Skip to main content

14 Things Money Cannot Buy?


Beberapa bulan lalu, saya mendapatkan sebuah artikel yang sangat menarik dengan judul 14 Things Money Cannot Buy.

Sepintas membacanya, saya setuju dengan isinya tapi setelah dipikirkan kembali, saya merasa artikel ini kurang tepat. Setelah membaca tulisan ini, sepertinya yang jadi biang kerok adalah uang. Padahal, semestinya sikap atau motivasi dari orang yang memegang uanglah biang keroknya.

Oleh sebab itu, di bawah masing-masing pernyataan yang ada, saya tambahkan komentar saya pribadi (warna biru) terkait dengan uang  untuk meluruskannya.


14 Things Money Cannot Buy

1.   Money can buy a bed, but it cannot buy sleep. (Uang bisa membeli ranjang, tetapi tak dapat membeli nyenyaknya tidur).
Uang di tangan yang tepat dapat dapat menolong banyak orang miskin dan pengungsi untuk tidur nyenyak.

2.   Money can buy food, but not appetite. (Uang bisa membeli makanan, tetapi bukan selera makannya).
Uang di tangan yang tepat dapat membeli makanan untuk mengeyangkan perut banyak orang.

3.   Money can buy a house, but not a home. (Uang bisa membeli rumah, tetapi bukan kenyamanannya).
Uang di tangan yang tepat dapat membangun rumah bagi banyak orang.

4.   Money can buy luxuries, but not culture. (Uang bisa membeli kemewahan, tetapi bukan budayanya).
Uang di tangan yang tepat dapat mendidik orang untuk lebih berbudaya.

5.   Money can buy finery, but not beauty. (Uang bisa membeli dandanan, tetapi bukan kecantikannya).
Uang di tangan yang tepat dapat menyulap "itik buruk rupa" menjadi "angsa yang menawan".

6.   Money can buy amusement, but not happiness. (Uang bisa membeli kesenangan, tetapi bukan kebahagiaan).
Uang di tangan yang tepat dapat meningkatkan kebahagiaan yang sudah ada.

7.   Money can buy sex, but not love. (Uang bisa membeli seks, tetapi bukan cinta).
Uang di tangan yang tepat dapat meningkatkan kualitas cinta yang sudah ada, seperti pergi berbulan madu di tempat yang indah atau membeli hadiah yang diinginkan pasangan kita.

8.   Money can buy companions, but not friends. (Uang bisa membeli teman, tetapi bukan persahabatan).
Uang di tangan yang tepat dapat mempererat persahabatan yang ada.

9.   Money can buy position, but not respect. (Uang bisa membeli jabatan, tetapi bukan kehormatan).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. Salah satu imbalannya adalah rasa hormat dan terima kasih yang tulus dari sesama.

10. Money can buy medicine, but not health. (Uang bisa membeli obat, tetapi bukan kesehatan).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk menjaga dan/atau memulihkan kesehatan.

11. Money can buy blood, but not life. (Uang bisa membeli darah, tetapi bukan nyawa).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk pelayanan pekabaran Injil untuk menjangkau jiwa yang terhilang.

12. Money can buy a clock, but not time. (Uang bisa membeli jam, tetapi bukan waktu).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk membayar para profesional dan membeli alat-alat untuk "menambah waktu" sehingga pekerjaan jadi lebih efisien.

13. Money can buy a computer, but not brains. (Uang bisa membeli komputer, tetapi bukan kepandaian).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk mendidik atau "membeli" otak yang terbaik.

14. Money can buy a book, but not knowledge. (Uang bisa membeli buku, tetapi bukan pengetahuannya).
Uang di tangan yang tepat dapat dipakai untuk mendirikan perpustakaan di pelosok-pelosok pedesaan.

Kunci permasalahan bukannya ada DI LUAR, melainkan ada di dalam HATI & PIKIRAN kita.



“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
(1 Timotius 6:10)

~ Timothy J. Daun

 

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***