Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

El Solo Bolo

Tiga hari yang lalu, ketika pengucapan selamat untuk hari ulang tahun seorang rekan kerja, Pak Obedi Zalukhu, beliau berkata satu hal saat ditanya tentang mau didoakan untuk apa. Pak Obed, akrab disapa, menjawab, “Supaya makin dekat dengan Tuhan saja…”
Polos? Canda? Ada atau tanpa motif? Saya tidak tahu, tetapi yang pasti hanya itulah yang Pak Obed katakan. Sesederhana itu.
Memikirkan hari-hari ini yang mungkin sedang mengalami beberapa hal, membuat seperti membutuhkan sandaran agar merasa tetap tenang. Lewat uang. Orang-orang. Bercandaan. Hiburan. Dan lain-lain. Tetapi, sepertinya semua itu kurang—bahkan tidak dapat—memberikan yang sebenarnya saya atau kita perlukan.
Apa, atau mungkin tepatnya siapa, yang bisa? Mungkin benar kata Pak Obed, yang barangkali juga mengutip perkataan Daud.
Mazmur 62:1b: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.
Ya.
Hanya dekat Allah saja … aku tenang.
Hanya dekat Allah saja … aku aman.
Hanya dekat Allah saja … aku damai.
Hanya deka…

Oh, Lord-e

I started writing songs when I was 13 or 14, because I've always been a huge reader. My mum's a poet and we've always had so many books, and that's always been a big thing for me, arguably more so than music.
—Ella Maria Lani Yelich-O'Connor


Kokor-o no moto

I think we never become really and genuinely our entire and honest selves until we are dead—and not then until we have been dead years and years. People ought to start dead, and they would be honest so much earlier.” —Mark Twain







Beberapa waktu lalu saya men-Tweet seperti itu. Entah lupa kapan tepatnya copywriting panjang dari pemerintah yang menyertai iklan-iklan rokok berubah menjadi singkat seperti di atas: Rokok membunuhmu.
Dulu:





Ups, salah:





Segala

Segala kata kerja?

Mawar

Berangkat dari terbakarnya sekitar 3.000 buku koleksi Bpk. Iwan Gardono Sujadmiko di sini dan di sini pada awal tahun ini, apakah kita siap kehilangan barang-barang yang mungkin berarti bagi kita? Tetapi, itu terhadap barang-barang atau benda-benda. Belum kalau tentang orang-orang. Saya sendiri membayangkan, bagaimana kalau-kalau rumah saya di Ciliwung – Depok kebakaran atau kebanjiran dan melahap buku-buku saya… Semoga tidak terjadi, sih. 
Entah salah, entah benar, Thomas Alva Edison pernah berkata kepada putranya, “Where is mom? Go get her and tell her to bring her friends they’ll never see a fire like this one again (Mana Ibumu?! Cepat panggil Ibumu dan suruh membawa teman-temannya untuk melihat kebakaran luar biasa ini)!” Saat labnya hampir habis dilalap api.
Sepertinya Thomas Edison tidak terlalu memegang erat-erat benda-benda atau barang-barang sebagai miliknya. Seindah apa pun. Mesti siap kehilangannya. Seperti mawar mungkin. Siapa yang mau menggenggamnya terlalu erat?
Terkait t…

Ransel

Saat-saat ini saya sedang kembali belajar tentang berserah, satu tindakan yang rasa-rasanya mudah dilakukan, tetapi bisa tidak mudah ketika berhadapan dengan suatu masalah yang berbeda kadar kesulitannya.
Kalau boleh dianalogikan seperti kita sedang melakukan perjalanan menumpang bus dengan membawa ransel. Selama perjalanan, tanpa sadar kita duduk sambil memangku ransel tersebut, padahal di sebelah kita ada bangku kosong, bahkan sopir bus atau penumpang lainnya pun sudah ingin membantu kita menurunkan ransel tersebut.
Entah apa yang membuat kita tanpa sadar enggan menaruh ransel tersebut atau bahkan ada kecemasan yang amat sangat terhadap ransel yang akan kita taruh itu.
Ransel, saya ibaratkan permasalahan dalam perjalanan hidup kita; penumpang lain ibarat orang-orang di sekeliling kita yang peduli dengan permasalahan yang kita alami; sopir bus ibarat Allah yang menolong kita dengan cara-Nya yang unik. Dengan cara-Nya yang unik.
Dari proses pengalaman belajar saya tentang berserah, a…

Terus cipta, jujur rasa, jaga karsa, tulus karya

No matter how fast a lie is, the truth will catch up with her (Sekencang apa pun kebohongan berlari, kebenaran akan jauh melampaui).” —pepatah Belanda

Dentuman musik!
Mencari tempat di hati ini...
Kadang dalam hidup
Tak mendapat tempat sedikit pun
Terlalu tertambat kepada kebisingan sekitar!
Kadang tercipta dentuman hangat dari siul-siul kecilmu...
Terkadang dentuman itu berhenti
Tersentak oleh kemuraman hati
Masih bisakah kita jujur untuk bermusik?
Ataukah sudah mustahil untuk bernyanyi dari hati?
Apakah suatu hari kita mampu membawa melodi ini melampaui bumi?
Mereka bilang, bernyanyilah dari hati
Tapi, yang jujur dari hati membuahkan kontroversi
Malah yang berpura-pura terapresiasi…
Maukah kau mengucap syair tanpa memaknainya?
Sudah lupakah kau begitu banyak jiwa yang tersentuh oleh tulusnya aliran musikmu?
Menciptalah…
Berkaryalah…
Bernyanyilah…
Bukan untuk sebuah pujian… tapi…
Kebanggaan
Karena engkaulah mahakarya Sang Maestro
Yang mencipta dengan terampil, tulus, tak bercela


—oleh Estherina “Eshkreem…