Skip to main content

When was my first love with Twitter

Saya menggunakan akun jasa Twitter pertama kali pada 7 April 2009. Saya lupa apa twit mula-mula saya, Twitter pun belum bisa menginfo “kicauan” nomor satu saya. Awalnya, seingat saya, saya acap kali meng-twit updates berupa tulisan-tulisan singkat, tuangan pikiran-pikiran saya. Saya juga mulanya memakai Twitter untuk mencari atau terkoneksi dengan penulis-penulis idola saya. Itulah ‘prioritas’ awal saya tertarik Twitter. 

Lambat laun, tujuan utama itu beralih. Pindah, berganti menjadi menggunakan Twitter untuk meng-twit kutipan-kutipan orang lain. Berharap akan banyak memikat followers baru, hal ini pun, mempunyai banyak followers baru, menjadi motif tambahan. Kadang juga updates-nya tidak keruan, asal-asalan. Seolah-olah tak akan disimak, padahal tiap tulisan kita diperhatikan.

Sudah sekitar 1.036 hari penggunaan Twitter sejak tanggal di paragraf pertama di atas. Sebenarnya, saya ingin kembali ke prioritas mula-mula, yaitu untuk menuangkan pikiran-pikiran saya. Senang sekali dulu, ketika baru bisa menuliskan kata-kata di atas kertas, di dalam buku, dan di sisi dinding-dinding kamar indekos, akhirnya fasilitas Twitter muncul untuk mengekspresikan diri dan pemikiran-pemikiran. Nah, namun sebaiknya kembali pada awal mula, motivasi kita menggunakannya.

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***