Skip to main content

Soal Media Sosial

Sayangnya, mengelola banyak akun media sosial tidaklah sama dengan menyandang deretan gelar pendidikan. Bayangkan kalau misalkan merk-merk akun social media yang mungkin kita miliki mengekor di belakang nama kita, akan menjadi panjang sekali. Lebih dari itu, akun Twitter, Facebook, LinkedIn, Posterous, Blogspot, Kompasiana, dan lainnya, sepertinya mengalihkan perhatian kita yang ingin merebut perhatian pembaca tulisan-tulisan maupun updates kita.

Sudah lama saya menelantarkan beberapa blog saya, seperti yang sedang saya gunakan untuk penulisan ini. Pertama, saya hendak ingin meninggalkannya karena saya pikir sedikit orang saja yang membacanya, apalagi saya mengira background-nya kurang bagusyang ternyata setelah saya lihat kembali, lumayan menarik. Lalu, kedua, saya berencana untuk tidak menulis lagi di blog ini karena merasa telah cukup banyak penulisan yang saya lakukan di media lain dan pekerjaan saya, yang kiranya lebih membutuhkan fokus dan konsentrasi saya. Namun, setelah saya melihat nama blog saya dicantumkan oleh Kak Yusni Reiny di blognya, fetedesreves.blogspot.com, maka saya mempertimbangkan untuk masih ingin menggunakan blog ini.

Simpulan saya, sebaiknya kita tinggalkan saja sejumlah media sosial yang tidak sungguh-sungguh kita ingin gunakan. Bertaburnya media sosial itu seperti bisingnya (noise) suara-suara, apakah kita ingin mengikuti semua suara itu? Hanya karena orang-orang yang menggunakan atau gembar-gembor suatu media sosial yang baru, kita tak perlu serta-merta mengikutinya. Mempunyai banyak akun (baik akun bank maupun media sosial) bukanlah hal yang salah, melainkan jika kita tidak benar-benar memanfaatkannya, akan terasa percuma memilikinya in the first place, sejak pertama kali memulainya. Lebih baik mengelola dua atau satu media sosial, lalu membiarkan orang-orang datang kepada kita untuk membacanya, ketimbang kita mencoba mempunyai banyak akun untuk mencoba merebut perhatian semua orang itu.

Semoga saya, kita pun, bisa melakukan yang saya harap-harapkan ini.

Popular posts from this blog

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***