebih menyukai kematian. Di era HP, komputer, dan Internet kini, orang-orang malahan cenderung bosan hidup. Seperti kata Clyde Tombaugh dalam kutipan di atas, mengapa orang-orang bosan hidup dengan adanya penemuan-penemuan ini? Karena mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Kecenderungan orang-orang ingin bunuh diri mungkin karena terlalu sering erat dengan barang-barang elektronik. Mereka kurang menghargai atau dekat dengan alam. Zaman robot kini adalah “zaman batu” masa depan.

Friedrich W. Nietzsche berkata, “Mereka yang memiliki alasan (why) untuk hidup, bisa mengatasi apa pun dalam hidup.” Christian Reger menanggapi, “Nietzsche berkata bahwa seseorang bisa menghadapi siksaan bila ia mengetahui alasan (tujuan [why]) hidupnya. Namun, di dalam Dachau ini saya telah belajar sesuatu yang lebih besar. Saya belajar mengetahui Seseorang (Who) dalam hidup saya. Ia telah memelihara saya. Ia masih akan memelihara saya.”

Mobile phone tidak bisa membuatmu menyukai hidup. Games tidak bisa membuatmu menyukai hidup. Porn tidak bisa membuatmu menyukai hidup. Sayangnya, yang membuat kita menyukai hidup bukanlah hal-hal yang kelihatan, melainkan yang tak kasatmata. Namun, alasan (tujuan) yang membuat kita menyukai hidup juga bisa kelihatan. Mereka orang-orang. Mereka mengisi hatimu. Tangan mereka menyentuhmu. Mereka membuatmu ingin hidup. Patrick Morley berkata,

“Masalah terbesar yang kulihat dalam hidupmu adalah engkau telah menggunakan seluruh waktumu untuk mencari sesuatu yang membuat hidup menjadi layak dijalani. Akan lebih baik jika kamu menemukan sesuatu yang membuat kematian layak ditempuh. Serahkanlah hidupmu untuk itu. Aku akan memberimu sukacita. Tak peduli betapa beratnya jalan yang engkau tempuh. Apa yang dapat membuatmu rela mati? Lebih tepatnya, bagi siapa engkau rela mati?”

Ini tidak mudah. Namun, ada juga orang-orang yang tidak peduli. Mereka sekadar hidup. Lebih baik mempunyai tujuan hidup kecil, berada di garis hidup yang kecil, tetapi melakukannya dan memberkati beberapa orang. Daripada memiliki hidup besar, mencoba mengejar segala sesuatu dan menyenangkan semua orang, tetapi tanpa tujuan hidup. MC radio yang berarti bagi satu pendengarnya lebih baik daripada artis besar yang “tidak berbuat apa-apa”. Artis besar itu pun pasti cenderung bosan hidup daripada MC radio itu. “Fakta dasar tentang pengalaman manusia bukanlah tragedi, melainkan rasa bosan,” kata H. L. Mencken.

Bagaimana jika ini malam terakhirmu? Ayah Aleksander Agung, Raja Philip (Philip of Macedonia), menyuruh pengawalnya mengingatkannya tiap pagi, “Raja Philip, ingatlah bahwa hari ini Baginda harus mati.” Beliau ingin merasa tiap hari adalah hari terakhirnya. Jika ini malam terakhirmu, engkau akan terjaga sampai larut malam. Jika ini malam terakhirmu, engkau akan melupakan masa lalumu. Jika ini malam terakhirmu, engkau akan berani. Engkau akan mulai hidup saat ini. Ketika Plato akan dihukum mati, ia ditanya, “Plato, apakah engkau tidak takut mati?” “Aku telah mempersiapkan seluruh hidupku untuk mati,” jawab Plato. Rela mati, rela hidup. Siap mati, siap hidup.

Musisi-musisi rock pasti mendambakan, merindukan, dan perlu memikirkan saat-saat menjelang kematian. Orang-orang yang akan mati perlu benar-benar memikirkan kematian. Saya suka melihat obituary (berita kematian) di koran-koran. Saya senang membaca usia-usia mereka yang mereka yang sudah meninggal.

Sayangnya, obituary itu diletakkan di kolom iklan! Kalau saya, saya tidak mau obituary saya berada di kolom itu! Pihak koran sengaja menempatkan berita kematian di samping atau di kolom iklan. Berita kematian bercampur dengan barang-barang. Kontras! Seharusnya dibuat kolom berita kematian sendiri. Namun, obituary mengingatkan kita bahwa kita akan meninggalkan semua harta benda. Berita kematian akan meninggalkan iklan.






People Are Good

People are good even when our health isn't People are good when times feel uncertain People are good when they make others a prio...