Skip to main content

Tiga Tips

Seorang teman sekaligus rekan kerja, baru saja mengundurkan diri dari kantor untuk memulai karier yang baru. Beliau menyempatkan diri untuk untuk berpamitan pada rekan-rekan yang ada. Sambil bercakap-cakap, ia membagikan tiga tips membangun kariernya selama belasan tahun sehingga mencapai posisi sebagai pimpinan seperti sekarang ini.

1.    Tekun
Perbedaan antara orang yang berhasil dengan yang tidak bukan terletak pada kurangnya kekuatan atau pengetahuan, tapi pada kurangnya kemauan.” (Vince Lombardi)

Martabat tidak turun dari surga. Tak dapat dibeli atau dibuat. Martabat merupakan hadiah yang disediakan bagi mereka yang telah berkerja dengan tekun.” (Bill Hybels)

Kesabaran dan ketekunan, seperti halnya iman, dapat memindahkan gunung.” (William Penn)

Roma 5:3-4 menyimpulkan bahwa ketekunan memberikan efek positif pada diri. Seseorang yang tekun akan menjadi pribadi yang tahan uji, tangguh, atau kuat. Dia akan terus berusaha ketika yang lain memilih mengibarkan bendera putih. Dia akan bertahan hingga akhir dan masuk garis finis. Dia paham pentingnya untuk menunda kenikmatan/kepuasan diri demi mendapatkan yang lebih baik.

2.    Lakukan yang Terbaik
Kita harus melakukan yang terbaik semampu kita. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia.” (Albert Einstein)

Jangan pernah berpuas diri bila Anda belum memberikan yang terbaik.” (Brian Tracy).

Ketekunan adalah salah satu karakter mulia, namun belum cukup; perlu dibarengi semangat untuk memberikan usaha yang terbaik dalam segala yang dilakukan. Orang yang tekun akan bertahan sampai garis finis, tapi orang yang mau melakukan yang terbaik akan mencapai finis dengan hasil di atas rata-rata. Hal ini karena ingin memberikan yang terbaik dari dirinya bagi Tuhan (lih. Kolose 3:23).

3.    Jalin Hubungan Baik
Sendirian, kita hanya dapat melakukan hal-hal kecil; bersama-sama kita dapat melakukan banyak hal.” (Helen Keller)

Bakat membantu memenangkan perlombaan, tapi kerjasama kelompok dan kecerdasan akan memenangkan kejuaraan.” (Michael Jordan)

Tantangan terbesar dalam membangun hubungan berasal dari fakta bahwa banyak orang melakukannya untuk mendapatkan sesuatu: mereka mencari seseorang yang dapat membuat mereka merasa nyaman. Pada kenyataannya, satu-satunya cara untuk memiliki hubungan yang langgeng adalah bila Anda memandang hubungan Anda sebagai suatu tempat bagi Anda untuk berbagi, dan bukan untuk mengambil.” (Anthony Robbins)

John Calvin Maxwell pernah berujar bahwa impian yang berhasil dicapai dengan usaha sendiri pastilah merupakan impian yang kecil ukurannya. Impian dan pekerjaan besar butuh kerja sama dari banyak orang untuk mewujudkannya. Kuncinya ada pada kerja sama orang-orang di dalam kelompok tersebut. Ketika mereka dapat bekerja sama dengan baik, maka hasilnya pasti prima (Ibrani 12:14a).


Timothy J. Daun

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***