December 16, 2014

Less, Love

That realization led to an early resolution: to let go of the stuff. Not just the physical stuff that stresses me out, but the mental stuff as well. The endless obligations that really don't hold much importance. The fears, conflicts, and regrets. The unreasonable expectations of myself and others. And just like I made space in our home to celebrate our favorite holiday, I'm making room for the important things. Loving my family. Embracing the work I'm blessed to be given. Helping those who truly need it.

My wish for you is that you can do the same, whether it's letting go of physical things that are weighing you down or making room in your life for love, family, and forgiveness. Because even at the beginning of this journey, I know the less "stuff" I carry around with me, the more I will have in the end.

—C. E. Laureano


December 11, 2014

Write Down Your Thoughts

I believe nothing helps us to clearly see how well we’re thinking as much as writing things down. I’ve discovered that when I write a thought on paper and then examine it, I can think of all sorts of ways to improve it.

You see, when you speak, you can kind of gloss over an error in thinking, because five seconds later you’re on to another idea. But when you write something down, it just stares back at you. And here’s one important note: Don’t wait until something is good to write it down, or you’ll never write something down. Just get it on recorded, and then you’ll be able to make it good by revising it.



December 10, 2014

A Belief System

The characteristic I still struggle with is the first characteristic, my belief system. I have become more aware of these beliefs over the years, but occasionally, they still sneak up and bite me. Whenever I am struggling with achieving a goal or just performing up to my potential, I usually find a limiting belief lurking in some corner of my mind. Sometimes, these are surprising.

For example, up until last January, I was really struggling with being consistent in my strength training. I kept starting and re-stopping. I would alternate between thinking, “This is hard” and “I don't need any help; I can do this myself.” (My four-year-old grandson Ben says this all the time.)

I said, “Wait a minute. This is not that hard, but I DO need help.” As a result, I hired a fitness trainer to work out with me twice a week. That was the difference-maker. Suddenly, I got consistent and started making real progress at the gym. Now he's working with me three days a week.

I realize that not everyone can afford to hire a trainer, but, if you share my limiting belief, you can always afford to get outside help. In fact, you can't afford NOT too! It might be simply a friend to hold you accountable or working out with a group of friends, or listening to podcasts or reading books that inspire you. But the truth is you can't usually accomplish big goals on your own. You need help.

So my belief system is my biggest challenge.



Normal Discomfort

“Well, when it comes to bikes, there is such a thing as normal discomfort. The more time you spend on a bike at a stretch, the more uncomfortable you’re going to get. You’re going to get tired. Your body is going to ache from staying in the same position. Even your bed with the down mattress cover and high-thread-count sheets will revolt against you and give you bedsores if you don’t turn over every once in a while.

“Obviously some of this discomfort can be dialed out of the bike by making adjustments and part changes, but at some point the only way to get more comfortable on the bike is to ride the thing more and train your body to deal with it betterand even then, eventually you’re just going to have to get off the damn thing and stop riding, just like eventually you’ve got to get out of bed.

“Sometimes you’re uncomfortable because of your parts or your bike fit. Sometimes you’re uncomfortable because you’re riding wrong, or you’re thinking about riding wrong.”

Bike Snob
(courtesy of bicycletouringpro)


 

December 9, 2014

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.



---

Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki


Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.

Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.

Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Hanya ada angin dari luar. Jadi, mereka mulai mengeluh, berkeringat, dan mengeluh lagi karena kepanasan. “Aduuuh, panas sekali, ya!” kata seorang penumpang. “Aduuuh, jauh sekali ya tempat wisatanya. Capek,” kata penumpang yang lain. “Ah, kereta ini jalannya pelan sekali,” keluh penumpang lainnya.

Orang-orang yang ada di dalam kereta api itu mulai mengeluh kepanasan, kereta berjalan lambat, dan tempat tujuan wisata yang masih jauh. Mereka terus mengeluh dan tidak menikmati perjalanan sama sekali. Akhirnya, ketika di tengah perjalanan, kereta api berjalan melambat dan berhenti. Lalu, kereta api itu bergoyang-goyang dengan kencang sehingga para penumpang yang ada di dalam mulai berhamburan keluar! Mereka kaget! Ada apa ini?!

Semua penumpang sudah berada di luar kereta. Kemudian, tiba-tiba gerbong kereta api tersebut mengerucut, mengecil, menjadi sepantaran tubuh manusia, tetapi lebih besar dan tingginya dua kali lipat daripada badan manusia. Kemudian, muncul sepasang tangan dan kaki dari badan kereta api itu! Lokomotif menjadi kepalanya!

Lalu, kereta api itu berteriak, “Hei, kalian semua! Mengapa kalian mengeluh di sepanjang perjalanan ini?! Mengapa kalian tidak menikmati perjalanan dan pemandangan yang ada di luar?! Memang di dalamku panas karena tidak ada kipas angin, tapi kalian ‘kan bisa sampai tempat tujuan karena aku! Sekarang, aku akan berjalan kaki saja dengan kalian supaya kalian rasakan lebih baik mana berjalan jauh ke tempat wisata kalian atau menaiki keretaku?!”

Kemudian, kereta api itu mulai berjalan kaki bersama-sama beberapa orang di dekatnya dan meninggalkan beberapa orang yang termenung kaget terhadap apa yang baru saja terjadi. Mereka merasa menyesal karena telah mengeluh sepanjang perjalanan naik kereta api. Padahal, mereka bisa menikmati sepanjang perjalanan itu, apa pun yang terjadi. Sekarang mereka terpaksa harus berjalan kaki ke tempat wisata yang masih jauh sekali.

Lalu, beberapa orang mulai mendekati kereta api yang masih berjalan kaki itu. Seorang penumpang berkata, “Aduh, tuan kereta api, maafkan kami karena telah mengeluh sepanjang perjalanan…” “Iya… maafkan kami karena mengeluh kepanasan, mengataimu lambat, dan gelisah karena perjalanan masih jauh…” kata penumpang yang lain. Tetapi, kereta api tetap berjalan kaki menjauh. “Oooh… kami berjanji tidak akan mengeluh lagi… Tolonglah, tuan kereta api, kembalilah menjadi kereta api yang berjalan di atas rel, dan mengantar kami ke tempat wisata…” seorang penumpang memelas. “Iya… kami berjanji,” janji penumpang lainnya.

Kemudian, seiring kereta berjalan kaki, kereta api itu merenung sejenak, lalu berkata, “Baiklah, kalian berjanji tidak akan mengeluh lagi…? Baiklah, aku akan mengubah diriku menjadi kereta api lagi yang berjalan di atas rel besi.” Lalu kereta api yang bisa berjalan kaki itu berubah menjadi kereta api normal kembali. Orang-orang menjadi senang. Mereka bersorak-sorak, “Horeee… Horeee… Kita bisa naik kereta api lagi…!”

Akhirnya, kereta api tersebut mengantarkan mereka semua menuju tempat wisata. Para penumpang pun tidak lagi mengeluh karena kepanasan tidak ada kipas angin atau apalagi AC. Mereka menikmati pemandangan di luar jendela sepanjang perjalanan dan akhirnya mereka pun sampai di tempat wisata tujuan.


***


Nasi yang Menangis



“Petani yang menangis, bukan nasi,” kata seseorang yang sedang makan bersama temannya. Orang-orang berkata bahwa kalau kita tidak menghabiskan nasi yang sedang kita makan, maka nasi-nasi tersebut akan menangis. Tetapi, seseorang tadi tidak percaya. Dia bernama Renda. Dia hanya percaya petanilah yang menangis, bukan nasi.

Suatu siang, saat Renda sedang makan siang sendirian di rumah, ia tidak menghabiskan lagi nasi putih yang dimakannya―seperti biasanya. Dia merasa cukup lega hanya memakan setengah nasi dan menghabiskan semua lauknya. “Aaahhh…” katanya sambil mulutnya terbuka lebar setelah minum air putih. Lalu, tanpa diduganya, butir-butir nasi yang masih tersisa di piringnya bergetar-getar!

Rendra mengucek-ngucek matanya. “Loh, kenapa ini….?!” tanyanya memastikan apa yang sedang terjadi. Setelah bergetar-getar, butir-butir sisa nasi itu berubah menjadi manusia-manusia kecil yang ingin berbicara kepada Renda! Tetapi, pertama-tama, manusia-manusia kecil itu menangis. Renda hanya terbujur kaku melihat dan menganga.

Setelah menangis tersedu-sedu dan membuat hati Renda yang mendengarnya pilu, butir-butir nasi yang berubah menjadi manusia itu serentak berbicara kepada Renda. “Mengapa kamu tidak menghabiskan kami…? Kami sedih bila kamu menyisakan kami karena kami jadi terpisah dengan teman-teman kami yang lainnya. Mereka berseru-seru dari dalam tubuhmu memanggil kami. Saat kami berkumpul bersama, maka kami akan senang…” kata mereka senada. “Ya…” lanjut mereka, “maukah kamu menghabiskan kami…?”

Setengah ketakutan, Renda mengangguk dengan wajah agak kaget. Lalu dia mencubit kedua pipinya sendiri, memastikan bahwa ini nyata. Manusia-manusia kecil itu berubah kembali menjadi butir-butir nasi yang putih jernih, segar, dan siap dimakan Renda. Kemudian, dia perlahan-lahan mengambil beberapa nasi tersebut dan memakannya sampai habis. Kini Renda percaya perkataan orang-orang bahwa nasi bisa menangis bila tidak dihabiskan. Mulai saat itu, dia selalu menghabiskan nasi yang sedang dia makan.

Ternyata, sejak Renda selalu tidak menyisakan nasi, dia juga selalu menyelesaikan pekerjaan apa pun yang dia lakukan. Tidak seperti biasanya yang selalu memulai sesuatu, tetapi tidak menuntaskannya. Mungkin menghabiskan nasi putih yang dia makan berhubungan dengan menyelesaikan tugas yang dia kerjakan karena butir-butir nasi itu menjadi senang dan memberi semangat kepada Renda untuk melakukannya sampai habis.


***


Bebek yang Bisa Terbang



Be like a duck. Calm on the surface, but always paddling like the dickens underneath.
―Michael Caine


Menurut orang-orang, hanya burung yang bisa terbang. Menurutmu, bebek itu burung atau bukan? Ya, bebek bukanlah sejenis burung, walaupun sama-sama sejenis unggas. Bebek adalah sejenis unggas air karena senang hidup di air dan tidak dapat terbang. Sedangkan, burung senang hidup dan terbang di udara. Jadi, sekali lagi, menurut orang-orang, cuma burung yang bisa terbang, bebek tidak bisa.

Suatu hari, seekor ayah bebek sedang sendirian berlayar di sungai yang jernih. Ibu bebek dan anak-anaknya sedang berjalan-jalan di daratan. Saat itu, si ayah bebek melihat sosok seperti dirinya, namun sedang melayang-layang di udara. Indah sekali, pikir si ayah bebek. Dia juga merasa mampu seperti itu. Beberapa saat lamanya ayah bebek melihat-lihat cara seekor burung yang terbang di angkasa itu. Burung itu mengepakkan sayap, melenggak-lenggok di langit. Ayah bebek kagum terhadap si burung. Lalu, ayah bebek mencoba mengepak-ngepakkan sayapnya, melajukan kakinya, dan mencoba terbang seperti burung. Tetapi, setelah sekian lama mencoba terbang, bebek tetap tidak bisa terbang. Aduh… Kenapa seperti ini…? Sayang sekali... pikir si bebek. Dia masih mencoba hingga senja menyingsing. Tetapi, tetap tidak bisa.

Akhirnya, saat malam tiba, si ayah bebek pulang ke rumah, berkumpul kembali bersama ibu bebek dan anak-anaknya. Sesaat sebelum tidur, ayah bebek selalu berusaha mendongeng dan meninabobokan anak-anaknya yang mungil dan lucu-lucu. Dia melakukan itu tiap malam, setiap hari. Si ayah bebek ingin bertanggung jawab, mendidik, dan memelihara anak-anaknya dengan baik sampai mereka dewasa. Dia sering berkata kepada mereka ketika mereka sudah terlelap, “Anak-anakku, meskipun kalian mungkin tidak dapat terbang seperti burung, kalian dapat terbang dengan impian-impian kalian nanti.” Ayah bebek juga mengasihi, menjaga, dan memberi makan untuk si ibu bebek. Setelah anak-anak bebek tertidur, ayah dan ibu bebek pun tidur.

Kadang-kadang suatu hari, ketika burung melihat akurnya keluarga dan kehidupan bebek, burung ingin menjadi seperti bebek. Sedangkan, bebek ingin menjadi seperti burung. Padahal, mereka―dua jenis bersaudara itu―sudah memiliki tugas masing-masing. Boleh saja ingin menjadi seperti yang lain, tetapi tetap ingat ada tugas masih-masing. Walaupun begitu, kadang burung merasa bebeklah yang bisa terbang, bukan burung. Terbang dengan tanggung jawab; terbang dengan mendongeng dan meninabobokan anak-anaknya; terbang dengan mengasihi istri dan keluarganya; dan terbang dengan impian-impian. 
Ternyata, menurut si burung, terbang bukanlah tentang bergerak atau melayang di langit atau udara saja, tetapi tentang melakukan tugas masing-masing unggas dengan yang terbaik yang dapat membuat mereka merasa terbang. Jika terbang, tetapi tidak merasa sedang terbang, percuma bukan? Jadi, ya, kalian benar, ada bebek yang bisa terbang!


***


Negeri yang Semua Warganya Tersenyum



Waktu naik bus dan melihat para penumpangnya, wajah-wajah mereka banyak yang terlihat lesu, lemah, dan patah semangat. Mereka seperti orang-orang yang terus-menerus sedang melakukan donor darah. Bukan hanya di dalam bus, tetapi juga di jalan-jalan, di tempat-tempat bekerja, di desa-desa, dan di kota-kota. Tersenyum itu hal yang susah, begitu kata orang-orang. Itulah yang terjadi di suatu negeri yang bernama Windonesia.

Negeri Windonesia itu mempunyai beberapa pulau. Ada pulau Wumatera, pulau Waja, pulau Walimantan, pulau Walawesi, Wali, Wantara, dan pulau Wapua. Kalau melihat dari angkasa yang tinggi atau melalui sebuah peta, negeri ini seperti sebuah senyuman seseorang. Bahkan, pulau Walimantan, Walawesi, dan Wapua mirip wajah orang yang tertawa terbahak-bahak, tidak seperti pulau Wumatera dan Waja yang hanya tersenyum. Tapi, sayangnya, semua warga negaranya tidak ada yang tersenyum. Mereka sepertinya mempunyai banyak beban atau masalah dalam kehidupan mereka, padahal mungkin masalah mereka hanya satu, yaitu tidak mau tersenyum. Negeri Windonesia mengajak untuk tersenyum, tetapi orang-orangnya menolak untuk tersenyum.

Hal ini berbeda dengan negeri yang ada di planet lain, yaitu negeri Indonesia yang ada di planet Umi. Semua warga negaranya tersenyum! Bentuk negeri Indonesia pun bila dilihat dari langit yang luas di atas sana atau melalui sebuah peta, hampir mirip dengan bentuk negeri Windonesia, yaitu seperti senyuman seseorang. Di negeri Indonesia ada beberapa pulau besar, yaitu pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Negeri Indonesia juga memiliki bejibun masalah dan orang-orangnya memiliki banyak beban kehidupan, seperti di negeri Windonesia yang ada di planet Bui. Tetapi, orang-orang di negeri Indonesia mengikuti ajakan wajah negerinya untuk tersenyum.

Saat naik bus dan melihat para penumpang yang ada di negeri Indonesia, wajah-wajah mereka tersenyum semua! Bahkan, setelah mereka pulang dari tempat-tempat bekerja, saat mereka lelah berjalan-jalan, atau sehabis menabur benih padi di sawah di desa, dan hidup di tengah kota, mereka tetap tersenyum! Itulah yang terjadi di negeri Indonesia. Orang-orang asing, baik dari negeri tetangga maupun planet lain yang ingin belajar tersenyum, akan belajar ke negeri Indonesia untuk tersenyum. Jika ada orang yang tidak atau lupa tersenyum, orang-orang Indonesia akan tahu bahwa orang itu adalah orang asing atau hanya lupa tersenyum.


***


Roda yang Mencari Rumahnya



Kata orang-orang, hidup itu bagaikan sebuah roda yang berputar terus-menerus. Tetapi, apakah benar hidup itu seperti roda? Tidak, karena roda itu mempunyai mata, hidung, telinga, dan mulut. Roda bisa melihat-lihat, membaui, mendengar, dan berbicara. Sayangnya, roda tidak mempunyai tangan dan kaki, maka tidak bisa merangkak, berjalan, atau berlari sendiri sehingga harus terpasang pada sebuah mobil. Sebuah roda selalu bekerja keras sepanjang waktu dan menempel pada mobil untuk berjalan dan berlari. Nah, mobil itu pun menjadi rumah bagi sebuah roda.

Suatu hari, ada sebuah roda yang gusar karena merasa tidak memiliki rumah yang bagus. Dia hanya terpasang pada rumah yang tua dan usang. Roda itu berkata, “Aaahhh, kenapa sih aku tinggal di sini?! Rumah ini jelek sekali! Rongsokan!” Dia melihat roda-roda lain yang menempel pada mobil-mobil yang bagus. Mereka tidak perlu bekerja keras. Mereka hanya melaju dengan lancar dan mulus. Sedangkan, roda yang gusar itu selalu mengeluh dan membanding-bandingkan badan dan rumahnya dengan roda-roda yang lain.

Dia juga harus bekerja keras untuk berjalan. Roda itu tidak tahu bahwa dia telah memberikan banyak jasa dan mengantarkan mobil yang menjadi rumahnya itu ke tempat-tempat yang jauh. Dan sebagai balasannya, mobil tua, usang, dan ringsek itu pernah membawa roda itu ke tempat-tempat yang indah. Juga, roda itu sudah melewati jalanan-jalanan yang tidak rata, kasar, dan berkerikil tajam sehingga membuat badannya tipis, tetapi kuat―lebih kuat daripada roda-roda yang hanya terkena debu-debu kecil jalanan.

Roda yang gusar itu memang tipis, tetapi pengalaman dan jasa dan kebaikannya tebal. Sayangnya, sikapnya masih tipis. Dia seharusnya mengucap syukur dan bersikap baik di rumah manapun dia berada.

Suatu siang, ketika mobil yang menjadi rumah bagi roda itu berjalan di pedesaan, mobil itu mogok karena mesin yang sudah tua. Sebatang paku tajam pun menancap di roda! Jadi, mesin mobil itu tidak dapat menyala lagi. Roda itu pun kini tidak dapat lagi berjalan-jalan menikmati pemandangan. Dia makin mengeluh dan menyesal. Ternyata keluhan hanya menambahkan keluhan. Semestinya saat masih bisa berjalan, roda itu mengucap syukur untuk tiap saat yang ada bersama rumahnya. Tidak terlalu banyak mengeluh, bahkan tidak terlalu banyak bicara. Karena di mobil manapun dia berada dan pada mobil apa pun dia terpasang, di sanalah rumahnya.


***


Pengamen yang Mendapat Sejuta Sehari



Seorang anak kecil berpikir, pekerjaan apa yang paling mudah, ya? Dia juga bertanya, “Pekerjaan apa, ya, yang paling susah?” Dia mempunyai sebuah usul:

Bagaimana kalau orang yang memiliki pekerjaan termudah, tetapi mendapat gaji untuk orang yang memiliki pekerjaan paling susah?

Bagaimana kalau orang yang melakukan pekerjaan paling susah, tetapi menerima gaji untuk orang yang bekerja dengan pekerjaan paling mudah?

Lalu, tiba-tiba usulnya itu berubah menjadi kepulan awan dan menjatuhkan setumpuk uang untuk orang-orang yang sedang bekerja! Hal ini terjadi setiap hari! Tetapi, awan tersebut hanya memberikan uang kepada orang-orang yang sedang bekerja. Jadi, makin banyak orang yang bekerja. Sayangnya, orang-orang yang melakukan pekerjaan paling susah, seperti pekerja-pekerja di kantor pemerintahan dan di gedung-gedung mewah, mendapat uang untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan paling mudah. Sedangkan, orang-orang yang memiliki pekejaan termudah, seperti pengamen dan kondektur bus, menerima uang untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan paling susah.

Seorang pengamen yang biasanya mendapat gaji 10.000 rupiah per hari, kini dia mendapat uang sejuta sehari! Apa yang akan dia lakukan dengan uang sejuta sehari itu? Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pekerjaan termudah tapi mendapat uang dan gaji untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan paling susah? Sebaliknya, apa yang dapat dilakukan orang-orang yang bekerja dengan pekerjaan tersusah, tetapi hanya menerima uang dan gaji untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan termudah?

Ternyata, pengamen yang mendapatkan uang sejuta sehari itu menghambur-hamburkan uangnya untuk bermabuk-mabukan. Tetapi, apakah semua pengamen seperti itu? Tidak. Tidak semua pengamen seperti itu. Beberapa pengamen yang mendapat uang sejuta setiap hari dari awan itu menggunakannya untuk menghidupi keluarga mereka.

Bagaimana dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan tersusah tapi menerima uang untuk orang-orang yang memiliki pekerjaan termudah? Ternyata, mereka terus bekerja dan bekerja supaya mendapatkan banyak uang. Akan tetapi, makin keras mereka bekerja, tetap hanya sedikit uang yang mereka terima, yaitu 10.000 rupiah per hari. Tetapi, apakah semua orang yang bekerja keras seperti itu? Tidak. Beberapa orang yang bekerja keras itu rela mendapat uang kecil―bahkan bekerja dengan gratis (sukarela!)―sembari terus belajar dalam pekerjaannya itu dan benar-benar bekerja, sambil tetap mencari pekerjaan yang lebih baik, yang baik kepada hati mereka.

Mereka selalu ingat peribahasa dari luar negeri ketika mereka belajar di sana: If we would not work for free, how would we work for something else such as money? (Jika kita tidak bersedia bekerja dengan sukarela, bagaimana kita bisa bekerja demi sesuatu lainnya seperti uang?) Kemudian, sang awan berbaik hati memberikan uang yang setimpal dengan sikap dan tindakan orang-orang itu.

Setelah beberapa hari, awan itu berhenti menghujankan uang. Lalu, hanya menyusut. Orang-orang dengan pekerjaan termudah dan menerima uang untuk orang-orang dengan pekerjaan paling susah, kembali mendapat gaji yang biasa diterima mereka. Orang-orang dengan pekerjaan tersusah juga kembali menerima gaji yang patut mereka terima. Namun, pengamen yang menghambur-hamburkan uang ketika mendapat sejuta sehari dari awan, sekarang merasa kebingungan karena tidak memiliki uang banyak lagi.

Dia menjadi malas, padahal harus bekerja lebih keras daripada yang sebelumnya dan tetap menerima upah kecil. Sedangkan, oleh karena pengamen yang menggunakan uang sejuta sehari dari awan untuk menghidupi keluarganya dan tidak mementingkan uang, dia tetap bersemangat bekerja walaupun menerima uang kecil. Sampai akhirnya, dia mendapat pekerjaan bagus dan uang yang banyak di sebuah perusahaan.

Kemudian, orang-orang dengan pekerjaan paling susah dan makin keras bekerja dan mementingkan uang karena hanya mendapat uang untuk orang-orang dengan pekerjaan termudah, keadaan mereka masih sama dengan yang semula. Pekerjaan paling susah, gaji yang besar, tetapi mereka tidak tahu untuk apa mereka bekerja, tidak tahu fungsi uang yang sebenarnya, dan tidak tahu tujuan mereka bekerja. Ternyata, pekerjaan tersusah adalah benar-benar bekerja, menikmati jumlah uang yang diterima dan hasil pekerjaan, sambil menanti atau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kebaikan hati.


***


Cintang Si Bintang


When it is dark enough, you can see the stars.
―Ralph Waldo Emerson

Di atas sana, di langit yang gelap, ada sebuah bintang. Bintang tersebut berwarna kuning dan bekelip-kelip. Bintang tersebut besar sekali dan sepertinya kenyal! Nah, pada pukul 9 sampai 10 malam atau antara pukul 10 hingga 11 malam, bintang itu selalu bernyanyi.

Ya, bintang kuning tersebut bisa bernyanyi! Bintang itu bernyanyi untuk orang-orang yang di bawah ini, di atas permukaan tanah. Setiap malam hari, saat bintang itu bersenandung, orang-orang selalu mendengarkan dengan tenang dan merasa senang.

Oh ya, bintang tersebut mempunyai sebuah nama. Bintang itu bernama Cintang. Orang-orang yang sedang berada di dalam kamar dan hendak tidur akan segera tertidur pulas dan lelap karena mendengar suara Cintang yang merdu. Orang-orang yang masih sedang bekerja pun akan beristirahat sejenak untuk mendengarkan nyanyian Cintang. Kemudian, mereka merasa bersemangat lagi untuk bekerja hingga jam pulang berdentang.

Tiap malam juga, angin-angin dan udara yang beterbangan membentuk menjadi not-not lagu supaya dinyanyikan oleh Cintang si bintang. Cintang dengan senang hati menyanyikan lagu dari not-not balok itu. Lagunya seperti ninabobo yang merdu dari seorang ibu.

Orang-orang yang takut sendirian di rumah saat malam hari, menjadi tidak takut lagi karena mendengar suara Cintang yang lembut. Orang-orang yang mempunyai masalah pun menjadi memiliki harapan. Jadi, setiap hari, antara tiap pukul 9 sampai 10, atau 10 sampai 11 malam, orang-orang mulai dari anak-anak, remaja, hingga orangtua, menantikan Cintang si bintang bernyanyi untuk mereka.


***


Payung Warna-warni di Dalam Kamar



Sebuah kamar memiliki ribuan cerita, apalagi cerita yang dialami oleh seorang gadis kecil bernama Tira berikut ini. Ada cerita sedih, ada cerita menyenangkan, ada cerita lucu, ada cerita mengharukan.

Di dalam kamar Tira juga terdapat banyak barang. Ada lampu tidur di sebelah kasur, ada lukisan danau Toba yang indah, ada meja belajar yang mungil, dan tentu saja ada bantal-bantal dan boneka-boneka kesukaannya. Tetapi, ada satu benda yang menjadi barang favoritnya Tira. Apakah itu? Barang itu adalah sebuah payung yang berwarna-warni! Ada warna putih, merah, hitam, cokelat, kuning, hijau, dan biru pada payung itu. Entah kenapa, Tira senang sekali terhadap payung warna-warni itu dan memutar-mutarnya. Jika payung tersebut diputar, maka warna-warninya berubah bersatu hanya menjadi satu warna, yaitu warna putih.

Tira juga senang berbicara dan bercerita kepada payung itu. Jadi, saat tidak ada teman di rumah atau tidak ada orang yang mau mengajaknya berbicara, dia selalu mencoba berbicara dengan payung warna-warni itu. Saat sedang marah, dia akan mengajak bicara warna merah pada payung itu. Saat sedang memiliki permasalahan, dia akan mengobrol dengan warna hitam. Saat sedang pusing atau bingung, Tira akan berbicara kepada warna cokelat payung itu. Saat ingin memberitahukan isi atau rahasia hatinya, dia akan berbicara kepada warna kuning dan hijau. Sedangkan, warna biru adalah untuk saat sedang sedih.

Ya, Tira sudah pernah mengalami saat-saat seperti itu semua. Warna-warni pada payung itu bak menjadi tanda perasaan-perasaannya. Namun, semua perasaan dan kejadian yang dialami oleh Tira tersebut ada tujuannya. Mungkin demi kebaikan Tira, yaitu supaya mempunyai hati seputih warna putih pada payung favoritnya itu bila diputar-putar.

Saat sedang bersedih dan menangis setelah dimarahi oleh orangtuanya karena telah berbuat bandel, hujan air mata pun turun di kamarnya. Kemudian, Tira mengangkat payung itu lalu berhenti menangis. Payung itu seolah-olah memayungi hujan air mata Tira. Lalu muncul pelangi kecil di kamarnya seperti sebuah senyuman yang mengajak Tira tersenyum dan tertawa. “Terima kasih, payungku, karena membuatku tertawa lagi,” kata Tira. Saat sedang senang dan berbahagia, Tira memutar-mutar payung itu, lalu dinding kamarnya pun menjadi berwarna-warni karena payung itu!


***


Bunga-bunga yang Marah



May we never let the things we can’t have, or don’t have, or shouldn’t have, spoil our enjoyment of the things we do have and can have. As we value our happiness, let us not forget it, for one of the greatest lessons in life is learning to be happy without the things we cannot or should not have.
―Richard L. Evans

Bunga-bunga dan tumbuhan marah besar! Bunga-bunga dan tumbuhan yang kecil-kecil berubah menjadi memanjang dan membesar dari satu tempat ke tempat yang lain dan ke mana-mana! Karena di kota-kota sudah banyak berdiri bangunan dan gedung-gedung tinggi. Penghijauan hanya sedikit sekali. Sungai-sungai menjadi berwarna cokelat dan hitam. Bunga-bunga dan tumbuhan yang marah itu mulai merambat ke kota-kota, di gedung-gedung tinggi, dan memenuhi semua tempat!

Kini kota-kota menjadi hijau. Gedung-gedung tinggi dan semua tempat ditutupi bunga-bungan dan tumbuhan yang marah itu! Udara menjadi lebih segar. Sungai-sungai yang cokelat, hitam, dan kotor, beranjak menjadi jernih dan bersih. Sinar matahari pagi dan siang menyinari semua bunga dan tumbuhan itu. Sebelumnya kota-kota dan semua tempat itu panas. Sekarang sudah seperti hutan yang segar! Di mana-mana tertutup bunga-bunga dan tumbuhan!

Sayangnya, orang-orang tidak dapat berjalan seperti biasanya di jalanan lagi. Mengapa? Karena jalanan sudah menjadi hutan. Orang-orang juga tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari, seperti pergi bekerja, berbelanja, atau bermain. Kenapa? Karena makin banyak hewan-hewan yang berkeliaran di jalanan!

Ternyata, sesuatu yang terlalu atau berlebihan itu tidak baik, ya? Terlalu baik itu tidak baik. Bunga-bunga dan tumbuhan yang seharusnya hidup harmonis bersama manusia, sekarang tidak harmonis lagi. Itu terjadi mungkin karena manusia mendominasi dan mengurangi bunga-bunga dan tumbuhan sehingga penghijauan kurang dan setiap tempat menjadi panas.

Para ahli lingkungan menyebutnya sebagai global warming atau pemanasan global. Sekarang giliran bunga-bunga dan tumbuhan yang mendominasi dan marah besar. Padahal, ‘kan kalau masing-masing pihak mengerti dan melakukan porsi masing-masing, semua itu tidak akan terjadi. Akan tetapi, apakah terlalu baik itu benar-benar tidak baik?

Setelah penghijauan terjadi selama satu minggu di kota-kota dan di semua tempat, bunga-bunga dan tumbuhan yang marah itu berpikir. Mereka menjadi sadar dan merasa kasihan kepada manusia-manusia yang malah menjadi seperti mereka―diam di rumah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya, bunga-bunga dan tumbuhan itu pelan-pelan menyusut dan kembali menjadi kecil. Mereka hanya memberi pilihan dan peringatan kepada manusia. Lagipula, ‘kan bukan tugas bunga-bunga dan tumbuhan untuk memenuhi bumi.

Menurut bunga-bunga dan tumbuhan, jika kota-kota dan semua tempat menjadi hijau itu baik, ternyata itu hanya kemarahan mereka kepada manusia. Tetapi, mereka―bunga-bunga dan tumbuhan―tidak mau menjadi sesuatu yang bukan mereka. Akhirnya, kota-kota menjadi cerah lagi, tanpa hutan di jalanan. Orang-orang pun dapat melakukan aktivitas sehari-hari lagi, kali ini dengan peringatan dan pilihan: mau serakah dan bunga-bunga marah lagi, atau mau hidup harmonis dengan alam?


***


Puppy, Si Anak Anjing



Pada suatu hari, ada seekor anak anjing yang sedang berjalan-jalan. Anak anjing itu bernama Puppy, seperti dalam bahasa Inggris untuk menyebut anak anjing, yaitu puppy. Anak anjing itu kecil, imut, dan lucu sekali. Bulu badannya berwarna putih dan halus. Wajahnya agak memelas meminta perhatian dan belaian kasih sayang. Cara berjalannya pun lucu. Ting… tung… ting… tung… Hampir seperti itu bunyi langkah kakinya. Lucu, bukan?

Saat Puppy, si anak anjing, sedang berjalan-jalan di jalan, dia melihat ada seorang penjual es krim! Wah, si Puppy merasa haus dan ingin sekali meminum es krim tersebut. Tetapi, dia tidak memiliki uang untuk membeli. Lagipula, dia tidak dapat berbicara kepada penjual es krim itu. Bagaimana caranya, ya, supaya bisa minum es itu? Akhirnya, dia mempunyai sebuah ide! Memang, anjing adalah hewan yang cerdas!

Si Puppy mendekati sang penjual es krim tersebut dan menjilati kakinya. Ya, itulah kebiasaan lucu anak-anak anjing, yaitu suka menjilat-jilat tangan atau kaki seseorang. Penjual es krim itu merasa geli, tetapi sekaligus juga senang karena kakinya dijilati oleh si Puppy. Jadi, ide si Puppy adalah menjilat-jilat kaki sang penjual es krim agar diberi es krim. Tidak apa-apalah bermaksud baik supaya dibalas kebaikan juga. Akan tetapi, di dalam hati si Puppy, sebenarnya dia hanya ingin menjilati kaki penjual krim dan berbuat baik. Lagipula, kadang perbuatan baik ‘kan tidak selalu mendapat balasan baik pula.

Sang penjual es krim tertawa kegelian. Akhirnya, dia dengan berbaik hati memberi sepucuk es krim kepada Puppy. Es krim itu ada kerupuk cokelatnya atau dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan es krim (ice creamcone. Wah, betapa senang Puppy, si anak anjing itu! Dia memakannya dengan lahap.


***


Piko dan Poki



Di suatu desa, ada seorang petani sekaligus gembala yang mempunyai dua ekor anak domba. Kedua anak domba itu menjadi domba gembalaan petani itu karena mereka dulu tersesat dan ditemukan oleh petani itu. Dia memberi nama kepada masing-masing anak-anak domba itu Piko dan Poki. Sayangnya, anak-anak domba itu tidak memiliki orangtua di tempat petani dan gembala itu. Jadi, hati mereka bersedih dan tampak pada wajah mereka yang memelas, walaupun kadang-kadang menutupinya dan menunjukkan wajah gembira karena ingin menyenangkan tuannya. Ternyata bukan hanya manusia yang pandai menutupi perasaan, ya?

Mereka merindukan belaian dan sentuhan kasih sayang orangtua. Mungkin orangtua kedua anak domba itu pun sedang mencari dan merindukan Piko dan Poki. Sebenarnya, petani dan gembala itu ingin mencarikan orangtua Piko dan Poki tersebut. Hanya orangtua domba yang mengerti hati dan keinginan anak domba. Akan tetapi, petani sekaligus gembala itu pun mau memelihara dan menyayangi kedua anak domba itu. Bagaimanapun, petani itu berusaha akan mencari orangtua Piko dan Poki.

Nah, sembari mencarikan orangtua Piko dan Poki, petani sekaligus gembala itu juga mengadakan sayembara: “Barangsiapa yang bisa menemukan orangtua domba-domba saya ini, Piko dan Poki, akan diberi hadiah berupa beras selama sebulan.” Begitu tulis petani. Dia juga menempelkan gambar Piko dan Poki pada papan tulisan sayembara tersebut.

Suatu pagi, petani pergi berbelanja sayur-mayur ke pasar. Dia hendak memasak enak. Nah, ketika ia sedang berbelanja keperluan sehari-hari itu, dia melihat dua ekor domba dewasa yang tampak bingung dan mencari-cari. Dua domba dewasa itu berada di dekat lapak penjual daging domba yang ada di sekitar penjual sayur. Dua domba itu juga seperti terus sedang melolong. Mungkin mereka berpikir, Oh tidak… anak-anak kita sudah menjadi daging-daging yang disembelih dan dijual oleh penjual daging domba ini… dan mungkin sebentar lagi giliran kita

Petani tadi juga melihat bahwa dua domba dewasa itu memiliki tanda lahir di tubuh mereka yang sama dengan milik Piko dan Poki. Ya, tanda lahir itu berwarna agak cokelat dan berbentuk menyerupai pisang. Petani sekaligus gembala itu berpikir, Wah… jangan-jangan dua domba itu adalah orangtua Piko dan Poki! Tetapi, apakah benar? Petani itu mencoba mendekati mereka untuk memastikan kemiripan tanda lahir di badan mereka dengan milik Piko dan Poki. Hasilnya? Serupa!

Ternyata, kaki kedua domba dewasa itu terikat di meja lapak penjual daging domba. Penjual daging domba itu mengambil mereka karena berkeliaran di pasar. Sebelumnya, dia berteriak-teriak menanyakan pemilik dua domba dewasa itu kepada orang-orang di pasar. Karena tidak ada yang memiliki, menyahut, atau mengaku sebagai pemilik, akhirnya penjual daging domba itu menarik kedua domba itu secara paksa dan mengikat mereka!

Wah… bagaimana ini? Apakah aku harus berbohong dan mengaku sebagai pemilik mereka kepada penjual daging itu? Atau apakah aku harus melepaskan mereka dan membawa mereka ke rumah untuk bersama dengan Piko dan Poki lagi…? Atau apakah aku sebaiknya menyuruh dan meminta bantuan orang lain untuk melakukannya? Tetapi sebaiknya aku melakukannya sendiri lah. Aku ingin berbuat baik―setidaknya, kalau bukan untuk orang lain atau Piko dan Poki, aku ingin berbuat baik untuk diriku sendiri… Begitu pikir petani sekaligus gembala tersebut.

Kemudian, petani itu mencoba mendatangi penjual daging, lalu mengaku sebagai pemilik dua domba yang terikat itu. Akan tetapi, penjual daging itu malah membentak-bentak, beralasan dan berteriak, “Enak saja kamu! Tadi ‘kan sudah aku tanya-tanyakan kepada orang-orang di pasar, siapa yang memiliki domba-domba ini?! Apa kamu tidak ada di sana tadi?!”

Lalu petani itu menjawab, “Ya… maaf, saya tadi tidak berada di pasar, saya sedang memasak untuk anak-anak saya di rumah… Apakah saya boleh mengambil dan membawa domba-domba saya ini kembali…?”

Kemudian, penjual daging berdiam sebentar dan melihat bahwa petani itu memegang sayur-sayur. “Kamu bohong! Kamu saja masih memegang sayur-sayur itu, bagaimana mungkin kamu bilang kamu tadi sedang masak di rumah?!” kata penjual daging.

Petani tidak berkutik karena ketahuan berbohong.

Wah… bagaimana caranya, ya…? Kalau pun aku menempelkan papan sayembara di dekatnya, dia pasti tidak mau menyerahkan domba itu… Demikian kata petani dalam hati.

Mau tidak mau, petani itu akhirnya mempunyai ide untuk melepaskan kedua domba itu dan membawa mereka bertemu anak-anak mereka, Piko dan Poki. Lebih baik berbuat salah untuk berbuat baik daripada berbuat benar, tetapi tidak menghiraukan orang lain. Nah, petani pulang terlebih dulu untuk menaruh sayur-mayur yang dibelinya dan memasak.

Menjelang sore hari, petani itu kembali ke tempat penjual daging domba tadi. Dia mengendap-endap mendekati lapak untuk melepaskan kedua domba dewasa yang terikat tali pada meja. Sementara itu, penjual daging sedang tidur. “Sssttt… domba-domba yang baik… kalian diam dan tenang, ya… Jangan mengeluh, ya… Ups, salah, melenguh… Aku akan membebaskan kalian dan membawa kalian bertemu kembali dengan anak-anak kalian…” demikian kata petani sambil agak gugup. Tetapi, dia berhasil! Petani itu berhasil melepaskan ikatan tali yang mengikat kaki kedua domba itu! Lalu, dia segera membawa dua domba itu ke rumahnya.

Saat sampai di rumah petani, kedua domba dewasa itu melihat kedua domba kecil, anak-anak mereka… Ya, ternyata benar, mereka adalah orangtua Piko dan Poki! Mereka semua berempat melenguh dengan nyaring dan menangis. Petani pun lega dan bangga karena dapat menemukan orangtua anak-anak domba itu. Petani itu sendiri yang menjawab tantangan sayembara yang dia buat. Kemudian, domba-domba dewasa itu, Sipi dan Sopi {ya, petani sekaligus gembala telah memberi nama kepada dua domba dewasa itu}, serta Piko dan Poki sebenarnya bisa saja pergi, tetapi mereka memilih untuk menetap di tempat petani itu.


***


Twenty-Seven Things



The measure of success isn't if you have a tough problem, but whether it's the same one you had last year.”
―John Foster Dulles

Apakah kalian dapat menyebutkan angka-angka 1 – 10 dalam bahasa Inggris? Yes… One, two, three dan seterusnya Kalau dari satu sampai seratus, apakah kalian dapat melakukannya? Ayo, cobalah. Tetapi, pada angka 27 (twenty-seven), berhenti dulu, ya. Mengapa? Karena cerita ini bukanlah tentang angka-angka, melainkan tentang seorang remaja. Ya, seorang remaja yang bernama Twenty Seven.

Semenjak kecil, dia sudah diberi nama Twenty Seven oleh orangtuanya, tepatnya oleh ayahnya. Sebenarnya, sang ibu kurang setuju dengan pemberian nama itu karena terdengar aneh. Tetapi, sang ayah berpikir, apakah arti sebuah nama? Sang ibu biasanya menjawab pertanyaan itu, “Nama itu berarti. Nama itu seperti sebuah doa yang dipanjatkan sehari-hari.” Meskipun begitu, nama Twenty Seven tetap dipilih.

Seiring pertumbuhannya, dari bayi menjadi anak-anak, dan dari anak-anak menjadi remaja, orangtuanya mengamati bahwa Twenty Seven ternyata selalu melakukan 27 hal setiap tanggal 27 tiap bulan. Hanya 27. Semua duapuluh-tujuh hal yang dilakukannya itu adalah hal-hal yang berarti. Lalu, apa sajakah keduapuluh-tujuh hal itu? Nah, berikut ini adalah daftarnya:

  1. Tersenyum setiap hari
  2. Menolong teman-teman perempuan membukakan pintu
  3. Membuang sampah di tempat sampah, ya kalau tidak ada, simpan terlebih dulu di dalam tas atau kantung

  1. Belajar bahasa dan matematika dengan benar
  2. Mencium lumba-lumba atau paus putih kalau berani
  3. Menyanyi bagi ibu atau ayah

  1. Mau menerima pemberian dari orang lain, karena orang yang selalu menolak pemberian dari orang lain biasanya adalah orang yang sombong atau tidak mau memberi
  2. Berani sehari, bahkan berhari-hari
  3. Menghormati orang (remaja) yang lebih tua dan yang muda, serta mendukung teman-teman

  1. Membiarkan teman yang sedang asyik bermain atau bertingkah konyol, tanpa ikut campur, mengomentari, atau menyuruh dia berhenti
  2. Ikut bertingkah lucu atau konyol dengan teman-teman
  3. Pergi ke pantai dan kalau melihat ada bintang laut yang terdampar di pasir pantai, mengembalikannya ke air laut

  1. Memikirkan hal-hal yang positif, berharap yang terbaik dan bersabar
  2. Minum air putih dan susu yang banyak
  3. Memberi uang kepada para pengemis atau orang-orang asing, tanpa mengharapkan balasan, walaupun tidak tahu mereka akan memakai uang tersebut untuk apa

  1. Mengerjakan sesuatu yang dikerjakan sampai tuntas. Pantang menyerah
  2. Jujur dan menjadi diri sendiri, apa adanya
  3. Menuliskan sesuatu yang indah kepada sahabat

  1. Melakukan sesuatu yang takut dilakukan, misalnya masuk ke rumah hantu
  2. Melakukan sesuatu yang sudah berjanji dilakukan, misalnya berolahraga
  3. Berpikir besar dan percaya seperti pikiran anak-anak kecil

  1. Mendengarkan dan melakukan perkataan atau perintah ayah dan ibu karena suatu hari nanti juga akan menjadi seorang ayah atau ibu
  2. Melakukan sesuatu yang baik yang seharusnya dilakukan
  3. Belajar bermain piano atau alat musik apa pun yang sungguh-sungguh ingin dipelajari

  1. Membebaskan burung dara atau anaknya, memberi makan kucing atau anaknya, memelihara seekor anjing atau anaknya, memetikkan buah jambu lalu memberikannya kepada ibu, mendengarkan cerita ayah sepanjang waktu
  2. Tidak lupa berdoa karena kehidupan ini dimulai dari doa
  3. Mengingat-ingat duapuluh-tujuh hal berarti ini
Kadang-kadang Twenty Seven mencatat semua 27 hal itu. Kadang-kadang dia juga mengganti duapuluh-tujuh hal tersebut. Jadi, tidak hanya hal-hal yang seperti itu. Kadang-kadang teman-temannya menanyakan apakah Twenty Seven sanggup dan sungguh-sungguh melakukan 27 hal itu setiap tanggal 27? Tidak apa-apa. Melakukan satu hal dari duapuluh-tujuh hal itu pun sudah termasuk melakukan duapuluh-tujuh hal tersebut.


***


Dua Bersaudara Naik Gunung

Edmund Hillary (kiri), Jim Whittaker (kanan)

Suatu hari, dua orang bersaudara kandung sedang naik gunung. Sudah sejak lama mereka ingin naik gunung (hiking) bersama. Hari itu, akhirnya mereka sempat dan pergi naik gunung bersama. Alat-alat hiking dan beberapa bekal di ransel telah tersedia. Mereka mulai naik.

Ada perkataan bijaksana yang berkata bahwa sifat atau karakter asli seseorang akan ketahuan saat berada dalam kesuksesan; memegang kekuasaan; penderitaan; dan naik gunung atau di hutan. Nah, kedua bersaudara ini pun ingin membuktikan sedikit perkataan itu. Ketika masih di kaki gunung, sebenarnya mereka agak malas mulai naik gunung karena bukit dan gunung itu terlihat terlalu tinggi. Namun, mereka pun tetap mencoba beranjak naik.

Pada hari yang sama, ada dua orang pendaki yang belum saling mengenal yang sama-sama hendak naik ke puncak gunung itu. Satu pendaki bersemangat. Satu pendaki lainnya berantusias. Mereka sama-sama mau memulai naik gunung dengan bersemangat!

Ketika dua orang bersaudara tadi tiba di tengah pendakian, mereka lelah, lalu berhenti sejenak untuk minum dan memakan bekal yang kecil. Mereka tidak sabar untuk makan. Berebutan bekal yang paling enak dan lebih besar. Saudara yang lebih tua tidak mau mengalah. Saudara yang muda juga tidak mau mengalah. Lalu, karena tangan mereka saling berebutan ke sana kemari pada bekal itu, akhirnya bekal itu jatuh menggelinding dan menjadi kotor! Lalu mereka sama-sama kesal dan saling menyalahkan!

Bekal terbuang, tinggal minuman. Dua bersaudara itu sama-sama ingin meminum minuman yang paling segar. Masih tidak ada yang mau mengalah. Tangan mereka berebutan lagi ke sana kemari terhadap minuman itu. Minuman ‘kan mudah tumpah, akhirnya minuman mereka pun tumpah karena mereka berebutan! Lalu, mereka saling menyalahkan lagi dan mulai berkelahi! Akhirnya, dua orang bersaudara itu berpisah. Saudara yang satu pergi ke arah lain; saudara yang lain pergi ke arah berlawanan. Mereka seolah-olah bukan bersaudara lagi. Jangan-jangan, mereka pun tidak jadi naik ke atas gunung, tetapi malah kembali turun ke bawah!

Lain cerita dengan dua pendaki yang belum saling mengenal tadi. Sejak awal pendakian dari kaki gunung sampai pada pertengahan bukit menuju puncak gunung, mereka akur, bahkan bersahabat. Mereka beristirahat sejenak di tengah perjalanan tersebut. Mereka bertukar makanan dan berbagi minuman. Tidak berebutan. Bekal yang tidak dimiliki oleh pendaki pertama, diberi oleh pendaki kedua. Sebaliknya juga begitu, minuman tidak begitu segar milik pendaki kedua, ditukar oleh pendaki pertama dengan minuman yang menyegarkan dan menyehatkan. Juga, mereka malah saling menyisakan bekal dan minuman!

Setelah beristirahat sejenak, kedua pendaki tersebut kembali melanjutkan pendakian menuju puncak gunung. Mereka saling menopang dan memberikan kata-kata semangat. Bayangkan sesuatu yang benar-benar, yang benar-benar kamu inginkan ada di puncak sana. Berusahalah untuk mencapainya. Begitu kata-kata mereka satu kepada yang lainnya bila merasa capek atau patah semangat. Mereka seperti bersaudara. Akhirnya, setelah berjerih payah, berkeringat deras, dan mata hampir berkunang-kunang, mereka tiba di puncak gunung itu!


***


Baju yang Bisa Dipakai Semua Orang



Engkau pasti punya baju atau pakaian yang paling kausukai. Engkau pasti memelihara dan sering mencucinya. Tetapi, bagaimana kalau baju yang paling kausukai itu dipakai oleh orang lain, misalnya saudara atau temanmu? Padahal, mereka tidak meminta izin darimu. Apakah engkau akan marah atau malah membiarkannya? Akan tetapi, baju tersebut tidak keberatan dipakai oleh orang lain. Apakah engkau iri dan cemburu?

Baju yang paling kausukai itu senang-senang dan baik-baik saja dipakai oleh orang lain. Baju itu pun dapat menyesuaikan ukuran terhadap orang-orang yang memakainya. Jika orang gemuk yang memakainya, baju itu membesar. Jika orang kurus atau sedang-sedang yang memakainya, baju itu mengecil dan mengepaskan ukuran dengan orang itu. Baju itu merasa berbuat kebaikan karena dapat dipakai semua orang dan menyesuaikan diri. Sedangkan, engkau mungkin marah dalam hati, iri, dan cemburu. Padahal, seharusnya engkau ikut senang karena berbuat kebaikan melalui baju itu.

Suatu hari, engkau melihat baju favoritmu itu sedang dipakai oleh saudaramu yang kurus. Saudaramu itu seperti sedang menarik-narik bagian bawah baju. Dan engkau melihat sepertinya ada benang-benang yang berumbai-rumbai di baju kesukaanmu itu! Apakah saudaramu itu mau merusak baju favoritmu?! Engkau melihat sekilas dengan mata menyempit dan curiga. Ternyata, saudaramu itu sedang memperbaiki dan memutus benang-benang yang berumbai-rumbai di bajumu karena sudah sering menyesuaikan ukuran dengan tubuh orang-orang. Baju itu pun senang karena diperhatikan dan dipelihara oleh orang-orang. Engkau seharusnya ikut senang karena ada orang yang mau menjaga baju atau pakaian kesukaanmu itu.

Baju favorit tersebut sebenarnya bukan milikmu! Ada orang yang telah menjahitkan dan membuatkannya. Ada orang yang menjualkan, lalu engkau yang membelinya. Engkau juga pernah memakai baju orang lain, bukan?


***


Pemuda Pengatur Lalin

Marvin Burchall (mantan pelayan di restoran hotel, ia menerima beasiswa untuk kuliah di Endicott College karena rekomendasi wanita bernama Lynn Bak)


Di suatu jalan, ada seorang pemuda yang bertugas mengatur lalu-lintas (lalin) supaya kendaraan―seperti sepeda motor, mobil-mobil, atau bus―dapat antre dan berjalan lancar. Pemuda tersebut adalah seorang calon polisi dan dia mendapat tugas “sepele dan kecil” itu.

Banyak orang yang berlalu-lalang di jalan raya itu menyepelekan, meremehkan, dan menghina pemuda tersebut. Mereka mengira pekerjaan yang dilakukan pemuda itu mudah. Seorang pak polisi yang lebih senior (tua) pun berada jauh dari pemuda itu saat bekerja bersama-sama. Bahkan seorang kondektur bus bercanda dengan sang sopir, “Jok, temenmu tuh.” Maksudnya, kok ada orang yang bekerja di tengah jalan mengatur mobil-mobil dan lalu-lintas seperti dia? Lalu, sopir bus membalas sambil tertawa, “Temenmu lah!”

Meskipun banyak orang yang menghina, pemuda pengatur lalu-lintas tersebut tetap bersemangat bekerja. Dia meniup peluit, mengarahkan berbagai kendaraan dengan tangan kanan dan kirinya, serta memohon kesabaran sopir-sopir untuk antre. Dia mungkin tidak tahu bahwa orang-orang merendahkan dirinya. Padahal, belum tentu mereka dapat melakukan pekerjaan tersebut. Lagipun, mengapa mereka merendahkan orang yang rendah, padahal mereka juga direndahkan oleh orang-orang yang lebih tinggi (mempunyai pekerjaan hebat) daripada mereka? Apa ukuran untuk tidak direndahkan oleh orang-orang?

Setiap hari, pemuda itu bekerja dengan semangat. Dari pagi sampai malam hari! Sebenarnya, dia ingin memiliki pekerjaan yang lebih hebat dan bergaji besar. Tetapi, sekarang dia hanya dapat melakukan pekerjaan tersebut karena ia memang mendapat tugas itu. Tidak apa-apalah, aku akan mengerjakan tugasku dengan sebaik-baiknya, begitu katanya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.

Ternyata, setelah beberapa bulan, ada seorang penumpang bus yang telah memperhatikan pemuda pengatur lalu-lintas itu. Penumpang bus tersebut adalah seorang bapak tua yang mempunyai perusahaan besar dengan gedung yang tinggi sekali di kota. Beliau senang naik bus karena tidak perlu capek menyetir sendiri dan lebih menghemat uang. Beliau juga senang melihat-lihat pemandangan-pemandangan di luar bus.

Nah, beliau telah memperhatikan pemuda tersebut selama beberapa hari. Beliau kagum terhadap pemuda tersebut, walaupun beliau juga mendengar sendiri di dalam bus banyak orang dan kondektur serta sopir bus yang menghina pekerjaan pemuda tersebut. Akan tetapi, bapak tua itu merasa kagum dan menghormati pemuda yang bersemangat bekerja setiap hari itu. Seolah-olah kelancaran jalan dan keselamatan semua pengguna jalan bergantung kepadanya.

Suatu sore, bapak tua tersebut turun dari bus, tepat setelah persimpangan tempat pemuda tadi mengatur kendaraan dan lalu-lintas. Kemudian, bapak tua itu mencoba mendekati posisi pemuda itu dan berdiri di dekatnya. Beliau mencoba merasakan pekerjaan pemuda itu.

Hebat pemuda ini… Dengan segala kerumitan jalan seperti ini, dia mampu mengaturnya sendirian dan bersemangat lagi…! demikian kata beliau dalam hati sambil tersenyum kecil.

Lalu, dia menyapa pemuda itu dan bertanya kepadanya, “Anak muda, apakah engkau mau bekerja kepadaku?” Bapak tua itu bertanya tanpa basa-basi. Pemuda tersebut juga bertanya singkat sambil tetap mengatur jalan, “Bekerja apa, Pak?” “Engkau akan bekerja sebagai manager (pengatur) para karyawan di perusahaanku,” demikian jawab beliau. “Hah? Tapi, saya hanya pengatur lalu-lintas, Pak. Dan saya sudah bekerja di sini…” kata pemuda itu. “Tidak apa-apa. Saya bisa mengaturnya supaya kamu segera pindah ke tempat saya,” kata sang bapak tua.

Lalu, setelah berpikir dan menghubungi bapak tua, pemuda tadi menerima kesempatan yang diberikan oleh beliau. Pemuda itu mulai bekerja sebagai pemimpin bagian yang mengatur para karyawan atau HRD (Human Resources Division) di kantor bapak tua tadi. Sekarang pemuda itu mengatur dan memimpin orang-orang. Bukan lagi mengatur jalan dan memimpin para sopir kendaraan! Pasti masih ada tantangan dalam pekerjaan yang baru tersebut, bahkan mungkin lebih sulit. Akan tetapi, dia tetap memiliki kemauan dan bersemangat bekerja!


***


Labirin Kerupuk



Pada suatu hari, ada dua manusia kecil yang ingin pergi ke sebuah bukit. Di balik bukit itu terdapat sebuah kota tempat berkumpulnya semua manusia kecil.

Nah, dua manusia kecil itu ingin menuju ke sana. Akan tetapi, sebelum dapat sampai di bukit dan kota tersebut, mereka harus melalui sebuah labirin kerupuk! Nah, labirin tersebut adalah labirin kerupuk yang sangat besar! Kerupuk adalah makanan yang terbuat dari adonan tepung dicampur dengan bahan lainnya. Sedangkan, labirin adalah tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku, serta simpang siur. Jadi, mereka harus melewati labirin kerupuk itu!

Jalan-jalan dan lorong-lorong di dalam labirin kerupuk tersebut gelap, agak lembab, basah, dan becek. Hampir seperti rimba yang tak pernah terjamah manusia. Maut dapat terjadi kapan saja di dalam labirin kerupuk itu! Tetapi, dua manusia kecil itu tidak takut karena bagaimanapun semua orang pasti mati. Lalu, mereka mulai memasuki jalan dan lorong awal di labirin itu. Mereka bergerak cepat dan berlari karena hari masih terang sebelum sore dan malam gelap menjelang.

Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, melewati dan meloncati dinding-dinding basah yang ada di jalan-jalan dan lorong-lorong labirin. Kadang mereka tersesat atau kembali lagi ke tempat semula awal mereka berangkat. Tetapi, mereka tidak mau saling menyalahkan. Mereka mencoba dan berusaha lagi menemukan arah yang tepat. Mereka mulai membuat tanda seperti tulisan di jalan atau lorong yang pernah mereka lalui agar tidak melewati atau kembali ke jalan dan lorong itu.

Mereka bergerak ke kanan dan kiri lagi. Lalu, ada dinding tinggi yang belum pernah mereka lewati dan loncati. Agak susah karena tembok itu sangat basah, berlumut, dan berlendir! Tetapi, dua manusia kecil itu tidak mau menyerah, meskipun tembok itu juga sangat bau! Apalah arti bau, karena kita pun diciptakan dari bau, demikian pikir mereka.

Dengan sekuat tenaga, mereka berusaha dan akhirnya berhasil melewati dan meloncati dinding yang tinggi itu. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka bergerak ke kanan dan mengarah lurus karena sepertinya itu arah yang tepat dan terlihat sedikit ujung labirin kerupuk serta pepohonan di bebukitan. Walaupun kelelahan, mereka harus bergerak cepat dan berlari karena hari sudah makin gelap menjadi sore dan malam. Tenaga mereka hampir habis karena mencari-cari jalan yang benar di labirin yang rumit dan berliku-liku itu.

Ternyata, mereka benar! Mereka hampir sampai di ujung labirin kerupuk menuju bukit.

Saat mereka akan melewati jalan dan lorong akhir labirin, tiba-tiba muncul seekor kecoak raksasa mengadang mereka! Dua manusia kecil itu kaget, agak panik, dan kaki mereka gemetaran! Kecoak raksasa itu mendekati mereka, hendak menghalang-halangi dan menyuruh mereka kembali ke awal labirin. Tetapi, mereka berpikir jernih secara cepat. Lebih baik salah langkah, tersesat, berani menghadapi risiko, dan terus maju, daripada mengalah, takut, kembali ke tempat semula, dan tidak sampai ke tempat tujuan!

Lalu, dua manusia kecil itu ingat bahwa mereka memiliki dan membawa dua kantong yang berisi garam ajaib! Karena dua manusia kecil itu tidak mungkin melawan kecoak raksasa itu dengan tangan kosong, mereka memakai garam ajaib untuk mengalahkan kecoak itu.

Garam ajaib tersebut dapat membuat sesuatu yang terkena menjadi kepanasan. Nah, dua manusia kecil itu melempari kecoak raksasa dengan garam ajaib mereka. Lalu badan kecoak tersebut terkena garam dan menjadi kepanasan! Lalu, kecoak raksasa itu takut dan lari menghindar dari dua manusia kecil. Mereka berhasil mengalahkan kecoak itu dan dapat melewati jalan dan lorong akhir labirin! Akhirnya, mereka sampai di bukit dan melanjutkan perjalanan menuju kota tempat berkumpulnya semua manusia kecil.


***


Biola yang Bisa Bermain Sendiri



Apakah engkau pernah melihat sebuah alat musik yang dapat memainkan instrumennya sendiri? Tentu tidak dan belum pernah, bukan? Atau, kalau pun pernah, alat musik tersebut pasti adalah sebuah robot atau instrumen yang telah diset untuk memainkan musik sendiri, bukan? Atau, yang paling mudah dan sering adalah seekor hewan yang dapat memainkan sebuah atau dua buah alat musik, ‘kan? Tetapi, apakah engkau percaya bahwa ada sebuah alat musik yang dapat memainkan instrumennya sendiri?!

Ya, di negeri Polandia ada sebuah biola yang dapat memainkan instrumennya sendiri. Ajaib, bukan? Terutama saat ada orang-orang yang sedang bersedih di dekatnya, biola tersebut akan memainkan irama yang riang supaya mereka gembira. Saat ada orang yang ingin mendengarkan suara biola, tetapi ia tidak dapat memainkannya, maka biola tersebut juga dengan senang hati akan bermain bagi orang itu. Atau, jika ada orang yang sedang patah hati dan ingin mendengarkan lagu yang sendu, biola tersebut akan memainkan alunan musik yang lembut.

Orang itu ingin merasakan nyanyian untuk hati yang sedih seperti menanggalkan baju pada musim dingin dan memberi cuka pada gigi yang luka. Tetapi, sesudah itu, dia akan tenang dan kembali lega karena lagu sendu dari biola itu. Kadang kesedihan hanya dapat diobati dengan kesedihan.

Siapakah pemilik biola yang bisa bermain sendiri itu? Tidak ada orang yang tahu dan belum ada orang yang ingin memilikinya. Orang-orang cukup berada di dekatnya, maka biola tersebut akan memainkan instrumennya sendiri. Jika mereka sedang bersedih atau patah semangat, biola itu akan memainkan lagu yang riang dan membangkitkan semangat supaya menjadi senang lagi dan memiliki harapan. Jika orang-orang yang sedang patah hati ingin mendengarkan lagu sendu untuk mengobati luka hati yang nyata, biola tersebut dapat memenuhi keinginan mereka dan memainkan instrumennya sendiri sehingga menjadi senang lagi.

Sebenarnya, biola tersebut ingin mengajarkan sesuatu: Jika biola saja bisa memainkan instrumennya sendiri untuk senang, sedih, atau membangkitkan semangat, seorang manusia pun pasti dapat melakukannya! Manusia lebih ajaib daripada biola, bukan?

If your happiness depends on what somebody else does, I guess you do have a problem.
―Richard Bach


***


Kentut Pelangi




Apakah sesuatu yang jelek dapat menjadi sesuatu yang baik? Misalnya, monster pohon raksasa menjadi pelayan raja kerajaan yang mulia; bangsa yang keji (kejam) memiliki seorang pahlawan dan pembela bagi musuh negara itu; seekor tikus menjadi Mickey Mouse; ikah hiu yang menjadi diri sendiri, suka menolong, dan ramah seperti lumba-lumba; burung gagak yang sepintar manusia; atau cukup sebuah kentut yang berupa pelangi. Hal itu boleh ditertawakan, tetapi tertawalah seperti lengkungan pelangi juga.

Nah, di sebuah rumah mungil yang berada di ujung suatu jalan, ada bayi yang kentutnya pelangi! Asapnya berbentuk not balok. Baunya bau semangka. Durasi baunya selama 40 detik! Lucu, bukan? Tiap kali bayi tersebut berkentut, kedua orangtuanya selalu heboh karena senang mendengar bayi mereka berkentut, apalagi seisi rumah itu menjadi bau semangka selama 40 detik. Segar, bukan?

Bayi atau seseorang yang bisa berkentut berarti sehat. Jadi, sesuatu yang jelek itu kadang menyehatkan dan dapat menjadi sesuatu yang baik. Tetapi, seseorang yang sudah dewasa tidak boleh mengeluarkan gas busuk (kentut) sembarangan; kalau masih bayi sih, boleh. Orang dewasa yang kentut sembarangan berarti tidak dapat membuat pilihan yang benar. Dia juga tidak menghargai hak orang lain untuk bernapas dengan lega, segar, dan tenang.

Nah, ada orang dewasa yang kentut di dalam bus, padahal banyak penumpang. Entah orang yang kentut tersebut tidak mampu menahan kentut, entah sengaja mengentuti para penumpang karena marah tidak mendapat tempat duduk. Dia tidak menghormati orang lain! Kentut sembarangan memang menunjukkan kesan pribadi yang tampil apa adanya. Tetapi, orang-orang juga akan menganggap dia apa adanya. Kalau dia seperti bayi sih, tidak apa-apa, apalagi bila kentutnya pelangi dan bau semangka.

“Kesuksesan dibangun dengan mengubah hal negatif menjadi positif―mengatasi keadaan buruk, bahaya, dan bencana.”
―Summer Redstone


***


Kacang yang Dapat Mengalihkan Pikiran




Suatu sore yang penat, ada seseorang yang capek setelah bekerja dari pagi. Dia memiliki banyak masalah di tempat kerja dan di rumah. Saat itu, dia sedang menanti bus di pinggir jalan untuk mengangkutnya pulang. Dia merasa sangat lelah karena memikirkan semua masalah tersebut. Akan tetapi, sayup-sayup terdengar bisikan kata-kata di telinganya: Ah, kalau pun aku nanti meninggal, aku pasti ingin hidup lagi dan menghadapi semua masalah ini. Dia sih mau berpikir positif seperti itu, tetapi semua masalahnya mengajaknya berpikir negatif terus!

Lelah, lapar, ingin marah, serta merasa putus semangat dan patah asa. Orang itu hanya terdiam menunggu bus datang. Bus belum datang-datang mungkin juga karena sopirnya lelah dan lapar. Lalu, orang itu merogoh saku jaketnya untuk mengambil kacang. Ia ingat bahwa tadi sebelum pulang, temannya memberi dia beberapa buah kacang. Lumayan untuk mengusir angin dari perut, begitu pikirnya dalam hati. Kemudian dia mengambil satu kacang dan memakannya. Satu kacang dia makan, kulitnya tidak langsung dia buang, tetapi ia mainkan dan remas-remas sampai hancur menjadi beberapa bagian.

Ketika dia memainkan dan menghancurkan kulit kacang itu, tiba-tiba perasaan dan pikirannya menjadi tenang! Untuk sekejap, dia tidak lagi khawatir atau memikirkan semua masalah yang dimiliki dan dialami di tempat kerja dan di rumah! Dia mulai memikirkan hal-hal lain yang membuatnya merasa damai dan tenang―tidak memikirkan masalah-masalah itu sedikit pun. Apakah karena ia memakan kacang itu, maka pikirannya teralihkan dari semua masalah itu? Tidak. Ternyata serpihan-serpihan kulit kacang itulah yang dapat mengalihkan pikirannya.

Ketika dia mengambil satu kacang, meremas-remas, dan menghancurkan kulit kacang itu, pikirannya yang semula berfokus pada semua masalahnya ikut menjadi hancur dan mulai memikirkan hal yang lain. Sejak hari itu, dia mulai memakan satu kacang setiap kali menunggu bus setelah pulang bekerja.

Masalah-masalah yang lain, negatif, dan lama memang teralihkan dan hilang sementara, tetapi muncul masalah baru dari sesuatu yang positif. Dia mulai ketagihan memakan kacang yang dapat mengalihkan pikirannya itu dari masalahnya.

Suatu sore, ketika orang itu sedang menunggu bus, seperti biasanya dia hendak memakan satu kacang lagi setelah penat bekerja. Namun, kacang pemberian temannya itu habis! Dia telah berhari-hari memakan kacang demi kacang yang dapat mengalihkan pikiran itu. Dia panik dan bingung! Lalu dia kembali sebentar ke dalam tempat kerja dan meminta kacang seperti itu lagi kepada temannya. Tetapi, temannya berkata bahwa sudah tidak punya kacang lagi! Ternyata kacang-kacang itu ditemukan di lemari rumah temannya tersebut. Karena temannya tidak suka kacang, maka dia memberikan semua kacang itu kepada orang yang menjadi kecanduan kacang tersebut.

Sekarang orang itu harus memilih, apakah mau berlarut-larut dalam masalah yang baru atau mau mencoba berhenti memikirkan masalah-masalah yang lama tanpa kacang? Akhirnya, dia memilih yang kedua. Orang itu mencoba berhenti berpikir sejenak terhadap masalah-masalah yang dialaminya di tempat kerja atau di rumah. Setiap saat dia pulang bekerja dan menanti bus, tiap kali pikiran negatif mengajaknya memikirkan semua masalahnya, orang itu memikirkan hal-hal yang lain―yang lebih positif, lebih memberikan kedamaian dan ketenangan.


It is only possible to live happily ever after on a day to day basis.
―Margaret Wander Bonnano


***


Angin yang Jahat




Di dunia ini, hanya ada dua jenis angin, yaitu angin baik dan angin jahat. Angin yang baik adalah angin di pantai dan angin melalui jendela saat pagi sampai siang hari, serta angin dari kipas saat kepanasan. Angin jahat adalah angin yang dapat memasuki perut atau dada manusia sehingga manusia itu sakit. Nah, hari-hari ini lebih banyak angin jahat daripada angin yang baik. Mengapa? Karena sekarang ini lebih banyak orang sakit, bahkan angin jahat tersebut juga menyebabkan manusia menjadi jahat.

Suatu malam, ada seorang penumpang bus yang sedang berdiri di ambang pintu bus. Dia tidak mendapat tempat duduk karena bus penuh. Orang itu kelelahan karena telah bekerja dari pagi hingga malam itu, ditambah harus berdiri dan menggenggam besi pintu bus supaya tidak terjatuh.

Ketika bus sedang melaju di jalan tol, angin-angin kencang menerpa wajah, dada, dan perut orang itu. Seolah-olah angin-angin tersebut berbisik: Wah, kamu ngapain di sini?! Seharusnya kamu berdiri di dalam! Lihat tuh orang itu malah menyikut-nyikut kamu supaya kamu tetep di pintu. Ayo, kamu marah aja…! Atau, entar kamu marah aja di rumah, atau lakuin hal-hal jelek aja sebelum pulang!

Angin-angin di jalan tol itu ingin membuat penumpang itu sakit dan jahat. Orang itu sejenak memikirkan bisikan angin. Sepertinya dia bisa saja menuruti dan melakukannya. Sepertinya mudah untuk berbuat jahat. Tetapi, sekencang atau sejahat apa pun angin-angin tersebut, orang itu masih memiliki pilihan untuk melakukannya atau tidak. Sepertinya susah untuk memilih yang benar. Angin-angin yang jahat tidak mempunyai pilihan. Hanya dapat membuat sakit dan membisikkan supaya manusia berbuat jahat. Sedangkan, angin-angin yang baik hanya berbuat baik seperti memberikan kesegaran bagi orang-orang. Namun, manusia memiliki pilihan!

Akhirnya, penumpang tadi memilih hal yang benar. Dia tidak menuruti bisikan angin-angin jahat. Dia bersabar berdiri di dekat pintu sampai ada penumpang lain yang turun. Orang-orang yang menyikut dia mungin juga disikut penumpang-penumpang lain. Penumpang tadi lebih mengikuti angin-angin baik yang mengalir di dalam tubuhnya, yaitu untuk berbuat yang baik.

“Sejauh dan sejahat apa pun dunia mengajakmu berbuat jahat, engkau masih dapat memilih.”
―Franisz Ginting


***


Lilin-lilin yang Dapat Mengabulkan Impian




Ada lilin-lilin yang dapat mendengarkan isi hati atau pikiran dan mengabulkan impian orang-orang. Tetapi, orang-orang harus menyalakan lilin-lilin tersebut dengan korek api berupa semangat, harapan, dan tindakan mereka. Sayangnya, tidak semua orang mau menyalakan lilin-lilin tersebut. Akan tetapi, untungnya masih ada beberapa orang yang mau dan ingin menyalakan lilin-lilin mereka.

Pada suatu ketika, ada seorang anak kecil bernama Luna yang berhasil menyalakan lilin yang dapat mengabulkan impian. Dia rajin membantu dan menemani ibunya saat memasak, menjahit, atau mencuci piring. Luna juga senang membawakan air putih segar untuk ayahnya melepas dahaga saat ayahnya telah pulang ke rumah dari bekerja. Karena tindakan tersebutlah, lilin itu menyala.

Ketika lilin itu menyala, api yang memancar dan asapnya mengeluarkan bayang-bayang seperti sebuah kereta panjang dan tempat yang ramai. Kemudian, tiba-tiba Luna langsung berada di sebuah roller coaster di suatu taman hiburan yang meriah! Ternyata, lilin tersebut membawa Luna pada salah satu impian atau keinginan Luna, yaitu merasakan permainan roller coaster! Dia senang sekaligus tegang! Setelah merasakan permainan roller coaster yang menggembirakan, Luna berada kembali di rumah.

Suatu pagi, lilin tersebut menyala lagi karena mendengarkan isi hati Luna yang ingin memiliki seorang sahabat. Ternyata selama ini Luna berharap mempunyai sahabat sejati dari luar negeri, yaitu Jepang. Lalu lilin tersebut memunculkan seorang gadis kecil seusia Luna di hadapannya. Kedua gadis kecil itu pun bisa saling mengerti bahasa masing-masing! Walaupun Luna berbicara dalam bahasa Indonesia, bahasa yang terdengar adalah bahasa Jepang.

Sebaliknya juga, anak kecil Jepang itu berbicara dalam bahasa Jepang, tetapi yang terdengar oleh Luna dalam bahasa Indonesia. Kadang persahabatan memang memunculkan keajaiban, tetapi hal itu tidak lepas dari bantuan lilin yang dapat mengabulkan impian tadi. Mereka mulai berkenalan:

Luna: (Awalnya agak bingung, tetapi berani juga mencoba berbicara) “Halo, namaku Luna. Kamu siapa?”

Asaku: (Awalnya agak kaget karena yang berbicara sepertinya bukan orang Jepang, tetapi ternyata terdengarlah bahasa Jepang) “Emm, namaku Asaku.”

Luna: “Emm… kamu dari Jepang, ya?”

Asaku: “Iya, aku dari Osaka, Jepang…”

Luna: (Tersenyum gembira) “Wah, senangnya!”

Pada hari itu, Luna dan Asaku menjadi bersahabat. Lalu lilin tadi membawa Luna lagi―kali ini bersama sahabat barunya, Asaku―ke roller coaster karena kebaikan hati Luna dan keinginannya untuk bersahabat serta bermain dengan Asaku. Setelah mereka bermain sebentar, lilin tersebut membawa mereka pulang ke rumah Luna. Lalu, mereka mesti berpisah karena Asaku harus kembali ke Jepang. Kemudian, lilin itu membawa Asaku pulang ke rumahnya di Osaka, Jepang.

Luna agak sedih karena harus berpisah sementara dengan Asaku. Luna tidak mau sendirian menikmati saat-saat permainan dan kegembiraan. Tetapi, Luna dapat menghubungi Asaku kapan saja atau bertemu lagi dengannya nanti saat dewasa. Bahkan bersahabat selama-lamanya bila Luna tetap berharap seperti itu dan bertindak baik seperti biasanya, yaitu rajin membantu dan menemani ibunya saat memasak, menjahit, atau mencuci piring, serta senang membawakan air putih segar untuk ayahnya melepas dahaga saat ayahnya pulang dari bekerja.

Tiap kali dia melakukannya, maka lilin itu akan mendengarkan isi hati atau pikirannya dan mengabulkan keinginan atau impiannya. Jadi, Luna pun bersemangat setiap hari, berharap, dan bertindak baik agar lilin itu dapat menyala.


***


Dua Sahabat, Tempe dan Tahu




Ada dua sahabat yang setia, yaitu tempe dan tahu. Namun, orang-orang tidak menyukai mereka dan tidak mau bersahabat dengan mereka. Padahal, tahu dan tempe dapat menyehatkan orang-orang tersebut. Saat orang-orang kekurangan uang pun, tempe dan tahu mau menyertai dan rela dimakan. Sayangnya, orang-orang suka lupa dan selalu meremehkan tempe dan tahu tersebut. Padahal, tempe dan tahu telah melalui berbagai proses pembuatan (pembentukan) yang kasar dan keras agar dapat dimakan oleh orang-orang.

Apakah kalian tahu cara pembuatan tempe? Pertama-tama, kedelai-kedelai direndam selama 24 jam di dalam sebuah tong. Kemudian, diinjak-injak! Ya, diinjak-injak! Hal itu seperti direndahkan. Meskipun demikian, kadang-kadang tempe tidak sudi direndahkan terus-menerus. Tetapi, dengan cara tersebut, tempe menjadi bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan orang-orang.

Bagaimana dengan pembuatan tahu?

Tahu lebih parah. Tahu harus mengalami proses-proses direndam, dicuci, digiling (diperas atau ditumbuk), lalu direbus, dan dipisahkan dari unsur-unsur lain yang tidak perlu! Sampai-sampai, tahu tersebut menjadi bau dan berbadan lemah karena lembek! Hal itu berarti seperti yang dialami tempe, yaitu direndahkan. Tetapi, dengan cara begitu, tahu menjadi lezat, rendah hati, juga berkhasiat untuk kesehatan orang-orang, serta mudah menerima perpaduan dengan sahabat lain, bahkan dengan orang-orang.

Lalu, bagaimana persahabatan antara tempe dan tahu itu terjadi?

Pada suatu akhir bulan November, ada seorang lelaki yang kelaparan di rumahnya yang berukuran 10x15 meter. Dulu dia adalah orang kaya dan memiliki rumah besar seluas satu hektare! Dia senang memakan banyak daging ayam. Tidak pernah sedikit pun memikirkan atau menoleh pada tempe dan tahu. Dia mengira tempe dan tahu hanyalah makanan sampah, makanan orang-orang miskin, dan tidak bergizi. Tetapi, karena tidak bosan memakan daging ayam―badan lelaki itu menjadi gemuk sehingga dia juga menjadi sangat malas!

Oleh karena malas bekerja, dia mulai kekurangan uang, kurus, dan miskin. Teman-temannya yang dulu selalu menyertai dia, kini semuanya merendahkan dan meninggalkan dirinya yang miskin. Sekarang dia juga tidak bisa memakan daging ayam.

Tempe dan tahu yang berada di dalam lemari makan, sedih melihat keadaan lelaki itu. Mereka telah lama berada di dalam almari dan melihat lelaki itu. Karena sudah lama di dalam lemari, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, lalu menjadi sahabat. Tempe dan tahu yang tidak pernah dilirik oleh lelaki itu pun ingin menjadi sahabat yang setia menemani, bahkan dimakan lelaki tersebut. Karena tempe dan tahu sama-sama pernah mengalami direndahkan, mereka saling memahami, bahkan mengerti perasaan lelaki tersebut. Tempe dan tahu itu bersuara, “Ayo, makan kami. Kami akan membuatmu sehat dan bersemangat lagi!

Sore itu, setelah menahan lapar dan berpuasa beberapa hari, lelaki itu ingin makan. Suara tempe dan tahu tadi terdengar di pikiran lelaki tersebut. Akhirnya, dia memilih mencoba hal yang baru―memakan tempe dan tahu.

“Segar sekali!” seru lelaki itu. Tempe dan tahu membuat lelaki itu menjadi kembali bersemangat. Walaupun badannya masih tetap kurus, tetapi kurus yang sehat! Dan semangatnya menggemuk. Dia mulai rajin berolahraga dan bekerja.

Setapak demi setapak, lelaki itu mulai memiliki banyak uang lagi dan menjadi kaya. Dia pun panjang umur karena senang memakan tempe dan tahu, tidak terayu oleh manjaan daging ayam. Sedangkan, teman-temannya yang dulu tidak setia dan meninggalkan dia, kini sudah wafat karena terlalu banyak makan daging sehingga sakit jantung.

Ternyata, tempe dan tahu yang sama-sama direndahkan dan menjadi sahabat, dapat mengubah lelaki itu menjadi bersemangat dan sehat.


***


Pena yang Mengajak Sampai Selesai




Pada suatu hari, ada sebuah pena yang dapat berbicara dan mengajak orang yang menggunakan pena itu menulis atau menggambar sampai selesai.

Nah, pada hari itu, ada seorang anak remaja yang memakai pena bertinta hijau itu untuk menggambar di rumahnya. Dia ingin melukis sebuah pemandangan, yaitu gunung, sungai, sawah dan rumput, serta burung-burung camar. Anak itu menikmati apa yang dia lakukan. Namun sayangnya, ketika baru setengah pemandangan yang dia gambar, anak itu ingin bermain bola di luar rumah. Padahal gambar gunung masih satu, seharusnya dua; gambar sungai belum selesai; sawah dan rumput masih sedikit; bahkan belum ada gambar burung camar.

“Dani, ayo selesaikan gambarmu ini,” kata pena. “Nggak ah, aku mau main ke luar!” kata Dani, nama anak remaja itu. “Tapi, gambarmu ini masih setengah. Jelek. Sebaiknya kamu selesaikan supaya bagus, lalu kamu main,” ucap pena. “Nggak pa-pa ah, entar selesai main, aku gambar lagi,” Dani menjelaskan bahwa akan melanjutkan menggambar lagi nanti. Seandainya dia mau menyelesaikan gambar pemandangan itu terlebih dulu, tentu hasilnya akan bagus. Lagipula, jarang datang kesempatan untuk melukis lagi sebaik dan seingin menggambar saat itu.

Bagaimanapun, Dani kemudian keluar kamar untuk bermain bola di luar rumah. Sayangnya, Dani lupa mengklik kepala pena itu sehingga tintanya meluber sampai habis! Gambar pemandangannya pun terkena luberan tinta pena itu!

Setelah Dani bermain bola, tiba di rumah dan masuk ke kamarnya, dia kaget bukan main melihat pemandangan itu! Kertasnya rusak dan gambarnya jelek karena tinta hijau yang meluber! Dani menyesal. Dia tadi tidak mendengarkan ajakan pena untuk menyelesaikan gambarnya terlebih dulu. Sekarang dia ingin mengganti tinta warna lain dan mencoba menggambar lagi, tetapi tidak menemukan tinta yang lain. Padahal, kalau gambar pemandangan tadi terselesaikan, akan bagus sekali sebagai lukisan yang dipajang di tembok kamar atau ruang tamu rumahnya.

“Don't quit like everyone else does. When one tactic doesn't work, try something else.”
―Chris Guillebeau


***


Kota Tanpa Prasangka

Di sebuah pulau yang bernama Pulau Aduram, terdapat suatu kota yang bertitel kota Pampang. Adat atau budaya di kota ini adalah para penduduknya sejak kecil diajari untuk tidak menaruh curiga kepada orang lain. Mereka juga dididik untuk selalu tersenyum kepada sesama penduduk kota, orang-orang terdekat, serta keluarga. Hasilnya, kota itu terlihat ceria. Semua warganya seperti anak-anak dan lebih berani menikmati hidup. Wajah mereka pun cerah-cerah, segar, dan tampak awet muda. Tetapi, apakah kota Pampang selalu aman karena tanpa prasangka? Dan apakah semua tempat di kota itu bebas dari kejahatan karena tanpa rasa curiga?

Tidak. Ada satu tempat di kota itu yang terdapat prasangka atau rasa curiga. Hanya satu tempat ini: Di dalam bus! Memang di semua daerah dan alat tranportasi yang lain di kota itu bebas dari prasangka dan kejahatan, tetapi tidak di dalam bus.

Suatu sore, di dalam sebuah bus dengan beberapa penumpang, tercium suatu bau yang sangat tidak sedap. Bau gas amoniak menusuk. Bau kentut. Beberapa penumpang perempuan menutup mulut dan hidungnya. Satu-dua penumpang laki-laki mendengus, pfewh. Mereka sepertinya saling menuduh. Sedangkan, orang yang berkentut sendiri pura-pura menahan bau dan memperlihatkan tampang yang seolah berkata, haduh, siapa sih yang kentut ini?! Selang beberapa saat, bau tersebut hilang.

Di dalam bus itu juga, para penumpangnya tidak ada yang saling berbicara dengan orang lain. Ada juga penumpang yang memakai dan memasang earphone atau headset supaya tidak membuka pembicaraan dengan penumpang lain. Mereka takut orang lain yang mengajak berbicara memiliki motif tertentu dan jahat. Terutama penumpang-penumpang wanita jarang menanggapi ajakan bicara dari laki-laki yang tidak mereka kenal―walaupun tidak semua penumpang wanita seperti itu, dan lagipula kadang para penumpang pria jarang berani mengungkapkan pertanyaan atau mengajak bicara. Penumpang wanita berpikir curiga, ih siapa sih kamu ngajak ngobrol? Penumpang laki-laki berprasangka, aduh, jangan-jangan nanti dia marah atau cuek kalau aku ajak ngobrol…

Ketika ada pengamen yang menyanyi dengan suara kencang di dalam bus, para penumpang yang sedang tertidur menjadi terbangun. Lalu mereka mengira pengamen itu sengaja bersuara keras untuk membangunkan mereka supaya memberi uang.

Ketika ada orang yang meminta sumbangan di dalam bus, beberapa penumpang beranggapan bahwa dia hanya akan menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri.

Kalau ada seseorang yang bernyanyi sendiri di dalam bus, orang-orang akan menganggap dia gila.

Kalau ada orang yang membicarakan sesuatu lewat telepon atau bersama teman di sebelahnya dengan suara kencang, maka penumpang lainnya akan menganggap dia sombong atau aneh atau membicarakan (bergosip tentang) penumpang yang melihatnya.

Ketika ada seorang penumpang―baik pria maupun perempuan―yang mengantuk dan kepalanya tersandar pada bahu penumpang―baik pria maupun perempuan―di sebelahnya, dikira dia pura-pura tertidur. Apalagi jika ada penumpang laki-laki yang berpindah kursi ke sebelah seorang penumpang wanita, maka kondektur bus mencurigai pria itu akan berbuat jahat kepada perempuan tersebut.

Saat hendak turun dari bus pun dan antre berdiri di dekat pintu keluar, orang-orangnya menaruh curiga satu sama lain. Orang yang di depan curiga kepada orang yang di belakangnya. Orang yang di belakang tersebut curiga terhadap orang yang berdiri di belakangnya lagi. Begitu seterusnya. Para penumpang yang membawa tas berisi uang dan laptop selalu berprasangka kepada orang di belakangnya. Jangan-jangan copet. Pokoknya, setiap gerak-gerik akan dicurigai.

Mengapa hanya di dalam bus yang tidak bebas prasangka? Mungkin karena orang-orang yang di dalam bus kakinya tidak menginjak tanah sehingga bisa dianggap mereka tidak berada di kota tanpa prasangka itu, melainkan melayang dan berada di udara, di tempat lain.


***


Kue Wajik yang Mempersatukan




Pada tahun 2010, banyak bangsa yang saling bermusuhan. Bangsa yang satu mengirimkan mata-mata ke bangsa yang lainnya. Walaupun mata-mata itu penting, tetapi seolah-olah warga negara di bangsa itu tidak mempunyai mata.

Mata-mata adalah seseorang yang menjadi pemberi informasi penting (rahasia). Seorang mata-mata dapat berasal dari negaranya sendiri maupun dari negara lain. Walaupun banyak warga negara atau keluarga asing yang tinggal di negara lain, dapat disusupi oleh seorang mata-mata, bahkan jangan-jangan mereka sendiri adalah mata-mata!

Jadi, pada tahun itu bangsa-bangsa saling membenci. Misalnya bangsa Amerika dengan bangsa Indonesia. Memang tidak saling berperang, tetapi orang-orangnya saling membenci. Tidak semuanya, sih. Seperti antara keluarga Mr. Pausch dan keluarga Pak Parto. Keluarga Pausch adalah warga negara Amerika yang berasal dari kota Alaska dan sekarang tinggal di kota Yogyakarta, Indonesia. Keluarga Pausch hanya terdiri dari tiga orang, yaitu Tuan Pausch dengan istrinya dan putra mereka yang berumur sembilan tahun. Mereka telah tinggal di Indonesia selama enam tahun. Jadi, mereka mengerti dan dapat berbicara dalam bahasa Indonesia, bahkan sedikit bahasa Jawa.

Pada suatu ketika, Randy, anak dari Tuan Pausch, sedang bermain bola di lapangan perumahan. Kebetulan, si Rinto, anak Pak Parto pulang dari SD (sekolah dasar) lewat lapangan tersebut. Rinto berhenti sejenak dan melihat-lihat Randy yang asyik bermain bola sendirian. Setelah beberapa saat, sepertinya Randy ingin mengajak Rinto main bola bersama. Lalu, mereka bermain sebentar. Awalnya, mereka sama-sama lugu. Akhirnya, hari demi hari, mereka mulai saling mengenal.

Tuan dan Nyonya Pausch pun sedikit mengetahui tentang si Rinto beserta ayah dan ibunya. Demikian juga sebaliknya dengan keluarga Pak Parto yang terdiri dari Bapak dan Ibu Parto serta anak-anak mereka, yaitu Anti, Galih, Sardi, serta Rinto. Mereka mengenal keluarga Tuan Pausch karena si Rinto sering bercerita tentang Randy.

Suatu pagi, sebelum Rinto berangkat ke sekolah, ibunya memberikan bekal makanan berupa enam kue wajik. Kue wajik adalah kue yang terbuat dari ketan kukus yang dicampur dengan gula merah. Rasanya manis dan berwarna cokelat. Rinto tidak akan mengabiskan semua kue wajik itu di sekolah karena berencana ingin membaginya dengan Randy setelah bermain bola sepulang sekolah nanti.

Sepulang dari sekolah dan bermain bersama teman-teman sekelas, sorenya, Rinto segera menuju ke lapangan di perumahan tempat Randy sedang bermain bola. Sesampainya di sana, mereka lalu bermain bola. Setelah setengah jam bermain, mereka beristirahat di depan rumah Randy. Kemudian, Rinto menawarkan kue wajik yang dibuatkan dan diberikan oleh ibunya kepada Randy.

Rinto    : “Mau kue ini, ngga, Randy?”
Randy  : “Emm, kue apa itu?”
Rinto    : “Ini kue wajik. Manis kok. Coba aja.”

Ternyata, Randy suka kue wajik yang manis itu. Lalu, dia pun memberi tahu kepada orangtuanya tentang kue tersebut. Tuan dan Nyonya Pausch awalnya melarang Randy menerima dan memakan kue wajik pemberian dari Rinto itu. Lagipula, keluarga Amerika jarang menawarkan dan memberikan makanan atau minuman kepada tamu. Namun, setelah Tuan Pausch menyelidiki dan merasakan secuil kue wajik itu, beliau terkesan menjadi suka dengan rasa manisnya!

Lalu, beliau mengajak istrinya untuk mencicipi juga kue tersebut. Saat mencoba memakan kue wajik itu, tiba-tiba Nyonya Pausch merindukan roti khas kota Alaska, yaitu sourdough bread. Tetapi, roti itu tidak ada di Yogyakarta. Sebagai gantinya, keluarga Tuan Pausch jadi menyukai kue wajik! “Wah, kue ini enak dan manis sekali. Terima kasih, Rinto,” kata Tuan Pausch. “Sama-sama, Mister,” kata Rinto sambil tertawa. Setelah Rinto pulang sampai di rumah, dia menceritakan hal itu kepada ibunya.

Keesokannya, Ibu Parto sengaja membuatkan dan menyuruh Rinto mengantarkan 20 kue wajik yang lezat dan manis untuk Randy dan orangtuanya. Keluarga Tuan Pausch senang sekali menerimanya. Lalu, hari demi hari, hubungan antara keluarga Pausch dengan keluarga Pak Parto makin seperti keluarga sendiri. Rinto dan Randy serta kue wajik itulah yang mempersatukan hubungan kekeluargaan tersebut. Memang kadang-kadang anak kecil dan makanan dapat mempersatukan.

Suatu hari, Tuan Pausch memberi tahu tentang kue wajik kepada wakil pemerintahan (kedutaan besar) Amerika di Indonesia. Bahkan sang duta besar menyuruh beliau sendiri melapor kepada Presiden Barack Obama tentang kelezatan kue wajik tersebut! Ternyata, Tuan Pausch adalah mata-mata (seorang agen pemerintah) Amerika. Kemudian, beliau menawarkan kue wajik yang manis itu untuk dicoba dan dimakan oleh sang duta besar dan presiden. Setelah mencoba memakan satu wajik, ternyata mereka pun suka! Alhasil, hubungan antara bangsa Amerika dan bangsa Indonesia menjadi harmonis, semanis kue wajik itu.


***


Korek Api yang Mengeluarkan Salju!



Selama napas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.
―Sutan Takdir Alisjahbana

Pada suatu hari, ada seorang turis dari benua Antartika yang berwisata ke daerah Yahukimo, Papua. Ketika dia sedang berkunjung di sana, dia sempat memberikan sebuah korek api yang unik kepada seorang anak Papua. Korek api tersebut dapat mengeluarkan salju dan membuat orang yang menyalakan atau melihatnya bersemangat! Ternyata, turis dari Antartika tadi memiliki banyak korek seperti itu dan dia memberikan salah satu korek api itu kepada anak Papua tersebut.

Mengapa turis dari benua Antartika tadi memberikan korek api yang bisa mengeluarkan salju kepada anak kecil itu? Entah sebagai mainan, entah untuk pendingin rumah di Papua yang panas, entah korek itu hanya milik sang turis sebagai penyemangat mendaki puncak dan pegunungan Jayawijaya, entah untuk membagi kerinduan tentang benua Antartika yang penuh salju dan gunung es―daerah asalnya. Tapi yang pasti, orang yang menyalakan korek api yang unik tersebut akan bersemangat.

Pertama-tama, anak kecil yang menerima korek itu tidak mengerti kegunaannya. Sampai pada suatu malam, ketika dia ingin menyalakan sebuah obor dengan korek api itu. Ternyata, yang keluar bukanlah api, melainkan beberapa bongkah salju yang berbinar-binar berwarna biru muda dari ujung korek itu! Anak kecil itu yang melihatnya kaget! Tetapi, dia senang sekali. Matanya juga berbinar-binar melihat salju itu! Walaupun obornya tidak jadi menyala dan keadaan rumah masih gelap, anak kecil itu malah bergembira karena salju itu dan bersemangat menghadapi malam hari.

Lalu, dia memberi tahu hal itu kepada kedua orangtuanya. Awalnya, ayah dan ibunya tidak percaya. Tetapi, setelah mereka melihatnya sendiri, mereka terheran-heran sekaligus senang dan bersemangat, meskipun saat itu mereka sedang tidak punya uang dan kekurangan makanan.

Mereka berseru-seru dan bernyanyi-nyanyi. Nyanyian gembira mereka terdengar sampai ke rumah para tetangga. Kemudian, tetangga-tetangga yang mendengar mereka bernyanyi, mendatangi rumah mereka untuk melihat-lihat dan mencari tahu apa sebabnya mereka begitu berbahagia dan bersemangat.

Kemudian, para tetangga itu pun terheran-heran melihat salju yang keluar dari batang korek api itu! Lalu, mereka berkumpul di rumah keluarga anak kecil itu dan makan bersama di sana dengan bekal dan beberapa makanan yang dibawa oleh para tetangga. Memang kadang bersemangatlah yang membawa berkat, bukan berkeluh-kesah atau bersungut-sungut. Tetapi, apakah mereka akan bergembira dan bersemangat seperti itu setiap hari, karena isi korek api yang mengeluarkan salju itu hanya 36 batang? Apakah mereka akan tergantung pada korek itu untuk bergembira dan bersemangat?

Masyarakat di daerah Yahukimo itu memang menjadi bersemangat semua karena salju yang keluar dari batang korek api itu. Mereka bersemangat walaupun menghadapi panasnya udara di daerah mereka, kekurangan bahan pangan, dan tidak adanya uang. Hal itu terdengar sampai ke seluruh Papua hingga membuat dan menarik seluruh orang Papua pergi ke Yahukimo dan melihat korek yang dapat mengeluarkan salju itu.

Mereka juga bertanya kepada anak kecil yang mempunyai korek api itu tentang orang yang memberikan korek itu kepadanya. Anak kecil itu memberi tahu apa adanya bahwa yang memberikan adalah seorang turis. Mereka ingin memiliki korek seperti itu dan berpikir, seandainya semua warga Papua, bahkan Indonesia mempunyai korek itu, orang-orang akan bersemangat. Tetapi, meskipun mereka akan mencarinya, turis itu sudah kembali ke Antartika.

Dalam 27 hari, orang-orang bersemangat karena melihat binar-binar biru muda salju itu. Sekarang tinggal tiga batang korek api. Sedangkan, setiap hari selalu saja ada masalah. Apakah jika korek itu habis, mereka akan berhenti bersemangat? Tidak. Karena tidak mau bergantung pada korek api itu, anak kecil membuang sisanya ke sungai supaya basah dan tidak dapat dinyalakan lagi. Anak kecil itu melakukannya tanpa memberi tahu orangtuanya atau orang-orang terlebih dulu. Setelah dia membuangnya, lalu memberi tahu kepada orangtua serta orang-orang, mereka marah besar!

Lalu, anak kecil itu hanya mengatakan bahwa dia tidak ingin mereka semua bergembira karena bergantung pada korek api itu; untuk awal-awal sih tidak apa-apa. Sekarang terserah mereka apakah mau lebih mengandalkan korek api atau mengutamakan anak kecil itu? Setelah mereka mendengar kata-kata anak itu, mereka menghargai pendapatnya. Mereka merasa bahwa dia masih kecil, tapi begitu dewasa.

Pada hari ke-28, saat orang-orang Yahukimo sedang menghadapi masalah gagal panen dan problem-problem dalam keluarga, mereka merasa putus asa. Apalagi sekarang sudah tidak ada korek api penyemangat lagi. Namun, mereka tidak mau menyerah. Mereka akan bertekun dan berusaha menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan itu. Bahkan, demi menyemangati orang-orang tersebut, anak kecil itu ingin pergi bersama para pendaki untuk mendaki puncak gunung Jayawijaya!

Apakah ayah dan ibunya mengizinkannya? Tidak. Tetapi, orangtuanya menyemangati dia bahwa nanti saat tubuhnya sudah dewasa dan kuat, dia boleh mendaki gunung yang puncaknya bersalju tapi makin menipis itu. Hal yang terpenting, semangatnya itu adalah penyemangat yang sejati.


***


Balon Pengetahuan



“Kita tidak diciptakan hanya untuk pengalaman di bukit. Kita juga diciptakan untuk lembah kehidupan.”
―Oswald Chambers

Di sebuah negeri yang bernama negeri Nisa, masing-masing penduduknya memegang balon. Dari bayi atau anak-anak sampai kakek dan nenek, semuanya memegang balon. Tetapi, ukuran balonnya berbeda. Kalau bayi atau batita dan balita, balonnya kecil, belum tertiup dan belum mengembang. Kalau masih anak-anak, balonnya masih kecil-kecil. Sedangkan, dari remaja hingga orangtua, ukuran balonnya tergantung pada unsur yang membentuknya, yaitu pengetahuan mereka.

Ya, balon tersebut adalah balon pengetahuan. Makin banyak dan tinggi pengetahuan orang-orang di negeri itu, makin besar juga masing-masing balonnya. Misalnya, balon seseorang yang seukuran buah semangka. Jika pengetahuan orang itu bertambah, maka balon orang itu akan berubah menjadi lebih besar, seukuran buah pepaya.

Di negeri itu, ada seorang pemuda yang sangat gencar mengejar ilmu. Dia juga selalu rajin belajar. Pengetahuannya pun bertambah. Balonnya yang semula berdiameter 20 cm, sekarang menjadi berukuran diameter 80 cm.

Seiring dengan usia pemuda itu yang bertambah, pengetahuannya juga bertambah karena dia tetap mengejar ilmu. Dia ingin menjadi pembelajar seumur hidup. Dia membaca banyak buku dan menerima pelajaran, nasihat, serta seminar dari orang-orang yang balonnya sudah besar. Tetapi, pemuda itu tidak puas. Dia ingin terus memperoleh ilmu dan mengalahkan orang-orang yang balonnya sudah besar itu. Dia hanya mengejar ilmu-ilmu pengetahuan dan teori-teori, tetapi tidak mau mempraktikkannya.

Balonnya yang telah berubah menjadi berdiameter 100 cm (seperti mainan balon untuk senam ibu-ibu hamil), lalu berubah berdiameter 180 cm, sekarang besar menjadi balon kotak (seperti balon untuk periklanan). Kaki pemuda itu hampir melayang karena balon kotaknya yang besar. Dia telah mengalahkan semua orang yang berbalon besar di negeri Nisa!

Pemuda itu belum puas. Dia membaca habis semua buku yang ada di perpustakaan nasional negeri itu. Tetapi, dia hanya menyerap pengajaran dan membaca buku-buku, tanpa mau membaca kebutuhan dan wajah orang-orang yang bersedih di sekitarnya. Hanya terfokus pada kepentingannya sendiri. Balonnya yang sebesar balon kotak, kini berubah menjadi sebuah balon udara! Dan dia terbang bersama balon udara itu!

Sekarang pemuda itu sendirian di atas sana. Dia hanya dapat mengitari dan melihat pulau-pulau di negeri Nisa, serta melihat orang-orang dari langit. Dia merasa kesepian karena tidak ada orang lain untuk dapat diajak berbicara. Lagipula, dia juga sulit turun ke bawah untuk mencari makan atau minum.

Setelah dua hari berada di atas sana tanpa teman, minuman dan makanan, dia bosan, haus, serta lapar. Kemudian, dia ingin turun dari balon udaranya dan meletuskan balon tersebut. Dia memilih untuk mulai belajar dari nol (awal) lagi, memiliki balon biasa yang berdiameter 20 cm, dan lebih mementingkan orang-orang daripada pengetahuan.

Pemuda itu ingin menghibur orang-orang yang bersedih agar mata dan wajah mereka tidak sayu. Dia ingin membaca dan mengisi kebutuhan orang-orang yang sedang memerlukan bantuan, supaya dia dan mereka merasa benar-benar hidup. Tetapi, juga dengan melihat situasi dan saat yang tepat untuk melipur dan menolong mereka. Niat baik tanpa mengetahui saat yang tepat melakukannya kadang kurang tepat. Dia sadar bahwa ilmu pengetahuan tertinggi adalah mengetahui cara berhubungan (bersosialisasi) yang baik dengan orang-orang. Lagipula, bukan ilmu-ilmu yang akan merindukan dia, melainkan orang-orang yang hatinya pernah tersentuh oleh pemuda itu.



***


Lelaki yang Bersenandung dan Perempuan yang Bernyanyi



Ada laki-laki yang suka bersenandung (bahasa Inggris: humming) di dalam bus, tetapi bagi diri sendiri. Sedangkan, ada perempuan yang senang bernyanyi (bahasa Inggris: sing)―baik sambil berjalan kaki maupun saat di dalam bus―untuk orang lain. Lelaki itu bersenandung untuk menghibur dirinya sendiri karena dia sedang memiliki banyak masalah―misalnya, masalah cinta, masalah berbohong, masalah keuangan, masalah keluarga, masalah dengan teman-teman, dan masalah lainnya. Sedangkan, perempuan itu bernyanyi untuk membuat orang lain tersenyum.

Anehnya, saat lelaki itu bersenandung bagi diri sendiri di bus, orang-orang―baik pria maupun wanita―yang berada di dekatnya akan merasa tenang dan kedamaian masuk ke dalam hati mereka. Seolah-olah setumpuk awan gelap masalah mereka lenyap seketika, walaupun sejenak. Jadi, orang-orang dan laki-laki itu sama-sama terhibur.

Sementara itu, orang-orang―hanya para pria―akan selalu tersenyum bila melihat bibir atau  mulut perempuan yang senang bernyanyi itu. Mengapa hanya para laki-laki? Karena perempuan itu juga tersenyum, bernyanyi dengan bersemangat, dan akan tersenyum balik kepada para pria yang melihatnya. Pun mereka dan perempuan itu merasa lega karena lagu yang dia nyanyikan―baik dengan bersuara maupun tanpa suara atau hanya gerakan bibir (bahasa Inggris: lip sing).

Suatu sore, lelaki yang suka bersenandung dan perempuan yang senang bernyanyi itu bertemu di pinggir jalan. Mereka sama-sama sedang dalam perjalanan pulang, tapi berbeda arah. Perempuan tersebut sedang berjalan sambil mendengarkan walkman dan bernyanyi. Saat itulah lelaki yang suka bersenandung hanya di dalam bus tersebut berpapasan dengan perempuan itu. Ketika lelaki itu melihat perempuan tersebut, dia tersenyum. Sedangkan, perempuan itu tetap berjalan berlalu sambil bernyanyi dengan gaya yang acuh tak acuh, menjauh dari laki-laki itu. Perempuan tersebut tidak tahu bahwa tadi dia diperhatikan oleh lelaki itu. Lelaki tersebut juga merasa lega, seakan-akan berbagai masalah yang membuat harinya mendung sirna seketika.

Laki-laki itu bertanya dalam hati, mengapa aku merasa lega setelah melihat wanita itu? Mengapa aku hanya lega saat bersenandung di dalam bus, tetapi tidak saat di jalan? Apakah karena aku hanya bersenandung bagi diriku sendiri, dan bukan bernyanyi untuk orang lain seperti wanita itu?

Kemudian, lelaki itu berkata dalam hati dan berjanji bagi diri sendiri: Ah, aku akan belajar dari wanita itu dan menjadi seperti dia, yaitu bernyanyi untuk orang lain supaya aku lega tidak di bus saja, tetapi juga di jalan. Orang lain pun akan merasa lega.

Perempuan tadi tampak cuek, tetapi sebenarnya peduli kepada orang lain. Oleh karena itulah, auranya (pesonanya) memancar sehingga orang-orang yang tidak mengenal dia sekalipun akan memperhatikannya. Sedangkan, pria yang suka bersenandung itu kelihatan peduli terhadap orang lain, tetapi sesungguhnya tidak. Tetapi, sekarang dia telah berubah. Dia sadar bahwa lebih baik terlihat acuh tak acuh tapi sebenarnya peduli, daripada terlihat peduli tapi sesungguhnya cuek―walaupun memang sebaiknya peduli dan sungguh-sungguh peduli.


***


Kapur Barus yang Tetap Mewangi

Perhatikanlah kapur barus yang berwarna-warni itu. Ada hijau, kuning, pink atau merah muda, dan biru. Tetapi, kapur barus biasanya berwarna putih. Kapur barus itu juga dikenal dengan sebutan kamper. Pada umumnya, kapur barus atau kamper tersebut digunakan sebagai antihama dan mengusir bau tidak sedap.

Nah, selain warnanya yang bermacam-macam, kapur barus juga memiliki empat macam (jenis) dan cara kegunaannya.

Ada kapur barus untuk pakaian: cukup menaburkan kapur barus ke dalam lemari pakaian, lalu dengan sendirinya pakaian akan selalu terjaga kewangiannya.
Ada kapur barus untuk kamar mandi: taburkan saja di lantai kamar mandi, maka kamar mandi akan terasa tercium harum.

Ada kapur barus untuk tikus, semut, atau binatang lainnya: taburkan di tempat yang sering disinggahi bintang tersebut, maka binatang yang lewat dan mencium aroma kamper akan pergi karena wanginya tidak disukai binatang-binatang itu!

Ada kapur barus untuk kolam renang: taruhkan saja di dasar kolam renang, maka kuman-kuman yang ada di dalam air akan menghilang. Tetapi ingat, tidak boleh terlalu banyak karena akan membuat mata para pengguna kolam renang perih.

Perhatikanlah kapur barus yang berwarna kuning dan pink. Mereka tetap sabar dan bertahan meskipun banyak air deras dan kotor di kamar mandi yang menerpa. Mereka tetap mewangi dan membuat kamar mandi terus harum.

Lihatlah kamper yang berwarna hijau. Dia tetap setia menjaga semua baju dan celana, serta almari pakaian dari serbuan rayap dan ngengat supaya lemari dan semua pakaian itu tidak bau apek atau rusak. Akan tetapi, dia hanya berdiam di bagian ujung tiap rak lemari. Juga tidak berada di bagian celana dalam atau pakaian dalam. Mengapa? Ya, supaya tidak mengotori baju-baju atau celana dan tidak membuat sakit pemilik semua pakaian itu. Kamper itu pun tetap mewangi sampai masa tugasnya berakhir.

Lihatlah kamper yang biru. Dia seperti prajurit yang kokoh! Dia kerap berkurban dan tubuhnya sering terluka. Tetapi, walaupun tubuhnya terluka, dia tetap berjuang melawan binatang-binatang seperti tikus, semut, kecoak, dan cicak, serta menjaga ruang-ruang di rumah agar tetap berbau harum. Pengurbanannya menjadi sisa wangi yang akan selalu ada setelah dia tiada. Keberaniannya menjadi teladan bagi kamper yang lain untuk ditiru. Hanya kamper biru yang mendapat tugas spesial seperti itu.

Perhatikanlah kapur barus yang berwarna putih. Dia tetap bertekun di bawah air supaya kolam renang bersih. Dia juga berbuat baik kepada semua orang yang sedang berenang. Dia tidak mau melukai atau membuat perih mata para perenang. Kapur barus putih itu tetap mewangi, bahkan sampai waktu yang lama sekali.


***


Kabel yang Tidak Iri Hati




Pada suatu malam, di dalam bus yang sedang melaju di jalan tol, terlihat dua kabel yang berhimpitan. Kabel di sebelah kiri berwarna kuning. Kabel di sebelah kanan berwarna hitam. Mereka adalah kabel-kabel yang kurus dan pendek. Mereka berada di dekat lampu atap dan pintu keluar bus. Bus berwarna ungu tersebut adalah bus yang jelek dan sudah termakan usia.

Malam itu, kedua kabel tersebut bersyukur tidak dicabut dan bus masih mengizinkan mereka berada di dalamnya. Kedua  kabel itu juga berbangga dan berbesar jiwa karena dapat berguna bagi orang-orang dengan menyalakan lampu atap bus. Itulah tugas besar mereka. Kabel-kabel yang berjiwa besar adalah kabel-kabel yang memperhatikan dan mau mengerti. Akan tetapi, ada beberapa hal yang mengganjal di dalam hati mereka.

Kadang, pada malam-malam saat sepi penumpang, kabel kuning dan hitam itu bercakap-cakap. “Wah, seandainya kita bisa berada di mobil mewah seperti itu, ya…” kata kabel kuning sembari menunjuk pada mobil sedan BMW yang berjalan di dekat bus. “Iya, ya… Pasti dingin banget di sana. Tidak seperti di dalam bus ini yang panas, tanpa AC…” kata kabel hitam menanggapi dengan pelan agar tidak terdengar oleh bus.

“Iya sih, memang kita bisa membuat lampu terang supaya orang-orang merasa aman dari copet. Tetapi, kalau sesak penumpang, waduh…” kata kabel kuning melanjutkan, “bau keringat itu lho ke mana-mana…! Kita ‘kan sebenarnya juga butuh penghargaan dan perhatian dari mereka…”

“Iya aku ngerti… Tapi, ya udahlah, mungkin untuk sementara ini, kita berada di sini. Oh ya, tadi malam kamu tahu, ngga? Ada penumpang yang memperhatikan kita lho! Matanya yang sayu sepulang kerja menjadi cerah, seterang lampu itu saat melihat kita!” kata kabel hitam sambil memuji lampu bus. “Oh ya? Kenapa?” tanya kabel kuning. “Aku juga ngga tahu. Mungkin dia ngerasa kalo kabel-kabel bus kayak kita aja masih bertahan di bus jelek seperti ini, masak dia ngga mampu bertahan dan bersyukur dalam keadaan yang jelek dan gelap di hidupnya?” jawab kabel hitam perlahan takut membuat bus tersinggung.

Kadang, saat banyak mobil mewah yang melintas di samping bus, kabel kuning berpikir dan berkata kepada kabel hitam, “Wah, pasti kabel-kabel yang ada di mobil-mobil itu bersih-bersih dan rapi-rapi semua, ya.” Kabel hitam hanya tertawa sebentar, lalu berkata, “Iya, mungkin. Tapi, bicara masalah tampil bersih atau rapi itu tergantung pilihan kita. Bukan karena keadaan yang menentukan. Lagipula, kita kan sudah berusaha tampil sebaik-baiknya… Oh ya, kamu lihat nggak tadi malam? Ada cewek yang badannya kurus banget. Terus, kayaknya dia lagi nangis, tapi setelah ngelihat kita, wajahnya jadi cerah dan matanya bersinar!”

“Oh ya? Kok bisa gitu?” tanya kabel kuning. Kabel hitam tersenyum dan menjawab, “Mungkin karena melihat kita yang kurus dan pendek, kayak kekurangan makan, tapi kita tetap membuat lampu terang. Mungkin dia abis diledekin sama temen-temennya karena badannya kurus banget dan bajunya aneh. Tetapi, kalau kita aja bisa bangga dan bertahan, masak dia kalah sama kabel-kabel seperti kita?”

Kadang, saat bus melewati bengkel yang bagus dan mereka melihat kabel-kabel mobil sedang diperbaiki atau dirawat, kabel kuning dan kabel hitam mengobrol lagi. “Wah, pasti enak, ya, menerima ‘makanan perhatian’ seperti itu… Mereka pasti merasa nyaman, enak, dan jadi ganteng-ganteng dan cantik-cantik…” kata kabel kuning. “Iya, aku juga pengen seperti itu… Tapi, ya mau gimana lagi, pemilik bus ini jarang membawa kita ke bengkel. Tapi, biarlah mereka seperti itu. Unsur mereka ‘kan juga ada di dalam unsur kita. Jika mereka menerima treatment (perhatian) seperti itu, kita juga sepatutnya ikut merasakannya. Tetapi, kadang kita juga boleh mengusahakan sesuatu yang ingin kita dapatkan.”


***


Sungai yang Dapat Memainkan Musik




Di dekat setiap universitas atau sekolah di Indonesia selalu ada sungai. Semua sungai tersebut dapat memainkan musik! Kadang-kadang dari sungai itu terdengar alunan musik angklung―sebagus permainan angklung anak-anak di Saung Angklung Mang Udjo, kota Bandung. Para mahasiswa dan mahasiswi yang mendengar musik sungai tersebut akan bersemangat kuliah. Murid-murid sekolah yang mendengarnya pun akan belajar dengan tenang karena musik lembut dari sungai itu.

Orang-orang yang pergi ke tempat kerja lewat tepi sungai dan universitas atau sekolah itu akan bersemangat berangkat dan giat bekerja. Bahkan, pada saat pagi hari, burung-burung di udara turut bernyanyi; angin berhembus sejuk; dedaunan hijau di pepohonan menari; dan mentari mengajak awan tampil cerah karena sungai itu. Kadang-kadang, dari sungai itu juga terdengar suara musik drum yang harmonis―semanis permainan drum Mike Portnoy atau Dave Weckl―sehingga membangunkan fajar dan pagi.

Pada saat malam, sungai itu tidak berhenti memainkan musik. Kadang-kadang pun terdengar suara alat musik Saxophone, seindah permainan Kenny G. dan Dave Koz. Para mahasiswa dan pelajar yang masih berada di sekitar sekolah tidak akan merokok atau berbuat jahat karena mendengar lagu sungai itu. Orang-orang yang letih sepulang dari tempat kerja akan memperoleh kelegaan bila mereka kembali ke rumah menyusuri tepi sungai itu. Bahkan, bulan akan tersenyum karena sungai tersebut.

Anehnya, tidak semua sungai dapat memainkan musik seperti sungai-sungai yang ada di dekat setiap universitas atau sekolah itu. Beberapa sungai di dekat perumahan dan hotel-hotel menjadi sombong dan tidak mau memainkan musik karena terlalu jernih. Beberapa sungai di dekat pasar dan mall tidak dapat bernyanyi karena mulut-mulut sungai itu tertutupi sampah-sampah yang dibuang oleh orang-orang. 

Sedangkan, meskipun sungai-sungai di dekat setiap universitas atau sekolah dapat memainkan musik dan arusnya lancar, tetapi airnya keruh dan berwarna cokelat―seperti warna angklung! Mereka masih dapat bernyanyi karena mau berharap dan menjadi contoh bagi sungai-sungai lainnya untuk tetap bernyanyi saja―walaupun banyak halangan seperti air yang kotor dan sampah―supaya orang-orang mau menjaga kebersihan sungai! Tetapi memang, terlalu bersih juga tidak baik.


***


Maneken yang Aktif, Manusia yang Pasif




Di suatu bengkel motor yang ramai dan kotor, ada sebuah maneken yang didandani rapi dan tetap bersih. Maneken adalah boneka seluruh tubuh atau setengah badan yang menyerupai manusia. Boneka tersebut biasanya dapat dilepas-lepas bagian-bagiannya dan untuk memamerkan pakaian. Maneken di bengkel itu memakai helm, kacamata, baju, jaket, sarung tangan, dan celana panjang berwarna hitam.

Nah, maneken tersebut selalu tersenyum kepada para pengunjung yang datang ke bengkel itu! Sedangkan, orang-orang yang datang untuk menyervis sepeda motor, wajah mereka seperti tersengut-sengut atau tersedu-sedu karena bersedih. Tetapi, maneken itu berusaha menyambut mereka dengan ramah. Maneken tersebut bersemangat bekerja menjadi dirinya. Dan dia pun sangat menanti-nantikan esok. Lagipula, dia jarang tirur karena dia adalah maneken, bukan?

Jika melihat ada seorang pengunjung yang terlihat kesusahan mengangkat barang, maneken tersebut juga senang menolong. Dia sudah menganggap semua pengunjung sebagai temannya. Sedangkan, pemilik bengkel tidak mau membantu orang-orang yang datang ke bengkelnya. Dia hanya bekerja memperbaiki sepeda motor mereka.

Jika ada orang yang meminta-minta atau pengemis ke bengkel itu, lalu memelas memohon bantuan sedekah untuk makanan dan pengobatan anaknya di rumah sakit, boneka maneken terharu dan memberikan beberapa uang receh dari saku jaketnya. Sementara itu, tidak semua pengunjung di bengkel mau memberi karena mengira peminta-minta tersebut berbohong. Hanya sedikit orang dan anak-anak mereka yang memberikan uang. Sedangkan, pemilik bengkel hanya bergeming, tidak merasa kasihan, bahkan mau menyuruh pengemis itu pergi!

Jika keluarga pemilik bengkel berkumpul saat malam, maneken itu turut bersama mereka. Jika keluarga tersebut sedang bersih-bersih saat pagi, maneken itu ikut membersihkan rumah. Saat salah satu putra pemilik bengkel sedang bersedih, maneken tersebut menghibur dia supaya tetap bersemangat dan tersenyum, apa pun yang terjadi. Ia yang semula ingin mengurung diri di kamar, urung melakukannya. Saat salah satu putri pemilik bengkel ingin curhat (mencurahkan isi hati) dan bercerita, maneken itu mau mendengarkan dia. Sedangkan, pemilik bengkel itu selalu sibuk saja dengan pekerjaannya. Dia lupa bahwa pekerjaan yang paling penting adalah menjaga, merawat, memelihara, dan mengurus anak-anaknya.


***


Ibu Jari (Jempol) yang Mengingatkan




Apakah kalian tahu kegunaan jari-jari? Bukan jari-jari pada lingkaran, ya. Tetapi, pada tangan kalian. Jari-jari (radius) pada lingkaran adalah garis lurus yang menghubungkan titik pusat dengan lingkaran, atau jarak dari pusat lingkaran ke keliling lingkaran. Nah, bagaimana dengan fungsi jari-jari pada tangan?

Pada tangan kiri dan kanan kalian, masing-masing ada lima jari, yaitu ibu jari (jempol), telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking.

Biasanya, fungsi jempol adalah untuk menyatakan suka dan senang, mengungkapkan sesuatu itu jelek atau bagus, serta untuk dikenyut. Telunjuk berfungsi untuk menunjuk seseorang atau sesuatu. Jari tengah berfungsi untuk mengetuk pintu―dengan cara menekukkan jari dan menatapkan bagian punggung jari tengah tersebut pada pintu. Kegunaan jari manis adalah untuk disemati cincin dan untuk mencicipi rasa obat atau makanan. Sedangkan, kegunaan kelingking adalah membersihkan hidung dan berdamai dengan orang lain. Nah, di antara lima jari itu, hanya ada satu jari yang mempunyai fungsi lain atau ekstraspesial. Jari apa itu? Ibu jari.

Ibu jari (jempol) memiliki fungsi ekstraspesial, yaitu untuk mengingatkan seseorang kepada seseorang yang lainnya. Misalnya, seorang suami yang berada di luar pulau, saat melihat jempolnya, akan ingat dan rindu kepada istrinya. Orangtua yang sedang dalam perjalanan, saat melihat ibu jari (jempol) kirinya, akan teringat kepada anak-anaknya, lalu membeli oleh-oleh untuk mereka. Seorang remaja laki-laki yang bersedih dan menangis di kamar mandi, saat berkaca dan menempelkan jempol kanannya pada pipinya, akan membuatnya tersenyum dan kangen kepada kekasihnya ataupun ibunya.

Jika kalian mendekatkan tangan kiri dan kanan kalian, kemudian menempelkan masing-masing ibu jarinya, maka kalian akan merasa benar-benar rindu kepada seseorang yang kalian sayangi. Jika kalian memutar-mutar jempol kiri searah jarum jam, kalian akan ingin membelikan sesuatu kepada seseorang yang kalian kasihi. Kalau kalian mengoyang-goyang atau membuat naik-turun kedua jempol kalian, maka kalian akan menjadi ceria dan teringat kepada teman-teman kalian.

Nah, ada seorang laki-laki yang selalu memikirkan dirinya sendiri. Ia hanya sesekali memikirkan orang lain. Dia jarang mau makan bersama teman-temannya, bahkan berusaha menghindari orang-orang. Dan ia tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan keadaan keluarganya. Sampai pada suatu hari, ketika laki-laki itu sedang duduk-duduk di kursi taman kota, seekor burung merpati biru mematuk jempol di tangan kirinya. Ia agak kaget dan sedikit kesakitan. 

Lalu, ia melihat jempol di tangan kanannya dan tiba-tiba teringat pada waktu-waktu yang telah dilewatinya dengan anggota keluarganya, yaitu ayah, ibu, abang, kakak, adik, saudara, atau anaknya.

Laki-laki itu bersedih sesaat, lalu mulai memikirkan orang lain dan keadaan keluarganya. Ia tidak mau menjadi titik pusat lingkaran perhatian atau egois lagi. Sekarang ia mau rendah hati dan makan bareng teman-temannya. Bahkan, saat ia berulang tahun, ia tidak ingin menerima kado; ia malah memberi hadiah kepada orang-orang terdekatnya! Ya, semua itu terjadi karena ibu jari (jempol) yang mengingatkan dia kepada orang-orang.


***


Papa Pekerja Keras

Robert Kearns

“Papa nggak pulang, Baby (baca: Beibeh). Papa nggak bawa uang, Baby (baca: Beibeh).”

Setelah mendengar lagu dari The Dance Company tersebut, banyak bapak atau papa yang termotivasi untuk bekerja keras agar dapat pulang membawa banyak uang. Salah satu bapak itu adalah Pak Dito.

Setiap hari, dari pukul 05.30 pagi sampai pukul 17.30 sore, Pak Dito mengenakan seragam kerja berwarna merah muda dan celana kain berwarna cokelat. Tetapi, beliau tidak bekerja di kantor. Pekerjaan beliau adalah mencatat jumlah penumpang salah satu bus jurusan Depok – Kalideres, agar sopir dan kondektur bus tidak melakukan kecurangan dalam melaporkan pemasukan berdasarkan jumlah penumpang. Beliau berangkat pagi-pagi dengan bus pertama, mencatat laporan jumlah penumpang, lalu turun di Kedoya untuk menunggu bus selanjutnya, yaitu Kalideres – Depok. Beliau bolak-balik Depok – Kalideres dan Kalideres – Depok, demikian seterusnya. Usia beliau kira-kira 65 tahun dan telah bekerja seperti itu mungkin selama 20 tahun!

Selain di dalam bus, tempat kerja Pak Dito hanyalah sebuah gubuk mungil yang terbuat dari bambu-bambu dan asbes semen. Gubuk tersebut berada di tempat penjualan bunga di samping bawah jembatan bus Transjakarta di pinggir jalan. Tetapi, tempat itu bukanlah miliknya, melainkan milik penjual tanaman hias! Beliau menunggu di situ sampai bus Depok – Kalideres atau Kalideres – Depok datang. Di sana, beliau memakai waktu luangnya untuk berbincang-bincang dengan orang-orang yang hampir mirip beliau, yaitu tanpa tempat kerja tetap.
Dengan pekerjaan dan dari penghasilannya, Pak Dito sanggup menyekolahkan putrinya sampai jenjang kuliah! Berapakah gaji beliau per bulan? Hanya Rp750.000. Tetapi, bagaimana beliau bisa membayar biaya pendidikan putrinya? Hanya keajaiban yang tahu. Padahal, perusahaan bus tersebut dapat saja memberikan beasiswa kepada putri Pak Dito. Lagipula, orang yang sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun di tempat kerja, patut mendapat penghargaan―baik berupa uang, rumah, akomodasi, atau beasiswa untuk anggota keluarga.

Contoh bapak lain yang bekerja keras adalah Pak Tama. Beliau berumur kira-kira 60 tahun, memakai kaca mata, dan selalu menjinjing tas hitam. Tiap hari, beliau berangkat pagi-pagi dan menunggu bus jurusan Depok – Kalideres pada pukul 05.30 pagi. Jalur atau rute bus tersebut berbeda dengan bus yang ditumpangi sebagai tempat kerja berjalan Pak Dito tadi, walaupun jurusan dan tujuannya sama.

Tempat kerja Pak Tama berada di Kalideres, membutuhkan lebih-kurang dua jam perjalanan dari Depok. Beliau mulai bekerja di kantor dari pukul 08.30 pagi sampai 16.00 sore. Kadang-kadang, beliau terlambat karena adanya kemacetan di jalan. Beliau sudah pergi-pulang setiap hari seperti itu selama 20 tahun! Tidak bosan dengan pemandangan-pemandangan yang tetap sama (itu-itu saja) di luar jendela bus.

Dari kerja keras dan gajinya, Pak Tama mampu membiayai empat anaknya―dua putra dan dua putri―bersekolah! Putra sulungnya telah lulus SMU dan akan memasuki jenjang mahasiswa. Putri bungsunya masih duduk di bangku SD kelas 2. Berapakah penghasilan beliau per bulan? Hanya Rp1.250.000! Bagaimana dengan gaji istri beliau? Hanya Rp1.000.000. Rp2.250.000 untuk menghidupi enam orang anggota keluarga adalah keajaiban. Padahal, perusahaan atau kantor tempat Pak Tama bekerja bisa saja memberi beliau bonus―baik berupa uang, sepeda motor, modal usaha, atau beasiswa kepada anak-anak beliau. Lagipula, bukankah orang yang telah bekerja selama 10 tahun layak mendapatkan penghargaan?

Penghargaan bagi Pak Dito hanyalah melihat putrinya lulus kuliah, bekerja di perusahan besar, bahkan memiliki usaha sendiri dan sukses.

Bonus, penghargaan, dan harta Pak Tama adalah mempunyai empat anak yang cakap dan cantik, belajar dan bersekolah dengan baik, serta berhasil nanti―jauh lebih berhasil daripada beliau sendiri―dan bermain bersama dengan mereka.

Pak Dito dan Pak Tama bukanlah orang-orang papa (miskin dan sengsara); mereka adalah bapak-bapak yang sejati, para papa (ayah atau bapak) pekerja keras.


***


‘Ada Orang di Atas Sana’

Soichi Noguchi

Orang-orang sering mendengar dan berkata, “Terserah yang di atas.” Padahal, itu adalah perkataan yang tidak pas. Siapa yang berada di atas? Di atas apa? Di atas langit?

Apakah ada orang di atas langit sana? Ada. Salah satu orang yang berada di luar angkasa saat ini (20 April 2010) adalah Soichi Noguchi. Ia adalah orang Jepang yang menjadi astronaut (awak pesawat ruang angkasa). Ia dapat mengawasi orang-orang yang ada di bawah sini dan memotret pemandangan-pemandangan bumi dari stasiun internasional luar angkasa {International Space Station (ISS)}.

Jadi, kalau ada kasir yang bekerja serampangan (sembarangan) di suatu swalayan, pelayan yang ogah-ogahan melayani pelanggan di restoran, atau karyawan yang terus-menerus bermalas-malasan, Astro (nama panggilan awalan untuk para astronaut) Soichi akan memfoto mereka dan menayangkannya di Internet. Banyak orang tidak suka melihat dan mengkritik hasil foto-foto itu karena dianggap menjelek-jelekkan orang lain. Mereka lebih tertarik melihat gambar-gambar pemandangan yang dipotret oleh Soichi Noguchi. Tetapi, Astro Soichi berkata bahwa ia hanya ingin menegur orang-orang yang selalu malas dan asal-asalan bekerja. Mereka kalah dari alam yang tidak terus-terusan malas. Beberapa orang setuju dengan pendapat Astro Soichi dan mendukung tindakannya.

Suatu hari, ada seorang anak muda berusia 24 tahun yang giat bekerja. Gajinya cukup besar per bulan, yaitu 16 juta rupiah. Perusahaan tempatnya bekerja juga memberi dia fasilitas berupa mobil, tempat kos dinas, laptop, HP, dan uang makan siang tiap hari 40 ribu rupiah. Padahal, ia baru bekerja kurang dari dua tahun di perusahaan itu.

Anak muda tersebut memang rajin, tetapi dia malas bersosialisasi dengan orang-orang. Dia memang tidak malas, tetapi dia sombong karena merasa masih muda, namun bisa memegang uang banyak. Dia meremehkan orang-orang yang lebih senior (tua) daripada dirinya tapi belum memiliki banyak uang―mungkin dia seperti itu karena kerap kali direndahkan oleh mereka.

Anak muda itu juga merasa mampu membeli seisi dunia dan luar angkasa! Dia pun merasa tidak pernah gagal. Dia belum pernah mendengar tentang kegagalan Thomas A. Edison (yang pernah gagal kira-kira di atas seribu kali sebelum berhasil menemukan bohlam); Abe Lincoln (yang kalah dan gagal berkali-kali ketika belum menjadi presiden ke-16 Amerika); atau James L. Kraft (yang sempat sangat berputus asa sebelum mendirikan perusahaan keju Kraft). Dia lupa bahwa akan selalu ada orang di atasnya yang lebih daripada dia.

Suatu sore, ada seseorang yang menceritakan dalam bahasa Jepang di Internet tentang kesombongan anak muda itu. Orang tersebut bercerita bahwa walaupun anak muda itu sombong, dia bisa mendorong orang yang menulis lewat Internet tersebut untuk bekerja keras, lebih sukses, beruntung, dan lebih kaya daripada anak muda itu. Ternyata, Soichi Noguchi membaca dan mengetahui tentang anak muda itu. 

Lalu, Astro Soichi mengomentari tentang anak muda itu dalam bahasa Jepang pada situs Twitter-nya (www.twitter.com/astro_soichi): あの子は月と宇宙へ行くことはできますか?(Ano ko wa tsuki to uchū e iku koto wa dekimasu ka?) Atau, terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia: Apakah dia itu bisa pergi ke bulan dan luar angkasa?

Soichi Noguchi berkomentar seperti itu karena anak muda tersebut terlalu sombong. Sebelum Astro Soichi saja dapat menjadi astronaut NASA {National Aeronautics and Space Administration atau Badan Luar Angkasa dan Ilmu Penerbangan (Aeronautika) Nasional}, ia pernah mengalami berbagai kegagalan. Namun, dia benar-benar belajar dari kegagalannya agar berhasil dan tidak gagal lagi. Dia juga menghadapi banyak tantangan―baik dari orang-orang yang lebih muda, sebaya, maupun yang lebih tua. Astro Soichi tidak meremehkan orang-orang yang lebih muda. Dengan orang-orang yang sepantaran, dia bersaing dengan sehat. Juga, dia menjadi diri sendiri, apa adanya, bersikap berani yang menghormati terhadap orang-orang yang lebih tua.

Jika Soichi Noguchi merasa hendak sombong, ia akan mengingat bahwa akan selalu ada orang yang lebih di atas dia, meskipun saat itu hanya ada tiga astronaut di luar angkasa. Ada hal yang lucu, yaitu mereka bertiga tidak mendengar perkataan: “Terserah yang di atas {It’s up in the air (to the top)},” melainkan senda gurau: “Terserah yang di bawah.”


***


Konser Padi dan Air




Di suatu area persawahan, terdapat hamparan padi yang menghijau di bagian depan dan menguning di barisan belakang. Ada empat petak sawah yang dibatasi pematang (jalan kecil dari tanah yang ditinggikan) dan irigasi (pengairan untuk sawah) di situ.

Nah, padi-padi yang masih hijau tersebut ada di petak pertama dan kedua. Padi-padi yang sudah matang (kuning keemasan) ada di petak ketiga dan keempat. Dan orang-orangan sawah (scarecrow) ingin mengadakan konser bersama mereka!

Sawah yang menyediakan tempat pentas. Air-air di sawah sebagai kelompok orkestra yang memainkan simfoni. Ada suara harpa, piano, biola, gitar, flute, trombon, drum, saksofon, dan lain-lain yang merdu dan harmonis dari air-air irigasi itu. Sedangkan, padi-padi menjadi grup paduan suaranya. Dan dirigennya adalah orang-orangan sawah sendiri.

Sayangnya, sebelum menyatukan jenis suara (sopran, alto, tenor, dan bas) untuk paduan suara, terdapat masalah kecil di antara para padi. Padi-padi yang tua (sudah matang dan menguning) tidak mau bergaul dengan padi-padi yang masih muda (hijau). Padi-padi wanita dan pria tua yang memegang suara sopran dan bas, tidak mau berbagi suara dan bergabung dengan padi-padi muda yang bersuara alto dan tenor. Padahal, paduan suara adalah gabungan dari suara-suara yang terpadu terdengar menjadi satu suara. Kalau tidak bersatu, maka bukan paduan suara, melainkan pacuan suara yang saling berebutan suara dan balapan bernyanyi.

Masalah itu disebabkan oleh padi-padi muda perempuan dan lelaki yang sombong dan jarang menyapa padi-padi tua. Tetapi, beberapa padi tua memang terlalu arogan dan tidak mau bersahabat dengan padi-padi yang masih muda. Dengan begitu, mereka tidak bisa mulai berlatih. Padahal, air sudah siap dan mau bersatu. Juga, panggung di sawah telah rapi. Jadi, bagaimana cara orang-orangan sawah (scarecrow) sebagai pemimpin orkestra dan konser dalam mengatasi hal tersebut?

Dia mengajak air-air untuk melakukan latihan terlebih dulu dan memainkan alat-alat musik. Tanpa keikutsertaan padi-padi―baik yang muda, tua, wanita, maupun pria. Setelah mereka berlatih selama sehari, scarecrow mengajak air-air untuk memulai konser instrumentalia (permainan musik tanpa nyanyian). Ya, tidak ada paduan suara! Dia ingin melihat tanggapan atau respons padi-padi itu.

Pertama-tama, air membuat alunan suara petikan gitar untuk melembutkan hati para padi. Scarecrow berharap, semoga mereka sadar bahwa percuma membesar-besarkan masalah yang kecil karena akan merenggut persatuan. Setelah mendengarkan permainan gitar yang mendayu-dayu, padi-padi muda perempuan menyadari sikap mereka yang tidak mau bertegur sapa terhadap para padi tua wanita dan pria. Lalu mereka menyapa, mengajak mengobrol, meminta maaf kepada padi-padi yang kuning keemasan itu dan mendekati pentas karena ingin bernyanyi. Scarecrow mempersilakan.

Setelah memainkan alat musik gitar, air membuat suara pukulan drum yang menyemangati pikiran padi-padi. Sontak para padi muda laki-laki merasa tergugah untuk bernyanyi dan tidak berfokus pada masalah, melainkan pada kebersamaan. Mereka pun menyapa dan mengajak padi-padi tua untuk bernyanyi bersama. Namun, padi-padi yang sudah matang tersebut masih menolak.

Permainan drum selesai. Kemudian, Scarecrow mengajak dan membimbing air untuk membunyikan alat musik piano, biola, serta flute yang riang tapi lembut. Dia pun memimpin padi-padi muda untuk melakukan paduan suara. Saat mendengar mereka bernyanyi, hatinya padi-padi tua yang wanita tersentuh dan tergerak untuk turut dalam paduan suara. Scarecrow tersenyum dan hanya berkata dalam hati, sekarang tinggal para padi pria yang tua. Semoga mereka mau merendahkan hati dan menenangkan keras kepala mereka.

Kemudian, pemimpin orkestra menggubah sebuah simfoni yang bening dan memerintahkan air terlebih dulu untuk meniupkan saksofon. Suara saksofon membuai telinga beberapa padi tua pria. Lalu, scarecrow mengayunkan tangan dan memberi tanda agar air-air juga memainkan piano, gitar, biola, flute, drum, dan mengakhirinya dengan trombon yang menggugah jiwa! Padi-padi tua itu menangis saat mendengarnya. Lalu, mereka menuju pentas di sawah dan mulai ikut bernyanyi bersama padi-padi yang lainnya. Scarecrow tertawa dan bahagia.


***

Taman Laut dan Paman Gurita




Di perumahan Cisinta yang ada di tengah kota, terdapat suatu taman laut yang dibangun luas sekali. Semua orang dari segala usia dan berbagai kalangan boleh berkunjung ke perumahan sekaligus tempat wisata itu.

Terutama pada Sabtu dan Minggu, ramai sekali orang―anak-anak sampai kakek-kakek―yang datang dan berenang di taman laut tersebut. Harga tiket masuknya tergolong murah, yaitu 20.000 rupiah. Di sana ada dua pemandian air mancur yang tinggi-tinggi dan segar tercurah; papan perosotan yang panjang dan meliuk-liuk; pohon-pohon kelapa buatan yang rindang; serta bermacam-macam pembasuh―pancuran warna-warni hingga tong besar yang airnya tumpah bila sudah terisi penuh. Tetapi, ada satu hal yang unik dan menarik sekali di lokasi rekreasi tersebut. Apakah itu?

Gurita berwarna cokelat tua yang sebesar balon udara!

Gurita tampaknya binatang yang garang dan menyeramkan. Tetapi, gurita yang ada di taman laut perumahan Cisinta tidak seperti itu. Walaupun tentakelnya (tangannya) ada sembilan, lebar-lebar, dan panjang seperti wahana perosotan, dia tidak pernah mencengkeram orang-orang yang sedang berenang di taman laut itu. Oleh karena itu, banyak anak kecil yang suka kepada gurita itu karena dia adalah seekor gurita yang ramah, selalu tersenyum, dan baik hati.

Banyak orang yang baru pertama kali ke tempat itu akan takut saat melihat gurita tersebut. Mereka mengira gurita itu jahat karena tubuhnya besar, serta penampilan luarnya yang tampak jahat dan kasar. Tetapi, setelah datang dua kali, diberi tahu oleh orang-orang bahwa gurita itu baik, serta melihat senyuman riang dan tangan melambai-lambai gurita yang menyambut, mereka tidak lagi takut.

Pada suatu siang yang terik, ada gadis kecil yang sedang belajar berenang sendirian. Padahal, kalau masih belajar berenang, harus didampingi oleh orang yang mengajari. Saat itu, dia mempelajari gaya bebas. Karena tidak ada tanda pembatas di taman laut itu dan dia tidak bisa memandang ke arah depan, gadis kecil itu sudah sampai di tempat renang yang dalam! Ketika capek dan hendak menginjakkan kaki ke dasar pasir, dia merasa kok airnya terlalu dalam. Karena dia belum belajar dan tidak bisa mengambang, dia akan tenggelam!

Dia mengangkat-angkat tangan, mencoba melompat-lompat di dalam air* dan berteriak. Tetapi, air telah menutupi dan setinggi mulutnya sehingga tidak ada orang yang mendengar. Ada beberapa anak kecil lainnya yang melihat dan mendengar, tapi mereka mengira gadis kecil itu sedang bermain dan bersenang-senang! Sedangkan, karena orang-orang dewasa sering melihat anak-anak kecil yang jago berenang bahkan hingga kedalaman tiga meter, mereka tidak terlalu menghiraukan atau memperhatikan gadis kecil itu.

Intuisi dan naluri gurita segera menangkap sinyal bahaya. Gurita itu mengamat-amati dengan mata yang sedikit memicing pada semua daerah taman laut. Sontak dia melihat gadis kecil yang akan tenggelam itu! Lalu, gurita tersebut cepat-cepat menghirup berliter-liter air taman laut supaya kedalaman air menjadi berkurang dan gadis kecil itu dapat berdiri di dasar pasir tanpa terbenam air!

Orang-orang yang sedang berenang tidak menyadari air surut sampai mereka melihat gurita berwarna cokelat tua itu makin besar karena menyerap air taman laut. Setelah air di tempat yang dalam berkurang, salah satu tentakel (tangan) gurita menjulur menyelamatkan gadis kecil itu. Akhirnya, gadis kecil itu selamat karena bantuan gurita yang baik hati tersebut.

Kemudian, gadis kecil itu menceritakan peristiwa itu kepada ayah dan ibunya. Lalu, mereka bertiga memeluk tangan sang gurita. Akhirnya, sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan gadis kecil, keluarganya setiap hari membelikan dan membawakan makanan bagi gurita itu. Mereka membalas kebaikan dengan kebaikan. Mereka pun memiliki julukan sayang untuk sang gurita, yaitu Paman Gurita yang Baik Hati.


*n.b.: Memang salah satu cara menyelamatkan diri bila akan tenggelam adalah mencoba melompat-lompat di dalam air. Jika kaki telah menginjak dasar, hentakkan kaki dan kepakkan tangan sampai bagian kepala atau dada keluar dari permukaan air. Tidak boleh panik. Terus lakukan cara itu untuk menunggu pertolongan atau menuju ke tempat renang yang dangkal.


***


Buta Terhadap Kegagalan

Banyak orang yang kurang beruntung atau cacat, namun mereka dapat menjadi inspirasi untuk orang lain. Ada orang yang tunanetra (tidak dapat melihat); ada orang yang tunarungu (tidak bisa mendengar); atau tunawicara (tidak dapat berbicara); dan cacat fisik lainnya seperti tidak punya kedua tangan atau kaki. Mereka mungkin sedih, tetapi jika mereka dapat menjadi inspirasi dan bertanggung jawab terhadap hidup mereka atau orang lain, mereka tidak akan bersedih lagi.

Banyak orang juga yang beruntung atau tidak cacat, tetapi mereka meremehkan orang-orang yang kurang beruntung tersebut. Mereka mengira orang buta tidak mungkin mampu mendaki Pegunungan Himalaya; tidak ada orang tuli yang dapat menggubah musik-musik atau simfoni indah; orang bisu tidak akan dapat berbicara kembali; serta orang yang tak mempunyai tangan dan kaki tidak mungkin bisa berenang! Mereka salah! Andaikan mereka tahu orang-orang seperti berikut ini:

Nicholas “Nick” James Vujicic













Fisik Nick Vujicic “tidak normal”. Ia tidak memiliki tangan dan kaki. Tetapi, ia tidak menganggap kecacatannya sebagai halangan. Ia bisa berenang, bermain bisbol, berselancar, bahkan menjadi pembicara motivasi bagi banyak remaja dan orang lain.

Gwendolyne (Gwen)












Gwendolyne atau Gwen adalah putri dari seorang ibu hebat yang bernama San C. Wirakusuma. Gwen menderita infeksi saluran pendengaran bagian dalam sehingga tidak dapat mendengar dan harus mengenakan cohclear implant (sebuah alat bantu dengar) di telinganya.

Biasanya, orang yang tunarungu juga tidak bisa berbicara. Namun, karena kegigihan dan semangat kedua orangtuanya, Gwen perlahan-lahan dapat berbicara, bahkan dalam bahasa Inggris! Mereka tak memandang kecacatan Gwen sebagai alasan untuk berhenti berharap atau melakukan sesuatu. Sekarang dia bersama ibu dan ayahnya menjadi inspirasi, serta ingin menolong anak-anak lainnya yang mengalami nasib serupa melalui Yayasan Indonesia Mendengar.

Ludwig van Beethoven













Seorang komponis atau penggubah lagu bernama Ludwig van Beethoven ini dapat menciptakan simfoni (musik yang ditulis untuk orkestra lengkap) begitu indah, bahkan setelah dia menjadi tuli! Beethoven tidak percaya ketuliannya adalah akhir dari karirnya, maka hingga saat ini musik-musik klasiknya masih terdengar.

Erik Weihenmayer










Seperti halnya Helen Adams Keller, Erik Weihenmayer adalah orang tunanetra yang menjadi inspirasi bagi orang-orang. Kalau Helen Keller adalah orang buta yang pertama kali meraih gelar Bachelor of Arts (sejajar dengan sarjana), Erik Weihenmayer adalah orang tunanetra yang pertama kali mendaki dan berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Ia memang tidak dapat melihat, tapi ia pun membutakan diri terhadap kecacatannya!

Engkau













Mungkin saat ini engkau mengalami kekurangan dan orang lain menganggapmu sebagai kegagalan. Namun, mereka tidak tahu perjuangan-perjuanganmu dan  mereka belum tentu  dapat hidup menjadi dirimu. Lagipula, banyak orang yang sehat-sehat, tetapi pikiran, sikap / perkataan, mental, dan tindakan mereka cacat. Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar cacat, mereka sehat-sehat saja.

Kadang pribadi-pribadi yang hebat sekaligus orang-orang yang cacat bukan berada di tempat yang nun jauh di sana, melainkan berada di dekatmu. Asalkan mereka menjadi inspirasi di hatimu―ya, cukup menjadi inspirasi di dalam hatimu―bertanggung jawab bagi hidup mereka sendiri maupun orang lain, serta selalu bangkit dari kekalahan dan buta terhadap kecacatan, kekurangan, atau kegagalan, mereka adalah orang yang hebat. Apakah engkau mengenal orang-orang itu?


If you can't change your fate, change your attitude.”
―Amy Tan


***


Kalimat-kalimat yang Hidup



Aku akan giat belajar, demikian tulis seorang anak perempuan.

Aku akan mulai menabung uang 50.000 rupiah tiap bulan di bank supaya nanti kalau aku sudah gedeuangku banyak, begitu tulis seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun.

Aku akan menulis minimal sekali sehari, catat seorang penulis muda.

Saya akan menyumbang sebesar 120 juta rupiah untuk Panti Asuhan Lydia, demikian catatan seorang pejabat-pemerintahan yang kaya.

Sebagai suami dan ayahsaya akan sungguh-sungguh mengasihi istri dan anak-anak saya, begitu tulis seorang bapak.

Mereka menulis semua itu ketika suasana hati (mood) sedang senang dan bersemangat. Tulisan-tulisan dan catatannya pun ikut bergelora. Tulisan adalah setengah dari tindakan. Tetapi, sebelum mereka benar-benar melakukan yang mereka tulis, maka tulisan hanyalah aksara-aksara yang tidak hidup dan seperti bayangan awan yang tipis. Namun, saat gabungan huruf-huruf tersebut ditulis dengan tulus, tapi belum dilakukan, huruf-huruf yang tergabung menjadi kalimat-kalimat itu akan hidup dan menemui penulisnya! Tanpa memperhatikan mood―baik aksara-aksara itu sendiri maupun penulisnya. Kemudian, abjad-abjad dan angka-angka itu akan bertanya: “Apakah engkau sudah melakukan ini?” Demikianlah yang terjadi dengan kelima kalimat yang ditulis oleh lima orang tersebut.

Ketika anak perempuan itu malas, kalimat yang ditulisnya menyatu (Aku-akan-giat-belajar), berubah bentuk menjadi seperti boneka karet dan bertanya, “Katanya Adik akan giat belajar?” Anak perempuan itu kaget, lalu berkata agak terbata-bata, “E… e… iya, aku mau belajar kok…” Kemudian, dia mulai giat belajar.

Ketika bocah laki-laki itu malah menjajankan uang yang seharusnya disimpan di bank, tulisannya mengumpul (Aku-akan-mulai-menabung-uang-50.000-rupiah-tiap-bulan-di-bank-supaya-nanti-kalau-aku-sudah-gede-uangku-banyak) dan menjadi seperti pohon padat dan mengingatkan, “Katanya kamu mau menabung; kok uangnya dijajankan?” Lalu bocah itu mengangguk-angguk dan menjawab, “Oh… oh iya, aku lupa… Iya, iya aku akan menabung lagi besok, ya…” “Tidak boleh, Dik. Kalau kamu seperti itu, kamu akan membiasakan diri tidak disiplin menabung. Sebaiknya segera simpan uang sisanya itu, ya,” kata pohon kalimat hidup itu. “Emm… iya…” kata bocah.

Pada Sabtu dan Minggu, saat hari-hari libur dan waktu-waktu luang, penulis muda itu berleha-leha, tidak menulis, dan justru melakukan hal-hal yang tidak penting. Lalu, ketika ia sedang berada di dalam kamarnya untuk tidur-tiduran, catatan di buku hariannya itu bersatu (Aku-akan-menulis-minimal-sekali-sehari) dan berwujud menjadi kursi yang hidup dan bertanya, “Mengapa kamu menyepelekan hal-hal yang menjadi prioritas, tetapi melakukan hal-hal yang tidak penting? Katanya mau menulis sehari sekali?” Penulis muda itu terkejut dan mengaku, “E… e… iya maafkan saya, saya telah bermalas-malasan… Ya, saya akan memakai waktu saya semaksimal-maksimalnya untuk menulis dan mengerjakan hal-hal yang penting.” Sejak hari itu, penulis pemula itu mulai menulis sekali sehari―apa pun topik atau temanya.

Ketika pejabat yang kaya itu berlama-lama mewujudkan janjinya dalam agendanya, padahal beliau setiap hari melewati Panti Asuhan Lydia, catatannya berkumpul menjadi satu (Saya-akan-menyumbang-sebesar-120-juta-rupiah-untuk-Panti-Asuhan-Lydia) dan berubah bentuk berupa uang karet yang besar, serta berkata, “Bapak tidak jadi menyumbang? Anak-anak itu menanti-nanti bantuan, lho, tetapi tidak ada orang yang menolong.” Pejabat itu hanya terpegun. Oleh karena perasaan bersalah membayang-bayangi dan mengejar karena belum melakukan yang harus dilakukan, serta uang karet besar terus mengikuti, akhirnya beliau menyumbangkan uang sesuai dengan janji dan catatannya.

Apakah kalimat-kalimat yang hidup, berubah bentuk, dan menemui para penulisnya itu akan tetap mengingatkan dan bersama dengan mereka? Hanya sampai benar-benar menjadi perbuatanlah kalimat-kalimat itu kembali menjadi abjad-abjad biasa. Bukan lagi di atas kertas, tetapi telah hidup di dalam hati orang-orang yang melakukannya.

Bagaimana dengan kalimat yang ditulis oleh seorang bapak tadi? Ia mencintai istri dan anak-anaknya, dan setiap hari bertanya di dalam hati dengan tulus: Apakah aku sungguh-sungguh mengasihi keluargaku? Kalimat tersebut hanya berubah menjadi sebuah bantal yang hidup dan bertanya sekali, “Ya, apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi istri dan anak-anakmu?”


***


Gelang dan Cincin yang Melegakan




Pada suatu malam kira-kira pukul 19.55 WIB, seorang karyawan sedang pulang naik bus setelah bekerja. Ia merasa sangat lelah. Apalagi, saat itu ia harus berdiri di dekat pintu karena kursi telah penuh penumpang, tangannya bergantung pada pegangan besi, dan berhimpit-himpitan dengan dua penumpang pria.

Biasanya, jika ia mendapat posisi berdiri di bagian tengah atau belakang bus, ia dapat berpikir―seperti yang kebanyakan penumpang lainnya lakukan―atau bersenandung. Tetapi, kali ini ia tidak bisa melakukannya karena terpaan angin mengenai wajah dan mulutnya sehingga ia tidak dapat berkonsentrasi untuk berpikir atau bernyanyi. Karena itulah, ia merasa sangat lelah.

Beruntung, saat itu ia melihat seorang penumpang wanita yang mengenakan sebuah gelang di pergelangan tangannya. Gelang tersebut berkerlip seperti lampu-lampu bercahaya kuning yang terlihat dari kejauhan. Ketika memperhatikan gelang tersebut, karyawan itu merasa lega, serta dapat melupakan sebentar masalah-masalahnya. Kerlap-kerlip gelang wanita tersebut mencerahkan mata karyawan itu dan membuatnya tersenyum. Lalu, rasa lelahnya hilang! Matanya yang mulai berbinar dan wajahnya yang tersenyum membuatnya bersemangat dan berharap. Kemudian, ia sampai di tempat tujuan dan turun dari bus.

Keesokan malamnya, sepulang dari bekerja dan naik bus lagi, karyawan itu ingin melihat gelang yang dipakai oleh penumpang wanita yang pernah dilihatnya kemarin. Namun, wanita tersebut tidak ada karena tidak mungkin penumpang yang sama selalu bertemu setiap hari di dalam bus yang sama pula. Tetapi, kali ini karyawan itu mendapat tempat berdiri di bagian tengah bus, serta bisa bersenandung dan berpikir sesaat. Meskipun demikian, ia masih merasa capek karena perjalanan pulang yang jauh atau menghadapi beberapa masalah.

Untungnya, saat itu ia berdiri di depan seorang penumpang pria yang memakai sebuah cincin emas di jari manis tangan kanan. Seperti halnya gelang yang berkerlap-kerlip milik penumpang wanita kemarin, cincin penumpang laki-laki itu pun mengilap dengan cahaya kuning―hampir mirip sinar-sinar di samping matahari yang dilihat dari bumi. Ketika melihatnya, hati karyawan tersebut tenang sehingga ia mampu berpikir positif terhadap masalah-masalahnya. Kemudian, matanya sedikit memicing untuk bersinar lembut dan urat-urat wajahnya tertarik untuk tersenyum. Ia merasa lega, melihat dan mengharapkan hal-hal yang baik dari segala keadaan dalam kehidupannya.


***


VW Kodok Petualang dan Topi Kecurigaan



“Mau tua di jalan?”
―Sri Endang Susilowati


Ada dua orang kakek-kakek yang telah menghabiskan banyak waktu mereka di jalan. Usia mereka sama-sama 70 tahun, tetapi tetap tampak bersemangat dan berjiwa muda. Kakek yang pertama mempergunakan waktunya untuk berpetualang; kakek yang kedua memakai waktunya untuk berangkat bekerja dan pulang ke rumah. Yuk, kita ikuti perjalanan mereka!

Kakek pertama selalu bepergian menggunakan sebuah mobil VW kodoknya yang berwarna biru. VW kodok tersebut telah menjelajah ke mana-mana! Misalnya, Waikiki, Azerbaijan, St. Petersburg, Port-au-Prince, Santo Domingo, dan beberapa kota di negara-negara lainnya. Kakek itu juga sering mengoleksi pelat-pelat nomor kendaraan kota-kota negara asing tersebut. Kakek pertama ini tidak pernah terlalu menaruh curiga kepada orang lain, apalagi kalau pergi ke tempat-tempat lain dan bertemu dengan orang-orang asing. Memang susah kalau mempunyai banyak rasa curiga saat melancong ke mancanegara.

Kakek tersebut juga senang memakai pakaian yang eksentrik. Saat sedang melaju di jalan raya atau jalan tol, kakek yang pertama itu pun selalu tersenyum sambil berkonsentrasi mengemudi. Dia tidak pernah mengemudi sambil menelepon atau mengetik SMS dengan handphone karena berbahaya. Kakek pertama tersebut juga memasang pelat nomor kota asing (misalnya Waikiki) pada kaca belakang bagian dalam, sehingga menarik perhatian orang-orang―baik melihat kepada dirinya maupun mobil VW kodoknya. Mereka jadi ingin meniru dan berpetualang seperti kakek yang ceria, seceria VW kodok berwarna biru miliknya yang mengkilap itu.

Bagaimana dengan kakek yang kedua? Kakek yang kedua belum pernah pergi ke mana-mana. Ia hanya berada di Jakarta dan menggunakan waktunya untuk naik bus berangkat ke tempat kerja, lalu pulang ke rumah.

Kakek itu selalu memakai topi hitam yang pendek. Kakek kedua tersebut juga selalu curiga terhadap orang lain. Mengapa seperti itu? Entah karena dulu orangtuanya sering curiga kepadanya ketika ia masih kecil, entah karena pikirannya yang tidak mau terbuka (open-minded) dan belajar dari orang lain.

Ternyata, kakek itu terlalu menaruh curiga kepada orang lain karena topi hitamnya tersebut! Beliau membeli topi itu di sebuah toko yang bernama “Toko Suspicious”. Sepertinya, kakek dan pemilik toko tersebut tidak mengerti bahasa asing. Dan karena kakek kedua tersebut selalu penuh curiga terhadap orang-orang, mereka pun sepertinya membalas menaruh rasa curiga kepada dirinya. Kecurigaan itu membuatnya tidak dapat berwisata secara ceria ke mana-mana.

Suatu malam pukul 20.30 WIB, sepulang dari bekerja, kakek yang kedua itu menunggu bus di tepi jalan yang sepi. Biasanya, bus sudah jarang lewat bila malam seperti itu. Namun, kakek tersebut  tetap bersabar dan berharap ada bus yang datang. Bukan kebetulan, kakek yang pertama tadi melintas dengan VW kodok birunya di jalan itu! 

Lalu, karena merasa sama-sama tua atau seumuran, kakek pertama tersebut mencoba menawarkan tumpangan kepada kakek pertama. Sempat kakek kedua itu curiga dan berprasangka terhadap kakek pertama. Sedangkan, kakek pertama hanya tersimpul senyum. Sembari tertawa, kakek pertama itu mengajak kakek kedua untuk naik dan berkata bahwa ia bukan orang jahat dan bercanda bahwa ia tidak akan menggigit.

Kakek kedua akhirnya mau menumpang. Lalu, kedua kakek tersebut naik VW kodok biru melewati jalan tol dan saling bercerita singkat. Karena tanpa AC, kakek pertama membuka kaca jendela mobil, lalu menyuruh kakek kedua untuk melepaskan topi hitamnya. Setelah membuka topi, hempasan angin segar menerpa dan membuat gelombang senyum di wajahnya. Kakek kedua itu merasa bebas dari rasa curiga dan bersemangat untuk berpetualang seperti kakek pertama.


***


Kipas Merak



Lowering your guard doesn’t mean lowering your standard.”
―Julius Fernando


Apakah kalian tahu asal-usul sebuah kipas? Ya, kipas atau alat untuk mengibas-ngibas supaya kalian mendapatkan angin sejuk. Pembuat kipas pertama kali, terinspirasi oleh seekor burung, yaitu burung merak, sebelum menciptakan kipas.

Merak adalah burung yang elegan (elok dan anggun). Burung merak kepalanya kecil; leher dan kakinya panjang; sayapnya pendek; bulunya indah sekali dihiasi tanda lingkaran-lingkaran hijau dan biru. Nah, jika burung merak―jantan atau betina―membentangkan bulu-bulu di belakangnya, akan berbentuk setengah lingkaran yang menyerupai bentuk kipas. Itulah sebabnya seseorang terinspirasi untuk menciptakan kipas.

Nah, karena burung merak adalah hewan yang elegan, dulu orang-orang yang membuat atau memakai kipas juga adalah orang-orang yang elegan (cantik, rapi, anggun, lemah lembut, atau luwes). Jadi, pada umumnya yang membeli kipas adalah kaum perempuan. Namun, ada juga para pria yang membelinya. Selain untuk mengibas-ngibas agar mendapatkan angin sejuk saat kepanasan, pada masa dahulu kipas adalah untuk menaikkan standar dalam kehidupan. Jadi, orang-orang yang memakai kipas akan mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Bukankah pembuat kipas menciptakan dan membentuk kipas dengan usaha yang sulit tapi terbaik?

Oh ya, orang-orang yang terkena hempasan angin di dekat pemakai kipas pun akan merasa harus menaikkan standar hidup mereka. Misalnya, dari terus-menerus bersifat kekanak-kanakan menjadi bersikap dewasa dan tahu situasi; dari mengerjakan tugas secara asal-asalan menjadi melakukannya dengan tekun dan sepenuh hati; dari menyukai hal-hal jahat menjadi senang berbuat baik; dan contoh standar tinggi lainnya.

Wah, menarik ya?! Apakah kalian mempunyai kipas?


***


Tukang Sate yang Humoris




Di dekat suatu pasar dan kawasan perumahan mewah, terdapat sebuah warung sate. Tetapi, sang penjual sate hanya berjualan pada saat sore pukul 16.00 sampai dagangannya habis pada malam hari―kadang-kadang pukul sebelas atau setengah 12 malam. Penjual sate tersebut adalah seorang ibu-ibu yang suka melucu. Karena itu, banyak orang yang mengenalnya dan membeli sate di warungnya. Tidak seperti beberapa penjual makanan di sekitarnya yang selalu serius dan berbuat kurang ajar kepada para konsumen.

Warung sate itu menjual sate daging ayam dan kambing, tetapi logo warungnya gambar sapi. Unik. Saat para pembeli bertanya kepadanya alasan membuat logo sapi, ibu itu menjawab bahwa karena wajahnya seperti sapi. Lalu, orang-orang dan ibu itu tertawa. Ya, ibu itu cuma bercanda karena mukanya tidaklah mirip sapi. Tetapi, ibu tersebut tidak sering menjelek-jelekkan diri sendiri karena perkataan dapat benar-benar terjadi.

Ibu itu telah berusia 54 tahun, namun tampak berumur 45 tahun! Dia awet muda. Saat orang-orang dan teman-temannya bertanya tentang usianya, mereka kaget dan tidak percaya karena mengira dia masih berusia 45 tahun, ternyata sudah berumur 54 tahun! Mereka menanyakan rahasia panjang umur dan awet mudanya. Lalu, ibu penjual sate itu menjawab bahwa dia awet muda karena sering memakai lilin daripada menyalakan lampu-lampu di rumahnya. Ibu itu terdiam sebentar menunggu reaksi, lalu tertawa karena dia hanya bercanda. Kemudian, mereka juga terbahak-bahak setelah bingung sejenak memikirkan hubungan antara memakai lilin dengan awet muda.

Selain lucu, ibu itu juga murah hati. Orang-orang yang membeli sate dan makan di warungnya sepulang kerja pukul 19.00, selalu mendapat tambahan sop kikil kambing yang hangat dan mantap. Beberapa langganan yang belum gajian pada tanggal tua (tanggal 20 – 30) juga diperbolehkan oleh ibu itu untuk berutang makan sate. Suaminya sempat kurang sependapat karena memperbolehkan orang-orang untuk berutang. Tetapi, setelah ibu itu menjelaskan bahwa kalau sedang susah, banyak orang juga yang meminjami uang atau membantunya, suaminya setuju-setuju juga. Lagipula, kata ibu itu, uang bukanlah segalanya. Satelah segalanya. Lalu, mereka berdua tertawa. Suaminya pun kian mengasihinya karena suka menolong orang lain dan membuat mereka tertawa.

Walaupun ibu penjual sate itu suka humor, dia tidak melucu terus-menerus. Kadang-kadang ibu itu juga bisa serius. Jika situasi membutuhkan keseriusan, ibu itu akan bersikap serius. Karena kalau tidak, orang-orang akan mengira dia hanya bisa bercanda, tetapi tidak dapat bersikap serius. Jika anak-anaknya tidak menurut atau bandel berlebihan, atau ada pembeli yang merokok, ibu itu akan marah, serta mengatakan bahwa anak sapi saja taat kepada induknya; dan sapi saja tidak merokok, masak manusia merokok?

Jadi, rahasia ibu itu untuk umur panjang dan awet muda adalah humor dan keseriusan, bukan lilin. Dia membutuhkan dua hal itu supaya ada keseimbangan.


***


Cita-cita Bocah Penjaga Toilet Umum




Di sebelah kanan suatu stasiun kereta api, terdapat sebuah tempat parkir. Nah, bersebelahan dengan stasiun dan parkiran tersebut, ada sebuah toilet umum. Toilet tersebut dijaga oleh seorang ayah dan putranya. Mereka telah bekerja menjaga toilet itu selama dua tahun.

Saat pagi sampai siang, yang menjaga adalah sang ayah. Sedangkan, dari siang sampai malam, yang menjaga adalah anaknya. Seharusnya terbalik, tetapi sang anak harus pergi ke sekolah dasar dari pagi hingga siang. Lalu, sepulang dari sekolah, ia segera menjaga toilet―kadang tanpa mengganti seragamnya dengan baju biasa. Saat malam sembari menunggu toilet, ia memanfaatkan waktunya untuk belajar. Dan untuk menghilangkan kejenuhan, ia melakukan senam kecil, yaitu memutar-mutarkan tangan seperti berenang gaya punggung; mengoyang-goyangkan pinggang agar tidak pinggangnya tidak kaku atau sakit karena terlalu lama duduk; dan melihat-lihat orang-orang yang berlalu-lalang; atau sekadar bermain kartu sendirian. Kadang, sebelum berangkat ke sekolah, ia juga menyempatkan diri untuk menjaga toilet.

Ayahnya bangga kepada putranya tersebut karena masih kecil kelas IV SD sudah mau belajar dan bekerja keras. Suatu hari, ketika anaknya membaca buku pelajaran, ayahnya berkata, “Anakku, engkau harus lebih berhasil daripada Ayahmu ini, ya. Rajinlah belajar dan giatlah bekerja. Bantulah orang lain semampumu. Dan, kalau engkau benar-benar menginginkan sesuatu dalam hidupmu, engkau tidak boleh menerima jawaban ‘tidak’. Tapi ingat, ya Nak, engkau juga harus berdoa kepada Tuhan agar menolongmu.” Anaknya mengangguk dan menatap kembali pada halaman buku yang sedang ia baca.

Anak itu suka membaca―terutama buku berupa hal-hal tentang pantai, laut, kapal api, atau kapal selam. Karena itu, ia sebenarnya bercita-cita ingin menjadi seorang pelaut atau prajurit angkatan laut. Tetapi, dapatkah seorang bocah penunggu toilet menjadi penjaga wilayah kedaulatan laut milik negara? Meskipun demikian, ia tetap berharap, bercita-cita, dan bermimpi seperti itu, serta belajar setiap hari.

Waktu berlayar seperti sebuah kapal―pelan dan pasti. Enam tahun telah berlalu. Sekarang anak itu berusia 16 tahun dan kelas I SMU. Entah uang dari mana sehingga ayahnya sanggup membayar biaya sekolah putranya itu dari SD sampai SMU. Mungkin Tuhan dan orang-orang murah hati yang menolong mereka. Lalu, apakah cita-cita anak itu berubah dan ia berhenti bermimpi menjadi anggota TNI AL? Tidak, ia tetap bercita-cita menjadi prajurit angkatan laut. Bahkan, pengetahuannya tentang kelautan pun bertambah.

Seiring tahun-tahun yang berjalan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang mengamati anak itu. Adapun bapak-bapak tersebut dari dulu hingga kini sering menitipkan mobilnya di tempat parkir itu. Kemudian, naik kereta api menuju ke kota untuk berangkat ke tempat kerja. Ternyata, beliau berdinas di kantor pusat TNI AL. Setiap malam sepulang dari tempat dinas, bapak-bapak tersebut selalu melihat bocah itu menjaga toilet saat kira-kira pukul 20.30 WIB. Beliau kerap kali bertanya dalam hati, mengapa anak sekecil itu menjaga toilet umum malam-malam seperti ini? Sekarang bocah itu sudah dewasa, tetapi bapak-bapak itu masih memperhatikan.

Suatu malam, setelah turun dari kereta, lalu melewati jalan kecil di antara stasiun dan tempat parkir, beliau melihat bocah yang menunggu toilet itu. Nah, karena tidak ingin memendam rasa penasaran bertahun-tahun, akhirnya bapak-bapak itu bertanya dan mengobrol dengan sang bocah. “Anak muda, saya lihat kamu dari dulu bekerja di sini, menjaga toilet ini. Apakah kamu tidak pernah sekolah dan mencari pekerjaan lain?” kata beliau.

Anak itu menjawab dengan yakin seraya tersenyum ramah, “Oh tidak, Pak, saya bersekolah. Sekarang saya kelas I SMU. Ayah saya yang bekerja keras membiayai saya. Saya juga mencoba membantu Ayah, Pak. Jadi, saya bekerja di tempat ini.”

Beliau bertanya lagi, “Lalu, apa kamu tidak bosan menunggu seperti ini? Sebenarnya kamu suka apa dan ingin menjadi apa, Nak?” “Saya tidak bosan, Pak,” jawab anak itu melanjutkan, “lagipula, saya masih hanya dapat melakukan ini. Cita-cita saya sih sebenarnya menjadi TNI angkatan laut, Pak! Saya suka segala sesuatu tentang laut dan kapal, Pak.”

Bapak-bapak itu merenung sejenak. Sepertinya anak ini pintar, percaya diri, dan bersemangat lagi! Apalagi dia rajin, mau membantu orangtua, dan ingin menjadi angkatan laut! Kemudian, beliau membuka jaket hitamnya sehingga tampak seragam dinasnya dan bertanya kepada anak itu, “Nak, kalau saya memberi kamu beasiswa untuk dididik menjadi prajurit angkatan laut, kamu mau?”

Serasa tidak percaya dan kaget, ia berkata, “Wah! Mau, Pak! Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana syaratnya?” Bapak itu menjelaskan, “Nah, begini, kamu ‘kan sekarang kelas I SMU. Kamu bilang dulu ke Ayahmu bahwa saya menawarkan beasiswa untukmu. Nah, ini coba catat nomor telepon saya… 085691090777. Beri tahu ke Ayahmu bahwa kalau kamu mau mengambil beasiswa ini, kamu harus mengundurkan diri dari sekolahanmu, lalu mendaftarkan diri untuk beasiswa ini. Nanti, Bapak akan bimbing dan bantu kamu cara-caranya.”

“Baik, Pak, nanti saya beri tahu ke Ayah saya,” balas anak itu dan melanjutkan, “tapi, apakah benar saya bisa menjadi prajurit angkatan laut, Pak?” Bapak-bapak itu menjawab, “Bisa. Asalkan kamu tetap seperti ini―rajin, mau membantu orangtua, tetap bersemangat, dan belajar setiap hari―baik sekarang maupun nanti waktu kamu menjadi anggota TNI angkatan laut. Kalau kamu sudah berhasil, kamu tidak boleh berhenti melakukan hal-hal itu.”

Anak itu terharu menerima kebaikan dan mendengarkan penjelasan dari bapak tersebut. Lalu, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau. Kemudian, beliau berpamitan pulang dan pasti bertemu lagi dengan anak itu, serta lewat di jalan sempit dekat toilet itu esoknya.

Akhirnya, anak itu mengabarkan berita gembira itu kepada sang ayah. Ayahnya ikut terharu, menangis bahagia, dan mendukung anaknya untuk menerima beasiswa itu. Bapak-bapak tadi menepati janjinya dan membimbing anak itu menjalani pendidikan dan pelatihan menjadi anggota TNI angkatan laut―sesuatu yang ia mimpikan.


You're braver than you believe, and stronger than you seem, and smarter than you think.
―A. A. Milne


***


10 Detik Terakhir



Sepuluh detik terakhir adalah waktu yang diberikan kepada para petinju di atas ring pada setiap menjelang akhir ronde dalam pertandingan tinju modern. Biasanya, mereka mengerahkan segenap kekuatan, jab-jab (pukulan pendek) terbaik, dan serangan kejutan atau dadakan! Petinju yang tidak sigap akan terjatuh karena terkena pukulan telak. Walaupun tidak mesti pada 10 detik terakhir mereka seperti itu, tetapi mereka pasti tergerak melakukannya, apalagi saat ronde puncak atau ke-12.

Mengapa mereka sering berjuang mati-matian pada 10 detik terakhir tersebut? Karena orang-orang selalu melakukan sesuatu yang terbaik pada saat-saat akhir, hampir selesai, atau akan habis. Misalnya:
  • banyak orang yang meminta ampun kepada Tuhan dan jera berbuat jahat setelah berusia tua atau saat sakit
  • banyak pekerja yang mulai tidak boros setelah uang dari gaji mereka menipis atau saat akhir bulan
  • beberapa orang mempunyai kebiasaan untuk menghemat sabun cair, sampo, selai cokelat, tisu, minyak kayu putih, atau barang lainnya saat hampir habis

Sepuluh detik terakhir ini juga dipakai oleh sepasang kekasih yang sedang bertunangan sebagai sebuah momen atau metode (cara teratur melakukan sesuatu agar tercapai sesuai dengan kehendak) untuk menyatakan cinta mereka. Jadi, dengan handphone, setiap malam sebelum tidur, mereka saling bergantian mengatakan sesuatu yang berarti selama 10 detik.

Cowok: “Kekasihku, aku mencintaimu.”
Cewek: “Sayangku, I will be yours (aku akan menjadi milikmu).”

Keesokannya, mereka saling menyatakan kasih lewat kata-kata lagi sebelum menutup telepon dan terlelap.

Cewek: “Sayang, I miss you and I love you (aku merindukanmu dan mengasihimu).”
Cowok: “Kasihku, aku bersyukur karenamu. I miss you and love you, too (aku juga merindukanmu dan mengasihimu).”

Mereka memakai metode 10 detik terakhir itu karena tidak ingin melewatkan waktu mereka dengan sia-sia. Mereka ingin menjadikan tiap detik dalam hubungan mereka berarti. Siapa yang tahu apa yang dapat terjadi esok bila mereka tidak melakukan atau belum mengatakan sesuatu yang penting bagi masing-masing?

Apakah engkau ingin melakukan sesuatu yang berarti?

10…

9…

8…

7…

6…

Apa yang ingin engkau katakan?

5…

4…

3…

2…

1…


Many of life's failures are people who did not realize how close they were to success when they gave up.
―Thomas Alva Edison


***


Panda dan Pengembara

Hewan ciri khas negeri China adalah …



Hewan itu adalah panda! Panda hampir mirip dengan beruang karena memang diklasifikasikan (dikelompokkan) ke dalam jenis (keluarga) beruang. Panda hidup di wilayah pegunungan dan hutan bambu di China, walaupun juga ada yang di kebun binatang. Jika beruang adalah binatang yang kasar―tetapi ada juga yang baik, yaitu teddy bear atau beruang tedi―panda adalah hewan yang pemalu dan lembut. Karena itu, panda murah hati, selalu tersenyum, gembira, dan ramah kepada hewan lainnya dan manusia―terutama anak-anak.

Sebenarnya, panda adalah hewan yang karnivor (pemakan daging), tetapi sebagian besar makanannya adalah bambu. Ya, bambu. Jadi, panda adalah hewan golongan herbivor (pemakan tumbuhan). Namun, seperti hewan lainnya dan manusia, panda adalah omnivor (pemakan daging dan tumbuhan atau pemakan segala) karena panda juga memakan serangga dan telur. Panda membutuhkan lebih dari setengah hari untuk mengunyah makanan. Dan saat mengunyah, telinga panda akan bergerak-gerak.

Panda mempunyai warna bulu yang lucu, seolah-olah memakai empat kaus kaki panjang dan kaca mata hitam. Telinganya juga hitam. Pendengaran dan penciuman panda baik, tetapi penglihatannya kurang bagus. Mungkin karena memakai kaca mata hitam, ya?

Panda pun mempunyai “jari” keenam pada kedua telapak kaki depannya. “Jari” keenam tersebut sebenarnya adalah tulang pergelangan tangan yang dipakai untuk memegang batang bambu. Kalau tidak ada “jari” keenam itu, mungkin panda takkan bisa memegang dan memakan bambu, lalu kelaparan.

Seekor panda betina biasanya melahirkan di dalam lubang pohon atau sebuah gua supaya aman dari serangan musuh. Panda betina dapat melahirkan satu atau dua bayi panda kira-kira 5 bulan setelah kawin. Berat badan panda dewasa bisa mencapai 100 kilogram (kg) dan tinggi badannya 130 sentimeter (cm). Nah, pada usia 2 tahun, panda muda akan berpamitan kepada induknya, lalu mencari wilayah hutan bambu sendiri sebagai tempat hidupnya. Kalau manusia, mungkin usia 20, 27, atau 30 tahun, baru izin kepada ayah dan ibunya untuk pergi mencari wilayah hidupnya, ya. Tetapi, ada juga yang memulai pada umur yang lebih muda.

Nah, suatu hari, ada seekor panda jantan berusia 2 tahun yang setelah berpamitan, meninggalkan induknya dan mencari hutan bambu sendiri untuk habitatnya. Ketika sampai di jalan setapak suatu desa, panda itu berpapasan dengan pemuda China berumur 27 tahun. Ternyata, pemuda itu adalah seorang pengembara yang juga sedang mencari tempat kediaman yang terbaik. Ia telah mengelilingi dan singgah di lima kota, namun belum menemukan tempat yang tepat―tempat orang-orang yang membutuhkan hiburannya, yaitu sebagai pelawak.

Lima kota itu telah menolaknya karena orang-orang di sana mengatakan bahwa bagaimana mungkin ia dapat menghibur orang-orang, sedangkan tubuhnya sendiri lesu dan wajahnya seperti sedih. Jadi, ia pergi dan mencari kota yang sesuai untuknya. Ia mungkin sedih karena harus jauh dari keluarga, belum memperoleh pekerjaan yang tetap, serta belum memiliki rumah sendiri.

Pemuda itu mendadak tertawa secerah mentari siang itu karena kaget dapat berjumpa dengan seekor panda di jalan suatu desa. Ia lalu mendekati panda itu dan mengelus-elus punggungnya. Awalnya, panda itu agak malu didekati, tetapi setelah dibelai dan merasakan kelembutan, panda itu menjadi lembut, menyukai pemuda itu dan menjilati pipinya. Pemuda tersebut tertawa kegelian, lalu panda itu tampak juga membuka mulut ikut gembira. Kemudian, pemuda itu mengajak dan membawa panda itu berjalan bersamanya.

Semenjak saat itu, mereka menjadi bersahabat dan bersama-sama mulai mencari tempat tinggal. Tetapi, pemuda itu tidak mengajak panda tersebut tinggal di hutan bambu karena jarang ada manusia yang hidup di hutan sendirian atau bersama hewan. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melakukannya.

Pemuda tersebut membawa panda itu ke desa yang bernama Bou Yei, di daerah Guizhou. Orang-orang dan anak-anak di sana menyambut dan senang menerima kedatangan panda serta pemuda itu. Kepala desa bahkan memberikan rumah inap sementara kepada mereka. Tentu panda itu tidur di pekarangan depan rumah. Pemuda itu yang mencarikan dan mengambilkan beberapa batang bambu sebagai makanan untuk panda. Tetapi, kadang-kadang ia mengikutsertakan panda itu  pergi ke hutan bambu.

Persahabatan pemuda dengan panda itu membuatnya tidak lagi tampak murung. Pun postur tubuhnya sekarang terlihat bersemangat, mungkin karena sering mengangkat dan membawa batang-batang bambu itu di lengannya. Mereka sering bercanda―baik berdua maupun di depan anak-anak desa. Kadang, setelah kembali dari hutan bambu, pemuda itu mengapit bambu-bambu di antara lengan dan dadanya, sementara panda itu berajojing (dansa dengan kaki berjingkrak) menuju desa. Orang-orang desa dan anak-anak yang melihatnya tertawa karena si pemuda bersusah payah dan berkeringat, sedangkan sang panda bergembira. Namun, pemuda tersebut dengan senang hati melakukannya karena merasa bisa menghibur orang-orang, terutama anak-anak itu.

Pemuda dan panda itu juga sering melakukan adegan akrobat di balai pertemuan desa. Pemuda itu memasang tali yang kuat pada dua pasak atau tongkat setinggi 2 meter, lalu panda berjalan di tali itu! Ternyata, panda itu pandai berjalan seimbang di atas tali dan tidak jatuh! Akrobat lainnya adalah pemuda itu bersalto (berjungkir balik di udara), lalu panda mengikuti gerakan yang sama. Kemudian, mereka melakukan salto bersama-sama! Tetapi, tidak hanya tindakan yang serius, kadang mereka juga mengadakan kelucuan: Pemuda itu memakai kaca mata hitam, sarung tangan kain hitam, dan kaus kaki panjang hitam, serta meniru gaya panda itu―mulai dari cara berjalannya, menggerak-gerakkan kupingnya ketika mengunyah makanan, sampai mencoba akrobat di atas tali tapi tidak berani lalu bergelantungan pada tali itu. Orang-orang dan anak-anak yang menontonnya tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal! Mereka mengadakan acara akrobat dan humor itu seminggu sekali.

Penduduk desa lain, bahkan orang-orang di beberapa kota mulai mendengar kabar tentang pemuda dan panda tersebut. Lalu, mereka berdatangan pada hari saat pemuda dan panda itu menyelenggarakan aksi itu. Minggu demi minggu makin banyak orang yang datang ke desa itu untuk menonton dan membayar mereka! Hal itu membuat perekonomian desa Bou Yei menjadi bagus. Dan karena balai pertemuan tidak cukup menampung orang sebanyak itu, kepala desa menyuruh para pekerja untuk membangun sebuah arena sirkus berdiameter 50 meter untuk mereka. Acara sirkus kecil itu pun menjadi diadakan seminggu sebanyak dua kali.

Sekarang pemuda itu dapat membeli dan memiliki rumah sendiri, serta membuat halaman khusus dengan banyak tanaman dan pohon bambu bagi panda. Desa itu menjadi tempat yang tepat dan orang-orangnya membutuhkan hiburan mereka. Pengembara itu telah menemukan kediaman terbaik yang sesuai untuknya. Sang panda juga senang menemani dan bersama dengannya. Panda itu telah menjadi semacam “jari” keenam untuk menggenggam “bambu” kebahagiaan bagi pemuda itu.


***


Rumah-rumah di Dalam Hati



Selatan Jakarta, daerah hijau terhampar luas.
Selatan Jakarta, kemapanan ada di sana.
―Ari Lasso


Jika engkau melewati kawasan-kawasan perumahan seperti Darmo Permai dan Ketintang Permai di Surabaya; perumahan Puncak Dieng di Malang; perumahan di Jalan Kaliurang di Yogyakarta; perumahan di kawasan Puncak Bogor; dan perumahan Pondok Indah di Jakarta; engkau akan melihat banyak rumah mewah dan megah di sana. Kadang-kadang para pemiliknya tidak tinggal di rumah itu, melainkan yang menempati adalah para pembantu rumah tangga. Sungguh beruntung mereka. Namun, ada yang lebih beruntung, yaitu orang-orang yang mempunyai rumah-rumah indah di dalam hati mereka.

Mungkin rumah mereka mungil, namun keluarga mereka saling mengasihi. Mengapa bisa begitu? Karena masing-masing anggota keluarga tersebut memiliki rumah di dalam hati mereka. Rumah yang indah, terawat, dibersihkan, dan dibangun setiap hari. Tidak seperti rumah-rumah yang tampak di luar yang dapat berkarat, berlumut, luluh, dan sirna karena gempa atau bencana alam. Rumah-rumah yang kelihatan itu hanya sementara. Sedangkan, rumah-rumah di dalam hati yang tak kasatmata itu bertahan sampai selamanya.

Mungkin rumah-rumah mewah di atas tadi dipasangi antena yang tinggi dan satelit untuk menangkap sinyal atau siaran televisi luar negeri. Tetapi, rumah-rumah yang di dalam hati akan membuat orang-orangnya senang membaca banyak buku, memiliki pikiran dan intuisi (bisikan hati), dapat mempelajari hal-hal yang terjadi di negara-negara lain, lalu mempunyai simpati dan kepedulian terhadap orang lain. Karena itu, orang-orang yang memiliki rumah yang indah di dalam hati tapi rumah kecil yang kelihatan, akan baik serta mau bergaul dengan para tetangga. Sedangkan, para pemilik rumah-rumah mewah jarang bersosialisasi (berkomunikasi atau berhubungan) dengan masyarakat di sekitarnya. Padahal, mereka tinggal satu daerah, di bumi yang sama. Mungkin mereka berprasangka dan takut harta mereka akan dicuri.

Kadang, orang yang kaya itu miskin; dan orang yang miskin itu kaya. Hal yang membedakan adalah apakah ada rumah yang indah di dalam hati mereka?

Mungkin orang-orang yang mempunyai rumah-rumah besar yang tampak dari di luar itu adalah kelompok sosialista. Sosialista adalah sebuah istilah komunitas orang-orang kaya yang elite (terpandang dan berderajat tinggi), mulai dari pejabat, selebriti, pengusaha, dan lain-lain. Tidak semua orang dapat masuk ke komunitas ini.

Mereka memang kelompok sosialista, namun mereka jarang bersosialisasi (bergaul) dengan masyarakat―terutama orang-orang miskin yang mempunyai rumah kecil. Para sosialista tidak mempunyai rumah indah di dalam hati. Hanya, jika mereka mau melakukan sosialisasi dengan masyarakat, mereka akan memiliki rumah-rumah indah di dalam hati.


***


Awan-awan Gajah




Kadang-kadang, kita bisa melihat awan-awan besar yang berbentuk menyerupai baik wajah manusia, alat musik berupa harpa, maupun hewan―seperti singa, kerbau, sapi, domba, atau gajah. Namun, awan yang paling sering terlihat adalah bentuk gajah.

Orang-orang yang melihat bentuk-bentuk awan tersebut akan memiliki semangat sesuai dengan hal-hal positif dari masing-masing hewan. Misalnya, orang yang penakut akan menjadi berani saat melihat awan penaka (seperti) singa. Jika melihat awan mirip kerbau, orang yang malas akan menjadi rajin bekerja dan berantusias. Orang yang sedang sedih atau orang yang pelit akan tertawa kembali karena humor dan senang memberi bila memandang awan bentuk sapi yang lucu. Jika memandang awan yang tampak seperti domba, orang yang melakukan kesalahan atau berbuat jahat akan merasa bersalah atau menyesal, lalu mau berbuat baik. Orang yang putus asa dan patah semangat akan berharap dan bersemangat lagi saat memperhatikan awan yang berbentuk gajah.

Suatu sore, ada seorang pemudi bernama Jani yang sedang menunggu bus Transjakarta di halte sepulang dari bekerja. Ketika itu pukul 16.30 WIB dan belum ada bus yang datang, bahkan sampai pukul 19.00 sehingga banyak calon penumpang yang menumpuk di halte bus Transjakarta. Hal itu tentu membuat hawa dan hati para calon penumpang panas, termasuk Jani. Apalagi, dia sudah berkeringat, lelah, dan putus asa sebab belum mendapat pekerjaan baru yang lebih baik, ditambah merasa patah semangat karena dia tidak mencintai tugasnya yang saat itu.

Tidak adanya kipas angin yang mengarah ke semua sudut di halte menambah panasnya udara. Untungnya, ada pemuda yang mau membuka pintu otomatis dan mematikan tombolnya sehingga angin mengalir dari luar ke dalam halte bus. Kemudian, Jani mencoba berdiri pas di ambang pintu supaya wajahnya terkena embusan angin serta mengurangi panas dan mengeringkan keringatnya.

Saat itu, karena pintu yang terbuka dan penuh calon penumpang yang mengantre, orang-orang di luar halte mengamat-amati mereka. Beberapa orang juga bercanda dan berkata bahwa mereka yang di dalam halte itu seperti ikan-ikan kecil di dalam sebuah akuarium yang sempit. Kasihan Jani karena dia berada di pintu, maka banyak orang melihat-lihat tepat ke arahnya dan dia bisa melihat orang-orang yang menertawakannya. Satu hal sudah teratasi, tapi berganti hal yang lain. Putus asa dan patah semangat yang berlebihan dapat membuatnya gelisah, gundah, dan malu bila ditertawakan orang-orang, walaupun disebabkan oleh hal-hal sepele.

Jani menutupi mulutnya memakai sapu tangan biru muda dengan tangan kirinya agar orang-orang itu tidak terlalu jelas melihat mukanya. Tangan yang satu  lagi memegangi tali tas yang dia cantolkan pada bahu kanannya. Sekarang dia yang tertawa dan berkata di dalam hati tentang orang-orang di luar itu, coba kalian yang ada di dalam sini, pasti aku tertawakan sepuas-puasnya.

Ketika dia mengarahkan pandangannya ke luar, dia melihat awan-awan putih membentuk seperti gajah-gajah yang besar di langit. Setelah dia melihatnya, dia mulai memiliki harapan untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kecintaannya. Semangatnya bangkit secerah mentari sore dan sejernih suara Mariah Carey atau Josh Groban. Lalu, Jani berani menurunkan tangan serta sapu tangan dari bibirnya dan tersenyum memandang orang-orang. Kegelisahannya berkurang, keringatnya menghilang, semangatnya benderang, dan bus akhirnya datang.

Hari-hari ini dan setiap hari banyak orang yang butuh melihat awan-awan gajah itu.


I'm looking to the sky to save me;
Looking for a sign of life;
Looking for something to help me burn out bright.
―Dave Grohl


***


Operator Forklif

Apakah kalian pernah menyaksikan sesuatu seperti ini?




Itu adalah forklif. Forklif adalah suatu mesin yang menyerupai mobil. Forklif dikendarai dan digunakan untuk mengangkat dan mengangkut palet (landasan yang biasanya terbuat dari kayu dan untuk ditumpuki beban) atau barang―khususnya benda-benda yang berat dan besar. Jadi, orang-orang yang tidak kuat membawa atau memindahkan suatu barang dapat menyewa atau memakai forklif untuk melakukannya. Kemudian, operator dengan forklif tersebut akan menolong mereka. Tapi, ada tetapinya… Tidak semua operator (orang yang menjalankan suatu peralatan atau mesin) dan forklif mau membantu.

Hanya operator yang gagah dan forklif yang megah yang mau menolong orang-orang itu. Gagah bukan hanya berarti berbadan tegap atau perkasa, melainkan juga pikiran dan jiwa yang sehat dan berani, serta nurani yang baik hati. Megah tidak berarti berdiri kokoh atau indah saja, tetapi mau berjalan dan tetap bertahan. Mengapa cuma operator gagah dan forklif megah yang begitu? Karena mengangkut muatan yang berat untuk jarak yang dekat membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Kalau jarak dekat saja tidak mau, apalagi membawa atau memindahkan ke jarak yang jauh.

Nah, suatu hari, ada seorang operator yang gagah beserta forklifnya yang megah berjalan di jalan raya di bawah sebuah jembatan layang yang cukup panjang. Ia menawarkan jasa untuk mengangkat beban secara gratis kepada orang-orang yang ingin memindahkan barang tapi tidak punya uang. Memang berhubung saat itu sedang krisis ekonomi dunia atau global. Akan tetapi, kok tidak ada orang yang percaya kepadanya atau mau menerima jasa gratisnya! Mereka lebih ingin menabung dan menunggu punya uang sendiri, lalu menyewa truk atau forklif lainnya untuk pindahan. Mereka sombong karena tidak mau menerima bantuan.

Akhirnya, operator forklif itu mencoba pergi ke jalan lain di dekat suatu daerah kumuh yang orang-orangnya ingin memindahkan barang-barang. Mereka dengan senang hati memanfaatkan jasa operator tersebut secara tertib dan bergantian. Operator itu pun merasa senang karena dapat berbuat sesuatu tanpa bayaran bagi orang lain dan memberikan pertolongan. Ia merasa berguna dan lebih hidup―lebih ketimbang pada hari-hari ia tidak mengerjakan apa-apa.

Nah, apakah kalian ingin melakukan sesuatu seperti operator itu? Tenang, bukan hanya harus menjalankan forklif dan mengangkat barang-barang. Tetapi bisa dengan menyemangati teman-teman yang membutuhkan dukungan; memberikan jaket, celana, atau baju kepada suadara; atau menghibur orang-orang yang memerlukan senyuman; dan lain-lain. Tentu kalian dapat melakukannya, bukan? Jika mereka tidak mau menerimanya, tetaplah berusaha memberi, baik kepada mereka maupun orang yang lainnya.


Some people are usually in hurry aftering a public transportation.
But, not all men are always promptly in receiving a real salvation.
―Franisz Ginting


***


Perempuan Pedesaan dan Wanita Kaya

“Jika Anda masih bisa menghitung jumlah uang Anda, maka Anda bukanlah orang kaya.”
―Jean Paul Getty

Kehidupan ini ajaib, bukan? Banyak peristiwa unik dan menarik yang terjadi di sekitar atau kita dengarkan dari teman-teman. Kejadian atau cerita itu akan terkenang di dalam pikiran dan ingatan. Misalnya, cerita tentang dua wanita yang berbeda ini: Yati, seorang perempuan desa asal Madiun, dan Ibu Shanty, seorang wanita kaya di kota Medan. Mari kita ikuti kisahnya…

10 tahun sebelum keberangkatan ke Australia…

Yati adalah seorang wanita yang tinggal bersama ibunya dan dua orang kakak perempuan di salah satu desa di Madiun. Ibundanya Yati telah berusia uzur dan sedang sakit. Namun, hanya Yati yang mau merawatnya. Sedangkan, kedua kakaknya tidak merawat ibu mereka. Sudah 10 tahun Yati menjaga ibunya, sampai-sampai dipecat dari tempat kerja karena dia sering izin mengantar ke RS, membeli obat di apotek, atau sekadar mengurus ibunya di rumah. Sedangkan, kakak-kakaknya malah sibuk ingin bersekolah meraih gelar lagi dan bekerja!

Setelah disiplin meminum obat, beristirahat, dan karena berharap ingin segera sembuh, ibunya Yati pulih dan sehat kembali. Kemudian, Yati berkata bahwa dia ingin mencari pekerjaan. Ibunya mengizinkan. Tetapi, kedua kakaknya marah-marah dan marah-marah dan meminta supaya Yati tetap di rumah saja bersama ibu. Mereka tidak ingin Yati sukses atau maju. Padahal, Yati mau mereka semua berhasil karena kesuksesan anak-anak atau keluarga adalah kesuksesan bersama.

Walaupun kedua kakaknya melarang, Yati tidak mengubah pendiriannya, yaitu ingin pergi ke kota mencoba mencari kerja karena ibunya sudah sembuh dan memperbolehkan. Yati tidak meminta izin dari kedua kakaknya sebab telah memperoleh restu ibu, dan Yati hanya memohon maaf kepada mereka bila bersikukuh berangkat. Lagipula, uang dari hasil kerjanya nanti akan Yati berikan kepada sang ibu. Tidak seperti kakak-kakaknya yang memakai sendiri gaji mereka dan hanya memberi sedikit untuk ibunya. Yati pergilah.

Sesampainya di kota, Yati melamar pekerjaan di sebuah organisasi nirlaba (nonprofit) atau tidak mengutamakan keuangan dan keuntungan. Tidak apa-apa karena organisasi adalah tempat untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang. Organisasi itu bernama Madiun Maju Mandiri, yaitu sebuah organisasi yang bergerak di bidang memberikan jasa pendidikan gratis bagi anak-anak miskin dan pelayanan kesehatan cuma-cuma untuk orang-orang tua yang tidak mampu membayar biaya pengobatan rumah sakit. Organisasi itu menerima Yati sebagai staf sekaligus sukarelawati. Ketika itu, imbalan atau bayaran Yati per bulan hanyalah 270.000 rupiah. Namun, Yati bersyukur dan memberikan semua gaji pertamanya itu kepada sang bunda.

Setelah bekerja selama dua tahun, ada seorang wanita elegan dari Jakarta yang mendengar berita tentang Madiun Maju Mandiri, lalu ingin menyumbangkan sejumlah uang pada organisasi itu dan mengajak Yati bekerja untuknya. Di mana? Di kedutaan besar bangsa Indonesia di Australia! Ternyata wanita itu adalah istri dari konsul jenderal (wakil pemerintah) yang bekerja di konsulat (kantor konsul) di kedutaan besar tersebut. Yati memohon waktu tiga hari untuk pulang ke desa dan meminta izin kepada sang ibu lagi.

Lalu, Yati menceritakan tentang hal itu kepada keluarganya. Ibunya kembali mendukung dan mengizinkan karena hati ibu dan anak selalu satu,  di mana pun mereka berada. Demikian pula, antara hati anak dengan ayah. Tetapi seperti biasanya, kedua kakaknya sangat tidak setuju, bahkan cemburu! Namun, meskipun aral melintang, Yati tetap memilih untuk pergi dan bekerja ke Australia dengan doa, restu, dan izin sang ibunda tercinta. Berangkatlah Yati ke Australia!

Sekarang Yati bekerja di kedubes Indonesia di Canberra, Australia, sebagai kepala urusan rumah tangga, yaitu menangani keperluan biasa sehari-hari kedutaan, seperti makanan, kebersihan, dan lain-lain. Yati menerima gaji sebesar 720 dolar Australia per bulan dan itu belum ditambah bonus bila pekerjaannya bagus! Yati berharap dapat menabung, bekerja dengan baik, dan tetap berjuang di sana sehingga dapat menyenangkan saudara-saudara dan keluarga―terutama ibundanya―nanti saat pulang ke rumah di Madiun, Indonesia. Dari desa ke Canberra, Australia. Dari perempuan pedesaan menjadi bekerja di kedutaan. Ajaib, ya…?

Kita ikuti kisah wanita berikutnya.

Ibu Shanty adalah seorang wanita yang memiliki usaha pertambangan batu bara di daerah Kabupaten Karo yang membuka kantor pusatnya di kota Medan. Ibu Shanty ini berusia 43 tahun, belum menikah, dan memiliki rumah yang ditinggali bersama kedua adik perempuannya. Adiknya yang pertama masih berumur 23 tahun tapi sudah bekerja mengajar sebagai guru privat Bahasa Jerman. Adiknya yang kedua berumur 17 tahun dan masih bersekolah di SMU Negeri 7, Medan.

Oh ya, mengapa Ibu Shanty disebut ibu, padahal belum menikah dan usianya telah 43 tahun? Karena semua wanita layak dipanggil dengan sebutan ibu. Lagipula, Ibu Shanty sering membiayai anak-anak yang kurang mampu untuk bersekolah. Dia menganggap mereka sebagai putra dan putrinya sendiri. Bahkan, Ibu Shanty juga kerap kali memberi hadiah mainan atau buku, makanan, atau angpau (uang untuk merayakan Tahun Baru China) bagi murid-murid les privat adiknya.

Ibu Shanty juga sangat percaya kepada kedua adiknya. Kenapa? Karena dia menyerahkan semua urusan keuangan ke adik-adiknya. Mengapa bisa begitu? Karena Ibu Shanty tidak pernah ke bank, bahkan tidak tahu cara mengoperasikan (mengambil atau mentransfer uang) ATM (auto teller machine atau anjungan tunai mandiri)! Jadi, jika ada urusan finansial, adik-adiknyalah yang menarik uang di ATM atau menghubungi pihak bank, lalu pegawai bank akan datang ke rumahnya. Wanita kaya dengan penghasilan 36 miliar per bulan dari usaha pertambangannya, tetapi tidak pernah pergi ke bank. Unik dan menarik, bukan?

Dua tahun telah berlalu. Ibu Shanty akhirnya berkenalan dan menikah dengan seorang pegawai negeri sipil yang bekerja sebagai staf keuangan di Departemen Luar Negeri yang ada di Jakarta. Kemudian, menteri luar negeri Indonesia menetapkan dan mengutus suaminya sebagai konsul jenderal di kedutaan besar Indonesia, di Australia. Sebelum berangkat ke sana, suaminya bertanya kepada istrinya apakah dapat mencari seseorang untuk menjadi kepala urusan rumah tangga kedutaan. Ibu Shanty mengiyakan dan mencoba mengajak salah satu adiknya mengisi jabatan itu. Namun, Ibu Shanty berpikir dua kali bahwa sebaiknya tidak melakukan hal itu karena akan dianggap nepotisme (tindakan memilih sanak saudara atau kerabat sendiri untuk memegang suatu jabatan). Jadi, dia hanya berpikir sebaiknya menyerahkan dan mengelola keuangan usaha pertambangannya saja kepada kedua adiknya itu.

Nah, suatu hari, ketika Ibu Shanty membaca-baca berita di Internet, tepatnya di Yahoo News, dia membaca cerita tentang Madiun Maju Mandiri―sebuah organisasi yang memberikan jasa pendidikan gratis bagi anak-anak miskin dan pelayanan kesehatan untuk orang-orang tua yang tidak mampu di kota Madiun. Berita tentang Madiun Maju Mandiri itu cukup berkesan di hati Ibu Shanty. Lalu, beliau mencoba pergi sebentar menuju Madiun untuk mengunjungi organisasi itu, menyumbang 100 juta rupiah, dan menawarkan salah satu karyawatinya untuk bekerja bersama Ibu Shanty sebagai kepala urusan rumah tangga di kedutaan besar Indonesia di Canberra, Australia. Ternyata, ada karyawati yang mau menerima tawaran tersebut dan wanita itu bernama Yati. Akhirnya, Yati berangkat ke sana bersama Ibu Shanty.


***

Bocah yang Membawa Garpu Tala




Ada seorang bocah yang selalu membawa garpu tala ke mana-mana. Garpu tala adalah sebuah alat untuk menyelaraskan nada. Bocah itu membawanya untuk saat-saat dia sakit gigi atau sedang marah. Jika dia mendekatkan alat itu ke lubang telinganya, maka akan terdengar suara yang mengiang atau mendengung dan sakit giginya pergi atau kesabarannya datang.

Kadang orang-orang berpikir dan bertanya mengapa anak itu membawa alat tersebut, memukulkannya pada benda lain, lalu mendekatkan ke telinganya? Mereka bahkan menertawakan dia. Kemudian, bocah tersebut menjelaskan bahwa dia membutuhkan garpu tala untuk terapi mengobati sakit gigi dan menghilangkan amarah. Beberapa orang memaklumi; orang lainnya tetap menertawakannya. Akan tetapi… dari mana anak itu memperoleh alat tersebut?

Ternyata, dia mengambil garpu tala itu dari rumah bibinya. Ya, itu milik bibinya yang dipakai untuk menyelaraskan nada saat paduan suara. Tetapi, bibinya tidak menggunakan alat itu lagi, melainkan sebuah peluit nada (pitch pipe) yang berbentuk bulat dengan pipa kotak kecil untuk meniup dan mencari nada. Mengapa? Karena genggaman kecil garpu talanya telah patah.

 Jadi, karena bocah itu berpikir bibinya tidak lagi memakai garpu tala tersebut, maka dia mengambilnya diam-diam. Tanpa seizin si bibi. Padahal, hal itu adalah sama dengan mencuri. Padahal lagi, kalau seandainya saja dia mau memintanya dengan baik-baik, mungkin sang bibi akan memberikannya―setidaknya meminjamkan atau membelikannya. Lagipula, anak itu sekarang jarang sakit gigi, walaupun pikiran atau perasaan untuk marah masih ada. Lagipula lagi, rasa sakit dan emosi adalah hal yang alamiah―bahkan mungkin merupakan karunia. Jadi, tidak perlu dihadapi dengan alat-alat, tetapi dengan hati yang siap. Alat-alat yang terlihat oleh mata hanya bersifat sementara seperti bayangan. Sedangkan, hal-hal yang tidak tampak itu bisa selalu ada selamanya.

Karena anak itu sudah tidak sakit gigi lagi dan merasa bersalah karena mengambil garpu tala milik bibi, akhirnya dia mengembalikannya ke rumah bibi. Bocah itu juga berkata jujur kepada bibinya. Bibinya hanya tersenyum mendengar pengakuan anak tersebut, lalu menasihatinya bahwa mencuri itu tidak baik dan dapat menjadi kebiasaan buruk yang susah dihilangkan. Setelah mengerti penjelasan dan menerima nasihat dari bibinya, sang bibi malah memberikan garpu tala itu dan pitch pipe (peluit nada) secara cuma-cuma kepadanya! Wah, bocah itu senangnya bukan main-main!


People are unreasonable, illogical, and self-centered. Love them anyway.
If you do good, people may accuse you of selfish motives. Do good anyway.
If you are successful, you may win false friends and true enemies. Succeed anyway.
The good you do today may be forgotten tomorrow. Do good anyway.
Honesty and transparency make you vulnerable. Be honest and transparent anyway.
What you spend years building may be destroyed overnight. Build anyway.
People who really want help may attack you if you help them. Help them anyway.
Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway.
―Bunda Teresa


***


Monster Mesin Cuci




Lihatlah monster itu. Monster adalah hewan, orang, tumbuhan, atau sesuatu yang bentuk dan rupanya lain dari yang biasa. Monster juga adalah makhluk yang menakutkan, berwarna hitam, berukuran sangat besar, dan hanya terdapat di dalam dongeng. Tetapi, lihatlah monster itu. Itu adalah sebuah monster mesin cuci!

Mesin cuci ini berukuran kecil, tidak menakutkan, putih, dan berbentuk seperti mesin cuci pada umumnya. Monster mesin cuci ini baik hati. Mengapa bisa demikian? Karena selalu menerima pakaian-pakaian yang kotor, kemudian menjadikan semuanya itu bersih. Mesin cuci itu membersihkan banyak baju dan celana atau handuk dengan spinner (pemutar) yang kencang sehingga noda-noda dan kotoran terbuang.

Lalu, supaya semua pakaian cepat kering, mesin cuci memiliki dryer tube atau tabung pengering. Tabung tersebut beroperasi dengan cara memutar-mutar sangat cepat beberapa pakaian―tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Di atas tabung itu terdapat penutup pengaman. Jika penutup tersebut terbuka, maka tabung yang masih memutar akan segera berhenti agar tidak terkena tangan seseorang. Oh ya, dryer tube ini pun memiliki timer atau penanda waktu untuk menentukan lamanya mengeringkan pakaian. Kadang-kadang penanda waktu itu rusak, tetapi tabung pengering pada mesin cuci itu tetap mencoba bekerja dan memberikan hasil yang terbaik.

Tidak semua mesin mau atau bisa seperti monster mesin cuci yang baik hati tersebut. Mau menerima, mencuci, membersihkan, dan mengeringkan berkilo-kilo pakaian kotor. Mesin cuci itu pun rela sampai bagian bawahnya berkarat karena sering terkena air dan busa sisa cucian. Bahkan hanya sedikit manusia yang dapat melakukan sesuatu seperti yang diperbuat mesin cuci itu.


***


Merpati yang Suka Melihat Pemandangan

Trafalgar Square

Gotta get some more laughs. It's the medicine of the broken soul.
―Daniel Rachmat

Sore waktu itu terlihat seekor burung merpati biru tua yang bertengger di besi jendela suatu gedung. Pandangan burung itu mengarah pada pemandangan gunung-gunung yang kira-kira berjarak 120 km nun jauh di sana. Sepertinya merpati itu melakukannya untuk menenangkan pikirannya. Juga, orang yang melihat burung tersebut akan menjadi tenang karena tidak ada kekhawatiran yang tergurat di wajah merpati itu.

Ternyata besi jendela yang memiliki pegangan itu menjadi tempat favorit si burung. Dia selalu terbang ke sana setelah bertengkar dengan temannya. Merpati itu tidak mau menumpahkan semua amarahnya di depan temannya. Dia ingin berpikir sejurus (sejenak) dan memperoleh kedamaian dari angin sejuk yang bertiup dari gunung. Tetapi, tidak boleh berpikir lama-lama karena akan mengingatkan kembali pada masalah perkelahian dan angin yang segar tidak akan terus-menerus berembus.

Setelah merpati itu puas menikmati pemandangan sambil berbicara kepada diri sendiri tentang hal-hal yang menenangkan pikiran seperti “Semua ini akan berlalu,” burung itu pulang ke taman tempatnya semula. Lalu, dia hinggap dan berdiri di atas kursi hijau tua yang ada di taman, menyapa temannya tadi, saling meminta maaf, dan bersama-sama bermain lagi. Tentu saja mereka melakukannya dengan bahasa burung.


***


Guntur dan Halilintar



History of the world is the biography of the great man. And I said: The great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed.
―Thomas Carlyle

Guntur (guruh) adalah suara menggelegar di udara yang disebabkan oleh halilintar. Sedangkan, halilintar (petir) adalah kilatan listrik di udara disertai bunyi gemuruh karena bertemunya awan yang bermuatan listrik positif dan negatif. Nah, guntur dan halilintar itu tinggal di negeri awan. Mereka pun bersahabat.

Guntur dan halilintar tersebut sering berkunjung ke negeri manusia. Mereka datang ke sana demi melindungi bumi dan orang-orang. Caranya, yaitu dengan membimbing hujan untuk menyirami daerah-daerah yang gersang agar manusia bisa bercocok tanam. Tetapi, guntur dan halilintar juga dapat jahat kepada orang yang jahat. Bagaimana caranya? Dengan mengeluarkan suara yang sangat menakutkan di langit dan mengelebatkan (menggerakkan dengan cepat) cahaya putih berkilau yang menyilaukan! Orang jahat yang mendengar dan melihatnya akan takut, lalu berpikir ingin berhenti berbuat jahat. Sedangkan, orang yang baik akan merasa tenteram saat terdengar suara itu atau melihat kilauan tersebut karena guntur dan halilintar memberikan volume dan cahaya yang kecil untuknya.

Jadi, guntur dan halilintar itu seimbang. Mereka bisa baik dan marah.

Guntur dan halilintar pun kerap bermain bersama-sama menuju negeri hewan-hewan, ke luar angkasa, di negeri benda-benda, dan lain-lain. Namun, mereka tidak selalu pergi berdua. Terutama, halilintar yang sering berkelana sendirian. Kadang-kadang guntur marah karena tidak diajak.

Nah, pada suatu hari, halilintar berpetualang ke negeri bintang dan negeri salju. Ia ingin melihat mereka. Ia menganggap bintang dan salju adalah bersaudara karena terlihat mirip dari kejauhan. Tetapi, mereka tidaklah bersaudara karena salju terang saat pagi, siang, dan malam, serta berbinar dari langit turun ke tanah. Sedangkan, bintang bersinar saat malam saja dan tetap benderang di langit. Jadi, setelah halilintar mengetahui hal itu, ia kembali ke negeri awan dan menemui guntur untuk membagi pengetahuan tersebut. Guntur senang-senang saja mendengar tentang fakta itu, tetapi ia lebih senang terhadap kedatangan halilintar.

Telah empat tahun mereka bersama. Halilintar merasa sekarang sudah saatnya untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah ia singgahi dan berpisah dari guntur. Ketika halilintar mengutarakan rencana itu, guntur menjadi sedih. Ia bertanya-tanya dalam hati dan pikiran, apakah sesama sahabat harus saling berpisah? Halilintar menjelaskan bahwa mereka hanya berpisah sementara dan nanti akan bertemu lagi. Kemudian, guntur bertanya berapa lama halilintar pergi? Halilintar menjawab bahwa ia tidak tahu sampai kapan ia akan pergi, tetapi mereka pasti bersua kembali. Guntur sedih melepas sahabatnya. Halilintar pergi setengah hati―tetapi, jika ia melakukan sesuatu yang ia sukai, ia selalu mengerjakan dengan segenap hati―karena sisanya masih ada di negeri itu bersama guntur.

Walaupun begitu, halilintar memulai perjalanan awalnya. Pertama-tama, ia menyinggahi planet-planet yang mengantuk. Ia ingin mengilati mata mereka supaya tidak mengantuk sehingga planet-planet itu menjadi lebih hidup―dari satu planet yang berubah dan bergairah, maka semua planet bisa berubah.

Perjalanan kedua. Halilintar menuju ke negeri air atau lautan. Ia ingin pergi ke sana untuk menguji kekuatan: Apakah ia sanggup bertemu dan berhadapan dengan pihak lain yang sangat berbeda dan membahayakan baginya? Ternyata ia sanggup, tetapi ia hanya berkunjung sebentar di sana sebab jika berlama-lama, tenaganya untuk berkilat dan bergemuruh akan hilang karena kalah dari unsur lain yang lebih banyak ketimbang dirinya.

Kemudian, ia melanjutkan petualangan ke negeri dompet-dompet yang pelit. Ia mau menegur barang-barang itu bahwa mengapa mereka kikir menyumbangkan uang, padahal mereka juga cuma barang-barang? Padahal, halilintar yang garang saja rela memberikan jasanya (sesuatu yang ia miliki) untuk mengubah dan mempengaruhi pihak-pihak atau hal-hal lain ke arah yang lebih berarti. Sebelum memberikan apa pun pada dunia luar, halilintar pun terlebih dulu memperhatikan kesejahteraan negeri awan. Jika untuk keperluan diri sendiri, mereka mau mengeluarkan uang. Tetapi, jika ada orang-orang yang terdesak atau membutuhkan pertolongan, dompet-dompet itu tidak mau menyumbang. Betapa dompet-dompet tersebut hidup dengan penuh desakan!

Perjalanan keempat, halilintar meneruskan perjalanan ke negeri pribadi-pribadi yang sombong. Halilintar hendak memberi tahu kepada orang-orang yang ada di negeri itu bahwa ia yang seharusnya sombong―bukan mereka―karena dapat berkilat-kilat dan mengeluarkan cahaya putih yang mengilap di langit. Namun, halilintar tidak mau menyombongkan atau membanggakan diri. Ia ingin mengingat bahwa ia dulu hanya sebuah halilintar kecil yang berasal dari pertemuan antara awan bermuatan listrik positif dan negatif. Dengan mengingat sejenak masa lalu, ia akan terhindar dari diri pada masa depan yang mencoba angkuh.

Demikianlah, halilintar mengunjungi tempat demi tempat. Ada 194 negeri atau tempat yang telah ia kunjungi. Sudah delapan tahun ia berpisah dengan Guntur dan belum pulang ke negeri awan.

Nah, sementara itu, Guntur hanya berkitar di negeri awan. Ia belum pernah mendatangi daerah-daerah asing sebanyak yang dikunjungi oleh halilintar. Guntur bertanya kepada diri sendiri, apakah halilintar telah melupakan aku…?

Ya, apakah sahabatnya itu telah melupakannya? Guntur berusaha mencari kabar tentang dia melalui situs sosial yang terkenal di negeri awan. Situs itu bernama Thunderpaper yang hampir mirip dengan situs sosial di Internet di negeri manusia, yaitu Facebook. Tetapi, ternyata ia tidak menemukan informasi apa pun atau akun tentang halilintar, sahabatnya tersebut… Di mana ia berada sekarang? Apakah guntur sia-sia menunggu?

Kenyataannya, halilintar tidaklah melupakan guntur. Tak akan pernah. Halilintar pun sama-sama memikirkan sahabatnya itu. Halilintar sekarang sedang di negeri harapan. Ia berada di sana untuk belajar banyak hal, terutama pelajaran tentang menyinarkan cahaya putih yang sanggup memberikan inspirasi dan asa bagi orang-orang, pihak-pihak, atau hal-hal lain yang melihat dirinya. Entah kapan guntur dan halilintar akan bertemu lagi. Satu hal yang pasti, halilintar akan kembali ke negeri awan dan menjumpai guntur, sahabatnya itu…


***


Gelembung Air yang Berpetualang



Apa yang terjadi bila engkau sering mendengarkan kata ‘udara’ atau ‘terbang’? Apakah engkau percaya seperti gelembung-gelembung air yang akan segera terbang saat mendengarkan kata-kata itu? Padahal, tiada sayap pada gelembung-gelembung itu; yang menerbangkan mereka adalah kebaikan embusan napas manusia, kekuatan mengalahkan gaya gravitasi, keinginan menuju pelangi, dan keberanian untuk berpetualang.

Pada suatu sore, ada seorang ibu yang memandikan bayinya yang baru berusia 20 hari di bak mandi khusus untuk bayi. Ibu itu juga menggunakan sabun mandi hanya untuk bayi yang tidak pedih di mata, sehingga bayi tidak menangis, melainkan membuatnya seperti terbuai mendengarkan lagu lembut Somewhere Over the Rainbow oleh Connie Talbot.

Nah, ketika ibu tersebut mengeramasi bayinya dengan sabun itu, ada gelembung air yang melayang ke atas mereka. Gelembung itu memiliki pernak-pernik pelangi, yaitu warna-warni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu yang bekerlapan dan bekerlip di sisi-sisinya. Begitu indah seperti kemerduan bunyi harpa dan piano mungil yang tak terlukiskan. Gelembung itu seperti mengajak dan mengingatkan sang bayi supaya saat dewasa nanti, dia mau menjadi berani karena hidup ini hanya satu kali. Ada ketakutan, ada kesempatan. Ada ketakutan besar, ada kesempatan besar.

Kemudian, untuk membuktikan hal tersebut, gelembung itu mengudara makin ke atas dan keluar dari pintu rumah. Ia ingin terbang ke pelangi yang sedang ada di langit. Namun, risikonya ia bisa pecah tersengat panasnya matahari; pudar tertiup angin jahat dan kencang; tertabrak hamparan sayap merpati atau terpatuk paruh elang; atau sekadar turun ke tanah seperti peloncat indah terjun ke kolam renang karena terlalu lama menahan gaya gravitasi. Tetapi, ia mau membuktikan diri karena menurutnya, ada beberapa hal yang harus ditunjukkan dan hal-hal lainnya yang tidak perlu dibuktikan.

Sesampai di luar dan setinggi lantai dua rumah itu, gelembung tersebut hampir terkena dahan tanaman. Untungnya ia cepat menghindar dan terbang makin tinggi. Lalu, ia terbang ke arah utara karena pelangi melengkung di sana. Ketika ia sampai di ketinggian gedung tingkat 18, ada pipit yang nyaris menerjangnya karena burung itu terbang cepat sambil bernyanyi tanpa melihat-lihat ke sana-sini di langit yang begitu bebas luas. Beruntung burung pipit tersebut membuka mata pas dua meter di depan gelembung, lalu segera mengubah haluan agar tidak bertubrukan.

Sisi-sisi gelembung itu sudah menipis karena sengitnya matahari. Tetapi, sebentar lagi ia akan tiba di pelangi. Apakah ia akan menyerah dan membiarkan diri pecah? Tidak. Ia ingin terbang sedikit lagi mendekati pelangi. Keringat mengucur deras dari dirinya. Akhirnya, setelah terbang dengan segenap tenaga dan setinggi layangan anak desa, gelembung itu sampai di kaki pelangi. Lalu, seiring busur warna-warni di langit itu beranjak hilang, gelembung tersebut pun memudar, turun ke bumi. Sebelum ia makin pudar, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia telah bangga dapat sampai ke pelangi, membuktikan perkataan dan diri karena hidup ini hanya sekali.


Only children know what they are looking for.
―Antoine de Saint Exupéry


***


Jas Kusam dan Lampu Hias yang Usang




Di suatu pinggir jalan, terletak sebuah rumah tukang jahit dan bersebelahan dengan toko lampu hias (chandelier). Pada saat malam, baju-baju di etalase dan jas-jas di boneka maneken yang terpampang di rumah tukang jahit itu terlihat bagus, mulus, dan klasik. Demikian juga lampu-lampu di toko lampu hias tersebut menyala cemerlang dan kuning, menenangkan mata yang melihatnya.

Sayangnya, jika siang, baju-baju dan jas-jas di rumah tukang jahit itu tampak abu-abu dan kusam dari balik kaca jendela. Begitu pula toko chandelier itu ternyata menjual lampu-lampu yang bekas atau usang.

Ketika ada seorang anak kecil yang melihat dan membandingkannya saat malam dan siang, ia kecewa. “Kok beda, ya? Kok nggak seperti kelihatan waktu malam, ya?” tanya anak kecil itu. Lalu, ia bertanya lagi kepada diri sendiri, “Apa nggak bisa balik seperti waktu malam, ya?”

Anak kecil itu mengira, memikirkan, dan mengharapkan baju-baju atau jas-jas dan lampu-lampu bisa tetap sama―baik siang maupun malam. Bukan tampak bagus dan terang saat malam saja, melainkan juga pada waktu siang. Tetapi, apakah baju, jas, dan lampu itu bisa seperti itu? Apakah penjahit di rumah tersebut dan penjual di toko itu bisa memperbaikinya? Apakah ada kesempatan untuk melakukannya pada barang-barang yang sudah kusam diterpa debu dan sarang laba-laba, serta usang dicerca rayap dan waktu?

Tentu bisa! Masing-masing memiliki dua pilihan. Pertama, tukang jahit dapat mencuci baju-baju atau jas-jas yang kotor dan kusam itu dengan sabun cuci ekstra kuat antinoda. Kemudian, ia mencuci ulang dengan membawa ke penatu (laundry and drycleaning) supaya benar-benar bersih seperti baru. Kedua, ia dapat mengganti dengan baju atau jas yang baru, lalu memajangnya di etalase dan memasangkannya pada maneken.

Demikian pula dengan penjual lampu hias. Ia dapat mengusap, mengelap, dan membersihkan lampu-lampu karatan dan usang itu dengan kain lap khusus antikarat dari Italia, agar menjadi kuning keemasan dan indah. Atau, ia dapat mengobralkan lampu-lampu bekas itu 75 sampai 90 persen, lalu menjual dan memamerkan lampu-lampu hias yang baru di balik kaca transparan.

Penjahit dan penjual lampu sama-sama melakukan kedua hal itu. Beberapa barang mereka bersihkan; barang yang lainnya mereka ganti atau jual dengan diskon sebesar 90 persen. Sekarang, baik malam maupun siang, saat anak kecil itu mengamat-amati rumah tukang jahit atau toko lampu hias, baju-baju, jas-jas, dan lampu-lampunya tetap sama. Ia gembira. Keinginannya terpenuhi. Mungkin pun pikirannya telah menjadi seperti baju-baju atau jas-jas yang segar; dan harapannya sebening lampu-lampu hias yang baru itu.


***


Keluarga Berjuang




I’m glad we’ve been bombed. I can now look the East End in the face.
―Ratu Elizabeth

Ada negeri atau pemerintah yang membatasi (menyarankan) jumlah anak dalam keluarga. Misalnya, di China ada peraturan jìhuà shēngyù zhèngcè (kebijakan rencana melahirkan), yaitu satu anak saja. Sedangkan, di Indonesia ada saran program KB (keluarga berencana), yaitu dua anak cukup. Padahal, keluarga yang berencana tidak hanya perihal rencana memiliki sejumlah anak saja, tetapi juga tentang masa depan dan tujuan keluarga. Namun, cerita ini bukan tentang keluarga berencana, melainkan keluarga berjuang.

Tidak ada negeri yang membatasi warga negaranya untuk berhenti berjuang, terutama untuk hal-hal yang positif, seperti terus belajar supaya makin pintar, menjadi astronaut, dan dapat mendarat di bulan; atau memperoleh penghasilan besar menuju kehidupan yang lebih baik dan bermakna sambil tetap memiliki tujuan hidup. Nah, ada sebuah keluarga yang seperti itu.

Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak: dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka menerobos program KB (keluarga berencana), lalu menjadi keluarga yang berjuang. Perjuangan mereka sudah menghasilkan rumah yang megah dan indah. Mereka juga telah dapat pergi berkeliling dunia! Namun, perjuangan yang mereka jalani tidaklah mudah.

Keluarga tersebut berasal dari kota Bantul dan bertempat tinggal di rumah yang cukup mungil dan sederhana. Tiap hari mereka hanya makan nasi dengan lauk tempe, kerupuk, telur mata sapi dan dadar, atau sekadar dengan kecap manis, bahkan garam…

Ketika itu, sang ayah masih bekerja di sawah sebagai petani. Sedangkan, sang ibu berjualan sayuran di pasar. Keempat anak mereka masing-masing umurnya berselang dua tahun―anak sulung yang perempuan berusia 11 tahun, anak kedua yang laki-laki berusia 9 tahun, anak ketiga adalah perempuan berumur 7 tahun, dan anak bungsu laki-laki berumur 5 tahun. Nah, dengan uang seadanya dari hasil bersawah dan berjualan sayur, ayah dan ibu tersebut mampu menyekolahkan anak-anaknya! Anak pertama SLTP kelas I; anak kedua kelas IV SD; anak ketiga SD kelas II; dan anak yang terakhir masih TK nol besar.

Pada suatu hari, ada sebuah bencana alam, yaitu gempa bumi yang mengguncang kota Bantul sehingga keluarga tersebut kehilangan rumah karena rubuh dan hancur. Namun, sang ayah dan ibu tidak mau berlama-lama bersedih atau menyerah. Mereka menganggap bencana alam adalah hal yang biasa terjadi di alam. Lagipula, untung mereka dan keempat anaknya tidak berada di rumah ketika gempa tersebut terjadi sehingga mereka tidak apa-apa. Juga, kerusakan yang telah terjadi tidak bisa dikembalikan ke keadaan semula, tetapi hanya dapat diperbaiki.

Rumah mereka memang hilang, tapi tidak hati, memori, dan harapan mereka. Gempa itu seolah-olah mengajarkan bahwa mereka bisa hidup tanpa rumah, kecuali tanpa hati, kenangan indah, dan harapan. Ibu bahkan sempat bercanda, “Wah, sekarang pemandangannya lebih jelas, ya…” Sang ibu berusaha memikirkan kejadian-kejadian negatif dan buruk dengan humor.

Lalu, sang ayah memohon pertolongan saudara sepupunya yang berada di kota Jakarta agar memberikan tumpangan di rumahnya. Saudaranya itu bertanya tentang lamanya dan jumlah orang yang akan menumpang sementara. Sang ayah menjelaskan bahwa ada enam anggota keluarga. Mulanya, saudaranya itu keberatan karena di rumahnya sudah ada empat orang, yaitu dia dan istrinya, serta dua orang anak. Namun, setelah tahu mereka kehilangan rumah karena gempa bumi, saudara sepupunya itu iba dan memperbolehkan mereka tinggal sementara di rumahnya. Kemudian, keluarga tersebut segera pergi dan pindah ke kota Jakarta.

Di rumah saudara sepupu tersebut, keluarga itu tidak bisa bertindak bebas selayaknya di rumah sendiri. Sang ayah sebenarnya ingin mempunyai tempat tinggal sendiri lagi. Ia malu bila menetap berlama-lama di sana. Jadi, ia berharap dapat membeli dan memiliki rumah untuk keluarganya.

Keempat anaknya terpaksa berhenti bersekolah sebentar, tetapi mereka tetap belajar sendiri. Mereka juga membantu membersihkan rumah, mencuci piring dan baju, memasak. Terutama si putri sulung. Dia ingin menjadi teladan bagi adik-adiknya dan anak-anak dari saudara sepupu itu supaya mereka tidak bermalas-malasan walaupun tidak ada yang mereka kerjakan. Bahkan, dia mau menolong ibu untuk menjual goreng pisang. Dia dan ibu tidak malu berjualan jajan seperti itu karena mereka menganggap hal tersebut hanya sementara dan pekerjaan tidaklah menentukan jati diri seseorang.

Bagaimana dengan sang ayah? Apa yang ia lakukan untuk mencari uang dan menghidupi keluarganya? Pertama-tama, ia meminta dan menanyakan pekerjaan kepada saudaranya. Tetapi, saudaranya itu cuma bisa membantu memberikan tumpangan. Jadi, sang ayah harus mencari pekerjaan sendiri. Kemudian, sang ayah berusaha melamar pekerjaan―baik dengan cara mencari lowongan pada koran maupun datang langsung ke kantor atau perusahaan.

Sang ayah mencoba dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Ia pernah menjadi satpam (satuan pengaman), kondektur bus, penjual koran di kios, bahkan penyemir sepatu! Namun, ia melakukan semua itu dengan semangat dan ceria, tidak seperti beberapa orang yang entah pekerjaannya bagus dan menyenangkan atau tidak. Kebanyakan mereka bekerja asal-asalan tanpa alasan.

Sang ayah juga pernah menjadi kuli bangunan, sopir taksi, dan karyawan pengepakan botol minuman Coca-Cola. Apa pun yang menjadi pekerjaan sang ayah, anak-anaknya tetap bangga terhadapnya karena ia memberi perhatian kepada mereka dan kasih sayang kepada sang bunda. Nah, ketika ia menjadi karyawan di pabrik Coca-Cola itu, CEO (chief executive officer atau pemimpinnya) melihat cara bekerjanya yang bersemangat, ramah kepada orang-orang, dan membagi keceriaan kepada teman-teman. Akhirnya, beliau menawarkan dan memberikan promosi jabatan kepadanya sebagai supervisor dengan gaji 16 juta per bulan! Sang ayah pun dengan senang hati menerimanya, lalu mengabarkan berita gembira tersebut kepada keluarganya.

Setelah itu, ia dan keluarganya berpamitan kepada saudara sepupunya untuk mencoba mencari rumah kontrakan. Mereka juga berterima kasih kepada saudaranya itu karena telah sudi memberikan tumpangan selama dua tahun sembilan bulan. Saudaranya ikhlas melepas mereka, senang, dan bangga telah menolong mereka sampai sukses dan berhasil.

Kemudian, keluarga tersebut pindah ke rumah kontrakan. Sang ayah juga mencari-cari rumah yang harganya boleh dicicil. Anak-anaknya pun bisa bersekolah lagi. Dan karena mereka tetap belajar ketika sedang berhenti bersekolah, mereka dapat meloncat ke jenjang yang sesuai dengan usia mereka. Putri sulung bersekolah masuk kelas I SMU; putra nomor dua SLTP kelas I; anak putri ketiga kelas V SD; dan anak terakhir duduk di bangku SD kelas III. Sang ibu tidak perlu lagi berjualan di depan rumah atau di pasar, melainkan mengurus keperluan keluarga atau menjadi ibu rumah tangga.

Pola kerja sang ayah sama, baik ketika ia masih karyawan maupun sesudah menjadi supervisor, yaitu tetap dengan bersemangat! Orang lain dan CEO (pemimpin) senang melihatnya. Lalu, ia menerima tawaran promosi kenaikan jabatan lagi menjadi direktur kantor cabang di kota lain, Surabaya, dengan gaji tidak tanggung-tanggung, yaitu sebesar 36 juta per bulannya! Itu pun bisa baik hingga 72 juta per bulan dan berlaku kelipatan bila ia mencetak prestasi! Apakah sang ayah mau menerimanya? Apakah pindah dan tinggal di kota terbesar kedua dan dekat desa lebih baik daripada menetap di kota terbesar pertama di Indonesia? Ia merenungkan dan mendiskusikan hal tersebut terlebih dulu dengan keluarganya.

Akhirnya, semua anggota keluarga itu setuju untuk pindah ke kota Surabaya. Mereka pun telah dapat membeli dan mempunyai rumah yang besar dan indah. Walaupun sang ayah mendapat makin banyak tantangan dan persaingan, ia tetap bersemangat dan malah berhasil membuat prestasi penjualan! Ia pun mendapat tugas kerja ke luar negeri! Namun, ia memohon izin untuk membawa serta keluarganya bila berdinas ke luar negeri. Ternyata, tidak apa-apa!
Wah, mereka dapat singgah dan berkunjung ke beberapa tempat yang telah lama mereka impikan, seperti Tokyo Disneyland dan Hongkong Disneyland, Sydney Opera House, World Disney World di Florida, dan ke negeri-negeri lainnya. Perjuangan keluarga tersebut telah membawa mereka dari Bantul sampai ke luar negeri betul-betul. Namun, hal yang paling mengasyikkan dan penting bagi mereka bukanlah pergi ke negara-negara asing itu, melainkan kebersamaan dan dapat berada di rumah bersama. Keluarga yang berencana adalah keluarga yang berjuang, berhasil, dan bersama.

Sekarang sang ayah ingin menolong orang-orang lain dan memberi tahu mereka cara atau rahasia agar berhasil seperti dirinya.


Figure out the best thing about a situation and run with it.
―Melinda Doolittle


***


Tukang Foto Keliling

“Orang yang lebih mementingkan orang lain, karyawan lain, dan bagian luar, daripada keluarga sendiri atau bagian dalamnya adalah seperti orang yang memotret dunia tanpa memfoto keluarga sendiri.”
―Franisz Ginting

Jarang ada miliuner yang dikenang―kecuali miliuner yang dermawan. Orang-orang, jabatan, atau hal yang sering kali dikenang adalah penulis, orang yang sangat miskin tapi rela menolong orang lain, dan sebuah foto. Banyak penulis dan orang miskin yang telah dibahas dan dikenang, tapi masih sedikit soal foto. Walaupun mungkin sering, tetapi sedikit, apalagi tentang sang tukang foto.

Pada suatu siang, ada seorang tukang foto keliling yang sedang mencari konsumen untuk memanfaatkan jasanya memotret. Ia memakai topi putih, juga rompi putih yang umum dipakai oleh tukang foto. Saat itu, ia menyempatkan diri berhenti sebentar di suatu jembatan kecil yang menghubungkan antara satu kelurahan dengan kelurahan lainnya. Jembatan itu juga menjadi jalan pintas bagi orang-orang daripada memutar jauh-jauh. Tukang foto itu mungkin sedang mencari-cari objek foto atau sekadar beristirahat sejenak untuk melihat-lihat pemandangan sekitar. Ia pun sebenarnya ingin memotret sesuatu atau seseorang yang hasil jepretannya akan dilihat orang-orang berjam-jam karena spesial. Namun, ia belum menemukan objek yang indah dari dan di jembatan itu.

Setelah berdiri dan mengamat-amati di jembatan tersebut, ia meneruskan perjalanan. Ia telah berusaha berjalan mendapatkan pelanggan selama lima jam―dari pukul tujuh pagi sampai dua siang waktu itu―pada hari itu. Namun, ia belum menemukan konsumen satu pun. Rencananya, ia akan pulang pada pukul empat sore karena memang biasanya ia seperti itu, yaitu bekerja dari pukul tujuh pagi sampai empat sore dengan dua kali istirahat. Setiap hari.

Matahari senja hendak sirna. Jarum jam mengarah pada 15.50 WITA. Pukul empat sore hampir berlalu. Tukang foto itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari itu, ia tidak memperoleh hasil apa-apa, baik uang, pelanggan, maupun objek foto gratis. Bahkan hampir tiap hari ia tidak mendapatkannya. Sebenarnya, keluarganya menganjurkan agar ia membuka studio foto sendiri saja di rumah. Siapa tahu malah akan banyak orang yang datang? Lagipula, di daerah perkampungan sekitar rumahnya mungkin ada objek-objek foto yang bagus dan indah. Bahkan, anak-anaknya di rumah adalah figur-figur imut, cantik, dan lucu atau fotogenik yang dapat difoto. Namun, ia masih ingin berjalan-jalan keluar dan bekerja mencari para konsumen; bukannya mereka yang datang kepadanya.

Setelah hari demi hari bekerja dan belum menjaring penghasilan, ia memikirkan untuk mendengarkan nasihat keluarganya, yaitu membuka studio foto sendiri. Namun, ia masih tetap ingin mencoba mencari pelanggan foto di luar. Ia sebenarnya terlalu gengsi, keras kepala, dan sombong untuk mengakui dan mengikuti saran keluarganya. Seraya ia sombong, hari-hari ikut angkuh terhadapnya dengan tidak memberikan konsumen kepadanya. Keluarga yang berkelahi, rezeki akan lari.

Akhirnya, karena lelah berhari-hari bekerja tanpa hasil pasti dan bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa aku melakukan ini…?” ia  mencoba membuka usaha studio foto kecil-kecilan di rumahnya dengan terlebih dulu meminjam uang kepada saudara dan mencicil untuk membeli perlengkapan foto studio, seperti payung reflektor (umbrella-style reflector), blitz (flash), tumpuan kaki tiga (tripod), dan lainnya. Ia pun menjadikan kedua putri kecilnya―ia memanggil mereka dengan sebutan Putri-putri Kecilku―sebagai objek foto yang akan ia pampang dan pamerkan di studionya. Bahkan, kemungkinan akan ia kirimkan ke lomba-lomba objek foto anak atau agen periklanan yang sedang mengadakan audisi pemeran untuk iklan di televisi.

Ternyata, sesudah ia membuat usaha di rumah, banyak orang yang menggunakan jasa pemotretannya! Mulai dari pelanggan yang ingin difoto ukuran 2x3, 3x4, ukuran postcard (kartu pos), mencetak foto, sampai sepasang calon pengantin yang ingin foto prewedding (pranikah). Usaha studio fotonya yang kecil sekarang membesar. Bahkan, ada agen periklanan yang merekrut kedua putrinya sebagai pemeran iklan di TV untuk produk-produk makanan dengan bayaran 12 juta per iklan! Ternyata, dengan membuka usaha di rumah dan memfoto anak-anaknya sendiri mendatangkan orang-orang dan peluang kepadanya.


***


Penjual Putu Keliling



Di setiap daerah perumahan yang mewah atau permukiman penduduk miskin, selalu ada penjual putu keliling yang biasanya lewat pada saat sore. Putu adalah penganan yang terbuat dari tepung beras ketan, di bagian tengahnya terdapat gula merah, serta ditaburi dan dimakan dengan kelapa parut. Hmm… lezatnya…

Penjual putu itu berkeliling sambil memanggul dagangan dengan pikulan. Pada pikulannya itu terdapat sebuah cerobong asap yang terbuat dari bambu―juga ada yang dari pipa PVC (karet) kecil―yang mengeluarkan suara seperti bunyi kereta api uap zaman dahulu atau rem angin bus Transjakarta masa kini, tuuu… tuuu… tuuu… Suara itu timbul dari uap air yang menekan cetakan bambu tersebut.

Jadi, penjual putu itu tidak perlu berteriak-teriak, “Putu… putu…” saat berjualan karena suara uap yang khas itu dapat dikenali para pembeli putu. Tetapi, ternyata tanpa suara itu pun, putu bisa tetap jadi. Suara itu hanya untuk mengingatkan orang-orang bahwa penjual putu sedang lewat. Akan tetapi, ada fungsi lain dari suara tersebut. Apa itu?

Fungsi lain dari suara uap yang berasal dari cerobong pada pikulan penjual putu itu adalah menenangkan tangisan panjang seorang bayi. Saat ada bayi yang menangis lama karena haus, bosan, atau lapar, lalu ia mendengar suara tuuu… tuuu… tuuu… itu, ia akan berhenti menangis.


***


Junko Tabei



The first means the best. Yang pertama pasti yang terbaik. Menjadi yang pertama tidak sama dengan menjadi yang terbaik. Tetapi, kita cenderung mempersepsikan bahwa yang pertama berarti yang terbaik, sedangkan yang datang berikutnya hanya pengekor. Hukum the first means the best berlaku untuk apa saja. Menjadi yang pertama sulit memulainya, tetapi gampang suksesnya. Sementara, menjadi yang kedua, mudah memulainya, tetapi berat jalan untuk meraih sukses.”
―M. Fauzil Adhim

Hal-hal pertama yang sulit dilakukan selalu membutuhkan seorang perintis (orang yang memulai mengerjakan atau melakukan sesuatu). Jalan atau sesuatu yang telah berhasil dilewati, dulunya adalah jalan dan sesuatu yang belum pernah dilalui. Kemudian, walaupun meninggalkan cara-cara lama, kehilangan alat bantuan, atau menembus batasan hal yang tidak mungkin, perintis atau pelopor itu harus berani melakukannya.

Sir Edmund Hillary adalah pria Inggris yang pertama kali menaklukkan puncak Gunung Everest.  Jim Whittaker merupakan pria Amerika pertama yang berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Erik Weihenmayer adalah pria tunanetra yang pertama kali mampu mendaki dan menaklukkan gunung itu juga. Semuanya pria dan mereka adalah para perintis. Apakah ada wanita perintis penakluk gunung itu? Ada. Siapakah dia? Ini dia.

Dia adalah Junko Tabei, wanita Jepang pertama yang menaklukkan puncak Gunung Everest. Dia berhasil mendaki dan meraih puncak itu melalui jalur South-East Ridge (rute South Cole) yang tingkat kesulitannya 99 % nyaris mustahil dilalui!

Pada masa kecilnya, dia memiliki paru-paru yang lemah dan sering dianggap anak yang mudah sakit. Apalagi, sampai pada masa dewasanya, tinggi badannya hanyalah mencapai kira-kira 145 cm! Namun, kelemahannya menjadi kekuatannya; dan tinggi badannya tidak menentukan ketinggian yang sanggup dia gapai. Tinggi Gunung Everest kira-kira adalah 29.029 kaki (feet) atau 8.848 meter.

Junko Tabei suka mendaki gunung semenjak masa kanak-kanak, yaitu usia 10 tahun, dimulai ketika dia tamasya sekolah dan menyertai gurunya mendaki Gunung Nasu, di Fukushima, Jepang. Lagipula, dia mencintai pendakian gunung karena tidak kompetitif (bersifat persaingan), melainkan kooperatif (bersifat kerja sama). Pun pria atau wanita yang menyukai mendaki gunung akan dapat memiliki kepribadian yang lebih baik, asalkan mau dan berusaha selalu.

Dua belas hari sebelum mencapai puncak, ada peristiwa nahas. Dia, 14 rekan sesama pendaki, dan sembilan pemandu khas Gunung Everest―yang dikenal dengan sebutan Sherpa―tertimbun longsoran salju (avalanche) ketika mereka sedang beristirahat dan berkemah di ketinggian kurang lebih 6.300 meter! Junko Tabei pun pingsan selama beberapa menit sebelum akhirnya diselamatkan oleh seorang Sherpa.

Kemudian, 12 hari setelah kejadian itu, dia menjadi wanita pertama yang berhasil meraih puncak Gunung Everest. Dia menolak menyerah. Gunung tersebut bisa menjatuhkannya. Salju itu dapat menghalangi atau menimbunnya. Tetapi, dia tidak membiarkan gunung itu mengalahkannya atau dirinya menjatuhkan dirinya sendiri.


I'm a free spirit. Call me the free spirit of the mountains. The mountain teaches me a lot of things. It makes me realize how trivial my personal problems are. It also teaches me that life should not be taken for granted.
―Junko Tabei


***


Pengendara Motor yang Suka Membunyikan Klakson

Ada beberapa orang yang senang mencari perhatian. Misalnya, para pengendara sepeda motor atau mobil yang suka memencet klakson di jalan. Tanpa sebab atau tujuan yang jelas. Padahal, jarak antara pengendara di depannya dengan mereka tidak terlalu dekat. Mereka hanya senang mencari-cari perhatian. Bahkan, ada juga pengendara yang menyetel radio di sepeda motornya atau membunyikan musik dengan keras dari loud speaker mobilnya.

Orang-orang yang senang memencet klakson biasanya juga terburu-buru di jalan. Mereka merasa sok penting semua. Mengapa mereka buru-buru, padahal mereka tidak bisa memperlambat waktu? Dan barangkali sesuatu atau seseorang yang mereka burui bisa menanti. Hanya orang yang mengetahui tujuan untuk buru-burulah yang layak membunyikan klakson.

Ada beberapa orang yang tidak senang mencari perhatian. Mereka tidak suka memencet klakson atau menyetel lagu dengan keras di jalan raya. Tetapi, sebenarnya mereka mencari perhatian di dalam diri sendiri atau supaya perhatian orang-orang tertuju hanya kepada mereka. Misalnya, mereka memang tidak suka membunyikan klakson, tetapi mereka gemar mengebut! Mereka tidak lebih baik daripada orang-orang yang senang mencari perhatian.


***


Gajah dan Om Bana




Ada seekor gajah berasal dari Planet Kronos yang mencari kebahagiaan dan tawa. Maklum, banyak makhluk lain di planet itu yang bersedih, seolah-olah dibatasi oleh sesuatu yang tidak bisa membuat mereka berbahagia atau tertawa, sesuatu seperti lingkaran yang mengelilingi planet itu. Gajah tersebut tidak ingin menjadi seperti mereka.

Gajah itu mendengar cerita dari neneknya bahwa ada satu makhluk lain yang dapat memberi kebahagiaan dan tawa berlimpah-limpah. Makhluk tersebut adalah sebuah pisang hidup yang bernama Om Bana. Gajah itu harus berkelana sendiri ke planet-planet lain untuk mencarinya. Tetapi, gajah tersebut bertanya kepada neneknya, apakah boleh terlalu berbahagia atau tertawa berlebihan? Sedangkan, teman-temannya dan beberapa makhluk lain di Planet Kronos itu sedang bersedih.

Neneknya hanya menjawab dengan bertanya dan pernyataan, “Mengapa tubuhmu besar, sedangkan makhluk-makhluk lain kecil? Semua sudah ada proporsi atau bagiannya. Yang penting, kamu tahu menempatkan diri dan membaca situasi saja. Tertawalah dengan teman-temanmu yang tertawa; menangislah dengan teman-temanmu yang menangis. Hanya gajah yang telah mati meninggalkan gading yang dikalahkan oleh arus dan kesedihan.” Cucunya mengangguk.

Kemudian, gajah itu mulai berpetualang ke planet lain, yaitu Planet Gugalanna. Di sana ia bertemu dengan seekor semut imut dan sebuah robot kecil. Semut dan robot itu tampak gembira. Bukan dari wajah mereka saja, tetapi bahkan cukup terasa di dekat dan kehadiran mereka. Lalu, gajah tadi bertanya kepada mereka, apakah mereka pernah mendengar tentang Om Bana, si pisang hidup pemberi kebahagiaan dan tawa berlimpah-limpah?

Sang semut menanggapi, “Ohhh, si Om Bana pemberi excessive happiness, ya?!”

Gajah bertanya, “Excessive happines?? Apa itu excessive happiness?”

Semut menjelaskan, “Iya, excessive happiness itu adalah kebahagiaan yang berlimpah-limpah atau berlebihan. Ya, kami pernah mendengar cerita tentang dia! Kami bahkan menerima kebahagiaan yang berlimpah-limpah dari dia! Lihat saja dari wajah kami, tampak berbinar-binar, ‘kan?”

Si robot kecil mencoba meneruskan penjelasan semut, “Ya, tapi Om Bana tidak ada di planet ini. Dia ada di Planet Umi. Saya berasal dari sana, dan sekarang berada di sini untuk menjalankan tugas penelitian dari tempat kerja. Nah, Om Bana memberi saya excessive happiness sebelum saya berangkat ke sini supaya tetap merasa bahagia di manapun saya berada. Nah, temanku semut ini mendapatkan kebahagiaan dari Om Bana ketika mencari barang-barang dan makanan untuk diimpor dari Planet Umi ke planet ini.”

Semut berkata, “Ya, saya bertemu dengannya di kota Wilujeng dan dia berkata, ‘Kebahagiaan terkecil dan tawa terpolos lebih berharga daripada uang se-Planet Yupiter.’”

Kemudian, gajah itu lekas-lekas berpetualang ke Planet Umi. Sesampainya di sana, ia pergi dan menuju ke kota Wilujeng. Ketika gajah itu sedang berjalan-jalan di Jalan Agnatis, ia melihat sesosok makhluk berwarna kuning dan besar―kira-kira 1,60 meter―yang menyerupai pisang. Ternyata dialah Om Bana, si pisang hidup yang bisa memberikan kebahagiaan dan tawa yang berlimpah-limpah.

Gajah itu bergegas menemui dia dan meminta excessive happiness darinya. Om Bana hanya tertawa lebar, puas, dan lepas. Terhadap tawa yang tulus itu, gajah tak tersinggung. Lalu, Om Bana memberinya sebuah pisang matang yang kecil. Gajah bertanya-tanya dalam hati, Hanya sebuah pisang…?

Om Bana mengerti keheranan gajah itu, lalu menerangkan: “Anak muda, saya bisa memperoleh dan memberikan kebahagiaan dan tawa yang berlebih-lebih atau excessive happiness ini kepada pihak-pihak lain karena saya dulu telah mengalami dan melewati excessive sadness. Kesedihan yang berlebihan. Tapi, saya hanya mau melaluinya satu kali. Ada beberapa makhluk yang mengalami kesedihan berulang-ulang. Mereka tidak mau melaluinya. Itu adalah masalah pilihan, bukan masalah-masalah lainnya. Masalah-masalah lain dapat membuatmu menetap pada kesedihan. Hanya masalah pilihan yang dapat membuatmu berubah, Anak Muda.

“Nah, pisang ini adalah simbol bahwa asalkan engkau mau mencoba tersenyum sesederhana dan semelengkung pisang ini, engkau akan sanggup menghadapi dan melalui hal apa pun―kesedihan maupun kesenangan. Hanya makhluk yang pernah mengalami kesedihan mendalam akan tahu artinya kebahagiaan tanpa batasan. Cobalah juga memakan pisang ini saat atau setelah engkau mengalami hal-hal yang membuatmu bersedih. Saat engkau memakan pisang ini, semoga engkau akan menerima excessive happiness.”

Gajah mengangguk, menyetujui penjelasan Om Bana, dan berterima kasih kepadanya karena telah memberikan bekal kebahagiaan dan tawa yang berlimpah-limpah. Mereka tertawa bersama. Kemudian, gajah itu kembali ke Planet Kronos, menemui nenek, dan menceritakan pengalamannya. Sang nenek tersenyum simpul saja. Cucunya itu tidak tahu bahwa sang neneklah yang mengajarkan dan memberikan excessive happiness kepada Om Bana terlebih dulu. Nenek ingin mengajari cucunya supaya berani berpetualang, menemui makhluk-makhluk lain, dan menghadapi apa pun. Dengan menemui pihak-pihak lain dan keberanian tersebut―sekecil apa pun―akan memberikan benih kebahagiaan dan tawa yang berlimpah-limpah.


Happiness often sneaks in through a door you didn't know you left open.”
―John Barrymore


***


Kristal Penolong, Penjernih, dan Pengingat



Kristal bukanlah batu. Kristal adalah benda keras―mirip permata―yang bening seperti kaca, berkilau, dan bersinar-sinar. Ada tiga fungsi kristal, yaitu penolong, penjernih, dan pengingat. Tetapi, kristal bukanlah jimat. Kristal hanya seperti handphone, sisir, atau televisi yang dibutuhkan oleh orang-orang. Benda-benda yang saat ini orang jarang bisa lepas dari semua itu.

Kristal digunakan sebagai penolong oleh nenek-nenek dan gadis kecil supaya mempunyai keberanian dan semangat. Kristal dipakai oleh anak-anak muda sebagai penjernih untuk menjernihkan atau menenangkan pikiran mereka. Kristal menjadi pengingat untuk orang-orang kaya, sukses, dan keadaannya sehat-sehat yang melupakan keluarga atau orang terdekat mereka yang masih miskin, belum berhasil, dan mengalami kesusahan.

Ketika terjadi banjir di daerah Wonokromo, di kota Surabaya, ada rumah sebuah keluarga yang terlanda sehingga menjadi sangat kotor dan barang-barangnya rusak. Air bah menerjang ke rumah itu karena lantainya rendah dan tanpa penahan banjir. Berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya yang berlantai tinggi dan memiliki penghalang banjir. Rumah itu hanya ditempati oleh seorang nenek dan dua cucunya―seorang gadis cilik berusia empat tahun dan abangnya yang berumur 15 tahun.

Kedua orangtua mereka sedang berlibur ke pulau Bali selama tiga hari setelah lelah tapi berhasil menyelesaikan proyek kantor sang ayah. Gadis mungil dan abangnya itu ingin menelepon dan memberitahukan kejadian tersebut supaya orangtua mereka segera pulang. Tetapi, sang nenek menganjurkan kepada kedua cucunya itu untuk tidak usah memberi tahu ayah dan ibu mereka karena baru sehari berlibur.

Kata nenek, sebaiknya mereka bertiga membersihkan rumah dan membenahi perabotan-perabotannya. Cucu pertamanya mengusulkan untuk meminta pertolongan para tetangga. Sang nenek menyetujui, tetapi ketika beliau meminta bantuan kepada tetangga-tetangga, mereka menolak dengan alasan bahwa mereka masih sibuk dan memiliki pekerjaan lain. Padahal, orang-orang terdekat dan sesama tetangga adalah keluarga. Nenek hanya mengangguk memahami; sedangkan cucu pertamanya kesal karena tetangganya tidak mau membantu. Cucu keduanya ikut marah, tetapi reda. Dia hanya takut ada hewan-hewan masuk bersama banjir. Dia takut kecoak, katak, ular, dan hewan-hewan menjijikkan lainnya.

Ketika nenek, gadis kecil, dan abangnya membereskan rumah setelah banjir surut, mereka menemukan sebuah kristal berbentuk segitiga di bawah kursi! Gadis mungil dan abangnya mengira kristal itu adalah kepunyaan ibu, tapi nenek mengingat dan berkata bahwa kristal tersebut bukan milik ibu mereka, melainkan terbawa masuk ke rumah. Lagipula, kalau ibu mereka membeli sesuatu, akan menceritakannya kepada nenek. Para perempuan suka saling bercerita.

Kala nenek menyentuh kristal itu, beliau makin bersemangat untuk bersih-bersih. Kemudian, beliau menyuruh cucu-cucunya untuk memegang kristal itu. Nah, cucu pertamanya berubah menjadi sabar terhadap para tetangga yang tidak mau menolong. Pikirannya tenang, positif, dan berusaha mengerti mereka saja. Mungkin mereka benar-benar sibuk. Dia berpikir dewasa―lebih daripada usianya. Jarang ada anak muda yang berpikir lebih matang ketimbang ukuran umur seharusnya. Sementara itu, cucu keduanya tidak takut lagi terhadap binatang yang mungkin menyelinap karena bah. Pikirannya yang positif akan menghasilkan harapan dan hal-hal yang baik.

Kemudian, sang nenek mengetuk rumah tetangga-tetangga dan mencoba meminta lagi pertolongan untuk berbenah. Kali ini hati para tetangga terketuk dan tersentuh karena melihat binar kristal di genggaman nenek. Mereka makin peduli dan ingin menolong merapikan rumah nenek dan kedua cucunya yang kebanjiran itu. Mereka menjadi menganggap nenek, gadis kecil, dan abangnya itu seperti keluarga mereka sendiri. Tetapi, tidak semua tetangga seperti itu. Ada satu orang yang hatinya membatu dan tidak mau membantu.


***


Bunga-bunga yang Berharap




Ada bunga-bunga yang mengharap untuk dapat terbang. Mungkin engkau belum pernah melihatnya. Bunga-bunga tersebut adalah bunga-bunga yang kecil. Daun-daun pada dua tangkai yang melekat pada batang tubuhnya bergerak-gerak ke bawah dan ke atas menyerupai sayap burung. Apakah engkau pernah melihat bunga-bunga seperti itu?

Sebenarnya semua bunga percaya bahwa mereka {memakai kata tunjuk untuk manusia, yaitu ‘mereka’, pada bunga karena sama-sama makhluk hidup} bisa terbang. Namun, mereka terhalang oleh gaya gravitasi dan kenyataan yang membuat tidak bisa terbang. Tetapi, di dalam mimpi, mereka tetap berharap bahwa suatu hari nanti akan terbang. Terutama saat mereka mendengar lantunan imut xilofon (alat musik pukul yang terdiri dari bilahan kayu yang panjangnya bertahap; menghasilkan bunyi berbeda bila dipukul dengan alat pukul kecil dari kayu), bunga-bunga tersebut akan mengepak-ngepakkan sayap mereka, serasa ingin terbang.

Nah, di dalam mobil sedan seseorang, ada setangkai bunga mungil tertanam di pot kecil berwarna hijau. Pemilik kendaraan tersebut baru membeli dan meletakkan bunga itu di bagian atas sebelah kiri dekat dasbor. Ketika handphone pemilik mobil itu berdering dengan nada dering berupa bunyi xilofon yang merdu, membuat hati ingin melagu, dan beberapa saat meredakan segala hal atau sesuatu yang sendu, kedua daun pada bunga itu mengibas-ngibas. Seraya ingin berkata kepada sopir sedan itu, “Aku tidak ingin berada di dalam mobil ini. Aku ingin keluar dan terbang ke langit. Tolong biarkan dan bebaskan aku…

Awalnya, empunya mobil sedan itu tidak melihat atau menyadari bunga yang mengepak-ngepakkan daunnya tersebut. Tapi, ketika handphone-nya berdering untuk kedua kalinya, ia agak heran dan terkejut melihat bunga itu mengibas-ngibaskan kedua daun pada tangkainya. Ia berpikir, Hah, kenapa bunga ini seperti ini? Kok menggerak-gerakkan daunnya seperti ingin terbang? Tetapi, ia membiarkan saja dan tidak terlalu menghiraukan bunga itu. Namun, bunga tersebut tetap bersabar dan berharap pengemudi itu mengerti keinginannya, sambil terus mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Tapi, sopir tersebut tetap bergeming, acuh tak acuh.

Pemilik mobil sedan itu sampai di tempat tujuan, yaitu rumah kekasihnya. Pemilik kendaraan itu ingin mengajaknya berangkat kuliah pagi bersama-sama. Ia membukakan pintu kiri sedan dan mempersilakan kekasihnya naik, masuk ke dalam mobil. Sesaat setelah kekasihnya duduk di kursi kendaraan, dia tersenyum karena melihat bunga kecil yang menurutnya cantik seperti dirinya itu. Ternyata, daun bunga tersebut masih berkibas. Nah, karena setiap wanita mempunyai hati seperti sekuntum maupun seikat bunga, kekasih sopir sedan itu mengerti bunga tersebut ingin keluar dari mobil dan terbang.

Wanita itu membujuk supaya kekasihnya mau mengeluarkan dan membebaskan bunga tersebut. Akhirnya, pemilik mobil sedan itu menuruti saran kekasihnya, lalu meletakkan pot dan bunga itu di tepi jalan. Kemudian, secara perlahan tapi pasti, sembari mengerakkan kedua daunnya ke bawah dan ke atas, bunga itu terbang menuju ke angkasa raya.


***


Lincha, Si Anak Kucing




Each problem has hidden in it an opportunity so powerful that it literally dwarfs the problem. The greatest success stories were created by people who recognized a problem and turned it into an opportunity.
―Joseph Sugarman

Pada suatu malam yang kelam di pinggir jalan, ada seekor anak kucing. Anak kucing itu bernama Lincha. Pada waktu itu dia sedang berkelana mencari makanan dan bermain-main.

Dia tidak takut adanya kucing-kucing dewasa yang jahat. Dia sering menganggap dirinya sendiri adalah anak macan kumbang atau seandainya dia merupakan manusia, dia adalah polisi yang gagah. Namun, dia tidak mau sok atau gegabah.

Dia juga tidak khawatir terhadap kegelapan malam yang mungkin menyebabkan tidak menemukan makanan. Lincha berpikir positif dan percaya diri bahwa dia akan mendapatkan hal-hal baik dan makanan. Pikirannya yang positif menjaganya dari petaka dan memberinya hal-hal yang positif pula. Sesuatu yang dia percayai biasanya sering terjadi. Namun, sekiranya terjadi hal-hal buruk, dia hanya akan tersenyum, menganggap sebagai kesempatan untuk bermain yang lebih menantang dan dapat belajar dari hal-hal itu.

Begitu dia sampai di suatu perempatan, Lincha ingin menyeberang dan menyusuri ke pinggiran jalan yang berpembatas pagar di seberang. Dia melihat ke lampu lalu lintas terlebih dulu. Semasa masih belum bisa menyeberangi persimpangan, dia terbiasa menyaksikan orang-orang menyeberang saat lampu merah menyala.

Lampu lalu lintas merupakan tiga lampu penanda yang berwarna merah, kuning, dan hijau di perempatan jalan untuk mengatur hilir mudiknya kendaraan. Lampu merah adalah saat kendaraan-kendaraan yang akan melintas di persimpangan harus berhenti. Lampu kuning untuk hati-hati atau bersiap-siap jalan maupun berhenti. Lampu hijau adalah tanda untuk kendaraan-kendaraan boleh melaju kembali. Sebenarnya ada lampu lalin (lalu lintas) khusus untuk para pejalan kaki. Namun, karena di persimpangan tempat Lincha, si anak kucing itu akan menyeberang bukan lampu lalin pejalan kaki, maka dia mengamati dan mengikuti lalin kendaraan.

Lampu merah menyala. Lincha ikut menyeberang. Ketika dia menyeberang dan sampai di seberang sana, ternyata masih ada satu bus yang berjalan pelan di pinggir, tidak sabar ingin menerobos lampu merah! Roda kiri depan bus itu hampir melindas ekor Lincha! Dia beruntung karena pikiran positifnya juga membuatnya sigap dan waspada sehingga dia sempat melihat bus yang masih melaju itu, lalu dia meloncat ke pagar pembatas jalan yang setinggi semeter itu! Kemudian, Lincha melanjutkan berlenggak-lenggok di jalan mencari makanan dan bermain-main.


***


Truk Kontainer yang Kotor




Ada sebuah truk kontainer (peti kemas: kotak bertutup yang terbuat dari besi atau kayu besar yang dipersiapkan untuk diisi barang yang akan dikirim agar tidak rusak) yang berwarna cokelat keemasan, besar (panjang 12,192 meter; lebar 2,438 meter; dan tinggi 2,591 meter), dan sangat kotor. Tetapi, dengan kekotorannya, truk itu tidak malu berjalan di jalan raya. Padahal, truk itu seharusnya menjadi inspirasi bagi kendaraan atau mobil lain dan pengemudi-pengemudinya. Banyak orang yang jijik karena gemas melihatnya dan berkata dalam hati, Kotor sekaliii truk kontainer itu…

Kekotorannya berlangsung berminggu-minggu. Sebenarnya truk kontainer itu berwarna kuning, tetapi karena tempelan debu tanah dan lumpur, truk itu menjadi cokelat keemasan.

Suatu hari, truk kontainer tersebut ingin supaya dibersihkan oleh sopirnya di tempat pencucian truk. Butuh banyak air, busa, dan sabun. Juga, perlu banyak tenaga orang-orang yang mencucinya. Karena sudah 12 minggu kotor penuh lumpur dan debu-debu yang melekat, akhirnya sopir sekaligus pemilik truk itu membawanya ke tempat pencucian truk.

Kemudian, setelah dibersihkan dan dicuci, truk kontainer itu bersih kembali dan kuning cemerlang. Lalu, orang-orang di jalan raya yang melihatnya menjadi bangga terhadap truk tersebut dan terinspirasi.


***


Jacques-Yves Cousteau




Ada beberapa orang yang suka langit beserta awan-awan yang berbentuk hewan dan keberadaan di atas sana atau di luar angkasa.

Ada orang-orang yang menyukai berada di daratan karena bisa naik berbagai kendaraan seperti bus, kereta api, mobil, sepeda motor, sepeda, atau tandem, dan yang paling penting dapat merasakan sensasi menginjak permukaan tanah.

Hanya sedikit orang yang mencintai laut dan kehidupan di bawahnya. Mereka takut laut. Banyak orang yang takut berada di laut atau menyelam, terlebih dulu takut di dalam kolam renang karena merasa seperti ada ikan hiu yang mengelilingi dan mengincarnya!

Banyak orang juga yang membuang sampah ke dalam laut. Biasanya, orang-orang yang membuang sampah ke laut juga akan mengotori daratan, bahkan membuang sampah-sampah ke luar angkasa! Tetapi, ada satu orang yang cinta lautan dan alam kehidupan di bawah laut.

Dialah Jacques-Yves Cousteau. (Apakah namanya susah disebut? Dalam logat bahasa Prancis disebut dengan [ʒak iv kusto]).

 Jacques-Yves Cousteau adalah mantan perwira angkatan laut bangsa Prancis; seorang penjelajah; pembuat film dokumenter; peneliti; penulis; dan beberapa jenis profesi lainnya. Tetapi, hal yang terutama adalah ia mencintai laut dan kehidupan di bawahnya. Dia juga merupakan perintis yang menciptakan aqua-lung (paru-paru air), yaitu alat bantu selam atau alat pernapasan bawah air yang berisi udara (oksigen) yang disimpan di dalam tangki.

Dia juga telah membuat lebih dari 120 film dokumenter dan menulis lebih dari 50 buku. Namun, hal yang terpenting adalah ia tidak menghiraukan kritik dari orang-orang lain dengan tetap mempertahankan cintanya untuk lautan dan melakukan yang dia cintai, serta mau mengalah terhadap putranya ketika mereka berdua berselisih paham. Lagipula, memang dengan tidak menghiraukan kritik dari orang asing akan lebih membuatnya mengerjakan banyak hal daripada tidak mengacuhkan kritik atau saran dari orang terdekat.

Orang yang mencintai dan berani di dalam lautan akan rendah hati dan menjadi berani di daratan, bahkan di langit atas, di luar angkasa sana. (Oh ya, sekadar untuk informasi, sebelum seorang astronaut diterbangkan dan mengorbit dengan pesawat ulang-alik ke luar angkasa, serta mengalami gaya antigravitasi, ia akan dilatih di dalam air atau kolam renang terlebih dahulu).


Every morning I wake up saying, I'm still alive; a miracle. And so I keep on pushing.
―Jacques-Yves Cousteau


***


Pak Kumis Tebal




Ada seorang bapak-bapak yang berkumis sangat tebal. Panggilan namanya adalah Pak Amir. Kumisnya yang tebal itu hampir menutupi mulutnya. Hanya kumis. Tanpa janggut atau cambang.

Nah, saat Pak Amir sedang ceria atau senang, orang-orang geli melihatnya karena wajah beliau menjadi lucu. Tetapi, kalau sedang bersedih hati atau marah, orang-orang yang melihat beliau menjadi takut karena wajahnya akan seperti preman atau penjahat kelas kakap.

Beliau menyadari kedua hal tersebut ketika: Pertama, ketika naik dan masuk ke dalam bus dengan tersenyum dan hati riang, para penumpang lainnya ikut tersenyum dan tertawa kecil melihat beliau yang kumis tebalnya melengkung seiring lekukan pipinya. Padahal, mereka orang asing, loh. Belum mengenalnya. Kedua, pada lain hari, ketika sampai di tempat kerja dan menunggu hendak masuk dan naik lift, beliau bertemu dengan rekan kerjanya perempuan. Rekannya tersebut berprasangka dan menjadi takut terhadap Pak Amir disebabkan oleh wajah beliau yang gusar seakan-akan mau menantang orang―memang waktu itu Pak Amir sedang marah karena belum menerima gaji akhir bulan, serta dompetnya hampir dicatut copet.

Pak Amir tidak ingin orang-orang, baik orang asing maupun orang terdekat takut terhadapnya. Jadi, sedapat-dapatnya, Pak Amir berusaha ceria setiap hari. Tetapi, jika ada orang yang mencurigakan seperti penjahat, pencopet, atau perampok, Pak Amir sengaja menampangkan wajah garang dengan kumis sinis lurus tajam ke bawah, agar orang itu tidak bertindak macam-macam atau jahat kepada beliau.

Beberapa orang bertanya kepadanya, apakah tidak rumit dan tidak ada kesulitan pada waktu makan, tidak ada sisa nasi atau cokelat donat atau remah-remah roti di kumis? Bagaimana dengan pada waktu minum? Apakah tidak susah dan terhalang minum, tidak ada sisa cairan susu yang menempel pada kumis? Tidak sulit dan tidak ada, kata Pak Amir. Beliau makannya pelan-pelan dan minum dengan sedotan.

Ada satu kejadian lucu. Ketika akan berangkat bekerja, Pak Amir menyempatkan diri memakan roti isi cokelat. Anehnya, cokelat pada roti itu warnya bukan cokelat, melainkan hitam―seperti cetak tebal kata-kata ini. Kemudian, tidak semua bagian dalam rotinya yang diisi atau dilapisi cokelat; hanya setengah bagian. Komposisinya pun tidak cokelat yang lembut lekat, tetapi seperti butir-butir pasir yang padat berpadu. Hitam dan padat setebal dan selebat kumis beliau.

Nah, selesai memakan roti tersebut, Pak Amir langsung keluar rumah dan memanggil tukang ojeg untuk mengantarkannya ke halte bus. Pak Amir tidak menyadari bahwa, walaupun beliau makannya perlahan, masih ada sisa cokelat yang menempel pada pipi kiri, bukan pada kumisnya.
Sampai di kantor, cokelat itu tetap menempel di pipinya. Jadi, sepanjang perjalanan, orang-orang pasti melihatnya dan tertawa, dan mungkin mengira bahwa itu adalah tahi lalat. Untungnya, mereka tidak mengenal beliau. Sementara itu, Pak Amir menduga mereka menertawakan bentuk kumisnya yang tebal. Tetapi, ketika telah tiba di tempat kerja dan singgah sejenak ke toilet (kamar kecil) lalu mengaca, Pak Amir sadar bahwa orang-orang tadi pasti menertawakan cokelat di pipi kirinya itu, ditambah senyumnya yang lebar dan kumisnya yang tebal.


***


Kakek dan Nenek yang Hebat



Siapakah yang tidak ingin mempunyai kakek dan nenek yang hebat? Hebat dalam arti baik hati; berusaha menyediakan dan memberikan waktu kepada anak-anaknya, walaupun mungkin sedang sibuk atau tidak ada waktu; serta mengasihi cucu-cucunya dan menganggap mereka sebagai anak sendiri.

Ada kakek dan nenek yang seperti itu. Dulu, sebelum menjadi seorang kakek dan seorang nenek, mereka adalah sepasang suami istri yang merantau dari provinsi Sumatera Utara ke kota Surabaya dan belum memiliki anak. Setelah menetap di provinsi Jawa Timur itu tujuh tahun, Tuhan mengaruniakan empat orang anak kepada mereka.

Kehidupan keluarga tersebut di kota perantauan masih belum mapan. Hanya mampu makan nasi dengan lauk tempe, tahu, telur, kerupuk, atau kecap minggu demi minggu. Makanan yang termewah waktu itu bagi keluarga itu adalah roti. Sebungkus roti pada pagi-pagi hari tertentu dengan beberapa gelas susu. Namun, keempat anaknya tidak pernah sekali pun mengeluh atau meminta makanan-makanan yang tidak ada di atas meja. Kadang, sang ayah bahkan mengalah untuk tidak memakan roti atau sarapan pagi, dan memberikannya kepada anaknya yang paling bungsu. Sang ibu berdoa semoga Tuhan, selain menganugerahkan empat anak, juga mengaruniakan pekerjaan dan penghasilan yang bagus kepada suaminya, agar dapat membeli dan memberi makanan yang enak-enak kepada anak-anaknya.

Tahun demi tahun telah berlalu. Tepatnya, 27 tahun. Waktu yang cukup lama sekaligus sangat singkat. Keluarga tersebut masih belum mapan. Namun, keempat anaknya sudah melalui jenjang-jenjang pendidikan dan dewasa semua. Dari mana ayah dan ibu itu mempunyai biaya untuk pendidikan anak-anak mereka? Mungkin dari pinjaman orang lain; bantuan atau kebaikan dari saudara-saudara; atau tabungan. Seperti kata orang-orang, hanya Tuhan yang tahu.

Bahkan, setelah anak pertama dan anak kedua mereka telah menikah, memiliki anak-anak sendiri dan mereka menjadi kakek dan nenek, keluarga itu masih belum mapan. Namun, mereka tetap bekerja keras, meskipun sudah menjadi seorang kakek dan seorang nenek. Walaupun mereka tidak bisa mencetak uang, mereka mencetak anak-anak yang mengasihi orangtua dan orang lain, serta pasti memiliki masa depan yang cerah dan indah. Harta mereka adalah anak-anak mereka.

Kini, anak sulung mereka bertempat tinggal di kota Jakarta bersama istrinya dan dua orang anak. Sedangkan, anak kedua mereka menetap di kota Yogyakarta dengan sang suami dan tiga orang anak. Mereka, sang kakek dan nenek, tetap berusaha menjalin komunikasi dengan cara menelepon atau mengirim surat kepada kedua anaknya itu. Kedua anaknya tersebut juga menelepon orangtua mereka. Jika tanpa kabar atau komunikasi berhari-hari, pasti ada sesuatu yang salah atau masalah di dalam keluarga masing-masing.

Kadang, kakek dan nenek itu dengan kedua anaknya yang masih bersama mereka juga mengunjungi cucu-cucu mereka. Mereka ingin melihat wajah cucu-cucu mereka itu mirip siapa―anak, menantu, besan, atau bahkan mereka sendiri? Mereka pun mau meninabobokan, memandikan, memegangi botol untuk menyusui, dan menjaga cucu-cucu mereka tersebut.

Sang kakek, terutama, walaupun sebenarnya masih mengajar di sekolah karena sebagai guru di sebuah SLTP di kota Surabaya, ia meminta izin kepada sekolah dengan alasan ada acara keluarga di kota lain. Memondong sang cucu sambil melihat senyuman yang terlihat gusi dan memandang wajah polos sang cucu adalah kebahagiaan besar bagi sang kakek dan nenek itu.

Seiring waktu yang berjalan perlahan, tapi terasa cepat di pikiran, sekarang kakek dan nenek tersebut hidup mapan bersama kedua anaknya yang masih tinggal dengan mereka. Karena kedua anak mereka yang telah menikah mempunyai pekerjaan bagus dan mendapatkan penghasilan besar, keduanya rajin mengirim uang setiap bulan kepada mereka dan membantu biaya pendidikan adik-adiknya yang masih bersekolah. Namun, mendengarkan amanat atau nasihat, serta perhatian dari anak-anak lebih berharga daripada mengirimkan uang.

Kakek dan nenek tersebut bersyukur bahwa walaupun dulu mereka tidak punya uang, tetapi mereka mempunyai anak-anak yang hebat dan masa depan mereka tidak harus sama atau ditentukan oleh masa lalu.
Kakek dan nenek tersebut juga teringat tentang masa kecil mereka. Mereka pernah seperti anak-anak mereka. Dan bahwa sebelum menjadi kakek dan nenek yang hebat, mereka terlebih dulu telah menjadi anak-anak yang hebat. Dan apakah arti kehebatan bagi anak-anak?


Suffering means also human capability to face life problems.”
―Charles Bonar Sirait


***


Kereta Abjad




Ada sebuah kereta yang berwarna-warni. Kereta tersebut adalah kereta abjad yang setiap gerbongnya mewakili abjad dari ‘a’ sampai ‘z’. Urutan warna dari gerbong pertama (a) hingga yang terakhir (z) adalah: merah (red)oranye (orange)kuning (yellow)hijau (green)biru (blue)ungu (purple)putih (white)hitam (black)cokelat (brown), perak (silver), merah tua (dark red)merah muda (pink)kuning tua (dark yellow)hijau muda (light green), nila (blue dye), biru muda (light blue)biru tua (dark blue), lembayung (violet), abu-abu (gray)cokelat muda (tan), hingga gabungan dari warna-warna itu atau warna-warni alam, seperti biru-hijau (turquoise); biru air laut (aqua)hijau daun (leaf green, olive green); biru awan atau langitcokelat tanahkuning emas (gold); dan putih cerah cemerlang. Apakah kalian ingin menaiki kereta abjad itu?

Gerbong-gerbong pada kereta abjad tersebut mempunyai stasiun sendiri-sendiri. Stasiun A sampai Z. Tetapi, gerbong ‘a’ tidak berhenti di stasiun A, melainkan di stasiun Z. Sebaliknya, gerbong ‘z’ juga berhenti di stasiun A. Gerbong ‘b’ di stasiun Y, gerbong ‘c’ di stasiun X, gerbong ‘d’ di stasiun W, gerbong ‘e’ di stasiun V, dan seterusnya. Apakah kalian dapat meneruskannya?

Penumpang pada masing-masing gerbong itu berbeda. Mulai dari gerbong awal adalah para penumpang yang masih kecil, hingga gerbong akhir yang ditempati oleh tua-tua. Jadi, penumpangnya dikelompokkan berdasarkan usia.

Di gerbong ‘a’ adalah para anak-anak berusia tiga sampai lima tahun. Makin ke belakang, usia penumpangnya makin tua. Namun, di gerbong paling akhir, yaitu ‘z’, para penumpangnya adalah orang-orang tua berumur antara 65 sampai 80 tahun yang berjiwa muda. Nah, kira-kira kalian mau menjadi penumpang di gerbong mana?

Pada suatu perhentian atau transit di stasiun S, ada seorang gadis kecil dari gerbong ‘c’ yang keluar sejenak untuk membeli permen. Lalu, dia ingin membeli makanan lainnya dan melihat-lihat sebentar stasiun itu karena bangunan dan tata arsitektur masing-masing stasiun itu berbeda-beda. Tetapi, sejenak atau sebentar bagi anak kecil adalah lama.

Transit hanya berlangsung 15 menit. Karena gadis cilik itu berlama-lama di luar kereta, yaitu selama 30 menit, kereta abjad itu meninggalkannya! Jadi, gadis kecil itu menghilang di tengah keramaian! Sedangkan, karena gerbong ‘c’ ditempati oleh para penumpang berusia delapan sampai sepuluh tahun dan rata-rata sama-sama anak kecil, maka mereka tidak terlalu saling peduli atau mempertanyakan kekompletan penumpang lainnya di gerbong yang sama.

Gadis kecil itu menangis di stasiun… Dia mencari-cari kereta abjad warna-warni yang dia tumpangi tadi. Untungnya, orang-orang di stasiun S tersebut kelakuannya baik-baik dan ramah, sehingga ketika beberapa orang melihat gadis cilik itu mencucurkan air mata, mereka menanyakan keadaannya. Setelah dia mengatakan sambil tersedu-sedu bahwa kereta yang dinaikinya telah meninggalkannya, mereka membawanya ke kepala stasiun untuk memberi tahu perihal yang dialami gadis kecil itu. Lalu, kepala stasiun berusaha menghubungi masinis kereta abjad melalui telekomunikasi frekuensi radio.

Setelah masinis kereta abjad menerima kabar tersebut, ia memastikan dan mengecek ke gerbong ‘c’ untuk melihat gadis cilik yang diberi tahu oleh kepala stasiun S dari frekuensi radio. Ternyata, ciri-ciri gadis kecil itu tidak ada di dalam gerbong ‘c’! Ciri-cirinya adalah berumur kira-kira 10 tahun; memakai baju, celana, dan topi bundar yang berwarna putih―seperti  warna gerbong ‘g’; memiliki lesung pipit; berkulit putih; dan membawa tas kecil hijau dengan bros bergambar lengkung senyuman pisang. Kemudian, masinis tersebut kembali ke lokomotif dan memerintahkan anak buah untuk mempercepat laju kereta supaya segera tiba di stasiun T, memutar haluan, dan kembali ke stasiun S menjemput gadis cilik itu. Masinis pun mengumumkan kepada semua penumpang melalui pengeras suara bahwa kereta akan kembali sebentar ke stasiun sebelumnya.

Sampailah mereka di stasiun S. Lalu, kepala stasiun segera mengantar gadis kecil tadi menemui masinis kereta abjad dan kembali ke gerbong ‘c’. Gadis kecil merasa terharu karena sang masinis mau kembali untuk menjemputnya. Para penumpang di gerbong ‘c’ sekarang mulai mencoba lebih peduli dan memperhatikan anak-anak lainnya saat kereta berhenti atau transit di stasiun-stasiun berikutnya.

Sekarang juga masinis membuat kebijakan untuk mencampur para penumpang gerbong yang satu dengan gerbong lainnya. Jadi, tidak mengelompokkan umur lagi. Para orang tua dapat mengawasi anak-anak. Para penumpang anak-anak bisa mengingatkan dengan kepolosan mereka, serta mencairkan dan menceriakan suasana. Orang-orang remaja dan dewasa dapat mengawasi dan menjaga diri sendiri seperti kereta abjad yang menjaga keseimbangan dan menetap pada rel kereta api.


***


Rumah Kertas




Di tepi sebuah jalan yang sering dilalui oleh beberapa bendi (kereta mini beroda dua yang ditarik oleh seekor kuda), berdiri sebuah rumah kertas yang besar. Rumah kertas tersebut terbuat dari kardus (karton) berwarna putih yang tebal dan kuat, jadi tidak goyah, roboh atau runtuh tertiup angin. Atap rumahnya terlindungi dengan seng agar tidak basah kuyup saat hujan.

Di dalam rumah itu pun terdapat banyak kertas tulis berbagai ukuran dan barang-barang yang dibuat atau dibentuk dari kertas. Ada celengan kertas, mainan pesawat kertas, pita dan bando kertas, kursi goyang dari kertas, tentu saja layang-layang, dan contoh benda-benda lainnya.

Orang-orang bebas dan boleh berkunjung atau masuk ke dalam rumah kertas itu. Bukan untuk melihat-lihat saja, melainkan juga membeli barang-barang atau pernak-pernik yang terbuat dari kertas, serta menulis impian mereka di atas kertas tulis. Larangan untuk para pengunjung yang datang ke rumah itu hanyalah tidak boleh merokok, sebab bisa memicu kebakaran dan tidak boleh memakai sepatu atau sandal atau membawa makanan atau minuman karena akan mengotori dinding dan lantai kertas.

Uniknya, orang-orang itu senang menuliskan impian mereka di kertas. Mengapa? Karena, percaya atau tidak, pada waktunya, entah beberapa bulan atau entah beberapa tahun, asalkan mereka mau bersabar, impian mereka tersebut akan terwujud! Kata-kata yang mereka tulis di atas kertas akan menjadi kenyataan.

Suatu siang pada suatu hari, ada seorang bapak-bapak yang hendak mampir ke rumah kertas itu. Setiap pagi dan petang, saat berangkat dan pulang kerja naik bemo (angkutan umum beroda empat yang bukan bus), dia melewati rumah itu tanpa pernah bersinggah. Nah, pada hari itu dia menyempatkan diri untuk melihat-lihat dan menuliskan impiannya di kertas. Dia telah mendengar kabar dari orang-orang dan melihat sendiri bukti hidup bahwa impian mereka nyata setelah menuliskannya di kertas di rumah itu. Dia tidak hanya ingin mendengar dan melihat, dia ingin mengalami sendiri juga.

Ketika bapak-bapak itu sampai dan masuk ke dalam rumah kertas, dia masih merokok dan mengepulkan asapnya. Dia lupa membawa kacamata sehingga tidak membaca peraturan yang tertulis di pintu depan rumah. Untungnya, seorang pengunjung lain mengingatkan dia, lalu bapak-bapak tersebut membuang batang rokok itu begitu saja ke luar rumah. Sayangnya, dia membuangnya tanpa benar-benar mematikannya sehingga puntung rokok itu terbawa angin kembali ke dalam rumah!

Seperti halnya sebesar apa pun batu, jika terkikis air terus-menerus, pasti mengecil, mengalah, atau hancur, begitu pula setebal apa pun kertas, jika terkena atau ada api, pasti terbakar. Sumber api tersulut. Api merambat dan menjalar dengan cepat dan rumah kertas itu pun akan terbakar terlalap api!

Para pengunjung segera melihat kobaran api yang membesar di ruang depan rumah. Mereka ingin mematikan api itu dengan pemadam api (fire extinguisher atau hydrant), tetapi tidak tersedia di rumah itu. Mereka juga ingin menimba air untuk menyiramkan ke sumber api, tetapi tidak ada air atau kamar mandi di rumah tersebut karena dapat membasahi kertas. Hanya ada kamar mandi umum, tetapi di luar rumah. Apakah mereka akan berhamburan ke luar rumah dan meloncati api yang masih setinggi lutut itu? Mereka sebenarnya bisa saja melakukannya tapi tidak mau karena ingin api itu padam terlebih dulu. Para pengunjung wanita takut meloncati api. Para pengunjung pria panik, tetapi tetap ingin menemani dan menolong para pengunjung wanita. Apa yang akan terjadi kemudian…?

Tiba-tiba mainan burung-burung kertas di rumah itu menjadi hidup! Lalu, burung-burung kertas itu terbang melampaui api dan pergi ke sungai terdekat yang berada tidak jauh dari rumah itu. Terdapat kira-kira 702 burung kertas dan mereka terbang ke sungai semua untuk menyeruput air sungai, menyimpannya di dalam mulut, lalu kembali ke rumah kertas tadi, dan menyiramkan air sungai itu ke kobaran api sebelum merembet ke ruang tengah rumah atau rumah-rumah sebelah. Dalam sekali pulang pergi, burung-burung kertas itu sanggup memadamkan api tersebut.

Ternyata, tidak hanya impian-impian di atas kertas yang menjadi nyata, barang-barang kertas di rumah itu pun dapat menjadi hidup.


***


Pengamat Sepatu, Pengamat Awan, dan Pengagum Hujan




Hanya pengemis yang melihat sepatu sampai hafal. Ia bahkan mengenali orang-orang yang berlalu-lalang di depannya hanya dengan mengamati sepatu mereka setiap pagi dan setiap hari.

Banyak peminta-minta yang mengemis di pinggir-pinggir sungai yang ada di dekat sekolah-sekolah atau universitas. Ada pengemis yang bertahun-tahun, ada yang baru beberapa bulan “bekerja” di situ. Ada yang masih kecil, juga ada yang sudah tua. Ada yang hanya mengemis dari pagi sampai sore, tetapi ada juga yang sejak subuh hingga petang.

Banyak orang yang takut lewat di depan mereka saat pagi karena merasa para pengemis itu mengharapkan hal yang jelek terjadi kepada orang-orang yang lewat tersebut. Banyak pula orang yang waswas saat lewat malam-malam di depan para peminta-minta itu karena merasa dibuntuti atau akan dipaksa memberikan uang. Apalagi oleh para pengemis renta yang telah lama minta-minta di tempat itu dan mengenali orang-orang dari sepatu. Tetapi, ada dua orang gadis yang tidak khawatir saat berjalan di depan atau melewati para peminta-minta itu.

Gadis pertama adalah seorang gadis kecil berumur kira-kira sembilan tahun. Dia senang mengamati awan dan bertindak sesuai dengan bentuk awan yang diamatinya. Saat dia melihat awan berpola hewan-hewan besar dan pemberani seperti singa, gajah, atau harimau, dia pun menjadi berani. Tetapi, jika tidak ada awan yang membentuk hewan-hewan yang berani, gadis itu akan merasa sedikit takut karena tergantung pada awan-awan tersebut, bukan pada keberanian sejati yang sebenarnya ada dalam dirinya―dan di dalam diri semua manusia.

Gadis kedua adalah seorang gadis remaja yang berusia 16 tahun. Gadis ini senang terhadap hujan. Dia sering menanti dan mengharapkan datangnya curahan hujan. Dia pun suka berjalan di rel kereta api ketika hujan turun (tentu saja dengan berhati-hati, melihat ke kanan-kiri, ke depan-belakang, serta saat tidak ada kereta api yang melintas). Saat melewati para pengemis, gadis itu tidak takut para peminta-minta itu berprasangka atau mengharapkan hal-hal buruk terhadapnya. Dia malah terpukau dengan burung-burung yang bernyanyi. Alih-alih mendengarkan prasangka-prasangka―dari dalam pikiran sendiri maupun dari orang-orang―lebih baik mendengarkan suara kicauan burung yang ada di pepohonan.

Bahkan, gadis remaja tersebut mengharapkan hal-hal yang baik terjadi kepada para pengemis itu. Dia berharap mereka, yang anak-anak dan orang yang sudah tua, mendapatkan bantuan yang tulus atau pekerjaan dari seseorang atau saudara mereka sendiri. Dia berharap para pengemis itu mendapatkan hujan anugerah, bukan hanya uluran tangan mengasihani dari para pejalan kaki yang memberikan uang recehan atau lembaran ribuan setiap pagi, setiap hari.

Pengharapan gadis remaja kedua itu terwujud! Jumlah para pengemis di pinggir-pinggir sungai dekat sekolah-sekolah, universitas, atau di tepi-tepi jalan mulai berkurang! Ada yang menerima bantuan modal dari tetangga untuk berjualan bubur ayam. Ada yang mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga dan petugas warung Internet dari seorang pengusaha muda. Ada yang memperoleh beasiswa untuk bersekolah lagi di sekolah dasar dan sekolah menengah dari seorang ibu-ibu lanjut usia yang kaya raya.

Sekarang pengemis-pengemis itu tidak perlu mengamat-amati sepatu lagi, kecuali mereka mau menjadi pengusaha pembuat sepatu atau ahli sol sepatu. Mungkin dari antara mereka pun ada yang menjadi pengagum hujan, seperti gadis kedua tadi yang mengharapkan hal-hal baik untuk orang-orang.


People forget how fast you did a job, but they remember how well you did it.”
―Howard W. Newton


***

  
Tirai Penutup Kegagalan



Aku ingat rasanya jadi anak-anak.
Ketika terjatuh dia tidak pernah berhenti untuk berlari lagi.
Meski dia tidak akan memilih untuk lewat jalan yang sama lagi.
―Aninta Mamoedi


Ada seorang bapak pemilik rumah yang di ruang tamunya terdapat tirai penutup jendela (gorden). Gorden tersebut berwarna biru muda seperti warna langit dan dapat menenangkan hati bapak itu atau orang lain. Tiap kali dia melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan, bapak itu menutupnya pada malam hari. Lalu, membukanya pada pagi hari, maka dia akan merasa tenang dan mau kembali berusaha melakukan yang terbaik. Dia pun akan berpikir, kesukaran (kesusahansehari cukup untuk sehari, tapi sukacita, semangat, keberanian, dan kebaikan harus bertambah per hari! Dia juga kerap berkata terhadap hal-hal buruk yang terjadi, “This, too, shall pass” (Semua ini akan berlalu), dan pada hal-hal baik, “These, too, the good things in this life, shall continue” (Semua hal baik ini akan tetap ada di dalam hidupku).

Bapak itu sering mengalami kegagalan dan banyak berbuat salah. Pernah bangkrut bukan delapan kali, tetapi enam belas kali. Menipu saudara sendiri dengan menggelapkan uang saudaranya itu tidak dua juta, tapi puluhan juta. Pernah kehilangan naskah proyek bukunya dan beberapa barang berharganya seperti pena emas, dompet (dua kali!), kacamata, HP, dan lain-lain karena teledor atau sekadar lupa. Tetapi, tiap kali bapak itu disiplin untuk menutup tirai jendela pada malam hari, ia merasa lega karena mau berusaha dan berjanji melakukan hal yang lebih baik. Lalu, pada pagi harinya, bapak tersebut membuka tirai itu lagi dan menyambut sinar om matahari. Dengan begitu, dia bisa bersemangat menghidupi dan menikmati hari.

Memang keadaan pada pagi hari mempengaruhi cara menjalani kehidupan sepanjang hari. Dan perasaan pada malam hari mencerminkan bagaimana telah menjalani hari itu dan sikap untuk menghadapi hari-hari berikutnya. Jadi, bapak itu sebisanya bersemangat dan tenang pada pagi hari, serta merasa lega dan tidak mau berpikir banyak saat malam.

Suatu sore, di depan rumahnya, bapak itu sedang berbincang-bincang dengan seorang remaja muda. Pemuda itu menceritakan suatu peristiwa yang dialaminya dengan seorang temannya. Temannya tersebut telah melakukan kesalahan, yaitu mengguyurnya dengan air seember tanpa tujuan atau sebab apa pun! Remaja itu kesal karena perlakuan temannya. Temannya mengaku bahwa dia hanya iseng dan ingin mengejutkannya. Temannya sudah meminta maaf seadanya, tapi remaja itu tidak mau memaafkannya. Lalu sang bapak menyuruh remaja itu untuk kembali malam nanti supaya diperlihatkan gorden milik bapak tersebut.

Malam harinya, setelah mandi dan berganti baju, si pemuda balik ke depan rumah sang bapak. Bapak itu mempersilakannya masuk setelah pemuda itu mengetuk pintu dan mencari sang bapak. Dia menyarankan kepada remaja tersebut untuk mau memaafkan temannya tadi. Tapi, remaja itu tetap sulit mengampuni kesalahan temannya. Lalu, bapak itu mengajak pemuda itu mendekati tirai jendela yang di ruang tamu. Bapak tersebut menyuruh pemuda itu untuk tenang sesaat dan melihat tirai yang akan ditutup oleh sang bapak.

“Kamu akan mengalami kelegaan dan kerelaan untuk memaafkan temanmu,” kata bapak, “setelah Bapak menutup gorden ini.”

Seusai menutup tirai jendela tersebut, ternyata remaja itu tidak merasakan kelegaan atau kerelaan untuk mau memaafkan temannya. Ia masih merasa marah. Sang bapak heran mengapa setelah menutup tirai itu, tidak dapat menenangkan hati si remaja agar ia mau memaafkan temannya karena keisengan. Apalah arti pertemanan tanpa permaafan. Apakah tirai itu tidak bisa membuat mengampuni kesalahan orang lain? Apakah hanya untuk menenangkan hati dan mengampuni diri sendiri?

“Wah, Bapak juga tidak tahu kenapa kamu tidak merasa lega atau mau memaafkan temanmu setelah Bapak menutup tirai ini…” kata sang bapak.

Lalu, mereka melanjutkan perbincangan yang lain. Sampai akhirnya, pemuda itu berpamitan untuk pulang. Ketika ia hendak beranjak keluar dari pintu rumah, ia meminta izin kepada sang bapak untuk mencoba sekali lagi menutup gorden tadi, kali ini pemuda itu sendiri yang menutupnya. Tapi, setelah menutup tirai itu, pemuda tersebut tetap tidak merasa lega atau rela tidak menganggap salah temannya lagi. Ia memutuskan untuk pulang saja. Mungkin ia membutuhkan waktu untuk memaafkan temannya. Ketika ia berdiri di hadapan tirai yang tertutup itu, lalu membalik diri untuk menuju ke arah pintu, tangan remaja itu tidak sengaja menyenggol guci antik dan mahal milik bapak itu!

“Waduh! Kenapa kamu jatuhkan guci ini?!” sergah sang bapak!

Si pemuda hanya memohon maaf kepada sang bapak dan berkata bahwa ia tidak sengaja melakukannya. Lalu, si pemuda menyarankan secara perlahan kepada bapak itu supaya menutup tirai jendelanya. Dengan agak sedikit kesal, bapak tersebut menuruti dan mencoba menutup gordennya. Ternyata, bapak itu mengalami perasaan sama yang dialami pemuda tadi, yaitu tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain, meskipun itu iseng atau tidak sengaja.

Ternyata benar, penutupan tirai itu hanya bisa untuk menenangkan hati dan mengampuni diri sendiri. Tetapi, setelah berpikir lima menit, bapak itu memilih memaafkan anak muda itu tanpa syarat. Karena melihat teladan sang bapak yang mau memaafkannya, pemuda itu pun akhirnya mau mengampuni kesalahan temannya.

Bapak itu menyimpulkan bahwa memaafkan adalah masalah pilihan dan keputusan, serta mungkin membutuhkan waktu. Seperti cahaya om matahari yang rela memaafkan bumi yang mungkin kotor setiap pagi. Matahari adalah tirai galaksi; pemaafan adalah tirai kelegaan.


***


Rumah Yunani



Every time one man puts an idea across, he finds ten who thought of it before he didbut they only thought of it.
―Alfred A. Montapert

Ada seorang anak yang sangat terpesona dan ingin masuk ke dalam rumah bergaya arsitektur dan infrastruktur Yunani. Anak itu telah sering melihat rumah-rumah tipikal Yunani tersebut di beberapa pinggir jalan yang pernah dilaluinya. Ia begitu terpikat dengan patung-patung yang ada di halaman depan rumah-rumah Yunani itu. Tentu  patung-patung itu bukan dibuat untuk dipuja, melainkan sebagai penghias rumah atau sekadar monumen peringatan.

Rumah-rumah Yunani memiliki pagar tembok dan besi menjulang tinggi yang agak menyeramkan, namun megah. Dengan pohon dan penghijauan yang rindang, serta pilar-pilar yang kokoh beserta detail-detail motif ukirannya yang indah. Lagipula, pikir anak itu, bukankah gedung-gedung pemerintah bangsaku dan bentuk pemerintahannya sepertinya dipengaruhi oleh bentuk bangunan dan bangsa Yunani…? Lalu, dasar bahasa yang awal adalah bahasa Yunanibukan bahasa Latin.

Anak itu makin ingin masuk ke sebuah rumah Yunani. Tapi, bagaimana ia dapat memasukinya? Kalau seorang pembantu rumah tangga atau babysitter (pengasuh bayi) saja dapat tinggal di salah satu rumah Yunani, masak ia tidak bisa meminta izin kepada pemilik rumah untuk masuk sebentar dan melihat-lihat ke dalam? Apakah pemiliknya benar-benar orang Yunani asli atau warga negara sendiri?

Suatu sore, ketika anak itu sedang berada di teras lantai dua rumahnya, ia melihat seekor burung yang punggung, perut, sayap, dan ruas kepalanya berwarna biru (bahasa Inggris: bluebird) hinggap di pilar pembatas pendek, juga di teras lantai dua rumah orang lain. Lalu, bluebird tersebut terbang masuk ke dalam melalui pintu yang terbuka. Wah, enak sekali menjadi burung itu, pikir anak itu, bisa bebas masuk ke rumah orang itu! Wah, andaikan aku bisa menjadi burung sementara.

Bluebird adalah salah satu jenis burung yang jarang terdapat di negeri anak itu. Mungkin burung itu kepunyaan orang asing (luar negeri seperti Amerika) yang terlepas dari sangkarnya. Nah, sore itu burung tersebut berkelana ke daerah-daerah asing dan menerobos ke rumah seseorang yang mungkin dikira tempat awal burung itu.

Ketika anak tadi berpikir bahwa ia ingin sebentar menjadi burung, seketika itu juga, anak tersebut berubah bentuk menjadi seperti burung itu! Burung itu―anak itu―langsung bercicit kegirangan karena senang akan bisa terbang! Baju dan celananya berganti menjadi bulu dan kulitnya. Kemudian, ia mencoba terbang menyusul ke dalam rumah orang di depan rumahnya untuk mencari burung yang telah masuk tadi. Awalnya, ia agak takut sebelum mengepakkan sayap mungilnya. Tetapi, karena ia percaya bahwa ia pasti bisa terbang, maka ia langsung mengangkat kedua kakinya dan meluncur ke pintu yang terbuka di teras lantai dua rumah tetangga  itu.

Anak itu (yang sudah berubah menjadi burung) masuk ke ruang keluarga lantai dua dan menciak-ciak. Bluebird yang sedang bertengger di lampu hias (bahasa Inggris: chandelier) ruang tamu di lantai bawah mendengar suara khas jenis burung sebangsanya. Lalu, burung itu terbang ke atas menjumpai anak tadi.

“Hah, kamu dari mana…?!” seru bluebird bertanya, dengan bahasa burung tentunya.

“Aku berasal dari rumah itu,” jawab anak yang telah berubah menjadi burung itu, sambil mencicit senang tersenyum riang, menolehkan kepala, dan menunjuk dengan sayap kiri ke arah rumahnya. “Aku manusia…!” seru anak itu melanjutkan.

“Hah…?! Tidak mungkin…! Bagaimana bisa…?!” bluebird seraya tak percaya.

“Iya, benar! Aku tadi berandai-andai menjadi burung, lalu aku pun berubah menjadi seperti kamu!” kata anak itu menjelaskan.

Wowif only every human would be like you…” kata burung itu kepada anak.

“Hah, kamu bisa bahasa Inggris?!” tanya anak itu heran, “emang kamu berasal dari mana, Burung?”

“Asalku dari negeri yang indah sekali, negeri yang bernama Amerika. Terus, aku dibawa oleh pemilikku terbaaang jauh ke negeri yang juga tak kalah indah, ya mungkin negerimu ini…” jawab burung.

“Lalu… di mana pemilikmu sekarang?” masih tanya anak itu.

“Wah, aku lepas dari sarangku karena waktu itu anak pemilikku teledor lupa menutup pintunya waktu membersihkan sarangku. Karena burung tentu diciptakan secara insting untuk terbang, maka aku pun segera terbang ke luar rumah pemilikku. Aku terbang kian ke sana kemari hingga sampai di sini… Aku sebenarnya merindukan rumahku… Rumah pemilikku…” jelas sang burung sembari mulai agak sedih.

“…Rumahmu memang di mana…?” tanya si anak sambil mendengung kecil.

“Aku tidak tahu di mana… Tapi, rumah pemilikku itu besaaar sekali. Ada kolam renangnya! Lalu, lalu, juga ada patung seperti seorang dewi yang membawa kendi dengan air yang mengalir keluar dari kendi itu. Juga, kalau aku tidak salah lihat, di atap di atas pintu depan rumah pemilikku ada patung seorang prajurit memakai ketopong atau topi besi yang mengendarai kereta lima kuda! Gagaaah sekali, dan rumah itu megaaah sekali!” jawab bluebird membanggakan rumah pemiliknya.

“Bagaimana kalau kita cari bersama?! Di dekat sini sepertinya ada rumah seperti itu. Tetapi, memang di negeriku jarang ada rumah megah seperti itu,” usul anak itu.

Kemudian, kedua burung tersebut terbang menuju ke rumah yang diketahui oleh anak itu. Tetapi, ternyata rumah itu tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan bluebird. Mereka tidak menyerah. Lalu, mereka mencoba terbang ke sana kemari mencari-cari ke kawasan perumahan yang kira-kira terdapat rumah seperti penggambaran bluebird.

Ketika mereka sedang terbang melintasi suatu pinggiran jalan, si anak melihat sekilas salah satu rumah Yunani yang pernah ia amat-amati. Ia mengajak burung mendekat ke sana. Ciri-ciri, arsitektur, dan infrastruktur rumah itu mirip dengan gambaran dari bluebird!

Ada kolam renangnya. Ada patung dewi berwarna hijau muda memeluk kendi cokelat tanah dengan tangan kanannya dan mengalir air dari kendi itu. Ada patung prajurit gagah mengenakan ketopong menaiki kereta lima kuda sambil menggenggam erat kelima kekangnya! Itulah rumah pemiliknya burung! Sang bluebird berdecit kencang seolah tertawa girang.

Mereka memasuki rumah itu melewati posisi di atas kolam renang yang tanpa atap itu. Lalu, mereka terbang ke arah sangkar bluebird tadi. Burung itu segera masuk ke sangkar yang pintunya masih terbuka itu. Anak yang berubah menjadi burung hanya hinggap di jemuran. Pemilik rumah yang mendengar bunyi menciak-ciak kencang bluebird, langsung menuju ke sarang bluebird-nya yang sebelumnya hilang.

Bluebird itu adalah jenis burung kesayangan pemilik rumah Yunani itu. Ia meluap-luap gembira karena hewan peliharaannya telah kembali. Ternyata, pemilik rumah tersebut adalah duta besar Yunani untuk bangsa si anak tadi. Burung itu berterima kasih dengan bercicit kepada si anak yang telah menolongnya pulang. Burung itu―anak itu―juga mencicit mengatakan bahwa ia senang bisa membantu mencari rumahnya.

Karena mendengar suara cicit dari arah jemuran, duta besar itu terheran, kok bisa ada bluebird lagi…? Setelah beliau berpikir dan bertanya seperti itu, anak itu kembali berubah menjadi manusia. Bulu dan kulitnya berganti menjadi baju dan celana lagi. Sang duta besar lebih terhenyak! Tetapi, setelah anak itu menjelaskan, beliau setengah percaya. Lebih baik setengah percaya daripada setengah ragu, pikirnya karena orang pintar dan besar tidak boleh langsung mempercayai, serta lebih baik yakin ketimbang bimbang. Akhirnya, beliau mengajak anak itu berkeliling di dalam dan luar rumahnya―sesuatu yang ia impikan.


When everything seems to be going against you, remember that the airplane takes off against the wind, not with it.
―Henry Ford

***


Nyanyian Kupu-kupu




Ada sepasang kupu-kupu putih yang sedang terbang berkejar-kejaran di atas sebuah pohon. Orang yang melihat dari kejauhan menjadi tersenyum ceria karena keindahan hal itu. Para pemuda yang berada di dekat kupu-kupu itu tertawa gembira. Pemudi-pemudi yang berada agak jauh menjadi tenang. Dan di antara mereka ada yang urung atau batal bertengkar setelah melihat kedua kupu-kupu tersebut. Anak-anak kecil di bawah pohon tadi menjadi riang dan seolah berani menghadapi berbagai tantangan atau rintangan. Mengapa bisa seperti itu?

Apakah kalian tahu bahwa kupu-kupu bisa bernyanyi? Jadi, bukan hanya burung? Ya, kupu-kupu dapat bernyanyi. Khususnya, kupu-kupu yang berwarna putih. Selain itu, kupu-kupu juga bisa membuat perdamaian, keceriaan, keberanian, dan semangat terhadap orang-orang yang melihatnya terbang. Terutama kupu-kupu putih pun dapat memancarkan mata orang-orang itu.

Lagu apa yang dinyanyikan oleh kupu-kupu? Hanya satu lagu dan tentu lagu dengan bahasa kupu-kupu. Tetapi, terdengar seperti banyak lagu sesuai untuk kebutuhan orang-orang yang melihatnya. Biasanya, untuk para perempuan adalah perdamaian; untuk bapak-bapak dan para pemuda akan terdengar lagu yang membuat ceria; untuk anak-anak adalah lagu keberanian atau semangat; dan lain-lain.


***


Anak-Kanguru yang Pendiam




Ada seekor anak-kanguru yang pendiam, pemalu, dan suka bersembunyi di kantong ibunya. Oh ya, kanguru adalah hewan yang mirip kelinci tapi lebih besar, suka meloncat-loncat dengan kaki belakangnya yang lebih besar, panjang, dan lebih kuat daripada kaki depannya. Kemudian, hanya kanguru betina atau perempuan yang memiliki kantong khusus di perut luarnya untuk membawa anaknya yang masih kecil. Kanguru adalah hewan khas Australia, tetapi ada juga salah satu jenis kanguru yang terdapat di Papua, Indonesia.

Anak-kanguru tersebut jarang berbicara setiap hari. Padahal, ia mempunyai teman-teman yang gemar bercerita dan bercanda, seperti bacula (badak bercula satu), kuda nil, burung ketilang, dan lain-lain. Mereka, terutama kuda nil, juga kerap menggoda anak kanguru itu supaya menjadi ramai, sebab kata bacula, “Percuma, diam saja terus-terusan itu tidak ada gunanya.” Tetapi, ia keukeuh (bahasa Sunda: tetap bertahan, bersikeras, dll.) untuk berdiam diri.

Apa penyebab sehingga anak kanguru itu pendiam? Apakah karena faktor keturunan? Tidak juga, sebab ayah dan ibunya adalah kedua kanguru yang suka tertawa dan berkata-kata. Apakah karena ia pernah melakukan kesalahan besar yang tidak diketahui orang lain dan diketahui oleh dirinya sendiri saja? Tidak, ia belum pernah melakukan kesalahan besar, hanya kesalahan-kesalahan kecil wajar yang dilakukan oleh anak kecil. Lalu, apa dong penyebabnya? Mungkin sifat dan pikirannyalah yang menyebabkan dia menjadi pendiam. Sifat adalah hal yang misterius. Pikiran adalah hal yang serius. Tapi, sifat dan pikiran dapat diubah dengan cara mengubah sikap terlebih dulu.

Pada suatu jam makan siang, seekor anak-zebra perempuan mengajak anak kanguru itu untuk mencari makan di padang menghijau yang agak jauh. Namun, anak kanguru itu malu dan ingin menolak karena takut tidak tahu harus berkata-kata apa sepanjang perjalanan menuju ke kaki bukit itu dan saat makan nanti. Anak zebra tersebut tahu tatapan mata malu-malu dan keseganan anak kanguru, lalu meyakinkannya bahwa ia tidak perlu berkata apa-apa, baik saat di jalan maupun makan.

Kata anak zebra, “Jadilah dirimu sendiri. Bercandalah saat ingin bercanda. Berkatalah saat ingin berkata-kata. Kalau kamu mau mengakui kekurangan-kekuranganmu, kamu akan melampaui semua itu. Tapi kalau kamu berdiam diri terus-menerus terhadap apa pun, itu namanya kamu tidak menikmati kehidupan… Masak kamu mau kalah sama manusia?” Anak kanguru mendengarkan nasihat temannya itu, berhenti berpikir (malu atau khawatir), lalu sekadar keluar mencari makan bersamanya.

Esoknya menjelang pukul 3 sore, anak kanguru bersama ayah dan ibunya bermain di dekat sungai. Ketika mereka sedang bermain-main, salah satu musuh mereka, yaitu buaya, menongolkan kepala dan kedua mata dan mengintip, hendak menggigit salah satu dari antara mereka bertiga!

Ketika buaya bergigi banyak (istilahnya: giban) dan tajam itu mendekati dan hampir menyergap ayah dan ibunya anak kanguru dengan tiba-tiba, anak kanguru itu segera mengetahui bahaya kehadiran buaya, berteriak, dan mengingatkan kedua orangtuanya agar berlari spontan kencang menjauhi tepi sungai! Lalu, ia menghardik dan membentak buaya itu dengan puluhan kata-kata:

“Pergi kau, buaya! Kami tidak takut padamu! Kamu belum pernah merasakan tendanganku, ya?! Sekali kuinjak kepalamu, kau akan sadar siapa dirimu. Kamu hanya cicak besar yang tak tahu malu, yang mencari makan dengan menyusahkan hewan kecil. Pemalas! Penakut! Tidak mau mencari makan sendiri di tempat lain yang lebih luas!” Dan masih banyak lagi hardikan yang diucapkan anak kanguru yang membuat buaya batal menyerang, melainkan malah bersedih dan menyadari keadaan dirinya karena kata-kata anak kanguru tadi.

Ajaib, keadaan yang berbahaya atau kemelut, membuat anak kanguru tersebut tidak menjadi pendiam lagi. Ia memang masih kecil, tapi dengan kata-kata besar dapat membuatnya berani dan musuhnya yang besar menjadi merasa kecil.

Setelah bacula, kuda nil, burung ketilang, dan beberapa teman lainnya mendengar kabar dari anak kanguru tentang kejadian itu, mereka mengucapkan selamat dan kagum kepadanya karena keberaniannya. “Terima kasih, teman-teman,” kata anak kanguru, “tapi aku juga belajar dari kalian untuk berani berkata-kata. Dan ya, mulai dari sekarang aku tidak ingin menjadi pendiam lagi. Aku akan suka bercanda seperti kalian.” Lalu mereka tertawa bersama.

Ya, anak kanguru itu mulai menjadi periang, pemberani, dan makin jarang bersembunyi di kantong ibunya. Semua karena kata-kata ketika menghadapi buaya waktu itu. Lagipula, bukankah kanguru diciptakan untuk berjalan dengan cara melompat-lompat sebagai tanda hatinya yang riang, penuh dengan kata-kata yang meledak-ledak?


When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.
―Viktor E. Frankl


***


Zarafah yang Ingin ke Bintang




Ada seekor zarafah (kata yang sebenarnya untuk jerapah) yang ingin pergi ke bintang. Tapi bagaimana mungkin seekor binatang dapat pergi ke bintang? Terbang ke bulan saja sulit, apalagi ke salah satu bintang terdekat dengan bumi, yaitu―selain matahari (ya, matahari adalah bintang)―Proxima Centauri yang jaraknya sekitar 4,22 tahun cahaya atau kurang lebih 39.924.282.594.290,976 km! Tahun cahaya (light year) adalah satuan ukuran dalam astronomi (ilmu tentang matahari, bulan, bintang, dan planet-planet). Jadi, waktu untuk menuju ke Proxima Centauri tak terbayangkan lamanya.

Jadi, mungkin mustahil zarafah terbang ke sana. Lagipula, zarafah itu akan jauh dari keluarganya. Tetapi menurutnya, tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia binatang dan jarak terjauh adalah kebencian, ketidakpedulian. Zarafah masih ingin dan berharap dapat pergi ke bintang.

Pada suatu hari, pihak NASA (National Aeronautics and Space Administration atau keagenan pemerintah Amerika Serikat yang bergerak di bidang program dan penelitian angkasa luar) akan mengadakan proyek perjalanan jauh luar angkasa ke salah satu bintang, yaitu Proxima Centauri. Akan tetapi, mereka tidak akan menyertakan manusia dalam misi tersebut, melainkan dua robot dan seekor hewan. Dan biasanya, hewan yang diluncurkan ke angkasa luar sana adalah kera atau anjing. Tetapi, karena monyet dan anjing cepat bosan, tidak terlalu menyukai tantangan, dan hampir menyerupai manusia dalam hal mengenal kemustahilan, pihak NASA ingin mencari dan menerbangkan binatang lainnya yang suka tantangan, bukan pembosan, dan tidak mengenal ketidakmungkinan. Mengapa? Karena mereka akan membekukan hewan itu selama perjalanan panjang tersebut dan hanya robot-robot tadi yang mencairkannya saat sampai di tujuan. Tetapi mereka bingung, binatang apa yang cocok dengan kriteria mereka itu…?

Lalu, mereka mulai menyelidiki hewan-hewan, satu per satu, terutama yang unik dan memiliki atau melakukan hal yang sebenarnya mustahil. Mereka akhirnya mendapatkan zarafah.

Zarafah adalah binatang yang memiliki ketinggian kira-kira 4,3 sampai 5,2 meter dan merupakan hewan yang tertinggi dari semua hewan untuk saat ini, dengan bagian terpanjang adalah lehernya, bak menara yang bercorak. Konon menurut mitos dan Jean-Baptiste Lamarck, leher hewan zarafah sebelumnya pendek. Namun, karena pantang menyerah untuk meraih dan mencapai cabang-cabang pohon yang tinggi untuk mencari makan dan daun-daunan, tahun demi tahun lehernya memanjang.

Makanan berupa tanaman-tanaman berduri yang tidak dikunyah oleh zarafah, awalnya langsung masuk ke dalam lambungnya yang mempunyai empat ruang. Lalu, zarafah memuntahkannya kembali ke mulut, mengunyahnya, serta menelannya kembali dan mengirim ke bagian lain dalam lambungnya. Itu adalah proses yang cukup panjang. Makanan harus melalui 3 sampai 4 meter di dalam leher zarafah dengan semacam “lift” atau pengangkat pada lehernya yang memungkinkan hal itu bisa terjadi.

Saat tertidur, zarafah membengkokkan dan menjulurkan lehernya di atas tubuhnya. Kecuali untuk beberapa menit, zarafah juga tidur berdiri dengan posisi seperti itu. Zarafah pun merupakan hewan yang tidur dengan waktu terpendek atau tercepat di antara seluruh binatang mamalia (vertebrata {bertulang belakang} dan menyusui), yakni hanya 10 menit hingga 2 jam per hari! Dan zarafah-zarafah tidak tidur semuanya pada waktu bersamaan. Salah satu dari mereka terjaga dan merelakan tidurnya untuk melindungi yang lainnya.

Kemudian, bagaimana jika zarafah minum air, sementara lehernya menjulang panjang? Sedangkan, kalau makhluk hidup seperti manusia dan zarafah sendiri mencoba berdiri di atas kepala, wajah akan memerah karena darah mengalir deras ke arah kepala dan memberikan tekanan pada pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan otak atau kepala sangat sakit. Tetapi, hal itu tidak dialami zarafah karena ada mekanisme (cara kerja atau sistem) khusus di dalam kepalanya. Ada katup-katup (penutup) kecil pada bagian dalam pembuluh darah di kepala zarafah. Saat kepala zarafah merunduk ke bawah, katup-katup tersebut mencegah tekanan darah yang tinggi di kepalanya.

Masih ada satu keunikan lagi dari beberapa hal mustahil lainnya yang ditemukan oleh pihak NASA tentang zarafah. Corak petak pada badan zarafah membuatnya sukar dikenali oleh binatang pemangsa utama seperti raja rimba, yaitu singa. Zarafah juga dapat berlari dengan kecepatan 55-60 kilometer per jam. Saat mulai berlari, zarafah menggerakkan kepala ke depan dan belakang seumpama pompa dan menggulung ekornya. Zarafah tidak mengambil langkah menyilang, tetapi menggerakkan kaki kiri depan dan belakang terlebih dahulu, kemudian kaki kanan. Pada saat berbahaya, misalnya sang singa mengadang atau hendak menerkam, zarafah bukannya bersedih atau ketakutan, melainkan akan menyepak dengan tendangan kaki panjangnya yang kuat dan mematikan!

Staf-staf di NASA takjub terhadap keajaiban yang dimiliki dan kemustahilan yang dilakukan hewan zarafah, maka mereka segera menetapkan jadwal keberangkatan zarafah ke bintang yang terdekat dari bumi. Keunikan zarafah akan segera memampukannya meraih impiannya selama ini.

NASA memilih seekor zarafah muda berusia 12 tahun yang diberi nama Harafaz. Pada 27 September 2085, NASA membekukan dan mengorbitkannya ke angkasa luar dengan dua robot menuju perjalanan panjang dan penerbangan lama ke Proxima Centauri. NASA menamakan proyek itu Misi ASA (ASA Mission). Pihak NASA pada waktu itu juga menitipkan Harafaz dan Misi ASA kepada generasi penerus staf NASA berikutnya untuk tersampainya Harafaz di bintang itu dan membekukannya kembali, memulangkannya, dan meneruskan proyek atau misi itu kepada generasi yang selanjutnya.

Tahun demi tahun berlalu. Pada 12 Agustus 2170, pesawat ulang alik khusus yang mengangkut dua robot beserta Harafaz tiba di dekat Proxima Centauri. Dua robot tersebut yang telah diset sebelumnya oleh pihak NASA untuk mencairkan es pembeku spesial Harafaz, lalu melaksanakan tugas mereka.

Ketika Hafaraz membuka mata untuk pertama kalinya setelah tertidur terbekukan selama 85 tahun, matanya mencerah dan ia berkata dalam hatinya, “Waaah, di mana aku ini…? Ini bukan di bumi.” Setelah mendengar bunyi dan melihat tulisan Sampai di bintang Proxima Centauri, ia pun berseru, “Wow… leher ini telah berhasil membawaku meraih tempat sejauh ini…!”


***


Kerajaan yang Lengah



“Mencintamu takkan kusesali karena aku yang memilihmu.”
―Paula Allodya (Audy) Item

Ada seorang gadis yang empunya (penguasa) Kerajaan Bunga dan Kerajaan Buku. Jadi, dia adalah maharani (ratu) muda pada dua kerajaan itu.

Bunga-bungalah yang membuatnya hidup. Jika ada bunga-bunga yang kesegarannya menghilang, wanginya berhenti, atau tidak memberi sarinya kepada kumbang-kumbang yang membutuhkan, apalagi menjadi layu, maka gadis itu napasnya akan berkurang. Jadi, sebisa mungkin, dia menjaga agar bunga-bunga di kerajaannya jauh dari hal-hal itu supaya tetap dapat menarik napas panjang dan menghirup oksigen (udara) dengan lega.

Buku-bukulah yang membuat gadis itu dapat melihat lebih jelas, mendengar dengan tajam, dan merasakan alam sekitar secara nyata. Jika ada lembaran-lembaran buku yang sobek, basah terkena air, atau kalau dia lupa menyumbang beberapa buku per bulan untuk rakyatnya yang adalah teman-temannya, maka pancaindra ratu muda tersebut sensivitasnya akan berkurang. Tidak peka. Jadi, sedapat-dapatnya, gadis itu merawat buku-buku di kerajaannya, menaruh di tempat-tempat yang terbaik, dan mengingatkan diri untuk selalu menghibahkan buku-buku per bulan kepada warga kerajaannya.

Gadis itu memerintahkan para pegawai dan prajuritnya untuk membantunya melakukan semua hal itu. Akan tetapi… apakah kerajaan itu tidak boleh lengah? Tidak boleh. Tetapi, ada tiga pegawai yang lengah dan mencoba untuk tidak melakukan tugasnya masing-masing demi kelangsungan kerajaan, serta kepekaan dan kehidupan ratu. Tiga pegawai itu terdiri dari dua penyiram bunga dan satu pemasang sampul depan buku.

Ketiga pegawai sering mangkir (meninggalkan) pekerjaan mereka dan malah asyik tidur, mengobrol, atau mengganggu atau mengajak pegawai-pegawai lainnya yang tengah tekun melaksanakan kewajiban supaya seperti mereka. Hasilnya, beberapa bunga hampir melayu dan sejumlah buku terlantar, bahkan ada yang digerogoti rayap!

Ketika setahun berlalu setelah mereka berleha-leha dan lengah seperti itu, sang ratu mulai agak merasakan sesak napas. Pandangannya sedikit kabur. Jarang mendengarkan secara teliti atau cermat. Tidak merasa makanan asin atau manis. Dan malas keluar sejenak dari istana saat sore untuk menikmati udara dan cahaya matahari sore. Para penasihat-ratu yang bijak dan sudah sepuh menyadari keadaan ratu mereka dan menanyakan kepadanya apa gerangan penyebab perihal itu? Tetapi ratu tidak tahu. Apakah ratu lalai merawat bunga-bunga dan menjaga buku-buku? Seingat ratu tidak, dia sudah melakukan tugas yang menjadi bagiannya. Mereka berpendapat bahwa berarti ada pegawai atau prajurit yang gagal atau tidak melaksanakan tugas.

Lalu, para dewan penasihat memberi petuah dan menyarankan kepada ratu untuk mengadakan ujian di ruang utama kerajaan berupa tes pola menyiram bunga yang benar dengan takaran air yang pas dan lain-lain, serta tes cara menyampul buku dengan ukuran ke halaman depan dan belakang buku yang tepat. Jika seorang pegawai atau prajurit yang menjadi perwakilan ratu untuk membantu melakukan tugasnya makin rajin dan telaten bekerja, makin subur bunga-bunga dan elegan buku-buku kerajaannya, dan dalam ujian itu cara-cara pegawai atau prajurit tersebut pasti persis sesuai persyaratan (kriteria). Namun, apabila seorang pegawai atau prajurit kerap berleha-leha dan lengah menunaikan perintah ratu, maka para penasihat dan ahli perbungaan atau perbukuan akan mengetahui dengan sigap celah-celah kesalahan yang terdapat pada tes itu.

Giliran ketiga pegawai tadi menyelesaikan ujian masing-masing. Ternyata karena telah setahun lebih mereka lengah, dua penyiram bunga dan satu penyampul buku lupa cara dan ukuran yang benar. Akhirnya, kedapatan kesalahan fatal dalam ujian yang mereka bertiga tempuh. Para dewan penasihat marah besar dan para ahli tersinggung karena kelengahan mereka dan merasa percuma mengajari ilmu perbungaan dan perbukuan kepada para pegawai tersebut! Selanjutnya, mereka menanyakan kepada gadis pemilik Kerajaan Bunga dan Kerajaan Buku, apa yang menjadi ganjaran bagi ketiga pegawai itu? Sebab tindakan mereka melalaikan tugas telah melukai, mengancam, dan membahayakan ratu.

Ratu berpikir sejenak memakai hati. Kemudian, dia pun meminta kebijakan dan kemurahan hati para tua-tua kerajaan supaya mengikuti dan menyetujui keputusan yang akan diambil olehnya. Keputusan apa itu? Memaafkan ketiga pegawainya yang telah berbuat salah itu dan memberi mereka kesempatan selama sebulan saja mempelajari ulang cara menyiram dan menyampul dengan benar. Jika mereka tidak sanggup, tidak mau, gagal, atau mengulang menjadi lengah seperti sebelumnya, ratu menyerahkan mereka kepada para penasihat ratu dan mempersilakan untuk menghukum mereka.


***


Muslih dan Tukang Jamu



It is impossible for your life to produce anything beyond the strength of your moral fiber.
―Robb Thompson

Ada seorang murid SLTP yang bertanya kepada ayahnya, “Yah, apa ada istilah moralologi atau ilmu yang mempelajari tentang moral*?”

Ayahnya menyahut, “Wah, pertanyaanmu berat juga, ya. Setahu Ayah sih tidak ada pengetahuan atau istilah seperti itu atau ilmu yang mempelajari tentang moral. Tapi, kalau orang yang mengajarkan tentang moral, ada, dan Ayah tahu beberapa orang seperti itu.”

“Oh ya, Yah??? Siapa saja mereka, Yah…?” siswi SLTP itu penasaran.

“Ada banyak. Tapi, Ayah coba hanya menceritakan dua orang kepadamu,” jawab ayahnya seraya hendak lanjut menerangkan, “salah satunya atau yang pertama adalah seorang kakek yang berusia 68 tahun. Dia adalah seorang muslih** dan hendak menunaikan ibadah haji. Seminggu sebelum berangkat berhaji, kakek itu mengadakan syukuran di rumahnya lalu membagi-bagikan beberapa nasi kotak kepada tetangga-tetangga supaya mereka mendoakannya pulang dengan selamat setelah ibadah haji.

“Nah, walaupun kakek itu penganut agama Islam, dia juga memberikan nasi kotak itu lho kepada tetangga-tetangga yang beragama lain juga supaya mendoakan dia. Malah, dia juga menyalami, mengecup tangan dan pipi seorang bayi tetangganya yang Kristen, dan meminta didoakan agar dapat bertemu lagi dengan dia!

“Kakek itu juga terkenal terbuka atau mau bergaul dengan semua orang. Tidak seperti beberapa warga yang menganut agama, tapi menutup hubungan terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan.”

“Siapa nama kakek itu, Yah?” tanya siswi itu.

“Namanya Pak Rohim, Nak,” jawab ayahnya seraya melanjutkan, “pernah juga suatu kali pada malam hari yang gelap, kakek itu menolong dan memberi bensin kepada seorang anak muda yang kehabisan bahan bakar di jembatan dekat perumahan Sapta. Waktu itu, cerita Pak Rohim kepada Ayah setelah mengalami kejadian itu, Pak Rohim sedang perjalanan pulang dengan sepeda motor ke rumah, dan menyalip seseorang yang sedang menuntun sepeda motor, ya pemuda tadi. Pak Rohim lalu berhenti di depan pemuda itu dan memberi bensin cadangan dalam botol kepadanya.

“Padahal, di jalan jembatan yang sepi itu, bisa saja anak muda itu berpura-pura kehabisan bensin atau mogok untuk menodong orang yang menolongnya! Tapi, Pak Rohim tidak menaruh curiga. Kalau Ayah sih sudah pasti curiga, waspada, dan hati-hati…”

“Iya, Yah, bukannya harus hati-hati…???” siswi itu memotong penjelasan dari ayahnya.

“Iya… memang sebaiknya hati-hati. Tapi, mungkin Pak Rohim karena umat yang taat, dia selalu berdoa di manapun, kapan pun, dan menghadapi apa pun. Jadi, dia tidak takut saat itu. Dan, malah mungkin dia menjadi seperti malaikat penolong yang diutus oleh Sang Tuhan, Nak,” terang ayahnya.

“Oh… gitu ya, Yah…?” tanya anaknya.

“Ya. Sikap Pak Rohim dalam beragama dan berhubungan dengan orang-orang, dan keberanian dan kepercayaan Pak Rohim bisa menjadi pelajaran moral untuk kamu dan Ayah,” jelas ayahnya.

Ketika siswi SLTP tersebut paham dan puas terhadap penjelasan ayahnya dan ingin keluar untuk bermain  ke rumah kawannya, dia ingat ayahnya masih cuma menceritakan satu orang. Orang kedua belum. Lalu dia berkata kepada ayahnya, “Oh iya, Yah! Siapa orang kedua yang tadi ingin Ayah ceritakan…?”

“Oh ya… orang yang kedua adalah seorang ibu-ibu penjual jamu, yang menurut Ayah, bisa jadi pengajar moral untuk kita semua,” kata ayahnya.

“Oh ya, Yah??? Kok bisa…?” anaknya ingin tahu.

“Wah, penasaranmu bisa mengalahkan pengetahuan Ayah, nih…” canda ayahnya sambil tertawa, kemudian melanjutkan, “iya… ada seorang ibu-ibu yang menjual jamu, dan Ayah yakin ibu-ibu ini mewakili para penjual jamu yang lainnya di mana-mana.”

“Kok bisa, Yah…?”

“Iya, karena di mana-mana setiap pagi, ketika Ayah sedang menunggu bus kantor di pinggir jalan, Ayah sering melihat—tapi tentu bukan Ayah saja yang melihat; orang-orang lain juga pasti melihat—ibu-ibu penjual jamu itu, dan bukan hanya penjual jamu itu, tapi ibu-ibu penjual  jamu lainnya, bersemangat menggendong dagangannya di punggungnya. Padahal, Ayah yakin itu pastiii beraaat sekali! Ayah saja, kalau menggendongnya setiap pagi, mungkin tidak mau karena berat sekali,” terang ayah.

“Iya ya, Yah…”

“Iya, apalagi kamu yang nggendong,” celoteh ayahnya, lalu putrinya itu tertawa.

Ayahnya menambahkan, “Nah… semangat penjual jamu itu juga bisa menjadi pelajaran moral untuk kamu dan Ayah. Ibu-ibu itu tidak tahu apakah jualannya akan laku dan habis hari itu, tetapi dia tetap bersabar dan bersemangat bekerja menjual jamunya. Ayah saja kadang sampai malu waktu melihat ibu itu menyeberang jalan dengan semangat seperti seorang samurai Jepang—kamu tahu ‘kan samurai Jepang?—kalau Ayah lagi malas berangkat ke kantor atau bekerja. Nah! Waktu Ayah melihatnya, semangatnya menular! Ayah jadi semangat berangkat bekerja!

“Ibu itu memang lebih cocok jadi guru moral daripada penjual jamu yang mungkin bisa membuatmu mual…”

“Iya ya, Yah…”

“Iya… Nah, setelah kamu mendengarkan cerita penjelasan dari Ayah, pelajaran moral apa yang dapat kamu simpulkan?” tanya ayahnya.


*n.b.(a): moral adalah (1) ajaran tentang baik-buruk yang diterima oleh masyarakat umum tentang perbuatan, sikap, kewajiban, dan lain-lain; (2) kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, dan sebagainya; (3) ajaran yang dapat disimpulkan dari sebuah cerita.

**n.b.(b): orang yang membawa perbaikan.


“Betapa dewasanya kita dulu.”
―Julius Fernando


***


Keluarga Angsa




Ada sebuah keluarga angsa. Di dalam keluarga angsa itu ada empat anak angsa.

Oh ya, angsa itu berbeda dari bebek, ya. Angsa adalah itik besar yang berleher panjang. Sedangkan, bebek atau itik adalah unggas yang hidup di darat, pandai berenang, badannya seperti angsa, tetapi kecil.

Masing-masing keempat anak angsa itu, yaitu:

1) Miti, si disiplin. Seperti angsa-angsa atau bebek pada umumnya, Miti suka antre, bahkan berdiri di deretan paling belakang, mengalah dan membiarkan angsa lainnya berjalan di depan mendahului. Tidak suka berebutan atau balapan. Hanya suka berkejar-kejaran kalau bermain bersama saudara-saudaranya.

2) Wita, sama-sama angsa perempuan (betina) seperti kakaknya Miti, adalah si penceria yang ceriwis atau cerewet. Angsa manapun yang bersama dengan Wita harus tahan terhadap ocehannya yang banyak sekali dan bahan obrolan yang selalu tersedia.

Wita senantiasa berusaha membuat teman-temannya ceria seperti dia. Jadi, walaupun kadang mereka agak kesal karena dia terkesan mendominasi pembicaraan, mereka merasa sepi tanpa kehadirannya, apalagi saat suasana juga sepi. Namun, jangan anggap Wita tidak bisa bersedih. Justru kalau sedang gundah, dia akan sedih sekali dan menangis keras. Tapi, karena ketiga saudaranya sangat peduli kepadanya, mereka selalu membuatnya tertawa dan ceria lagi. Dan Witi akan lupa segala kesedihannya saat bermain dan bercanda bersama mereka.

3) Dias adalah satu-satunya, selain ayah angsa tentunya, anak-angsa yang jantan (laki-laki) di antara Miti, Wita, dan anak-angsa bungsu di dalam keluarga tersebut. Karena ia adalah angsa jantan, Dias adalah si pekerja keras. Mungkin terpengaruh ayahnya. Seperti halnya angsa dan itik-itik pada umumnya yang mengayuh kedua kakinya dengan kuat dan kencang, Dias juga senang melakukannya, tapi ia memedal lebih keras daripada mereka semua, apalagi saat sedang bermain di danau atau sungai. Bahkan, ia menganggapnya terbang! Tetapi, Dias tidak menampakkan kerja kerasnya ke luar kepada semua angsa. Ia cukup tenang tapi melakukan. Ia hanya kadang-kadang dalam menunjukkan sesuatu yang harus dilakukan atau membuktikan kepada teman-temannya dan keluarganya bahwa ia bekerja keras. Itu memang perlu, sebab kalau tidak, bisa-bisa ia selalu disepelekan.

4) Anak-angsa yang terakhir di keluarga angsa itu adalah seekor angsa betina bernama Asel. Dia merupakan angsa yang paling anggun di antara saudara-saudaranya, terutama tentu saja daripada Dias si pekerja keras. Namun, Asel mau berlagak bodoh dan sekonyol-konyolnya hanya untuk menghibur teman-teman dan ingin berteman dengan semua kalangan, teristimewa angsa-angsa atau itik yang kecil atau kurang mampu.

Kadang, Miti dan Wita iri dengan keanggunan Asel si angsa elegan. Tetapi, tidak selamanya seperti itu karena Asel selalu meniru apa pun yang dikerjakan oleh kedua kakaknya itu. Lagipula, Mita, Wita, dan Asel adalah satu keluarga, satu saudara. Segala sesuatu yang ada pada Asel, ada pada Mita dan Wita. Hanya satu hal dan cara yang membuat Asel melupakan keanggunannya, yaitu ketika bermain dengan teman-temannya, apalagi bercanda dan beramai-ramai bersama saudara-saudaranya. Anggun, elegan, atau cantik akan tetap anggun, elegan, atau cantik meskipun kotor, berlumpur, dan dekat sampah bila mempunyai hati seelegan keanggunan Asel.

Nah, suatu hari, mereka berempat bermain bersama ibu dan ayah di sungai. Mereka bermain cepat-cepatan mengambil kayu yang dilempar oleh ayah. Ayah memungut dengan paruhnya sebuah ranting yang mengambang di dekatnya, lalu menghempaskannya kuat-kuat. Kemudian, ibu memberi mereka aba-aba untuk mulai mengejar ranting kayu itu. Pemenangnya atau yang berhasil pertama mengambil ranting itu dan mengembalikannya kepada ayah, akan menerima makanan spesial dari ibu.

Miti, seperti biasanya, mengalah dan membiarkan Wita, Dias dan Asel untuk berebutan mengejar kayu itu. Tapi, karena ibu mendesak dan menyuruhnya untuk berpartisipasi, dia segera berenang mengejar ketiga saudaranya yang telah memulai duluan dan berada di depan.

Dias, tentu saja dengan sekuat tenaga, mengayuh kedua kakinya memburu ranting yang terus hanyut terbawa arus itu. Asel dan Wita masih berjejer dalam posisi berdampingan mengejar Dias yang agak jauh di depan. Wita masih sempat-sempatnya mengajak Asel mengobrol sambil berenang. Asel tidak mau menggubris karena kalau mengobrol saja sudah dapat menguras tenaga, apalagi mengobrol sambil berenang! Asel pun berusaha tidak tampil anggun dengan cara memedal makin cepat meninggalkan Wita.

Ranting masih jauh digiring arus bawah air sungai yang cukup deras. Juga, Dias, Asel, Wita dan Miti berenang kian jauh. Ternyata, arus membawa mereka menuju pantai dan hampir ke laut! Sekarang mereka bersama-sama, sementara itu ranting sudah tidak terlihat lagi…

Wita takut. Dia belum pernah melihat pantai atau laut sebelumnya. Di antara hempasan dan di tengah naik-turun gelombang pantai, Asel, Dias dan Miti mencoba menenangkan Wita karena mereka pun belum pernah melihat atau merasakan air pantai. Tetapi, Wita malah menangis mengetahui fakta itu! Lalu, Dias bersikap tenang dan menyuruh Miti dan Asel melakukan hal yang sama, kemudian mengajak Wita untuk berenang bersama-sama kembali ke arah sungai yang tadi.

Sembari kaki masih mengepak-ngepak, Dias mengatakan kepada Wita supaya melihatnya yang tenang, Miti yang juga tenang, serta Asel yang kembali tampil tetap elegan setelah diterjang gulungan ombak-ombak. Wita menjadi ikut tenang, berhenti menangis, dan berkata bahwa, ya, mereka akan menghadapi ini berempat. Saudara adalah satu. Angsa yang keluar dari rahim yang sama akan menghadapi hal apa pun bersama-sama.

Kemudian, Dias menyemangati saudari-saudarinya tersebut untuk menendang-nendangkan kaki ke depan dan belakang sekencang dirinya. Melihat semangat adiknya itu, Wita seusai menangis, dia mendukung ketiga saudaranya untuk ceria menghadapi masalah ini.

Akhirnya, mereka sampai di hilir (muara: tempat berakhirnya aliran sungai di laut) sungai. Tapi, perjuangan mereka bukan sampai di situ. Mereka perlu mengayuh ke arah rumah dan keluar dari sungai untuk menuju ke darat. Ibu dan ayah masih menunggu di rumah, percaya kepada mereka berempat dan berpikir mungkin masih bermain ke tempat teman-teman mereka.

Saat dalam perenangan hampir tiba di sungai bagian dalam di dekat reban (rumah untuk angsa atau itik), Asel memperhatikan ada sebuah ranting di permukaan air dan dia ingin membawanya pulang untuk menunjukkan kepada ibu bahwa dia berhasil mengambil kayu permainan tadi. Tapi, kata hatinya membisik lirih untuk ingat pada inti hati kaum angsa, yaitu kejujuran. Asel mematuhi nasihat lembut sekaligus teguh itu dan memikirkan hal lain saja seperti kebersamaan dengan saudara-saudaranya dan dapat kembali selamat menemui orangtuanya mereka.

Setibanya di rumah, ibu dan ayah menyambut mereka, serta bertanya kok lama sekali pulangnya. Lalu Miti, Dias dan Asel menyerahkan tugas menceritakan kejadian yang mereka alami itu, tentu saja, kepada si Wita yang senang bercerita, sembari bersama-sama menyantap masakan nikmat dari ibu.

In a day, when you don’t come across any problem, you can be sure that you are traveling in a wrong path (Jika Anda tidak menemui masalah apa pun, Anda tidak akan pernah yakin bahwa Anda berada di jalan yang salah).”
―Iwami Vivekananda


***


Jamur yang Baik Hati



Di antara semua tumbuhan, jamur adalah jenis tumbuhan yang direndahkan oleh mereka karena sifatnya yang parasit (benalu: hidup membebani tumbuhan lain). Mereka berkata bahwa jamur itu tidak akan mengingat kebaikan, tidak mau, tidak sanggup membayar utang atau membalas jasa. Oleh karena itu, tiap jamur akan merasa malu saat berdiri di mana pun dan berjalan dengan kepala menunduk.

Jamur juga agak tidak berani bertemu keluarga tumbuhan lain yang masih bertalian (memiliki hubungan saudara) atau dari kalangan jamur sendiri yang telah lama tidak bertemu. Jamur itu pun takut bersua dengan handai tolan (kawan-kawan) atau teman-teman lama. Jamur merasa seperti itu karena merasa direndahkan dan belum sukses atau patut dihargai. Tetapi, tidak semua jamur seperti itu―lagipula, sebenarnya tak semua tumbuhan lain dan teman lama itu merendahkan atau menghakimi jamur.

Ada satu jamur pendek berwarna putih dengan corak polkadot (bulatan-bulatan) kecil abu-abu di kepala ovalnya. Namanya adalah Smundafri. Smundafri ini masih muda tapi sudah menjadi jamur yang kaya. Sebelumnya, dia sama seperti jamur-jamur pada umumnya yang malu, minder, dan merasa sebagai golongan rantai makanan terbawah. Namun, karena kerja keras, sikap yang tidak terlalu mencemaskan pikiran orang lain terhadapnya, dan tidak mau mengecilkan dirinya sendiri―apalagi dia sudah pendek dan kecil―ataupun tumbuhan yang lain, Smundafri menjadi jamur yang berhasil! Dan apabila ada tumbuhan-tumbuhan lain yang tetap meremehkannya karena fakta bahwa dia adalah sebuah jamur, dia akan berdiri tegap, kepala tegak, berjalan menjauhi tak mengacuhkan mereka. Dia percaya diri dengan apa pun yang dia miliki, raih, dan lakukan!

Ada satu hal utama yang pernah Smundafri katakan: Pada dasarnya, dulu semua tumbuhan adalah jamur. Mereka saling membebani, mengandalkan, dan terkait. Seiring siklus hidup dan waktu yang terus berlalu, beberapa tumbuhan berubah; beberapa tumbuhan menetap. Hanya, mereka melupakan silsilah (asal usul) mereka dan beberapa jamur masih tetap tidak mau berubah―selalu menjadi parasit dan beban.

Lain halnya dengan Smundafri. Ia mau mengingat asal keturunan, nenek moyang, serta masa lalunya. Memang dia sempat apatis (cuek) terhadap keadaannya lalu menyamakan diri seperti jamur-jamur kebanyakan. Tapi dia berpikir dan belajar boleh-boleh saja kenyataan fisik menyatakan bahwa dirinya adalah sebuah jamur, tetapi di dalam dirinya tidak mesti menjadi jamur. Hatinya harus luas, pikirannya terbuka, dan mau berubah seperti tumbuhan-tumbuhan lain yang makin maju.

Smundafri sudah berani bertatap muka dan beradu mata dengan keluarga atau saudara tumbuhan lain, serta sahabat-sahabat lama yang telah lama pula tiada bersua. Dia tampil apa adanya. Karena dulu dia pun berani bersikap apa adanya, maka baik saat masih belum beruang banyak maupun saat kaya, dia tampil apa adanya. Dia juga peduli terhadap teman-teman lamanya yang belum berhasil. Dia tidak ingin mereka iri terhadapnya, melainkan ingin mereka pun sukses seperti dirinya, lalu dengan tulus―tanpa motif tersembunyi di balik hati―membuat jamur-jamur yang masih jamur dan menjamur yang belum berhasil, menjadi jamur yang berhasil. Setidak-tidaknya, kalau bukan dalam keuangan, ya dalam melakukan kebenaran atau kebaikan, serta mengerti arti kebermaknaan kehidupan bahwa mereka bukan sekadar jamur!

Oh ya, Smundafri juga membayar empat kali lipat untuk utangnya dari tumbuhan-tumbuhan dan jamur yang lain. Dan mereka kaget (terhenyak!) saat melihat keberanian, kepercayaan diri, kepedulian, dan menerima kebaikannya.

Give me liberty, or give me death!” ―Patrick Henry

Things do not change; we change.” ―Henry David Thoreau

“Sebuah jamur pun mungkin bisa menjadi suatu tenaga atom bila dia mau.” ―Franisz Ginting


***


Sopir Truk-Besar yang Sabar



If you view all the things that happen to you, both good and bad, as opportunities, then you operate out of a higher level of consciousness.
―Les Brown

Biasanya, ada empat jenis SIM (Surat Izin Mengemudi) di Indonesia. SIM adalah bukti dan identifikasi (pengakuan) yang diberikan POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) kepada orang-orang ingin mengemudi. Tetapi, harus memenuhi persyaratan terlebih dulu, yaitu tes kesehatan, memahami rambu-rambu lalu-lintas, bisa mengemudikan kendaraan bermotor, dan beberapa syarat lainnya.

Oh ya, beberapa jenis SIM itu adalah:

  • SIM A (SIM A Umum) untuk mobil pribadi atau kendaraan bermotor penumpang umum dan barang beroda empat dengan jumlah berat tidak lebih dari 3.500 kg.
  • SIM B1 (SIM B1 Umum) untuk mobil penumpang dan barang perorangan atau umum dengan jumlah berat boleh lebih dari 3.500 kg, seperti bus.
  • SIM B2 (SIM B2 Umum) untuk mengemudikan kendaraan alat berat atau kendaraan bermotor dengan menarik angkutan gandengan (tempelan) perseorangan maupun umum dengan total berat untuk gandengan tersebut boleh lebih dari 1.000 kg, seperti truk gandeng (tronton) atau truk besar; dan terakhir adalah
  • SIM C untuk kendaraan bermotor roda dua atau sepeda motor.

Nah, syarat-syarat tadi adalah berusia 16 tahun atau di atasnya untuk mengurus SIM C; 17 tahun atau ke atas untuk SIM A (dan khusus SIM tambahan, yaitu SIM D untuk para penyandang cacat); 20 tahun untuk SIM B1; dan umur 21 tahun untuk SIM B2. Lalu, ada surat keterangan sehat jasmani dari dokter atau surat lulus tes psikologis, serta ujian teori dan praktik mengemudi.

Kemudian, orang-orang yang ingin memohon memiliki SIM B1 harus memiliki SIM A sekurang-kurangnya selama satu tahun. Juga, orang-orang yang ingin mengajukan kepemilikan SIM B2 setidak-tidaknya sudah mempunyai SIM B1 selama setahun.

Jadi, SIM B2 (terutama SIM B2 Umum) adalah jenis SIM yang paling tinggi dan seseorang yang memilikinya haruslah orang yang sabar karena coba bayangkan kalau ia mengemudikan truk gandeng dengan ugal-ugalan di jalan! Pastilah terjadi kecelakaan. Jadi, orang itu harus mengemudi secara perlahan. Tetapi, apakah ia harus bersabar saat para pengguna jalan lainnya mengebut, sengaja menyalip dan membunyikan klakson kencang terus-menerus di belakangnya? Apakah ia tetap menjalankan kendaraannya pelan-pelan saat pengemudi lain mengejeknya lambat bak siput atau keong atau saat ada perampok? Ya, mungkin seperti itu.

Ada seorang sopir truk-besar orang yang sabar seperti itu. Sebelum ia memiliki SIM B2 Umum, ia pernah gagal tes sebanyak delapan kali, khususnya pada ujian psikologis, teori, dan praktik mengemudi melalui simulator. Ia pernah berkata bahwa sepertinya lebih mudah mengurus dan mendapatkan surat izin menerbangkan pesawat. Namun, ia mau belajar dan tetap berusaha berkali-kali sehingga lolos sampai mendapatkan SIM itu.

Tibalah saatnya untuk membawa truk-besarnya ke jalan raya. Pada awalnya, ia agak ragu dan takut menyetir kendaraan sebesar itu karena baru pertama kali, apalagi tanpa ada teman yang membimbing. Namun, ia mau menenangkan diri dan mengingat-ingat terlebih dulu apa saja yang harus dilakukan atau dipersiapkan sebelum menyalakan mesin truk dan mengemudikannya di jalan. Alhasil, keberanian, ketenangan, dan kesabarannya mulai membuahkan hasil dan membuatnya terbiasa mengemudi truk-besar di jalan yang ramai.

Hari demi hari berlalu seperti laju kendaraan-kendaraan. Ada seorang sopir bus umum dan dua orang pengendara sepeda motor yang tidak menyukai cara mengemudi dan kelambatan sopir truk-besar tadi. Sopir bus menganggapnya menghalang-halangi jalur kanan jalan. Padahal, kalau sopir truk itu menjalankan truk besarnya di lajur kiri, maka akan sering berhenti dan malah akan membahayakan para pejalan kaki atau mungkin orang-orang yang berjogging.

Jadi, sopir bus itu kerap kali menyerobot dan menyalip secara tiba-tiba dari sebelah kiri ke kanan depan truk-besar milik sopir sabar itu. Atau, jika sopir truk tersebut sedang berada di lajur tengah di jalan yang lapang 3 – 4 jalur, sopir bus umum akan menerobos dari kanan menuju ke depan truknya, bahkan nyaris bertubrukan antara bagian belakang bus dengan muka truk! Namun, sopir truk-besar bersabar dan menganggapnya biasa saja karena sering terjadi dan menerimanya. Hal ini justru dapat melatih kesabaran dan menambah keberaniannya.

Demikian pula kepada dua pengendara sepeda motor tadi. Sopir truk-besar itu tampaknya mempelajari cara mengemudi orang-orang Jepang yang tertib mengantre dan mempersilakan pengendara lain lewat duluan. Nah, sopir truk selalu mengalah dan memberikan jalan supaya kedua pengendara sepeda motor itu―bahkan terhadap semua pengedara sepeda motor―melaju terlebih dulu. Tetapi, mereka tidak sabaran, selalu saja mengedipkan lampu ke arah sopir truk dan mengaungkan klakson modifikasi yang keras bunyinya, agar sopir itu memberikan jalan yang lebih luas. Padahal, sopir truk sudah menyisakan jalan yang lebar. Bahkan, setelah kedua pengendara sepeda motor itu di dekat samping pintu truk, mereka juga kadang kala mengumpat dengan kata-kata kasar―sering kali nama-nama hewan di kebun binatang―kepada sang sopir. Tetapi, lagi-lagi, ia bersabar dan menganggap mereka berkata-kata untuk diri mereka sendiri, serta sedang terburu karena sakit perut ingin cepat-cepat ke kamar mandi atau toilet.

Lalu, suatu hari, keadaan itu berubah total 180 derajat. Kesabarannya menjadi kemarahan! Amarah yang peduli terhadap seseorang. Sore itu ada ibu-ibu yang sedang berjogging sore yang ditabrak oleh seorang pengendara sepeda motor! Ibu itu terjatuh dan kaki kanannya tampak terluka, tetapi sepeda motor itu tidak terjatuh. Lalu pengendaranya hengkang begitu saja alias tabrak lari!

Suasana pinggir jalan dan di tengah agak sepi. Hanya ada beberapa orang dan pengguna jalan. Lagipula, tidak ada orang yang berani mengejar pelaku penabrak ibu-ibu itu, selain satu orang. Siapa lagi kalau bukan sang sopir truk-besar?! Saat itu, ia berada agak jauh di belakang di tempat tabrakan itu terjadi. Tetapi, ia melihat kejadian itu, menanyakan sesaat kepada orang-orang di sana, lalu melaju kencang dan menancap gas mengejar pengendara motor yang memakai helm hitam dan berjaket merah yang telah menabrak ibu-ibu tadi. Sopir truk itu amat geram karena pengendara itu tak mau bertanggung jawab.

Memang tampaknya sepeda motor bisa lebih cepat daripada truk besar dan mudah lolos dari kejaran sopirnya. Tetapi, pengendara yang merasa bersalah dan takut pasti gemetar tangannya dan berdetak cepat jantungnya sehingga bisa memicu kesalahan saat menyetir. Jadi, karena ketakutan, orang itu tidak tahu pergi ke mana dan memperlambat laju sepeda motornya. Sementara, sopir truk-besar hampir sampai di posisi pengendara motor untuk menangkapnya! Jarak antara mereka sudah sekitar 90 meter. Dengan laju truk yang gesit dan sepeda motor yang memelan, penabrak itu pasti tertangkap!

Jarak sudah sampai berkisar 20 meter! Pengendara motor itu melihat dari spion samping kanannya, di belakangnya ada truk besar hijau melaju kencang dengan lampu yang menyorot tajam! Lalu, ia hendak mengegas lagi sepeda motornya, tetapi selang beberapa detik, truk itu memotong jalur kaburnya dari kanan! Sopir truk itu membanting setir ke kiri, mengerem tajam berdecit sehingga truknya membentuk posisi horizontal, menutup ruang jalan seperti barisan pagar betis sepak bola yang menjagai gawang! Sekonyong-konyong orang yang membawa motor itu menggenggam kemudi dan rem, tidak mau tertabrak bagian tengah truk atau terhempas dan tergeletak.

Sopir truk segera keluar dari pintu truk, turun, dan berlari ke arah pengendara itu. Orang itu hanya memasang wajah memelas. Tetapi, sopir truk langsung mencengkeram kerah baju orang itu, memarahinya secara tegas, dan akan membawanya ke kantor polisi atau kembali ke tempat peristiwa tadi. Sopir truk itu pun menjelaskan kepada beberapa orang  yang berkerumun melihat penangkapan itu di tengah jalan bahwa ia berhasil mengejar dan memberangus orang yang telah menabrak seseorang.


***


Mengejar Capung



Teruslah berjuang. Kejarlah impianmu. Dan jangan menyerah.
―Billy Ray Cyrus

Kanak-kanak atau masa kecil adalah masa yang menyenangkan untuk melakukan sesuatu atau hal-hal yang sukar dan mustahil. Bukan sebaliknya, masa yang sukar dan mustahil untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Salah satunya adalah mengejar dan menangkap seekor capung! Apakah engkau pernah melakukannya? Susah, bukan?

Engkau harus pelan-pelan bergerak mendekatinya, bahkan tidak bisa sekali mendekati, melainkan butuh beberapa kali usaha untuk mendekatinya. Kalau tidak mendekati dari depan, ya dari belakang capung, lalu menangkap dan mendekap salah satu atau kedua-dua sayapnya dengan jemari kita. Kalau kita mencoba mendekati dari samping kiri atau kanan, menurut pengalaman seorang anak kecil, justru capung akan terbang menghindar. Tapi, sebenarnya usaha itu juga tergantung pada keberuntungan, sebab seekor capung memiliki mata mikro atau lensa lebih dari 20 ribu!!! Jadi, bisa melihat secara 360 derajat atau ke arah depan, belakang, kiri, maupun kanan, ke setiap titik sudut! Juga, mungkin bergantung pada kemauan atau kerelaan capung itu untuk ditangkap. Dan biasanya, setelah berhasil menangkap capung dan bermain-main sebentar dengannya, anak-anak akan melepaskan kembali capung itu dalam keadaan utuh dan sehat, tidak tersakiti.

Bagaimanapun, menangkap capung bagi anak-anak adalah hal yang menyenangkan, sekalipun susah.

Nah, kalau anak-anak manusia saja sukar menangkap seekor capung, bagaimana dengan anak-anak hewan yang ingin meringkus capung? Mungkin lebih sukar dan tidak mungkin. Nah, ada seekor anak domba yang ingin melakukannya. Namanya adalah Piko.

Latar belakang capung dan domba sangat jauh berbeda. Kalau capung mempunyai sebanyak lebih dari 20 ribu lensa atau mata mikro dan sanggup terbang sangat gesit, nah penglihatan domba kurang baik, berkuku-belah alias tidak berjemari sehingga mustahil mendekap, lemah dan lamban, serta mudah tersesat. Jadi, kalau seorang anak manusia kesusahan mengejar dan menangkap capung, bukankah lebih mustahil bagi seekor anak domba yang melakukannya? Tapi, itulah yang dilakukan Piko dan menjadi impiannya―yaitu menangkap capung berwarna merah yang sering terbang indah di hamparan rerumputan hijau tempat Piko makan.

Suatu saat menjelang sore setelah terik siang baru saja berlalu, Piko melihat seekor capung hinggap di pucuk sehelai rumput yang jaraknya tidak terlalu jauh. Piko bergerak perlahan-lahan dari arah depan. Namun, Piko menginjak segumpal lumpur kecil sehingga menciprat (tersembur) ke kaki kiri belakangnya, lalu Piko bersuara melenguh serasa mengeluh. Capung terbang mendengar bunyi dari anak domba itu.

Kemudian, Piko melihat lagi ada seekor capung berwarna merah sedang bertengger di sebuah ranting yang tergeletak tidak jauh. Piko berjingkat-jingkat dari arah belakang hendak menyergap capung itu. Pelan sekali Piko berjalan berjinjit. Tapi, ketika hampir dekat capung, kaki kanan depan Piko tertancap duri agak besar sehingga Piko berteriak kencang. Beberapa mata capung memutar ke belakang melihat Piko yang membuka mulut lebar-lebar karena kesakitan. Lalu, capung impian Piko itu terbang.

Selang beberapa menit, Piko mengamati ada capung yang sedang hinggap di atas rumput di dekatnya. Piko hampir putus asa karena kakinya masih kotor berlumuran lumpur dan sakit perih akibat tusukan duri tadi. Tapi, Piko masih mau mencoba karena kegagalan dan kekalahan yang pasti adalah tidak mau mencoba, mencoba, dan mencoba lagi, atau mencoba dengan cara baru atau jalan lain.

Kali ini, Piko ingin bergerak cepat saja langsung melompat dan menyergap. Ia menganggap dirinya sendiri sebagai capung, dapat terbang juga, dan tidak kelihatan. Setelah mengambil ancang-ancang dan menapak langkah pelan-pelan, Piko akan loncat ke arah capung dan mengapit dengan kedua kuku-belahnya. Lalu, Piko pun meloncat! Dan … menyadari adanya gerakan tiba-tiba dari belakang ke atas serta cipratan sisa lumpur, capung itu mendongak dan melihat anak domba itu hampir menerpa dan mendarat di belakangnya. Lalu, capung itu melakukan manuver (tindakan dan gerakan menghindar tiba-tiba dan cepat), terbang menjauh.

Piko jatuh dengan posisi terduduk, tidak berhasil lagi menangkap capung. Piko ingin menyerah. Lalu, ketika dia duduk termenung, memikirkan bahwa dia tidak akan mungkin dapat mengejar, bahkan sekadar menyentuh capung, ada seekor capung merah terbang merendah ke arahnya dan menghinggap di kuku-belah sebelah kanannya yang masih menengadah. Piko di antara senang ingin bersorak riang tapi takut capung terbang, dan rasa tak percaya sambil berdiam karena ada capung yang mau hinggap kepadanya. Tapi, Piko menikmati momen itu. Dan Piko telah memperoleh impiannya.

Our longing to take flight transfers to our careers. We don't want to be stuck on the bottom level; we want to soar. We desire to be on top, to excel in our work.” ―John Calvin Maxwell

The start of Autumn
Is always decided by
The red dragonfly.
―Kaya Shirao [penyair haiku (puisi Jepang yang biasanya terdiri dari 17 suku kata, terbagi dalam 3 larik: larik pertama 5 suku, larik kedua 7 suku, dan larik ketiga 5 suku)]


***


Bahasa Oranye



O what is it in me that makes me tremble so at voices?
Surely, whoever speaks to me in the right voice, him or her I shall follow.”
―Walt Whitman

Ada sebuah bahasa yang mungkin belum atau tak kaumiliki. Bahasa yang tidak termasuk dalam jenis bahasa di dunia ini. Bahasa itu adalah bahasa oranye, ya, ada warna yang melekat pada bahasa itu, yang mewakili warna merah kekuning-kuningan atau oranye.

Ada beberapa hewan yang memilikinya, yaitu burung pipit dan burung kenari (bahasa Latin: Serinus canarius germanicus). Sejumlah tempat ada pula yang mampu mengeluarkan bahasa itu, yaitu hutan yang masih sejuk―dengan banyak pepohonan hijau rindang serta hujan kerap berkunjung―dan sungai bening yang alirannya membunyikan suara angklung. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang sanggup memakai bahasa itu. Dan yang biasanya dapat membahasakannya karena ciri khas kepolosan dan tabula rasa (jiwa yang putih bersih dan suci) adalah para balita atau batita dan anak-anak. Tetapi, ada juga orang-orang dewasa yang mampu memperkatakan bahasa itu. Namun, tentu ada syarat-syaratnya.

Orang yang ingin menggunakan bahasa itu adalah orang yang memilih kata-kata sehari-hari yang segar! Tidak sembarangan atau asal-asalan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bukan basa-basi. Bahkan, sekalipun kata yang akan dipakai adalah bentuk atau berkesan negatif―walaupun padahal tiada kata yang negatif sebenarnya, hanya karena peraturan, adat istiadat, dan pemilihan masyarakat; demikian juga dengan kata yang positif―orang itu akan memilih kata yang segar, seperti kata kelimpungan atau bimbang. Lain dari umum atau biasanya.

Kalau tidak memakai kata-kata segar, terasa hangus terdengar, bahkan akan bau nasi hangus.

Orang yang ingin berkata-kata dengan bahasa oranye (bahasa Inggris: orange) juga harus menyemangati (menggunakan kata-kata penyemangat) orang lain serta dirinya sendiri. Sebab kata-kata dalam bahasa oranye adalah seperti pedang bermata dua yang akan tertuju kepada orang yang diajak bicara dan orang yang mengatakannya. Juga, bahasa oranye adalah ibarat buah jeruk yang memberi kesegaran. Banyak pula kata dalam bahasa oranye yang bernada positif. Jadi, jika ia menggunakan kata-kata negatif, hal itu adalah untuk menegur, mengkritik supaya menjadi lebih baik.

Terakhir. Syarat ketiga untuk mempergunakan bahasa oranye: Orang yang ingin menggunakan bahsa oranye adalah orang yang jujur. Jujur terhadap apa pun yang dialami di dalam diri atau kehidupannya. Meskipun mungkin ia pernah berdusta atau menyimpan kebohongan dan rahasia besar, jika ia jujur, ia akan sanggup memperkatakan bahasa oranye. Tanpa kejujuran, suara orang yang memakai bahasa oranye itu hanya akan terdengar pelan.


***


Eugene O'Kelly

Eugene Desmond O'Kelly


Sayangku, kumohon tetap di sini
Temani jasadku yang belum mati
Rohku melayang, tak kembali bila kau pun pergi
Meninggalkan yang terbaik bagi kita semua

Kucoba kembangkan sayap patahku
‘Tuk terbang tinggi lagi di angkasa
Melayang melukis langit
Merangkai awan, awan mendung
Sayap-sayap Patah (Lirik lagu band Dewa 19. Judulnya mungkin terinspirasi judul yang sama dari puisi Sayap-sayap Patah, karya Kahlil Gibran)


Entah kenapa kok ‘saat-saat terakhir’ hampir selalu seperti saat-saat awal, ya? Penuh semangat. Penuh keberanian. Percaya diri. Amat mengasihi, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun sesuatu yang dikerjakan. Tetapi, masa-masa awal―apalagi masa pertengahan―belum tentu seperti saat-saat akhir. Masa-masa awal bisa saja sombong, angkuh, penakut, hipersensitif (hyper-sensitive atau terlalu beremosi, memasukkan ke dalam perasaan, amat serius), dan lain-lain.

Alih-alih saat-saat awal, mungkinkah saat-saat terakhir lebih baik?

Mungkin itulah yang dialami oleh seorang bapak-bapak pekerja, suami, dan ayah yang bernama Eugene O’Kelly. Eugene O’Kelly adalah pemimpin (CEO atau Chief Executive Officer) KPMG LLP, sebuah perusahaan perakuntanan (bidang akuntansi yang bertugas menyusun, membimbing, mengawasi, atau memperbaiki pencatatan transaksi keuangan dan administrasi perusahaan atau instansi pemerintah), pada 2002, di Amerika Serikat. Hal itu hanya berlangsung selama dua tahun sampai ia didiagnosis terkena penyakit tumor otak pada usia 53. Dan ia hanya punya sisa waktu untuk hidup kurang dari 90 hari. Jadi, Eugene O’Kelly segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO KPMG Amerika, lalu memikirkan hal-hal penting apa yang ingin ia lakukan menjelang saat-saat kepergiannya.

Ia rindu mendedikasikan waktunya bersama orang-orang terkasihnya, serta berpamitan kepada orang-orang yang dikenalnya.

Ia ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya di bumi menghadapinya dengan baik. Tetapi, tidak semudah itu. Kadang kala, ia masih melakukan kesalahan. Bingung, depresi, takut, marah. Menangis. Lagipula, ia hanyalah manusia biasa. Pun beberapa temannya merasa tidak nyaman, takut, bahkan geram terhadap tindakannya mengakhiri hubungan dengan cara berpamitan. Namun, hal terbaik apakah yang dapat dilakukan oleh orang yang hendak pergi jauh ataupun dekat, selain pamit?

Ia mau meriwayatkan atau menceritakan hidupnya ke dalam sebuah buku untuk mencatat apa saja yang telah ia pelajari dalam kehidupannya dan ingin ia ajarkan kepada orang-orang menjelang kematiannya. Terutama tentang sikap positif dan harapan. Misalnya:

1. Move it up atau percepat. Jika seseorang berumur 50 tahun dan cuma akan benar-benar merenungkan atau siap menghadapi kematian pada usia 55 tahun, lebih baik dipercepat. Jika berusia 30 dan akan serius merencanakan atau menghadapi hari-hari akhirnya 20 tahun nanti saja, lebih baik dipercepat.

2. Menjadi CEO untuk hari kepergiannya sendiri. Jika selama beberapa era ia telah menjadi pemimpin di KPMG, ia rela menjadi CEO untuk menghadapi hari kematiannya sendiri. Ia pun masih memakai cara-cara terbaik menjalani kepemimpinan di perusahaannya untuk melewati hari-hari penghujungnya.

3. Menganggap hari wafat sebagai―seperti yang dianggap oleh filsuf (pemikir besar) Yunani bernama Socrates―sebuah anugerah.

Buku yang ditulis dan disusun oleh Eugene O’Kelly adalah berjudul Chasing Daylight. Karena ia menyadari ia takkan sempat menyelesaikan naskahnya hingga akhir, ia mengajak istrinya untuk menuliskan bagian akhir bukunya. Dan bukunya pun terbit.

Pun selesai masa hidup Eugene di bumi… Ia meninggal pada Sabtu, 10 September 2005, pada usianya yang ke-53.

Istri tercintanya Eugene “Gene” atau “Gino” O’Kelly adalah Corinne. Kedua putrinya adalah Eugenia “Gina” O'Kelly dan Marianne Pearson. Cucu-cucu Eugene bernama Charlotte Pearson dan Oliver Pearson. Ibundanya terkasih adalah Marian O'Kelly. Saudari-saudari Gino, Linda O'Kelly dan Rose Sherman. Saudara laki-lakinya adalah William O'Kelly. Dan Eugene O’Kelly telah berusaha sekuat tenaga menghabiskan waktunya bersama mereka, dengan tawa, bahagia, senyum keberanian serta pengharapan, dan air mata… air mata sukacita.

Jika kita mencari biografi pendek Eugene O’Kelly di Wikipedia atau situs informasi tentang “segala sesuatu dan semua orang” (hingga pembuatan tulisan ini: Rabu, 8 Desember 2010), kita mungkin takkan menemukannya. Mengapa? Mungkin karena belum ada seseorang yang menuliskannya waktu itu. Atau, mungkin bagi Eugene, dikenal oleh orang asing atau dunia internasional itu tidaklah penting; yang lebih penting adalah dikenal oleh orang-orang terdekat, terkasih, keluarganya.

There is nothing so fatal to character as half finished tasks.
―David Lloyd George

Had I known then what I knew now, almost certainly I would have been more creative in figuring out a way to live a more balanced life, to spend more time with my family. No one is going to overrule the wishes of a dying man.
―Eugene O'Kelly


***


Bensin Kebaikan




“Siapa rajin berbuat baik akan disenangi orang; siapa mencari kejahatan, akan ditimpa kesukaran.”
―Raja Sulaiman

Apakah engkau suka mencium aroma bensin? Beberapa orang suka membauinya; beberapa orang tidak. Seperti halnya mencium bau bensin, begitu juga beberapa orang suka mengecup atau menerima kebaikan; dan beberapa orang lainnya tidak suka atau menganggapnya berbeda, bukan sebagai kebaikan. Mungkin kebaikan yang dilakukan itu tidak tepat waktunya atau untuk tujuan keegoisan sendiri.

Nah, beberapa orang suka atau membenci membau bensin, dan beberapa orang senang atau tidak suka mengecap kebaikan. Bagaimana kalau bensin kebaikan? Ya, ada bensin kebaikan. Bukan dengan meminumnya, tetapi dengan menerimanya dari seseorang. Jika seseorang yang sedang naik sepeda motor atau mobil, lalu kehabisan bensin saat malam di suatu jalan, jauh dari pom (pompa) bensin atau SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan mendapat pemberian berupa bensin dari orang lain, orang yang menerimanya akan mengingat kebaikan itu. Dan mungkin ingin melaksanakan hal yang serupa atau kebaikan lainnya. Bahkan akan rajin berbuat baik―baik diketahui oleh orang-orang maupun tidak dilihat.

Akan tetapi, ada orang-orang yang berlalu-lalang saja tanpa kepedulian bila ada pengendara motor atau mobil yang menepi ke pinggir jalan saat kehabisan bahan bakar. Mungkin mereka tidak punya atau tak mempersiapkan bensin cadangan untuk orang lain, walaupun sebenarnya mereka pun bisa saja menyumbangkan beberapa tetes bensin. Sedikit bantuan dari sejumlah kebaikan yang ada takkan menghabiskan atau bahkan mengurangi kebaikan―justru malah akan menambahkannya dan mendelegasikan atau meneruskannya. Atau, jangan-jangan mereka mengira orang yang kehabisan bensin itu hanyalah pura-pura dan berniat melakukan kejahatan. Padahal setiap hal memiliki risiko dan belum tentu orang itu berpura-pura atau berniat jahat. Dan risiko terbesar adalah risiko dari tidak menolong atau tidak mencoba―meskipun kadang harus menanti waktu yang tepat dan mendengarkan atau menaati suara bisikan kecil di dalam hati.

Nah, bila nanti ada kesempatan pada suatu hari, apakah engkau ingin menjadi orang yang memberikan bensin kebaikan atau orang yang menerimanya? Jika engkau memberi, berilah dengan takaran―takaran sebanyak apa pun, terutama kebaikan, yang pernah engkau terima.

Jika engkau adalah orang yang menerima, terimalah tanpa beban apa pun, selain ketulusan dan ingin mengingat kebaikan itu. Bahkan rindu untuk selalu rajin berbuat baik. Jika tidak sanggup untuk hal-hal besar, cukuplah pada satu dua hal kecil seperti menyumbangkan bensin atau hal lain. Tetapi, ingat juga untuk suara bisikan kecil di dalam hati tentang apa yang sebaiknya engkau lakukan. Atau, jika engkau kehabisan bensin saat siang dan tak ada orang yang memberi bantuan atau bensin kebaikan, berbuatlah baik demi dirimu sendiri. Tetaplah menuntun dan berjalan mencari pom bensin atau SPBU atau penjual bensin eceran terdekat. Anggaplah itu berolahraga. Jangan mengeluh karena jalan jauh. Banyak pedagang yang berjalan kaki di bawah naungan terik matahari siang, tanpa sandal, tanpa alas kaki.

No act of kindness, no matter how small is ever wasted.
―Aesop


***


●●●●●●● ●●●●●●●●● 

The opposite of loving oneself is not hating oneself, but being indifferent to oneself. The opposite of being indifferent to oneself is not loving oneself, but being indifferent to others.
―Franisz Ginting

Mungkin engkau bingung dengan judul seperti titik-titik hitam berjumlah enam belas buah di atas. Itu bukan judul. Itu adalah gambar mini mutiara hitam.

Mungkin selama ini engkau baru mengenal dan mengetahui mutiara putih atau sekadar mutiara seperti ini:




Ya, mutiara adalah suatu permata yang biasanya bentuknya bundar (bulat) dan keras. Mutiara berasal dari atau diproduksi di dalam kulit kerang mutiara dan terbentuk karena ada benda atau pasir yang masuk ke dalam tubuh kerang itu, yang kemudian diselubungi dengan kulit ari (lapisan tipis). Mutiara itu terjadi secara alami, tetapi ada juga yang terbentuk karena intervensi manusia atau adanya budidaya (peternakan) mutiara.

Mutiara yang alami sangat jarang terjadi. Dari beberapa ratus kerang mutiara yang dikumpulkan, dibuka, dan dimatikan―setelah menahan sakit dan perih akibat pembentukan, mutiara harus menerima penderitaan lain dimatikan―hanya ada satu atau lima mutiara yang ditemukan! Dan mutiara alami berkualitas terbaik―bulat sempurna dan halus―dianggap sebagai batu permata dan objek keindahan selama berabad-abad. Apalagi, mutiara hitam (Mutiara Hitam Tahiti) karena menurut kabar amat jarang terjadi dan tidak akan bisa dibudidayakan. Kata ‘mutiara’ pun menjadi penunjuk untuk sesuatu yang langka, mengagumkan, baik, atau berharga.

Kerang (tiram atau moluska) tidak pernah dipuji setelah mutiara terbentuk. Ketika mutiara dipajang di toko sebagai permata, nama kerang penghasilnya pun tidak pernah disebut. Bahkan, uang hasil penjualan mutiara tidak pernah dipakai untuk merawat atau memelihara kerang lain.

Bagaimana dengan pembuat perhiasan mutiara?

Seperti halnya para penumpang bus tidak tahu penahan yang ada di bawah bus; seperti halnya para pendengar pengumuman di stasiun kereta api jarang menghargai atau mengetahui wajah atau nama pemberi pengumuman; bahkan seperti halnya yang dialami kerang sendiri, barangkali demikian pulalah orang-orang terhadap para pembuat perhiasan. Baik berupa mutiara maupun jenis perhiasan lainnya.

Banyak orang yang mengagumi perhiasan, tanpa mengetahui atau mengagumi orang yang membuatnya atau proses pembuatannya. Jika ada, jarang―atau hanya ditujukan kepada pembuat yang terkenal. Hal itu seperti mengumpulkan serta membuka ratusan kerang dan hanya menemukan satu atau lima mutiara.

Kadang-kadang orang-orang tidak mempedulikan orang yang mempedulikan orang-orang. Mereka bahkan kadang menertawakan. Mereka mungkin memperhatikan, tetapi untuk menertawakan atau menjelek-jelekkan. Laki-laki yang ke toko atau stan pakaian wanita, entah ingin membeli untuk siapa, ternyata malah ditertawai para pembeli lainnya. Seseorang yang memberikan tempat duduknya di bus kepada ibu-ibu dianggap cari perhatian atau sok baik di depan orang banyak. Namun, orang yang peduli itu tetap berbuat baik dan tetap peduli.

Pedulilah kepada pembuat permata atau perhiasan. Bahkan pun para pemulung adalah pembuat perhiasan karena mereka membantu membersihkan tempat-tempat, memperindah jalanan.

Oh iya, ingat titik-titik seperti mutiara hitam berjumlah enam belas tadi? Sebenarnya itu bukanlah gambar mutiara hitam. Itu adalah titik-titik tebakan yang akan membentuk judul tulisan ini. Apakah engkau dapat menebaknya? Frasa atau dua kata apakah yang tersembunyi di balik cangkang titik-titik itu? Petunjuknya ada pada kalimat yang berdiri sendiri.

n.b.: Judulnya adalah Pembuat Perhiasan.


***


Snow Globe




Snow globe atau bola salju adalah sebuah bola kaca hiasan yang berisi salju imitasi atau terbuat dari kertas-kertas kecil putih dan ada miniatur benda-benda ataupun makhluk hidup di dalamnya.

Konon, snow globe adalah sebuah dunia kecil yang dihuni oleh seorang laki-laki dan perempuan, serta ada satu rumah, pohon, gunung, dan jalan yang berwarna putih mengitari rumah, pohon, dan gunung itu. Setiap hari, mereka berdua melewati jalan yang itu-itu saja. Entah mereka merasa bosan atau tidak. Tapi, kadang terbersit di dalam pikiran si laki-laki suatu pertanyaan, apakah tidak ada jalan lain? Aku ingin terbebas dari jalan iniAku ingin mencoba jalan yang baru, katanya dalam hati.

Sementara itu, sang wanita betah berada di rumah. Berbeda dari pihak pria yang suka berkelana ke gunung di dalam snow globe tersebut. Sepertinya wanita itu adalah penyeimbang bagi si pria supaya terjadi keseimbangan. Namun, kadang perempuan itu pun merasa jemu di rumah terus. Jadi, dia pun pernah ikut pria itu berpetualang ke luar rumah.

Harapan mereka hanya seluas diameter (garis lurus melalui titik tengah lingkaran dari satu sisi ke sisi lainnya) bola salju itu, yaitu 20 cm. Pula pikiran mereka terbatas dan membentur pada ujung atas kaca. Tapi, rasa percaya dan gelora hati mereka lebih besar daripada asa atau pikiran mereka. Sebenarnya, mereka ingin mendobrak keluar dari batasan bola kaca itu karena mereka yakin bahwa ada kehidupan yang lebih besar ketimbang di dalam snow globe.

Suatu siang, ketika laki-laki dan perempuan itu sedang duduk-duduk di depan rumah memandangi rerumputan sekitar pohon, tiba-tiba dunia kecil snow globe tersebut bergoncang! Seperti ada tangan besar di luar dunia mini itu yang menggoyangnya! Akibatnya, mereka berdua sempoyongan! Jalanan memudar menjadi serpih-serpih putih dan kecil menyerupai percik-percik salju! Lalu, pembatas bawah bagian samping kiri snow globe terbuka! Lalu, mereka berdua pun berusaha segenap tenaga, bahkan hampir bergulingan untuk menuju ke celah yang terbuka itu!

Kini, mereka pun berada di dunia yang baru. Masuk ke dalam dunia yang lebih besar, kehidupan yang lebih besar.


***


Ikan Koki Penceria




Ada seekor ikan hias yang hidup di danau atau ikan lakustrin (menjalani hampir seluruh masa hidup di air segar atau danau). Tapi, kadang ikan tersebut juga pernah pergi ke laut. Matanya besar dan tampak selalu melotot, bukan karena marah, tetapi karena sekadar merasa benar-benar hidup dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ke mana pun ikan itu pergi, matanya akan selalu bersinar. Wajahnya agak kemerah-merahan dan kulitnya kuning keemas-emasan. Mungkin karena dia adalah ikan yang ceria dan gemar membuat ikan-ikan lain ceria pula. Ikan itu adalah ikan koki dan dikenal sebagai ikan koki penceria.

Pada hari-hari tertentu, ikan koki itu pun memakai baju dan celana yang cerah warnanya, seperti biru laut, merah muda pelangi, atau putih awan. Kalau Senin, dia pun mau memakai seragam yang yang rapi karena ingin merasa bangga menjalani hari dan percaya diri melakukan sesuatu saat itu. Tetapi kadang, kalau ikan tersebut sedang bersedih, koki itu akan mengenakan pakaian yang berwarna agak redup atau hitam. Namun, dia tidak mau berlama-lama bersedih.

Ikan koki itu juga sering bermain batu pualam sendirian atau bersama ikan temannya, atau melihat manusia-manusia di tepi danau memainkan dan melemparkan batu-batu pualam agar memantul-mantul di atas permukaan air. Dia pun kerap menyempatkan diri berenang di antara karang-karang ketika bermain di perairan laut. Tapi, satu hal pasti yang membuatnya riang adalah saat dia ceria dan membuat ikan-ikan lain ceria.

Suatu hari, ketika ikan koki bermain pualam sendirian, ada ikan pemangsa yang hendak menerkamnya, yaitu ikan gabus! Tidak ada tempat yang aman. Hanya hati yang kokoh dan tenteram yang mengenal tempat yang aman, sekalipun tidak ada tempat seperti itu, baik di darat, di dalam air, maupun di udara atas sana. Karena ikan koki memiliki hati semacam itu, dia tidak takut ketika tahu bahwa ikan gabus telah membuntutinya dan ingin memangsanya. Walaupun sebenarnya agak sedikit panik, dia berusaha tetap tenang dalam segala keadaan.

Ikan gabus mendepang dengan kedua tangan kiri dan kanannya yang menyerupai sayap berbulu itu terhadap ikan koki. Setelah memamerkan gigi-gigi tajamnya, ikan gabus mengancam:

“Heiii, ikan koki! Aku akan memakaaanmu!!”

Ikan koki berusaha menghadapi dengan tenang dan berkata, “Mengapa engkau ingin menyakiti dan memangsaku, ikan gabus…?”

“Ahhh, jangan banyak bacot!” ancam ikan gabus sembari membelalakkan matanya sehingga hijau membesar dan merenggang-rapatkan sirip-sirip kasarnya.

“Tidak perlu membohongi dirimu sendiri, ikan gabus… Aku tahu, sebenarnya kamu tidak ingin memakanku… Aku tahu, kamu sebenarnya adalah ikan yang baik. Mungkin ikan-ikan dan orang-orang mengatakan kalau engkau adalah ikan yang jahat… tetapi aku percaya, engkau bisa menjadi sahabat, juga sahabat bagiku,” kata-kata itu seolah mengelus hati ikan gabus.

Ikan gabus melembutkan pandangan mata dan melunakkan siripnya. Urung hendak memakan ikan koki. Malah, wajahnya agak tampak murung…

“Heiii… ngga perlu sedih, ikan gabus…”

“Iya… maafkan aku, ikan koki, kalau tadi aku ingin memangsamu…”

Ikan gabus membiarkan ikan koki untuk pergi. Tetapi, dia tak ingin pergi, melainkan mau mengajak ikan gabus bermain bersama ke laut. Karena mereka berdua telah bersahabat, ikan gabus menyetujui.

Kala mereka tengah berenang di karang-karang, sesosok ikan besar abu-abu dengan sirip-sirip yang tersusun elegan dan rapi mendekati mereka. Ketika ikan gabus menyadari kedatangan ikan hiu yang  hidungnya menongol maju dan deretan gigi-gigi seperti taring tajam semua itu, ia kuyu dan ingin berenang menghindar secepatnya! Tapi apa daya, badannya gemetar ketakutan.

“Ba-ba… bagaimanaaa ini, kokiii…??” tanya ikan gabus sambil merinding. Tanpa menjawab, sekalipun juga agak ikut takut, sekali lagi ikan koki berupaya menenangkan diri. Jika sebelum-sebelumnya dia selamat dan tidak terjadi apa-apa sepulang bermain di perairan laut, sekarang dia harus berani menghadapi kenyataan ketidakamanan dan bahaya hiu di laut. Apalagi dia sedang bersama teman barunya. Namun, tetap di dasar hatinya, ikan koki yakin, Tidak akan terjadi apa-apa kepadaku. Aku dan temanku ini akan pulang selamat. Kalau sampai selama ini saja aku selamat, semoga aku akan selamat sampai selamanya.

Tertawa dengan lebar sehingga menampilkan kilau gigi-gigi yang seumpama ujung pagar besi dan tombak tajam, hiu itu lalu menghardik:

“Mau ke mana kalian?!”

Ikan gabus tak berkutik. Berkeringat dingin di dalam air.

“Ikan hiu,” kata dan panggil ikan koki polos.

“Apppaaa?!!”

“Aku tahu engkau sebenarnya mempunyai masalah yang dalam…”

Dengan mata agak makin menyorot ke arah ikan koki dan mulut merapat, ikan hiu itu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Tidak… sebenarnya kami tahu kamu mempunyai masalah… Amarah yang ada di dalammu adalah karena engkau kesepian dan tidak mempunyai sahabat… Kami bisa menjadi sahabat-sahabatmu, hiu. Kalau engkau memakan kami, engkau akan mengurangi sahabat-sahabat di dalam hidupmu…” lanjut ikan koki, “dan bersama-sama, kita bisa menjadi ceria…! Kami adalah ikan-ikan kecil, hiu… Dan engkau adalah ikan yang besar, dan engkau bisa menjadi sahabbbaaat yang terrrbaaaik dalam hidup kami.” Kata-kata ikan koki adalah kata-kata yang tepat bagi hati ikan hiu.

“Jujurlah kepada dirimu sendiri, hiu…” tambah ikan koki.
Air muka hiu mulai menormal, tanpa tawa picik atau sorotan mata. Dia ingin diam saja, tapi kemudian dia berkata, “Kalian tidak tahu apa-apa tentang aku!” Ikan gabus sudah tidak bergemetar, tapi masih berdiam. Lalu, ikan koki berujar:

“Iya… ikan hiu… Tapi, kulitmu yang abu-abu memberitahu kami dan hawa amarah di sekitarmu menunjukkan kepada kami bahwa engkau sedang sangat bersedih, hiu…”

“Jangan banyak bacot,” balas hiu, tapi seraya hampir menitikkan air mata di dalam air karena keberanian kedua ikan kecil itu disertai kejujuran kata-kata ikan koki. Menangislah ikan hiu… Tapi, dia telah menang terhadap angkara dan kegundahannya.

“Sudahlah… jangan menangis ikan hiu… Kami mengerti perasaanmu dan kami mau menjadi kedua sahabatmu yang terbaik. Dan kita pasti bisa mempunyai banyak teman nanti,” ujar ikan koki. “Iya…” timpal ikan gabus yang lega dan salut terhadap keberanian ikan koki.

“Maafkan aku ya…” pinta ikan hiu.

Ikan hiu membiarkan ikan gabus dan koki untuk pulang kembali ke danau. Tetapi, mereka ingin mengajak hiu untuk ikut sejenak ke tempat mereka. Tapi, ikan hiu tidak mau karena tahu bahwa ikan gabus dan ikan koki hanya bercanda. Ikan hiu mengatakan bahwa mereka berdua mungkin bisa menerima bersahabat dengannya, tetapi mustahil teman-teman mereka. Lalu mereka bertiga terbahak-bahak, dan akhirnya mereka pun pulang ke daerah masing-masing.


***


Anak-anak Afrika yang Ajek




Bagaimana tidak anak-anak Afrika adalah anak-anak yang kuat? Mereka sering ditinggal sendirian oleh orangtua mereka untuk berburu atau bercocok tanam. Mereka juga harus menghadapi atmosfer dan hawa yang panas. Sedari kecil pun mereka dilatih untuk menjadi pemberani. Tetapi, mereka pun diperbolehkan―sebagaimana halnya di negara lain dan sebagai hak anak-anak pada umumnya―untuk bermain. Dengan demikian, akan kerap terlihat senyum keberanian pada gurat wajah mereka.

Ada seorang anak Afrika yang bernama Sipho Yulu. Ia telah terbiasa di rumah menjaga ketiga adiknya dan ditinggal orangtuanya bekerja mencari makan untuk mereka. Sipho Yulu selalu berusaha membuat kreativitas dan suasana yang menyenangkan di rumah. Dengan cara apa? Dengan cara mengajak adik-adiknya bermain, baik di rumah maupun di luasnya hamparan rerumputan pendek yang menguning.

Pada suatu siang yang terik, mereka berempat bermain agak jauh di luar rumah. Ketika mereka sedang berkejar-kejaran mendekati perbukitan, mereka tidak waswas bahwa ada tujuh ekor hyena (dubuk atau sejenis anjing hutan) yang berada tidak jauh dari mereka, mengintai, mengamat-amati, dan hendak menerkam mereka! Padahal, orangtua mereka sudah mengingatkan Yulu agar waspada, meskipun saat bermain, dan tidak lupa menjaga adik-adiknya.

Saat jarak antara hyena dan keempat anak manusia itu tidak jauh lagi, langsung saja ketujuh hyena itu memotong jalan permainan Sipho Yulu dan adik-adiknya! Sontak, Yulu terhenyak dan ketiga adiknya menangis ketakutan. Apa yang harus segera dilakukan Sipho Yulu?!

Ia langsung mengambil sebatang kayu, lalu juga menyuruh adik-adiknya untuk mengambil kayu-kayu yang ada di dekat mereka. Atau, kalau tidak ada, ya secara cepat memungut batu-batu saja mencoba mengusir, menakut-nakuti, dan melawan semua hyena itu.
Sipho Yulu mulai mencerca dan membentak dubuk-dubuk tersebut dengan kata-kata yang lebih keras daripada lolongan golongan anjing hutan itu. Yulu juga mengatakan kepada ketiga adik-adiknya supaya tetap tenang dan bahwa di dalam diri Yulu dan adik-adiknya ada jiwa para singa―seperti yang pernah diberi tahu oleh kedua orangtua mereka.

Batu-batu terlempar. Dua kayu masih tergenggam erat di tangan kanan Yulu dan di genggaman adik keduanya. Dua dubuk sudah terluka terkena lemparan batu, serta takut mendekati keempat anak pemberani itu. Namun, lima hyena masih perlahan mendekat, mengancam.
Tinggal lima, apa yang harus diperbuat, sementara batu-batu kian berkurang? Apakah harus pasrah? Orangtua mereka tidak mengajarkan seperti itu. Orangtua mereka mengajarkan, saat menghadapi bahaya apa pun, anak-anak sebaiknya tampil berani. Seberani tanah negeri Afrika menanggung panasnya dan liarnya kehidupan. Jika kalah setelah mengeluarkan segenap keberanian, itu adalah hadiah terbesar yang bisa didapatkan. Ketakutan maupun keberanian tidak mengenal usia. Dan biasanya, anak-anak lebih pemberani ketimbang orang-orang dewasa.

Ketua dari kelima hyena yang tersisa bergerak makin cepat ke arah anak-anak itu! Sipho Yulu segera menyarankan adik keduanya untuk menyerahkan kayunya kepadanya. Ia tidak mau karena getir, tapi abangnya menyuruhnya percaya, lalu ia memberikan kayu itu. Sipho Yulu juga memerintahkan adik-adiknya untuk berlari dengan kencang membentuk putaran di belakangnya sambil menggenggam batu, mengarahkan ke mulut hyena. Dengan sebutir rasa takut, Sipho Yulu berada di depan adik-adiknya sembari mamaju-mundurkan kedua kayu di tangan kanan dan kirinya kalau-kalau hyena menerjang. Ia pun dengan sigap menghajar dubuk yang mendekati larian putaran adik-adiknya.

Lalu, tanpa membuang-buang waktu lama karena tahu ketiga adiknya bisa kelelahan, Sipho Yulu langsung menikamkan kayu yang runcing dan memukulkan kayu yang tumpul pada hyena yang terkesan lengah atau lelah. Empat dubuk kalah!

Tinggal satu, si pemimpin gerombolan hyena. Sipho Yulu berteriak, “Aku adalah singa!!! Kamu akan kalah, hyena!!!” Karena sama-sama lelah―baik hyena maupun Sipho Yulu dan adik-adiknya―Sipho Yulu mengajak saja dengan serentak menyerang satu dubuk itu! Menerima serangan mendadak itu, hyena merasa lunglai lalu terpukul oleh kayu Yulu. Jatuh terkulai. Kemudian, keenam hyena bawahannya kabur terseok-seok dan lari terpincang-pincang.

Yulu dan adik-adiknya sesegera mungkin berlari pulang ke rumah dengan segenap tenaga yang tersisa.


***


Negeri 1.000 Peri




Sebuah negeri yang terdiri dari seribu peri berada di hamparan rumput-rumput hijau yang lapang. Di negeri itu juga ada istana dengan menara-menara menjulang yang atapnya terbuat dari berlian. Namun, raja peri (King Fairy) dan ratu peri (Queen Fairy) empunya istana itu tidak terlihat. Tetapi, para baginda itu selalu melihat dan mengetahui keberadaan para peri negerinya.

Nah, para peri itu adalah seperti manusia-manusia kecil, seukuran kupu-kupu atau capung, dan bersayap empat. Makanan kesukaan para peri itu keju. Tetapi, meskipun mereka bersayap, tidak semua peri itu dapat terbang. Dari 1.000 peri (1.002 bila ditambah raja dan ratu), yang bisa terbang, baik lambat ibarat kupu-kupu maupun melesat secepat capung, jumlah tepatnya ada 720 peri. Sedangkan, baginda raja dan ratu sendiri sudah pasti dapat terbang. Jadi, ada sebanyak 280 peri lain yang belum bisa terbang. Sayang sekali mempunyai sayap tapi tak dapat terbang melayang.

Jika ingin terbang, para peri tersebut harus belajar untuk jujur dan berani. Sebab, hanya kejujuran yang membuat hati mereka ringan, lalu udara khusus dan ajaib negeri itu akan menggerak-gerakkan sayap-sayap mereka. Dan dibutuhkan keberanian untuk terbang tinggi.

Satu hal yang ditakuti oleh semua peri adalah satu negeri. Suatu tempat yang mereka akan dikirimkan ke sana bila berbuat jahat, seperti berkhianat untuk negeri lain―misalnya negeri Windonesia, negeri Polandia, negeri Nisa, dan lain-lain―amat mengumpati yang mulia raja dan permaisuri, atau mengajak peri lainnya berbuat jahat. Jika mereka berbuat seperti itu, baginda akan menghukum dan mengirim mereka ke satu tempat yang mengerikan itu. Suatu negeri yang bernama negeri Sejuta Perih.

Banyak kedukaan dan kengerian di negeri itu. Bahkan, sebelum tiba di depan gerbang negeri itu pun, telah terasa duka dan ngeri. Kalau mereka terkirim atau berada di sana, lama-kelamaan sayap mereka akan layu serta putus dari punggungnya. Kebanggaan mereka sebagai kaum peri akan lenyap. Lalu, mereka akan rebah terbujur kaku, meninggalkan alam kehidupan.

Jadi, sebisa mungkin, semua peri di negeri 1.000 peri itu berusaha saling mengingatkan untuk tak melakukan kejahatan. Mereka mengusahakan hal itu dengan cara menyenandungkan lagu-lagu yang mengeluarkan bunyi-bunyi serunai (flute), harpa, lonceng genta (chimes), gambang (xylophone) perak yang merdu, piano, saksofon, atau suara titik-titik air jernih yang jatuh. Atau, dengan menyanyikan musik-musik riang supaya pikiran dan hati mereka jauh dari keinginan berbuat jahat. Tetapi, selalu dekat dengan kerinduan untuk terbang.

An inexhaustible good nature is one of the most precious gifts of heaven, spreading itself like oil over the troubled sea of thought, and keeping the mind smooth and equable in the roughest weather.
―Washington Irving


***


Kucing Jalan-jalan




“Apaaa? Kamu tak pernah jalan-jalan ke Bali??” tanggapan seekor kucing putih kepada seekor kucing berwarna oranye yang mengaku bahwa dia belum pernah pergi ke pulau Bali. Mereka sedang berada di suatu pinggiran jalan di kota Yokohama, Jepang.

“Kamu seharusnya mencoba pergi ke sana, bahkan pergi ke luar negeri, sebelum nyawamu tinggal satu. ‘Kan sekarang nyawamu masih dua, cobalah berjalan-jalan. Ada banyak cerita di masing-masing tempat dan perjalanan, lho. Sayang kalau kamu bermimpi jalan-jalan ke luar negeri atau ke mana saja, tapi kau tak melakukannya,” masih lanjut sahut si kucing putih.

Sepertinya, hampir hanya hewan kucinglah yang berada di berbagai penjuru dan belahan dunia ini. Dari berbagai jenis, ukuran, warna, dan keunikan. Seolah mengajak semua manusia untuk berkeliling ke seluruh tempat di dunia. Namun, sebelum hal mustahil tersebut terwujud, kucing-kucing haruslah yang menjadi promotor (pendorong suatu usaha) atau teladan dalam melakukannya.

Masing-masing kucing di berbagai tempat di dunia setidak-tidaknya harus pernah mengecap (merasakan) atau pergi ke tempat lain yang jauh dari daerahnya. Kawasan atau lahan yang baru adalah seperti tahun atau pemikiran yang baru, dapat memberikan semangat yang segar, menjadikan makin sehat, mengurangi kecemasan, menajamkan tatapan sorot mata, dan memancarkan sesuatu yang baru pula. Tetapi, tergantung pada kucing itu apakah mau melakukan dan mengalaminya atau tidak?

Dari 194 jumlah negara yang ada, kucing putih tadi telah sekurang-kurangnya mengunjungi 100 negeri. Dengan cara apa? Kadang dengan menyusup tanpa bersuara masuk ke dalam pesawat penumpang seperti di bandara Shizuoka atau bus-bus di terminal kota Osaka. Kadang ikut naik kapal-kapal yang ada di pelabuhan Tokyo. Dan kadang cukup berjalan dengan keempat kakinya. Memang membutuhkan waktu yang lama sekali melakukannya. Tetapi, lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk merenungkannya saja.

“Tapi,” kucing oranye berargumen, “aku ‘kan sudah ke banyak tempat ke luar negeri melalui buku-buku dan gambar-gambar yang kulihat di perpustakaan lokal kota kita ini.”

“Iya sih,” tanggap si kucing putih, “tapi, kamu akan merasa lebih nyata kalau benar-benar pergi ke sana. Lagipula ‘kan, kalau kamu hanya membaca atau melihat buku-buku dan gambar itu, tanpa menjiwainya atau melakukannya, itu menunjukkan ketidakberanianmu melakukan sesuatu. Sesuatu yang kamu sukai. Impianmu.”

“Nah,” masih kata kucing putih, “kalau aku boleh kasih saran, tujuan pertamamu adalah ke Bali saja. Kamu bisa pergi tahun ini atau tahun depan. Tapi, lebih cepat, lebih baik. Kamu bisa cuma jalan-jalan di sana. ‘Kan lagipula, Tuhan menciptakan kita untuk berjalan-jalan dan menjadi kesayangan, selain juga si anjing teman lama kita itu.”

Setelah menerima nasihat kucing putih, si kucing berwarna oranye menimbang-nimbang hal itu, lalu benar-benar mencoba pergi ke pulau Bali. Kemudian, sebelum berangkat, kucing oranye bertanya kepada kucing putih, “Kamu mau ikut denganku, tidak?”

Sembari tertawa lebar, si  kucing putih menjawab dengan antusias, “Tentu saja aku mau…!”

Take my hand, let's just dance.
Watch my feet, follow me.
Don't be scared, girl, I'm here.
If you didn't know, this is love.
―Justin Bieber


***


Terlalu ke Depan, Selalu ke Belakang



Never let your memories be greater than your dreams.
―Doug Ivester

Kita selalu meninggalkan bulan Januari dan bulan-bulan berikutnya, dan tahun-tahun yang lalu, tapi mengapa kita selalu merasa kembali ke bulan dan tahun itu? Padahal, kita sudah menuju dan masuk pada bulan atau tahun yang baru. Mungkin karena dulu orang-orang Romawi (negeri atau kota Roma Kuno) menganggap bahwa kata bulan Januari berasal dari dewa bernama Janus yang bermuka dua, yang bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang. Satu muka menghadap ke belakang (tahun yang baru saja berlalu). Satu muka lainnya menghadap ke depan (tahun baru).

Apakah kita bisa seperti itu? Dan apakah kita bisa memandang terlalu ke depan atau selalu menatap ke belakang? Apakah kita bisa berada dalam dua rasa dan dua masa? Menoleh ke belakang bisa disertai rasa sesal atau lega. Melihat ke depan bisa dengan rasa cemas, khawatir, atau dengan rasa lega juga.

Barangkali di penampilan luar, kita menggebu-gebu sesuatu yang baru, tetapi di dalam diri, kita masih mengandalkan atau melakukan sesuatu yang usang dan lama. Jika seperti itu, mungkin akan mengalami kesalahan serupa dengan yang dialami pesawat Airbus 236 milik Air Transat dari Kanada pada 24 Agustus, 2001. Kesalahannya karena memasukkan suku cadang mesin lama pada mesin baru, serta ada perlengkapan kecil yang tidak dimasukkan sehingga menyebabkan kebocoran bahan bakar dan hampir merenggut nyawa 306 awak dan penumpang di atas Samudra Atlantik!

Jika terlalu melihat ke depan, tanpa menghiraukan apa pun yang terjadi saat ini atau pelajaran dari sejarah, kita bisa tersandung dan gagal. Jika selalu ke belakang―bukan ke kamar kecil loh ya, tetapi melihat ke masa lalu―kita akan merasa kewalahan (putus asa). Karena Tuhan bukan menciptakan kita untuk menjadi manusia masa lalu, melainkan manusia masa kini yang menuju masa nanti. Dan di dalam hari ini sudah terkandung tiga elemen (unsur), yaitu masa lalu, hari ini, dan masa depan. Sejarah dan masa depan dapat tercipta pada waktu yang kekinian.

Tahun-tahun dan bulan-bulan bisa menjadi gunung dan bukit yang terjal. Dakilah! Tinggalkanlah bulan-bulan Januari dan bulan-bulan lainnya. Gantilah dengan nama-nama lain. Kita berhak melakukannya.


Youth is when you're allowed to stay up late on New Year's Eve. Middle age is when you're forced to. An optimist stays up until midnight to see the New Year in. A pessimist stays up to make sure the old year leaves.
―Bill Vaughan


***


Pulau Gelas Antikemanjaan

Kalau ada gelas atau kaca yang pecah dan berserakan di lantai saja dapat membuatmu takut, bayangkan bagaimana kalau engkau tinggal atau hidup di pulau gelas yang mudah pecah?

Ya, ada sebuah pulau Gelas yang mungkin belum pernah engkau dengar dan ketahui. Pulau Gelas itu memiliki manfaat. Mau tahu apa manfaatnya? Mari kita tengok cerita tentang seorang pemuda bernama Naori ini. Kedengarannya seperti nama perempuan, ya, tetapi tidak, itu adalah nama lelaki.

Nah, pada waktu itu, negara mengadakan wajib militer dan survei atau sensus dalam waktu sebulan tentang siapa saja yang wajib mengikutinya. Sebagai seorang pemuda, Naori pun harus mematuhinya dan memenuhi tugas membela negaranya itu. Tapi, ia takut melakukannya. Ia takut pergi berperang. Walaupun ia pernah mendengar adagium (pepatah), hentikan perang. Kalau berani, lebih baik satu lawan satu. Tetapi, ia sebenarnya takut melakukan keduanya.

Alih-alih menjadi prajurit, Naori berpikiran untuk mencari-cari alasan-alasan. Misalnya, pura-pura sakit supaya bisa di rumah saja dan dimanja oleh ibu atau anggota keluarga lainnya. Sehingga kalau hal itu terjadi, ia dapat berada di rumah untuk berkumpul, sekadar berdialog tentang peperangan tersebut, atau bahkan berdoa bersama teman-teman, dan mengurus keperluan sehari-hari sendiri yang sepele, seperti mencuci baju dan lain-lain.

Naori mengutarakan keinginan dan alasan itu terlebih dulu kepada ayah dan ibunya. Sambil menitikkan air mata karena gentar terhadap perang dan wajib militer. Ayah dan ibunya Naori sayang kepadanya, tetapi sang ayah yang bijak menanggapi, “Anakku… mengapa harus takut…? Kadang rasa takut pun ialah benih keberanian dan kekuatan.”

Sang ibu yang kasihnya tiada luntur mewejang, “Naori, Sayang… benar kata Ayahmu… kamu tidak perlu terlalu takut mengemban tugas itu… Pemuda lainnya juga pasti takut, orangtua mereka juga pasti takut. Tetapi, kita semua datang ke dunia ini dan dapat menetap di negeri ini juga karena kemenangan perang, wajib militer, dan membela negara kita… Anakku… kami memang takut bila kehilangan kamu, tetapi kami lebih takut bila kamu sendiri yang kehilangan dirimu sendiri… Dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami… Cukup berada di pikiran, hati, dan kesetiaan doamu di mana pun kamu berada, Anakku, sudah cukup bagi kami…”

“Tapi, Bu… Yah… aku tak punya cukup keberanian dan pengalaman berperang…” cetus Naori.

Ayah menatap pada mata ibu lalu mengangguk, memberi isyarat kepada ibu untuk menjelaskan sesuatu yang perlu dilakukan setelah mendengarkan anaknya itu. Sang ibu berkata, “Nak, untuk hal itu, kami memang perlu melatihmu dan kamu tidak usah khawatir juga tentang hal itu. Maukah kamu menuruti Ayah dan Ibu…?”

Naori agak tertunduk, kemudian menengadahkan kepala sambil mengerucutkan raut wajahnya. Hanya terdiam, menanti apa yang akan dikatakan oleh ibu atau ayahnya.

“Nak… kami ingin mengirimmu ke pulau Gelas selama dua minggu untuk melatihmu sehingga mungkin akan mengubah pikiranmu supaya berani menghadapi perang itu dan mengikuti wajib militer,” kata ibu.

Tiba di pulau Gelas, setelah beberapa hari yang lalu mengiyakan, Naori terhenyak sekaligus takjub terhadap keadaan pulau Gelas. Di mana-mana terdapat gelas yang untuk minum, dan semua elemen, semua pohon, semua bangunan yang ada terbuat dari kaca di pulau itu. Juga ada beberapa pemuda di pulau tersebut untuk melakukan hal yang sama.

Minggu pertama, Naori mengikuti perkataan ibunya, yaitu untuk melatih mengenal diri di sana. Mengenal ketakutan-ketakutannya, kelebihan dan keberaniannya. Mengenal apa pun yang sebenarnya yang ingin dikatakannya. Naori sering memandang air mukanya yang memantul pada cermin-cermin di pulau itu. Ia menyadari ada ketakutan di dalam dirinya, sedikit kesedihan di pancaran wajahnya, dan aura mengundang orang-orang untuk tak menyukai atau mengasihinya juga tampak terpancar dari rona wajahnya. Tapi, ia pun menyadari bahwa ada sinar-sinar harapan, semangat, kekuatan, dan keberanian di wajahnya. Ia mulai yakin dan tahu, wajah yang bersedih atau takut dan wajah yang bersinar atau berani, sama-sama memiliki potensi untuk mempengaruhi dirinya serta orang lain. Tergantung mau memilih memakai, meneruskan yang mana?

Kemudian, Naori belajar menyungging terhadap apa pun yang terjadi. Kalau bukan bibirnya yang tersungging, ya ia mencoba hatinya yang tersenyum. Pada hari yang ketujuh, ia pernah menginjak kaca terlalu keras sampai pecah hingga dasar kakinya terluka dan berdarah! Ia tetap tenang, mencoba berkonsentrasi untuk mengeluarkan serpihan kecil yang sekiranya tertancap di kakinya; hatinya tersenyum, bukan mulutnya.

Minggu kedua, Naori mendengarkan nasihat ayahnya, yakni untuk mengenal diri orang lain dan berlatih berani. Mengenal orang lain supaya mengetahui cara menghadapi atau berurusan dengan mereka. Ia mulai menilai serta mengamati cara-cara kerja pemuda-pemuda yang masih di pulau itu dan bagaimana mereka menghadapi hal-hal yang terjadi pada mereka atau memperlakukan orang-orang.

Suatu ketika, ia akan berkenalan dan berbincang dengan seorang pemuda yang badannya lebih besar dan kekar. Tetapi, sebelum mempraktikkannya, Naori agak takut dan merasa terintimidasi dengan wajah garang pemuda itu. Akan tetapi, Naori sudah mempelajari kebenaran bahwa antarorang yang belum sama-sama tahu, sebenarnya sama-sama merasa takut terhadap masing-masing. Jadi, ia memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan pemuda tampang garang tersebut. Ternyata, ia dan Naori klop atau menjadi cocok satu sama lain untuk bersahabat sedari awal perkenalan! Rupa-rupanya, pasti ada bibit persahabatan pada hati antarmanusia bila mereka mau mengetahuinya dan melanjutkannya.

Pada hari yang ketujuh atau terakhir di sana, Naori menguji menggapai puncak keberaniannya, yaitu dengan cara naik ke gunung dan bukit kaca tertinggi di pulau Gelas itu. Gunung itu tentu curam, licin, dan banyak pecahan-pecahan kaca tajam yang tertancap di sisi-sisi gunung. Mulanya dan pada prosesnya, ia diselimuti rasa takut. Namun, ia selalu terngiang kata-kata orangtuanya: kami lebih takut bila kamu sendiri yang kehilangan dirimu sendiri

Jadi, Naori terus mendaki dan mendaki. Berani dan berhati-hati. Walaupun rasa lelah, vertigo, atau perasaan akrofobia (ketakutan abnormal saat berada di ketinggian) menyeruduk, ia tetap menanjak hingga tiba di puncak gunung! Kemudian, saat turun gunung pun ia masih harus berani serta berhati-hati.

Sesampainya di rumah, perubahan terasa dari dalam diri Naori. Bahkan perubahan itu seakan-akan telah berjalan mendahuluinya kembali ke kediamannya. Ayah dan ibunya merengkuh kehadiran dan kembalinya putra mereka dengan bangga. Pengalaman selama dua minggu di pulau itu telah meminuskan sifat manja dan kepengecutannya.

“Ayah, Ibu… aku mau ikut wajib militer itu,” tegas Naori.

“Ya, Putraku,” tanggap ayah, “seandainya bisa, Ayah ingin Ayah sajalah yang menggantikan kamu pergi berperang nanti… Tapi, engkau adalah Ayah dan Ayah ada di dalam dirimu, Nak… begitu juga dengan Ibu… Kini kamu tahu, ‘kan Nak, di mana-mana pasti ada perang, apa pun itu bentuknya… Hanya ada satu dan dua tempat yang tanpa peperangan, yaitu pulau Keheningan dan pulau Masa Depan yang belum kita ketahui tempatnya… Hanya dari penuturan orang-orang yang telah hidup lama lebih dulu daripada kita…”

Sang ibu mampu memeluk putranya itu saja, sembari menangis terharu karena dan bangga terhadap keberaniannya dan penjelasan sang ayah.

Sensus selesai. Naori terpilih menjadi perwira dan ikut perang melalui wajib militer membela negara. Dan tahukah engkau, bahwa negaranya adalah negara Bambu akan melawan negara Besi, asal pemuda yang ia jumpai dan menjadi sahabatnya di pulau Gelas tadi? Entah bagaimana kira-kira bila mereka bertatap muka waktu bertempur? Mereka sudah sama-sama belajar tidak manja. Tidak takut. Tapi… mereka, yang terpenting, sudah belajar untuk bersahabat…

OUT of the night that covers me,
Black as the Pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.

―William Ernest Henley, dalam puisinya berjudul Invictus


***


Kereta Api Segala Cuaca




Sebelum Naori menjadi dewasa, sebetulnya dulu ia adalah anak yang pemberani. Namun, kehidupan, lingkungan sekitar, pengalaman-pengalaman, serta orang-orang dapat mempengaruhi dan menjadikannya penakut. Padahal, pada inti dasar hatinya Naori―seperti halnya semua anak di seluruh dunia―ia adalah pemberani, sampai kapan pun. Walaupun ada percik-percik rasa takut, keberanian menguasai semua ketakutan, seperti sinar surya mengatasi gelap.

Suatu kali, Naori pernah berpetualang dan naik kereta api yang dapat menghadapi segala musim dan cuaca. Bukan sekadar dua macam musim yang mungkin kita kenal, yaitu musim hujan dan kemarau, melainkan empat macam musim: musim semi, panas, gugur, dan dingin, bahkan jenis-jenis musim yang lain dan segala cuaca.

Kereta itu pun dapat membangkitkan ide dan imajinasi. Ketika naik kereta api itu, Naori berimajinasi melewati rel di atas jurang yang tinggi seperti ujung jurang di Uluwatu, Bali, dengan hamparan laut dan langit luas yang membiru. Ia juga berimajinasi naik kereta itu menerjang ombak dan embusan deras air pantai ke jendela, mengatasi lembah-lembah, dan lain-lain.

Naori juga melewati taman safari atau padang luas yang dipenuhi hewan-hewan buas, seperti badak dan singa-singa atau binatang lain yang siap menerkam apa pun, termasuk kereta api itu! Pernah ada badak bercula satu yang mencoba menyeruduk sisi kanan kereta. Juga, ada dua singa siap terbang menerobos kaca jendela yang terbuka. Tapi, yang paling menegangkan dan mencengangkan bagi Naori adalah melewati hutan belantara karena tidak tahu apa saja yang menerjang! Tapi, Naori, sebagai anak kecil yang pemberani, tidak terus-menerus mendengarkan dan setia pada rasa takut, melainkan memberanikan diri untuk menghadapi semua itu.

Jika tempat yang paling menengangkan adalah hutan, cuaca yang meresahkan bagi Naori adalah cuaca keraguan yang kerap berbarengan dengan cuaca mendung. Ia senang dan merasa teduh dengan cuaca mendung, tapi tidak terhadap keragu-raguan. Namun, kalau masinis kereta saja mau tetap melaju di dalam terpaan cuaca keraguan dan di bawah bayang-bayang awan mendung, Naori ikut mau menghadapi cuaca mendung dan keraguan. Berani menghadapi keragu-raguan akan membuat berani membuka, memasuki, dan melewati pintu-pintu cuaca yang lain, yang mungkin lebih merisaukan atau menegangkan.

It’s better to focus on to the beautiful things inside that you hold dear, rather than being distracted by the ugliness from the outside that unfolds fear.
―Franisz Ginting


***


Komidi Putar Kebahagiaan




Kehidupan ini kebanyakan segala sesuatunya selalu berputar, seperti bumi. Baik berupa hal-hal, benda, maupun orang-orang, semuanya berputar, berulang, atau dari sana kembali ke sini. Baik kesedihan maupun keceriaan. Tapi, semoga lebih banyak atau lebih sering kebahagiaan daripada kesedihan. Ibarat komidi putar yang walaupun mungkin bisa berhenti, tetapi akan lanjut lagi dan selama putarannya, kebahagiaan orang-orang yang menungganginya akan maksimal!

Nah, ada sebuah komidi putar kebahagiaan. Fondasi, poros, dan atap komidi putar kebahagiaan itu berwarna kuning keemasan, dengan tempat duduknya berupa kuda-kudaan yang warnanya berbeda-beda. Ada putih, merahoranyekuninghijau, hitam, biruungu