Skip to main content

El Solo Bolo

Tiga hari yang lalu, ketika pengucapan selamat untuk hari ulang tahun seorang rekan kerja, Pak Obedi Zalukhu, beliau berkata satu hal saat ditanya tentang mau didoakan untuk apa. Pak Obed, akrab disapa, menjawab, “Supaya makin dekat dengan Tuhan saja…”

            Polos? Canda? Ada atau tanpa motif? Saya tidak tahu, tetapi yang pasti hanya itulah yang Pak Obed katakan. Sesederhana itu.

            Memikirkan hari-hari ini yang mungkin sedang mengalami beberapa hal, membuat seperti membutuhkan sandaran agar merasa tetap tenang. Lewat uang. Orang-orang. Bercandaan. Hiburan. Dan lain-lain. Tetapi, sepertinya semua itu kurang—bahkan tidak dapat—memberikan yang sebenarnya saya atau kita perlukan.

            Apa, atau mungkin tepatnya siapa, yang bisa? Mungkin benar kata Pak Obed, yang barangkali juga mengutip perkataan Daud.    

Mazmur 62:1b:
Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

            Ya.

Hanya dekat Allah saja … aku tenang.

Hanya dekat Allah saja … aku aman.

Hanya dekat Allah saja … aku damai.

Hanya dekat Allah saja … aku kaya.

Hanya dekat Allah saja … aku puas.

Hanya dekat Allah saja … aku pulas.

Hanya dekat Allah saja … aku tidak sendirian.

Hanya dekat Allah saja … aku kenyang.

Hanya dekat Allah saja … aku diam.

Hanya dekat Allah saja … aku.



Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***