Skip to main content

Conscientia Mille Testes


Sayangnya, kebanyakan sesuatu yang tertutup itu selalu kurang bagus, atau kurang diberi perhatian yang optimal. Barangkali seperti halnya tadi malam, sewaktu saya memesan fuyung hai di suatu rumah makan. Saya pesan untuk dibungkus dan dibawa pulang untuk dimakan di rumah. Pesanan selesai, saya bawa pulang bungkusan.

Sesampainya di rumah, Iva istri saya membuka bungkusan tersebut dan seingat saya berkomentar, “Duapuluh tujuh ribu seperti ini. Lihat deh, Bang. Lebih baik beli bakwan.” Saya coba menelongok ke arah fuyung hai pesanan kami, setuju dengan pendapatnya Iva, lalu berkata, “Iya. Lebih baik beli bakwan tujuh ribu, lalu makan pakai nasi.” Mengapa seperti itu? Karena mirip dua bakwan besar yang digoreng, atau setidaknya, kami bisa membuat sendiri dari dua telur dadar yang mungkin lebih nikmat.

Serupa dengan itu, pengalaman yang lain, juga tentang pesan makan bungkus adalah ketika saya membeli, seingat saya, nasi pecel ayam goreng. Singkat cerita, pesanan selesai, lalu saya bawa pulang. Setelah saya buka bungkusannya, ternyata ayam yang dipilih oleh penjualnya begitu kecil—lain dari biasanya yang lumayan besar kalau makan di warung pinggir jalan itu.

Sepertinya kepercayaan kita, saya, dilanggar oleh para penjual yang kemungkinan hanya mencari keuntungan itu, bukannya memberikan plus value atau nilai lebih. Supaya sajian yang ditampilkan di luar (saat makan di tempat) sesuai dengan pesanan yang di dalam bungkusan (untuk dimakan di rumah).

Sebab itu, kadang saya waspada apabila ingin memilih untuk memesan makanan dengan bungkusan. Jadi, sebaiknya saat kita mengerjakan sesuatu yang sekiranya tak terlihat oleh orang lain, kita lakukan yang terbaik. Saat bahkan dari dalam diri kita, hati kita sendiri, ingin memberikan yang biasa-biasa saja, turuti jangan, ya. Sebab kalau tidak, orang banyak akan kecewa, saya juga, Anda pun akan merasakannya.

Popular posts from this blog

Tulisan lama tentang "Man's Search for Meaning"

Thoughts on Viktor E. Frankl's “Man's Search For Meaning”
Tulisan ini saya maksudkan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut adalah hasil pembacaan buku karya Viktor E. Frankl berjudul Man's Search For Meaning. Buku itu menggugah saya untuk mengejewantahkan pemikiran di balik teori dan fakta dalam buku tersebut. Semoga pemikiran-pemikiran dan tulisan ini juga bisa menggugah dan menambah pengetahuan Anda.
Saya menyadari keterbatasan saya. Saya tidak mengalami yang Viktor E. Frankl alami. Pemikiran saya terbatas. Viktor E. Frankl pun berkata: “Mungkinkah seorang bekas tahanan mampu membuat pengamatan pribadi yang objektif? Keobjektifan seperti itu hanya bisa diberikan oleh orang yang tidak langsung mengalaminya; tetapi orang seperti itu terlalu jauh dari tempat kejadian untuk membuat sebuah pernyataan yang punya nilai nyata. Hanya orang dalam yang tahu keadaan sebenarnya. Barangkali pengamatannya tidak objektif; penilaiannya mungkin terlalu berlebiha…

Stories for Cherish

Berikut ini beberapa cerita yang saya tulis untuk Cherish dulu ketika saya masih bekerja di YPBB, Indovision. Ilustrasi-ilustrasi saya gunakan dari sejumlah referensi.


---
Kereta Api yang Bisa Berjalan Kaki

Pada suatu hari, saat sedang musim liburan, orang-orang pergi berlibur ke suatu tempat wisata. Sayangnya, tempat wisata itu jauh sekali dari daerah atau rumah mereka. Jadi, mereka tidak bisa hanya berjalan kaki menuju ke sana, tetapi dengan alat transportasi. Nah, karena pada zaman dulu belum ada pesawat terbang atau kapal laut dan mobil, orang-orang pergi berlibur ke tempat wisata yang jauh naik kereta api.
Orang-orang mulai berdesak-desakan naik kereta api. Kereta api pun mulai berangkat dan melaju di atas rel besi. Dulu, kereta api masih memakai bahan bakar berupa batu bara dan mesin lokomotifnya berbunyi tut… tut… tut… tut… sambil mengepulkan asap yang banyak sekali.
Nah, karena di dalam kereta api tidak ada kipas angin, apalagi AC (air conditioner), orang-orang merasa kepanasan! Ha…

Tulisan campuran

(Beberapa campuran tulisan lama saya. Jangan throw up, ya, membacanya, apalagi juga kalau ada kesalahan grammar, juga kebanyakan kutipan karena masih tulisan lama.)

***