Skip to main content

Meter


(get the picture here)
Perjalanan hidup kita menuju masa depan ibarat perjalanan malam hari dengan berkendara mobil atau sepeda motor.

Kita mengetahui arah tujuan kita, tetapi lika-liku perjalanannya kita tidak dapat melihat dengan jelas karena sinar lampu mobil atau sepeda motor yang kita gunakan terbatas hanya untuk jarak beberapa meter.

Lampu itu tentu tidak dapat langsung menyinari tempat yang kita tuju, bahkan tidak langsung menyinari lika-liku jalan yang akan kita lewati. Namun, jika sinar lampu dan petunjuk jalan kita ikuti, meter demi meter, kita akhirnya akan sampai pada tujuan kita.

Jangan khawatir di dalam menjalani meter demi meter kehidupan kitaterutama terhadap kesulitan masa depan yang masih jauh. Karena hari esok punya kesusahannya sendiri.

Alangkah baiknya kita menjalani hari demi hari kita dengan sebaik mungkin. Selamat menjalani lika-liku kehidupan.


Jati Wicaksono

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***