Skip to main content

Ransel


Saat-saat ini saya sedang kembali belajar tentang berserah, satu tindakan yang rasa-rasanya mudah dilakukan, tetapi bisa tidak mudah ketika berhadapan dengan suatu masalah yang berbeda kadar kesulitannya.

Kalau boleh dianalogikan seperti kita sedang melakukan perjalanan menumpang bus dengan membawa ransel. Selama perjalanan, tanpa sadar kita duduk sambil memangku ransel tersebut, padahal di sebelah kita ada bangku kosong, bahkan sopir bus atau penumpang lainnya pun sudah ingin membantu kita menurunkan ransel tersebut.

Entah apa yang membuat kita tanpa sadar enggan menaruh ransel tersebut atau bahkan ada kecemasan yang amat sangat terhadap ransel yang akan kita taruh itu.

Ransel, saya ibaratkan permasalahan dalam perjalanan hidup kita; penumpang lain ibarat orang-orang di sekeliling kita yang peduli dengan permasalahan yang kita alami; sopir bus ibarat Allah yang menolong kita dengan cara-Nya yang unik. Dengan cara-Nya yang unik.

Dari proses pengalaman belajar saya tentang berserah, ada satu hal yang saya dapatkan, yaitu kita harus benar-benar meyakini dan percaya kepada Allah, sang sopir perjalanan kehidupan kita karena Dia selalu membantu menopang dan menurunkan ransel (masalah) yang sedang kita bawa dalam kehidupan kita.

Ada orang-orang yang Dia kirimkan untuk membantu kita, bahkan Dia selalu memberikan cara-cara yang unik agar beban ransel kita pun berkurang atau pada akhirnya dapat kita letakkan…

Mari kita terus belajar berserah.


Jati Wicaksono
(secangkir teh & singkong rebus bagi sahabat)



Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***