Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2014

Partai Jakarta

Painful yet Beautiful

Sebuah pemandangan terpampang dari sebuah stasiun, stasiun Mangga Besar. Seorang bapak-bapak tua sedang terbaring, ibarat sekarat.

Ingin saya awalnya mendekatinya, tetapi takut, dan merasa bersalah. Takut dikira ada motif-motif tersembunyi di balik tindakan yang akan saya lakukan. Akan tetapi, ya, saya hanya mencoba memotret pemandangan itu dari jauh. Tak berani berbuat lebih.
Saat itu sebenarnya saya sedang mencari-cari objek foto untuk bahan Tugas Akhir kuliah saya. Saya yang mengambil mata kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV). Saat berkeliling di sekitaran stasiun itu, orang-orang di sana mungkin mengira saya adalah wartawati. Dan mungkin mereka pun ada yang sepertinya meminta dipotret.
Dan di sela-sela berjalan itulah, saya melihat seorang bapak-bapak tua tadi yang ternyata menderita lumpuh total. Beliau tinggal di stasiun itu bertahun-tahun.
Saya tepiskan sejenak sekenanya rasa ketakutan saya. Mulai memberanikan diri untuk berbincang-bincang dengan beliau. Semacam wawancara. Wawanca…

Bryce

Di Winfield, sebuah kota kecil di pinggiran Kansas, ada sebuah sekolah Little Builders untuk tempat anak-anak belajar dan dititipkan.
Di sekolah tersebut, ada seorang bernama Bryce, anak laki-laki yang berambut merah (orang-orang menyebutnya redhead atau si kepala merah) dengan bintik-bintik cokelat di mukanya. Bryce baru berusia empat tahun.
Sebenarnya, Bryce anak yang manis, tetapi dia lebih sering menjadi anak yang nakal. Sering kali Bryce membuat guru-guru di sekolah Little Builders marah. Padahal, Bryce ingin sekali menjadi anak yang manis, yang mendapat hadiah stiker ketika pulang sekolah. Sayangnya, Bryce sering kali tidak mendapat stiker karena dia sering tidak tidur siang dan tidak mau mendengarkan gurunya.
Pernah suatu ketika di bulan Juni yang sangat terik, Bryce harus dihukum duduk di “kursi nakal” karena dia melempar saus spageti ke muka temannya, si Ruby. Di “kursi nakal” yang bergambar jerapah tersebut, Bryce harus duduk diam dan merenungkan kesalahannya. Biasanya, dia ha…