Skip to main content

Partai Jakarta


Sumber: bit.ly/1llkrVg

Terinspirasi dari dampak kemacetan akhir-akhir ini di Jakarta akibat banjir, hujan lebat tanpa rabat, dan lain sebab musabab, hence muncullah “Partai Jakarta”. Poin-poin partai ini sebagai berikut. 

  • Kalau Rakyat punya Hati Nurani, seharusnya mau saling mendahulukan pengendara lain di jalan, seperti yang biasa di Jepang. (Memang pernah ke Jepang? Belum sih.)
 
  • Sepertinya orang-orang perlu banyak hikmat waktu di jalan, ataupun kadang-kadang sangat butuh Amanat Nasional dari teman-teman mesti lewat mana supaya tidak terjebak macet. (Terima kasih, Lalu Lintas dan Polda Metro.)

  • Kalaupun masyarakat benar-benar bernas Demokrat, seharusnya mau mengalah juga kadang-kadang atau membiarkan sewaktu pengendara lain memakai jalur yang bukan lajurnya karena force majeure

  • Jika terjatuh atau terperosok ke lubang, jangan lupa untuk bangkit lagi mungkin dengan semangat Kebangkitan Bangsa ini. (Penting juga mungkin sesekali untuk latihan Kung fu supaya bisa antisipasi saat jatuh supaya tidak terlalu malu.)

  • Kadang win-win solution tidak bisa, tidak usah dipraktikkan kalau berkaitan dengan jalan. Yang penting mungkin ada Keadilan supaya semua orang Sejahtera

  • Kalau jenuh, suntuk, pasai, sumpek karena macet, waktu pagi jangan lupa lihat-lihat sekitaran atau pemandangan seperti matahari, awan, pepohonan. Jangan-jangan lupa kalau ada matahari, awan, pepohonan. Kalau malam, jangan lupa menikmati pemandangan di atas, Bulan dan Bintang

  • Semangat menembus macet, menerjang hujan itu mungkin aca(P) (DI)butuhkan banyak inisiatif dan Perjuangan

  • Beberapa Golongan tidak boleh memakai jalan raya asal-asalan atau seenaknya karena merasa memiliki posisi atau jabatan. (Angkat topi buat mobil-mobil CD Corps Diplomatic dan CC Corps Consular yang mau sabar terhadap sepak terjang orang-orang Indonesia di jalanan Jakarta.) Lebih baik pelan-pelan di jalan, supaya bisa membuat Karya di tempat kerja, selamat sampai rumah berjumpa dengan keluarga

  • Kalau semakin ada Persatuan di jalan atau di dalam tidak membuang sampah sembarangan, dan kota-kota besar mengurangi Pembangunan di mana-mana, mungkin banjir dan kemacetan akan berkurang, hence jalanan akan memanen kelancaran


Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***